Hukum Membakar Bendera HTI Menurut Ahli Hukum Islam (Fiqih)

Hukum Membakar Bendera HTI Menurut Pakar Hukum Islam (Fiqih)

Hukum Membakar Bendera HTI Menurut Ahli Hukum Islam (Fiqih)

Tadi pagi guru saya, Kyai Afifuddin Muhajir mecatat status soal hukum membakar kalimat tauhid. Saya cuplikkan untuk anda seutuhnya:

MEMBAKAR KALIMAT TAUHID

Seluruh huruf baik arab maupun non arab hukumnya sama. Ialah sama-sama tdk sakral. Akan jadi sakral apabila huruf2 itu jadi simbol bagi sesuatu yg sakral. Misalnya dipakai untuk mecatat ayat2 al-Qur’an, kalimat tauhid, asma2 Allah dsb. Itu seluruh Adalah simbol2 Allah (شعائر الله) yg wajib dihormati.

TANYA :: apakah membakar tulisan kalimat tauhid (لا إله الا الله) itu penghinaan (تدنيس) ataukah penghormatan (تقديس)؟

JAWAB : tergantung apa maksudnya.

Status ini datang dalam konteks Perkara pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dilaksanakan oleh bagian member Banser waktu perayaan hari santri 22 oktober lalu. Status di atas terang terkait dan tidak mampu dilepaskan dari konteks tersebut.

Respon kyai Afif–begitu beliau biasa dipanggil–terang menghubungkan hukum pembakaran tersebut ke maksud pelakunya. Banser, melalui ketumnya mengumumkan bahwa pembakaran tersebut ialah usaha untuk mengagungkan kalimat tauhid supaya tidak dipakai selaku topeng agenda makar atau terorisme.

Terang argumentasi ini bisa diterima, maka dari itu tindakan Banser secara fikih bisa dibenarkan sebab itu ialah bentuk penghormatan kepada kalimat tauhid. Tindakan Banser mampu dikategorikan langkah sadd ad-dzari’ah supaya simbol-simbol organisasi makar atau bughat yang telah legal dicegah oleh pemerintah itu tidak terus datang menebarkan ‘aksi anarkis simbolik’.

Loading...
loading...

Sebelum pertanyaan serta respon yang kyai tulis dalam status tersebut, barangkali pertanyaan mendasar yang mesti dijawab ialah, bagaimana hukumnya mecatat atau membikin kalimat tauhid selaku simbol, lambang, atau bendera bagi kubu atau organisasi yang jelas-jelas mempunyai agenda makar atau terorisme dan telah dicegah oleh pemerintah?

Bagi saya, kalau sebuah organisasi dicegah oleh pemerintah suatu negara, maka simbol-simbol yang melekat pada organisasi tersebut tidak boleh dipakai di dalam negara tersebut. Menurut kaidah fikih, sesuatu yang tidak boleh dipakai, maka tidak boleh dibuat (ma haruma isti’maluhu haruma ittikhadzuhu).

Saya menawarkan analogi begini, bolehkah mecatat kalimat tauhid di celana dalam? Celana dalam itu sesungguhnya cuma pakaian atau kain sebagaimana yang lain. Cuma saja, sebab celana dalam itu konteksnya senantiasa Ada di kemaluan yang menurut pandangan umum ialah profan, maka tidak relevan kalau celana dalam itu ditulisi atau dihiasi tulisan yang sakral.

Nah, untuk apa menyimpan celana dalam bertuliskan kalimat tauhid? Dipake tidak, dijual juga nggak laku. Bagi saya, membakarnya ialah tindakan memuliakan kalimat tauhid itu sendiri.

Argumen di atas meyakinkan saya bahwa apa yang dilaksanakan oleh Banser ialah hal yang legal menurut agama. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada nilai-nilai ketuhanan dalam terorisme yang membakar manusia, dan makar yang mengganggu keutuhan bangsa.

KH Afifuddin Muhajir, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan Ahli Fiqih di Ma’had Aly Situbondo

(suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :