Geliat Perpustakaan pada Masa Dinasti Abbasiyah

Kitab Suci dan Kisah Penggandrung Buku (Bag-1)

Geliat Perpustakaan pada Masa Dinasti Abbasiyah


Bagian persyaratan penting untuk membangun peradaban ialah buku. Tanpa adanya buku, suatu peradaban akan sulit terbangun. Karena dari buku-buku itulah segala pengetahuan ditulis oleh para ahli di bidangnya masing-masing. Pejabat dan warga sanggup mengaksesnya untuk kepentingan yang bermacam-macam mulai dari hukum, sosial, teknologi dan lain sebagainya. Sehingga tatanan warga yang maju dan beradab sanggup terwujud.

Dalam hal ini, Dinasti Abbasiyah sanggup dijadikan contoh. Pada masa kejayaanya, Islam jadi mercusuar pengetahuan yang memberikan manfaat besar tidak cuma untuk ummat Islam saja tetapi juga untuk warga agama lain yang bersinggungan dengan Islam. melalui keputusan strategi pemerintah Dinasti Abbasiyah, para ilmuwan diberi sokongan biaya yang besar untuk kepentingan pemeriksaan, penerjemahan, dan aktifitas ilmiah lain. Hasil dari aktifitas tersebut lantas dibukukan supaya sanggup digunakan oleh warga.

Buku-buku tersebut sanggup diakses dengan mudah. Karena masjid, selain jadi tempat untuk melakukan salat berjamaah, masjid pada masa Dinasti Abbasiyah juga berfungsi selaku pusat pendidikan. Di dalamnya Ada beberapa buku yang dikumpulkan oleh pengurus masjid. Karenanya, masjid-masjid pada masa itu mempunyai khazanah buku-buku keagamaan yang terlalu kaya. Salah seorang donatur buku tersebut ialah sejarawan terkenal ialah al-Khatib al-Baghdadi (1002-1071). Dia menyerahkan buku-bukunya selaku wakaf untuk ummat Islam. Cuma saja buku-buku itu disimpan di rumah seorang kawannya.

Para bangsawan Dinasti Abbasiyah juga membangun perpustakaan dengan dibantu oleh Pebisnis kaya supaya sanggup dipakai selaku lembaga-lembaga kajian yang terbuka untuk umum, menyimpan sejumlah koleksi buku logika, filsafat, astronomi dan bidang ilmu lainnya. Para pelajar dan para ahli sanggup mengakses buku-buku yang mereka inginkan dengan mudah.

Bukan cuma pejabat dan Pebisnis kaya saja yang mau membangun perpustakaan. Warga pun merasa keberadaan perpustakaan terlalu penting. Sehingga pada pertengahan abad kesepuluh, kota Mosul mempunyai perpustakaan yang dibangun oleh warga setempat. Di dalam perpustakaan itu para pelajar yang mengunjunginya sanggup memperoleh kertas dan alat tulis lain secara gratis.

Di Syiraz, perpustakaan (khizanat al-kutub) dibangun oleh penguasa Buwaihi Adud ad-Daulah (977-982) yang seluruh buku-bukunya disusun di atas lemari-lemari, didaftar dalam katalog, dan diatur dengan baik oleh staf administratur yang berjaga secara bergiliran. Pada abad yang sama, kota Bashrah mempunyai sebuah perpustakaan yang di dalamnya para sarjana bekerja dan memperoleh upah dari pendiri perpustakaan.

Dan di kota Rayy Ada sebuah tempat yang disebut “Rumah Buku”. Dikatakan bahwa tempat itu menyimpan ribuan manuskrip yang diangkut oleh lebih dari 4 ratus ekor unta. Semua naskah-naskah itu lantas didaftar dalam sepuluh jilid katalog.

Perpustaakan-perpustakaan tersebut dipakai selaku tempat-tempat untuk dialog dan debat ilmiah. Yaqut Al-Hamawi salah seorang ilmuwan ahli geografi menghabiskan waktu selama 3 tahun untuk mengumpulkan bahan-bahan yang ia perlukan untuk mecatat kamus geografinya.

Bahan-bahan itu ia dapatkan dari perpustakaan-perpustakaan di daerah Marwa dan Kharizm. Ia menghentikan penulisan bukunya pada tahun 1220 tatkala Tentara Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan mulai menyerbu negeri-negeri muslim dan membumihanguskan semua perpustakaan itu.

Kecuali perpustakaan, gambaran mengenai hal budaya baca sanggup juga dilihat dari banyaknya toko buku. Toko-toko itu mulai muncul semenjak awal kekhalifahan Abbasiyah. Al-Ya’qubi meriwayatkan bahwa pada masanya (kisaran 891 M) ibukota negara diramaikan oleh lebih dari seratus toko buku yang berderet di 1 ruas jalan yang sama. Sebagian toko tersebut tidak lebih besar dari ruangan masjid.

Tetapi ada juga toko-toko yang berukuran terlalu besar. Bangunannya cukup besar untuk pusat penjualan sekaligus selaku pusat aktivitas para ahli dan penyalin naskah. Para penjual buku itu sendiri beberapa yang berprofesi selaku penulis kaligrafi, penyalin dan ahli sastra yang menjadikan toko mereka tidak cuma selaku tempat penjualan buku tetapi juga selaku pusat aktifitas ilmiah.

Yaqut Al-Hamawi memulai karirnya di sana selaku pegawai di sebuah toko buku. Al-Nadim  yang memperoleh julukan al-Warraq (lembaran kertas) menjalani karirnya selaku pustakawan dan penjual buku yang lantas mecatat sebuah karya besar berjudul Al-Fihrist yang diakui oleh kalangan akademisi dan ilmuwan selaku karya yang terlalu baik.

Demikianlah gambaran singkat Soal perpustakaan pada masa Dinasti Abbasiyah. Kalau ummat Islam sekarang ingin membangkitkan lagi peradaban, salah satau syarat Intinya ialah kesadaran dalam dunia literasi. Dengan kesadaran tersebut, masyakarat mesti menaikkan kualitas literasinya. Seperti menaikkan daya baca semenjak usia dini. Tanpa itu, kebangkitan Islam cuma akan jadi khayalan belaka.

Wallahu A’lam.

IslamiDotCo by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.