Inspirasional

HAJI

Soal ibadah haji. Seseorang yang terhormat dalam kaumnya pada akhir 2013 berkata: Aku sampai saat ini belum berangkat haji. Karena haji bagiku adalah wajib atas orang yang MAMPU. Mampu tidak hanya dari sisi finansial, tapi juga fisik, keamanan serta kesiapan hati. Apa gunanya kalau setelah haji akan begitu-begitu lagi? Nah, hatiku belum siap mengemban status haji itu.

Ketahuilah:

ABU SUFYAN dulu, tidak segera masuk Islam karena masih ragu tentang Islam. Ia masih menghitung-hitung bagaimana statusnya kelak setelah masuk Islam. Bagaimana pandangan kaumnya (Qurays). Bagaimana ia di mata orang-orang Islam yang dulu pernah direndahkannya, dll.

Kesiapan hati sangat terkait dengan KETETAPAN IMAN. Justru itulah yang dicari di sana maupun di sini. Jika di sini tidak atau belum didapatkannya, kenapa tidak dicari di sana dengan berhaji. Apabila di sana juga tidak berhasil didapat. Maka tanyalah hatimu yang keras itu. Perbanyaklah istighfar dan sedekah. Sebab istighfar dan sedekah itu sebagian dari cara untuk melunakkan hati yang keras. Selain itu, masih ada lagi cara untuk melunakkannya. Yaitu dengan sholat malam.

Sunan Bonang dulu telah memberi tips untuk kita agar dapat mengobati penyakit hati dengan lima langkah terkenal. Yaitu sebagaimana yang terangkum dalam si’ir ‘tombo ati’. Meskipun versi Hidayatullah, kemungkinan filosofi ajaran tombo ati itu disadur dari petuah Yahya Bin Muadz Ar Razi yang wafat di Naishabur tahun 258 H. Yang dapat dilihat dalam kitab Shifat Ash Shafwah, 4/92.

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close