Hitungan total Rakaat Sholat Idul Fitri di Negeri yang Muslimnya Tidak banyak

Hitungan total Rakaat Sholat Idul Fitri di Negeri yang Muslimnya Tidak banyak


Umumnya shalat hari raya dilaksanakan di Masjid atau lapangan dengan diikuti oleh ratusan bahkan ribuan jemaah. Tetapi bagaimana bila komunitas muslim merupakan bagian dari minoritas di satu tempat, sehingga penyelenggaraan shalat hari raya cuma dapat diikuti oleh segelintir orang. Adakah batasan jemaah yang disyaratkan dalam penyelenggaraan shalat hari raya?

Di kalangan Ulama’ Syafiiyah, terdapat dua pandangan tak sama mengenai hal hitungan total jemaah yang disyaratkan dalam penyelenggaraan Shalat Id. Pandangan pertama mengumumkan bahwa syarat sah jemaah shalat id ialah sama dengan yang disyaratkan dalam penyelenggaraan shalat jumat, yaitu setidaknya 40 orang. menurut pandangan Imam Syafii dalam kitab Imla’ dan Ash Shaid Wa Adz Dzabaih :

“Shalat Id tak dapat dikerjakan sekiranya shalat jumat tak dapat dikerjakan”.

Pandangan ini bersandar pada satu riwayat yang menceritakan bahwa, pada suatu hari Nabi bersafari ke Mina dan waktu itu bersesuaian dengan hari raya, akan tetapi beliau tak mengerjakan shalat Id. Oleh sebab di dalam shalat hari raya juga disyariatkan berkhutbah dan berkumpulnya beberapa orang sebagaimana shalat jumat, yang tak dapat dilaksanakan oleh seorang musafir.

Jadi pandangan ini mengumumkan bahwa seorang musafir dan orang yang sendirian, tak dapat mengerjakan shalat Id sebagaimana ia tak dapat melakukan shalat jumat,, sebab tak terpenuhinya hitungan total jemaah yang disyaratkan.

Sedangkan pandangan kedua mengumumkan bahwa tak ada ketentuan hitungan total jemaah yang disyaratkan dalam penyelenggaraan shalat Id, berdasarkan dari riwayat Imam Muzani:

رُوِىَ الُمُزْنِي أَنَّهُ تَجُوْزُ صَلَاةُ الْعِيْدِ لِلْمُنْفَرِدِ وَالْمُسَافِرِ وَالْعَبْدِ وَالْمَرْأَةِ

“Imam Muzani meriwayatkan sesungguhnya diizinkan shalat hari raya bagi orang yang sendirian, musafir, hamba, dan perempuan”.

Bahkan dalam pandangan kedua ini, shalat hari raya dapat dikerjakan dengan sendirian. Seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Muhadzab fi Fiqh al-Imam as-Syafi’i:

“Menurut pandangan yang kedua: Sesungguhnya mereka (orang yang sendirian, musafir, hamba, dan perempuan) boleh mengerjakan shalat menurut pandangan yang shahih, sebab shalat hari raya merupakan shalat sunnah maka boleh bagi mereka mengerjakannya seperti shalat gerhana matahari. Menurut sebagian Ashab as-Syafii berpendapat dengan satu pandangan; boleh bagi mereka mengerjakan shalat hari raya”.

 

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :