Indahnya Perbedaan Pandangan Para kiai NU, tak ada Tudingan Liberal dan Sesat

86 Renungan, Nasehat dan Wejangan dari Para Ulama Sepuh

Indahnya Perbedaan Pandangan Para kiai NU, tak ada Tudingan Liberal dan Sesat

Pada tahun 1928 terbit majalah Suara Nu, pada nomor perdana majalah anyar itu dimuat tulisan Syekh Hasyim Asy’ari mengenai hukum menabuh beduk selaku sarana memanggil jemaah sholat di masjid dan surau. Syekh Hasyim Asy’ari menyebut bahwa menabuh beduk demi sarana memanggil sholat itu ada dalilnya, hal ini diqiyaskan pada penggunaan alat musik duf. Dalam tulisan yang sama, Syekh Hasyim juga menyinggung hukum menabuh kentongan. Tak sama dengan beduk, menurut dia, menabuh kentongan demi memanggil jemaah sholat tak ada dalilnya, dan demi itu beliau mengambil keputusan tak boleh menabuhnya.

Pada bulan seterusnya, pada nomor kedua majalah yang sama, giliran Syekh Faqih Maskumambang mecatat. Kali ini majalah Suara NU memuat tulisan Syekh Faqih Maskumambang, tulisan yang merespon tulisan Syekh Hasyim Asy’ari yang dimuat pada nomor sebelumnya, soal tak bolehnya menabuh kentongan. Menurut Syekh Faqih Maskumambang menabuh kentongan yang ditujukan demi memanggil Sholat hukumnya diizinkan, dengan men-qiyaskan kebolehannya pada kebolehan mempergunakan beduk demi memanggil sholat.

Syekh Faqih Maskumambang kala itu menjabat selaku wakil Rais Akbar Nahdlatul Ulama, atau wakil dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang berkedudukan selaku Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Keduanya sebagai rujukan bagi murid-muridnya dan bagi penduduk nahdliyyin pada umumnya.

seusai dua tulisan itu beredar luas, Syekh Hasyim Asy’ari memanggil seluruhnya muridnya demi menguping pembacaaan dua tulisan yang membicarakan hukum menabuh kentongan tersebut. Kedua tulisan yang bertolak belakang itu dibacakan di depan santri-santri, seusai dibacakan, Syekh Hasyim lantas menyampaikan keputusannya; bahwa kedua dalil kebolehan dan pelarangan menabuh kentongan sama kuatnya. Sehingga karena itu, Syekh Hasyim mempersilahkan siapa saja demi mempergunakan kentongan atau tak mempergunakan kentongan. Tapi, Syekh Hasyim Asy’ari meminta terhadap muridnya, supaya di masjidnya tak ada yang menabuh kentongan.

Tak lama seusai polemik boleh tidaknya memukul kentongan itu ramai dibicarakan, Syekh Hasyim Asy’ari berencana berkunjung ke pesantren yang dipimpin Syekh Faqih Maskumambang di Gresik. Mengetahui berita Syekh Hasyim hendak datang berkunjung ke Gresik, Syekh Faqih Maskumambang cepat-cepat mengutus seratus muridnya demi mendatangi desa-desa di Gresik dan sekitarnya, untuk memberi himbauan terhadap pengurus-pengurus masjid dan musholla; bahwa nanti selama Syekh Hasyim Asy’ari berkunjung ke Gresik, seluruhnya masjid diminta demi menurunkan kentongan atau sedikitnya tak menabuh kentongan pada menjelang waktu sholat.

– Cerita mengenai etika mengusung pandangan di atas disampaikan oleh almarhum Gus Dur pada satu kesempatan di Situbondo, di depan Syekh Ahmad Shofyan dan Kyai Cholil As’ad Syamsul Arifin, dengan tidak banyak penyelarasan tentu saja.

Sumber : muslimoderat.net

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.