Habib Luthfi dan Gus Dur Perintahkan Banser Jaga Gereja dengan Niat Jaga Keamanan Indonesia

Habib Luthfi dan Gus Dur Perintahkan Banser Jaga Gereja dengan Niat Jaga Keamanan Indonesia

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ialah tokoh yang pertama membikin tradisi Banser NU menjaga gereja. Perintah penjagaan ketika natal itu datang enggak berlebihan lama sesudah ada kerusuhan dan pembakaran gereja di Situbondo, Jawa Timur. Sebagaimana diketahui, kerusuhan itu terjadi pada 10 Oktober 1996.

Ketika itu, Ketua Pengurus Wilayah Ansor Jawa Timur ialah Choirul Anam. Dalam suatu perjumpaan di tahun 1996-1997, salah seorang anggota Ansor Jawa Timur menanyakan menuju Gus Dur perihal bagaimana hukumnya seorang Muslim menjaga gereja. Gus Dur dengan pintar menjawab menuju iring-iringan Ansor itu.

“Kau niatkan jaga Indonesia bila kau tidak mau jaga gereja. Karena gereja itu ada di Indonesia, Tanah Air kita. Tak boleh ada yang mengganggu tempat ibadah agama apapun di bumi Indonesia, kata Gus Dur,” kata Gus Dur ketika itu, sebagaiman ditirukan Nusron Wahid, Jumat (23/12/2016).

Nusron saat itu belum sebagai pimpinan teras Ansor, ia cuma selaku aktivis Pergerakan Maha siswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas Indonesia (UI). Nusron tahu sejarah itu sebab kebetulan sering berkunjung dan ‘ngaji pergerakan’ menuju tempat Gus Dur.

“Semenjak disuruh itu, Cak Anam (Ketua Ansor Jatim ketika itu) langsung memerintahkan seluruh Banser Jatim guna menjaga gereja lengkap dengan dalil-dalil dan ayatnya,” ungkap Nusron, sebagaimana dikutip Dutaislam.com dari Detikcom.

Ketika Nusron sebagai Ketua Umum GP Ansor, Gus Dur sudah wafat. Akan tetapi perintah menjaga gereja tetap dipegang teguh, termasuk selaku senjata guna berhadapan dengan pihak-pihak yang enggak setuju dengan langkah pengamanan gereja oleh ummat muslim ini.

“Yang kita jaga itu Indonesia. Jangan lihat gerejanya. Jika ada kyai dan habaib yang masih ngeyel, aku jawab bahwa aku dipesenin Almarhum Gus Dur dan disuruh Habib Luthfi,” tandas Nusron.

Habib Luthfi Dalil Jaga Gereja
Soal dalil mendalil Banser NU menjaga gereja itu sebetulnya telah selesai dibicarakan. Akan tetapi masih ada saja yang menuduh Banser meridhai dan merestui kekafiran. Padahal, hal itu disanggah sendiri dengan pengumuman terbuka anggota Banser. Tak sesederhana itu menyaksikan bakti Banser terhadap keutuhan negeri.

“Perlu ditegaskan tak ada unsur rela kekafiran, tapi lebih pada membumikan prinsip insaniyah. Bagian prinsip insaniyah itu ialah menebarkan kasih sayang terhadap yang lain, termasuk pada yang kafir,” tegas Wasid Mansyur, Dewan Ahli Rijalul Ansor Jatim, Kamis (22/12/2016).

Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Tsimarul Yani’ah ala Riyadhil Badi’ah mecatat, “hendaklah seseorang berinteraksi dengan Ihsan bareng seluruh orang, bagus urusan agama atau Duniya, supaya kelak sebagai husnul khotimah, kalau kelak mati. Yaitu, dengan menebar kasih terhadap yang seiman, murah hati terhadap yang dhalim, memaafkan orang-orang yang bodoh, berbaik terhadap yang berbuat jelek, dan belas kasih terhadap seluruh hamba Allah (termasuk, yang kafir)”.

Sebab itulah, lanjut Cak Wasid, usaha menjaga gereja lebih didasari pada ghirah insaniyah. “Apalagi anggota Banser posisi di luar, tak di dalam ikut kebaktian. Langkah arif ini, semoga memberi cela dan teladan bahwa kebanyakan wajib ikut andil berperan menjaga minoritas,” imbuhnya.

Hal senada pun diutarakan oleh Abid Umar, Wakil Ketua Ansor. Ia mempersoalkan, kalau Banser dikafirkan cuma menjaga gereja ketika Natal. Lalu berapa ribu security atau satpam yang bekerja selaku penjaga gereja di Indonesia wajib murtad? “Mereka kebanyakan muslim, apa pekerjaan mereka haram,” ujar Abid.

Banser, kata Cak Abid, cuma datang ketika momen Natal, “itupun disertai surat tugas dan koordinasi dengan aparat kepolisian. Mereka yang mencegah dengan dalil agama dan lainnya, bisakah menjamin negeri ini tak ada lagi ada ancaman bom/teror dan sejenisnya,” paparnya.

Ia mengajak guna menengok saudara-saudara sebangsa di Bali. Ketika 2 hari raya, pecalang yang Hindu senantiasa datang dalam proses penjagaan, “mereka mengamankan ummat Islam yang sedang menjalankan ibadah shalat ied dan perayaan Idul Fitri. Kayak gitu pula dengan saudara-saudara kita di NTT, Papua, Kalbar dan lainnya pun sama, mereka pun datang dalam misi yang sama pula,” tandas Abid terhadap Dutaislam.com, Jumat (23/12/2016) malam via WhatsApp.

Sebab alasan kebangsaan itulah, Maulana Habib Luthfi bin Yahya tak mencegah Banser NU menjaga gereja, bahkan memerintahkannya. Keterangan ini pun pernah dikatakan terhadap salah seorang putra kyai yang ada dalam jaringan Asparagus (Asosiasi Para Gus), didapatkan Dutaislam.com, Jumat (23/12/2016) sore.

Lebih dari itu, Habib Luthfi bahkan di malam Natal ikut berkeliling di depan gereja, duduk bareng polisi dan TNI guna menjaga stabilitas nasional, sebagaimana pun dilaksanakan ketika beliau turun langsung ikut mengurai kemacetan musim mudik Idul Fitri tahun lalu.

hingga kapan bakal berhenti mengikuti tradisi jaga gereja yang pernah dibangun oleh Gus Dur era 90 an itu? Gus Ghofur, putra KH Maimoen Zubair mengumumkan, Banser bakal tarik perintah jaga ketika natalan kalau negeri ini telah aman dari teror kubu radikal.

“Namun sebaliknya, jika teror kepada gereja masih ada, maka Banser bakal tetap menjaga gereja sebab dalam fikih Islam itu telah clear,” ujar Gus Ghofur sebagaimana dikutip Dutaislam.com dari situs NU Online. Sekarang, giliran Banser menjaga haul Gus Dur ke-7 supaya tetap berjalan lancar sebab hampir berbarengan dengan perayaan Natal.

 

Sumber : Dutaislam.com

Habib Luthfi dan Gus Dur Perintahkan Banser Jaga Gereja dengan Niat Jaga Keamanan Indonesia

Link

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :