Indonesia Diilhami Negara Madinah Nabi Muhammad SAW, Bukan Negara Agama

Website Islam Institute

Indonesia Diilhami Negara Madinah Nabi Muhammad SAW, bukan Negara Agama

Dalam sejarah Islam, konsep negara Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW merupakan konsep negara ideal. Hal itu karena di tengah beragam kelompok yang bermacam-macam, baik perbedaan dialek bahasa maupun suku, bahkan agama, Nabi mampu membangun konsensus bersama untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Negara Madinah bukan negara agama, meskipun demikian, negara Madinah dikenal sebagai negara ideal karena mampu mengakomodasi beragam perbedaan yang ada.

Pesan itu disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dalam Ceramah Kebangsaan di Sumatera Utara. Tokoh yang baru-baru ini terpilih sebagai tokoh Islam paling berpengaruh di dunia tersebut menegaskan bahwa negara Madinah yang dibangun Nabi Muhammad SAW terdiri dari masyarakat yang heterogen, baik dari sisi agama maupun suku. Untuk mempersatukan perbebedaan tersebut, Nabi membuat suatu konstitusi, yaitu seluruh kompenen masyarakat, tanpa terkecuali, harus tunduk kepada konstitusi yang sudah disepakati bersama.

“Lima belas abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW sudah berhasil membangun konsep konstitusi modern, yang mengilhami berdirinya negara Indonesia ini, yaitu negara berdiri atas dasar persamaan cita-cita membangun kesejahteraan bersama, bukan berdasar agama dan suku,” ujarnya

Kiai Said menambahkan, Mahaguru Islam di Indonesia, yakni KH Hasyim Asyari pada tahun 1914 memiliki pandangan yang brilian tentang sinergi agama dan negara dalam rangka mempertahankan keutuhan suatu negara. Bahkan menurut Kiai Said, KH. Hasyim Asy’ari jika harus mendahulukan antara agama dan negara pasti mendahulukan negara dahulu. Hal itu karena jika negara aman maka tentu saja ibadah dan segala bentuk pelaksanaan keagamaan pun juga menjadi tenang.

Doktor Filsafat Universitas Ummul Quro, Mekkah tersebut menegaskan, konsep negara yang dicontohkan oleh Nabi sebenarnya sesuai dengan konsep pembentukan negara Republik Indonesia. Buktinya, seluruh komponen masyarakat mempunyai tugas masing-masing dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bersama dan membangun peradaban yang maju. Karena itu tak heran jika di kalangan pesantren ada adigium yang sangat terkenal, yaitu mencintai Tanah Air merupakan bagian dari iman.

“Tahun 1914 Mbah Hasyim memiliki keinginan membangun sinergitas antara agama dan negara sehingga muncul adagium Hubbul wathan minal iman, agama dan negara jalan beriringan untuk menciptakan stabilitas negara” terangnya.

Kiai Said juga mencontohkan penyebab situasi politik di Timur Tengah yang tidak stabil seperti terjadi peperangan, kerusuhan antar masyarakat bahkan pembunuhan di antara ulama oleh umat muslim sendiri. Akar dari problem yang dashsyat tersebut karena mereka tidak memiliki paradigma mencintai Tanah Air.

“Lihatlah di Timur Tengah, konflik sesama umat muslim sendiri, salah satu penyebabnya adalah tidak mempunyai sifat cinta tanah air,” pungkas Pengasuh Pondok Pesantren al-Tsaqafah tersebut.[islamramah.co]

Indonesia Diilhami Negara Madinah Nabi Muhammad SAW, bukan Negara Agama

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.