Gontor, Kampret dan Kalajengking

Gontor, Kampret dan Kalajengking

Dishare dari Fb Helmi Hidayat

Sekali lagi aku mohon maaf kalau di ruang terbuka ini, aku lagi-lagi memuji Pondok Modern Gontor, sekolah yang mengajarkan aku tidak sedikit sekali logika dan rasionalitas. Tidak sedikit santri enggak menyadari bahwa semenjak dini sekali mereka sejatinya diajarkan berpikir amat rasional di pondok ini. Nasihat kyai, teladan guru, sistem pendidikan, sampai materi pelajaran yang dipilih, semuanya ialah refleksi rasionalisme dan pikiran logis yang semestinya mereka terapkan.

Mari cermati contoh ini. Dulu, pada 1978, saat duduk di level kelas II tsanawiyah di Gontor, aku tak tahu mengapa sekolah ini mengajarkan aku cerita soal kampret. Sosok binatang ini, mulai dari nama, kebiasaan, hobby, sampai karakter biologisnya dijelaskan secara detil dalam bahasa Arab di buku ”Al-Qiraat Al-Rasyidah”. Judul tulisan itu ”Al-Khuffasy”, artinya kampret. Kami para siswa selevel tsanawiyah ketika itu tidak cuma wajib paham, tapi bahkan wajib menghafal cerita kampret ini dalam bahasa Arab yang fasih.

Sekarang, sesudah 40 tahun lalu diajarkan cerita kampret itu, aku baru menangkap dengan lebih jernih esensi cerita kampret itu. Di paragraf kedua artikel ”al-khuffasy” ternyata ditulis bahwa kampret tak sama dengan burung. Kalau burung bertelur, kampret melahirkan; burung enggak menyusui, kampret menyusui; burung terbang siang, kampret terbang malam; burung hinggap di pohon, kampret bergelantung. Apa maksud cerita ini?

Lewat cerita ini ternyata para kyai dan guru kami yang mulia secara amat halus mengajarkan kami supaya pandai berpikir logis, rasional, dengan cara seksama dan pandai membedakan antara burung dan kampret!

Pesan tersembunyi dari pelajaran itu ialah supaya kami enggak meniru kampret. Binatang ini tidak burung, cuma seakan-akan burung. Binatang ini tidak serigala, cuma wajahnya yang mirip serigala makanya disebut ”al-tsa’labu al-thaair” alias seriigala terbang. Kampret seakan bermata tajam, padahal ia buta, takut pada cahaya, dan senantiasa menyaksikan Duniya dengan pikiran terbalik sebab senantiasa bergelantungan.

Loading...
loading...

Aku tentu enggak mau sebagai kampret!

Saat Presiden Joko Widodo menerangkan soal kalajengking, misalnya, lewat video yang beredar aku tahu bahwa objek yang sejatinya hendak ditekankan oleh presiden ketika itu ialah betapa mahalnya waktu, tidak kalajengking itu sendiri. ”Kalau mampu kalajengking amat mahal, ada yang lebih mahal dari mampu kalajengking, yaitu waktu!” Itu yang ditekankan oleh presiden.

Dengan kata lain, kalau bangsa ini mau maju, mereka enggak boleh menyia-nyiakan waktu. Seluruh wajib dikerjakan dengan cepat. Proses birokrasi panjang wajib diperpendek, prosedur melingkar wajib dipotong, supaya enggak ada suap, supaya enggak ada pat-gulipat di antara waktu yang panjang dan birokrasi melingkar itu. Visioner tidak?

Tetapi, pikiran Joko Widodo yang visioner ini cuma mampu ditangkap dengan pikiran visioner pun, tidak dengan logika kampret. Logika kampret alias cenderung menyaksikan Duniya secara terbalik cuma membikin orang terbalik pun membaca pikiran presiden, lalu salah mengambil kesimpulan. Mereka persis masarakat Eropa di abad pertengahan, yang menyaksikan bumi dengan logika terbalik lalu terbalik pula menyimpulkan bentuk bumi. Bumi bulat mereka simpulkan datar. Joko Widodo mengajak kita berpikir soal menghargai waktu, eh malah mampu kalajengking yang mereka garis-bawahi, lalu bersikap nyinyir pada sang presiden.

Aku enggak mau sebagai kampret!

Terima kasih Gontor, 40 tahun dari sekarang engkau sudah mengajari saya bersikap bagaikan Elang, kendati terbang tinggi tapi mataku tetap menatap tajam. Saya resapi dalam-dalam pelajaran ”al-khuffasy” yang engkau ajarkan padaku, supaya di tengah masarakat saya enggak sebagai kampret di siang benderang.

By panglima perang

Gontor, Kampret dan Kalajengking

Loading...

Link

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :