Ilmu Kedokteran Gigi di Dunia Islam, Barat dan Indonesia

Ilmu kedokteran gigi di dunia Islam, Barat dan Indonesia. Waktu ini institusi pendidikan kedokteran gigi masih terkonsentrasi di pulau Jawa. Sementara di Papua dan Maluku belum mempunyai institusi pendidikan kedokteran gigi

 

 

 

Tiba tiba saya dapat gagasan untuk menuliskan topik mengenai hal ilmu kedokteran gigi. Artikel yang saya tulis sekarang berbarengan dengan sakit gigi yang saya alami. Untuk pertama kalinya saya merasakan sakit gigi. Ternyata sakitnya melebihi sakit kepala, sakit maag maupun sakit hati. Artikel ini cuma sekilas saja mengulas kemunculan ilmu kedokteran gigi di masa lampau, meliputi Mesir, Islam, Barat dan Indonesia.

Ilmu kedokteran gigi telah ada semenjak Fir’aun ramses II. Dr Ja’far khadem yamani mengumumkan pada waktu itu telah ada tabib ahli gigi yang tinggal di istana Fir’aun yang bernama Bahabb Azz. Seribu tahun sebelum kelahiran Nabi Musa AS, orang-orang Akadia dan Mesir telah sanggup membikin alat berupa pinset gigi, pengikiran gigi dan tang pencabut gigi. Sekarang di Mesir tumbuh jurusan kedokteran gigi. Wajib ditempuh selama 5 tahun plus 1 tahun magang di klinik gigi. Misalnya di Ain Shams University, Alexandria University, Suez canal University dan al-Azhar University.

Bergeser ke negerinya para filosof, orang-orang Yunani baru mengenal ilmu kedokteran gigi sesudah mereka menamatkan belajarnya di Mesir. Mereka pulang ke Athena sambil membawa buku-buku Kedokteran gigi. Sementara pada masa pendirian Baitul hikmah di Baghdad, telah beberapa kitab/buku mengenai hal kedokteran gigi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Di Baghdad, telah ada kursi spesial untuk pasien yang akan memeriksakan keadaan giginya. Hampir di saban kota dari Baghdad, Damsyiq, Isfahan, Qurthubah sampai Iskandariyah terdapat balai pengobatan gigi. Dr Ja’far menyimpulkan bahwa sesungguhnya ilmu kedokteran gigi modern sekarang ini merupakan pengembangan dari kedokteran gigi di Andalusia.

Loading...
loading...

Di benua Amerika, ilmu kedokteran gigi enggak luput dari sejarah pendirian University of Maryland School of Dentistry. Kampus yang didirikan tahun 1840 ini dinobatkan selaku kampus yang menyediakan fakultas kedokteran gigi pertama di dunia. Prof Chapin A. Harris ialah dekan pertama di kampus tersebut sekaligus guru besarnya. Kampus ini resmi membuka registrasi pada 3 November 1840. Saat itu cuma mempunyai 5 peserta didik. Kalau di benua Amerika ditandai dengan berdirinya fakultas kedokteran gigi, maka di Eropa khususnya Inggris ditandai dengan berdirinya RS gigi pada tahun 1858 di kota London. Dua tahun seterusnya, menurut Amolak singh disana baru didirikan the Royal college of Surgeons.

Bagaimana dengan Indonesia? Sewaktu masih bernama Hindia belanda, di kota Surabaya sudah berdiri sekolah kedokteran yang bernama Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) pada tahun 1913. Sebab lembaga kedokteran gigi belum ada maka kebutuhan akan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi) didatangkan langsung dari Eropa (Belanda). Akan tetapi hitungan total dokter gigi dari Eropa yang dapat dan mau bekerja di Hindia Belanda pada waktu itu amat terbatas, itupun sebagian besar cuma untuk melayani orang-orang Eropa yang tinggal di sini. Kalau orang-orang pribumi menderita penyakit gigi maka sebagian besar dibawa ke dukun atau tabib dengan pengobatan tradisional, dan sebagian lagi dibiarkan sembuh dengan sendirinya.

Sampai tahun 1950, Indonesia baru mempunyai dua universitas negeri, yaitu UGM di Yogyakarta dan Universitas Indonesia (UI). Seterusnya tanggal 10 Nopember 1954 secara resmi Universitas Airlangga berdiri. Dengan berdirinya Universitas Airlangga maka Fakultas Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigi yang semula merupakan cabang dari UI lantas dipisahkan dari induknya dan digabung ke Universitas Airlangga.

Sebelum menutup tulisan ini, penyebaran institusi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia sampai waktu ini juga masih belum merata, hal ini juga merupakan bagian faktor yang menghambat usaha peningkatan pelayanan kesehatan gigi. Waktu ini institusi pendidikan kedokteran gigi masih terkonsentrasi di pulau Jawa. Sementara di Papua dan Maluku belum mempunyai institusi pendidikan kedokteran gigi. Wallahu’allam

 

Loading...

oleh: Fadh Ahmad Arifan

loading...

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *