Ilmu Selangit Tetapi Kurang Adab, Apa Jadinya?

Orang punya ilmu selangit tapi kurang adab maka hilanglah rasa sungkan dan malu. Sebab itulah memahami kitab Ta’lim Muta’allim jadi penting …. Adab atau akhlak atau sopan santun dalam Islam ialah hal paling utama untuk dijadikan landasan bersikap. sesudah adab barulah Ilmu.

 

 

Ustadz Yusuf Mansur pernah bercerita dalam satu sesi ceramahnya. Bahwa santri-santri zaman dulu sebelum diajari soal ilmu agama, oleh para kyainya santri-santri tersebut digembleng mentalnya. Supaya jadi anak yang sabar, rendah hati, dengan kata lain bocah-bocah itu akan dihancrkan dulu kesombongannya. sesudah itu barulah ilmu agama diberikan kpd santri tersebut. Dengan seperti ini diinginkan supaya kelak saat jadi orang berilmu, bocah-bocah tak menyombongkan ilmunya.

Ialah satu hal penting yang wajib jadi fokus perhatian bagi seorang penuntut ilmu, yaitu soal kebagusan akhlak, adab atau sopan santun. Oleh sebab itulah di pesantren-pesantren NU, kitab Ta’lim Muta’llim akan diajarkan selaku pelajaran dasar bagi penuntut ilmu. Sebab dalam kitab ini terdapat ajaran ada-adab bagi penuntut ilmu.

Semenjak dulu para ulama amat memperhatikan adab ini, bahkan seluruh dakwah Rasulullah juga bermuara pada pembentukan akhlak. Dan pengembangan nilai etika dan estetika pergaulan. Dalam hal ini tersurat dalam sabda Nabiu shallallahu alaihi wasallam yang artinya:

“Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak,”(HR. Ahmad).

Nabi Muhammad juga bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِىءِ (رواه الترمذي ).

“Seorang mukmin bukanlah seorang pengumpat, pengutuk, yang berkata keji dan berkata kotor.” (HR. Tirmudzi ).

Dalam hadits yang lain Allah mengolongkan manusia yang tak berakhlak dalam golongan manusia yang paling jelek di depan Allah Swt.

”Sesungguhnya manusia paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat ialah seseorang yang ditinggalkan orang lain sebab menghindari kejelekannya,” (HR. Bukhari).

Sebaliknya orang paling digandrungi oleh Rasulullah ialah orang yang paling baik akhlaknya. Beliau bersabda: “Orang yang paling saya cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat nanti ialah orang yang paling baik akhlaknya,” (HR. At-Tirmidzi).

Logikanya, bila fiqih memberi batasan legalitas, maka akhlak dan moralitas memberi bobot yang luar biasa pada seni keindahan dalam hidup. Enggak cuma sekedar batasan wajib yang sah dan legal, tapi ada pesona akhlak dan sunnah yang mempercantik dan membuatnya lebih berwarna. Seperti itulah ajaran agama yang hanif ini.

Belajar adab dulu sebelum belajar ilmu

Lebih jauh Imam Ibnul Mubaarak -rahimahullah- mengisyaratkan urgensi adab dalam ucapannya yang masyhur,

“طلبت العلم ثلاثين سنة و طلبت العلم عشرين سنة. وكانوا يطلبون اﻷدب قبل العلم”

[ غاية النهاية في طبقات القراء (1/198) ]

“Saya belajar adab selama 3 puluh tahun dan belajar ilmu selama dua puluh tahun. Dahulu, orang-orang belajar adab dulu sebelum belajar ilmu.”

[Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra’ (1/ 198)]

Akhlak yang baik ialah perhiasan orang-orang berilmu. Kalau orang berilmu kurang adab, maka dia akan jadi sombong, “tebal muka” dan enggak punya sungkan atau segan kpd orang lebih tua yang semestinya dihormati.

Contoh orang berilmu dan beradab cakep ialah guru bangsa kita, Gus Dur. Beliau tak sekalipun berani mengkritik atau membalas hujatan KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie. Kenapa beliau tak merespon tuduhan-tuduhan yang kerap dilontarkan Anak dari Ulama besar Betawi itu. Sebab enggak lain beliau memahami ‘adab’ bahwa KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafiie ialah anak dari Guru Gus Dur, KH. Abdullah Syafi’ie.

Dengan anak gurunya saja beliau sungkan, sebab tak mau ilmunya hilang atau tak barokah. Padahal menurut ceritanya, Gus Dur cuma belajar ngaji dengan KH Abdulah Syafi’ie waktu beliau kecil waktu tinggal di Matraman, Jakarta.

Dan beberapa cerita kiyai-kiyai yang sungkan kepada Gus Dur, sebab beliau kiyai-kiyai sepuh itu amat hormat dengan kakek Gus Dur. Yaitu KH Hasyim Asy’ari yang merupakan Guru mereka.

Wallahu a’lam

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

4 Comments

  1. Itu kan menurut antum, tapi menurut saya beliau berdua itu sangat netral dan tidak memihak kemana pun. tapi memihak kepada kebenaran.

  2. Saudaraku jangan saling benci, itu adalah akar dari perpecahan. Kalu ada pertentangan sebaiknya diselesaikan dengan cara damai, diskusi ilmiah atau dengan cara mempertemukan mereka untuk bertabayun

    1. Khususnya kiyai Idrus Ramli, sudah sering dipertemukan dg Kiyai Said Aqil Siradj, tetapi sampai sekarang Idrus ramli masih tetap su’ul adab. Semoga ke depannya bisa lebih beradab lagi. Adab adalah tradisi terbaik di NU.

KOLOM KOMENTAR ANDA :