Tasawuf Islam

Fitnah Terhadap Imam As-Syafi’i Terkait Sufi / Tasawuf

Dari buku ini jelas-jelas terbukti bahwa beliau mencela itu ditujukan hanya kepada oknum sufi dan bukan sufi yang sesungguhnya.

Iklan

BENARKAH IMAM AS-SYAFI’I MENCELA SUFI DAN TASAWUF? Di kalangan para penganut Faham Wahabi terutama Salafi-nya, selalu ngoceh di mana-mana. Di radio, majalah, dan internet, bahwa menurut mereka, Imam As-Syafi’i mencela sufi dan tasawuf (Ilmu tasawuf).

Benarkah Imam Syafi’i berbuat demikain? Atau itu cuma sekedar salah paham akibat belajar ilmu dari sumber yang salah? Atau mungkin bahkan hal itu sengaja dilontarkan untuk memfitnah sufi dan ilmu tasawuf? Wallohu a’lam.

Di sini akan disajikan fakta-fakta mengenmai permasalahan ini. Semoga dengan FAKTA ini, tidak ada lagi yang salah faham mengenai maksud Imam As-Syafi’i yang tercatat dalam kitab Manaqib Al Imam as-Syafi’i karya Imam Baihaqi.

Dari buku ini jelas-jelas terbukti bahwa beliau mencela itu ditujukan hanya kepada oknum sufi dan bukan sufi yang sesungguhnya. Justru Imam As-Syafi’i juga terbukti memuji kepada para sufi dan tasawuf. Begitlah fakta yang sebenarnya.

Memang di beberapa tempat, Imam As-Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi dan tasawuf. Dan yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al-Imam As-Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

Di dalam kitab itu, Imam As-Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Imam A- Syafi’i juga menyatakan: ”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas (istimewa).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian. Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada sufi dan tasawuf. Namun tidak benar-benar menjalankan ajaran ilmu tasawwuf tersebut.

Penjelasan Imam Al-Baihaqi Apa yang Dimaksud Imam As-Syafi’i Terkait Sufi dan Tasawuf

Dalam hal ini, Imam Al-Baihaqi menjelaskan, ”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya. Dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim. Ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka. Dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al-Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/208)

Jelas, dari penjelasan Imam Al-Baihaqi di atas, yang dicela Imam As Syafi’i adalah para sufi yang hanya sebatas pengakuan (sufi gadungan). Yaitu mereka yang tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya.

Imam As-Syafi’i juga menyatakan: ”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” (Al Manaqib Al-Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut. ”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Kemudian Imam A- Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As-Syafi’i pernah mengatakan, ”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun. Aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini, ”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu”. (maksudnya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi. Maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

Jelas dalam bukunya tersebut,  Imam Al-Baihaqi memahami bahwa Imam As-Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As-Syafi’i mengeluarkan pernyataan (yang bernada mencela) di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi. Namun Imam As-Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As-Syafi’i li Al Imam Al-Baihaqi, 2/207)

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As-Syafi’i yang menyebutkan bahwa beliau mengambil dari para Sufi dua hal. Atau tiga hal dalam periwayatan yang lain. Sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum Sufi. ”Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmah dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian Imam As-Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.” (lihat, Madarij As Salikin, 3/129)

Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi dan Tasawuf

Bahkan di satu kesempatan, Imam As-Syafi’i memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan, ”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As-Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)

Walhasil, Imam As-Syafi’i disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al-Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya sebatas sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As-Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.

Dengan demikian, pernyataan yang menyebutkan bahwa Imam As-Syafi’i membenci total para sufi tidak sesuai dengan fakta sejarah biografinya, juga tidak sesuai dengan pemahaman para ulama mu’tabar dalam memahami perkataan Imam As-Syafi’i.

Oleh Imam Nawawi

Rujukan:

1. Manaqib Al Imam As Syafi’i, karya Al Baihaqi, t. As Sayyid Ahmad Shaqr, cet.Dar At Turats Kairo, th.1390 H.

2. Madarij As Salikin, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cet. Al Mathba’ah As Sunnah Al Muhamadiyah, th. 1375 H.

3. Adab As Syafi’I wa Manaqibuhu, karya Ibnu Abi Hatim Ar Razi, cet. Dar Al Kutub Al Ilmiyah, th. 1424 H.

IklanJasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

42 Comments

  1. sama kek wahabi…ngakunya ahlu sunnah…tapinya gadungan…wkwkwkwkwk :mrgreen:

    untunglah fitnah keji kaum jidat item bisa dibantah… :mrgreen:

    ngajinya sih…cuma modal terjemahan wkwkwkw :mrgreen:

  2. Al faqir, perbaikilah akhlaq anda, jangan hancurkan amal ibadah yg anda kerjakan menjadi hancur hanya krn anda membuat fitnah.

  3. hadeehhh… kog yang dinukil daripada Imam Syafi’i cuma bagian mencela kaum Shufi yang batil saja, manakala bagian memuji kaum Shufi yang benar dipotong terus?

    IMAM ABU HANIFAH pendiri mazhab Hanafi
    Nu’man bin Tsabit ra adalah murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah iaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

    IMAM MALIKI pendiri mazhab Maliki
    Malik bin Anas ra yang juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :
    “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, vol. 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

    IMAM SYAFI’I pendiri mazhab Syafi’i.
    Ulama besar (Muhammad bin Idris, 150-205 H) berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:
    1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
    2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
    3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
    (Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, vol. 1, hal. 341)

    IMAM AHMAD BIN HANBAL pendiri mazhab Hanbali
    Ulama besar ini (164-241 H ) berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, vol. 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)

    1. Semua aspek dari agama ini telah difitnah wahabi. mulai dari keimanan (aqidaha), Keislaman (Syari’at), dan keihsanan (tasawuf). Tapi mereka tidak merasa kalau telah menyebarkan fitnah, tahunya mereka telah mendakwahkan kenemaran. Sudah taqdirnya seperti itu, kan?

  4. Buat kawan2 yg membeci tasawuf. Dengar kan radio yg lagi online di ummatipress.com. Kalu g ngerti bahasa Jawa cari penerjemah : 🙂

    Radio Madinah FM 99.8 Malang Lagi membahas tentang Tasawuf …
    Dan buat pembeci tasawuf ” CARI FAKTANYA JANGAN CUMA DARI GOSIP

    1. @ibn abdul chair
      Baik kalau itu jawaban ente, Seperti ente pernah bilang, Pernah tahu gak tentang wahabi ? ya gak.
      Nah sekarang, Sepanjang pengetahuan ente, apakah ente pernah tahu apa yang dipelajari Tasawuf ??

    2. ibn abdul chair,
      silahkan dijawab pertanyaan A’a Ucep, apa yg pernah antum tahu tentang hal2 yg dipelajari dalam ilmu tasawuf? Pasti nggak tahu deh, kalau tahu tentunya akan tobat karena telah memfitnah ilmu tasawuf.

      Saya kasih saran, cari buku tasawuf dulu dan bacalah. tapi ingat jangan buku tentang tasawuf yg versi Wahabi, sebab di buku versi Wahabi tdk akan antum temukan apa2 yg dipelajari dalam ilmu tasawuf. Kalau yg versi Wahabi isinya hampir semuanyafitnah terhadap ilmu tasawuf.

    3. Mas ibn abdul chair,

      Silahkan anda dengarkan langsung di radio yg online di UmmatiPress setiap jam 8 sampai 10 pagi, di sini dibahas tentang apa yang dipelajari dalam ilmu tasawuf oleh Kiai Imron Jamil. Insyaallah nanti akan tahu bahwa anda telah menjadi korban hasutan tentang ilmu tasawuf, sehingga anda ikut2an ngomong seperti para tukang fitnah tsb.

      Atau baca aja artikel di atas yg membuktikan bagaimana Imam syafi’i difitnah telah membenci tasawuf, padahal sebenarnya tidak demikian. Tulisan artikel di atas sangat bagus untuk anda baca, sebab itu adalah tulisan pembuktian yg ilmiyyah.

  5. Pelajaran yang ada dalam ilmu tasawuf sangat berguna untuk perbaikan hati. Agar hati yg berpenyakit jadi sembuh,.. dll.

  6. Untuk membentuk hati yg hanif pd kebenaran dan bisa berakhlaqul karimah sy belajar dari para ulama salaf yaitu tazkiyatunufus, jadi sy nggak perlu belajar tasawuf lagi

    1. Nah, Tazkiyatun Nufus itulah yg dipelajari dalam Tasawuf, mas. Lalu kenapa kalian rara Wahabiyyin mengatakannya sesat dan syirik?

      Padahal kelebihan ilmu tasawuf ala Aswaja lebih bisa dilihat dari budi pekerti para Ulamanya. Yang saya tahu ulama wahabi sangat kasar, bisa dilihat dari karya2 nya. Sedangkan Ulama Aswaja sangat halus budi pekertinya, bisa dilihat karya2 tulisnya.

      Coba bandingkan antara buku2 karya Sayyid Muhammad bi Allawy Al maliki, dengan buku2nya ulama wahabi sezamannya, jauh bedanya. Karya2 Ulama Wahabio sangat kasar dan tidak berakhlak sebagaimna akhlak Ulama Aswaja.

      Syaikh Abdullah bin Mani’ dalam bukunya: Khiwar M;’al Maliki” itu sangat kasar tidak pantas disebut ulama, lebih layak disebut preman pasar. Sedanggkan buku2 karya Sayyid Nuhammad bin Allawy almaliki sangat santun, begitulah ulma yg sudah bisa mempraktekkan ilimu tasawuf, IHSAN-nya sangat tampak dalam pribadinya yg agung.

      1. @ Bma Aryati K

        Kan itu sudah banyak Hadist Rasul yng sering di baca teng Negri Syam , Yaman , cuma yg satu ini yang di timur …iini Najd asal musal Ibnu Abdl WAHAB. ini yang desebut Kasar itu and Yaman mreka Lembut dan santun sehingga sampai ke negeri kita melalui (WaliSongo) kemungkinan begitu kiranya Trimks

  7. @ibn abdul chair
    Tasawuf adalah cabang ilmu dalam agama islam, yang membahas tentang cara dan aplikasi nya dalam pembersihan hati salah satunya adalah “tazkiyatunufus (pembersihan hati)” yang ente pelajari.
    Penyakit Hati itu ada 3 selain Syirik yang Utama yaitu : 1. Iri, 2. Dengki dan 3. Riya.
    Syirik adalah hal yang utama harus dibersihkan, karena ini menyangkut dengan Iman. Sedangkan penyakit hati untuk mencapai akhlak Mulia ada 3 (Iri, dengki dan Riya), ketiganya saling berhubungan, jika satu kita perbuat, maka dua dan tiga akan diperoleh.

    Untuk menangkal ketiga penyakit hati ada 3 yang diajarkan dalam syariat Islam : 1. Sabar, 2. Tawakal dan 3. Tawadhu.

    Penyakit2 itulah yang dipelajari dalam dunia Tasawuf, dari penyakit hati kemudian disembuhkan dan cara penanganannya sehingga dihasilkan Akhlakul Karimah menuju Insan Kamil (Seutuhnya menjadi manusia sebenarnya).

    Kalau ente koment diatas : “Al faqir, perbaikilah akhlaq anda, jangan hancurkan amal ibadah yg anda kerjakan menjadi hancur hanya krn anda membuat fitnah.”
    Berarti ente sudah bertasawuf, karena mengingatkan dengan SABAR kepada saudara muslim.
    Dari sabar ente mesti tingkatkan lagi menuju Tawakal.

    Demikian @ibn abdul chair, sekilas aja dulu.

  8. perbedaan tasawuf dulu dijaman imam syafi’i dan hasan al basri

    cenderung kepada ke zuhudan

    bukan dzikir dzikir yang tidak dalam sunnah..

    1. @ibnu jaelani
      Mungkin ente kudu banyak belajar tentang ilmu2 dalam Agama, jadi gak asal tuduh dan asal2an dalam beragama, bagaimana mau ikuti al Qur’an dan sunnah kalau ilmu yang ada didalam Agama nya sendiri tidak diketahui.
      Ente kudu tau ilmu2 sehingga tau apa yang dipelajari dalam suatu ilmu.

      Seperti Zuhud apa arti sebenarnya. Dzikir apa arti sebenarnya, terus bagaimana menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    2. Kalau lihat orang zuhud pasti gak masalah buat ibnu jailani, tapi kalau dengar zikir-zikir bisa jadi masalah buat dia, bisa kepanasan dai, kwk kwk kwk ….

      ( emangnya syetan kok kepanasan dengar zikir 😀 )

  9. Mungkin maksud ibnu jaelani begini : org tasawuf zaman ini berdzikir dengan “Allah…Allah” saja atau dhomir-nya saja “hu…hu…hu..”. Sebab mrk (org tasawuf ini)berpendapat kl dzikir dengan lafdz “La ilaha illa Allah” adalah dzikir-nya org awam. Begitu ya ibnu Jaelani?. Nah dzikir model ini yg oleh ibnu jaelani bilang tidak ada sunnah-nya.

  10. @ibn abdul chair dan @ibnu Jaelani
    “Sebutlah Arahman dan Asma ul Husna, dikala kamu berdiri, berbaring … dst”
    Kata dzikir “Allah atau ditambahkan kata Nida “Ya” jadi “Ya Allah” adalah termasuk dalam Asma ul Husna, jadi apa salahnya ?
    Kata “Hu” adalah berarti “Dia” dengan maksud Dia Allah, jadi apa salahnya juga ?

    Lafdz dzikir “La ilaha illa Allah” adalah dzikir-nya org awam, itu adalah pengamatan yang salah.
    Semua yang awam, yang sudah belajar maupun sudah mumpuni, wajib mendawamkan kalimat tauhid “La Ila ha Ilallah”, baik sedang berdiri, tidur, duduk, berjalan maupun dalam keadaan apapun kita semua muslim “Wajib Hukumnya mendawamkannya”. Begitu juga yang ahli dzikir dalam dunia Tasawuf maupun Thareqat.

    Ingat Maut bisa dimana saja, jadi dawamkan dzikir “La Ila Ha Ilallah” disetiap keadaan (kecuali di WC). Karena Malaikat Izrail kapan pun bisa datang tanpa diduga-duga.

  11. @ibn abdul chair
    Coba kita lihat ya hadist2 yang menunjukan koment ente atau ente memang gak mau tau tentang itu. Tapi mudah2an ente belum tahu tentang hal tersebut, sehingga ente bisa tahu.

    Lihat Hadist2 nya :
    Rasulullah bersabda : “Hari kiamat tak akan datang sebelum “Allah… Allah…..” tak lagi diucapkan diatas muka bumi”.
    Menurut sanad lain beliau bersabda : “Hari kiamat tak akan datang pada siapapun yang mengucapkan “Allah… Allah….”.
    (HR. Muslim dalam Shahih nya, juga Imam muslim dalam Kitab al Imam Bab : 66 yang berjudul : Dzahab al Iman Akhir al Zaman (Hilangnya Iman pada akhir zaman)”.

    Juga ente bisa lihat pada ayat2 al Qur’an, sesunggunya Allah menyuruh kita memperbanyaknya :
    1. Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (QS Al Muzammil : 8)
    2. Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang Telah mereka kerjakan. (Al A’raf : 180)

    Ane rasa cukup kuat untuk mengatakan ada dalil nya.

    Bagaimana mas @ibn abdul chair.

    1. Nah… gemana sekareang pada tahu kan? Ternyata ada dalilnya, katanya Wahabi ahli dalil, mana buktinya kok yg sederhana begitu aja gak tahu? Apa memang gak mau tahu tentang dalil tsb gara2 kami aswaja suka zikir: Allah… Allah… Allah….?

      Hayo ngomong lagi kan Ibn A. Chair….

      1. @Andi,
        Wahabi bukan “Ahli Dalil” tapi Utak-atik dalil dan mempelesetkan dalil supaya sesuai dengan faham wahabi yg bertauhid tiga (Trinitas). kalau orang yg cukup kuat basis agamanya(Aswaja) tidak mungkin akan tertipu kecuali orang yg awam termasuk orang2 kampus sekalipun, karena virus wahabi juga banyak menyebar di-kampus2 dan di-sekolah2 maka hati2lah dengan anak dan keluarga anda jangan sampai terjangkiti virus wahabi.

  12. @ibn abdul chair
    Imam Nawawi dalam syarahnya : Syarh Shahih Muslim, Dar al Qalam-Bairut, Jil.1 dan 2.
    “Ketahuilah bahwa perawi hadist ini tidak disebutkan namanya dalam dzikir nama Allah yang Mahasuci bagi kedua versi dan demikianlah yang tercantum dalam semua karya yang dapat dipercaya”. dilanjutkan : “Keshahihan zikir itu untuk menetapkan bahwa dzikir dengan kata “Allah… Allah…” adalah sunnah Mat’surah atau amalan yang diwariskan dari Nabi saw dan para shahabat”. Juga dikatakan penegasan Ibnu Taimiyah bahwa kata-kata itu tidak boleh lepas sendiri namun wajib dalam susunan, misalnya dengan bentuk seruan penambahan Nida “Ya” (Ya Allah), hal itu bertentangan dengan sunnah”.

    Semoga ente sedikit jelas.

    Orang yang mengetahui bahwa dzikir “Allah.. Allah..” telah disebutkan Nabi saw sendiri tidak dapat semaunya memikirkan, apakah dzikir itu diamalkan oleh para shahabat atau tidak untuk menetapkan keshahihannya. Keshahihannya cukup jelas dari kenyataan bahwa Nabi saw memang mengucapkannya.
    Coba kita lihat, Bilal waktu disiksa dengan ditindih batu besar serta dipukul mengucapkan “Ahad.. Ahad..”.
    Ibnu Hajar dalam kitabnya : Al Ishabah Jil 1 hal 171 dan 732 meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Hasyim “Bilal adalah seorang Muslim yang tulus, berhati bersih… Umayyah ibn Khalaf pernah menjemurnya pada suatu hari yang sangat panas, membaringkannya disebuah bukit tandus dan meletakan batu besar diatas dadanya, lalu dia berkata kepada Bilal : “Engkau akan tinggal disini hingga mati atau mengingkari Muhammad saw dan menyembah al Lat dan al Uzza”. Seraya merasakan siksaan ini dia (bilal) berkata : “Ahad.. Ahad.. Ahad….” (Yang maha Esa.. Yang Maha Esa.. Yang Maha Esa..).

    Jadi jelas sedikit lagi ya @ibn abdul chair.

    1. Mas Ibnu Abdul Chair dan Mas Ucep@

      Kami mohon maaf, koment antum berdua sebelumnya yg membahas masalah Syarah Imam Muslim oleh Imam Nawawi secara tidak sengaja terdelete. Ini terjadi saat kami melakukan pembersihan SPAM, karena terlalu cepat mencentang jadi koment kalian berdua yg sudah muncul ikut-ikutan tercentang. Jadinya ikut terdelete. Untuk itu, seklali lagi kami mohon maaf. Syukron

      1. Gak apa2 mas @admin, ane yang berterima kasih, masih bisa membaca artikel2 diblog ini, semoga Allah meridhoi dan membalas kebaikan mas @admin atas jerih payahnya, baik tenaga, dana maupun waktunya. Ane cuma bisa bantu doa aja semoga blog ini tetap eksis sehingga dapat selalu menjelaskan Kebenaran. Amiin Allahuma Amiin.

  13. dah biarlah ngacir dan tiarap, kasian kl di KO terus terusan. saya baca di blog ahlusunnah wahaby pada puyeng kelimpungan. Biarkan kasihan, biar mereka bernafas dulu…!

  14. Ok deh.. diatas ada yg bilang sufi adalah pendidikan akhlak.
    Mari kita lihat ibadah kaum sufi :
    http://www.youtube.com/watch?v=LmzvkxP6T_4 <— dzikir joget2 pake musik

    http://www.youtube.com/watch?v=ql_GVTSZghQ <— ini juga… joget2

    http://www.youtube.com/watch?v=_pY-60bHXPg <— meratap di kuburan ??

    http://www.youtube.com/watch?v=AU-9rQVppdo <— dzikir sambil menari

    http://www.youtube.com/watch?v=mtT5RfDfeIE <— berkomplot dgn jin ???

    Tazkinatun nufs versi apa tu semua ?? Qur'an ? Hadist ?
    Akhlak model apa yg ingin dicapai dgn hal2 pada video tsb ??
    Dan… APAKAH ITU SEMUA PERNAH DILAKUKAN OLEH KANJENG RASULULLAH MUHAMMAD ??

    1. @dino
      Kalau belajar Islam itu yang bener, jangan katanya-katanya.
      Tasawuf adalah bagian dari Ilmu dalam agama Islam yang mempelajari cara membersihkan Hati (Tafkiyatun Nafs) dari segala kotoran-kotoran yang menjadi penghalang orang masuk syurga.
      Sufi adalah sebutan Orang yang menjalankan Ilmu tasawuf.
      Tarekat berasal dari kata Thoriqah atau bahasa Indonesia nya Jalan Lurus (ada 5 ayat dalam al Qur’an yang menyebutkan kata Thoriqah atau Jalan lurus).

      Jadi Semua muslim wajib bertasawuf, untuk membersihkan hati dari sifat Iri, dengki dan Riya serta yang utama adalah Syirik.
      Banyak kitab-kitab yang mempelajari Ilmu Tasawuf : Ihya Ulumuddin (Imam Al Ghazali), Madrikus al Shalihin (Ibnu Qayyim al Jauziyah), Al Azhar (Buya HAMKA).
      Nah untuk yang ente contohkan di youtube, coba ente perhatikan apakah video itu untuk mendiskriditkan Islam atau mempropaganda Kebencian terhadap Islam. Jangan video sekarang ini tersebar, bahkan banyak video yang memperlihatkan Pembakaran2 kitab2 Islam dan pembakaran al Qur’an disuatu negara.

      Jadi coba ente mendalami Ilmu Islam.

    2. @dino

      Ane jelasin sedikit, yang menjadi fitnahan kaum wahabi terhadap orang2 bertsawuf.

      1. Dzikir HU.. HU… HU
      Seperti diketahui, bahwa Asma ul Husna terdapat 99 nama Allah, namun tidak berarti membatasi nama2 Allah menjadi hanya sebanyak 99, seperti yang dijelaskan Imam Nawawi dalam kitabnya : Syarh Shahih Imam Muslim :
      “Hu” adalah kata ganti bagi Allah Yang MahaKuasa dan Hayyu adalah namaNya, sesuai dengan ayat al Kursi “Allahu la illaha illa HU al Hayyum al Qayyum (QS. Albaqarah : 255). “Haqq” adalah salah satu nama yang tercantum dalam hadist yang menyebutkan 99 Nama Allah, dalam Bukhari dan Muslim”.
      Jadi jelas bagi kita, kata HU.. adalah salah satu dari nama Allah yang berarti “Dia Allah” dan ini tidak diragukan lagi karena ada dalam ayat al Qur’an pada ayat Kursi.

      2. Dzikir dalam gerakan.
      Wahabi sering menuduhkan dzikir kok goyang2 atau memakai gerakan ?
      Berkaitan dengan hadist Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi saw memuji dengan sebutan “Mufarridun” yang berarti “Orang-orang yang menyendiri dalam dzikir”.
      Imam Nawawi berkata : “Riwayat lain berbunyi : Mereka adalah orang yang terdorong atau tergerak untuk menyebut atau mengingat Allah (Hum al ladzina ihtazzu fi dzikr Allah) atau Mereka sangat gemar dan tekun berdzikir”.
      Imam Habib al Hadad berkata : Dzikir adalah kembali dari aspek lahir yakni Lidah kepada aspek batin yakni Hati, sumbernya yang paling kuat, sehingga ia sangat berpengaruh terhadap anggota tubuh yang lain. Rasa manis ini dikecap oleh orang yang tertarik kepada dzikir dengan segenap hati, sehingga kulit dan hatinya menjadi lembut. Seperti dalam firman Allah : “Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah” (QS al Zhukruf : 23).
      Jadi jelas bahwa jika hati itu berdzikir maka seluruh tubuh pun akan ikut berdzikir, sehingga timbul gerakan, karena merasakan kenikmatan dzikir kepada Allah.

      1. Mohon Maaf Ralat, bukan surat QS al Zhukruf : 23, tapi QS. az zumar : 23 : “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”.

        Mohon maaf sekali lagi.

        1. Mas Ucep,

          Kalo boleh nambahin, kalo gak keliru, kalo q bener, dzikir para sufi biasanya perintah Dzohir dengan sumber langsung seperti:

          Qul “hu Allah”

          Kalo ada yang tanya mana dalilnya, tar anter aja ke anak TK yang lagi ngapalin.

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: