Inilah 20 Ulama Tidak Menikah Seumur Hidup

Untuk Para Jomblo, Inilah 20 Ulama Tidak Menikah Seumur Hidup !

Sebagian ulama yang tak merid bukan karena tidak suka sunnah, melainkan alasan lain. Sebagaimana tak sempat merid karenawafat pada usia muda, sibuk denganmenimba dan menyebarkanilmu sertadakwah, atau sebabkeluar masuk bui sebab penguasa yangzalim, atau sebab-sebab lain yang tak kita ketahui cuma beliau-beliau yang mempunyai alasan tertentu.

Berikut diantara ulama-ulama yang tak merid selama hidupnya:

  1. Abdullah bin Abu Najih al-Makki
    Seorang tabiin tabiin orang yang tsiqah, tampan, dan fasih berbicara, tetapi sayangnya beliau sebagai pengikut paham qadariyah dan melaksanakan bidah dalam problem qadar. Beliau mufti makah seusai wafatnya Amru bin Dinar. Wafat 131 H.

  2. Abu Abdurahman Yunus bin Habib al-Bashri 90-182 H
    Beliau seorang sastrawan dan ahli nahwu. Beberapa ulama yang belajar kepadanya sebagaimana, Imam Sibawaih, al-Kisai dan al-Farra.

  3. Husain bin Ali al-Jufi 119-203 H
    Orang yang sabar dan tsiqah dari Kufah. Humaid bin Rabi al-Khazza berkata, Kami sudah mecatat 10.000 hadits lebih dari Husain bin Ali al-Jufi.

  4. Abu Nashr bin al-Harits 150-227 H
    Lahir di Marwa 150 H lalu geser menuju Baghdad. Beliau meriwayatkan hadits dari Hammad bin Ziad, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin Muhdi, Malik bin Anas, Abu Bakr bin Iyasy, Fudhail bin Iyadh dan lain-lain.

Dan berbagai yang meriwayatkan hadits darinya sebagaimana, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibrahim al-Harbi, Zahir bin Harb, Sari as-Saqathi, Abbas bin Abdul Adzim, Muhammad bin Hatim dan lain-lain. Usia 77 tahun.

  1. Hannad bin as-Sariy 152-243 H
    Ulama yang suka menangis, ulama hadits dari Kufah. Diberi gelar raghib kufah (pendeta kufah) sebab tak merid. Usia 91 tahun.

  2. Abu jafar ath-Thabariy 224-310 H
    Beliau ahli tafsir, hadits, dan fiqih. Lahir di daerah Amula Negara Tabaristan. Suka mengembara menuju Khurashan, Irak, sayam, dan Mesir untuk menuntut ilmu. Sudah hafal al-Quran pada umur 7 tahun, sebagai imam shalat semenjak umur Eight tahun, mecatat hadits semenjak umur 9 tahun, mengembara menuju daerah lain untuk menuntut ilmu semenjak umur 12 tahun (236 H), menulis kitab sebanyak 40 lembar saban harimya selama 40 tahun.

Beliau memasuki kota Baghdad seusai Imam Ahmad wafat (241 H), sehingga tak sempat berjumpa dengannya.

Karya beliau, yaitu:
Jami al-Bayan fi Wujuhi Ayi al-Quran
Tarikh ar-Rasuli wal Anbiya wal Muluk wal Umam
Tadzib al-Atsari wa Tafshil ats-Tsabit an Rasulillah n min al-Akhbari (belum selesai)
Adab an-Nufus al-Jayyidah wal Akhlaq an-Nafisah.

Abu Jafar mecatat hadits dari Ibnu Humaid sebanyak 100.000 hadits lebih saat menggelar perjalanan menuju Kufah. Beliau mendengar hadits dari Abu Kuraib 100.000 hadits lebih. Usia 86 tahun. Beberapa orang yang menshalatinya di atas kuburannya selama berbulan-bulan siang dan malam.

  1. Abu bakar bin al-Anbariy 271-328 H
    Lahir di Baghdad, hafal 300.000 bait syair yang memperkuat makna-makna al-Quran, hafal 120 tafsir al-Quran lengkap dengan sanad-sanadnya, cepat meghafal. Beliau meninggalkan sekitar 30 kitab masing-masing kitab terdiri dari 50.000 lembar halaman lebih.

  2. Abu Ali al-Farisi 288-377 H
    Lahir di kota Fasa Negara Persia. Pada tahun 307 H berangkat menuju Baghdad untuk mencari ilmu dan tinggal di sana dan melaksanakan pindah-pindah tempat dan kota. Usia 89 tahun. Meninggalkan berkisar 25 kitab soal ulumul quran dan bahsa Arab.

  3. Abu Nashr as-Sijzi wafat 444 H
    Nama lengkapnya Ubaidilah bin Said Hakim bin Ahmad al-Waili al-Bakari. Beliau hafidz, imam para ahli hadits pada masanya. Abu Ishaq al-Habbal berkata, Pada suatu hari, saya berada di rumah Abu Nashr . Tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu, maka saya berdiri membukakannya. Ternyata, dia seorang perempuan yang membawa sebuah kantong uang berisi 1000 dinar. Dia meletakkkannya dihadapan Abu Nashr dan berkata, Gunakanlah uang ini sesukamu ! Abu Nashr juga menanyakan, Apa maksudmu?`

Perempuan itu menjawab, Menikahlah denganku. Sebenarnya saya tak ingin merid, tetapi saya cuma ingin membantumu.

Mendengar itu, syaikh Abu Nashr menyuruh perempuan tersebut untuk mengambil kantong berisi uang itu dan membawanya keluar.

seusai perempuan itu keluar syakh Abu Nasrh berkata, Saya datang dari negeriku Sajastan dengan niat menuntut ilmu. Kalau saya merid, maka niatku itu bakal luntur dan melemah. Oleh sebab itu, saya tak bakal melaksanakan sesuatu yang bisa memalingkanku dari menuntut ilmu.` Beliau wafat di Makah.

  1. Abu Saad as-Samman 371-445 H
    Beliau seorang hafidz, zuhud, menguasai ilmu qiraat, hadits, rijal, faraid dan hisab. Beliau belajar kepada 3000 ulama` pada masanya. Dengan melaksanakan perjalanan menuju Irak, Syam, Hijaz dan Maghrib. Beliau berkata, Barangsiapa yang tak mecatat hadits, maka ia tak bisa merasakan manisnya islam. Wafat di kota Rayyi dalam kondisi senyum, dan dimakamkan di gunung Tabarak, dekat makam imam asy-Syaibani, dalam usia 74 th.

  2. Abu Barakat al-Baghdadi 462-538 H
    Beliau seorang hafidz, alim dan ahli hadits dari Baghdad. Beliau mendengarkan hadits dari Abu Muhammad Hazarmurdi ash-Sharifini, Abu Husain bin Naqur, Abu Qasim Abdul Aziz bin Ali Anmathi, Ali bin Muahammad al-Bundar dan lain-lain. Karya beliau sebagaimana kitab al-Jadiyat, Musnad Yakub al-Fasawi, Musnad Yakub al Fawasi, Musnad Yakub as-Sadusi dan intiqa al-Baqqal.

Dan berbagai pun ulama` yang meriwayatkan hadits darinya, sebagaimana Ibnu Jauzi, Abu Saad as-samani, Ibnu Sakir dan Ibnu Asakir dan lain-lain. Usia 76 th.

  1. Abu al-Qasim az-Zamakhsyari 467-538 H
    Lahir di desa Zamkhasyar (daerah Khuwarazmi) dan wafat di desa Jurjaniyyah (daerah Khuwarazmi) pada malam Arafah. Memperoleh gelar Farid al-Ashri (ahli bahasa, sastra, nahwu dan adab), fakhru Khuwarazmi (kebanggaan bangsa Khuwarazmi), dan jarullah (tetangga Allah).

Beliau menganut madzhab Mu`tazilah yang didapat dari gurunya yang amat beliau cintai Abu Mudhar dan warga Khuwarazmi berbagai yang menganut madzhab Mutazilah. Karya beliau sekitar 50 kitab, Imam Ibnu Arabi Jamrah amat berhati-hati dalam membaca kitab-kitabnya sebab berbagai ajaran mutaziyah yang disisipkan di dalamnya. Usia 71 th.

  1. Ibnu Khasyab 492-567 H
    Nama aslinya Abdullah bin Ahmad bin Khasyab al-Hanbali al-Baghdadhi. Seorang ahli nahwu pada zamannya, bahkan ada yang menjelaskan bahwa derajatnya setingkat dengan Abu Ali al-Farisi, ahli tafsir, hadits, faraid, mantiq, filsafat, lughah, dan hisab. Beliau dalam bidang hadits dikenal dengan perawi yang tsiqah, jujur, mulia dan sebagai hujjah. Bakal tetapi beliau tidak cukup menjaga sikap dan penampilan selaku orang yang berilmu. Beliau bakhil bagus dalam berpakaian dan segi-segi kehidupan lainnya, suka bermain catur di pinggir jalan, berkumpul dengan para pecinta binatang kera dan binatang lainnya, suka bercanda dan bermain-main. Sorban di kepalanya tak pernah dicuci sampai hitam.

Disamping itu tak ada seorang ulama juga yang wafat kecuali Ibnu Khasab sudah membeli kitabnya, sehingga hampir mempunyai seluruh kitab karangan para ulama dalam banyak bidang.

  1. Ibnu al-Manni 501-583 H
    Nama aslinya Abu Fathi Nasihuddin al-Hanbali ulama Irak ahli fiqih belajar dari Abu Bakr ad-Dinawari. Meninggal pada hari Sabtu 4 Ramadhan dan dimakamkan pada hari Ahad. Warga datang dari banyak daerah dan amat berbagai. Sebab merasa kuatir bakal terjadi hal-hal yang tak diingginkan, maka para penguasa menugaskan sejumlah pasukan bersenjata untuk mengawal jenazah beliau.

  2. Jamaluddin Abu al-Hasan 586-646 H
    Dilahirkan di kota Qifthi, Mesir dan dibesarkan di Kairo. Beliau seorang qadhi (hakim). Mengarang berbagai kitab. Sebelum wafat beliau mewasiatkan supaya kitab-kitabnya diberikan kepada Nashir (pemua Halab). Kitab-kitabnya bernilai 50.000 dinar.

  3. Imam Nawawi 631-676 H
    Nama lengkapnya Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi al-Hizami al-Haurani asy-Syafii. Beliau menghafal kitab at-Tanbih dalam waktu empat setengah bulan. Dalam tahun yang sama beliau berhasil membaca dan menghafal seperempat kitab al-Muhadzdzab.

Beliau tak pernah memakan buah-buahan. Beliau berkata, Saya tak mau memanjakan tubuhku, sebab hal itu bakal menyebabkan kantuk selalu datang. Dalam satu hari satu malam, beliau cuma makan dan minum sekali saja saat sahur.

Karya beliau:
Syarh shahih muslim
Riyadhus shalihin
al-Arbain
al-Irsyad fie Ulum al-Hadits
al-Mubhamaat
Tahrir al-Alfadz li at-Tanbih
al-Umdah fie Tashhih at-Tanbih
al-Idhah fi Manasik
at-Tibyan fie Adabi Hamlati al-Quran
ar-Raudhah
al-Majmu.

  1. Ibnu Taimiyah 661-728 H
    Beliau sudah mengarang 500 kitab. Dalam usia 19 tahun sudah memberikan fatwa dan menyusun kitab. Beliau ahli nahwu, hadits dan tafsir.Beliau sering keluar masuk bui sehingga wafat dalam bui. Saat wafat sekitar 60.000 orang datang melayat dan memakamkan jenazahnya.

  2. Basyir al-Ghazzi 1274-1330 H
    Lahir di kota Halab. Nama lengkapnya Muhammad Basyir bin Muhammad Hilal al-Halabi. Dijuluki al-Ghazzi, sebab beliau dibesarkan di rumah saudara seibunya yang bernama Syaih Kamil al-Ghazzi al-Halabi. Beliau mulai menghafal al-Quran umur 7 tahun dan berhasil mengahafalnya selama satu tahun. Beliau ahli ilmu jam tangan, nahwu menghafal al-Fiyah dalam waktu 20 hari.

  3. Abu al-Wafa al-Afghani 1310-1395 H
    Lahir di daerah Khandahar, Afghanistan.

  4. Karimah binti Ahmad al-Marwaziyyah 365-463 H
    Lahir di Marwa dan wafat di Makkah. Nama lengkapnya Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Abu Hatim al-Marwaziyah. Beliau seorang ahli hadits dan mengarang berbagai kitab sekitar 100 kitab.

20 Ulama yang Jomblo Seumur Hidup
Sumber:ppinuha.com

You might like

About the Author: admin

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.