Hadits Shahih Cikal Bakal Adanya Maulid Nabi Saw

Website Islam Institute

Berikut adalah hadits shahih yang menjadi cikal bakal adanya Majelis Maulid Nabi saw. Berupa Perkumpulan Dzikir yang dikerjakan oleh para Shahabat di zaman Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini disebutkan di dalam Shahih sunan an-Nasa’i, berikut ini lafaz hadits shahih tersebut:

Dari Suwar bin Abdullah ia berkata: menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz dari Abu Ni’amah dari Abu Utsman an-Nahdiy dari Abu Sa’id al-Khudriy ia berkata: Berkata Mu’awiyah Radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju halaqah para sahabat beliau.

Kemudian beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian semua duduk berkumpul?” Mereka para sahabat menjawab, “Kami duduk berkumpul tidak lain untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas karunia petunjuk agama-Nya dan menganugerahkan engkau (Wahai Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam) kepada kami.”

Kemudian Nabi Muhammad bertanya, “Demi Allah, tidakkah kalian duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu?”

Loading...
loading...

Jawab para sahabat, “Demi Allah, tiada kami duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu.”

Maka Nabi Muhammad pun bersabda, “Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Akan tetapi karena aku telah didatangi Jibril ‘alaihissalam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat” (Hadits Shahih Sunan an-Nasa’i).

Hadits Shahih Maulid Nabi Saw: Bersyukur dan bergembira atas kelahiran dan diutusnya Nabi Muhammad Saw

Hadits shahih tersebut di atas, selain menjelaskan keutamaan berkumpul untuk berdzikir, juga menjelaskan tentang perbuatan para shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang berkumpul dalam rangka untuk bersyukur kepada Allah Ta’aala atas anugerah-Nya yang berupa diutusnya baginda Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.

Seperti para Sahabat Nabi tersebut yang bersyukur dan bergembira atas diutusnya Nabi Muhammad Saw, itulah tujuan peringatan Maulid Nabi Saw di zaman sekarang. Bersyukur dan bergembira atas kelahiran dan diutusnya Nabi Muhammad Saw adalah merupakan salah satu tujuan dilaksanakannya majelis Maulid Nabi Saw.

Loading...

Oleh: Ustadsz Agung

loading...

You might like

About the Author: admin

54 Comments

  1. Ya Alloh Ya Robb, hamba bersyukur padaMu karena engkau ciptakan hamba menjadi Umat Muhammad SAW, Umat yang penuh rahmat. dosakah hamba bila hamba mensyukuri hari kelahiran Muhammad Rosullulloh sebagai salah satu wujud cinta hamba pada kekasihMu Muhammad disamping memperbanyak sunnah ?…..Rasanya hanya Alloh SWT yang bisa menilai…..
    Sebaiknya tidak usah saling menghujat atau mengkafirkan terhadap sesama muslim, kita semua tidak tahu akan berapa lamakah nanti kita diHisab ?….Robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanatan wa qinaa ‘adza ban naar…Amin.

  2. itulah kehebatan syaidul wujud SAW….
    kita memperingati milad beliau inyaALLAH kita akan dimulyakan….WAMAYU’AZHIM SYA;AAIRALLAH FAINNAHA MINTAQWAL QULUB
    lain HAL klw kita memperingati NGABDUL MANGAB eh maaf salah mksdnya syaikhuka ABDUL WAHHAB atau syaikhuka BIN BAZ atau yang lain.
    artinya” KITA PERINGATI MILAD BELIAU SAYIDUL WUJUD SAW, itu TIDAK AKAN MENGURANGI KEMULYAAN BELIAU DISISI ALLAH SWT.
    KITA TIDAK PERINGATI GA MASALAH BUAT ANE….LAKUM DINUKUM WALIYADIN…
    GITU AJA REPOT…

  3. @ mas destra Rastra says:
    didalam Al-Quran sendiri tertera firman Allah bahwa telah sempurna agama islam ini dan jika salah seorang mengadakan sesuatu yang baru maka apakah ia merasa agama ini masih kurang sempurna. siapa yang mengadakan sesuatu yang baru maka bolehkah saya bertanya seberapa imankah dia dengan ayat dalam Al-Quran tadi?

    Penjelasan: maaf mas kami tidak pernah mengatakan agama islam belum sempurna, dan andai saja mas tahu bahwa setiap hukum yang tercetus dari semua ulama kami pasti bersumber dari qur’an dan hadist, baik melalui metode ijma’ maupun qiyas, maka niscaya mas tidak akan tega berkomentar seperti diatas dan meragukan keimanan kami.

    Sebagai bahan renungan:

    MENSIKAPI AYAT QUR’AN “SEMPURNANYA ISLAM”.
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    “pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridloi Islam itu Jadi agama bagi kalian” [QS. Al Maaidah 3]

    Imam At Thobari menjelaskan Ayat diatas sebagai berikut:
    تفسير الطبري – (ج 9 / ص 517)
    فقال بعضهم: يعني جل ثناؤه بقوله:”اليوم أكملت لكم دينكم”، اليوم أكملت لكم، أيها المؤمنون، فرائضي عليكم وحدودي، وأمري إياكم ونهيي، وحلالي وحرامي، وتنزيلي من ذلك ما أنزلت منه في كتابي، وتبياني ما بيَّنت لكم منه بوحيي على لسان رسولي، والأدلة التي نصبتُها لكم على جميع ما بكم الحاجة إليه من أمر دينكم، فأتممت لكم جميع ذلك، فلا زيادة فيه بعد هذا اليوم. قالوا: وكان ذلك في يوم عرفة، عام حجَّ النبي صلى الله عليه وسلم حجة الوَدَاع. وقالوا: لم ينزل على النبي صلى الله عليه وسلم بعد هذه الآية شيء من الفرائض، ولا تحليل شيء ولا تحريمه، وأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يعش بعد نزول هذه الآية إلا إحدى وثمانين ليلة.
    Artinya: “Maka sebagian ulama berkata: yakni yang di kehendaki sebagian ulama -pujian yang agung untuk mereka- dengan firman Alloh [الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ], pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian wahai orang-orang muslim (berupa) kewajiban-kewajibanKu untuk kalian, Hukuman-hukumanku, perintahKu pada kalian, laranganKu, HalalKu, HaramKu, kesemuanya itu AKU turunkan dalam kitabKu, penjelasanKu adalah apa yang Aku jelaskan pada kalian dari kitabKU dengan wahyu atas lisan rosulKu, dan dalil-dalil yang Aku peruntukkan bagi kalian atas semua kebutuhan kalian dari (hal yang berkaitan) dengan agama kalian. Maka aku sempurnakan semua itu bagi kalian, janganlah menambahi hal tersebut setelah hari ini.
    Sebagian ulama berkata: turunnya ayat diatas pada hari ‘Arofah, tahun dimana baginda Nabi SAW. melakukan haji perpisahan.
    Sebagian ulama berkata: Setelah turunnya ayat ini tidak turun lagi pada Nabi SAW. ayat-ayat yang menjelaskan kewajiban-kewajiban, halal dan haramnya sesuatu, dan sesungguhnya setelah turunnya ayat ini (jarak) delapan puluh satu malam baginda Nabi SAW. meninggal dunia.

    Kemudian keterangan Imam Thobari tentang “dan dalil-dalil yang Aku peruntukkan bagi kalian atas semua kebutuhan kalian dari (hal yang berkaitan) dengan agama kalian” sesuai dengan pendapat ulama empat madzhab tentang adanya Qiyas dan Ijma’ yakni PENGEMBANGAN PEMIKIRAN MELALUI DASAR AL QUR’AN DAN AL HADIST seperti uraian Imam Ali Rozi Al Jassosh sebagai berikut:
    الفصول في الأصول للشيخ علي الرازي الجصاص الحنفي الجزء الرابع ص: 26
    فَإِنْ قِيلَ: قَالَ تَعَالَى: { لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ } وَالْقِيَاسُ الشَّرْعِيُّ لَا يُفْضِي إلَى الْعِلْمِ, فَعَلِمْنَا أَنَّهُ لَمْ يُرَدْ بِهِ. قِيلَ لَهُ: هَذَا غَلَطٌ, لِأَنَّ مَنْ يَقُولُ: إنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ, يَقُولُ: قَدْ عَلِمْت أَنَّ مَا أَدَّانِي إلَيْهِ قِيَاسِي فَهُوَ حُكْمٌ لِلَّهِ تَعَالَى ( عَلَيَّ ), وَأَمَّا مَنْ قَالَ: إنَّ الْحَقَّ فِي وَاحِدٍ, فَإِنَّهُ يَقُولُ: هَذَا عِلْمُ الظَّاهِرِ, كَخَبَرِ الْوَاحِدِ, وَكَالشَّهَادَةِ, وَكَقَوْلِهِ تَعَالَى: { فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ } وَيَدُلُّ عَلَيْهِ أَيْضًا: قوله تعالى: { وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ } قوله تعالى { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } وَقَالَ تَعَالَى: { مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ }. فَإِذْ لَمْ نَجِدْ فِيهِ كُلَّ حُكْمٍ مَنْصُوصًا, عَلِمْنَا أَنَّ بَعْضَهُ مَدْلُولٌ عَلَيْهِ, وَمُودَعٌ فِي النَّصِّ, نَصِلُ إلَيْهِ بِاجْتِهَادِ الرَّأْيِ فِي اسْتِخْرَاجِهِ. وَيَدُلُّ عَلَيْهِ قوله تعالى: { لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ } قَدْ حَوَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ثَلَاثَةَ مَعَانٍ: أَحَدُهَا: مَا نَزَّلَ اللَّهُ تَعَالَى مَسْطُورًا. وَالْآخَرُ: بَيَانُ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم لِمَا يَحْتَاجُ مِنْهُ إلَى الْبَيَانِ. وَالثَّالِثُ: التَّفَكُّرُ فِيمَا لَيْسَ بِمَنْصُوصٍ عَلَيْهِ وَحَمْلُهُ عَلَى الْمَنْصُوصِ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَاحْتَجَّ إبْرَاهِيمُ بْنُ عُلَيَّةَ, لِإِثْبَاتِ الْقِيَاسِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: { فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ }…
    Artinya: “Apabila di tanyakan (Ada pertanyaan): Alloh berfirman:
    لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ
    “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri” [QS. An Nisaa 83]
    Sedangkan Qiyas Syar’iy tidak sampai taraf ‘ilmu (mengetahui maksud hukum dari Al Qur’an), maka kita mengetahui bahwa Qiyas Syar’iy tidak bisa di datangkan (untuk mengetahui maksud hukum dari Al Qur’an).
    Maka pertanyaan diatas di jawab: Ini adalah sebuah kekeliruan, karena sesungguhnya orang yang berkata: sesungguhnya setiap Mujtahid mendapat pahala, berkata: telah engkau ketahui bahwa sesungguhnya Qiyas yang aku datangkan adalah hukum Alloh Ta’ala padaku, dan apabila ada yang bertanya: sesungguhnya yang benar Cuma satu, maka mereka berkata: Ini tertentu pada ilmu dlohir, seperti adanya hadist wakhid, persaksian dan seperti Firman Alloh Ta’ala:
    فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ
    “maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka(perempuan-perempuan yang beriman) (benar-benar) beriman” [QS Al Mumtahanah 10]
    Dan yang menunjukkan ilmu dlohir juga terdapat pada Firman Alloh:
    وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
    “dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu” [QS. An Nahl 89]
    Pada Firman Alloh:
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
    “pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian” [QS. Al Maaidah 3]
    Dan Alloh (juga) berfirman:
    مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
    “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472]”,
    [472] Sebagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti: dalam Al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.[QS. Al An’am 38]
    MAKA APABILA KITA TIDAK MENEMUKAN DALAM AL QUR’AN SETIAP HUKUM DENGAN JELAS (TERTERA DALAM AL QUR’AN, SEPERTI DETAIL HAID, HUKUM ALKOHOL, ROKOK DSB. PENT.), KITA BISA MENGETAHUI BAHWA SEBAGIAN HUKUM TERSEBUT DI AMBILKAN DALIL DARI (PEMAHAMAN) AL QUR’AN DAN DI TINGGALKAN DALAM NASH AL QUR’AN, YANG HANYA BISA KITA FAHAMI DENGAN MENGASAH KEMAMPUAN OTAK/PIKIRAN (IJTIHAD BIRRO’YI) UNTUK MECETUSKAN HUKUM (DARI NASH AL QUR’AN). DAN YANG MENUNJUKKAN HAL TERSEBUT ADALAH FIRMAN:
    لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
    “agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan”,
    [829] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. [QS. An Nahl 44]
    Ayat ini mencakup tiga makna:
    1. Apa yang Alloh turunkan telah tertulis.
    2. Adanya penjelasan dari Rosululloh SAW. terkait hal-hal yang perlu untuk di jelaskan.
    3. (Boleh) memikirkan/mengasah otak tentang hal yang belum tertera dalam Al Qur’an dan mengarahkan pada hal yang telah tertera pada Al Qur’an.
    Imam Abu Bakar berkata: Imam Ibrohim bin ‘Ulaiyah berpegang teguh konsep penetapan Qiyas dengan Firman Alloh Ta’ala:
    فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
    “Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” [QS. Al Hasyr 2]
    Wallohu a’lam

  4. @ mas destra Rastra says:
    bukankah lebih baik menjauhi yang tidak jelas dan mendekatkan diri kepada sesuatu yang telah di tuntunkan. segala yang dituntunkan secara jelas itu sudah cukup untuk membawa diri kedalam surga Allah dan ysng tidak jelas itu berresiko membawa diri ke jalan yang sesat.

    Penjelasan: maksud yang tidak jelas dimana? Apakah nabi tidak melaksanakan ikhtifal? Begitu pula sahabat dan tabi’in? apakah anda akan mengatakan “lau kaana khoiron lasabaquuna?” apakah anda akan mengatakan dasar-dasar dzikir pada hadist nabi belum jelas? Dasar-dasar mahabbah pada nabi belum jelas? Coba ikuti saran mas ucep tentang penjelasan at tark dan lainnya insya alloh anda akan menemukan jawabanya.

    Dan apakah persepsi yang anda bangun mengisyaratkan bahwa kami sesat dan masuk neraka? Padahal kami senantiasa mengucap laa ilaha illalloh… Ingat mas nabi bersabda:
    صحيح البخارى – (ج 2 / ص 234)
    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ »
    Artinya: Rosululloh SAW. Bersabda: “Sesungguhnya Alloh benar-benar mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan لا إله إلا الله, seraya meminta ridlo Alloh”.
    Wallohu a’lam

  5. sedang rasul juga pernah bersabda tentang sesuatu yang baru itu bid’ah, bid’ah itu sesat dan sesat itu neraka.

    Penjelasan: apakah semua hal yang baru itu sesat? Apakah arti dari bid’ah? Apakah anda mengakui adanya bid’ah lughowiyyah?

    Sebagai renungan:
    – Dalam kitab Faidlul Qodir karya Imam Munawi yang menjadi syarah kitab Jam’ul Jawami’ Lil Imam Suyuthi, beliau menjelaskan pengertian bid’ah secara syar’i sebagai berikut:
    فيض القدير – (ج 2 / ص 217)
    (وكل بدعة ضلالة) أي وكل فعلة أحدثت على خلاف الشرع ضلالة لأن الحق فيما جاء به الشارع فما لا يرجع إليه يكون ضلالة إذ ليس بعد الحق إلا الضلال
    Artinya: (وكل بدعة ضلالة) yakni setiap pekerjaan yang diperbarui tidak sesuai dengan syariat adalah sesat, karena yang benar itu adalah yang syariat bawa/datangkan, maka sesuatu yang tidak kembali pada syariat adalah sesat, karena tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan.

    – Sedangkan pengertian bid’ah secara bahasa (أن البدعة في الأصل) menurut Sayyid Alwi Al Maliki adalah:
    كل ما أحدث واخترع على غير مثال
    Artinya: “setiap hal yang baru dan diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya”

    MENURUT KAMI MAULUD NABI LEGAL MENURUT SYAR’I dengan dua tinjauan:
    1. mauled adalah termasuk bid’ah lughowi yang mana tidak bertentangan dengan syariat.
    2. tinjauan hadist kullu adalah bermakna sebagian seperti penjelasan dari teman-teman aswaja disini
    Wallohu a’lam

  6. Dibilang bukan SYIAH, mereka lebih dari SYIAH krn mengatakan Bid’ah Hasanah itu tidak ada, padahal Sayidina Umar mengakui dengan mengatakan “ni’matul bid’ah hadjihi”
    Dibilang bukan YAHUDI, mereka lebih dari YAHUDI krn mereka sangat membenci umat muslim yang tidak sepaham dengan mereka
    Dibilang bukan NASRANI, mereka lebih dari NASRANI krn mengatakan ALLOH duduk di Arsy
    Dibilang bukan ATEIS, mereka lebih dari ATEIS krn merasa paling benar sendiri (takabur)
    Dibilang bukan LIBERAL, mereka lebih dari LIBERAL krn mereka memahami dan menggunakan dalil sekehendak hawa nafsu mereka sendiri
    Dibilang bukan IBLIS, mereka lebih dari IBLIS krn mereka berani memusrikan dan mengkafirkan umat muslim yang tidak sepaham dengan mereka

    Itu lah HAKEKAT mereka, WAHABI.

  7. bismillah
    saya ingin bertanya tentang tulisan ini, sebenarnya apa yang di bahas di dalamnya, beserta contoh
    jika saya baca, saya mengambil kesimpulan tulisan ini adalah sebagai pembenar akan adanya maulid nabi dan perayaan yang lain, apakah itu benar?
    sedang rasul juga pernah bersabda tentang sesuatu yang baru itu bid’ah, bid’ah itu sesat dan sesat itu neraka.
    bukankah lebih baik menjauhi yang tidak jelas dan mendekatkan diri kepada sesuatu yang telah di tuntunkan.
    segala yang dituntunkan secara jelas itu sudah cukup untuk membawa diri kedalam surga Allah dan ysng tidak jelas itu berresiko membawa diri ke jalan yang sesat. didalam Al-Quran sendiri tertera firman Allah bahwa telah sempurna agama islam ini dan jika salah seorang mengadakan sesuatu yang baru maka apakah ia merasa agama ini masih kurang sempurna. siapa yang mengadakan sesuatu yang baru maka bolehkah saya bertanya seberapa imankah dia dengan ayat dalam Al-Quran tadi?
    mohon saya di e-mail jawabannya. terima kasih

    1. @destra Rastra
      Ente kudu mengerti pengertian Bid’ah yang sebenarnya !!, atau ente baca artikel diblog ini tentang bid’ah dan At Tark, baru koment yang jelas.

      “segala yang dituntunkan secara jelas itu sudah cukup untuk membawa diri kedalam surga Allah dan ysng tidak jelas itu berresiko membawa diri ke jalan yang sesat”.

      Kalau begitu kejadiannya, cukuplah kita mengucapkan La Ila Ha Ilallah dan Syahadat, nanti juga pasti masuk syurga Nya Allah, ya gak.

    2. Rastra@
      Mungkin perlu lebih diperjelas maksud tulisan anda “bukankah lebih baik menjauhi yang tidak jelas” yang TIDAK JELASnya yang mana?, sehingga kami disini bisa menjelaskannya, jka sudah jelas anda dan golongan anda tidak gampang suudzon lagi…

    3. @ mas destra Rastra says:
      bismillah
      saya ingin bertanya tentang tulisan ini, sebenarnya apa yang di bahas di dalamnya, beserta contoh
      jika saya baca, saya mengambil kesimpulan tulisan ini adalah sebagai pembenar akan adanya maulid nabi dan perayaan yang lain, apakah itu benar?

      Penjelasan: iya memang dalil diatas adalah pembenar. Namun perlu mas destra ketahui, kandungan mauled yang ada itu hanya dzikir dan menunjukkan rasa cinta/mahabbah pada baginda rosul, dan selama tidak melanggar rambu-rambu syariat apakah itu salah?

      Apakah tidak cukup dasar dzikir bersama dalam hadist ini?
      سنن الترمذي الجزء الخامس ص: 128 طه فوتر
      حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أخبرنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ أخبرنا سُفْيَانُ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ عَنِ الأَغَرِّ أَبِى مُسْلِمٍ أَنَّهُ شَهِدَ عَلَى أَبِى هُرَيْرَةَ وَأَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ «(6) مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ». هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
      Artinya: Sahabat Abi Hurairoh RA., dan Sahabat Abi Said Al Khudriyyi RA,. bersaksi bahwa Rosululloh SAW. bersabda: ”Tiadalah dari sekumpulan manusia yang melakukan dzikir kepada Alloh, kecuali malaikat mengelilingi mereka, memberikan rahmat, ketenangan hati menyelimuti mereka dan Alloh menuturkan (keberadaan) mereka ke mahluk yang di sampingNYA”

      Apakah tidak cukup anjuran sholawat pada nabi yang notabene ada dalam acara maulud dibawah ini?
      فيض القدير – (ج 5 / ص 523) دار الكتب العلمية
      ما اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي مَجْلِسٍ فتفرقوا منه ولَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ, وَيُصَلُّوا عَلَى النبي صلى الله عليه وسلم, إلَّا كَانَ مجلسهم تِرَةً عَلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.(حم حب) عن أبي هريرة (صح)
      Artinya: Rosululloh SAW., bersabda:”Tiadalah Kaum yang berkumpul di majlis kemudian bubar dan tidak melakukan dzikir kepada Alloh, tidak membaca sholawat kepada nabi, kecuali majlis tersebut menimbulkan penyesalan di hari kiamat”

      Apakah tidak cukup ungkapan para ulama dibawah ini, yang menjelaskan keutamaan maulud dan robiul awwal?
      المدخل الجزء الثاني ص: 2 للشيخ محمد بن محمد العبدري (ابن الحاج) المالكي
      فصل في المولد إلى أن قال….. لكن أشار عليه الصلاة والسلام إلى فضيلة هذا الشهر العظيم {بقوله عليه الصلاة والسلام للسائل الذي سأله عن صوم يوم الاثنين فقال له عليه الصلاة والسلام ذلك يوم ولدت فيه} فتشريف هذا اليوم متضمن لتشريف هذا الشهر الذي ولد فيه. فينبغي أن نحترمه حق الاحترام ونفضله بما فضل الله به الأشهر الفاضلة وهذا منها لقوله عليه الصلاة والسلام {أنا سيد ولد آدم ولا فخر} ولقوله عليه الصلاة والسلام {آدم ومن دونه تحت لوائي} انتهى
      (Maaf saya penggal ibaratnya, karena panjang. tolong dilihat di kitab asli, tentang penjelasan mauled dan hadist nabi puasa hari senin karena mengagungkan hari kelahiran beliau)
      Artinya: (Imam Ibn Al Haaj al maaliki berkata): “maka memulyakan hari ini (senin) mencakup pemulyaan bulan ini (robiul awwal/maulud) yang mana baginda nabi dilahirkan. OLEH KARENA ITU ALANGKAH LEBIH BAIKNYA KITA MEMULYAKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH, dan kita mengutamakannya/mengagungkannya sebab alloh mengagungkan bulan-bulan yang agung, dan ini (robiul awwal) adalah sebagian dari bulan-bulan yang agung tersebut, karena sabda nabi: “aku adalah pemimpin/sayyid anak adam, tanpa adanya kesombongan”, dan karena sabda nabi: “nabi adam dan manusia sebawahnya berada dibawah benderaku (kekuasaanku:pent)”.

      Wallohu a’lam

  8. Assalamu’alaikum,,,
    Numpang lewat,,,WAHABI kalau kalah dalam berdiskusi pasti lari ngebahas masalah yang lain supaya tidak kelihatan kebodohan dan kesalahannya,terbukti dalam beberapa diskusi yang saya cermati di blog ini.
    Dalam hal fiqih saja 4 Imam Madzhab memiliki perbedaan pendapat yang masing2 punya dalil yang insyaallah sohih dan ulama2 serta masyarakat muslim di dunia tidak mempermasalahkan hal tersebut dan kita dianjurkan mengikuti salah satunya.
    Misalkan masalah bersentuhan dengan istri ada yang berpendapat membatalkan wudlu,ada pula yang tidak membatalkan wudlu.Para ulama tidak mempermasalahkan perbedaan tsb.Tapi kenapa wahabi mengharamkan maulid Nabi SAW????padahal nggak ikut maulid aja nggak dapat dosa…kalau memang haram,pasti ada fatwa ulama yang mengharamkan maulid Nabi SAW,,( mungkin cuma ulama wahabi aja yang mengharamkannya ).Kalau nggak salah setahu saya dalam islam kita dianjurkan mengikuti pendapat mayoritas ulama ( jumhur ulama ),kalu wahabi bagaimana ya????
    Kalau ada yang salah dari tulisan saya mohon dikoreksi.Terimakasih
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

  9. @ishar

    berdasarkan hadist diatas, para sahabat berkumpul memuji Allah, besyukur atas nikmat dan anugerahNya, Nabi Muhammad SAW… Rasulullah tidak melarang.. bahkan Allah membanggakan mereka…
    di zaman sekarang… acara yang dilakukan seperti sahabat itu kita sebut dengan maulid.. karena ditambah dengan mengenang sejarah Rasulullah sehingga kita bsa memetik hikmah dan teladan… itu hanya masalah istilah saja.. esensinya tetap sama..
    apa hanya karena masalah nama anda jadi anti maulid???
    klo Allah membanggakan orang melakukan seperti sahabat di atas.. kenapa anda malah memvonis sesat?? sepertinya anda belum pernah ikut maulid..
    btw dipikiran anda, apa sih yang dilakukan oleh para mauliders sehingga anda memvonis sesat?
    kok anda jadi

  10. @ishar

    memang pada jaman sahabat tidak ada maulid..
    tapi berdasarkan hadist di atas.. sudah jelas para sahabat berkumpul untuk berdzikir
    dan bersyukur atas rahmat Allah yang paling besar, Nabi Muhammad SAW…
    dan sudah jelas.. Rasulullah tidak melarang bahkan Itu yang membuat Allah membanggakan mereka…
    coba pikir dengan hati jernih… bukankah orang yang bermaulid itu melakukan hal yang sama dengan hal di atas?… kita berdzikir, bersholawat, bersyukur atas Rahmat Allah yang paling besar (Rasulullah SAW), mengenag sejarah beliau, meneladani beliau dari kisah-kisahnya, dll…
    klo Allah membanggakan ummat yang melakukan hal seperti itu.. kenapa Anda malah melarangnya dan seolah-olah pelakunya divonis masuk neraka?? memangnya neraka milik anda hehehe
    masalah nama itu bukan hal yang patut dipermasalahkan….
    walaupun namax kajian mingguan Al-Qur’an klo diisi dengan maksiat seperti ghibah ya tetep aja jadi haram
    btw dalam pikiran anda.. orang yang bermaulid itu ngapain sih?? kok anda sepertinya anti bgt…

  11. inimah cuma saran saja.kl diskusi harus jelas ring nya jng lari kemana mana supaya dari diskusi ini kita dapat ilmu untuk kemaslahatan dunia n akhirat jauhi kebencian hindari perpecahan kita berbeda untuk mencari titik temu bukan permusuhan.silahkan para ustad dilanjutkan sy nyimak terus

    1. Mas admin , komentar-komentar tidak bermutu dan tidak nyambung seperti Mas Ishar ini sebaiknya didelet saja , seperti sampah sebaiknya dibersihin.

  12. ibarat busur panah yang sudah terlepas tak akan kembali , akhuna Ishar hanya berani menyulut ” api ” tapi tidak berani tanggungjawab , sebaiknya jangan diladenin kecuali dia berani tanggung jawab dengan diskusi sampai tuntas.

    1. ishar bagi anda , kebenaran dan kesalahan itu ukurannya apa……? mari kita buktikan ,” ukuran ” kebenaran dan kesalahan versi anda…………..?

  13. hati-hati dengan wahabi, umar saja mengakui bahwa “ini sebaik-baik bid’ah” : artinya ada bid’ah yang baik atau bid’ah hasanah. wahabi tidak mengakui para sahabat nabi.

  14. Emang ‘ulama mana yang menafsirkan hadist di atas sebagai peringatan maulid? Sesungguhnya para sahabat bahkan 4 imam mazhab tidak pernah mengadakan maulid..!! sebenarnya siapa sich ikutan kalian wahai saudaraku,,!!!

    1. Syaikh Ishar, coba jawab yg jujur ya, ingat yg jujur apa pun jawaban antum nggak masalah. Pertanyaannya, apakah masuk neraka kaum muslimin yg memperingati Hari Kelahiran Nabi Saw?
      Silahkan…..

      1. Wah..mas, neraka dan surga bukan urusan gue dan punya gue,,,tapi para nabi dan sahabatnya yang sholeh adalah orang yang telah di jamin masuk surga,,!! Jadi kalo si mas gak ngikutin mereka, mas taulah jadinya kita kemana,,,
        كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ الله، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
        “Semua umatku masuk ke dalam surga kecuali orang yang menolak.” Mereka (para sahabat) berkata, “Siapa yang menolak, wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Barang siapa taat kepadaku, ia masuk ke dalam surga. Barang siapa bermaksiat kepadaku (menentangku), sungguh ia telah menolak (masuk surga).” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah z)

        Lha mas, ada dua tempat…neraka dan surga…Rasul dan sahabatnya sudah ke sana mas,,,,terutama para sahabatnya, masuk ke surga tanpa pernah mengadakan Maulid Nabi,,sekarang terserah loe mas…mau kemana ente sebenarnya,,!!

        1. Jadi ingat kata-kata Syayidina Ali: Kalimat yang benar untuk tujuan batil. Menggunakan hadits berdasar hawa nafsu untuk menerapkan hukum kepada orang yang tidak sepaham. Masa iya Nabi dan sahabat masuk syurga gara-gara ga pernah maulidan? Ada DALIL BARU nih. Kata Mang Ucep LUCU ABIS

          1. Jelas sekali Mas Bima, jika ada beberapa khowarij yg dungu seperti ini masuk dalam jajaran penguasa maka kejamnya akan sama bahkan melebihi Lasykar2 Salib. Sebabnya adalah mereka tidak mengenali apa itu kebaikan akibat kedunguannya. Sudah dibutikan dalam rentetan sejarah Islam, yang terakhir ketika Syaikh Abdul Wahhab memperjuangkan cita2nya yg dibac-up habis-habisan oleh Inggris. Kaum Aswaja yg gak mau masuk golongannya dibantai dan disiksa, mungkin ini yg dimaksud neraka. Semoga para Ulama Aswaja dan kaum muslimin yg jadi korban pembantaian akibat menolak masuk Wahabi akan langsung masuk surga Allah swt, amiin allahumma aamiin.

            Oleh karena itu, Wahhabi itu sangat2 berbahaya lengkap dg kekejamannya, apalagi jika mereka sudah punya pasukan. Suatu negara akan selalu tidak aman jika Wahabi berada di sebuah negara. Bisa kita lihat sekarang di Mali, atau dulu di Indonesia yg diterror bom-bom besar, di Somalia, di Afganistan, dulu di Cechnya, juga di mana-mana. Tapi alhamdulillah, di Cechnya sekarang aman, dan banyak mantan pasukan Wahabi pada tobat di bawah bimbingan para Ulama Sufi Aswaja yang berahlak luhur.

            Negara2 yg jadi incaran Wahabi adalah negara2 yg banyak Aswajanya yang dalam pandangan mereka sama dg Syi’ah, contoh Libiya, Syam / Syiria, Mesir, Indonesia, Mali, Somalia, Cechnya dll.

            Mereka punya rencana, dan Allah sebaik-baik pembuat rencana. Semua bersumber dari negeri tanduk syetan yg berduit melimpah ruah. Jika negara tsb berhasil direbut kaum muslimin, maka dg sendirinya Wahabisme akan kempes dan nggak laku lagi.

          2. @ishar
            “Semua sahabat ikut perang, makanya banyak yang masuk surga” Apa kata-kata ini yang di umpetin selama ini oleh wahabi ? sehingga banyak teror disana sini yang dibuat agar masuk surga.

    2. @ishar
      Benar kan yang ane bilang jawabannya pasti “Lucu”. Lihat diartikel kata “Cikal Bakal”, Tujuan dan maksud Maulid adalah mengenang Jasa Rasulullah dalam Siar agama, sampai kita menjadi Muslim. Sejarah itu perlu kita kenang.

      Mending diskusi tentang Bid’ah gimana mas ? nti dijawab dah sama mas @yanto jenggot dan pasti deh ada kaitannya sama Maulid !!

      1. Wah malas deh mas, mas aja yang diskusi sama mas yanto…ane ikut mas ujang ucok di bawah aja deh…
        Mari mas ucok, duduk di sebelah gue, ada kopi dan teh manis, pisang gorengnya biar di belik dulu sama ummati..
        liat mas ucep sama mas yanto lagi diskusi masalah bid’ah..mana tau ada “hal baru” yang perlu di lakukan…
        misalnya…
        sebelum tarawih kita adzan dulu…
        setelah sholat subuh, kita sholat ba’da subuh
        setelah ashar kita sholat ba’da ashar
        waktu sujud kita baca fatihah..
        banyak deh pokoknya hal baru yang baik yang bisa kita lakukan…
        duduk manis mas…
        buat mas yanto dan ucep.lanjut deh diskusinya..

        1. Syaikh Ishar,

          Kullu Bid’atin dholalah, wa kulla dholatin finnaar…. artinya: SEBAGIAN BID’AH itu sesat, dan SETIAP KESESATAN masuk neraka.

          Jadi yg nasuk neraka itu semua kesesatan, sedangkan BID’AH tidak semuanya masuk neraka.

          Agar punya pemahaman yug benar, kalau ngaji itu sebaiknya kepada Ustadz yg punya silsilah ilmu dg para Ulama yang Sholeh, jangan belajar ilmu dg ustadz yg silsilah belajarnya menthok kepada MUTHOWE’ Wahabi.

          kalau ustadz silsilah belajarnya cuma menthok kpd mutowe’2 Wahabi, maka yg didapat cuma pemahaman yg berefek fitnah. Demikian saya kasih tahu, biar mudeng.

        2. @ishar
          Apakah ente sedang memfitnah :
          sebelum tarawih kita adzan dulu…
          setelah sholat subuh, kita sholat ba’da subuh
          setelah ashar kita sholat ba’da ashar
          waktu sujud kita baca fatihah..

          Tolong jelasin, kalau ini gak disebut fitnah.

  15. Lucu memang kalau wahabi melarang peringatan Maulid Nabi !!!!!
    Maulid itu peringatan atas kelahiran Nabi saw
    Isi Maulid, dapat zikir berjama’ah, pengagungan terhadap Allah swt dan memuji Rasulullah atas jasa beliau sehingga kita menjadi seorang Muslim.

    Apakah Rasulullah tidak memperingati hari kelahirannya ?
    Jawabnya : Rasulullah memperingati hari kelahirannya, pada hari senin makanya Rasulullah berpuasa. Sedangkan hari kamis Rasulullah berpuasa, karena pada setiap hari kamis, setiap amalan Manusia diangkat oleh Malaikat ke hadapan Allah.
    Begitu juga tahun Hijriah, ini adalah peringatan atas Hijrahnya Nabi pertama kali ke Madinah.
    Isi maulid adalah Zikir secara berjama’ah, ini ditunjukan oleh banyaknya hadist yang membolehkan zikir secara berjama’ah.

    Jadi yang gak membolehkan itu siapa ??, memang Wahabi ini aneh bin ajaib.

  16. Setiap tahun, acara maulid nabi selalu dirayakan dengan semarak. Di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, sudah menjadi pemandangan yang lumrah jika menjelang bulan Rabi’ul Awal banyak terpajang poster dan spanduk besar berupa ucapan selamat dan ajakan untuk merayakan hari kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Biasanya spanduk besar yang dipajang dipinggir jalan itu selalu menampilkan gambar tokoh tertentu dengan gaya dan ekspresi yang berbeda-beda.
    Meski tidak memiliki sandaran hukum dalam syar’iat, berbagai macam cara dilakukan dalam rangka perayaan tersebut. Ada yang mengadakan dzikir ramai-ramai di lapangan, pengajian, dan pembacaan kitab barzanji, dan lain-lain.
    Seorang ulama besar asal Arab Saudi yang juga mantan ketua lembaga fatwa, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, pernah ditanya tentang perayaan tersebut. Beliau menjawab dengan tegas bahwa acara tersebut tidaklah menunjukkan kecintaannya kepada nabi.
    “Merayakan maulid bukanlah cara yang tepat untuk menunjukkan kecintaaan kita kepada Rasulullah. Dan pada kenyataannya Ahlussunnah lebih mencintai Rasulullah daripada ayah-ayah dan ibu-ibu mereka dan daripada diri mereka sendiri,” katanya.
    Lebih lanjut, ulama yang biasa dipanggil dengan syaikh Bin Baz itu membawakan sabda nabi. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia,” Ujarnya.
    Kemudian, ulama yang kini telah tiada itu membawakan perkataan kholifah yang kedua. “Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, (tidak benar) sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekarang (engkau benar) wahai Umar” paparnya.
    Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya, bahwa Ahlussunnah beriman bahwasanya Rasulullah lebih mereka cintai daripada segala sesuatu setelah Allah. Yang paling dicintai oleh Ahlussunnah adalah Allah kemudian Rasulullah manusia termulia dari kalangan mereka. Kemudian nabi-nabi lain yang kedudukannya setelah Nabi kita. Dan kita mengikuti jalan mereka (ahlussunnah).
    Setelah itu syaikh Bin Baz -rahimahullaah- menangis tersedu-sedu, sambil berkata: “Allah yang menjadi saksi. Bahwasanya Rasulullah adalah orang yang paling kami cintai setelah Allah. Daripada diri kami sendiri, daripada harta-harta kami, anak-anak kami dan segalanya. Demi Allah! Seandainya Rasulullah mengajarkan untuk merayakan maulid ini, tentu kami akan merayakannya. Akan tetapi beliau tidak mengajarkannya tidak juga dari kalangan sahabat yang pernah merayakan maulid,” tutupnya. (bms)

    1. ya sebaiknya anda beri tahu syeikh anda… bukankah hadist di atas sudah jelas..
      mungkin beliau lupa..
      tidak tahu dalil… bukan berarti tidak ada dalil kan?? 🙂

      1. @Ishar
        Mungkin Anda tidak tahu ya, kalau Syeh Bin Baz itu buta secara fisik. Boleh jadi dia itu belum pernah baca itu dalil dalam artikel. Dia membawa-bawa ahlussunnah2, boleh jadi dia itu belum bacam pendapat para ulama ahlussunah bergelar Imam tentang perayaan Maulid. Beliau kan buta. Apakah Anda akan mengikuti pendapat ulama yang buta yang tentu saja akan mengalami keterbatasan dalam samudra ilmu plus juga digaji oleh Kerjaaan Arab Saudi, atau mengikuti begitu banyak ulama-ulama muktabar yang tidak buta dan dalam berdakwah tidak mengharap gaji.

        1. Mas Bima@

          Sepertinya pemerintah Saudi Arabia itu punya tujuan agar Muftinya tidak tahu kebenaran, makanya selama 3 kali berturut-turut Mufti Saudi itu buta semuanya. Yang sekarang ini, syaik alu syaikh juga buta, lho. Ganjil nggak mas, kenapa yg diangkat jadi Mufti adalah orang-orang buta?

          Maaf, sama sekali saya tidak bermaksud mencela orang2 buta, tetapi merasa ada keganjilan saja di balik para Mufti saudi yg kesemuanya buta.

          Di Indonesia juga pernah ada tokoh buta semacam Gus Dur (bukan Mufti), tetapi semua orang yg jujur hatinya akan mengakui keilmuan Gus Dur yang luas, baik ilmu umum atau pun ilmu agamanya.

          Coba bandingkan dg bin Baz yg memfatwakan kafir bagi orang2 yg mempercayai BUMI BULAT. Sampai meninggalnya fatwa ini belum dicabut, lho. Dg keluarnya salah satu fatwanya yg ganjil ini, apa nggak AIB MUROKKAB bagi sejarah ke-MUFTI-an di negeri Muthowe’ tsb?

          1. ya, betul mas, beliau mengalami tuna netra setelah dewasa. Sewaktu kuliyah di Mesir dan Iraq beliau normal.

    2. @Ishar

      Dalam ushul fiqh dijelaskan bahwa jika sebuah ayat atau hadits dengan keumumannya mencakup suatu perkara, itu menunjukkan bahwa perkara tersebut masyru’. Jadi keumuman ayat atau hadits adalah dalil syar’i. “Dan lakukan kebaikan supaya kalian beruntung” (Q.S. al Hajj: 77). Jadi dalil yang umum diberlakukan untuk semua cakupannya. Kaedah mengatakan: “Dalil yang umum diterapkan (digunakan) dalam semua bagian-bagian (cakupannya)”.

      al Imam asy-Syafi’i mengatakan: “Setiap perkara yang memiliki sandaran dari syara’ bukanlah bid’ah meskipun tidak pernah dilakukan oleh ulama salaf”. Jadi perlu diketahui bahwa ada sebuah kaedah ushul fiqh: “Tidak melakukan sesuatu tidak menunjukkan bahwa sesuatu tersebut terlarang”.

      Hadist diatas menjelaskan keutamaan berkumpul untuk berdzikir, juga menjelaskan tentang perbuatan para shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang berkumpul dalam rangka untuk bersyukur kepada Allah Ta’aala atas anugerah-Nya yang berupa diutusnya baginda Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.

      Berzanji itu adalah syair yg isinya berupa pujian kepada Nabi Muhammad sw. Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang – benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain hadits No.5417)

      Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yang lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini di hadapan orang yang lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dengan doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (Shahih Bukhari hadits No.3040, Shahih Muslim hadits No.2485)

      Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yang menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yang dilarang adalah syair – syair yang membawa pada Ghaflah, pada keduniawian. Namun syair – syair yang memuji Allah dan Rasul-Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas,

      Sebenarnya saya kasihan kepada Syaikh bin Baz. karena salafi wahabi menolak takwil, mereka mengatakan, orang yg melakukan takwil sama dengan melakukan tahrif. akhirnya grup rempong salafi wahabi mengatakan bahwa Syaikh bin Baz akan masuk Neraka. berikut dalilnya : “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. al-Isra’ : 72).

  17. Alhamdulillah ada pencerahan juga. . .
    ijin Share di girilaya real groups dengan judul “Hadits Shahih Maulid Nabi | free High PR DoFollow #5 Backlink maulid nabi”

    terima kasih

  18. sambil menunggu komen kawan2 wahabi , ada baiknya artikel ini dilengkapi dengan teks haditsnya apalagi jika ada scan kitabnya akan lebih mantab , maklumlah mereka kan ngeyel bin rewel.

      1. Klo aku baca hadist di atas yag digunakan sebagai landasan untuk mengesyahan penyelenggaraan maulid nabi, sangat-sangat tidak nyambung. Kapan beliau (sahabat-sahabat Nabi) berkumpul, kan tidak ada penjelasan apakah berkumpulnya pada saat tanggal lahirnya Nabi? Apakah maksud (niat) berkumpulnya memang hanya untuk memperingati HUT Nabi?

        1. imron@

          lah nte nggak tahu rupanya, Maulid Nabi di kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah itu diperingati setiap hari senin, bahkan kalau di kampung2 yg isinya kaum Aswaja mereke ngadain Maulid Nabi setipa malam Jum’at. Sebagi ekspresi gembira dan syukur atas kelahiran nabi Muhammad saw.

          Perlu saya tambahkan, Wahabi termasuk juga Nte, walaupun hadits shahih kalau nggak sesui hawa nafsunya pasti akan diingkari dg berbagai cara dan alasan. Bahkan Al Qur’an pun diingkari dg berbagai cara kalau nggak sesuai hawa nafsunya.

          Banyak buktinya, baca aja artikel2 di Ummati ini Nte akan tahu sendiri.

        2. @imron
          orang2 berkumpul menyelenggarakan peringatan maulid itu adalah bentuk rasa syukur telah diutusnya rasul kepada umat manusia. Baca teks hadis itu baik2, mereka bersyukur karena Allah telah mengutus Rasul, itu adalah bentuk kecintaan kepada rasul. Jadi memperingati maulid itu tidak buruk, tapi baik. Iman seseorang itu bisa naik bisa juga turun, dengan sering2 memberikan pencerahan, nasihat, ceramah, mengingat perjuangan para pahlawan itu dapat menamah keimanan.

          1. Wahabi itu nggak kenal dg kebaikan, mas Amr. Kalau hobby mengharamkan hal2 yg tidak haram itulah kebaikan menurut mereka. Memusyrikkan orang, itulah kebaikan bagi kaum wahabi. Kasihan mereka, tidak kenal dg kebaikan.

        3. @Imron

          Seingat saya, dulu ada pertanyaan, jika kita tidak boleh memperingati maulid Nabi, apakah kita juga dilarang mengharamkan sesuatu yg tidak ada dalil yg secara tegas mengharamkannya. Misalnya daging anjing, ada tidak dalil yg secara tegas mengatakan bahwa daging anjing itu haram untuk dimakan?

        4. @Imron

          tanya lagi ya mas. dalam sebuah blog salafi dikatakan, do’a itu adalah ibadah, dan setiap ibadah harus ada contohnya dari Nabi. pertanyaan saya adalah, saya seringkali berdo’a dengan redaksi yg tidak poernah di contohkan oleh Nabi, do’apun saya selingi dengan bahasa indonesia, bid’ah tidak yg saya lakukan? apakah saya ahli neraka karena berdo’a tanpa contoh dari Nabi?

  19. nah lhoo… kan ada dalilnya, gemana nih yg ngatain maulid masuk neraka? jangan2 nanti kalian sendiri yg masuk neraka kalau nggak segera tobat, lho mas2 Wahabi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *