Ikhwanul Muslimin Benalu di Negara-negara Muslim

Ikhwanul Muslimin Benalu di Negara-negara Muslim

JAKARTA – Enggak pernah ada revolusi yang digerakkan oleh Ikhwanul Muslimin (IM) sukses. Di Timur Tengah, tempat brojolnya IM sekalipun senantiasa gagal. Kenapa? Sebab gerakan IM tidak pernah memperoleh sokongan dari angkatan bersenjata, kubu Islam moderat, dan kaum nasionalis yang kebanyakan di negara-negara berpenduduk kebanyakan muslim. Bahkan ketiganya di mana saja senantiasa sebagai batu sandungan IM.

Di Mesir, negara tempat lahirnya IM, semenjak awal berdirinya gerakan ini senantiasa sebagai benalu bagi pemerintah Mesir. Mulai dari Gamal Abdul Naser sampai Abdel Fattah Al-Sisi. Semenjak dulu usaha mereka menggulingkan pemerintahan sah Mesir senantiasa gagal.

Tumbangnya Husni Mubarak pada Arab Spring kemarin bukanlah dimotori oleh IM, tapi merupakan gerakan seluruh rakyat Mesir yang telah muak dengan kediktatoran Husni Mubarak, di mana IM juga ada di dalamnya. Kebetulan, memang peran IM yang dipimpin Muhammad Mursi menonjol. Mursi sukses mengambil simpati rakyat, sampai ia menduduki kursi presiden Mesir.

Namun pemerintahan Mursi tidak bertahan lama. Enggak sampai 2 tahun digulingkan oleh angkatan bersenjata dan rakyat Mesir. Dan memang semenjak awal institusi Al-Azhar, selaku representasi Islam moderat di Mesir tidak pernah menyokong IM. Bahkan semenjak dahulu tidak pernah menyokong gerakan IM.

Kenapa gerakan IM senantiasa gagal? Ada sejumlah faktor:

1. Senantiasa mempergunakan isu agama
Pola IM senantiasa sama dari dulu sampai sekarang, yaitu senantiasa mempergunakan isu-isu agama demi menggerakkan massa.

Kala pemerintah “terpeleset” dalam mengelola dan menjaga hubungan antar ummat beragama, maka inilah celah masuk bagi mereka demi menggulingkan kekuasaan. Mereka mempropagandakan terhadap penyokong bahwa pemerintah tak berpihak terhadap Islam, sampai akhirnya masarakat terbakar emosinya. Mereka memang berpengalaman dalam hal mengelola konflik memanfaatkan isu agama.

IM jarang, bahkan tidak pernah menyentuh isu-isu keperluan masarakat tidak sedikit, seperti korupsi, ketimpangan ekonomi, kenaikan harga BBM.

2. Maksud sejatinya ialah kekuasaan
Hal ini nampak ketika mereka bekerjasama dengan orang-orang atau kubu yang sebelumnya mereka serang, sesatkan, atau kafirkan dengan dalil-dalil agama. Mereka mau bekerjasama dengan orang-orang tersebut, bahkan membela mereka cuma sebab mempunyai keperluan politik yang sama.

Dari sini nampaklah, bahwa sejatinya kubu ini cuma menjadikan agama selaku bungkus demi menutupi maksud politik mereka (baca: kekuasaan).

Loading...
loading...

3. Hakikatnya rapuh, sebab rentan perpecahan
IM ialah kubu yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok islam dengan aliran berbeda-beda. Kubu paling dominan ialah Wahabi, yang kita tahu menolak tradisi dan menganggapnya selaku bid’ah yang wajib dibasmi. Yang dominan seterusnya adl kubu mazhab puritan, mengikuti bagian dari mazhab empat, berakidah asy’ari atau maturidi, tetapi gerakannya radikal, seperti taliban di Pakistan dan Afghanistan yang bermazhab hanafi dan berakidah maturidi.

Perbedaan-perbedaan semacam itu rentan mengemuka dan berkemungkinan besar menimbulkan gesekan. Terlebih watak kubu ikhwan yang keras dan amat fanatik dengan pimpinan mereka.

Ikhwanul Muslimin bukanlah sebuah organisasi massa seperti NU atau Muhammadiyah, melainkan sebuah gerakan yang didirikan Hassan Al Banna pada awal abad ke-20 di Mesir. Tujuannya ingin menyatukan seluruh ummat islam.

Bagi IM Islam wajib menguasai segenap bagian kehidupan masarakat: politik, ekonomi, budaya. Dan ini cuma bakal dapat diwujudkan apabila kekuasaan digenggam oleh ummat Islam, bagaimanapun caranya demi meraihnya.

Mereka menolak sekat-sekat kebangsaan (nasionalisme). Bagi mereka yang ada cuma ukhuwah islamiyah, tak ada ukhuwah wathoniyah, apalagi ukhuwah basyariah. Bandingkan dengan NU -misalnya- yang jauh semenjak sebelum Indonesia merdeka, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari mengumumkan bahwa “nasionalisme dengan agama tidak dapat dipisahkan, keduanya saling menguatkan”.

Kemenangan bagi IM ialah saat Islam memegang tampuk kekuasaan, tidak peduli bila negara wajib hancur dan terpecah belah serta memakan korban ribuan insan (muslim) sebab memperjuangkannya.

Gerakan transnasional IM, di sejumlah negara Islam dapat mewujud ke dalam Partai politik, seperti partai Refah di Turki (digulingkan oleh angkatan bersenjata dan rakyat Turki), Partai FIS di Aljazair (digulingkan oleh angkatan bersenjata dan rakyat Aljazair), Partai PAS di Malaysia. Dan dapat berbentuk ormas, seperti Taliban di Pakistan dan Afghanistan, HAMAS di Palestina.

Lalu bagaimana gerakan IM di Indonesia? Saya percaya anda telah tahu kelompok-kelompok mana saja dengan menyaksikan sepak terjangnya di Indonesia, yang berideologi Ikhwanul Muslimin. [ARN]



Source by Samsul Anwar

loading...

You might like

About the Author: Samsul Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *