HOAKS YANG DI-AGAMA-KAN

Islam Institute, Jakarta—Semenjak dahulu dusta Adalah bahan favorit dalam arena perebutan kekuasaan. Dalam sejarah Islam hadis-hadis maudhu’ utawa teks-teks palsu (yang mencatut nama mulia Nabi) sudah menciptakan petaka besar, menghabisi karakter para pemikir kritis dan pejuang tulus, mematikan ribuan Muslim yang dikafirkan cuma sebab tak sama haluan dengan para tiran dinasti-dinasti korup dan mewariskan ketegangan sektarian sampai detik ini.

Sabda-sabda hoax dicetak secara massif dan sistematis sampai jumlahnya melebihi sabda-sabda asli yang Adalah sumber ke-2 agama sehingga ummat pun tidak sanggup memilah dan membedakannya.

Industri hadis maudhu’ sudah berkembang cepat sampai tidak cuma mencetak teks palsu dengan konten pesanan berupa penganugerahan hak istimewa untuk pihak-pihak tertentu dan penyebaran ucapan kebencian dengan pengkafiran serta vonis zindiq akan tetapi juga menciptakan sederet perawi fiktif dalam seluruh urutan masa.

Dusta yang disakralkan dengan label hadis bersanad abal-abal, sebab didistribusikan oleh sentra-sentra yang jadi BUMN dinasti-dinasti, mengakar kuat jadi doktrin final yang menciptakan teologi fatalisme dan fanatisme sektarian. Seterusnya seiring bergulirnya daur masa, teks-teks abal-abal sukses menggusur prinsip-prinsip rasional yang Adalah jantung ajaran suci agama.

Tidak cuma teks ujaran dan perawi abal-abal diciptakan, industri hoax juga menghadirkan fragmen-fragmen sejarah fiktif dan cerita berani imajinal yang dilekatkan pada tokoh-tokoh elit tanpa jejak jasa dan prestasi nyata.

Doktrin takdir dengan makna yang mencerabut hak memilih sumber ajaran agama dan menentang kezaliman ialah bagian produk unggulan industri hoax dalam sejarah ummat.

Bagian korban agung industri hoax para penguasa dinasti-dinasti yang menjajah ummat ialah publik figur paling berjasa dalam mengawal Nabi Muhammad, yaitu Abu Talib, paman beliau yang diabadikan dari masa ke masa di mimbar-mimbar ummat di seantero wilayah Islam selaku contoh pembangkangan kepada ajaran keponakan sekaligus anak asuhnya.

Industri hoax tidak cuma mencetak teks palsu, perawi fiktif dan sejarah abal-abal juga merubah karakter faktual para pelaku sejarah akan tetapi juga menjamah keagungan Nabi dengan ragam dongeng tidak logis dan tidak seirama dengan kesuciannya seperti cerita sihir, gosip bermuka masam dan puluhan sejenisnya.

Teks-teks palsu yang bertebaran dalam banyak mauskrip dan kitab-kitab referensial riwayat dan sejarah sudah memberi secara gratis untuk para pembenci bahan untuk mencemooh dan menghina ajaran suci ini. Salah satunya ialah Salman Rushdie yang mengolok-ngolok Nabi teragung dengan dongeng “Gharaniq”.

Hadis-hadis maudhu yang kadang disebut “Isra’iliyyat” juga “Umawiyyat” bukan isu ekslusif dan tidak identik dengan sebuah mazhab atau kubu tertentu. Para ahli hadis dan analis “Rijal” sudah bersepakat mengenai hal faktanya sambil berusaha dengan ragam metode sesuai pandangannya masing-masing menangkal serta mensortirnya.

Dahulu hoax yang dibungkus dengan sanad dan dinilai hadis dapat memfaktualkan yang fiktif dan memfiktifkan yang faktual sejauh masa, sebab mempertanyakannya dapat dituduh oleh dinasti-dinasti despotik selaku penodaan dan mendustakan Sunnah atau anti Salaf. Akan tetapi Saat ini kesadaran mengenai hal perlunya peran akal dalam memfilter info-info seputar agama sudah merata dalam warga dengan ragam mazhab dan cenderungannya.

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa hoax bukan hasil kreasi manusia modern dan bukan bagian produk “peradaban” zaman now, tapi seusia sejarah manusia. Kita juga dapat tahu bahwa tendensi Inti di balik fabrikasi dusta ialah pembodohan untuk merampas kekuasaan dan mempertahankannya.

Shared by Ahmad Zaini

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.