Inilah Sembilan Tahapan Seseorang Sebagai Radikal

BNPT: Hampir Semua Perguruan Tinggi Negeri Terpapar Paham Radikalisme

Inilah Sembilan Tahapan Seseorang Sebagai Radikal

Ledakan ekstremisme aksi anarkis seperti terorisme enggak terjadi tiba-tiba. Ia bekerja selayaknya alam bekerja. Berkembang lewat proses dan masa “inkubasi” lalu meledak dalam bentuk-bentuk aksi anarkis tertentu. Supaya gampang dipahami, begini contohnya. Apakah masuk akal kalau enggak ada hujan enggak ada angin, pasangan anda tiba-tiba marah? Nggak masuk akal bukan? Mampu jadi sebab ia ternyata membaca pesan yang enggak disukainya pada seluler Anda, seharian enggak kasih berita, pasangan Anda berlebihan tidak sedikit tanya seperti reserse, atau ada sikap-sikap yang membuatnya marah. Kalau sampai di sini saja Anda enggak paham, pasangan Anda pasti juga dapat amat marah. Betul?

Tidak sedikit ahli menelurkan berbagai teori dan hipotesis bagaimana proses radikalisasi bekerja. Seperti hukum alam juga, makin tidak sedikit teori yang kit abaca makin bingunglah kita. Ada Randy Borum, profesor pada College of Behavioral and Community Sciences, Universitas South Florida Amerika, yang membikin tahap ke terorisme jadi ringkas saja: empat tahap. Berawal dari keluhan-keluhan atau ketakpuasan, berlanjut dengan perasaan ndak memperoleh keadilan, naik pada usaha mencari siapa yang bertanggung jawab atas ketidakadilan, lalu berakhir dengan membikin garis antara saya, kami, dan mereka.

Saya percaya, Borum mengakui apa yang terjadi di dunia ini enggak terjadi semudah itu. Saya juga percaya Mario Teguh sadar apa yang sebetulnya terjadi enggak semudah yang diomongkannya. Tetapi itulah gunanya praktisi dan ahli menjadikan yang rumit jadi jauh lebih sederhana. Kalau sebaliknya, membikin yang sepele jadi rumit itu pasti pekerjaan birokrasi. Namun birokrasi juga jadi mudah kalau ada calo. Betul?

Bagaimana ciri-ciri perilaku orang yang terpapar ekstremisme aksi anarkis juga bukan pekerjaan gampang. Mungkin saking rumitnya, mereka menutup dengan pilihan kalimat diplomatis: semuanya bergantung konteks dan dinamika “yang terjadi sedemikian rupa”. Kalimat sedemikian rupa ini sering saya dengar dari omongan pembicara yang seringkali saya enggak paham maksudnya. Mungkin, maksudnya rumit sekali. Kadang saya pakai juga. Sepertinya ini setara dengan kalimat penutup di kalangan kaum santri: wallahua’lam bishawab, Allah lebih tahu yang sesungguhnya. Itu artinya akal telah mentok!

Loading...
loading...

Ada sembilan ciri orang yang mengalami radikalisasi ke ekstremisme aksi anarkis. Pertama, suka menelusuri info soal ideologi ekstremisme aksi anarkis. Kedua, menarik diri dari warga atau hubungan-hubungan sosial. Ketiga, terlibat konflik dengan keluarga atau pihak lain seperti guru atau atau tokoh-tokoh agama. Ke-4, membikin perubahan gaya hidup yang dramatis seperti berhenti dari pekerjaan yang enggak diinginkan atau meninggalkan rumah. Kelima, membenamkan diri dalam kelompok-kelompok ekstrem. Keenam, begabung atau tetap berada dalam organisasi ekstremis. Ketujuh, membikin pernyataan publik soal keyakinan atau ideologi kaum ekstremis. Kedelapan, menunjukan ancaman atau niat demi terlibat dalam aktivitas teroris. Kesembilan, terlibat dalam aktivitas persiapan terkait serbuan aksi anarkis seperti pelatihan, memperoleh senjata atau material lain.

Ini rumusan para ahli 3 negara yang diundang dalam sebuah konferensi National Institute of Justice (NI) Amerika tahun 2015 di bawah tema Radikalisasi dn Ekstremisme Aksi anarkis: Pelajaran dari Kanada, Inggris, dan Amerika. Kalau dilaksanakan di Indonesia menghadirkan ahli dari Asia Tenggara dapat jadi terdapat sejumlah hasil yang berlainan. Inilah yang saya katakan selaku “bergantung pada konteks dan dinamika yang terjadi sedemikian rupa”.

Keluarga Dita, pelaku bom gereja di Surabaya misalnya. Mereka bukan orang yang berusaha “menarik diri dari warga atau hubungan-hubungan sosial”. Mereka tak sama dengan karakter pelaku teror sebelumnya yang lebih tertutup.

Rumusan ciri-ciri di atas bagaimanapun jauh lebih baik daripada sekedar menjelaskan ciri-cirinya berjenggot atau bercelana ngatung. Kedua ciri ini bukan ciri yang tepat, malah kadang menimbulkan prasangka buruk. Bahwa kita juga enggak boleh mengingkari kenyataan bahwa memang ada mereka yang berjenggot atau bercelana ngatung punya ideologi ekstrem seperti ditunjukan sebagian pelaku teror. Sekali lagi perkara ini memang ndak mudah. Bergantung pada konteks dan dinamika yang sedemikian rupa

Dishare dari Alamsyah via islami.co

Loading...

Source by Hakim Abdul

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :