Guntur Romli: Definisi dan Urgensi Islam Nusantara untuk Masa Kini

Guntur Romli: Definisi dan Urgensi Islam Nusantara untuk Masa Kini

Setelah menguraikan sejarah di atas, saya ingin memberikan kesimpulan-kesimpulan yang bisa digunakan untuk membuat semacam definisi dan karakter Islam Nusantara.

(Silakan baca rangkaian tulisan saya tentang Islam Nusantara sebelum ini: Akar-akar Historis dan Geografis Islam Nusantara (1), Corak-corak Islam Nusantara: Dari Wali Sanga Sampai Gus Dur (2), Islam Nusantara KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan Soekarno (3).

Pada periode Wali Songo kita menemukan fenomena “Sintesis Mistik” yang merupakan “islamisasi” dalam arti berkolaborasi dengan kepercayaan dan budaya lokal, yang kemudian datang kalangan “Neo-Sufisme” yang orientasi islamisasinya lebih kepada syariat.

Pada awalnya, dakwah Islam menekankan pada aspek kontinuitas antara ajaran Islam dengan budaya lokal. Alih-alih melakukan perubahan radikal terhadap budaya lokal, periode ini malah mengadopsi dan mengafirmasi budaya lokal dalam sistem ajaran. Hal ini didukung dengan ajaran keislaman zaman itu yang sangat lentur, lebih pada aspek subtansi dan jiwa keislaman, serta paham tasawwuf yang disebut wahdatul wujud, al-wujudiyah, hulul yang dirasa sesuai dengan keyakinan lokal yang panteistik.

Meskipun gerakan “Neo-Sufisme” melakukan perubahan pada masa-masa selanjutnya, tetap dalam ritme yang pelan dan tidak radikal, karenanya aliran “Sintesis Mistik” (atau yang tampak pada kalangan abangan) tetap ada sampai sekarang.

Kemunculan golongan “modernis” (Kaum Muda) pada awal abad ke-20 yang melakukan perubahan-perubahan yang kemudian direspon dengan penolakan oleh golongan “Neo-Sufisme” (“tradisionalis”) yang pada era sebelumnya juga melakukan perubahan-perubahan terhadap aliran “sintesis mistik” (“abangan”). Golongan “Neo sufisme” ini di hadapan kalangan “modernis” (kaum muda) disebut sebagai “tradisionalis” (Kaum Tua).

Pada hakikatnya dari dua golongan kita bisa mengambil pelajaran, dari kalangan “tradisionalis” kita bisa belajar harmonisasi dan kontinuitas terhadap kearifan lokal, sementara dari kalangan “modernis” kita bisa mengambil pesan kemajuan dan perubahan yang dijalankan tanpa paksaan dan kekerasan.

Dan kita, menemukan “sintesis” ajaran dari dua kubu ini pada pandangan-pandangan Bung Karno.

Dalam ranah ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Islam Nusantara adalah:

1. Islam yang mengutamakan kesinambungan dan kontinuitas dengan budaya lokal (kita bisa saksikan era Wali Songo).

2. Islam yang mampu menampilkan keragaman-keragaman melalui relasinya dengan anasir-anasir lokal, karena kita telah tahu, Nusantara sangat beragam, baik dari warisan sejarah maupun pengaruh geografis dan kawasan. Batasan di sini adalah “syariat Islam” (sesuai tafsir yang dianggap otoritatif), apabila sesuai dengan syariat akan diadopsi (al-aadah muhakkamah: adat adalah hukum), bila bertentangan ada tiga sikap: (a) toleran (membiarkan dan menghormati asal tidak mengganggu, (b) membentuk subkultur [benteng] dalam masyarakat seperti: pesantren) atau (c) melakukan perubahan secara bertahap dan menjauhi kekerasan.

3. Islam yang melakukan perubahan dan pembaruan (transformasi) dengan mengedepankan perubahan yang terbatas, tidak radikal, ekstrim, menjauhi cara-cara kekerasan dan mencari “jalan tengah” “kompromi” dan “sintesis”.

4. Islam yang bertransformasi sebagai kekuatan kebangsaan dan kemajuan (era Kemerdekaan Indonesia, khususnya ide-ide Bung Karno).

5. Jalur dakwah Islam Nusantara melalui: pendidikan, pelayanan sosial, kesenian dan budaya serta kegiatan-kegiatan kultural lainnya.

6. Karakter Islam Nusantara adalah moderat (tawassuth), tidak ekstrim, dan tidak radikal, selalu mencari “jalan tengah” dan “sintesis”.

7. Karakter Islam Nusantara adalah toleran (tasamuh) dan menjauhi fanatisme (ta’ashshub) dan kekerasan.

Urgensi dan Relevansi Islam Nusantara

Mengapa Islam Nusantara penting untuk konteks saat ini?

Pertama, diperlukan cara pandang dan sikap keislaman yang mampu merawat dan menerima kebhinnekaan yang ada di Indonesia. Negeri ini memiliki 17.000 pulau dan 1200 suku bangsa yang menunjukkan keragaman yang luar biasa. Dari penelusuran apa yang disebut Nusantara, baik dari pengaruh sejarah maupun kawasan (10 karakter dan identitas Nusantara) menunjukkan tidak adanya identitas yang asli dan tunggal. Sehingga keislaman tampak sebagai akumulasi dari pengaruh-pengaruh tersebut dan terekspresi dalam konteks keragaman budaya. Tanpa cara pandang dan sikap keislaman yang bisa merawat, maka negeri ini akan terpecah-belah dan hancur. Ini alasan “survival” alias keberlangsungan dan keselamatan. Artinya Islam Nusantara yang bisa menyelamatkan keutuhan dan masa depan bangsa ini.

Kedua, Islam Nusantara adalah “titik temu” antara golongan “santri” dan golongan “abangan” dalam keberagamaan. Dua golongan ini merupakan kekuatan utama dalam persatuan negeri ini. Maka Islam Nusantara bisa menjadi jembatan yang mempertemukan dua golongan dalam konteks agama. Golongan abangan akan menerima citra keislamannya (yang selama ini mereka sering dituduh kurang Islam) sementara golongan santri akan makin menghormati keragaman budaya. Melalui sejarah kita menyaksikan persatuan dua golongan ini sangat berpengaruh menyelamatkan persatuan bangsa ini di saat-saat kritis, misalnya Kemerdekaan Indonsia, Konsituante, Pancasila Era Orde Baru dan Sidang MPR 1999-2000 dalam soal dasar dan bentuk negara. Maka tidak heran kalau Presiden Joko Widodo yang berasal dari kalangan abangan langsung menyambut ide Islam Nusantara ini.

Ketiga, membendung kelompok dan gerakan yang ingin memaksakan kehendak di Indonesia, baik dari jalur politik (“islamis”), ormas dan kelompok-kelompok yang ingin menyeragamkan identitas Nusantara menjadi satu agama menurut pemahaman mereka sendiri. Kelompok-kelompok ini sering mengatasnamakan “islamisasi” padahal mereka melakukan “arabisasi”, karena sasaran gerakan mereka adalah kelompok-kelompok muslim juga, bagaimana mungkin ada islamisasi terhadap islam, maka sebenarnya gejala ini tidak lebih dari upaya arabisasi.

Keempat, membendung pengaruh-pengaruh konflik dari luar Indonesia, khususnya dari Timur Tengah, di mana terjadi persaingan kuat antara kubu-kubu, misalnya Saudi yang Wahhabi dan Iran yang Syiah (kasus Suriah dan Yaman) yang sebenarnya murni politik, namun menyeret agama, sehingga yang berperang adalah dua aliran keagamaan (Sunni vs Syiah). Kubu-kubu yang berkonflik di Timur Tengah mencari pengikut di luar kawasan mereka, termasuk di Indonesia. Konflik di Timur Tengah sangat berpengaruh terhadap muslim di Indonesia. Islam Nusantara menegaskan tidak terlibat dan tidak mau melibatkan diri dengan perang saudara antar muslim di Timur Tengah.

Kelima, diperlukannya suatu model keislaman yang khas Indonesia yang bisa menjadi rujukan dunia internasional, khususnya Dunia Islam dalam pola relasi antara Islam dengan demokrasi, HAM, keragaman budaya. Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia telah dipuji karena sukses melakukan reformasi dan demokratisasi dalam proses damai dan terus membaik dibandingkan Dunia Islam lainnya, seperti Dunia Arab (Mesir, Libya, Suriah, Yaman, Iraq yang terus konflik, kegagalan reformasi dan demokrasi di Negara-Negara Arab Teluk) atau Dunia Islam lainnya, misalnya Afghanistan, Pakistan, Somalia, Nigeria.

Keenam, upaya instrospeksi (muhasabah) bagi kalangan santri/putihan. Bagi kelompok “modernis” diperlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk mengapresiasi budaya dan kearifan lokal, kritik dari kelompok ini datang dari dua tokohnya, misalnya Kuntowijowo dan Moeslim Abdurrahman yang meminta Muhammadiyah lebih peduli pada budaya dan kearifan lokal. Dalam kalangan “tradisionalis” yang sering dicitrakan menerima budaya dan kearifan lokal namun ternyata tidak sedikit kubu puritannya juga. Tidak sedikit kyai dan ulama NU yang masih mencurigai budaya, tradisi dan seni lokal (rakyat) dengan alasan bertentangan dengan akidah dan moralitas agama maupun karena persaingan dalam politik identitas (misalnya menganggap “seni rakyat” adalah identitas abangan).

Islam Nusantara Atau Islam Indonesia?

Pada dasarnya dua istilah ini, “Islam Nusantara” dan “Islam Indonesia” tidak perlu dipertentangkan. Islam Nusantara memang mengesankan romantisme masa lalu, hal ini lumrah karena yang mengusungnya adalah kalangan tradisionalis yang tetap ingin melihat hal-hal yang positif dari masa lalu (al-muhafadzah ala-l qadimi-s shalih).

Sejarah Wali Sanga menjadi panduan bagi metode dakwah yang pernah sukses yang membuat gelombang Islamisasi di Nusantara melalui jalur yang damai, akomodatif, dan toleran, yang berbeda dari wilayah-wilayah lain di mana Islam datang melalui rangkaian penaklukkan meliter.

Istilah Nusantara adalah istilah budaya, bukan istilah yang cenderung “resmi” seperti “Indonesia”, ia merupakan istilah yang melekat dalam budaya dan terus hidup di tengah masyarakat, maka kalangan yang mengusung hal ini merupakan gerakan kultural bukan pemerintahan.

Sebagai gerakan kultural, memang lebih tepat menggunakan istilah yang melekat dengan budaya dan bukan istilah resmi pemerintahan.

Maka, gerakan Islam Nusantara bisa dipandang sebagai gerakan yang muncul di tengah masyarakat dan melalui budaya, bukan sebagai proyek pemerintahan dan kekuasaan, karena NU sudah ada dan eksis sebelum pemerintah Indonesia ada, dan NU pula yang ikut melahirkan Republik Indonesia ini.

Islam Nusantara juga membawa imajinasi kita pada keberagaman, perbedaan dan kemajemukan. Pada bahasan sebelum ini telah dijelaskan bahwa Nusantara adalah kebhinnekaan yang tidak mengenal identitas yang tunggal.

Penduduk Nusantara mewarisi paling tidak 10 karakter Nusantara yang beragam. Islam Nusantara adalah Islam yang multikultural seperti yang kita saksikan di bumi Nusantara, sementara Indonesia “menuntut” imajinasi kita pada persatuan.

Padahal kita baru bisa bersatu, kalau sudah mengakui kita ini berbeda dan majemuk, serta memiliki kearifan untuk menerima segala hal kemajemukan itu, barulah kita akan bisa bersatu. Kita bisa bersatu dalam identitas nasional, namun yang tak boleh dinafikan: pemahaman dan ekspresi keislaman tetap lah majemuk dan beragam.

Islam Nusantara tidak hanya mengenal ikatan nasional saja, istilah Nusantara melintasi yang disebut “Nasionalisme Indonesia”, karena Nusantara merujuk ke luar teritori Republik Indonesia saat ini. Ia merujuk ke Semenanjung Malaysia, seluruh Borneo (Kalimantan), Papua, juga tradisi yang disebut Melayu. “Islam Nusantara” adalah pengalaman keislaman seorang manusia dalam konteks Nusantara. “Bangsa Nusantara” lebih luas dari bangsa Indonesia dan Malaysia, serta Thailand saat ini.

KH Ahmad Shiddiq yang pernah menjabat Rais Aam PBNU yang sering dirujuk oleh penganjur Islam Nusantara pernah mengenalkan tiga model ukhuwah (persaudaraan): persaudaraan keislaman (al-ukhuwwah al-islamiyah), persaudaraan kebangsaan (al-ukhuwwah al-wathaniyah) dan persaudaraan kemanusiaan (al-ukhuwwah al-basyariyah).

(Bersambung)

Mohamad Guntur Romli


Source by Ahmad Zaini

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :