Indonesia Perluas Pasar Ekspor menuju Uni Eropa

UKM Indonesia

Indonesia Perluas Pasar Ekspor menuju Uni Eropa

Indonesia berusaha memperluas pasar ekspor bagi produk-produk industri menuju wilayah Uni Eropa, di antaranya makanan dan minuman, tekstil, pakaian, dan alas kaki, serta minyak kelapa sawit dan turunannya.

“Perekonomian Indonesia dan Uni Eropa selama ini bersinergi. Selain itu persaingan komoditas di antara kedua pihak tak sama sehingga mampu saling melengkapi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui keterangannya di Jakarta, dikutip Antara Rabu (50/5)

Airlangga menyampaikan hal itu setelah menerima kunjungan Duta Besar Uni Eropa demi Indonesia Vincent Guerend di Kementerian Perindustrian, Jakarta.

Kemenperin menulis, nilai total perdagangan Indonesia-Uni Eropa pada 2017 mencapai 25,2 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia menuju Uni Eropa sebesar 14,5 miliar dolar AS dan impor berkisar 10,7 miliar dolar AS sehingga surplus di angka 3,8 miliar dolar AS.

Temporer itu, nilai investasi Uni Eropa di Indonesia tahun 2016 sebanyak 2,6 miliar dolar AS dengan hitungan total 2.813 proyek.

Dalam usaha meningkatkan kerja sama ekonomi bilateral, Menperin pun mendukung percepatan penyelesaian perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

“Perundingan ke-4 IEU-CEPA sudah dilaksanakan pada Februari 2018 di Surakarta, Jawa Tengah. Perundingan ke-5 bakal dilaksanakan pada Juli 2018 di Brussels, Belgia,” ungkapnya.

Adapun 15 isu perundingan yang dibicarakan, yaitu Trade in Goods, Rules of Origin, Customs and Trade Facilitation, Technical Barriers to Trade, Sanitary and Phytosanitary, Trade Remedies, Trade in Services, Investment, Competition, Small and Medium Enterprises, Government Procurement, Economic Cooperation and Capacity Building (ECCB), Intellectual Property Rights, Trade and Sustainable Development, dan Dispute Settlement.

Di samping itu, Menteri Airlangga aktif memacu peningkatan kerja sama antara pelaku industri nasional dengan pelaku industri di negera-negara Uni Eropa. Kemitraan ini diinginkan bisa menarik investasi dan transfer teknologi.

“Sejumlah perusahaan Eropa yang telah ada di Indonesia, kami juga ajak demi terus ekspansi,” terangnya.

Perluasan kerja sama tersebut, misalnya di bagian industri alat transportasi udara, antara PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan Airbus. Airlangga menceritakan, PT DI sudah cukup lama memasok sejumlah komponen pesawat demi menyokong produksi Airbus sepertikan pesawat angkatan bersenjata Airbus EADS CASA C-295 dan helikopter Airbus (Eurocopter).

“Kami ingin nanti pasar Eurocopter mampu diperluas lagi,” ujarnya.

Uni Eropa

 

 Hal senada disampaikan Vincent, selama ini PT DI telah terlibat dalam rantai pasok proses produksi pesawat terbang dan helikopter Airbus.

“Sejumlah spare part Airbus dibuat di Bandung (PT DI) dan lantas dikirim menuju seluruh penjuru dunia melalui produk pesawat Airbus. Ini contoh kerja sama yang bagus dan perlu ditingkatkan,” ucapnya.

Vincent pun menyampaikan, delegasi Uni Eropa dengan terdiri dari sebanyak 50 perusahaan bakal berkunjung menuju Indonesia pada Oktober yang akan datang demi menawarkan konsep kerja sama yang disebut circular economy, selain usaha menjajaki peningkatan kerja sama di bagian industri.

“Circular economy ini merupakan konsep baru yang tengah digalakkan di Eropa dengan maksud mengurangi sampah dan meningkatkan daur ulang sampah,” jelasnya.

Berkisar sebulan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengunjungi Uni Eropa demi membicarakan sejumlah problem terutama diskriminasi produk turunan kelapa sawit Indonesia.

Selaku Ketua Tim Negosiasi RI demi perundingan pembatasan penggunaan produk turunan kelapa sawit di Uni Eropa, Luhut menjelaskan bahwa Indonesia ingin membangun dialog kemitraan dalam berhadapan dengan problem kelapa sawit.

“Hampir seluruhnya sawit yang dikirim dari Indonesia sudah memperoleh sertifikasi Internasional. Dari segi kesehatan kami telah melaksanakan pemeriksaan dan pun meminta konsultan independen soal dampak sawit pada kesehatan, ndak ada yang salah dengan sawit,” katanya, menekankan kejanggalan diskriminasi yang diterapkan parlemen Uni Eropa pada produk sawit.

Terhadap Komisioner Malmstrom, Luhut pun menyampaikan bahwa perkebunan kelapa sawit membantu meningkatkan kesejahteraan para petani di negara-negara berkembang lainnya, tidak cuma di Indonesia.

“Aku datang untuk kepastian nasib petani sawit, keluarganya dan orang-orang yang bergantung pada bisnis ini, yang jumlahnya melebihi 16 juta orang,” katanya.

Luhut menambahkan bahwa Indonesia ndak berencana menerapkan tindakan balasan kepada diskriminasi produk sawitnya. Ia percaya Uni Eropa bakal memberikan pertimbangan lebih detail mengenai keputusan strategi sawitnya.

Dia juga mengundang anggota Parlemen Uni Eropa demi berkunjung menuju Indonesia.

Di samping itu, Luhut menyampaikan komitmen Indonesia demi mempercepat proses perundingan kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/I-EU CEPA).(Antara/PH)

 

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.