Info Sidney Jones Masalah Pergerakan ISIS di Indonesia

Website Islam Institute

Info Sidney Jones Masalah Pergerakan ISIS di Indonesia, Lebih dari 2000 Orang Sudah Berbai’at dengan ISIS

Jikalau ada orang yang punya pengalaman di Suriah mampu kembali ke Indonesia, dia mampu jadi pemimpin dengan kredibilitas yang baru, dengan Skill yang lebih tinggi, dengan tekad bulat ideologi yang lebih mendalam, yang mampu betul-betul menghidupkan dan melatih sel-sel teroris yang masih ada di Indonesia dan itu bahayanya.

 

 

Islam-Institute, JAKARTA – Eksistensi berjumlah besar kubu anggota milisi Negara Islam atau disebut ISIS di Suriah dan Irak bisa jadi tempat pelatihan bagi gelombang lahirnya para pelaku peledakan bom di Indonesia, kata ahli terorisme Sidney Jones.

“Jikalau ada orang yang punya pengalaman di Suriah mampu kembali ke Indonesia, dia mampu jadi pemimpin dengan kredibilitas yang baru, dengan Skill yang lebih tinggi, dengan tekad bulat ideologi yang lebih mendalam,” kata Sidney Jones.

Pimpinan Institute for Policy Analysis of Conflict ini juga menjelaskan, masyarakat Indonesia penyokong ISIS yang baru kembali dari Suriah “mampu betul-betul menghidupkan dan melatih sel-sel teroris yang masih ada di Indonesia dan itu bahayanya.”

Berikut tanya-jawab Rebecca Henschke dengan Sidney Jones soal sokongan masyarakat Indonesia kepada ISIS sesudah serangkaian serbuan di Paris, Prancis.

Tetapi yang menarik untuk saya, ada kisaran 130 orang yang terdiri dari wanita dan anak di bawah umur 15 tahun sebab beberapa yang Hadir ke sana bareng Famili.

Berikut ini Tanya Jawab selengkapnya dengan Sidney Jones

Bagaimana Anda menyaksikan reaksi sejumlah masyarakat Indonesia yang menyokong aksi serbuan di Paris?

Sulit untuk dibilang secara pasti. Jikalau kita lihat hitungan total orang yang berbai’at ke ISIS pada bulan Juli tahun lalu, sesudah “Khilafah” dirilis, mungkin kisaran 2000 orang dan pasti lebih besar daripada itu sekarang. Tetapi terang bahwa jikalau dilihat secara keseluruhan cuma segelintir orang Indonesia (yang) menyokong, sebetulnya.

Dan yang berangkat ke Suriah?

Yang berangkat kesana (Suriah), jikalau totalnya mungkin kisaran 400; tapi itu terdiri dari sekarang ini 50 orang yang telah meninggal dan sebagian besar sesudah 1 Maret tahun sekarang – jadi beberapa yang meninggal dalam bulan-bulan terakhir ini. Terus, ada kisaran 200–250 mujahidin yang betul-betul ikut Tentara ISIS. Tetapi yang menarik untuk saya, ada kisaran 130 orang yang terdiri dari wanita dan anak di bawah umur 15 tahun sebab beberapa yang Hadir ke sana bareng Famili.

Itu datanya dari mana, dan apakah pelacakan di Indonesia cukup baik?

Ini semacam kombinasi dari angka legal dan data yang kami kumpulkan sendiri. Dan jikalau kita lihat biodata, dengan nama dan data lain dari orang-orang itu, cuma kisaran 150-an orang fighter yang kita telah tahu datanya secara komprehensif. Dugaannya lebih dari itu, sebab pasti tidak seluruh telah teridentifikasi. Yang menarik, pada awalnya sebagian besar ialah member dari organisasi radikal yang telah kami tahu – organisasi yang telah ada, seperti Darul Islam, seperti JAT (jema’ah Anshorut Tauhid), seperti organisasi macam itu. Tetapi baru-baru ini, ada orang yang juga berkoalisi, yang tidak pernah ikut dengan organisasi radikal, yang tertarik oleh propaganda ISIS.

Kenapa mereka tertarik? Bukankah tidak ada diskriminasi kepada orang-orang Islam di sini, tidak ada perang di Indonesia waktu ini… Kenapa mereka mau berangkat ke Suriah bareng Famili untuk berperang di situasi yang amat tidak nyaman?

Ya, saya kira mungkin yang paling sukses dari propaganda ISIS, ada gagasan bahwa ISIS ialah satu-satunya negara Islam di mana syariat Islam mampu diterapkan secara full dan itulah yang menarik beberapa orang di Indonesia. Apalagi dengan video-video orang yang amat suka… yang mampu hidup seperti biasa, seperti tidak ada perang sama sekali. Dan saya kira… apalagi dengan sekolah gratis, dengan rumah gratis, dan… saya kira itu mampu jadi pull (pesona) yang cukup besar.

Dia mampu jadi pemimpin dengan kredibilitas yang baru, dengan Skill yang lebih tinggi, dengan tekad bulat ideologi yang lebih mendalam, yang mampu betul-betul menghidupkan dan melatih sel-sel teroris yang masih ada di Indonesia dan itu bahayanya.

Tetapi di samping itu ada juga gagasan bahwa menurut beberapa hadits, perang akhir zaman akan terjadi di Syam (Suriah), dan ini Peluang untuk orang Indonesia dan sebetulnya orang di mana saja untuk ikut dalam perang yang terakhir di mana Islam akan menang. Dan itu juga mampu jadi 1 faktor atau motivasi yang amat kuat.

Indonesia juga telah mempunyai program deradikalisasi dan ada badan pemberantas terorisme (BNPT) di sini dan beberapa biaya mengalir ke sana, dan apakah mereka gagal untuk mengimbangi propaganda ini?

Ya sebetulnya program deradikalisasi atau kontra radikalisasi sampai waktu ini tidak begitu efektif. Tetapi saya kira sulit untuk cari negara manapun di dunia, dimana program deradikalisasi atau kontra-radikalisasi betul-betul efektif. Lihat saja Prancis, misalnya. Ada begitu beberapa program yang dilaksanakan dan tetap ada orang yang mau berkoalisi. Dan disini, saya kira, di Indonesia mungkin tugasnya lebih sulit lagi sebab tidak ada konsensus sama sekali diantara publik figur agama dan publik figur politik soal apa itu ekstremisme. Ada yang bilang bahwa, misalnya, Wahabi lebih bahaya daripada orang-orang yang berkoalisi dengan ISIS. Tanpa konsensus itu, akan mustahil memperoleh 1 program yang betul-betul efektif. Apalagi, saya kira, masih ada problem besar dengan hotel prodeo di Indonesia sebab beberapa jaringan rekrutmen sungguh ada orangnya yang telah ditahan di bagian hotel prodeo di Indonesia, dan kontrol kepada hotel prodeo amat lemah.

Apa yang terjadi di hotel prodeo?

Misalnya ada yang mampu berkomunikasi dengan teman-teman. Ada orang yang misalnya memegang nomor kontak orang di tapal batas Turki dan Suriah. Jikalau mau nyebrang dari Turki ke Suriah mesti bisa contact number itu. Dan kadang-kadang, malah napi terorisme atau temannya yang punya nomor kontak begitu.

Bagian orang yang terkenal ialah Amanat Rachman, orang ideolog yang baru-baru ini menerjemahkan pernyataan ISIS bahwa mereka bertanggung jawab atas serbuan di Paris. Dialah yang menerjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia. Dan dia ditahan di bagian hotel prodeo yang super maximum security, tapi tanpa kerepotan apapun dia mampu menyebarkan propaganda itu melalui handphone.

Dan jikalau mereka balik ke Indonesia, ada kekuatiran mereka akan membikin bom seperti Bali 2002, seperti yang dilaksanakan alumni Afghanistan?

Ya, saya juga kuatir bahwa resiko terorisme sekarang ini lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Semenjak tahun 2009, waktu ada pemboman hotel di Jakarta, sebetulnya tidak ada pemboman yang betul-betul sukses dan aksi terorisme lebih bersifat tembakan yang diarahkan ke polisi. Tetapi sekarang ini, saya kira, target juga mampu berubah. Bukan cuma polisi yang jadi target atau targeting domestic akan berhenti, tapi mungkin akan ditambah lagi dengan orang asing, seperti dulu dengan Nurdin (M) Top lakukan.

Tetapi juga saya kira, jikalau ada orang yang punya pengalaman di Suriah mampu kembali ke Indonesia, dia mampu jadi pemimpin dengan kredibilitas yang baru, dengan Skill yang lebih tinggi, dengan tekad bulat ideologi yang lebih mendalam, yang mampu betul-betul menghidupkan dan melatih sel-sel teroris yang masih ada di Indonesia dan itu bahayanya.  (AL/SFA/MM/BBC)

 

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.