Inspirasi Islam

Bukti Tak Terbantah, Salafi Wahabi Tasyabbuh Yahudi

Inilah Bukti Tak Terbantah, kaum Salafi Wahabi Tasyabbuh Yahudi. Tunggu buktinya di page ini juga, besok insyaallah…. Sekarang masih dalam proses editing! Full video dan gambar sebagai buktinya…. Dari bukti ini nantinya kaum Salafi Wahabi tak akan mampu membantahnya.

Benarkah kaum Salafi Wahabi Tasyabbuh Yahudi? Kaum Salafi Wahabi selalu mencemo’oh kaum muslimin selain golongannya sebagai “ahlul tasyabbuh” yang tak pernah bisa dibuktikan kecuali hanya berdasar prasangka buruk. Contohnya, kaum Salafi Wahabi sering meledek acara Maulid Nabi sebagai tasyabbuh Natal Kristen. Mereka juga tak sungkan sedikitpun menyebut acara dzikir dan doa Tahlilan sebagai tasyabbuh Hindu. Bahkan lebih dari itu, mereka dengan begitu gegabah menyebut umat Islam yang bertawassul sebagai Tasyabbuh Musyrikin Makkah di masa Jahiliyah.

Di sisi lain, kaum Salafi Wahabi lupa atau tidak sadar dengan diri mereka sendiri. Bahwa mereka sesungguhnya adalah “Ahlul Tasyabbuh” yang tak tertandingi. Ibadah Mahdhoh yang seharusnya mengikuti tata-cara yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw, justru mereka mengikuti cara ibadah Yahudi.

Bukti kaum Salafi Wahabi Tasyabbuh Yahudi

Tak percaya, minta buktinya? Besok jawabannya dengan full video dan gambar sebagai bukti kuat Salafi Wahabi tasyabbuh Yahudi. Mereka tak akan mampu membantah baukti tersebut.

C O N T I N N U E   R E A D I N G . . . .  Salafi Wahabi Tasyabbuh Yahudi.

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

48 Comments

  1. Terus ungkap siapa sejatinya Wahabi (Salafi), sampai mereka merasa malu dan merasa nggak punya muka di hadapan kaum msulimin. Atau setidaknya mereka sadar bahwa mereka itu mirip yahudi, syukron Ummati.

  2. Lama tak kunjung, Ummati Press semakin tajam.

    Semoga nantinya setelah tahu mereka mirip Yahudi, para Wahabiyyun itu mendapat hidayah-NYA, amin 3x……..

  3. Bismillaah,

    Saya sendiri tidak pernah shalat dengan mengenakan sandal. Namun saya tidak menentangnya sebab ada hadits tentang hal itu, ada contohnya dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Yang ingin saya sampaikan hanyalah dalam gambar itu, mereka merapatkan shaf shalat berjamaah tidak sesuai dengan cara sahabat merapatkan shaf. Masih ada celah dalam shaf sehingga syaitan bisa masuk ke dalam shaf yang renggang.

    Wallaahu a’lam.

  4. to ibnu suradi : gambar di atas belum tentu orang yg mau sholat (dlm barisan shof), mungkin orang yg lagi antri di pasar/ toko. …jgn asal berprasangka…

  5. @Ibnu Suradi berkata :
    Saya sendiri tidak pernah shalat dengan mengenakan sandal. Namun saya tidak menentangnya sebab ada hadits tentang hal itu, ada contohnya dari Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Kata Anda sebelumnya, apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah harus diikuti kalau mau beribadah secara benar- Kalau sampai Anda tidak lakukan sholat di atas tanah dan bersandal, nanti Anda dapat dikategorikan menentang Rasul, seperti orang-orang yang pada waktu sholat dalam shofnya antara jamaah tidak mempertemukan mata kaki dengan mata kaki.

  6. erima kasih mas Admin. Paparan blognya semakin cantik. Saya khuatir, sulit untuk Wahhaby jadi sadar, mengingat perbedaan kaidah mengeluarkan dalil, antara mereka dengan kita. Maka harus ada perbandingan kaidah dalil, antara Sunny dan Wahhaby

    Wahhaby mendakwa ayat2 mutasyabihat itu hanya Allah yang tau takwilnya (Aly Imran 7). Lalu meraka melarang kita takwil Istiwa/ Istawa. Karena kita tidak tau takwil, hanya Allah tau takwil. Lalu mereka menetapkan maksud dzahir, Istiwa / Istiwa itu berarti “bersemayam”. Apakah “hanya Allah yang tau takwilnya” itu, berarti golongan Wahhaby yang tau “arti dzahirnya”? Padahal, “hanya Allah yang tau takwilnya” berarti ayat2 mutasyabihat itu memang ada takwilnya, dilarang pake makna dzahirnya lagi. Seharusnya mereka mengatakan “Allah beristiwa”, bukan “Allah bersemayam”. Karena “istiwa / istiwa” itu ya “istiwa / istiwa”, hanya Allah yang tau arti takwilnya. Kalo udah ada makna dzahirnya, itu bukan ayat2 mutasyabihat lagi, tapi udah jadi ayat2 muhkamat. Sungguh Wahhaby udah berdusta atas nama Allah dan Rasul, karena coba menukarkan ayat2 mutasyabihat menjadi ayat2 muhkamat.

    Dan apabila Wahhaby melihat segala tangan, kaki, mata dan betis Allah menjadi binasa dan hilang, dalam ayat al-Qashash 88 itu, lalu mereka terus mentakwil “Wajah-Nya” kepada “Dzat-Nya”. Padahal mereka mengkafirkan ahli takwil. Lalu kenapa mereka sekarang mentakwil dan mengkafirkan sesama Wahhaby? Apakah mazhab Wahhaby bermakna anda harus menadkwa mengikut jalan Salaf, kemudian mengkafirkan sesama Wahhaby? Saya khuatir, ini bukan mazhab Salaf, karena zaman Salaf itu juga ada Syi’ah dan Khawarij. Ini mungkin mazhab Tanduk Setan dari Nejed.

    Padahal segala tempat, termasuk Arasy itu Allah yang menciptanya. Apkah sifat Allah udah berubah, daripada asalnya “tidak bertempat” (Arasy dan tempat belum dicipta) kepada “bersemayam atas Arasy”? Tidakkah Wahhaby berfikir, sifat “bersemayam atas Arasy” itu membinasakan sifat “tidak bertempat” yang sebelumnya? Padahal sifat “berubah” dan “binasa” itu, adalah sifat makhluk. Mahasuci Allah daripada sifat berubah dan binasa.

    Yah semoga aja Wahhaby mau berhenti daripada mengkafirkan sesama Wahhaby dan Ahli Takwil yang sejati, hanya karena isu takwil nas al-qur’an dengan nas al-qur’an atau hadis atau tafsir para ulama yang benar. Karena, surah Aly-Imran 7 itu, bisa juga dimaknai sebagai “… hanya Allah yang tau takwilnya DAN orang2 yang mendalam ilmunya…”

  7. makin gx percaya aja nieh kalau situs ini asli ahlussunnah wal jama’ah..
    dan sy juga belum prcaya kalo wahaby itu ahlussunnah wal jama’ah yg asli..

    to ummati; massa’ kburukan kaum muslimin yg masih menymbah kpd Alloh dibeber-beberin..??
    apalagi sampe ngasih gambar sbg bukti nyata..!!
    ngajarin gx bner nih..
    padahal guru sy ada yg NU, MUHAMMADIYYAH, & WAHABY. tp diantara mereka gx ngajarin kyk gini.

    memang ummati sudah mnjelaskan ini itu, scara lengkap. tp knapa sy makin gx yakin kalau ini ahlussunnah wal jama’ah yg asli.?
    jd mana yg asli, wahaby/ummati? atau masih adalagi yg laen??
    wallohu a’lam
    @bingunk..(baru baru lulusan aliyah taon kmaren)

    1. Bismillah,

      @Wonk Bingung, jika anda memang benar masih muda, jangan biarkan diri anda terkungkung dalam kebodohan akibat fanatisme buta, buka diri anda lebar-lebar, belajarlah yang benar urut dari dasar, hilangkan suudzhon terhadap sesama muslim, cari guru yang benar, jangan usil dengan amaliah orang lain….

      anda pasti tahu siapa yang memulai fitnah ini dan kami ASWAJA di Ummati Press hanya sekedar bertahan dan kalaupun lebih dari itu, adalah balasan dari kaum muda ASWAJA atas hujatan dan fitnah yang tak mampu mereka tahan lagi….

      1. kang @bu Hilya
        oke, saya memang masih muda. 19 tahun tinggal dibumi,,

        tentang wahabi setahu saya mereka gx memfitnah aswaja, melainkan mereka ingin meluruskan dan memurnikan ajaran islam..
        mereka bilang, mereka mencela bid’ah bukan karena membenci pelakunya, tp mereka sangat mncintai kalian, mereka tdk mau kalian terancam neraka gara2 melakukan bid’ah, mereka pengen kalian dan saya masuk kedalam surga dgn hidup diatas sunnah.

        o iya kalo ASWAJA itu apa??
        1. ahlussunnnah wal jama’ah?
        2. ahlussyi’ah wal jama’ah?
        3. asli wajah jawa?
        karena ada yg mengatakan, ASWAJA itu singkatan dari Asli Wajah Jawa.. dsb.
        Alangkah baiknya bila AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH jangan disingkat..

        barang kali ada yg salah mohon maaf.
        sekian wassalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh..

        1. Bismillah,

          Saudaraku mas @abdurrahman, akan kami jelaskan permasalahan-permasalahan yang anda tuduhkan… Insya Alloh..

        2. @Wonk Bingung

          Saya ada beberapa pertanyaan, tolong dijawab, dari jawaban anda, akan terlihat, anda Ahlussunah Wal Jama’ah atau bukan.

          1. Menurut keyakinan anda, Allah swt. itu bersemayam di atas ‘Arsy atau tidak?

          2. Peringatan Maulid Nabi itu, bid’ah tidak?

          3. Menurut anda, apakah semua bid’ah itu sesat?

  8. assalamu’alaikum,
    Gambar ini bukan kaum salafi sedang sholat berjama’ah. Sebab gambar diatas tidak mencerminkan cara sholat menurut Rasulullah, sedangkan kaum salafi mendirikan sholat sesuai dengan cara sholat Nabi.
    Mohon ditela’ah lagi, jangan sampai hanya menjadi fitnah.

    1. @ibn abdul chair
      Nti ente tunggu aja gambar berikutnya, setahu ane itu cara shalat yang diajarkan oleh H. Makhrus Ali, yang ente bangga-banggakan, karena berhasil menerbitkan buku “Mantan Kyai NU menggugat ……”.
      Masa sih ente menggugat sesama Wahabi.

  9. Bismillah,

    KOMPROMI PEMAHAMAN DEMI MENGHIDARI FITNAH PERPECAHAN

    Sebagaimana yang pernah kami tulis beberapa waktu yang lalu tentang konsep bid’ah para Imam dan para Ulama panutan kita, dimana jika kita cermati akan kita temukan titik jami’ (kompromi) yang Insya Alloh jika kita fahami dan kita aplikasikan sesuai sikap mereka akan menghindarkan ummat Islam dari bencana perpecahan.

    1. Imam Syafi’i dan para Ulama Syafi’iyyah mendefinisikan bid’ah dengan pendekatan bahasa, yakni :

    هِيَ اِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

    “Bid’ah adalah : Mengerjakan sesuatu yang belum ada pada masa Rosululloh SAW” (Imam Nawawi dalam Tahdzibul Asma Wal Lughot Juz : 3/22)

    Titik tekan dalam definisi ini adalah terletak pada perkara yang tidak ada pada masa Rosululloh saw, namun dalam definisi ini menuntut pembatasan keumuman kata Kullu (semua) yang terdapat pada Qodhiyah hadits Wa Kullu Bid’atin Dholalah. Pembatasan ini legal sesuai kaedah bahasa, baik yang telah dicontohkan dalam al qur’an maupun al hadits.

    Selanjutnya definisi ini melahirkan pembagian Bid’ah dalam dua kategori, yakni; Bid’ah Hasanah/Mahmudah (Bid’ah yang baik/terpuji) dan Bid’ah Sayyiah/Madzmumah (bid’ah yang buruk/tercela) dengan kriteria sebagaimana yang dinyatakan Imam As Syafi’iy rohimahulloh;

    اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ, مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَة

    Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah atau atsar atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

    Pembagian inipun legal berdasarkan hujjah yang kuat dan shorih, diantaranya pernyataan Sayyidina Umar ra, ”Ni’ma/Ni’mat Al Bid’atu Hadzihi” (inilah sebaik-baik bid’ah), dan juga bersandar pada hadits mauquf atau atsar dari Ibnu Mas’ud ra, yang diriwayatkan oleh Imam Hakim, Imam Ahmad, Imam Thobroni dll: “Apa yang dipandang baik oleh ummat Islam, maka ia baik disisi Alloh, dan apa yang dipandang buruk oleh ummat Islam, maka ia buruk disisi Alloh. Dan sungguh para sahabat secara keseluruhan berpendapat untuk mengangkat Sayyidina Abu bakar RA, menjadi Kholifah”. (HR. Hakim dalam Mustadrok, dan sanadnya dinyatakan sohih, dan disohihkan pula oleh Imam Ad Dzahabi, Al Mustadrok 3/83), dan juga bersandar pada hadits dari Jarir ibn Abdillah ra, yang diriwayatkan Imam Muslim, dll.

    2. Definisi dengan pendekatan Ishtilah Syar’i, sebagaimana yang disampaikan Al Hafizh Ibnu Rojab Ulama dari kalangan Hanabilah :

    والمراد بالبدعة ما أحدث مما لا أصل له في الشريعه يدل عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا، وإن كان بدعة لغة” اهـ.

    “Berkata al Hafizh Ibnu Rojab : “ Yang dikehendaki dengan bid’ah adalah perkara yang diadakan yang sama sekali tidak memiliki asal (dalil) dalam syari’at yang menunjukkan atas (kebolehan)nya. Adapun perkara yang memiliki asal (dalil) dari syara’ yang menunjukkan atasnya maka ia bukanlah bid’ah menurut syara’, meskipun keberadaannya adalah bid’ah menurut bahasa. “ (Al Hafizh Abdulloh ibn As Shiddiq Al Ghimmari dalam kitabnya Itqonus Shun’ah Fi Tahqiqi Ma’nal Bid’ah)

    Ta’rif dan batasan bid’ah dari ulama kalangan Hanabilah diatas, jika kita kembalikan pada qodhiyah hadits Wa Kullu Bid’atin Dholalah, maka kita dapati beliau memberlakukan kata Kullu pada makna asal yakni (semua/setiap), namun membatasi kata Bid’ah hanya dalam artian ishtilahi/ syar’i. Titik tekan pada definisi ini adalah terletak pada perkara yang tidak terdapat sumber dari syari’at, bukan pada perkara yang tidak ada pada masa Rosululloh saw, dan para sahabat. Hal ini dapat kita baca dari qodhiyah terakhir pernyataan beliau : “Meskipun keberadaannya adalah bid’ah menurut bahasa. “

    Jami’ (Titik persamaan) dari dua definisi diatas adalah :

    Madzhab Hanabilah : “Yang dikehendaki dengan bid’ah adalah perkara yang diadakan yang sama sekali tidak memiliki asal (dalil) dalam syari’at yang menunjukkan atas (kebolehan)nya.”

    Madzhab Syafi’iyyah : “sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat).”

    Sedang perbedaan yang sebenarnya tidak substantif terletak pada :

    Madzhab Syafi’iyyah menyebut Bid’ah Hasanah/Mahmudah (Bid’ah yang baik/terpuji), pada perkara baru yang memiliki landasan hukum syar’i, sedang madzhab Hanabilah tidak menyebutnya sebagai Bid’ah. Jadi hanya perbedaan penyabutan semata yang tidak substantif dan tidak semestinya menjadikan perpecahan, sebagaimana pernyataan Ibnul ‘Arobi yang dituturkan oleh Sayyid Abdulloh Al Ghimmari dalam kitabnya Itqonus Shun’ah sbb:

    وقال ابن العربي: “ليست البدعة والمحدث مذمومين للفظ بدعة ومحدث ولا معناهما، وإنما يذم من البدعة ما خالف السنة، ويذم من المحدثات ما دعا إلى الضلالة” اهـ.

    Ibnul ‘Arobi berkata : ”Bid’ah dan Muhdatsah tidaklah tercela karena lafadz dan maknanya, sesungguhnya sesuatu yang dicela dari bid’ah adalah yang menyalahi sunnah, dan sesuatu yang dicela dari Muhdatsah adalah yang mendorong pada kesesatan.” (Itqonus Shun’ah Fi Tahqiqi Ma’nal Bid’ah)

    Sungguh pandangan yang elok dari hasil kajian yang mendalam untuk diketahui semua kalangan dalam rangka mengkompromikan dua ta’rif (definisi) yang berbeda, demi menghindari perpecahan ummat dalam mensikapi perbedaan. Yang pasti pendapat tsb tidaklah menyimpang dari dalil-dalil syara’ tanpa adanya interpretasi yang salah maupun tambahan atau pengurangan yang tidak dibenarkan.

    Hal senada juga kita dapati dari uraian Syaikh Ibnu Taimiyyah sbb:

    وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلَالُ مَنْ ابْتَدَعَ طَرِيقًا أَوْ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ لَا يَتِمُّ إلَّا بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُولَ لَمْ يَذْكُرْهُ وَمَا خَالَفَ النُّصُوصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لَا يُسَمَّى بِدْعَةً قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ – : الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلَالَةٍ . وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُونُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ : نِعْمَتْ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلَامُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ البيهقي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ فِي الْمَدْخَلِ

    “Dari sisni dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rosululloh Saw, tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak diketahui menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. As Syafi’i berkata : “ Bid’ah itu ada dua ; Bid’ah yang menyalahi al qur’an, sunnah, ijma’, dan atsar sebagian sahabat Rosululloh Saw, maka ini disebut Bid’ah Dholalah. Dan Bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut, ini terkadang disebut Bid’ah Hasanah, berdasarkan perkataan Umar : “Inilah sebaik-baik bid’ah”. Pernyataan As Syafi’i ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang sohih dalam kitab al Madkhol. (Majmu’ Fatawa Ibni Taymiyyah, 20/163)

    Coba anda perhatikan qodhiyah yang berhuruf tebal diatas, yang merupakan jami’ (titik temu) dari dua ta’rif bid’ah.

    Setelah kita dapati titik temu dari konsep bid’ah dari dua madzhab besar, khilafiyah tentunya tidak serta merta hilang, mengingat luasnya samudera pokok sumber hukum dalam islam (al qur’an dan as sunnah), memberikan masing-masing mujtahid peluang untuk menggalinya dari sudut pandang yang berbeda; perbedaan tentang nasikh mansukh, perbedaan tentang mujmal dan mubayyan, perbedaan standar kualifikasi hadits, perbedaan dalam mensikapi hadits-hadits ahad, hadits-hadits dho’if, dan perbedaan-perbedaan yang lain. Tentunya perbedaan dikalangan ahlul ilmi sejati tidak menimbulkan efek perpecahan, saling mengkafirkan (takfir), saling membid’ahkan (tabdi’), atau saling menuduh sesat (tadhlil).

    Sebagian kalangan ada yang mendefinisikan bid’ah dengan definisi yang identik dengan ta’rif bid’ah dalam pengertian bahasa, yang bertitik tekan pada setiap perkara yang tidak terdapat pada masa Rosululloh saw dan para sahabat, akan tetapi disisi lain menggeneralisir kata Kullu (semua) yang terdapat pada Qodhiyah hadits Wa Kullu Bid’atin Dholalah. Namun tulisan kami kali ini tidak dalam konteks menganalisa konsep bid’ah tsb, cukuplah kami katakan : Konsep bid’ah semacam ini tidak dibenarkan untuk memberi label bid’ah tehadap amaliyah-amaliyah yang bernaung dibawah madzhab Imam Syafi’i maupun Imam Ahmad Ibn Hanbal, pun juga sebaliknya, dan jika ini dipaksakan akan mengakibatkan fitnah perpecahan yang disebabkan kebodohan kita

    PARA AHLUL ILMI DALAM MENYIKAPI PERBEDAAN

    Ketahuilah isu-isu yang sedang marak ditiupkan sebagian kalangan ummat islam saat ini semisal kenduri kematian, ziyarah kubur para wali, tabarruk, dzikir berjama’ah dll, adalah masalah-masalah khilaafiyah furu’iyyah sejak lama, dan kita dapati contoh dari para ulama as salaf as sholih bagaimana mensikapi perbedaan. Tidak satupun kita dapati contoh dari manhaj salaf dalam mensikapi isu-isu tsb dengan sikap tabdi’ (membid’ahkan), takfir (mengkafirkan), maupun tadhlil (menyesatkan = menuduh sesat) terhadap yang tidak sefaham dengan mereka.

    Hal ini disebabkan keluasan pengetahuan mereka akan agama ini, luasnya pengetahuan mereka memberikan kesimpulan betapa luas dan dalam sumber panduan yang berupa al qur’an dan as sunnah, sehingga kebenaran yang mereka yakini tidak menutup kemungkinan adanya pandangan yang lebih benar dari orang lain.

    Oleh karenanya tidak kita jumpai para ulama’ yang bermadzhab Syafi’i menganggap batal (tidak sah) atas sholat dari pengikut madzhab Imam Malik lantaran sebelum sholat menyentuh istrinya, pun sebaliknya para ulama madzhab Maliki tidak memvonis tidak sah wudhunya seseorang yang bermadzhab Syafi’i lantaran ketika mengusap kepala tidak sepenuhnya, dst… ini semua lantaran mereka menyadari betapa luas dan dalam al qur’an dan as sunnah, seluas dan sedalam samudera yang tak terbatas, hanya kebodohan kita yang menyimpulkan kebenaran hanya terdapat dalam pendapat kita, kebodohan yang menganggap al qur’an dan sunnah sedangkal dan sesempit ember, hingga dengan mudah dapat kita kuasai sepenuhnya, yang melahirkan pemahaman bahwa pendapat kita adalah kebenaran mutlak, sehingga siapapun yang berbeda dengan kita harus salah.. sungguh narsis….

    Lantas mengapa isu ini (bid’ah) sekarang menjadi fitnah yang serius? Ikuti kelanjutannya dalam tulisan kami berikutnya Insya Alloh….

    ANALISA KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN PENYEBAB KERESAHAN DAN FITNAH PERPECAHAN

  10. @bu hilya : Lantas mengapa isu ini (bid’ah) sekarang menjadi fitnah yang serius?. (belum sadar dia). Karena sebelumnya kaum muslimin hanya taklid saja. Nah semenjak kira2 25-30 tahunan belakang ini kaum muslimin sudah mau menuntut ilmu agamanya. Coba ingat sebelum itu, hanya segelintir saja orang yang mengerjakan aqiqah atau berkurban.
    Ana pun pada waktu itu masih menjadi aktifis maulid/tahlilan/yasinan. Sampe-sampe bolos sekolah spy bisa ikut acaranya. Hebatnya lagi orang tua gak marah ana bolos sekolah hanya utk maulid.Bisa jadi ortu itu NU ya. Bingung soalnya, NU atau bukan. Abis… gak ada foto2 habib atau kyai sih yg dipajang dirumah. tapi dia aktifis, sekretaris abadi di mushollanya.
    (balik lagi ke masalahnya)
    Sekarang kaum muslimin sdh banyak belajar agama secara benar. Enggak mau cuma sekedar ikut-ikutan. Nah… kaum muslimin yang semakin meningkat ilmu agamanya ini yang membuat orang-orang taklid kebakaran jenggot (padahal enggak menghidupkan sunnah memelihara jenggot). Begitu ilustrasinya.

    1. @Ibn Abdul Chair : “membuat orang-orang taklid kebakaran jenggot”.

      kalau anda tidak bertaqlid dan anda mampu mentarjih setiap pendapat yg ada, artinya anda mujtahid, hebat dong….. ^^

      kalau begitu saya ingin bertanya, apa hukum berwudhu, ada tidak dalil yg secara jelas mengatakan wudhu itu wajib ketika akan sholat?

      ketika berwudhu, kita harus membasuh muka, apa yg dimaksud dengan muka, sampai sejauh mana kita harus membasuh muka, bagaimana jika orang tersebut memiliki janggut, apakah air wudhunya harus mengenai kulit atau cukup membasahi janggutnya?

      ketika mengusap kepala, wajibnya, apakah harus diusap seluruh kepala, atau cukup sebagian?

      jika saya tidak mempunyai air untuk berwudhu, yg ada hanya air dalam kemasan, dan saya memiliki uang untuk membelinya. Apa yg harus saya lakukan, membeli air dalam kemasan atau cukup bertayammum?

      sekian dulu pertanyaan saya. ingat loe, saudara harus berijtihad sendiri, tidak boleh taqlid. sebagaimana perkataan saudara: “Sekarang kaum muslimin sdh banyak belajar agama secara benar”.

    2. Bismillah,

      saudaraku @ibn abdil chair, orang berilmu tidak akan membuktikan kebenarannya dengan hanya menyalahkan orang lain, tapi dengan hujjah…

    3. @ibn abdul chair
      hhha bolos sekolah toh cuma ngindarin acara muludan?
      saya pun ktika masih sekolah dasar sampe SMA pengen sekali sperti anda “bolos ktika ada acara muludan” namun slalu gagal kecuali ktika SMA (kadang bolos kadang gax) .. :O

      karena serasa merepotkan diri sendiri, apalagi kalo ada perlombaan bikin tumpeng nasi kuning, nasi kuning nya harus enak, kemudian bentuk tumpengnya harus bagus, karena hal tersebut akan ada nilainya dari pak guru n buguru.. dan disertai dgn perlombaan ini itu dan lain sebagainya ..
      kemudian muncullah pertanyaan dlm ati “agama islam kog repot pisan ??” “apa dapat nilai juga dari Alloh dgn adanya acara tersebut?”

      Wallohu a’lam

      1. Sekedar mengingatkan yang kemaren-kemaren ….

        Ada yang mengaku masih muda 19 tahun …..(baru baru lulusan aliyah taon kmaren)

        Mungkin teman kita ini sekolahnya banyak … mungkin di aliyah … mungkin di SMA … dan gurunya banyak dari NU, Muhammadiyah … Wahabi ….. Kalau pas tidak sesuai dengan ajaran gurunya yang dari Muhammadiyah, langsung bilang “Jd Muhammadiyah sesat dung?” Tapi ketika orang menyerang pendapat gurunya dari NU, ga pernah bilang “Jd NU sesat dung?” Makin kelihatan …

          1. @Wong Bingung
            Di Aliyah mana yang ada lomba tumpeng nasi kuning ?

            “kemudian muncullah pertanyaan dlm ati “agama islam kog repot pisan ??” “apa dapat nilai juga dari Alloh dgn adanya acara tersebut?”

            Yang ngadain guru tata-boga apa guru agama? Kok nasi tumpeng dikaitkan dengan “agama Islam kok repot?”

    4. mas, menghidupkan sunnah itu bukan cuma fisik semata. Orang yg jujur, ikhlas, damai dengan siapa saja, tulus…hidupnya tidak aneh2, meskipun tidak memanjangkan jenggot itu sudah menghidupkan sunnah. Kenapa sunnah selalu dilihat dr hal2 yg sifatnya fisik…padahal sunnah yg non fisik itu jauuuuuh lebih banyak dan jauuuuuh lebih susah diterapkan di kehidupan sehari2…

  11. assalamu’alaikum,
    Bukannnya ana gak mau berhujjah, tapi melihat metodologi penyampaian hujjah yang ada diblog ini, takut terjebak debat kusir.

    1. Bismillah,

      mas @ibnu abdil chair, apa anda punya metode? silahkan anda tunjukkan, barangkali bisa ditemukan titik temu jika terjadi perbedaan…

  12. @mas bima
    kalo di aliyah gx bikin nasi tumpeng tp mengadakan perlombaan lain.. bikin nasi tumpeng kalo gx salah, waktu sd-smp (MI-TSANAWIYYAH)…

    kmudian kalo sy jawab smua, serasa percuma, krna belum ada bukti untuk menguatkannya…

    maaf…

    1. @WONK BINGUNG

      Bismillah..
      cuma mau share..
      dulu di SMA ku pernah ada lomba bikin nasi tumpeng…
      selesai itu nasinya dimakan reme” satu kelas.. terasa keakraban di antara kami..
      btw apa hal yang bisa menambah rasa keakraban dan persaudaraan dalam islam tidak ada pahalanya mas?? apa hal ini juga terlarang??
      apa lagi sebelum makan qt berdo’a dulu…. bersyukur sudah di beri nikmat bisa makan enak…
      Subhanallah… truz masalah anda apa dengan acara lomba tumpeng??
      memangnya klo tumpengnya gak enak/jelek dosa ya?? hahaha.. saya merasa lucu dengan komentar anda
      mempermasalahkan hal yang bukan masalah ^_^

  13. Nah ngomongin nasi tumpeng ingat ada lomba nasi tumpeng pada HUT RI 17 Agst, dan tumpeng itu ber konotasi dengan kenduri, slamatan, syukuran, di wujudkan dengan DO’a Tahlil ,Yasinan bila perlu yang di Agama Islam tidak ada contohnya dan jadi merayakan Kemerdekaan itu Bid ‘ah gara2 ada nasi tumpeng dan doa dan baca Fat’iah, kemudian membacakan doa untuk para arwah pahlawan /pejuang , wah kalau yang ini bagai mana jadinya kita menghargai petilasan Para pejuang Islam, dan kemerdekaan suatu Negara ….mohon petunjunknya….

    1. @baru belajar islam
      Katanya sih semua yang ente sebutin bid’ah, karena kaum sawah gak bisa bedain Peringatan dengan Ibadah.
      “bagaimana jadinya kita menghargai petilasan Para pejuang Islam”, jangankan itu, wong Makam Rasulullah saw aja mau dibongkar paksa berdasarkan Fatwa Syeikh al Muhadist Wahabi dan dilanjutkan fatwa dari Syeikh lanjutannya, weleh… weleh… weleh, piye to syeikh.

  14. Mas Agung says:
    @Wonk Bingung:

    Saya ada beberapa pertanyaan, tolong dijawab, dari jawaban anda, akan terlihat, anda Ahlussunah Wal Jama’ah atau bukan.

    1. Menurut keyakinan anda, Allah swt. itu bersemayam di atas ‘Arsy atau tidak?

    2. Peringatan Maulid Nabi itu, bid’ah tidak?

    3. Menurut anda, apakah semua bid’ah itu sesat?

    Untuk mas Agung, saya mau jawab pertanyaan anda atas nama sendiri bukannya atas nama wonk bingung, mudah-mudahan saya termasuk Ahlussunah Wal Jama’ah dan bisa masuk sorga, he.. he.. he…!

    1. Menurut saya Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu bersemayam di atas Arsy, sesuai dengan berita yang disampaikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri dalam al-Qur’an S. Thoha ayat 5:

    ” (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, yang Bersemayam di atas Arasy”

    2. Menurut saya Peringatan Maulid Nabi itu bid’ah kalau kalau dimaksudkan sebagai bentuk ibadah, karena Para Sahabat sama sekali tidak pernah MERAYAKAN PERAYAAN HARI ULANG TAHUN KELAHIRAN ROSULULLOH. Kalau Peringatan Maulid Nabi hanya dimaksudkan sebagai wasilah saja bukannya sebagai ibadah tersendiri, maka Peringatan Maulid Nabi tersebut merupakan bentuk tasyabuh dengan orang-orang Kristen yang merayakan HARI KELAHIRAN ISA BIN MARYAM.

    3. Ya! Menurut saya semua bid’ah itu sesat, karena ROSULULLOH SENDIRI YANG MENYATAKAN BAHWA SEMUA BID’AH ITU SESAT! Kalau saya tidak setuju dengan pernyataan Rosululloh Sholollohu Alaihi Wa Sallam, maka saya bisa dianggap menentang Rosululloh dan diancam akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, sebagaimana yang tercantum dalam S. an-Nisaa ayat 115:

    ” Dan BARANG SIAPA MENENTANG RASUL sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami Biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan KAMI MASUKKAN IA KE DALAM JAHANAM, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali,”

    Demikian mas Agung jawaban saya, bagiamana apakah saya termasuk Ahlussunah Wal Jama’ah? Kalau ternyata jawaban saya di atas tidak mencerminkan seorang Ahlussunah Wal Jama’ah oleh mas Agung, biar deh saya mah tetap sama jawaban tersebut sampai mati. Soalnya mas Agung ga punya neraka jahanam, sih. Kalau mas Agung punya mungkin saya mau pikir-pikir dulu.

    1. @Abdul Kholik
      1. Langit dan Bumi tidak dapat meliputi ke Maha Lebih Besaran Allah. Namun, hati orang-orang yang beriman. dan Tiada sesuatupun yang menyerupainya.. kalau engkau mengira tentang arsy dan tentang bersemayam, maka itu salah. Apakah pengertian tersebut harus “bersemayam?” bagaimana ilmu anda mengartikan tentang hal itu? bukankah para Arifin mengatakan “istiwa” itu memang dilafazkan, tapi kenapa anda harus mengikuti paham mujassim??
      2. Maulid bid’ah tidak? Ibadah Mahdoh apa yang ada di perayaan maulid, apakah pelaksanaannya menggunakan cara yang baru atau tidak. Apa anda mengetahui apa itu ibadah Mahdoh dan Ghoiru Mahdoh?
      3. lalu bagaimana bunyi hadistnya, pengertiannya, lalu adakah satu sample hadist yang menggugurkan arti “seluruhnya” dalam hadist tersebut menjadi “seluruhnya yang terkait saja” atau sebagian. Bagaimana anda menyikapi hadist-hadist yang saling berlawanan? bagaimana keilmuwan anda tentang situasi kontekstual hadist tersebut?

      Saya pribadi tidak berani menyatakan bahwa saya mengikuti Rasulullah, dan Anda tidak. Tapi saksikanlah kami orang-orang yang berserah diri. Semoga anda melihat Nurani anda yang tertutup waham pengetahuan. Biarkan pengetahuan anda masuk dalam dada anda menjadi pemahaman, membuka keran energi amal anda dalam kehidupan sehari-hari..

      Salam sejahtera.

  15. Katanya Maulid Nabi Saw itu bid’ah sesat, dan tasyabuh dgn orang Nasrani…

    Bagaimana dengan kenyataan ini:
    – Yahudi merubah kitab suci —–> Wahabi merubah kitab klasik ulama2 tempo dulu
    – Yahudi membenci tasawuf ——> Wahabi membenci tasawuf
    – Yahudi membenci maulid Nabi Saw —–> Wahabi membenci maulid Nabi Saw
    – Yahudi dan Kristen menyebarkan isu “orangtua Nabi Saw kafir” ——> Wahabi menyebarkan isu “orangtua Nabi Saw kafir” dan disebarluaskan dlm bentuk buku2, malah dijadikan itiqod
    – Yahudi ingin menghancurkan situs2 sejarah Islam di Madinah dan Makkah —–> Wahabi menghancurkan situs2 sejarah Islam di dua tempat suci tsb
    – Yahudi membenci ahlulbait dr golongan ulama yg mayoritas ——> Wahabi pun idem
    – Yahudi berusaha mendistorsi sejarah walisongo —–> sekarang Wahabi pun melakukan hal yg sama
    – Yahudi ingin memecah belah umat Islam dg dasar khilafiyah —–> Wahabi pun sudah memecah belah umat Islam hanya krn masalah khilafiyah

    Jadi, ternyata tanpa disadari justru merekalah yg bertasyabuh dengan orang kafir….

    Sebenarnya Zionis dan anteknya faham…Islam akan hancur jika umatnya dihancurkan terlebih dahulu.
    Umat Islam yg awam agama dan mencintai kehidupan dunia, dihancurkan dengan cara membuat mereka jauh dr agama, budaya hura-hura, seks bebas, pornografi, porno aksi, kehidupan malam, glamor, dsb…
    Sedangkan umat Islam yg memiliki kecenderungan agama, dihancurkan dengan cara menghidupkan masalah2 khilafiah ke tengah2 umat Islam, mendistorsi sejarah, memanipulasi kitab2 ulama klasik melalui sekte2 yg dibuat untuk memecah belah umat Islam…
    Maka sadarlah….bahwa kita ini sedang dijadikan mangsa kaum Zionis…

  16. Shinta ini bener2 membabi buta ya…kyknya lebih cocok nama anda ini dari seorg laki-laki drpd perempuan. Enggak ada lembut-lembutnya. Masalahnya, udah sebegitu membani buta…isinya hanya fitnah doang..
    Apa nggak parah tuh…

    1. Loh, Shinta kan nama aslinya kenshin himura (cowok).. xixixixixi
      Mbak Ummu Hasanah, mbak Shinta, ayuk lah pada ngelus dada.. kebencian adalah racun.. kebencian (hasd) adalah awal kehancuran. Yuk mari kita tinggalkan..

      1. ingat mas Adi, saya tidak membenci jeng Ummu. Hanya saya mempertanyakan cara mereka berpikir sehingga mudah mensyirik2an orang di luar golongannya, mudah mengatakan ahlul bid’ah, ahlul ahwa, kuburiyyin, ulama Su’u pd ulama2 di luar ulama mereka.

        dulu kami pernah mengikuti debat2 dengan orang kafir, kami tahu bagaimana angan2 orang2 kafir itu dan sepak terjang mereka untuk menjelek2an Islam. Salah satu contohnya adalah mereka menyebarkan isu bahwa orangtua Nabi Saw kafir, dan menjadikan hal ini sebagai bahan ejekan mereka terhadap kami orang2 Islam. Ketika kami masuk ke dlm blog2 Salafi, ternyata isu orangtua Nabi Saw kafir ini malah disebarkan dalam bentuk tulisan2. Duh bagaimana perasaan kami mengetahui hal ini…

        di satu sisi kami membela orangtua Nabi Saw dihadapan para kafir harbi….namun di sisi yg lain kami dihadapkan dengan saudara sesama muslim yg malah menyebarkan isu2 seperti ini. coba mas Adi posisikan diri, bagaimana perasaan mas Adi…

        saya pribadi merasa berat sesungguhnya berhadapan dengan saudara sesama muslim berdebat masalah ini….namun, itu semua karena tidak berhentinya mereka menyebarkan doktrin2 mereka yg mengganggu perasaan kami…

        1. tips aja. saat bertemu dgn pemahaman mereka, cobalah jadi mereka. maka selaput prasangka akan menipis, kita memahami mereka sebagai diri kita, kesalahan mereka sebagai kesalahan kita, kebaikan mereka juga. saat kita melihat orang lain, kita hanya melihat prasangka kita atas mereka. sebenarnya kita ini saudara.. bulan mungkin bisu, tapi kalau kita dgr dengan seksama dia berujar , ‘lihatlah aku diciptakan oleh Sang Maha Indah’ .. “yang tertinggal pada umatq adalah masalah-masalah kecil, maaka bermaafanlah”

          tapi ya itu cuma pendapatku

  17. bisa buktikan kalau saya fitnah?

    ini secuil bukti kalau saya tidak asal tuduh….

    Dalam mengharamkan Maulid Nabi Saw, beredar di internet tulisan2 ustadz Salafi/Wahabi berhujjah dengan tulisan yg katanya dari al-Imam Ibnu Katsir dlm kitab al-BIdayah wa an-Nihayah:
    (versi Salafi/Wahabi)
    “Sesungguhnya al-Hafiz Ibnu Katsir menyebutkan dalam al-Bidayah wa an-Nihayah (Jilid 11 mukasurat 172), bahawa Daulah Fatimiyah al-Ubaidiyyah (yang dinisbahkan kepada Ubaidullah bin Maimun al-Qadaah berbangsa Yahudi), yang memerintah Mesir dari tahun 357H hingga 567H, telah mengadakan pelbagai sambutan pada hari-hari yang tertentu, dan antaranya ialah sambutan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم.” – Tamat petikan

    padahal setelah diteliti justru Imam Ibnu Katsir sendiri menyebut Maulid Nabi Saw adalah mulia
    ini buktinya :
    Al-Hafiz Ibn Katsir berkata dalam al-Bidayah wa an-Nihayah Juzuk 13, Halaman 136, Terbitan Maktabah al-Ma’arif seperti berikut:
    “… al-Malik al-Mudzaffar Abu Sa’id al-Kukabri, salah seorang dari pemimpin besar yang cemerlang serta raja-raja yang mulia, baginya kesan-kesan yang baik14 (lihat kata Ibn Katsir “kesan-kesan yang baik”), beliau telah mengadakan maulid yang mulia pada bulan Rabiulawwal, dan mengadakan sambutan yang besar. Selain itu, beliau seorang yang amat berani, berakal, alim lagi adil. Semoga Allah merahmati beliau dan memperbaikkan kesudahannya…” dan beliau berkata seterusnya : “dan beliau (Sultan Muzaffar) berbelanja untuk menyambut maulid 300,000 dinar”

    Jadi saya serahkan kpd para pembaca yg lainnya untuk menilai. Adapun hidayah adalah urusannya Allah Swt

    Adapun Zionis membenci Maulid Nabi Saw krn di dalam Maulid itu didengarkan sirah Nabi Saw di depan banyak umat Islam (biasanya bisa sampai puluhan ribu umat Islam – dlm bentuk tabligh)…dimana dalam sirah itu ada cerita2 yg menimbulkan patriotisme atau semangat jihad melawan kafir harbi. Sedangkan Zionis itu sadar bahwa merekalah kafir harbi yg sebenarnya menjadi musuh umat Islam.

  18. Untuk siapa pun di blog ini yg merasa kesal dengan saya…saya haturkan permohonan maaf, baik untuk jeng Ummu, dan saudara2 yg lainnya yg tidak bisa disebutkan satu persatu…

    untuk sementara saya undur diri dulu…dikarenakan nasehat dari guru yg saya cintai untuk menahan diri dari perdebatan…

    untuk masalah hidayah hanya Allah yg berkuasa…

    @jeng Ummu…jangan dendam ya sama saya 🙂 mohon maaf lahir dan bathin…

    1. Mba Shinta,

      Cukup banyak pendapat2 yg anda utarakan disini dan saya baca semuanya dan tidak ada satu bahasan pun yg “nyempal”, saya menilai semua masih on the track on Aswaja, so no need to apologize.
      Saya sependapat dengan anda sbg pengikut Mauludan, saya sependapat dengan anda yg tdk meyakini Ortu Rosullah tdk kafir dsb… Kalo masalah Jeng Ummu kita ambil hikmahnya saja yg ternyata masih ada “yg” seperti ini… keep Syiar ya…kami tunggu koment2 selanjutnya dilain waktu…

  19. Bahkan seluruh alam semesta pun merayakan Maulid Nabi. Mau bidáh-bidáh apa lagi ? jangan hanya melek syariat tapi buta Hakiki. Kasiiiihhaannn ………………!!!!

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: