Ganti Presiden, Jebakan Demokrasi Ala Kubu Radikal

Ganti Presiden, Jebakan Demokrasi Ala Kelompok Radikal

Ganti Presiden, Jebakan Demokrasi Ala Kubu Radikal


Ganti Presiden, Jebakan Demokrasi Ala Kubu Radikal

YOGYAKARTA – Pasca Orde Baru, Indonesia masuk masa transisi dari otoritarian ke pemerintahan demokratis. Tapi sayang, euforia reformasi malah berujung pada demokrasi yang kebablasan. Ruang kebebasan dibuka amat lebar tanpa kontrol, yang bahkan menghasilkan kebebasan tanpa keadaban. Ini terang menghasilkan praktik demokrasi yang berkualitas amat rendah.

Baca: Dubes Indonesia untuk Suriah Ungkap Fakta Perang Suriah dan Bashar Assad

Pada gilirannya, demokrasi yang berlebihan longgar ini bahkan memberi Peluang untuk kelompok-kelompok radikal intoleran, baik relijius maupun sekular, untuk tampil dan unjuk power. Seperti waktu ini, kita sanggup saksikan bagaimana ormas-ormas anti-NKRI maupun gerakan-gerakan makar punya nyali berkampanye secara terang-terangan. Bahkan, mereka sanggup menghimpun massa yang besar untuk menekan siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka.

Ini yang tampaknya disinyalir oleh Graham Fuller selaku “jebakan demokrasi”. Fuller -yang pernah jadi pejabat senior CIA dan peneliti lembaga riset RAND Corporation di Amerika- dalam bukunya yang terkenal “Democracy Trap: The Perils of The Post-Cold War World” mengkritik pandangan Francis Fukuyama yang melalaikan beberapa kekurangan dalam proyek demokratisasi. Menurut Fuller, tuntutan kebebasan yang berlebihan luas dalam berdemokrasi bahkan akan menggiring masarakat ke libertinisme, yaitu keadaan lenyapnya batasan-batasan nilai. Dampak dari pembusukan nilai ini pada gilirannya akan meruntuhkan disiplin sosial dan menciptakan krisis identitas nasional, yang sanggup berujung pada perpecahan dan kekacauan sosial.

Baca: Usaha CIA untuk Melemahkan Joko Widodo (Part 1)

Loading...
loading...

Suriah mungkin sanggup jadi contoh korban “jebakan demokrasi” yang berujung pada kehancuran negeri itu. Diawali dengan unjuk rasa menuntut demokratisasi, lalu menuntut pelengseran Bashar Asad, tetapi lantas seketika berbelok jadi isu penegakan khilafah dan aksi anarkis bersenjata.

Baca: Usaha CIA untuk Melemahkan Joko Widodo (Part 2)

Di sini ada kemiripan pola dengan fenomena di tanah air. Diawali dengan unjuk rasa revolusi NKRI ala 212  bertema “aksi bela Islam”, lantas berlanjut ke gerakan bertagar “ganti presiden” yang dimotori para pegiat khilafah. Ini mesti diwaspadai dan diantisipasi, sebelum negeri tercinta ini tersuriahisasi. Sebab, mereka itu sebenarnya cuma menggunakan keran demokrasi yang dibuka berlebihan lebar, untuk memuluskan agenda mereka.

Baca: Denny Siregar: Kubu Khilafah Ingin Suriahkan Indonesia

Oleh karena itu, Fuller mencoba untuk Memperingatkan kita supaya berhati-hati dalam berdemokrasi. Sehingga, kita tidak terjatuh ke dalam “jebakan demokrasi”, yang kerap dimainkan oleh kelompok-kelompok yang sebenarnya anti-demokrasi tetapi berteriak dengan jubah dan atas nama demokrasi. Dan sayangnya, mereka ini tidak jarang pula dibela oleh para aktivis demokrasi. (ARN)

Penulis: M. Anis, Guru besar Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.


Source by Samsul Anwar

loading...

You might like

About the Author: Samsul Anwar

KOLOM KOMENTAR ANDA :