Investigasi Amnesty Bongkar Kejahatan Perang AS, Inggris dan Prancis di Raqqa

Investigasi Amnesty Bongkar Kejahatan Perang AS, Inggris dan Prancis di Raqqa

RAQQA – Munira Hashish menceritakan pengalamannya yang tertuang dalam laporan Amnesty International, “Kalau Anda tetap tinggal, Anda mati dan kalau Anda mencoba menyelamatkan diri, Anda mati … [saya melarikan diri] dengan berjalan di atas darah orang-orang yang diledakkan kala mereka mencoba menyelamatkan diri di depan kita”.

“Kami ialah orang-orang baik dan orang-orang yang Nggak bersalah di medan perang,” James Mattis, Menteri Pertahanan AS – Sumber: Amnesty International Report.

Selama 2017, Kekhalifahan ISIS akhirnya digulingkan di Suriah dan Irak. Ibukotanya di Raqqa, Suriah, dibebaskan oleh pasukan Kurdi SDF yang didukung oleh serbuan udara dan artileri besar-besaran yang disediakan oleh Amerika, Perancis dan Inggris. Selama pengepungan Raqqa (Juli-Oktober 2017), pasukan SDF perlahan-lahan merebut distrik untuk distrik dari teroris ISIS, komunitas internasional melalaikan peringatan dari Amnesty International dan kelompok-kelompok hak asasi insan lainnya soal sejumlah besar korban sipil yang dikarenakan oleh serbuan darat dan udara dan artileri besar-besaran yang Nggak pandang bulu oleh pasukan Gabungan.

 

Baru sesudah kota itu direbut kembali oleh pasukan SDF pada pertengahan Oktober 2017, horor perang dan aksi tembak yang dipimpin Amerika terungkap. Artikel ini bakal amat menarik sebab diambil dari pemeriksaan yang diberikan oleh penyelidik Amnesty International yang berangkat ke Raqqa dan mewawancarai ratusan orang yang selamat. Penyelidikan mereka sudah menghasilkan laporan yang amat menakutkan dengan berjudul – “War of Annihilation – Devastating Toll On Civilians, Raqqa – Syria”.

Perang pembunuhan masal yang dikerjakan oleh Amerika dan sekutu-sekutunya paling akurat digambarkan oleh orang-orang sipil yang selamat dari kejahatan perang yang menakutkan itu. Hitungan total bom dan peluru artileri yang ditembakkan ke Raqqa oleh gabungan pimpinan AS amat mengingatkan pada kampanye pemusnahan yang dikerjakan oleh imperialisme Amerika selama perang Vietnam.

Pengalaman keluarga Badran menggambarkan neraka hidup, dimana warga sipil Raqqa wajib bertahan sementara gabungan pimpinan Amerika menghancur-leburkan kota dengan artileri berat dan serbuan udara.

Kampanye SDF diawali pada Juni 2017

Pada tanggal 18 Juli, keluarga Badran melaksanakan usaha menyelamatkan diri pertama mereka dari kota. Mereka mempergunakan dua mobil demi membikin jalan keluar dari neraka hidup yaitu Raqqa. Bagian mobil terkena serbuan udara Amerika yang mematikan empat anggota keluarga. Seorang anggota keluarga yang masih hidup memberi tahu Amnesty:

“Enggak lama sesudah itu, sejumlah ratus meter kami menyaksikan mobil yang membawa perempuan dan bocah-bocah tidak banyak di depan, dihantam serbuan udara. Orang-orang di dalam mobil mati. Awalnya saya cuma menyaksikan dua tubuh, di depan, dan lantas dua lainnya, di belakang”.

Mereka yang mati di bagian mobil ialah:

1. Mustafa Mohammed Badran (alias Steif), 14 (putra Shamsa)

2. Khaled Ismail Said, 17

3. Mohamed Hussein Shamari (putra Khood), 24

4. Hassan Dandoush Ibn Hsein (putra Zarifa Sahu).

Lima anggota masih menanti mobil demi kembali dan menjemput mereka dan akhirnya mati oleh serbuan udara lain yang sungguh-sungguh melenyapkan rumah. Bagian anggota keluarga wanita memberi tahu penyelidik Amnesty:

“Kami mengubur mereka. Tak ada satu pun mayat yang tersisa. Kami mengeluarkannya sebagai potongan-potongan. Kami memasukkan potongan itu ke dalam kantong plastik dan kami menguburnya”.

Mereka yang mati dalam serbuan udara Amerika di rumah keluarga Badran ialah:

1. Mohamed Ahmed Badran Ibn Mohammed, 40 (suami Shamsa)

2. Daham Badran Ibn Ahmed, 50 (saudara laki-laki dari suami Shamsa)

3. Ismael Said, 55 (Suami Sadeeqa)

4. Ibrahim Said Ibn Ismael, 15 (putra Sadeeqa)

5. Khaled Badran Ibn Ibrahim, 52

6. Seorang lelaki yang Nggak dikenal

7. Seorang lelaki yang Nggak dikenal.

Para anggota keluarga Badran yang masih hidup kembali ke lingkungan mereka dan tinggal dengan seorang tetangga, sementara sejumlah anggota menerima perawatan dari sebuah RS di dekatnya. Pada pertengahan Agustus mereka dipaksa menyelamatkan diri ke lingkungan Harat Al-Sakhani di kota Tua demi mencari dokter. Keluarga Badran terhubung dengan sejumlah keluarga lain dengan maksud demi menyelamatkan diri dari Raqqa. Pada tanggal 18 Agustus mereka memulai pelarian tetapi Nggak sampai sejauh mereka berjumpa dengan sejumlah anggota ISIS yang menembakinya sampai mematikan dua orang. Rombongannya dipaksa kembali ke Harat Al-Sakhani.

sesudah mundur kembali ke Kota Tua tragedi lebih detail melanda. Rasha, anggota keluarga Badran menceritakan beginilah:

“Jadi kami kembali ke al-Sakhani. Kami Nggak punya pilihan lain. Dua hari lantas [pada 20 Agustus] kami dibom, kedua rumah tempat kami tinggal dibom. Hampir seluruhnya orang terbunuh. Cuma saya, suami saya dan saudara laki-lakinya serta sepupu selamat. Serbuan terjadi kisaran jam 7 malam, saya pingsan dan kala saya sadar kembali, saya menguping sepupu suami saya, Muhammad memanggil, saya Nggak sanggup bergerak atau berbicara, lalu suami saya dan saudara laki-lakinya menemukan saya dalam keadaan cedera parah – ia mempunyai luka di kepala dan darah mengalir dari telinganya. Itu gelap dan kami Nggak sanggup menyaksikan apa-apa. Kami memanggil tetapi Nggak ada yang menjawab, Nggak ada yang bergerak. Itu sungguh-sungguh hening sekali kecuali pesawat-pesawat yang berputar di atas.

Kami bersembunyi di reruntuhan sampai pagi sebab pesawat berputar-putar di atas. Di pagi hari kami menemukan tubuh Tulip; bayi kami telah mati. Kami menguburkannya di dekat sana, di dekat pohon.

Kedua rumah hancur lebur; Nggak ada yang tersisa berdiri, cuma ada puing-puing. Ini ialah rumah-rumah Arab sederhana, Nggak kokoh.

Saya Nggak mengerti mengapa mereka mengebom kami. Bukankah pesawat pengintai menyaksikan bahwa kita ialah penduduk sipil? ‘

Anggota keluarga Badran yang mati di Harat al-Sakhani oleh serbuan udara Amerika dan Inggris ialah: Enam saudara kandung – enam saudara wanita dan satu saudara laki-laki (Ali):

  1. Thuraya Daham bint Mustafa, berumur 60-an.
  2. Summaia Daham bint Mustafa, 55 (janda, tanpa bocah-bocah).
  3. Abta bint Mustafa Dahab, berumur 50-an.
  4. Ali Badran Ibn Mustafa, 50.
  5. Khood Daham bint Mustafa, 48.
  6. Shamsa Daham bint Mustafa, 40 (suami Shamsa dibunuh di Nazlet al-Shehada).
  7. Sadeeqa Daham bint Mustafa, 38 (suami Sadeeqa terbunuh di Nazlet al-Shehada) putra Thuraya dan keluarganya:
  8. Ibrahim Daham Ibn Khaleel, akhir 20-an / awal 30-an.
  9. Madonna Daham, pertengahan 20-an (istri Ibrahim – berasal dari Damaskus).
  10. Anak Madonna, lima tahun.
  11. Anak Madonna yang lain, 3 tahun.
  12. Putri Madonna, sembilan bulan bocah-bocah Abta:
  13. Qaisal Sahoo Ibn Mohammed, 20 (putra Abta).
  14. Mais Sahoo bint Mohammed, 19 (putri Abta) Putri Khood:
  15. Rana Shamari bint Hussein, 18 (anak wanita Khood) bocah-bocah Shamsa:
  16. Sahar Badran bint Mohammed, 18.
  17. Saja Badran bint Mohammed, 16.
  18. Ahmed Badran Ibn Mohammed, 10
  19. Hamsa Badran Ibn Mohammed, sembilan tahun.
  20. Daham Badran Ibn Mohammed, empat (Serta suaminya, anak keenam Shamsa, Mustafa, dibunuh sebelumnya di Nazlet al-Shehade) bocah-bocah Sadeeqa’a:
  21. Sidra Said binti Ismael, 12.
  22. Munthir Said Ibn Ismael, 11.
  23. Aseel Said Ibn Ismael, 6.
  24. Khatooneh Wahab, 75 Empat lainnya yang Nggak berasal dari keluarga Badran juga terbunuh:
  25. Abu Riad, 60-an.
  26. Souad, 50-an (istri Abu Riad – berasal dari Irak).
  27. Maha, pertengahan 20-an (putri Abu Riad dan Souad).
  28. Ammina Raqim, 60-an (adik Abu Riad)”.

Cuma Rasha, suaminya, dan dua anggota keluarga lainnya yang selamat dari serbuan udara Gabungan. Mereka dipaksa mencari tempat tinggal di tempat lain. Dua sepupunya berangkat mencari penjagaan dengan tetangga cuma demi dibunuh oleh serbuan pesawat tanpa awak. Bangunan 3 lantai hancur tapi Rasha dan suaminya sanggup bersembunyi di ruang bawah tanah selama 3 hari sampai mereka ditemukan oleh patroli ISIS.

Mereka didorong ke stadion dan Harat al-Badu oleh patroli ISIS demi dipakai selaku perisai insan atas serbuan udara Gabungan. Pada tanggal 17 September, Rasha suaminya dan 22 orang lainnya mempergunakan selimut demi menutupi suara langkah mereka demi menyelamatkan diri dengan melintasi garis depan SDF. sesudah berminggu-minggu bersembunyi dan teror, Nggak pernah tahu dari satu ketika ke ketika seterusnya, kalau mereka bakal dibunuh oleh serbuan udara atau artileri gabungan, Pasha dan suaminya akhirnya selamat. Walaupun mereka kehilangan bayi Tulip dan 38 anggota keluarganya.

Cerita keluarga Badran berlebihan umum selama penaklukan Raqqa oleh SDF yang diawali pada awal Juni 2017 dan didukung oleh pemboman besar yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh pasukan Amerika, Inggris dan Perancis.

Pada 14 Oktober, Gabungan mengeluarkan pengumuman terbuka soal gencatan senjata SDF dengan ISIS, “Kami Nggak menyetujui pengaturan yang memungkinkan teroris ISIS demi menyelamatkan diri dari Raqqah tanpa berhadapan dengan keadilan, lantas muncul kembali di tempat lain …”.

Akan tetapi pada 15 Oktober 2017 pasukan ISIS yang tersisa di Raqqa, cuma berjumlah sejumlah ratus, diperbolehkan oleh SDF dan sponsornya Amerika demi meninggalkan kota dengan aman dengan sejumlah besar senjata dan dengan kekebalan full atas tidak sedikit kejahatan mereka. Warga setempat menjelaskan terhadap penyelidik Amnesty bahwa pejuang ISIS diperbolehkan demi mengungsi sebelum penduduk sipil.

Jaira, ibu dua anak yang terjebak di Harat Al-Badu menjelaskan pada Amnesty: “Saat kami menguping bahwa ada gencatan senjata dan kami bakal diperbolehkan demi meninggalkan Raqqa, kami pikir ini demi kami, penduduk sipil, tetapi lantas kala bus datang kami menyadari bahwa itu demi teroris ISIS. Kami wajib membikin jalan kami sendiri keluar dari kota. Kami Nggak sanggup percaya, tapi kami suka keluar dengan cara apa pun.”

Gabungan Internasional yang disebut membantu SDF dalam menghancur-leburkan Raqqa dan menghabisi ribuan penduduk sipil, sebagian besar merupakan tanggung jawab Amerika yang didukung oleh Prancis dan Inggris. AS mempunyai lebih dari 2.000 serdadu yang menyokong pengepungan Raqqa bersama-sama SDF, sementara Inggris dan Perancis mempunyai sejumlah kecil pasukan spesial yang dekat dengan garis depan.

Kontingen Amerika terdiri dari: Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi, Angkatan Darat yang menembakkan roket berukuran 237 mm dan ratusan marinir yang memberikan sokongan artileri dengan howitzer M777 yang menembakkan 155 mm peluru ke Raqqa. Artileri Amerika menembakkan puluhan ribu roket dan peluru ke Raqqa. Sementara itu, AS dan sekutunya Perancis dan Inggris membombardir Raqqa dengan lebih dari 4.000 serbuan udara.

Secara luar biasa, lebih dari 100.000 orang sudah kembali ke kota hantu Raqqa, walaupun sejumlah besar bom yang Nggak meledak / IED’s dan bau mayat yang terkubur di bawah reruntuhan. Semenjak penangkapannya kembali, para penghuni Raqqa yang selamat sudah berhadapan dengan prospek demi mencoba membangun kembali kehidupan mereka yang hancur dengan dukungan yang amat tidak banyak dari mereka yang bertanggung jawab atas kehancuran kota. Bom Amerika yang belum meledak dan ranjau yang ditanam ISIS ialah sampah kota yang mematikan, dengan Nggak ada prospek dukungan internasional demi mengurangi ancaman serius bagi kehidupan warga. Saban hari orang-orang terbunuh dan cedera kala mereka mencoba membersihkan puing-puing rumah mereka yang hancur, menguburkan mayat-mayat dan melaksanakan urusan sehari-hari mereka.

Problem sudah diperparah oleh penjarahan luas di seluruh kota. Penduduk sudah mengeluh terhadap Amnesty bahwa serdadu SDF sudah terlibat dalam tidak sedikit tindakan penjarahan, sementara Nggak memberikan keamanan di jalan pada waktu malam yang menyebabkan tindakan-tindakan kriminal tanpa hukuman.

Pada bulan April tahun sekarang, badan pengungsi PBB memasuki Raqqa dengan dukungan yang amat dibutuhkan. Mereka ngeri dengan apa yang mereka temukan, “Tim PBB yang memasuki kota Raqqa dikejutkan oleh tingkat kehancuran, yang melebihi apa pun yang pernah mereka lihat sebelumnya”.

sesudah menghancur-leburkan Raqqa, Amerika dan sekutunya dalam gabungan menolak demi mengakui tanggung jawab apa pun demi membantu membangun kembali kota atau memberikan dukungan kemanusiaan apa pun. Pada bulan April, Jerry Guilbert dari Departemen Luar Negeri AS merespon pertanyaan awak media dengan mengumumkan agak sombong:

“… Kami Nggak pernah membicarakan ini dari awal dengan pandangan bahwa warga internasional bakal membersihkan Raqqa atau membersihkan Suriah. Pada akhirnya, ini wajib dilihat selaku problem Suriah yang memerlukan jalan penyelesaian Suriah”.

Raqqa Civil Council (RCC) yang sudah dibentuk oleh Kurdi yang memimpin SDF demi memerintah Raqqa sudah mengakui bahwa Amerika dan sekutunya Nggak memberikan dukungan ke kota yang hancur. Laila Mustafa dari RCC memberi tahu Amnesty:

“Penduduk datang terhadap kami tiap-tiap hari meminta kami demi memulihkan mayat keluarga mereka yang terperangkap di puing-puing bangunan yang hancur tetapi kami cuma mempunyai amat tidak banyak buldoser dan sebagian besar bukan dari kategori yang tepat, jadi kami Nggak dapat memenuhi sebagian besar permintaan ini. Kami memerlukan peralatan demi mengangkat puing-puing besar dengan tidak sedikit ranjau dan kami Nggak memilikinya”.

Telah sering dikatakan bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang dan ini Nggak lebih benar daripada dalam perang gabungan yang dilancarkan di Raqqa melawan ISIS. Pada 17 September, panglima AS Letnan Jenderal Stephen Townsend dengan bangga mengumumkan:

“… Nggak pernah ada kampanye udara yang lebih tepat dalam sejarah konflik bersenjata”.

Sementara itu, mitra lain dari kejahatan perang yang luar biasa ini sudah menyangkal seluruhnya kekhilafan akibat konsekuensi tindakan mereka yang Nggak proporsional dan Nggak pandang bulu di Raqqa. Pada 8 Januari 2018 pemerintah Inggris dengan suka hati mengumumkan:

“Dalam melaksanakan serbuan udara, analis ahli secara rutin meneliti data dari tiap-tiap serbuan Inggris demi menilai pengaruhnya … Kami bekerja sama sepenuhnya dengan LSM seperti Airwars, yang memberikan bukti mereka mengumpulkan korban sipil. sesudah pekerjaan rinci pada tiap-tiap kasus, kami sudah dapat memperhitungkan keterlibatan RAF dalam tiap-tiap korban sipil selaku akibat dari tiap-tiap pemogokan”.

Laporan 70 halaman yang dihasilkan oleh Amnesty atas kehancuranRaqqa oleh Amerika dan sekutu-sekutunya membuatnya amat terang bahwa pengakuan mereka yang sudah melaksanakan pemogokan presisi yang menyebabkan amat tidak banyak korban sipil ialah paket kebohongan yang benar. Gabungan pimpinan Amerika melaksanakan serbuan udara dan artileri besar-besaran yang Nggak proporsional dan Nggak pandang bulu yang tujuannya Nggak lebih dari kehancuran total sebuah kota yang mempunyai ratusan ribu warga sipil.

Orang-orang Raqqa sudah mengalami pengalaman yang menghancur-leburkan dan menderita trauma yang menakutkan. Tak ada pengakuan ini oleh media barat atau politisi yang meneruskan bisnis sehari-hari mereka tanpa menyadari kejahatan kepada kemanusiaan yang dikerjakan di bawah penutup “War On Terror”.

Keheningan yang memekakkan telinga dari kelas-kelas politik atas kehancuran Raqqa amat kontras dengan histeria yang menyertai pembebasan Aleppo oleh pasukan Suriah dan Rusia pada awal 2017. Headline media tidak henti-hentinya berteriak bahwa pasukan Rusia dan Assad mempergunakan bom barel dan Nggak pandang bulu. Serbuan udara demi menghancur-leburkan kota dan mengalahkan apa yang disebut ”teroris moderat”. Baru-baru ini, kita sudah menyaksikan kemarahan munafik atas dugaan penggunaan senjata kimia oleh pasukan Suriah sementara penggunaan fosfor putih Amerika di Raqqa sungguh-sungguh diabaikan.

Kehancuran Raqqa dan perang pemusnahan yang dikerjakan oleh Amerika dan sekutunya yang berlumuran darah bakal berdiri di ruang-ruang penghujatan selaku kejahatan yang menakutkan yang imoralitasnya bakal membikin syetan sendiri bangga dengan pencapaian ini. [ARN]

Bacaan Lebih Lanjut:

  • https://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/us-coalition-raqqa-isis-civilian-deaths-amnesty-international-report-uk-france-a8383416.html
  • https://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/raqqa-isis-capital-syria-booby-traps-fear-islamic-state-city-jihadis-liberated-a8245961.html
  • https://sana.sy/en/?p=135481
  • https://www.hrw.org/news/2017/10/18/what-next-raqqa
  • https://www.nytimes.com/interactive/2017/11/16/magazine/uncounted-civilian-casualties-iraq-airstrikes.html
  • https://amnesty.dk/media/4330/mde-2483672018-war-of-annihilation-devastating-toll-on-civilians-raqqa-syria.pdf

 

 



Source by Ahmad Zaini

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.