Hukum Wakaf Uang

Hukum Wakaf Uang
Loading...

Hukum Wakaf Uang


 Wakaf berati menahan harta (habs mal) yang bernilai dan berguna dengan target mendekatkan diri untuk Allah. Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual, diwariskan, dan dihibahkan, karena yang diambil hanyalah manfaat dari harta yang diwakafkan. Maka dari itu, kalau seseorang mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, maka tanah itu tidak boleh dijual dan diwariskan. Yang diizinkan ialah memanfaatkannya untuk kepentingan ummat sesuai dengan niat orang yang mewakafkan.

Penjelasan ini didasarkan pada hadis riwayat al-Bukhari yang besumber dari Ibnu Umar:

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Umar bin al-Khatab memperoleh tanah (kebun) di Khaibar; lalu ia Hadir untuk Rasulullah Sawuntuk meminta petunjuk Soal tanah tersebut. Ia berkata, “Wahai Rasulullah! Saya memperoleh tanah di Khaibar, yang belum pernah saya dapatkan harta yang lebih baik bagiku melebihi tanah itu. Apa perintah Engkau (kepadaku) mengenainya?” Rasul Menjawab, “Kalau mau kau tahan pokoknya dan kau sedekahkan hasilnya”.

Ibnu Umar meneruskan, “Umar menyedekahkan tanah tersebut, (dengan mengharuskan) bahwa tanah itu tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan. Ia menyedekahkan hasilnya untuk fakir-miskin, kerabat, hampa sahaya, dalam sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak berdosa atas orang mengelolanya untuk memakan hasil tanah itu sewajarnya, dan memberi makan untuk orang lain, tanpa menjadikannya selaku hak milik.” (HR: al-Bukhari)

menurut hadis ini, bisa dipahami bahwa benda wakaf mesti dijaga kelangsungannya, disyaratkan benda yang tidak berkurang nilainya walaupun dipakai beberapa orang, tidak boleh diperjualbelikan, hasilnya dialokasikan untuk hal-hal yang berguna, dan pengelolanya diizinkan mengambil manfaat secukupnya. Karenanya, pandangan Abu Hanifah yang membolehkan menjual benda wakaf terbantahkan dengan adanya hadis ini. Abu Yusuf menjelaskan, andaikan Abu Hanifah mengetahui hadis ini, niscaya beliau akan mengkoreksi pendapatnya.

Pandangan Ulama Masalah Wakaf Uang

Sejak dulu, problem wakaf uang telah dibicarakan dan pro kontra para ulama. Perdebatan ini dirasa wajar karena tidak ditemukan nash spesifik yang membicarakan masalah wakaf secara rinci. Akar dari perdebatan ini ialah apakah mesti barang wakaf berupa barang tidak bergerak, seperti tanah, rumah, masjid, atau diizinkan barang bergerak (al-manqul), semisal kuda, buku, dan uang.

Abu Hanifah dan Abu Yusuf termasuk ulama yang tidak memperbolehkan wakaf barang bergerak, khususnya wakaf haewan dan wakaf dinar dan dirham, karena benda ini tidak dijamin keutuhanya dan amat dimungkinkan habis, lenyap, ataupun mati. Keduanya mengharuskan keabadian dan keutuhan barang wakaf sejauh masa (tabqa ‘ala hal abad al-dahr). Tidak diizinkan mewakafkan barang-barang yang mudah rusak, binasa, hancur, dan mati.

loading...

Walaupun seperti ini, sebagian ulama hanafi membolehkan wakaf barang bergerak selama ikut barang yang tidak bergerak, seperti perternakan domba di atas tanah wakaf dan wakaf alat-alat pertanian beserta lahannya. Di samping itu, mereka juga membolehkan wakaf barang yang sungguh telah jadi tradisi di masarakat, seperti peralatan jenazah dan buku. Dalam hal ini, ‘urf mulai dijadikan standar untuk menentukan kelayakan barang wakaf. Bahkan, sebagian ulama madzhab hanafi awal membolehkan wakaf uang (dinar dan dirham).

Pandangan Abu Hanifah dan Abu Yusuf ini nyaris mirip dengan pandangan ulama madzhab hanbali, yang membatasi barang wakaf pada saban barang yang diizinkan dalam jual-beli, bernilai, ada manfaatnya, dan unsur bendanya tidak berkurang waktu dipakai. Adapun sesuatu yang tidak berguna kecuali dengan menghabiskan dan mengkonsumsinya, tidak boleh diwakafkan, misalnya uang, makanan, dan minuman. Menurut Wahbah al-Zuhaili, pandangan inilah yang dianut oleh kebanyakan ulama. alasannya, barang wakaf mesti stabil, tidak berkurang, dan berguna.

Sementara madzhab malik, khususnya Malik bin Anas, membolehkan mewakafkan seluruh benda yang berguna, baik bergerak maupun tidak bergerak, termasuk wakaf uang. Tidak cuma itu, beliau juga membolehkan wakaf temporal (muaqqat), semisal wakaf selama 1 atau 2 tahun.

Pandangan Malik soal kebolehan wakaf uang ini dikuatkan Muhammad Ibn ‘Abdullah al-Anshari, menurut dia wakaf uang diizinkan selama dijadikan modal usaha, lantas keuntungannya dialokasikan untuk orang yang berhak menerimanya. Melalui penjelasan ini, uang yang diwakafkan pada dasarnya akan tetap terjaga dan nilainya tidak berkurang, malah kian berkembang dengan adanya laba, serta kian terjaga kelangsungannya.

Dari perdebatan ulama ini, bisa dipahami bahwa pada dasarnya ulama ingin memperhatankan manfaat dari harta yang diwakafkan supaya senantiasa utuh dan bertahan lama. Karenanya, diberikan persyaratan yang ketat terkait benda yang diwakafkan. Tetapi dalam hal ini, penulis lebih cenderung untuk yang membolehkan wakaf uang selama uang tersebut dijaga dan dilestarikan keutuhannya.

Cara menjaga keutuhan nilai uang tersebut sanggup dengan mengalokasikannya untuk investasi dengan sistem mudharabah atau semisalnya. Melalui investasi dan mudharabah, nilai uang yang diwakafkan tidak akan berkurang, sebagaimana yang dikhawatirkan ulama yang melarangnya, bahkan hitungan total uangnya sanggup dikembangkan dan cakupan manfaatnya sanggup lebih luas, tanpa mengurangi hitungan total asalnya. []

Hengky Ferdiansyah ialah Peneliti Hadis el-Bukhari Institute.

IslamiDotCo by Ahmad Naufal

Loading...

INFO POPULER

______________________
loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :