[Gus Mus] Keistimewaan Puasa Ramadhan

Gus Mus: Nabi Tak Pernah Ikutkan ‘Nafsunya’ Dalam Bela Agama

[Gus Mus] Keistimewaan Puasa Ramadhan

Oleh: KH Ahmad Mustofa Bisri

Seharusnya, jika menyaksikan sambutan dan pernyataan-pernyataan kaum muslimin menjelang Ramadan, tentu bulan suci itu ialah bulan yang istimewa. Tetapi di manakah letak istimewanya? Apakah cuma pada perubahan jadwal makan, ramainya tarawih keliling, dan festifal tausiah, termasuk dagelan-dagelan di televisi? Bukankah selain itu semuanya sebagaimana berjalan sebagaimana biasa?

Simaklah media massa, media cetak, atau elektronik; bacalah berita-berita. Bukankah isinya sedikit tak sama dengan hari-hari sebelum Ramadan? Anda masih bisa menikmati gosip selebritas, sinetron percintaan, dan film aksi anarkis. Anda masih mampu membaca kabar, mulai copet yang dikeroyok di pasar sampai korupsi dengan manuver-manuver politikus. Anda masih mampu menyaksikan demo-demo dan tindakan-tindakan aksi anarkis atas nama agama. Anda masih menyaksikan tokoh-tokoh memamerkan keahliannya mengulas dan memutarbalikkan fakta.

Apakah cuma pedagang-pedagang warung yang wajib “menghormati” Ramadan dan mereka yang merusak tatanan malah mampu terus melenggang “menghina” kesucian Ramadan? Atau apakah sejatinya maksud kita dengan penghormatan kepada Ramadan itu?
Bukankah lebih mirip dan cukup kalau penghormatan kita kepada bulan suci itu berupa berpuasa dan beribadah? Mendekatkan diri terhadap Allah Yang Maha Suci? Konon puasa berasal dari bahasa Sanskerta: upavasa. “Upa” artinya dekat dan “vasa/wasa” artinya yang maha agung. Upavasa artinya mendekatkan diri terhadap Yang Maha Agung. Mendekatkan diri terhadap Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya ialah yang paling disukai-Nya. Seluruhnya perintah Allah ialah guna keperluan hamba-Nya. Guna kesempurnaannya selaku hamba sehingga pantas dekat dengan-Nya.

Para wali, kekasih Allah, memulai pendekatannya terhadap Allah dengan cara itu. Dengan mempertunjukkan kehambaan mereka yang tulus dan tuntas terhadap Tuan mereka. Allah Yang Maha Agung. Melakukan segala perintah Tuan ialah prioritas utama hamba sejati. Jadi mereka memulai dari niat dan membersihkan hati.

Puasa ialah bagian perintah Allah yang istimewa. sebagian besar perintah-perintah Allah amat rentan kepada godaan pamer. Salat, misalnya, yang semestinya sebagaimana ibadah-ibadah yang lain dan dilaksanakan semata-mata guna Allah, sering kali pelaksanaannya enggak bisa mengelak dari godaan pamer. Puasa, sebab sifatnya, lebih jauh dari godaan itu. Kecuali, mereka yang memang maniak pamer, hampir sulit dibayangkan orang yang berpuasa pamer terhadap orang lain: mempertunjukkan puasanya.

Orang yang berpuasa semestinya ialah orang yang berkeyakinan kuat bahwa puasanya bisa membikin Tuhannya ridha, atau minimal percaya ada pahala guna puasanya. Jika tak, alangkah ruginya berpuasa cuma guna menahan lapar dan haus.
Seluruhnya amal ibadah dihukum minimal 10 kali lipat dan mampu sampai 700 kali lipat dan seterusnya, kecuali puasa. Puasa merupakan ibadah yang cuma Allah sendiri yang tahu seberapa besar Ia bakal mengganjarnya. “Kullu ‘amali Ibni Adam lahu illash shiyaam,” kata Allah dalam hadis Qudsi, “fainnahu lii wa anaa ajzii bihi.” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a). “Seluruhnya amal insan miliknya, kecuali puasa. Puasa ialah milik-Ku; Saya sendiri yang bakal membalasnya.”

*) Ahmad Mustofa Bisri, Kyai dan Seniman.
Dimuat lima tahun silam di Koran Tempo Media, 26 Agustus 2011.

[Gus Mus] Keistimewaan Puasa Ramadhan

Link

You might like

About the Author: Hakim Abdul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.