Inikah Tahun Sandyakala Amien Rais?

Inikah Tahun Sandyakala Amien Rais?
Loading...

Inikah Tahun Sandyakala Amien Rais?

Semua tubuh Amien Rais seperti Cakra Manggilingan, roda nasib yang berputar kencang, kadang ia diatas dan kadang dibawah, dulu dipuja puja selaku Bapak Reformasi, Saat ini dimaki dan dijuluki Sengkuni, di masa kejayaannya ia jadi simbol kebangkitan intelektual dan kejujuran dalam berpolitik tetapi sekarang ia jadi simbol “politik hoax” dan “nepotisme yang kelewatan” .

Dalam dunia politik Indonesia, tidak ada yang mampu melebihi permainan sirkus Amien Rais, ia menciptakan beberapa manuver dan jadi sejarah. Tetapi tanpa disadari ia terjebak dalam alam pikiran “bahwa ia selamanya jadi penentu sejarah” dan alam pikiran itu bahkan hancur total ditubruk roda jaman yang tidak pernah ia sangka-sangka menaikkan tetangganya di Solo jadi Presiden sebuah jabatan dimana ia amat mengejarnya, seorang tukang kayu sederhana bernama Joko Widodo.

Amien Rais, lahir tahun 1944 dari Famili sederhana. Anak seorang guru yang juga terobsesi dengan dunia pendidikan. Keluarganya sendiri berasal dari Gombong, Kebumen yang lalu geser ke Kota Solo.

Dari sisi keterkenalan, Amien Rais dinilai orang Solo tetapi ia memusatkan seluruh kegiatannya di Yogya, 2 kota inilah yang amat mempengaruhi kehidupan Amien Rais. Tidak seperti di Solo yang namanya amat tidak populer, bahkan di rumahnya sendiri di Kampung Kepatihan, ia dan partainya senantiasa kalah. Di Yogya ia memperoleh nama besar bahkan membangun dinasti politiknya sendiri.

Dinasti politik Amien Rais, ialah sebuah paradoks besar dalam diri Amien, sebuah ambigu yang menciptakan 2 sisi muka Amien Rais. Bila sejauh tahun 1990-an, Amien ialah orang di baris ke-1 yang menantang Nepotisme ala Cendana, Saat ini ia jadi bagian dari muka Nepotisme itu sendiri, ia bahkan meniru Cendana dengan membangun Dinasti Condongcatur.

Akrobat Politik Amien Rais

Bagi Amien, politik bukanlah sebuah pencerahan, bukanlah selaku alat pembebasan dari sebuah penindasan atau kungkungan. Amien Rais lebih menyaksikan dunia politik selaku sebuah akrobat, sekaligus bagaimana menggunakan akrobat itu untuk keuntungan politis bagi dirinya sendiri daripada memperbesar entitas yang pernah dipimpinnya seperti di Muhammadiyah atau PAN.

Sesuai permainan akrobat, ia wajib memantaskan diri sesuai branding yang ia ingin kenalkan ke publik. Di masa penjatuhan Suharto, penampilannya senantiasa belagak intelektual. Senantiasa mengenakan dasi, yang dilambangkan selaku bagian terpenting busana kaum intelektual dan kelas menengah kota. Ia kerap mempergunakan bahasa Inggris dengan aksen yang lucu sehingga beberapa orang Indonesia menyebutnya “Bahasa Inggris-nya Amien Rais” waktu menguping orang mempergunakan bahasa Inggris beraksen Jawa.

Sungguh Amien Rais di awal karirnya, membangun dirinya selaku seorang intelektual. Ia berjalan seiringan dengan Gus Dur, bahkan sanggup membikin kutub baru, bila Gus Dur ialah bagian NU, maka Amien Rais jadi bagian kutub seberang, ia jadi “lawan Gus Dur” dalam hal apapun. Persaingan politik ini diawali, waktu Amien Rais dengan cerdik di awal tahun 1990 mendukung pembentukan ICMI, disini Amien Rais ingin menjadikan dirinya selaku “figur publik yang mengendalikan Suharto” sesudah Suharto agak berjarak dengan kubu angkatan bersenjata dan mendekatkan kubu Islam.

Gus Dur membaca, akrobat politik Amien Rais ini cuma untuk memperalat power Islam yang semestinya mempunyai power tersendiri berhadapan dengan Suharto, malah ia menjadikan Islam selaku sekutu Suharto.

Manuver inilah yang ditolak oleh Gus Dur, sehingga Gus Dur Tidak mau berkoalisi dengan ICMI. Tetapi di pihak Suharto juga membaca, bahwa Amien Rais ialah orang yang tidak mampu dipercaya, di kalangan intelijen Orde Baru waktu itu, ada laporan bahwa Amien Rais kerap membangun konspirasi untuk menyingkirkan temannya sendiri di internal Muhammadiyah , atau sekutu politiknya dibuat terjebak.

Dikalangan internal Muhammadiyah sendiri, Amien Rais dikenal orang yang suka membolak balikkan sokongan, ia kadang berkomplot menyokong seseorang, lalu sesudah orang itu dipandang merugikan secara politis ia akan menjatuhkan.

Amien Rais juga dicurigai membawa Muhammadiyah ke dalam ranah politik. Khittah Muhammadiyah selaku Organisasi modernisasi gerakan Islam lewat pendidikan dan RS, dibawa oleh Amien Rais ke politik praktis. Orang yang paham gejala ini ialah Lukman Harun, figur publik Muhammadiyah yang menantang frontal Amien Rais. Dan Lukman Harun-lah yang menyerukan di muka publik supaya Amien Rais tidak membawa Muhammadiyah untuk kepentingan politik praktis.

Beberapa yang mengira pendirian ICMI awalnya diberikan pada Amien Rais, tapi akhirnya Suharto memberikan itu ke BJ Habibie, sedikit beberapa hal ini mungkin membikin Amien Rais kecewa pada Pak Harto.

Amien Rais ialah orang yang brilian bagaimana kekuasaan mampu dimainkan, ia sadar kelebihan Intinya ialah membentuk panggung dan menciptakan aktor, ia bagai “Sjumandjaja Dalam Politik” seseorang yang sanggup menciptakan film-film baik tapi dia sendiri cuma jadi cameo sejenak.

Di tahun 1990, ia jadi ketua Muhammadiyah sebab ketum Muhammadiyah Azhar Basyir meninggal dunia. Disini Amien Rais mulai berpikir “Jikalau ingin besar, wajib cari lawan yang besar” dan tidak tanggung-tanggung ia mengambil keputusan Presiden Suharto jadi rival.

Di tahun 1994, lawan Suharto paling serius ada 2 yaitu : Megawati yang kuat sebab kemenangannya di kongres Sukolilo, Surabaya pada tahun 1993 membikin Megawati mempunyai entitas politik resminya berhadapan dengan Suharto dan Gus Dur yang diam-diam membangun persekutuan politik dengan pihak Benny Moerdani semenjak 1984 untuk secara taktis melawan Suharto.

Saat ini Amien Rais wajib muncul dan jadi rival Suharto untuk menaikkan dirinya, tetapi ia tidak punya modal sosial yang kuat untuk melawan Suharto. Ia tau tidak mungkin menggunakan Muhammadiyah untuk kepentingan politik, sebab Muhammadiyah amat berjarak dengan politik, kepentingan Muhammadiyah cuma di bidang bidang sosial, seperti sekolah dan RS. 1-satunya jalan ia wajib membranding dirinya sendiri, sehingga namanya wajib melebih Muhammadiyah. Dan inilah yang dikerjakan.

Di tahun 1993, Amien Rais mulai membangun gorong-gorong politik. Ia membangun persekutuan dengan Permadi, seorang kejawen dan lebih dikenal selaku dukun peramal. Amien Rais kerap duet dengan Permadi dalam diskusi-diskusi politik, di kalangan aktivis mulai beberapa tersebar pamflet pamflet penantangan Amien Rais ke Suharto, di media Amien Rais mulai menggunakan media, ia mempergunakan Republika selaku corong politik, dimana Parni Hadi pemred Republika membantu mempopulerkan nama Amien Rais habis-habisan, jadilah Amien mempunyai kolom sendiri di Republika.

loading...

Disinilah Amien menyaksikan namanya mulai meraksasa bahkan melebihi nama Muhammadiyah sekalipun. Amien Rais tidak lagi menyaksikan semboyan Muhammadiyah “Hidup, hidupkanlah Muhammadiyah, tapi jangan cari makan di Muhammadiyah” jadi sebuah nilai nihil, sebab ia menjebak Muhammadiyah untuk diperalat meraih kekuasaan, kepentingannya sendiri bukan kepentingan Muhammadiyah.

Ada fokus Inti yang ditembak Amien Rais selaku peluru isu untuk melawan Suharto, yaitu “Nepotisme”, ia menganggap Cendana sudah merusak mental orang Indonesia dengan nepotisme. Bila di medio 1980-an, tulisan-tulisan Amien Rais seperti di majalah Prisma, lebih ke masalah geopolitik seperti Revolusi Impor Islam yang mengagung-agungkan Imam Khomeini Syi’ah yang dinilai sukses menantang Ronald Reagan, maka di tahun 1990-an Amien Rais mulai menyerbu Suharto, dan menciptakan jargon bahwa Suharto ialah Fir’aun.

Tetapi bukan Amien namanya yang sanggup ngadalin Suharto, di 1 sisi ia gampar kiri kanan Suharto di media, di sisi lain ia Hadir ke Suharto untuk minta sokongan. Hal ini diakui oleh adik tiri Suharto, Probosutedjo yang geram dengan sikap Amien Rais bermain 2 muka.

Bagian kelebihan Amien Rais, ia sadar kelebihan dan kekurangan dirinya, sehingga ia mampu mengukur akrobat politik yang ia mainkan, ia paham mempunyai kekurangan yaitu : Solidarity Maker, ia bukanlah penggerak massa, tetapi ia sanggup mengatur bagaimana elite-elite politik dijebak, dalam suatu permainan hitung-hitungan politik, seluruh diarahkan sesuai dengan permainan Amien Rais.

Di masa pergolakan 1997-1998, Amien Rais dengan cerdik menunggangi gerakan maha siswa 1998, selaku gerakan dirinya dalam menantang Suharto. Tatkala Megawati dan Gus Dur Tidak mau ikut masuk gelanggang 1998, sebab biarlah maha siswa berjuang atas nama moralitasnya bukan atas nama politik praktis, Amien Rais malah masuk gelanggang dan tanpa malu membranding dirinya selaku penggerak maha siswa. Ia menciptakan gerakan 2 Mei 1998 dengan planning mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa di Monas, tetapi ia menghentikan gerakan waktu prajurit tegas akan melawan gerakan monas 2 Mei 1998 dan gerakan itu mengalami kegagalan, ia menghilang sejenak sebab ancaman prajurit sebelum lalu muncul lagi sesudah Maha siswa menduduki MPR/DPR, ia pidato di depan ribuan maha siswa di lapangan MPR/DPR dan pers mengelu-elukan ia selaku “Bapak Reformasi”, kelak di Gedung MPR/DPR ialah takdirnya, ia tidak pernah sampai ke Istana Negara, dari sinilah ia mulai sadar bahwa rejekinya di Gedung MPR/DPR bukan di wilayah eksekutif, seperti pesan ibunya Sudalmiyah “Kavling engkau itu di MPR” bukan yang lain.

Singkat cerita Amien Rais sanggup menduduki ketua MPR/DPR, sesudah sukses ngerjain Megawati, lalu ia malah berbalik ngerjain Gus Dur. Lalu Megawati naik, giliran Amien Rais menyeberang ke SBY, bintang baru yang muncul di tahun 2004.

Amien Rais menyokong SBY serta memposisikan Hatta Radjasa selaku counterpart terpenting SBY dan malah jadi besan SBY, tetapi belakangan Hatta Radjasa ogah menuruti todongan Amien Rais yang mulai neko-neko dan tidak membikin nyaman Hatta, Amien Rais kesal dengan Hatta Rajasa, ia lalu mem-plot besannya Zulkifli Hasan untuk menggantikan posisi Amien Rais, sebelum itu Amien juga mempermalukan Sutrisno Bachir. PAN yang awalnya didirikan dengan cara cara intelektual, Saat ini malah jadi sebuah Partai berwajah Amien Rais, nafas PAN selaku Partai Pembaharu jadi sebuah Partai yang cuma menuruti kemauan Amien Rais saja.

Watak “nakal” Amien Rais sepertinya tidak hilang, di masa SBY ia mencoba ngerjain SBY juga, tetapi SBY dengan cepat mengancam Amien Rais, dan Amien Rais sadar ia masih cari makan di pihak SBY, bila melawan SBY keluarganya akan hancur, sementara ia mulai menua. Akhirnya Amien Rais tergopoh-gopoh mengejar SBY ke bandara dan minta maaf.

Amien Rais terus jadi “King Maker”, bahkan ia terobsesi jadi king maker. Naluri liar Amien Rais makin kencang, waktu Joko Widodo muncul jadi RI-1. Semenjak awal kemunculan Joko Widodo selaku figur publik politik, Amien Rais tidak pernah diikutsertakan. Bahkan Amien Rais terkesan senantiasa menganggap remeh Joko Widodo tetangganya di Kota Solo.

Amien Rais tidak pernah melirik Joko Widodo, selama jadi Walikota Solo. Bagi Amien, Joko Widodo cuma mainan politisi-politisi daerah, tidak lebih. Sementara ia ialah “pusat perhatian nasional”. Tetapi bahkan waktu Joko Widodo meroket, Amien Rais jauh ketinggalan di belakang, namanya tidak disebut dalam sejarah kemunculan Joko Widodo.

Mengamankan “Politik Dinasti Condongcatur”

Amien Rais ia tidak akan mampu lagi menduduki jabatan impian Presiden RI, nasibnya terhenti di posisi ketua MPR/DPR. Tetapi dari situlah ia sadar, ternyata jabatan di Parlemen lebih menggiurkan daripada jabatan politik.

Amien Rais menjadikan seluruh anak anaknya selaku calon member DPR atau DPRD, Amien Rais ialah penantang Suharto, tapi ia juga menjadikan cara-cara Suharto untuk membangun dinasti politiknya. Tak sama dengan Joko Widodo yang mendidik anak anaknya tidak boleh bermain politik dan mempergunakan uang anggaran negara untuk cari penghidupan.

Maka Amien Rais mempergunakan anak-anaknya untuk menjamin hari tua, dan menjaga kekuasaan politiknya. Hanafi Rais, puteranya maju dari Dapil Yogyakarta untuk jadi member DPR RI.

Puteranya yang lain, Mumtaz Rais mencalonkan dari Dapil Magelang untuk member DPR RI, puterinya yang menangis-nangis disamping Ratna Sarumpaet dan menjadikan Ratna Hoax selaku “Tjoet Nyak Dien” jadi Calon Legislator DPRD Dapil Sleman dan puteranya yang lain, Baihaqi mengamankan suara Kulon Progo selaku Calon Legislator DPRD, untuk keberlangsungan nepotisme Amien Rais.

Bisakah kita mempercayai, figur publik yang kerap membolak balikkan sokongan, tadinya ia anti Suharto bahkan mengata-ngatai anak anak Suharto telah kena karma atas perbuatan jahat bapaknya, Saat ini malah nyaman dengan Famili Cendana untuk mengamankan posisi Dinasti Condongcatur.

Saat ini Amien Rais tersandung Perkara kebohongan Ratna Sarumpaet, Amien ialah politisi papan atas ke-1 yang dipanggil pihak kepolisian. Apakah Polisi sudah memegang data atas masalah ini, bagaimapun Amien Rais ialah figur publik besar dalam dunia politik, pemanggilannya pun wajib disertai data kuat, jikalau data kuat itu ternyata menyudutkan Amien Rais, mungkinkah ini jadi Sandyakala Amien Rais…

Bunda Fatma

(kompasiana/ suaraislam)


Suara Islam by Ahmad Zaini

Loading...

INFO POPULER

______________________
loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :