Home / Amalan Cerdas / Hukum Memakai Hizib dan Dalil Memakai Hizib atau Doa-doa

Hukum Memakai Hizib dan Dalil Memakai Hizib atau Doa-doa

Hukum Memakai Hizib dan Dalil Memakai Hizib atau Doa-doa. Perlu kita ketahui, ilmu kadikjayaan atau kesaktian ini ada dua sumber yang berbeda. Biasa dikenal dengan sebutan ilmu hitam dan ilmu putih. Ilmu putih adalah kesaktian yang diperoleh dengan amalan tertentu yang tidak bertentangan dengan syariat islam. Sedangkan ilmu hitam adalah kebalikannya, kesaktian itu diperoleh dengan malakukan suatu amalan yang dilarang Allah.

Dalil Memakai Hizib (doa-doa)

Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

‘Berdoalah kamu, niscya Aku akan mengabulkannya untukmu. (QS al-Mu’min: 60)
.
Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Di antaranya adalah:<>

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:” كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR Muslim [4079]).

Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda. ”Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya) Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya. Dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut.” Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. (At-Thibb an-Nabawi, hal 167).
.
Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman meoggunakan azimat, misalnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ

Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda. “’Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan:

“Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181)

lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dari hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310)

Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.

1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW
.
2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.
.
3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun. Tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.” (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).

(DITULIS OLEH: KH Muhyiddin Abdusshomad, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember.)

KISAH SAHABAT NABI YANG TIDAK MEMPAN DIBAKAR

Syurahbil bin Muslim menceritakan, “Suatu ketika, ketika Aswad Al-Ansi, seorang yang mengaku-aku sebagai nabi dari negeri Yaman. (Dia) memerintahkan agar Abu Muslim Al-Khaulani dihadapkan kepadanya. Pada saat Abu Muslim telah berada di hadapannya, nabi palsu itu kemudian menyuruh pengawalnya menyiapkan sebuah api unggun yang besar. Ia selanjutnya melemparkan Abu Muslim ke dalamnya.

Akan tetapi, secara ajaib, Abu Muslim ternyata tidak terbakar. Para penasihat Aswad Al-Ansi kemudian berkata, “Jika engkau tidak mengusir orang ini dari daerahmu ini, maka ia akan merusak misimu.” Akhirnya, Aswad Al-Ansi pun memerintahkan Abu Muslim untuk keluar dari Yaman.

Setelah keluar, Abu Muslim lantas pergi ke kota Madinah. Sesampainya di masjid Nabawi, ia lalu menambatkan kudanya dan kemudian masuk ke dalam masjid serta melaksanakan shalat. Kehadirannya itu dilihat oleh Umar bin Khattab sehingga beliau menghampirinya, dan bertanya, “Dari manakah engkau?”

Abu Muslim menjawab, “Dari Yaman.”

Umar bertanya lagi, “Bagaimana informasi tentang laki-laki yang dibakar oleh si pembohong besar, namun ternyata tidak terbakar?”

Abu Muslim menjawab, “Laki-laki itu bernama Abdullah bin Tsaub (ini adalah nama asli Abu Muslim Al-Khaulani).”

Umar pun bertanya, “Aku bertanya dengan nama Allah, engkaukah orangnya?”

Abu Muslim menjawab, “Ya.”

Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung merangkulnya dan menangis. Ia selanjutnya membawa Abu Muslim ke tempat Abu Bakar, dan mempersilahkannya duduk di antara dirinya, dan sang khalifah. Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang belum mencabut nyawa saya hingga saya dapat bertemu dengan umat Muhammad saw yang dianugerahi karamah seperti yang dianugerahkan kepada Ibrahim Alaihis salam.”

Penulis : Dhani El_Ashim

Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

10 Manfaat Jika Anda Gemar Baca Shalawat Nabi Muhammad SAW

Ada 10 Manfaat Jika Anda Gemar Baca Shalawat Nabi Muhammad SAW. Al-Imam al-Quthub Habib Abdul ...