Ini Isi Khutbah Rasulullah Waktu Shalat Gerhana

Hukum Shalat Gerhana Setelah Shalat Shubuh

Ini Isi Khutbah Rasulullah Waktu Shalat Gerhana

Shalat gerhana hukumnya sunnah muakkad, baik gerhana bulan ataupun matahari. Shalat gerhana matahari (kusuf) disyariatkan pada tahun kedua hijriah. Sementara gerhana bulan (khusuf) disyariatkan tahun kelima hijriah. Kesunnahan ini mereferensi pada praktik dan anjuran dari Nabi Saw.

Dalam hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah disebutkan bahwa saat terjadi gerhana matahari Rasulullah melaksanakan shalat berjamaah bersama-sama para sahabatnya. ‘Aisyah menjelaskan:

خسفت الشمس في حياة النبي فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى المسجد، فقام فكبر وصف الناس وراءه

Artinya, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasul, beliau lalu berangkat ke masjid mengerjakan shalat, dan di belakang beliau orang-orang membikin shaf (jadi makmum),” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Aisyah itu juga disebutkan Rasul mengerjakan shalat gerhana dua rakaat, tiap rakaat ada dua kali ruku’. Praktik ini sebagaimana yang ditunaikan beberapa orang waktu ini. seusai Rasulullah shalat, beliau langsung berdiri dan menyampaikan isi khutbah di depan para sahabatnya. Dalam khutbah tersebut, Rasulullah berkata:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ

Artinya, “Sesungguhnya matahari dan bulan ialah bagian dari kekuasaan Allah. Gerhana bulan atau matahari terjadi bukan sebab kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian menyaksikan gerhana, takbirlah, berdoalah ke Allah, kerjakan shalat dan bersedekalah wahai ummat Muhammad,” (HR Muslim).

Rasulullah dalam khutbah ini menekankan bahwa gerhana bulan dan gerhana bulan tak berhubungan dengan kematian dan kelahiran seseorang. Gerhana terjadi sebab kekuasaan Allah SWT. Rasul menyampaikan hal ini selaku koreksi atas keyakinan warga Arab pra-Islam yang memahami gerhana selaku tanda dari kematian dan kelahiran.

Kebetulan saat terjadi gerhana waktu itu, anak Rasulullah, Ibrahim meninggal dunia. Ibrahim putra Rasulullah dari Marya Qibtiyyah. Dengan adanya khutbah tersebut, Rasul ingin menekankan bahwa gerhana tak ada kaitannya dengan kematian putranya atau siapa saja.

Saat terjadi gerhana, kita dianjurkan untuk shalat dan memperbanyak sedekah. Anjuran ini sebagaimana disebutkan secara terang dalam hadits di atas.

Selengkapnya, klik di sini

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.