Gus Mus: Selamat Tahun Baru, Kawan

Website Islam Institute
Loading...

Gus Mus: Selamat Tahun Baru, Kawan

Kawan, telah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Melihat diri sendiri?
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisab-Nya?

Kawan, siapakah kita ini sejatinya?
Musliminkah?
Mukminin?
Muttaqin?
Khalifah Allah?
Ummat Muhammad-kah kita?
Khaira ummatin kah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain?
Atau bahkan lebih rendah lagi?
Cuma budak-budak perut dan kelamin.

Iman kita kpd Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok wanita.
Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan massa
dan tiba-tiba buas dan binal malah di waktu sendiri bersama-Nya.
Syahadat kita rasanya seperti perut bedug, atau pernyataan setia pegawai rendahan,
kosong enggak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam Ibu-ibu
Lebih cepat daripada menghirup kopi panas
Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
Doa kita sesudahnya malah lebih serius kita
Memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan waktu istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat.
Tatkala datang lapar atau haus; kitapun manggut-manggut,
“Oh beginikah rasanya.”
Dan kita telah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibandingkan tukang becak melepas penghasilannya
untuk kupon undian yang sia-sia.
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda.
Haji kita enggak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material.
Membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi. Haji.

INFO PENTING

Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita Berbarengan-Nya?
Atau kita malah sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia selaku khalifah-Nya.

Kawan, enggak terasa kita makin pintar
Mungkin kedudukan kita selaku khalifah mempercepat proses kematangan kita,
paling tak kita makin pintar berdalih.
Kita perkosa alam dan lingkungan untuk ilmu pengetahuan
Kita berkelahi untuk menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu untuk keselamatan
Memamerkan kekayaan untuk mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci untuk pendidikan
Berbuat semuanya untuk kemerdekaan
Ndak berbuat apa-apa untuk ketentraman
Membiarkan kemungkaran untuk kedamaian
Pendek kata, untuk seluruh yang baik, halallah seluruh sampaipun yang paling tak baik

Lalu bagaimana para cendikiawan dan seniman?
Para mubaligh dan kyai penyambung lidah Nabi?
Jangan ngrecoki mereka.
Para cendikiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak ke mana-mana
Para kyai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.

Kawan, selamat tahun baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk dan melihat diri sendiri?  (HAPPY NEW YEAR 2016)

 

Oleh: Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri)

Save

Loading...

You might like

About the Author: admin