Habib Mahdi Alatas, Habib Moderat Pecinta Kucing

Habib Mahdi Alatas, Habib Moderat yang Pecinta Kucing

Aku mengenal Habib Mahdi Alatas selaku sahabat dan juga guru yang aku hormati. Sejauh pertemanan yang telah lebih dari sepuluh tahun aku menangkap kesan positif; beliau ialah pribadi yang humble, hangat, humoris dan amat tulus. Tanyakan terhadap siapa saja yang berteman dekat dengan beliau, pasti pernah merasakan keseriusannya dalam menolong.

Saking seriusnya jika sudah menolong, beliau bakal detail sekali menanyakan perkembangannya, pertolongan apapun yang beliau sanggupi bakal dilakukannya dengan totalitas.

Pesantren Motivasi Indonesia yang aku bangun semenjak 2012 tidak lepas dari dukungan beliau. Pesantren yang oleh KH. Khadamul Kudus disebut sebagai Istana Dua Jempol ini memang didirikan tanpa funding, baik dari pemerintah ataupun lembaga fund rising. Aku rutin kirim tausiyah motivasi via Broadcast Blackberry Messenger (BBM) dan melalui broadcast itulah aku terhubung dengan banyak sekali relawan.

Suatu hari pernah cuma dalam satu hari kami menghimpun dana sebesar 800 juta untuk pendirian masjid Nurul Anwar di lingkungan Pesantren. Habib Mahdi Alatas di saat itu termasuk yang paling gencar mengirimkan broadcast aku ke seluruh jaringan beliau.

 

Habib Mahdi Alatas, Habib Moderat Pecinta Kucing
Habib Mahdi Alatas, Habib Moderat Pecinta Kucing.

Habib Mahdi Alatas Menantu Habib Jendral

Semenjak ayah mertua beliau wafat, beliaulah yang sekarang sebagai khalifah, penerus perjuangan da’wah sang mertua; al-maghfurlah Habib Husein bin Ali bin Husein Alatas, ayahnya almarhum, Habib Ali dikenal sebagai Habib Ali Bungur. Abdillah Toha, dalam salah satu tulisannya, menyebut Habib Ali Bungur sebagai seorang guru yang tawadhu’ dan sederhana, berhasil menciptakan murid-murid yang menjadi ulama besar sebagaimana KH Abdullah Sjafi’ie, pimpinan majelis taklim Assyfi’iyah, KH Tohir Rohili, pimpinan majelis taklim Attahiriyah, KH Syafi’i Hadzami, dan puluhan ulama lainnya.

Bahkan, para muridnya itu lantas menjadi guru para mubaligh dan dosen di perguruan tinggi Islam. Dan masih banyak lagi habaib di kota-kota lain yang namanya harum sampai sekarang berkat perilakunya yang amat Islami.

Sementara almarhum Habib Husein Alatas, di mana aku cukup sering hadir di majelis beliau, dikenal selaku Habib Jendral karena dikenal keras, tegas, dan disiplin. Kata-katanya bak perintah seorang jenderal dalam perang, sehingga dipatuhi lingkungan. Nyaris, ketika beliau masih hidup tak ada Habaib lain yang berani membantah perintah beliau.

Aku sendiri punya kesan spesial terhadap beliau, terutama ketika dulu masih sebagai penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) di Provinsi DKI Jakarta. Sudah rahasia umum di kalangan penghulu, jika memperoleh tugas mencatat pernikahan di kalangan habâib, kami-kami ini pasti bakal dikacangin alias dicuekin, boro-boro diberikan waktu guna memandu acara, kadang-kadang berkas pernikahan diambil panitia (biasanya pihak keluarga) lalu ditanda tangani pengantin, wali nikah dan saksi; Penghulu? Nyaris tiada arti.

Tapi aku rasakan hal itu tidak pernah terjadi jika di Majelis itu ada Habib Husein Alatas dan juga Habib Ali Assegaf (Bukit Duri, Tebet). Keduanya pasti bakal memanggil kami dan memintanya dengan ketawadhu’an tingkat tinggi guna memandu ritual ijab qobul.

Habib Mahdi yang moderat, humanis dan toleran

Sekarang, Habib Jendral itu sudah tiada, dan sang Khalifah, Al-Habib Mahdi Alatas melanjutkan kiprah almarhum selaku Da’i dan Ulama yang diperhitungkan. Di media TV, Habib Mahdi biasa kita saksikan di program Damai Indonesiaku. Habib Mahdi pun tidak beda jauh dengan almarhum; tegas, heroik dan mempunyai cara pandang keagamaan yang moderat, humanis dan toleran.

Tahun lalu, aku datang dalam resepsi pernikahan putri beliau di Balai Kartini Grand Ballroom. Perhelatan akbar itu benar-benar akbar, lebih dari 5000 orang datang memadati bangunan yang terletak di wilayah Kuningan, Jakarta. Perhelatan yang berkonsep International Wedding itu amat trendy. Tidak dipisahkan tamu laki-laki dan perempuan, sebagaimana juga tak dihadirkan musik pengiring beraroma Timur Tengah. Tetamu yang datang multi etnik dan pastinya juga multi agama.

Kemarin malam, meski datang belakangan, aku menyaksikan kelembutan hati Habib Mahdi menerima sahabatku, mas Permadi Heddy Setya alias abu janda ketika menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf atas pernyataannya pada acara ILC di TV One.

Dan yang mengejutkanku ialah ketika menyaksikan Habib Mahdi juga menyampaikan permohonan maaf atas video ancaman terhadap mas Permadi Arya yang beberapa waktu sebelumnya sempat viral. Aku tidak kuasa menahan keharuan ketika kelembutan hati Habib Mahdi menyuarakan permohonan maaf itu, getar suara dan tangisannya bukan fragmen buatan. Aku mengenal beliau lumayan lama dan aku penyaksi akan kehalusan budinya.

Habib Mahdi Alatas seorang cats lover

Habib Mahdi Alatas yang biasa dipanggil dengan HMA juga seorang cats lover, setidaknya ada kurang lebih 60 ekor kucing dari ragam ras yang dipeliharanya. Tidak jarang beliau ikut dalam kontes kucing. Ini tampak dari ratusan trophy kejuaraan yang dimilikinya. Kalungan penghargaan yang berjumlah ratusan itu tergantung rapi di sebuah tempat tidur bersejarah milik mbah kyai mangli yg seminggu sebelum wafatnya dikirim ke rumah beliau.

Kasih sayang HMA dengan kucing tidak hal baru apalagi sekedar ikut-ikutan. Setidaknya aku tau sudah semenjak 10 tahun silam, walaupun dulu belum aktif dalam komunitas pecinta kucing. Dan aku percaya mereka yang mencintai binatang pada umumnya mereka yang mempunyai spirit kasih melintasi sekedar kemanusiaan.

Pantaslah Sang Nabi yang dikenal selaku penyayang binatang itu disebut oleh Allah di dalam Kitab Suci sebagai rahmat bagi semesta alam.

Semoga Allah senantiasa memberkati Habib Mahdi Alatas dan keluarganya.

Kyai Enha (Nurul Huda)
Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :