Home / Opini Inspiratif / HADITS CINTA TANAH AIR DAN SUNNAH NABI CINTA TANAH AIR

HADITS CINTA TANAH AIR DAN SUNNAH NABI CINTA TANAH AIR

ADAKAH HADITS CINTA TANAH AIR DAN SUNNAH NABI CINTA TANAH AIR. Mungkin anda termasuk bagian dari orang-orang yang mengatakan ‘cinta tanah air tidak ada dalilnya’. Silahkan saja jika memang hal tersebut sudah menrupakan harga mati dari apa yg anda yakini. Tetapi mungkin ada baiknya juga jika seandainya menyempatkan sedikit waktu untuk membaca ulasan hadits shahih yang mengungkap ternyata Rasulullah Saw sangat mencintai tanah air di mana beliau dilahirkan.

Karena ternyata Nabi begitu cinta tanar air tempat kelahirannya, maka mencintai tanah air juga merupakan perwujudan ittiba’ Rasul. Artinya, Cinta Tanah Air juga adalah Sunnah Nabi Saw. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman) sebagaimana telah masyhur dari ucapan KH Wahab Hasbullah salah seorang perintis NU.

Ulasan sebuah Hadits Imam Bukhari yang mengungkap soal cinta tanah air berikut ini disampaikan oleh ustadz Asimun Ibnu Mas’ud salah seorang tokoh NU Cipayung Jakarta Timur. Selamat membaca, semoga bermanfaat….

ADAKAH HADITS CINTA TANAH AIR?

Jika koh Felix_Siauw mengatakan bahwa mencintai tanah air tidak ada dalilnya saya maklumi. Soalnya dia seorang muallaf yg masih harus banyak belajar dan juga bukan penduduk asli (non pribumi) indonesia. Mayoritas bangsa dan masyarakat indonesia mengakui bahwa mencintai tanah air sebagian dari keimanan, khususnya bagi warga NU sebagai ormas islam terbesar. Hal ini juga terungkap jelas sebagaimana KH. Wahab Hasbullah pernah mengatakan, “HUBBUL WATHON MINAN IMAN”.

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya. Ia selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas ra. yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Di samping Mekah, Madinah adalah juga merupakan tanah air Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islamnya setelah terusir dari Mekah. Di Madinah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan ditandai lahirnya watsiqah madinah atau yang biasa disebut oleh kita dengan nama Piagam Madinah.

Kecintaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Madinah juga tak terelakkan. Karenanya, ketika pulang dari bepergian, Beliau memandangi dinding Madinah kemudian memacu kendarannya dengan cepat. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Dari Anas ra. bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah, maka lantas mempercepat ontanya. Jika di atas kendaraan lain (seperti bagal atau kuda, pen) maka beliau menggerak-gerakannya karena kecintaanya kepada Madinah,” (HR Bukhari).

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika kembali dari bepergian, yaitu memandangi dinding Madinah dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di Madinah sebagaimana dituturkan dalam riwayat Anas ra. di atas, menurut keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menunjukkan atas keutamaan Madinah disyariatkannya cinta tanah air.

وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ

“Hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencitai tanah air serta merindukannya” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz III, halaman 621).

Dari penjelasan singkat ini maka setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia. Di samping itu juga dianjurkan oleh syara` (agama) sebagaimana penjelasan dalam kitab karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikemukakan di atas.

Kesimpulannya adalah bahwa mencintai tanah air bukan hanya karena tabiat, tetapi juga lahir dari bentuk perwujudan keimanan kita. Karenanya, jika kita mengaku diri sebagai orang yang beriman, maka mencintai Indonesia sebagai tanah air yang jelas-jelas penduduknya mayoritas Muslim merupakan keniscayaan.

Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman) sebagaimana masyhurnya ucapan KH Wahab Hasbullah salah seorang perintis NU.

Demikian Asimun Ibnu Mas’ud menyampaikan semoga bermanfa’at. Aamiin

*والله الموفق الى أقوم الطريق*

Asimun Ibnu Mas’ud

*ADAKAH HADITS CINTA TANAH AIR?*Jika koh #Felix_Siauw mengatakan bahwa mencintai tanah air tidak ada dalilnya sy…

Dikirim oleh Asimun Ibnu Mas'ud pada 10 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

KAPOLRI Tito Karnavian Soal NU dan Muhammadiyah Benar

KAPOLRI Tito Karnavian Soal NU dan Muhammadiyah Benar Secara kontekstual

Pidato KAPOLRI Tito Karnavian Soal NU dan Muhammadiyah Benar Secara kontekstual Benar Jika Dipahami Secara ...