Habib Ali al Jufri: Tabligh Akbar Isra’ Mi’raj di Monas Bareng Majelis Rasulullah Saw

Siapa Habib Ali Al Jufri

Habib Ali Al Jufri – Ummat Islam di Indonesia insyaallah telah hampir seluruh tahu siapa Habib Munzir Al Musawa sang pimpinan Majelis rasulullah Saw di Jakarta. Tetapi mungkin belum beberapa yang tahu siapa Habib Ali Al Jufri sang Da’i internasional ini. Nah, sebelum menghadiri dan mengikuti Tabligh Akbar Isra’ Mi’raj di Monas, di mana Habib Munzir mengundang Habib Ali Al Jufri untuk memberikan wejangannya, marilah kita kenal tidak banyak soal habib Ali Al Jufri. Dengan mengenalnya semoga tambah semngat untuk datang dan mengikuti Tabligh Akbar Isra’ Mi’raj di Monas 16 Juni 2012 yang akan datang.

Hadirilah Tabligh Akbar Memperingati Isro’ Mi’roj pukul 20.00 – Selesi Wib, 16 Juni 2012 di Monas.

Kelahiran Habib Ali Al Jufri :

Habib Ali lahir di kota Jeddah di Kerajaan Arab Saudi sebelum fajar pada hari Jumat 20 Safar 1391 H (16 April 1971), dari orangtua yang sama-sama nasab dari putra Imam Hussein Ali, semoga Allah merahmatinya..

nasab Habib Ali Al Jufri :

Ali Zain al-Abidin bin Abdul-Rahman bin Ali bin Muhammad bin Alawi putra putra Ali bin Alawi bin Ali bin Ahmad bin Alawi Abdul-Rahman al-Mawlah Arsha bin Muhammad bin Abdullah al -Tarisi bin Alawi al-Khawas anak Abu al-Jifri anak Bakr bin Muhammad Ali bin Muhammad bin putra Ahmed bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Murbat Sahab Ali Khali `Qassam bin Alawi putra putra Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah dari Ahmed al-Muhajir ila Allah (trans: orang yang membikin eksodus ke hadirat Ilahi) anak anak Isa Muhammad al-Naqib bin Ali al -Uraidhi bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali al-Abidin Zain putra dari Hussein (cucu Rasulullah semoga Allah memrahmatinya & saw) putra putra Ali dari Abu Taleb, semoga Allah meninggikan derajat muka nya, suami dari Fatimah al-Zahra putri Rasulullah saw. semoga Allah merahmatinya.

Penampilan fisiknya mengagumkan: tampan, berkulit putih, tinggi, besar, berjenggot tebal dan rapi tanpa kumis. Wajar kalau kehadirannya di suatu majelis senantiasa menonjol dan menyita perhatian orang.

Tetapi kelebihannya bukan cuma itu. Jikalau telah berbicara di forum, orang akan terkagum-kagum lagi dengan kelebihan-kelebihannya yang lain. Intonasi suaranya membikin orang tidak ingin berhenti mengikuti pembicaraannya. Pada waktu tertentu, suara dan ungkapan-ungkapannya menyejukkan hati pendengarnya. Namun pada waktu yang lain, suaranya meninggi, menggelegar, bergetar, membikin mereka tertunduk, lalu mengoreksi diri sendiri.

Akan tetapi jangan dikira kelebihannya cuma pada penampilan fisik dan kesanggupan bicara. Materi yang dibawakannya bukan bahan biasa yang cuma mengandalkan retorika, melainkan full dengan pemahaman-pemahaman baru, sarat dengan info penting, dan ditopang argumentasi-argumentasi yang kukuh. Wajar, sebab ia memang mempunyai penguasaan ilmu agama yang mendalam dalam berbagai cabang keilmuan, ditambah pengetahuannya yang tidak kalah luas dalam ilmu-ilmu modern, juga kemampuannya menyentuh hati orang, membikin para pendengarnya bukan cuma memperoleh tambahan ilmu dan wawasan, melainkan juga memperoleh ghirah dan tekad yang baru untuk mengoreksi diri dan melaksanakan perubahan.

Itulah sebagian gambaran Habib Ali bin Abdurrahman Al-Jufri, sosok ulama dan pendakwah muda yang nama dan kiprahnya terlalu dikenal di berbagai negeri muslim, bahkan juga di dunia Barat.

Ia memang sosok yang istimewa. Pribadinya memancarkan daya tarik yang kuat. Siapa yang duduk dengannya sebentar saja akan tertarik hatinya dan terkesan dengan keadaannya. Bukan cuma kalangan awam, para ulama pun mencintainya. Siapa sesungguhnya tokoh ini dan dari mana ia berasal?

Habib Ali Al Jufri Menimba Ilmu dari para Tokoh Besar

Habib Ali Al-Jufri lahir di kota Jeddah, Arab Saudi, menjelang fajar, pada hari Jum’at 16 April 1971 (20 Shafar 1391 H). Ayahnya ialah Habib Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alwi Al-Jufri, sedangkan ibundanya Syarifah Marumah binti Hasan bin Alwi binti Hasan bin Alwi bin Ali Al-Jufri.

Di masa kecil, ia mulai menimba ilmu ke bibi dari ibundanya, seorang alimah dan arifah billah, Hababah Shafiyah binti Alwi bin Hasan Al-Jufri. Perempuan shalihah ini memberikan pengaruh yang terlalu besar dalam mengarahkannya ke jalur ilmu dan perjalanan ke Allah.

seusai itu ia tidak henti-hentinya menimba ilmu dari para tokoh besar. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf ialah salah seorang guru utamanya. Kepadanya ia membaca dan mendengarkan pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Tajrid Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, dan kitab-kitab penting lainnya. Cukup lama Habib Ali belajar kepadanya, semenjak usia 10 tahun sampai berumur 21 tahun.

Ia juga berguru ke Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, ulama terkemuka dan penulis karya-karya terkenal. Di antara kitab yang dibacanya kepadanya ialah Idhah Asrar `Ulum Al-Muqarrabin. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki juga salah seorang gurunya. Kepadanya ia mempelajari kitab-kitab musthalah hadits, ushul, dan sirah. Sedangkan ke Habib Hamid bin Alwi bin Thahir Al-Haddad, ia membaca Al-Mukhtashar Al-Lathif dan Bidayah Al-Hidayah.

Ia pun selama lebih dari empat tahun menimba ilmu ke Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur, dengan membaca dan mendengarkan kitab Sunan Ibnu Majah, Ar-Risalah Al-Jamiah, Bidayah Al-Hidayah, Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah, Tafsir Al-Jalalain, Tanwir Al-Aghlas, Lathaif Al-Isyarat, Tafsir Ayat Al-Ahkam, dan Tafsir Al-Baghawi.

Pada tahun 1412 H (1991 M) Habib Ali mengikuti kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Shan`a, Yaman, sampai tahun 1414 H (1993 M).

Lalu ia menetap di Tarim, Hadhramaut. Di sini ia belajar dan juga mendampingi Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz semenjak tahun 1993 sampai 2003. Kepadanya, Habib Ali membaca dan menghadiri pembacaan kitab-kitab Shahih Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, Adab Suluk Al-Murid, Risalah Al-Muawanah, Minhaj Al-Abidin, Al-`Iqd An-Nabawi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Al-Hikam, dan sebagainya.

Loading...
loading...

Selain ke mereka, ia pun menimba ilmu ke para tokoh ulama lainnya, seperti Syaikh Umar bin Husain Al-Khathib, Syaikh Sayyid Mutawalli Asy-Syarawi, Syaikh Ismail bin Shadiq Al-Adawi di Al-Jami Al-Husaini dan di Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, juga Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim. Di samping itu, Habib Ali juga mengambil ijazah dari 300-an orang syaikh dalam berbagai cabang ilmu.

Habib Ali Al Jufri dan Dakwah yang Dialogis

Berbekal berbagai ilmu yang diperolehnya, ditambah pengalaman berkat tempaan para gurunya, ia pun mulai menjalankan misi dakwahnya. Aktivitas dakwahnya diawali pada tahun 1412 H/1991 di kota-kota dan desa-desa di negeri Yaman. Ia lalu berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Perjalanannya ke mancanegara diawali pada tahun 1414 H/1993 dan terus berlangsung sampai Saat ini.

Berbagai wilayah negara dikunjunginya. Misalnya negara-negara Arab, ialah Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Oman, Qatar, Kuwait, Lebanon, Libya, Mesir, Maroko, Mauritania, Jibouti.

Negara-negara non-Arab di Asia, di antaranya Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, Sri Lanka. Di Afrika, di antaranya ia mengunjungi Kenya dan Tanzania. Sedangkan di Eropa, dakwahnya sudah merambah Inggris, Jerman, Prancis, Belgia, Belanda, Irlandia, Denmark, Bosnia Herzegovina, dan Turki. Ia pun setidaknya sudah empat kali menggelar perjalanan dakwah ke Amerika Serikat; pertama tahun 1998, kedua tahun 2001, ketiga tahun 2002, dan ke-4 tahun 2008. Di samping juga mengunjungi Kanada

Perjalanan dakwahnya ke berbagai negera membawa kesan tersendiri di hati para jama’ah yang mendengarkan penjelasan dan pesan-pesannya.

Di Jerman, ia membikin jama’ah masjid sebanyak 3 lantai menangis tersedu-sedu menguping taushiyahnya. Orang-orang yang tinggal di Barat, yang cenderung keras hatinya, ternyata sanggup lunak di tangan Habib Ali. Di Amerika ada yang merasa bahwa melihat dan berkumpul bersama-sama Habib Ali Al-Jufri selama satu malam cukup untuk memberinya tenaga dan ghirah untuk beribadah selama 3 bulan. Di Inggris ia terlibat penyelenggaraan Maulid Nabi di stadion Wembley. Di Denmark ia menggelar jumpa pers dengan kalangan media massa.

Di Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut tiap-tiap tahun, bulan Rajab-Sya`ban, ia jadi pembicara rutin Daurah Internasional. Ia pun merangkul para pendakwah muda di Timur Tengah, serta membimbing dan memberikan petunjuk ke para pemuda yang berbakat. Ia suka duduk bersama-sama para pemuda dan menggelar dialog terbuka secara bebas.

Dalam berdakwah, ia aktif menjalin hubungan dengan berbagai kalangan warga. Ia memasuki kalangan yang paling bawah, seperti suku-suku di Afrika, sampai kalangan paling atas, seperti keluarga keamiran Abu Dhabi. Ia berhubungan dengan kalangan awam sampai kalangan yang paling alim, seperti Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (mufti de facto negeri Syria), Syaikh Ali Jum`ah (mufti Mesir), dan ulama-ulama besar lainnya.

Beberapa sekali bintang film, artis dan aktris, para seniman, di Mesir yang bertaubat di tangannya. Ini mengakibatkan pemerintah Mesir merasa kuatir, jikalau hal ini berlangsung terus akan memberikan dampak buruk bagi industri perfilman Mesir, yang merupakan bagian sumber penghasilan utama sesudah pariwisata. Artis yang sebelumnya “terbuka” jadi berhijab, yang dulunya aktor jadi berdakwah.

Sekarang ia pun secara rutin tampil di televisi. Penyampaian dakwahnya menyentuh akal dan hati. Cara dakwahnya yang sejuk dan simpatik, pandangan-pandangannya yang jenius dan tajam, pembawaannya yang menarik hati, membuatnya kian berpengaruh dari waktu ke waktu.

Kemunculan Habib Ali di dunia dakwah membawa angin segar bagi kaum muslimin, terutama kalangan Sunni. Cara dakwahnya tak sama dengan dakwah kalangan yang cenderung keras, kasar, dan kering dari nilai-nilai ruhani, serta cenderung menyerbu orang lain, dan beberapa menekankan pada model konflik dibanding harmoni dengan kalangan non-muslim. Bahkan mereka melihat warga muslim sekarang selaku reinkarnasi dari warga Jahiliyah.

Beberapa waktu lalu koran Denmark kembali menampilkan kartun Nabi. Tak sama dengan reaksi sebagian kalangan muslim yang full amarah dan tindak aksi anarkis di dalam menanggapinya, Habib Ali Jufri dengan kesejukan hatinya serta ketajaman pandangan, pikiran, akal, dan mata bathinnya sudah melaksanakan serangkaian langkah yang bervisi jauh ke depan. Ia berkeinginan, langkah-langkahnya akan berdampak positif bagi kaum muslimin, terutama yang tinggal di negara-negara Barat, serta akan menguntungkan dakwah Islam di masa Saat ini dan akan datang.

Bukannya menyaksikan kasus ini selaku ancaman dan bahaya kepada Islam dan muslimin, Habib Ali malah secara jenius menyaksikan hal ini selaku peluang dakwah yang besar untuk masuk ke negeri Eropa secara terbuka, untuk menerangkan secara bebas soal Nabi Saw dan berdialog dengan warga serta kalangan pers di sana soal agama ini dan soal fenomena muslimin. Singkatnya, ia malah menyaksikan ini selaku peluang dakwah yang besar.

Tentu saja cara pandang Habib Ali juga dikarenakan pemahamannya yang terlalu dalam soal karakter warga Barat. Bagian karakter terbesar mereka ialah mempunyai rasa ingin tahu yang besar, berpikir rasional, dan mempunyai sikap siap mendengarkan. Karakter-karakter umum ini, ditambah sorotan perhatian ke Rasulullah, merupakan peluang besar untuk memberikan penjelasan. Mereka ingin tahu soal Nabi SAW, artinya mereka dalam keadaan siap mendengarkan. Mereka rasional, artinya siap untuk memperoleh penjelasan yang logis.

Apabila kita sanggup menerangkan soal Rasulullah Sawdan agama ini ke mereka dengan cara yang menyentuh akal dan hati mereka, maka kita malah akan sanggup mengubah mereka. Dari yang anti jadi netral, yang netral jadi pro, yang pro jadi muslim, yang antipati jadi simpati, yang keras jadi halus, yang marah jadi dingin, yang acu jadi penasaran. Sekaligus pula melarang simpatisan jadi oposan, pro jadi anti dan seterusnya.

Sebab karakter warga Barat yang terbuka, toleran, lebih sanggup menerima multi budaya, maka peluang dakwah terbuka bebas. Inilah ranah ideal untuk dakwah Islamiyah. Tentu saja ini bagi para da`i yang berfikiran terbuka, berakal lurus dan tajam, jenius memahami situasi keadaan, dan mempunyai dada yang cukup lapang dalam menerima tanggapan buruk, serta giat melaksanakan pendekatan yang konstruktif dan positif, serta mempunyai akhlak yang mulia. Di sinilah Habib Ali Al-Jufri masuk dengan dakwahnya yang dialogis.

 

Source:

Loading...

http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=372235109501144

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :