Gus Solah: Pesantren Radikal Usir Saja dari Indonesia

Pesantren Radikal yang Ajarkan Radikalisme sebaiknya diusir saja dari Indonesia. Kiprah Pesantren dalam mendidik anak bangsa sudah jadi bagian enggak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia, semenjak berabad-abad yang lampau. Sebab itu ‘kesadaran’ akan ke-Indonesiaan para santri sampai hari ini lekat dengan kecintaan pada negeri ini. Di samping faktor akar sejarah, pesantren sejak dulu ndak mengajarkan radikalisme apalagi terorisme.

Hal inilah yang dapat membedakan antara Pesantren yang mempunyai kesadaran ke-Indonesiaan, dengan lembaga-lembaga yang menyebut diri selaku pesantren yang dewasa ini melahirkan alumni-alumni yang terlibat tindakan terorisme. Tepatnya pesantren ini lebih cocok disebut pesantren radikal.

Pesantren radikal yang seperti ini itu menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail jumlahnya sedikit. Tetapi dengan mudah eksistensi mereka mencemarkan nama baik pesantren-pesantren di Indonesia yang sudah datang dengan tradisi ratusan tahun.

“meskipun jumlahnya sedikit. Pesantren yang mengajarkan radikalisme itu sudah keblinger dan ndak sesuai dengan cita-cita pendirian awal pesantren oleh para ulama dan wali. Yaitu mengajarkan Islam yg indah, halus, dan menyejukkan. Makanya mampu dikerjakan pemeriksaan ulama dari pesantren. Insya Allah ndak akan tergiur untuk melaksanakan aksi anarkis sebab memang ndak memungkinan melaksanakan aksi anarkis di pesantren,” ujarnya di Jakarta, Jumat (5/2/2016).

Ahmad Satori Ismail sendiri juga dikenal selaku pengasuh beberapa pondok pesantren. Antara lain, Pesantren Al-Hasan di Bekasi (Jawa Barat). Pesantren Khusnul Khotimah di Kuningan (Jawa Barat). Pesantren Al-Himmah dan Pesantren Al-Bayyan di Cirebon (Jawa Barat). Serta Pesantren Bani Abdillah Al-Khairiyyah di Banten. Waktu ini, ia juga jadi Ketua Ikatan Pendakwah Indonesia (Ikadi).

Menurut dia, pemerintah dengan lembaga-lembaga terkait lainnya mesti sungguh-sungguh mencermati keberadaan pondok pesantren yang melenceng dari konsep pendiriannya tersebut. Selain mencoreng citra pondok pesantren, mereka juga sudah melaksanakan pelanggaran. Apalagi mereka berencana mendirikan negara sendiri. Atau tindakan-tindakan lain yang mengancam kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Islam itu indah, Alquran juga indah, Rasulullah juga indah, para sahabat indah. Maka jika orang mengklaim Islam tapi berbuat kasar, apalagi menghabisi, maka terang itu bukan Islam. Seperti ISIS yang menyerbu negara lain tapi gak berani menyerbu Israel, apa itu? Jika ada ISIS yang katanya ingin ke Indonesia atau orang Indonesia berkoalisi ke ISIS untuk melaksanakan tindakan merusak. Itu bukan watak Islam. Alquran menyuruh kita untuk membangun dan membenahi ummat manusia, ndak ada satu pun perintah untuk aksi anarkis,” papar Satori.

Ia menerangkan, pesantren ialah lembaga yang semenjak dulu didirikan oleh wali songo dan pejuang Islam dengan maksud utama mengajarkan agama Islam dari tingkat dasar sampai tinggi. Dan itu senantiasa dipelihara dengan baik sebab pesantren senantiasa mencerminkan keindahan Islam itu sendiri. Bahkan waktu perang kemerdekaan, beberapa pejuang lahir dari pesantren untuk memerdekakan bangsa.

Gus Solah: Pesantren Radikal Usir Saja dari Indonesia

Ndak perlu ragu usir pesantren radikal dari Indonesia

“Fungsi pesantren terlalu luar biasa dan itu telah berlangsung berabad-abad. Sekarang ribuan pesantren besar dan kecil tetap mengajarkan Islam yang indah dan damai. Enggak salah pesantren identik dengan tempat lahirnya ulama-ulama besar,” imbuh Satori.

Terkait pesantren radikal yang melenceng dengan mengajarkan paham radikalisme? Satori menganjurkan supaya pemerintah, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) lebih masif lagi menggelar sosialisasi soal paham radikalisme dan terorisme di lingkungan pesantren. Itu penting sebab memang ndak ada tempat radikalisme dan terorisme di pesantren.

“Kita perlu terus membentengi pesantren dari pengaruh paham-paham tersebut. Artinya dialog dan sosialisasi pencegahan terorisme mesti dimasifkan supaya para santri memahami bahwa sekarang ada kubu yang ingin mengadu domba Islam. Juga perlunya tetap fokus mengamalkan Islam yang indah dan halus,” ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Salahudin Wahid atau Gus Solah. Adik kandang eks Ketua Umum PBNU Gus Dur ini, mengungkapkan, pesantren yang terindikasi radikalisme di Indonesia memang ada. “Namun saya ndak tahu hitungan total pastinya,” kata Gus Solah.

Menurut Gus Solah, semestinya pesantren itu ndak boleh bersentuhan dengan hal-hal berbau radikalisme dan terorisme. Selama sekian abad pesantren memberi ilmu dan pemahaman keagamaan yang tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil). Pesantren hampir sebagian besar berorientasi kpd NU yang punya nasionalisme tinggi sebab perjalanan sejarah bangsa kita yang panjang.

Jadi.., kalau sekarang ada lembaga pendidikan yang menamakan diri selaku pesantren tetapi mengajarkan radikalisme? Lalu jadi pesantren radikal menentang NKRI? Maka sebaiknya ndak perlu ragu untuk mengusirnya dari Indonesia. Pulangkan saja mereka ke negara asal di mana radikalisme diajarkan. (al/Okezone)

 

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :