Humor Gus Dur VS Humor Mukidi, Keduanya Sama Lucunya

Humor Gus Dur VS Humor Mukidi – Akhir-akhir ini Humor Mukidi sedang buat heboh medsos. Ramai-ramai orang membagikan cerita homor Mukidi itu lewat whatsApp atau media sosial. Memang humor Mukidi lucu juga, mudah dipahami oleh siapa saja. Terutama yang mengerti bahasa Jawa.

Semenjak dulu bahasa Jawa kaya akan humor-humar yang lucu buat ngakak. Para pemain komedi juga kebanyakan mereka yang berbahasa Jawa. Ada Thukul Arwana, Dono, Kasino, Indro, pakde Tarsa, dll. Dan Soetantyo Moechlas juga orang Jawa, dia ialah sosok di balik Humor Mukidi.

Inilah Beberapa Contoh dari Humor Gus Dur

Bagaimana dengan Humor Gus Dur? Bagi anda yang telah pernah dengar humor-humor Gus Dur, pasti tahu humor Gus Dur tidak kalah lucu dengan humor Mukidi. Sanggup dibilang, Humor Gus Dur lebih berkelas dan orisinil. Sedangkan humor Mukidi ialah beberapa yang daur ulang dari humor warga Jawa sehari-hari yang telah semenjak lama ada di tengah warga.

Nah, berikut ini kami sajikan sebagian humor Gus Dur yang lucu, tidak kalah dari Humor Mukidi versi Islam Institute News. Humor Gus Dur ini dapat untuk menemani kita sedang sumpek supaya tetap ghirah.

Humor Gus Dur: “Siapa yang Paling Hebat?”

Di atas geladak kapal perang US Army 3 pemimpin negara sedang “berdiskusi” mengenai hal prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di kisaran kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan …

a. Bill Clinton (AS): Jikalau Anda tahu … prajurit kami ialah yang terberani di seluruh dunia … Mayor .. sini deh … coba kau berenang keliling ini kapal sepuluh kali.

Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia “The Star Spangled Banner” saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).

Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!

Clinton: Hebat kau, kembali ke pasukan!

b. Koizumi (PM.Jepang) : (tidak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) … coba kau keliling kapal ini sebanyak 50 kali … !

Sersan: (menyaksikan ada hiu … glek … tapi) for the queen I’am ready to serve!!! (pekik sang sersan, lantas membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali … dan dikejar hiu juga).

Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!!

Koizumi: Hebat kau … Kembali ke tempat … Anda lihat Pak Clinton … tentara, saya lebih berani dari prajurit Anda … (tersenyum dengan hebat …)

c. Gusdur (RI): Kopral ke sini kau … (sesudah datang …). Saya perintahkan kau untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali … ok?

Kopral: Hah … Anda gila yah …! Presiden nggak punya otak … nyuruh berenang berbarengan hiu … Songong!!! (sang Kopral pun berangkat meninggalkan sang presiden …)

Gus Dur: (Dengan amat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak … Cumi Cumi.… Kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! … Hidup Indonesia … !!!

 

 

Humor Gus Dur: “Beda NU lama dengan NU baru”

Suatu hari, di bulan Ramadhan. Gus Dur berbarengan seorang kyai lain (kyai Asrowi) pernah diundang ke kediaman eks presiden Soeharto untuk buka berbarengan.

seusai buka, lantas sholat maghrib berjama’ah. seusai minum kopi, teh dan makan, terjadilah dialog antara Soeharto dan Gus Dur.

Soeharto: “Gus Dur sampai malam di sini?”

Gus Dur: “Engga Pak! Saya mesti cepat berangkat ke ‘tempat lain’.”

Soeharto: “Oh iya ya ya… silaken. Namun kyainya kan ditinggal di sini ya?”

Gus Dur: “Oh, iya Pak! Namun mesti ada penjelasan.”

Soeharto: “Penjelasan apa?”

Gus Dur: “Sholat Tarawihnya nanti itu ‘ngikutin’ NU lama atau NU baru?”

Soeharto jadi bingung, baru kali ini dia menguping ada NU lama dan NU baru. Lantas dia menanyakan.

Soeharto: “Lho NU lama dan NU baru apa bedanya?”

Gus Dur: ” Jikalau NU baru lama, Tarawih dan Witirnya itu 23 rakaat.”

Soeharto: “Oh iya iya ya ya… ga apa-apa….”

Gus Dur sementara diam.

Soeharto: “Lha jikalau NU baru?”

Gus Dur: “Diskon 60% !”

Hahahahahaha…. (Gus Dur, Soeharto, dan orang-orang yang menguping dialog tersebut pun tertawa.) :mrgreen:

Gus Dur: “Ya, jadi sholat Tarawih dan Witirnya cuma tinggal 11 rakaat.”

Soeharto: “Ya telah, saya ikut NU baru aja, pinggang saya sakit.”

Humor Gus Dur: “Driver Metromini dan Juru Dakwah”

Di pintu akherat seorang malaikat menanyai seorang driver Metro Mini. “Apa kerjamu selama di dunia?” tanya malaikat itu.

“Saya driver Metro Mini, Pak.” Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk driver Metro tersebut. Dan peralatan yang terbuat dari emas.

Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia. “Apa kerja kau di dunia?” tanya malaikat ke Gus Dur.

“Saya eks presiden dan juga juru dakwah Pak…” Lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu. Menyaksikan itu Gus Dur protes.

“Pak kenapa kok saya yang eks presiden sekaligus juru dakwah memperoleh yang lebih rendah dari seorang driver Metro..?” Dengan tenang malaikat itu menjawab: “Begini Pak… Pada waktu Bapak ceramah. Bapak membikin orang-orang seluruh ngantuk dan tertidur… Sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada waktu driver Metro Mini mengemudi dengan ngebut, ia membikin orang-orang berdoa ….” (mbs)

Humor Gus Dur: “Ikan Curian Gusdur Jadi Halal”

Gus Dur jadi santri di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam (Ponpes Salaf API) Tegalrejo, Magelang, antara 1957-1959. Gus Dur berbarengan beberapa teman-temannya merancang skenario pencurian ikan di kolam milik Sang Guru, Kyai Haji Chudlori.

Waktu itu, Gus Dur menyuruh teman-temannya untuk mencuri ikan di kolam sementara Gus Dur mengawasi di pinggir kolam,”

Gus Dur tidak ikut masuk ke kolam dengan dalih mengawasi kalau sewaktu-waktu KH Chudlori keluar dan melewati kolam. Enggak lama lantas, lanjut dia, KH Chudlori yang saban pukul 01.00 WIB senantiasa keluar rumah. Untuk menuaikan shalat malam di masjid melintas di dekat kolam. Seketika itu juga, teman-teman Gus Dur yang sedang asyik mengambil ikan langsung disuruh kabur. Sementara Gus Dur tetap berdiri di pinggir kolam dengan memegang ikan hasil curian.

Gus Dur ke KH Chudlori, jikalau tadi ikan milik kyai sudah dicuri. Dan Gus Dur mengklaim sukses mengusir para pencuri itu,  ikan hasil curiannya sukses Gus Dur selamatkan.

Atas “jerih-payah” Gus Dur itu, KH Chudlori menghadiahkan ikan tersebut ke Gus Dur supaya dimasak di kamar berbarengan teman-temannya. Akhir kata, ikan itu akhirnya dinikmati Gus Dur berbarengan teman-teman bengalnya.

Terang Gus Dur memperoleh protes keras dari teman-temannya yang disuruhnya mencuri tadi. Tetapi bukan Gus Dur namanya kalau tidak dapat berdalih, yang lebih penting ialah hasilnya.

“Wong awakmu yo melu mangan iwake. Lagian, iwake saiki wis halal wong uwis entuk izin seko kyai. (Engkau juga ikut makan ikannya. Lagi pula, ikan curian tersebut telah halal, sebab sudah memperoleh izin dari kiai-red)

Humor Gus Dur: “Menebak Usia Mumi”

Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman Orde Baru. Cerita mengenai hal sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir. Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli Palaeo Antropologinya yang terbaik.

Akan tetapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain. Namanya juga jaman Orde Baru yang waktu itu masih bergaya represif. Misalnya banyaknya penculikan para aktivis. Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel.

seusai sejumlah negara maju untuk menebak setelah mumi, giliran delegasi Indonesia yang maju. Pak Komandan menanyakan ke panitia, bolehkan dia meneliti mumi itu di ruang tertutup. “Boleh, silahkan,” jawab panitia.

Lima belas menit lantas, dengan tubuh berkeringan Pak Komandan Intel itu keluar dan mengumumkan temuannya ke tim juri. “Usia mumi ini enam ribu dua ratus empat puluh lima tahun enam bulan tujuh hari,” katanya dengan lancar.

Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum respon itu tepat sekali.

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak Komandan Intel dikerumuni awak media dalam dan luar negeri di lobby hotel. “Anda luar biasa,” kata mereka. “Bagaimana cara Anda tahu dengan persis usia mumi itu?”

Pak Komandan dengan enteng menjawab, “Saya gebuki, ngaku dia!”

Humor Gus Dur: “Ohh Internet”

Suatu kali ada seorang Kyai Madura yang membanggakan pendirian pesantrennya ke Gus Dur.

“Wah … pesantren saya telah jadi. Lengkap, bangunannya luas bertingkat,” katanya dengan muka bangga. “Kapan-kapan Gus Dur mesti ke sana. Soalnya telah lengkap dengan eternit,” tambahnya lagi.

“Eternit?” tanya Gus Dur sambil berpikir saban bangunan kan memang perlu eternit.

“Payah, mosok nggak ngerti. Itu lho yang pakai komputer …!”
“Ohhh … internet,” jawab Gus Dur bersama-sama beberapa orang yang datang sambil tertawa.

Humor Gus Dur: “Stek Tumbuhan”

Di ruang perpustakaan pribadinya. Sedang terjadi dialog yang serius antara Gus Dur dengan salah seorang anaknya yang kepingin jadi anggota LKIR.

Gus Dur: “Memangnya apa yang dapat kau sumbangkan untuk LKIR sekolahmu?”
Anak: “Sebuah penemuan dari pemeriksaan yang saya lakukan sendiri.”
Gus Dur: “Apa itu?”
Anak: “Penggabungan (stek) 3 kategori tumbuhan yang amat berlainan spesiesnya. Dan ternyata sukses.”
Gus Dur: “Apa 3 kategori tumbuhan itu …?”
Anak: “Kelapa, singkong, dan tebu.”
Gus Dur: (terdiam, sepertinya nggak percaya) “Lalu apa yang terjadi dengan ketiga tumbuhan itu?’
Anak: “Jadi gethuk

Humor Gus Dur: “3 Kategori Orang NU”

Rumah Gus Dur di wilayah Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya nggak pernah sepi dari tamu. Dari pagi sampai malam. Bahkan tidak jarang sampai dini hari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalangan NU maupun bukan. Mereka pun beberapa dari luar kota.

Menggambarkan fanatisme orang NU, Gus Dur menjelaskan, tamu-tamu itu ada 3 tipe orang NU.

Pertama : “Jikalau mereka datang dari pukul 07.00 – 21.00 dan menceritakan mengenai hal NU. Itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik kepada NU,” kata Gus Dur.

Kedua: ”mereka yang meski telah larut malam, kisaran pukul 21.00-01.00, masih mengetuk pintu Gus Dur dan membahas NU. “Ini namanya orang gila NU,” ujarnya.

Ketiga: “jikalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari sampai jam enam pagi. Itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.

Humor Gus Dur: “Ho Oh”

Seorang ajudan Presiden Bill Clinton dari Amerika Serikat sedang jalan-jalan di Jakarta. Sebab bingung dan tersesat, dia lantas menanyakan ke seorang penjual rokok. “Apa betul ini Jalan Sudirman?” “Ho oh,” jawab si penjual rokok.

Sebab bingung dengan respon tersebut, dia lantas menanyakan lagi ke seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. “Apa ini Jalan Sudirman?” Polisi menjawab, “Betul.”

Sebab bingung memperoleh respon yang tak sama, akhirnya dia menanyakan ke Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas berbarengan ajudannya. “Apa ini Jalan Sudirman?” Gus Dur menjawab “Benar.”

Bule itu makin bingung saja sebab memperoleh 3 respon yang tak sama. Lalu akhirnya dia menanyakan ke Gus Dur lagi. Kenapa waktu tanya tukang rokok dijawab “Ho oh,” lalu tanya polisi dijawab “betul”. Dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata “benar.”

Gus Dur tertegun sejenak, lalu dia berkata. “Ooh begini, jikalau Anda menanyakan ke tamatan SD maka jawabannya ialah ho oh. Jikalau anda menanyakan ke tamatan SMA maka jawabannya ialah betul. Sedangkan jikalau yang menanyakan ke tamatan Universitas maka jawabannya benar.”

Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya menanyakan, “Jadi Anda ini seorang sarjana?”

Dengan spontan Gus Dur menjawab, “Ho … oh!”

Humor Gus Dur: “Made In Japan, Terlalu Cepat …”

Di luar Hotel Hilton, Gus Dur berbarengan sahabatnya yang seorang turis Jepang mau berangkat ke Bandara. Mereka naik taksi di jalan, tiba-tiba saja ada mobil kencang sekali menyalip taksinya. Dengan bangga Si Jepang berteriak, “Aaaah Toyota, made in Japan. Terlalu cepat…!”

Ndak lama lantas, mobil lain menyalip taksi itu. Si Jepang teriak lagi, “Aaaah Nissan, made ini Japan. Terlalu cepat.”

Beberapa lama lantas, taksi yang ia naiki lagi-lagi disalip mobil, dan Si Jepang teriak lagi. “Aaaah Mitsubishi. Made in Japan amat cepat…!” Gus Dur dan driver taksi itu merasa kesal menyaksikan Si Jepang ini bener-bener nasionalis.

Lantas, sesampainya di bandara, driver taksi bilang ke Si Jepang. “100 dolar, please…”

“100 dolars…?! Ini nggak jauh dari hotel.”

“Aaaah… Argometer made in Japan kan amat cepat sekali,” kata Gus Dur menyahut Si Jepang itu.

Humor Gus Dur:  “Kesatuan Ummat Beragama”

Guyonan lainnya dilontarkan Gus Dur waktu menghadiri “Seminar wawasan kebangsaan Indonesia” di Batam. Di depan 100 pendeta dari seluruh propinsi Kepulauan Riau. Gus Dur menerangkan kebersamaan mesti diawali dengan sikap berbaik hati kepada sesama.

“Oleh sebab itu seluruh ummat bertanggung jawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain. Namun keselamatan bangsa tetap diutamakan,” kata Gus Dur disambut tawa peserta.

Humor Gus Dur: “DPR Turun Pangkat”

Dia juga sempat melontarkan guyonan mengenai hal prilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Sempat menyebut mereka selaku anak Taman Kanak-Kanak. Gus Dur pun berseloroh anggota DPR telah “turun pangkat”. seusai ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.

“DPR dulu TK, sekarang playgroup,” kata Gus Dur. Tatkala menjawab pertanyaan awak media mengenai hal kejadian di DPR waktu sidang itu.

Humor Gus Dur: Menyesal Berjumpa Bidadari

Bahkan waktu merespon aksi jihad yang ditunaikan oleh beberapa penduduk muslim yang percaya kematiannya akan menjamin tempat di surga. Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.

“Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan berjumpa bidadari di surga?” tanya seorang awak media ke Gus Dur.

Gus Dur pun menjawab, “Memangnya telah ada yang membuktikan?”

“Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang terang bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan jikalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal berjumpa bidadari. Sebab kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan polisi,” lanjut Gus Dur cengengesan.

Humor Gus Dur: “Hallo Abdurrahman Saleh Telah Mendarat di Airport Abdurahman Wahid”

Pada akhir April 2000, Gus Dur sempat ke Malang, dan mendarat di Bandara Abdurrahman Saleh. Ini mengingatkan dia pada kejadian belasan tahun silam. Tatkala dia mendarat di bandara yang sama dari Jakarta. Waktu masih ada penerbangan regular dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Malang.

Waktu itu Gus Dur berbarengan antara lain Almarhum Jaksa Agung Sukarton Marmosujono. Sebagaimana lazimnya untuk iring-iringan orang penting, mereka pun disambut oleh pasukan Banser NU.
Tatkala iring-iringan telah siap berangkat ke Selorejo, kisaran 60 kilometer dari bandara, petugas Banser memberitahukan pada pos komando melalui handy talky.
“Halo, halo, rojer,” kata Mas Banser. “Lapor: Abdurrahman Saleh telah mendarat di airport Abdurrahman Wahid!”

Humor Gus Dur: “Kaum Almarhum”

Mungkinkah Gus Dur sungguh-sungguh percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, karena Gus Dur senantiasa siap dengan ulet dan sungguh-sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membikin repot para koleganya.

Namun, ini mungkin respon yang benar, tatkala ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.

“Saya datang ke makam, sebab saya tahu. Mereka yang mati itu telah nggak punya kepentingan lagi.” Katanya.

Humor Gus dur:  “Lupa Tanggal Lahir”

Gus Dur, nama lengkapnya ialah Abdurrahma Al-Dakhil. Dia lahir pada hari Sabtu di Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Ada rahasia dalam tanggal kelahirannya. Gus Dur ternyata nggak tahu persis tanggal berapa sejatinya dia lahir.

Sewaktu kecil, waktu dia mendaftarkan diri selaku siswa di sebuah SD di Jakarta, Gus  Dur ditanya, ” Namamu siapa Nak?” “Abdurrahman,” jawab Gus Dur.

“Tempat dan tanggal lahir?’ “Jombang …,” jawab Gus Dur terdiam beberapa waktu.
“Tanggal empat, bulan delapan, tahun 1940,” lanjutnya

Gus Dur agak ragu karena dia menghitung dulu bula kelahirannya. Gus Dur cuma hapal bulan Komariahnya, yaitu hitungan berdasarkan perputaran bulan. Dia nggak ingat bulan Syamsiahnya atay hitungan berdasarkan perputaran matahari.

Yang Gus Dur maksud, dia lahir bulan Syakban, bulan kedelapan dalam hitungan Komariag. Tetapi gurunya menganggap Agustus, yaitu bulan delapan dalam hitungan Syamsiah.

Maka semenjak itu dia dinilai lahir pada tanggal 4 Agustus 1940. Padahal sejatinya dia lahir pada 4 Syakban 1359 Hijriah atau 7 September 1940.

Humor Gus Dur: “Santri Dicegah Merokok”

“Para santri dicegah keras merokok!” begitulah aturan yang berlaku di seluruh pesantren, termasuk di pesantren Tambak Beras asuhan Kyai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyatri. Namun, namanya santri, jikalau nggak bengal dan menabrak aturan rasanya kurang afdhol.

Suatu malam, tutur Gus Dur, listrik di pesantren itu tiba-tiba padam. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri ada yang nggak peduli, ada yang tidur tapi ada juga yang kelihatan jalan-jalan mencari udara segar.

Di luar sebuah rumah, ada seseorang sedang duduk-duduk santai sambail merokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut menyaksikan ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

“Nyedot, Kang?” sapa si santri sambil mendekati “senior”-nya yang sedang asyik merokok itu. Langsung saja orang itu memberikan rokok yang sedang dihisapnya ke sang “yunior”. Waktu dihisap, bara rokok itu membesar, sehingga si santri mengenali muka orang tadi.

Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjamannya. “Hai, rokokku jangan dibawa!” teriak Kyai Fatta.

Humor Gus Dur: “Kuli dan kiai”

Iring-iringan jemaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.

Menyaksikan itu, iring-iringan jemaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!

Gus Dur yang sedang berada di bandara itu mendekati mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”

“Mereka kelihatan amat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.”

Humor Gus Dur: “Sate Babi”

Suatu tatkala Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … nggg … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!

Humor Gus Dur: “Enggak Punya Latar Belakang Presiden”

Eks Presiden Abdurrahman Wahid memang unik. Dalam situasi genting dan amat penting pun dia masih sering meluncurkan joke-joke yang mencerdaskan.

Seperti yang dituturkan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD waktu diinterview bagian televisi swasta. “Waktu itu saya hampir menolak penunjukannya selaku Menteri Pertahanan. Alasan saya, sebab saya nggak mempunyai back-ground soal TNI/Polri atau pertahanan,” ujar Mahfud.

Enggak dinyana, respon Gus Dur waktu itu nggak kalah cerdiknya. “Pak Mahfud mesti dapat. Saya saja jadi Presiden nggak perlu mempunyai back-ground presiden kok,” ujar Gus Dur santai.

Karuan saja Mahfud MD pun nggak berkutik. “Gus Dur memang aneh. Jikalau nggak aneh, pasti nggak akan memilih saya selaku Menhan,” kelakar Mahfud.

Humor Gus Dur: “Omongan Presiden”

Saking telah bosannya keliling dunia, Gus Dur mencari suasana baru. Waktu itu dia mengundang Presiden Amerika Serikat dan Perancis terbang berbarengan Gus Dur keliling dunia dengan pesawat kepresidenan RI 1. Boleh dong, memangnya cuma AS dan Prancis saja yang punya pesawat kepresidenan.

Seperti biasa, saban presiden senantiasa ingin memamerkan apa yang jadi kebanggaan negerinya.

Betul dugaan Gus Dur, nggak lama Presiden Amerika, waktu itu, Bill Clinton, mengeluarkan tangannya ke luar pesawat. Sesaat lantas dia berkata, “Wah kita sedang berada di atas New York.”

“Lho kok dapat tau?” tanya Gus Dur.

“Ini patung Liberty saya pegang.”

Presiden Prancis Jacques Chirac tidak mau kalah. Dia ikut mengulurkan tangannya ke luar pesawat. “Kita sedang berada di atas Paris,” katanya.

“Wah… kok dapat tau juga?” kata Gus Dur.

“Itu… menara Eiffelnya, saya dapat sentuh.”

Gus Dur panas menguping kesombongan Clinton dan Chirac. Kali ini giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya.

“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang,” teriak Gus Dur.

“Lho kok dapat tau?” tanya Clinton dan Chirac heran sebab tahu Gus Dur nggak dapat menyaksikan.

“Ini jam tangan saya hilang,” jawab Gus Dur kalem.

Humor Gus Dur: “Gus Dur Diplintir Media”

Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya. Menceritakan mengenai hal kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.

Dia mencontohkan, tatkala berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew. Soal gembong teroris di Indonesia. Gus Dur menjelaskan, pada saatnya nanti  dia akan mengajarkan demokratisasi di Singapura.

Tetapi, media massa mengutip dia akan melaksanakan demonstrasi di Singapura. Walah-walah… gitu aja kok repot!

Humor Gus Dur: “Doa Mimpi Matematika”

Jauh sebelum jadi presiden, Gus Dur dikenal selaku penulis yang cukup produktif. Hampir tiap pekan tulisannya muncul di koran atau majalah. Tema tulisannya pun beragam, dari soal politik, sosial, sastra, dan tentu saja agama.

Dia pernah mengangkat soal puisi yang ditulis oleh bocah-bocah di bawah usia 15 tahun yang dimuat majalah Zaman.

Kata Gus Dur, bocah-bocah itu ternyata lebih jujur dalam mengungkapkan keinginannya. Tidak percaya? Gus Dur membacakan puisi yang dibuat Zul Irwan

Tuhan …
berikan saya mimpi malam ini
mengenai hal matematika
yang diujikan besok pagi

Humor Gus Dur: “3 Polisi Jujur”

Gus Dur sering terang-terangan tatkala mengkritik. Ndak terkecuali tatkala mengkritik dan menyindir polisi.

Menurut Gus Dur di negeri ini cuma ada 3 polisi yang jujur. “Pertama, patung polisi. Kedua, polisi tidur. Ketiga, polisi Hoegeng (eks Kapolri Hoegeng Imam Santoso).”

Lainnya? Gus Dur cuma tersenyum

Humor Gus Dur: “Omongan Hari Jumat”

Pernah suatu tatkala Gus Dur di ruang kerjanya di Istana Merdeka menerima Mohammad Sobary. Ia peneliti dari LIPI, kolumnis dan pernah jadi pemimpin Kantor Berita Antara. Dan Djohan Effendi (Kepala Litbang Departemen Agama).

Hampir sejauh hari Gus Dur berbincang-bincang dengan kedua sahabatnya tersebut. Sobary sempat jadi moderator tatkala berlangsung dialog antara Gus Dur dengan warga. Setelah shalat Jumat di Masjid Baiturrahim (Masjid Istana Kepresidenan).

Sobary kemudian mengulang cerita Gus Dur mengenai hal hal lucu yang terjadi di kisaran Gus Dur selama masa istirahat. Sebelum shalat Jumat, Gus Dur dari ruang kerjanya menelepon Menteri Agama di kantornya.
Kebetulan yang mengangkat telepon di kantor Menteri Agama ialah seorang staf menteri.

Dialognya seperti ini:

Gus Dur: Hallo, saya mau bicara dengan Menteri Agama
Staf Departemen Agama: Ini siapa?
Gus Dur: Saya Abdurrahman Wahid
Staf Departemen Agama: Abdurrahman Wahid siapa?
Gus Dur: Presiden….

Humor Gus Dur: “Dua Gus Ialah Musuh Orba”

Di kalangan Nahdliyin, Gus ialah julukan bagi anak kyai yang mereka hormati . Panggilan hormat itu tetap melekat, bahkan sampai si anak telah jadi bapak atau kakek . Begitulah, menurut Gus Dur, ada Gus Nun, Gus Mus, dan lain-lain-anpa menyebut diri sendiri.

Lain sikap hormat kalangan Nahdliyin, lain pula pandangan pemerintah Orde Baru. Yang terakhir ini tidak suka dengan para Gus itu, terutama yang kritis kepada kekuasaan.

Kekritisan Gus Dur kepada pemerintah Orde Baru mengakibatkan ia “dikucilkan.” Gus Nun sering ngomong pedas, maka dinilai musuh pemerintah juga .

Namun , kata Gus Dur, di acara jamuan makan malam berbarengan tamu-tamunya, sejatinya ada satu “Gus” lagi yang nggak dilike pemerintah .

Para tamu pun penasaran, dan menanti Gus siapa lagi gerangan yang dimaksud .

“Gusmao…,” ungkap Gus Dur menyebut nama belakang Kay Rala Xanana (sekarang Presiden Timor Leste). Ia pemimpin Fretilin yang waktu itu masih di bui.

Humor Gus Dur: “189 Gaya Ber****buh”

Tatkala seluruh pihak berteriak musnahkan pornoaksi dan pornografi di negeri ini sebab nggak sesuai dengan syariat Islam. Gus Dur malah kurang sependapat. Gus Dur berusaha mengambil contoh dari sisi pandangan Islam mengenai hal porno tersebut.

Misalnya saja tatkala Gus Dur menjawab interview dengan Jaringan Islam Liberal. Gus Dur menyebut kitab Raudlatul Mu’aththar selaku korban mengenai hal kekhilafan melihat pengertian daripada kata po**o.

“Anda tahu, kita Raudlatul Mu’aththar (Kebun Wewangian) itu merupakan kitab Bahasa Arab yang isinya tata cara ber***buh dengan 189 gaya”.  “Jikalau begitu, kitab itu cabul dong?”

Humor Gus Dur: “Guyon dengan Fidel Castro”

Nah, ini yang jadi guyonan Gus Dur sewaktu masih jadi Presiden Indonesia, waktu berkunjung ke Kuba. Waktu itu dia berjumpa pemimpin Kuba, Fidel Castro.

Waktu itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya bermalam selama di Kuba. Mereka pun terlibat perbincangan hangat, menjurus serius. Supaya perbincangan nggak berlebihan membosankan, Gus Dur mengeluarkan jurus andalannya, joke.

Gus Dur lalu bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka dapat sampai ditahan itu.

Tahanan pertama bercerita. “Saya dipenjara sebab saya anti dengan Che Guevara”. Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.

Tahanan kedua berkata geram, “Oh jikalau saya dipenjara sebab saya pengikut Che Guevara!” Lalu mereka berdua terlibat perang mulut. Namun mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya.

“Jikalau kau kenapa sampai dipenjara di sini?” tanya mereka berdua ke tahanan ketiga.

Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, “Sebab saya Che Guevara…”

Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak menguping guyonan Gus Dur tersebut.

Humor Gus Dur: “Becak Dicegah Masuk”

Waktu jadi presiden, Gus Dur pernah bercerita ke Menteri Pertahanan waktu itu, Mahfud MD. Soal orang Madura yang katanya beberapa akal dan cerdik. Cerita ini masuk dalam buku Setahun berbarengan Gus Dur, Kenangan Jadi Menteri di Waktu Sulit.

Ceritanya, ada tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi tatkala menabrak rambu “becak dicegah masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam. Yang artinya jalan itu nggak boleh dimasuki becak.

“Apa kau nggak menyaksikan gambar itu? Itu kan gambar becak nggak boleh masuk jalan ini,” bentak polisi.

“Oh saya menyaksikan pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong. Becak saya kan ada yang mengemudi,” jawab si tukang becak .

“Bodoh, apa kau nggak dapat baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan bahwa becak dicegah masuk,” bentak pak polisi lagi.

“Ndak pak, saya nggak dapat baca. Jikalau saya dapat membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan. Bukan jadi tukang becak seperti ini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.

Humor Gus Dur: “Radio Islami”

Seorang Indonesia yang baru pulang menunaikan ibadah haji kelihatan marah-marah.

“Lho kang, ngopo ngamuk-ngamuk mbanting radio? (Kenapa ngamuk-ngamuk membanting radio?)” tanya kawannya penasaran.

“Pembohong! Gombal!” ujarnya geram. Temannya terpaku kebingungan.

“Radio ini di Mekkah tiap hari ngaji Alquran terus. Namun di sini, isinya lagu dangdut tok. Radio begini kok dibilang radio Islami.”

“Sampean (Anda) tahu itu radio Islami dari mana?”

“Lha…, itu bacaannya all-transistor. Kan pakai Al.”

Humor Gus Dur: “3 ‘Gus’ Ialah Musuh Orba”

Di kalangan Nahdliyin, Gus ialah julukan bagi anak kyai yang mereka hormati . Panggilan hormat itu tetap melekat, bahkan sampai si anak telah jadi bapak atau kakek . Begitulah, menurut Gus Dur, ada Gus Nun, Gus Mus, dan lain-lain-anpa menyebut diri sendiri.

Lain sikap hormat kalangan Nahdliyin, lain pula pandangan pemerintah Orde Baru. Yang terakhir ini tidak suka dengan para Gus itu, terutama yang kritis kepada kekuasaan.

Kekritisan Gus Dur kepada pemerintah Orde Baru mengakibatkan ia “dikucilkan.” Gus Nun sering ngomong pedas, maka dinilai musuh pemerintah juga .

Namun , kata Gus Dur, di acara jamuan makan malam berbarengan tamu-tamunya, sejatinya ada satu “Gus” lagi yang nggak dilike pemerintah.

Para tamu pun penasaran, dan menanti Gus siapa lagi gerangan yang dimaksud .

“Gusmao…,” ungkap Gus Dur menyebut nama belakang Kay Rala Xanana (sekarang Presiden Timor Leste). Ia pemimpin Fretilin yang waktu itu masih di bui.

Humor Gus Dur: “Dua Problem = Gusdur Enggak Bermasalah”

Pertama, ialah problem yang dapat diselesaikan.  Namun itu bukanlah suatu problem, sebab dapat diselesaikan.

Kedua, problem yang nggak dapat diselesaikan. “Untuk problem yang nggak dapat diselesaikan, jangan diambil pusing untuk dipikirkan. Kan nggak dapat diselesaikan,”

Humor Gus Dur: “Dicium Artis Cantik”

Magnet sense of humor Gus Dur yang tinggi membikin kesengsem bagian artis cantik. Waktu itu sedang datang dalam suatu acara di rumah salah seorang pengasuh Pondok Kajen. Saking gemesnya, artis itu dengan santai langsung ngesun (mencium) pipi Gus Dur tanpa pake permisi.

Terang beberapa di antara mereka yang datang langsung dibikin kaget dan bingung. Siapa yang kuat ngeliat kiat nyentrik cuma diem aja disun (dicium) artis cantik.

Enggak lama lantas begitu telah agak sepi. Gus Mus yang sedang di antara mereka, langsung numpahin sederet kalimat yang telah dari tadi cuma dapat disimpan dalam hati.

“Loh Gus, Kok Gus Dur diam saja sih disun sama wanita?’

Dengan santai dan silakan bayangin sendiri gayanya, Gus Dur malah ngasih respon sepele.

“Lha wong saya kan nggak dapat lihat. Ya mbok sampeyan jangan pengin.”

Humor Gus Dur: “Gus Dur Digoda Anaknya”

Salah seorang anak Gus Dur dengan full rasa ingin tahu mengamati ayahnya. Yang sedang memoleskan krim pembersih muka yang dicurinya dari meja rias istrinya ke seluruh bagian mukanya.

“Kenapa sih Bapak senantiasa mengoleskan itu di muka?” tanya anak itu.

“Supaya bapakmu ini ganteng terus,” jawab Gus Dur.

Enggak berapa lama lantas Gus Dur mengambil kapas dan mengusap krem yang menempel di wajahnya seperti yang sering ditunaikan istrinya.

“Lho kok dihapus sih Pak? Putus asa ya…?” goda anaknya.

Humor Gus Dur: “Iri dengan Driver Metromini”

Di pintu akherat seorang malaikat menanyai seorang driver Metromini. “Apa kerjamu selama di dunia?” tanya malaikat itu.

“Saya driver Metromini, Pak.”

Lalu malaikat itu memberikan kamar yang mewah untuk driver Metro tersebut dan peralatan yang terbuat dari emas.

Lalu datang Gus Dur dengan dituntun ajudannya yang setia.

“Apa kerja kau di dunia?” tanya malaikat ke Gus Dur.

“Saya presiden dan juga juru dakwah, Pak.”  Lalu malaikat itu memberikan kamar yang kecil dan peralatan dari kayu.

Menyaksikan itu Gus Dur protes. “Pak kenapa kok saya yang presiden sekaligus juru dakwah memperoleh yang lebih rendah dari seorang driver Metromini?”

Dengan tenang malaikat itu menjawab, “Begini Gus, waktu Anda ceramah, Anda membikin orang-orang seluruh ngantuk dan tertidur, sehingga melupakan Tuhan. Sedangkan pada waktu driver Metromini mengemudi ngebut, ia membikin orang-orang berdoa.” (Humor Gus Dur)

 

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :