Habib Luthfi: Rasulullah Hijrah sebab Wahyu, Bukan Sebab Takut

Pembelaan Habib Luthfi bin Yahya ketika Banser Disudutkan

Habib Luthfi: Rasulullah Hijrah sebab Wahyu, Bukan Sebab Takut

Habib Mohammad Luthfi bin Yahya menjelaskan, sampai waktu ini masih jadi misteri sejarah soal alasan Rasulullah mengapa hijrah Madinah. Pada umumnya sejarawan cenderung memposisikan Rasulullah dan para sahabatnya selaku korban sehingga memaksa Rasul untuk angkat kaki dari kota Makkah.

“Kenapa Rasulullah hijrah ke Madinah?” Tanya Habib Luthfi bin Ali bin Yahya di depan ribuan jemaah pada acara Halal bi Halal Nusantara di Majlis Ta’lim Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Jl. Otista Raya, Jaktim, Sabtu (28/7) malam.

Habib Luthfi mengingatkan bahwa Rasulullah hijrah bukan sebab takut, bukan tuntutan perut, tapi sebab wahyu. Hijrahnya Rasulullah bukan sebab perlakukan kafir Quraisy.

“Seandainya tak ada perlakuan seperti itu, Kanjeng Nabi akan tetap hijrah. Hijrah di sini bukan ke negara-negara di Semenanjung Arab, kultur yang telah setapak lebih maju. Ada apa?” tutur Habib Luthfi.

Yasrib, kata Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) itu, kota tua yang pada 3000 tahun yang lalu sebelum masehi telah ada yang menghubungkan ekonomi, lantas dirintis kembali oleh Rasulullah jadi jalan sutera. Jalan sutera ini menghubungkan ke timur jauh, melalui India sampai masuk ke Indonesia.

“Hijrahnya Rasulullah Allahu Akbar membangun marketing, Allahu Akbar membangun ekonomi, Allahu Akbar membangun pendidikan, Allahu Akbar membangun sarana-sarana ibadah, Allah Akbar menjalin persatuan-persatuan yang luar biasa atau ukhuwah, sampai timbul perjanjian deklarasi Madinah dan lain sebagainya,” tegas Habib.

Lebih jauh dikatakan, apa yang dirintis oleh Nabi yang akhirnya ditiru oleh anak cucu. Islam masuk ke Indonesia mulai abad ke-2 hijrah. Kancah politik waktu itu sedang terjadi antar Bani Umaiyah dan Bani Abbas. Allah yang tahu keberadaan ahlul bait, terombang ambing, fitnah luar biasa dan merajalela, bagaimana memojokkan ke anak cucu Nabi.

Imam Ahmad al-Muhajir, dari Bashrah sampai ke Syam

Habib Luthfi menggarisbawahi perjuangan tersebut diteruskan oleh Imam Ahmad al-Muhajir, dari Bashrah sampai ke Syam, dari Syam sampai ke Madinah, dari Madinah masuklah ke Hadramaut, Yaman. Sehingga pada masa-masa seterusnya melahirkan tokoh-tokoh yang luar biasa.

“Padahal pada waktu itu di Hadramaut mazhab yang pokok ialah mazhab Ibadhiyah, tapi Sayyid Ahmad al-Muhajir dapat memasukinya dengan mazhab Syafi’iyah, tanpa terjadi benturan. Malah saling menerima sampai melahirkan tokoh-tokoh intelektual yang luar biasa, tokoh muhadditsin yang luar biasa,” papar Habib Luthfi. (M Zidni Nafi’/Muiz/NU Online)

Source by Hakim Abdul

You might like

About the Author: Hakim Abdul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.