Himbauan Habib Luthfi: Tolak Kubu Pemecah Bangsa

BEKASI – Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah (JATMAN) Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya mengajak para jemaah untuk selalu menyelamatkan telinga.

Hal itu diungkapkan waktu warning Maulid Nabi Muhammad SAW, di Pondok Pesantren Fatahillah, Kampung Ciketing, Mustikajaya, Kota Bekasi, pada Sabtu (8/11) dini hari.

“Telinga kita wajib telah mempunyai filter. Tidak asal kita menguping berita, sebab hal seperti itu yang bisa memecah belah ummat dan bangsa,” jelas ulama anak cucu Nabi Muhammad dari jalur Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini.

Ia menekankan bahwa suara-suara berita yang sembarangan itu, amat berbahaya.

“Itu kelihatannya sungguh sepele. Namun berbahaya,” kata ulama asal Pekalongan ini.

Dikatakan, negara lain kalah perang sebab senjata lawan yang ampuh, kuat, dan taktik yang baik.

“Namun tak sama dengan bangsa kita yang mudah pecah sebab berita yang kurang pas,” katanya.

Dewan Pembina Pondok Pesantren Fatahillah ini lalu meminta supaya bangsa Indonesia sukses dikalahkan sebab sering menguping berita sembarangan, seperti hoaks (berita palsu).

“Rupa-rupanya ada yang suka jikalau NKRI ini pecah,” kata Habib Luthfi.

Ia meneruskan, jikalau bangsa ini pecah maka akan berdampak keterpecahan negara. NKRI akan pecah.

Lantas Habib Luthfi menanyakan untuk para jemaah, “Wahai bangsaku yang kubanggakan, relakah bangsa ini pecah?”

“Tidak!” jawab hadiri serentak.

sesudah melontarkan pertanyaan, ia mengajak jemaah untuk tegas menjelaskan tidak untuk kubu yang ingin memecah-belah kesatuan bangsa Indonesia.

“Kita wajib tegas menjelaskan tidak rela dan full konsekuen dan tanggung jawab,” tegasnya.

Ia menganjurkan waktu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya haruslah lalu diterapkan ke dalam laku kehidupan.

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. Itu ikrar bukan sekadar lagu dan basa-basi,” kata Habib Luthfi menasihati.

Kecuali Habib Luthfi, acara yang diawali pada Jumat (7/12) malam ini dihadiri pula oleh beberapa figur publik ulama, habaib, pejabat pemerintahan, dan ribuan masarakat yang memadati halaman pesantren.

Acara ini dihibur oleh lantunan-lantunan sholawat dari Grup Hadrah Jati Sumo Negoro asal Blitar. Grup ini sukses jadi juara ke-1 dalam Festival Sholawat Jawa Nasional yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta, pada Oktober lalu. [Sfa]

Timur Tengah

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.