Habib Luthfi Saban Ziarah Walisongo, Saya Malu

Saya pernah ditanya: Bib, keistimewaannya ziarah walisongo apa?, saya jawab: Isin(malu, red.)! Respon saya masih dikejar: Lho, bukannya istimewanya ada pada berkah(mencari berkah, red.). Bukan. Berlebihan tinggi itu buat saya. Tandas saya.

Anda lihat, Sunan Ampel misalnya, telah berapa ratus orang yang berdzikir di makam beliau tiap hari? Makam Sunan Kalijaga, berapa ratus orang yang telah menyebut nama Allah di sana tiap malam? Sunan Muria, telah berapa ribu orang yang membaca Quran dan membaca shalawat di sana (Muria)? Saya sendiri saja masih susah mengajak bocah kecil sehabis maghrib untuk berkumpul dan memperkenalkanajdad(leluhur), berdoa, berdzikir, dan membaca Quran. Bagaimana dapat seramai di makam para auliya` Allah Walisongo? Padahal mereka telah wafat ratusan tahun yang lalu, dan saya masih hidup.
Berziarah, selain melahirkan budaya malu seperti tadi, semestinya berfungsi memperkenalkan siapa yang ada di makam tersebut ke bocah kecil kita. Semestinya bukan Walisongo saja, tapi perkenalkan juga siapa Kyai Sentot Prawirodirjo, siapa Kyai Diponegoro, siapa Jend. Sudirman, sebab kita kian lupa dengan para pahlawan negeri ini. Lihatlah bendera kita, merah putih, ia berdiri tegak bukan secara gratis! Ada darah dan nyawa para pahlawan yang mesti dibayar untuk berbelanja bendera itu. Coba kita kenalkan para pahwalan itu tiap-tiap habis maghrib.
Andaikan kita telah merdeka ini, seperti ada hidangan di meja di depan kita dan kita tinggal melahapnya saja. Namun bukannya melahap, eh malah sibuk ribut sendiri, saling sikut, mau diadu domba. Makam Sunan Ampel saja, yang telah wafat ratusan lalu, masih sanggup mempersatukan warga sekarang yang masih hidup. Pintu makam senantiasa dibuka, seluruh orang bisa menziarahi, apapun kelir kulitnya, apapun partainya, dan di kanan-kiri beberapa orang berjualan, pendapatan mereka bertambah, ada pekerjaan yang bisa menyambung hidup mereka. Muka kita mau ditaruh dimana, wong orang yang telah mati saja masih dapat begini, tapi kita yang masih hidup tidak dapat apa-apa? (RA)
Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya, Pekalongan
loading...

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *