Salafi Wahabi

Firanda Berdusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (1)

Artikel-artikel Firanda ini ditulis sedemikian antusias plus dibumbui dengan referensi-referensi sehingga dalam pandangan orang-orang awam artikel ini seakan-akan bernilai ilmiyyah. Padahal jika diteliti ternyata artikel ini adalah artikel tanpa makna yang menyelisihi kebenaran.

Firanda Berdusta Atas Nama Konsesnsus Ulama Tentang Allah Berada di Langit … Sekelumit Upaya Mengungkap Tipu Muslihat Firanda … Oleh: Ustadz Ahmad Syahid

Firanda adalah sebuah nama yang sedang tenar di kalangan kaum Salafi Wahabi.  Sejak hobby-nya menghujat-hujat Abu Salafy,  nama Firanda langsung nanjak dan ngetop di tengah kaumnya yang dielu-elukan sebagai pahlawan Salafi Wahabi.  Bukan itu saja, Firanda  oleh kaumnya selalu dibanggakan di mana-mana dan dianggap sebagai reppresentasi kebenaran Salafi Wahabi. Benarkah anggapan yang demikian prestisius itu pantas disandang oleh Ustadz Firanda?

Nah,  untuk mengungkap siapa sejatinya Ustadz Firanda, mari kita simak presentasi fakta-fakta tersembunyi di balik artikel-artikel Firanda. Tulisan yang diwarnai dengan warna merah di bawah ini adalah cuplikan dari artikel Ustadz Firanda yang penuh dusta dan tipu muslihat yang dapat mengecoh ummat Islam yang masih pemula.

Artikel-artikel Firanda ini ditulis  sedemikian antusias plus dibumbui dengan referensi-referensi sehingga dalam pandangan orang-orang awam artikel ini seakan-akan bernilai ilmiyyah. Padahal jika diteliti ternyata artikel ini adalah artikel tanpa makna yang menyelisihi kebenaran.

Tulisan warna hitam adalah tanggapan dari Ahmad Syahid, sedangkan yang warna merah adalah tulisan Ustadz Firanda seorang aktifis Wahabi di Indonesia.

Silahkan simak dan teliti sendiri bagi anda yang punya ilmunya….

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semoga salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah.

Sungguh merinding tatkala membaca tulisan-tulisan tentang dimana Allah yang ditulis oleh Abu Salafy dan pemilik blog salafytobat. Karena tulisan-tulisan mereka penuh dengan tuduhan-tuduhan serta manipulasi fakta yang ada. Ternyata mulut-mulut mereka sangatlah kotor. Cercaan dan makian memenuhi tulisan-tulisan kedua orang ini yang pada hakekatnya mereka berdua takut menunjukkan hakekat mereka berdua. Begitulah kalau seseorang merasa berdosa dan bersalah takut ketahuan batang hidungnya. Allahul Musta’aan.

Sesungguhnya apa yang mereka berdua perjuangkan hanyalah lagu lama yang telah dilantunkan oleh pendahulu-pendahulu mereka yang bingung sendiri dengan aqidah mereka.

Maka pada kesempatan kali ini penulis mencoba mengungkapkan manipulasi fakta yang telah mereka lakukan dan mengungkap kerancuan cara berpikir kedua orang ini.
Dan tulisan kali ini terkonsentrasikan pada pengakuan Abu Salafi cs bahwasanya aqidah mereka tentang dimana Allah adalah aqidah yang disuarakan oleh sebagian sahabat seperti Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu dan juga sebagian ulama salaf. Sebagaimana pengakuan mereka ini tercantumkan dalam :http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/ (dalam sebuah artikel yang berjudul : Ternyata Tuhan itu tidak di langit).

Sebelum membantah pengakuan mereka tersebut maka kami akan menjelaskan tentang 3 point yang sangat penting yang merupakan muqoddimah (pengangtar) untuk membuktikan tipu muslihat mereka. Point-point tersebut adalah :
1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah di atas langit

Keberadaan Allah di atas langit merupakan konsensus para ulama Islam. Bahkan telah dinukilkan ijmak mereka oleh banyak para ulama Islam. Diantara mereka: …… dst.

————————

=================

Komentar Ustadz Ahmad Syahid:

Bismilahirohmanirohim, Al-hamdulillah wa sholatu wasalmu `ala Sayyidina wa Mawlana Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, wa ala alihi wa shohbihi waman tabi`ahum bi Ihsanin ila yaumiddin, amma ba`du.

Tulisan ini ditulis semata–mata hanya untuk meluruskan pemahaman atas apa yang diklaim oleh Ustadz Firanda dalam situsnya. Andai tulisan ustadz Firanda ini tidak bisa diakses kecuali hanya oleh orang-orang tertentu , niscaya saya tidak akan capai–capai atau repot  membuat bantahan ini. Tulisan ini ditujukan untuk mengungkap apakah benar klaim dan dakwa’an (anggapan) Ustadz Firanda soal :

  1.  Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.

  2.  Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.

  3.  Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

Apakah klim ini benar  atau itu hanya sekedar Klaim kosong yang mengelabui Ummat? Atau sekedar tipu muslihat untuk menyesatkan Ummat? Mari kita lihat, baca dan kaji secermat mungkin agar mendapatkan kesimpulan yang benar,  yaitu kesimpulan yang mengedepankan aspek obyektifitas dan sportifitas demi menemukan kebenaran sejati.

Sebelum membahas lebih lanjut saya ingin menyampaikan beberapa kaidah penting yang digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah Wal-jama’ah ( Asya’irah ) dalam menetapkan Asma dan sifat Allah, sebagai sebuah manhaj atau metodologi dalam memahami kitab dan Sunnah. Hal ini juga untuk memberikan patokan bagi siapa pun yang ingin mengetahui Aqidah Ahlu Sunnah ( asy’ariyah) sehingga tidak menggunakan prasangka dalam memahami pernyataan-pernyataan Ulama asy’ariyah.

Seperti kita ketahui bersama Agama Islam yang kita anut ini, bersandarkan kepada apa yang diriwayatkan (Al-qur’an dan As-sunnah ), sama sekali tidak bersandar kepada akal-akalan, namun tentu saja tanpa membuang pentingnya akal dalam memahami apa yang diriwayatkan. Di samping itu Ulama Asy’ariyah memahami bahwa Agama ini terdiri dari tiga hal utama yang tidak bisa dipisahkan :

1. Masalah pokok/ushul ( Aqidah ) sebagai pondasi dasar.

2. Masalah Furu’  atau cabang atau yang biasa disebut dengan Mua’amalat baik antara hamba dengan Tuhan atau antara hamba itu sendiri.

  1. Masalah kamaliyat atau kesempurnaan atau yang biasa disebut dengan Akhlak atau prilaku.

1). Dalam masalah ushul/pokok (Aqidah) Ulama Asy’ariyah hanya menerima riwayat (dalil-dalil) yang bersifat Pasti ( qoth’i) seperti hadist Mutawatir hadits Mustafidh dan Hadits Masyhur.

2). Dalam masalah Furu’  atau cabang atau Mu’amalat Ulama Asy’ariyah di samping menggunakan Riwayat yang Qoth’i juga menggunakan riwayat yang bersifat Dzonni seperti hadits Ahad.

3). Dalam masalah Kamaliyat atau kesempurnaan atau Akhlak dan prilaku di samping menggunakan dua jenis Hadits di atas, Ulama Asy’ariyah juga menggunakan Hadits Dha’if sebagai hujjah dan tentu ada syarat-syarat untuk digunakannya Hadits Dha’if tersebut sebagai Hujjah dalam masalah kamaliyyat.
Dengan kaidah–kaidah ini Ulama Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) berjalan memahami dan mengamalkan Agama. Terkait dengan tulisan Ustadz Firanda tentang ”keberadaan Allah” Ulama Asy’ariyah hanya menerima Riwayat atau hadits – Hadist yang bersifat Qoth`i (pasti ) baik dari sisi periwayatan maupun dari sisi dalalah (petunjuk dari riwayat),  sebab tulisan Ustadz Firanda ini berkaitan dengan masalah pokok/ushul, masalah yang sangat esensi sebagai Pondasi yang dibangun di atasnya keyakinan-keyakinan.

Mungkin standar Ulama Asy’ariyah ini dibawah standar yang ditetapkan oleh Ulama-Ulama Salafi (Wahabi) dalam memahami Kitab dan Sunnah, karena standar mereka adalah: hanya menggunakan Hadits-Hadits  Shahih serta membuang jauh Hadits–haditst Dha’if meskipun hanya dalam masalah kamaliyyat.  Disamping itu Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) juga berpegang kepada Prinsip ”Al-jam’u wa at-taufiq bainal adillah”  menggabungkan dan menselaraskan  antar dalil sepanjang masih bisa dilakukan penggabungan dan penselarasan (al-jam`u wa at-taufiq) antar dalil atau antar Riwayat sepanjang itu pulalah kewajiban penggabungan dan penselarasan antar dalil atau riwayat sesuai dengan Syarat-syarat yang tertera dalam kitab-kitab mereka.

Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bari:  ”Dan penggabungan (antar riwayat dalam masalah yang sama) dikedepankan daripada tarjih (pengguguran salah satu riwayat)”, Fathul Bari juz 13 hal 421.  Harus dilakukan hal senada juga dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam sarh Muslim : “Tidak ada perbedaan antar ulama bahwa jika dimungkinkan penggabungan antar Hadist maka tidak boleh meninggalkan salah satunya tetapi Wajib penggabungan diantaranya (syarh muslim juz 3 hal. 155)
Hal ini penting saya sampaikan karena melihat cara atau metode Istidlal atau pendalilan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini tidak berjalan di atas Manhaj atau metodologi yang digariskan dan digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah). Sebagai contoh Ustadz firanda hanya membawakan perkataan Imam al-Awza’i yang mendukung tujuannya saja,  sementara Ucapan Imam Al-Auza’i yang lainnya tidak dia bawakan.  Cara pendalilan Ustadz firanda seperti ini bukanlah cara pendalilan yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (asy’ariyah).  Ala Kulli Hal itulah metode yang digunakan Ustadz Firanda dalam tulisannya ini beliau hanya menyebutkan riwayat yang hanya mendukung maksud yang ingin dicapainya saja tanpa melihat riwayat-riwayat lain yang lebih Shahih.

Baiklah, mari kita kaji dan cermati riwayat-riwayat yang disampaikan Ustadz Firanda yang dijadikannya sebagai Hujjah dan Sandaran dalam menetapkan Kosensus atau Ijmak bahwa: ”Allah berada dilangit.”

Catatan :

  1. Ketika saya sebutkan ” Ahlu Sunnah Wal-jama’ah ( Asy’ariyah ) ” maka yang saya maksud adalah (Asy’ariyah, Maturidiyah, Atsariyah dan Sufiyah al-hiqqoh), 4 kelompok inilah yang saya maksud dengan Ahlu Sunnah wal-jama’ah.

  2.  Qoul atau perkataan para ulama bukanlah Hujjah Syariyah, Hujjah syar’iyah (sumber hukum) adalah Al-Qur’an al-Karim dan Hadits-hadits  yang Shahih.

Baik kita mulai dengan mengkaji sandaran-sandaran ustadz Firanda dalam klaim Ijmaknya :

Riwayat Pertama yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda untuk klaim adanya Ijmak tentang keberadaan Allah di langit :

Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)

Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu – dan para tabi’in masih banyak- kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsy-Nya, dan kita beriman dengan sifat-sifat-Nya yang datang dalam sunnah”  (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

Tanggapan: Tidak ada keraguan jika al-Imam al-awza’i adalah Ulama besar panutan Ahlu Sunnah (asy`ariyah) yang wajib diikuti, hanya apakah riwayat ini bersifat Qoth’i  (pasti) atau riwayat ini bersifat Dzani ( tidak pasti) yang sama sekali tidak diterima oleh Ulama Ahlu Sunnah? Karena riwayat yang bersifat Dzani tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah aqidah, mari kita kenali rawi-rawi dalam riwayat ini:

Dalam sanad riwayat ini terdapat rawi yang bernama Muhammad bin katsir al-mashishi (urut 4).  al-Mashishi menurut Imam Ahmad hadistnya Mungkar atau meriwayatkan sesuatu yang mungkar hal ini disebutkan oleh ibnu Adi dalam al-Kamil, dan ibnu Adi mengatakan al-mashishi mempunyai riwayat-riwayat dari Ma’mar dan Al-aw-za’i khususnya Hadist-hadist A’dad yang tidak diikuti oleh seorang pun. Demikian juga disebutkan dalam kitab al-jarh wa at-ta’dil juz 8 hal 69, al-mashishi di dha’ifkan oleh Imam ahmad, disifati sangat lemah. Jika para Imam Ahli jarh wa-ta’dil sudah melakukan Jarh seperti ini maka riwayatnya sama sekali tidak bisa diterima apalagi dijadikan Hujjah dalam Aqidah.

Terlebih Dalam riwayat ini al-Mashishi meriwayatkannya dari Ibrohim bin al-haitsam (urut 3), berkata al-Uqoili dalam kitab ad-Du’afa juz 1 hal 274:  dia (Ibrohim al-haitsam) meriwayatkan Hadist yang dianggap Dusta oleh ahli Hadist dan ahlul Hadist menyerangnya dengan periwayatan Hadist yang dianggap dusta itu. Dengan demikian dua orang rawi dalam atsar ini jatuh, al-Mashishi tertuduh meriwayatkan yang Mungkar dan al-Haitsam tertuduh dusta, sehingga hukum atsar ini Maudhu’.  Otomatis hal ini menggugurkan Sandaran pertama Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini. Ya, gugur!

Riwayat kedua yang dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda

Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)

Beliau berkata :

هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى

“Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

Tanggapan: Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist.  Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643,  meninggal tahun 351 hijriyah.  Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248.  Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

Qoul ketiga yang dijadikan sandaran dan Hujjah oleh Ustadz Firanda

Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H)

Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :

“Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395)

Tanggapan: Ibnu Qutaibah seorang Mujassim, lihatlah perkataannya dan perhatikan : “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran”. Perkataan ini sama sekali tidak menunjukkan adanya Ijma’  sebagaimana yang di dakwakan Ustadz firanda. Terlebih Ulama Asy’ariyah hanya menerima Qur`an dan hadist yang bersifat qoth’i sebagai Hujjah dalam Aqidah.  Kalaupun ada Ijma’  ia harus bersandar kepada Qur’an dan hadist, bukan bersandar kepada perkataan seluruh Ummat.  Ibnu Qutaibah mencoba berdalil dengan omongan semua orang baik Hindu, Atheis,  Konghucu dan sebagainya dan ini Bathil. Dengan demikian Status hujjah menjadi Gugur!

Saya jadi semakin heran terhadap ustadz Firanda sampai-sampai igauan Bathil Ibnu Qutaibah pun dijadikan sandaran dalam Aqidah! Apakah Ibnu Qutaibah menganggap seorang Atheis pun ber-Aqidah-kan “Allah di langit”  sehingga berani mengatakan SELURUH UMMAT dst…?”  Apakah Ustadz Firanda pun mengigau seperti ini? Ya akhi jangan main-main lho ini Aqidah pondasi dasar keyakinan.

Qoul ke empat yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda

Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)

Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
“Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-’Aniid Hal 25)

Tanggapan :
1). Abu said Ustman bin said ad-darimi as-sajzi bermadzhab hanbali, dia seorang mujassim musyabih dari golongan Hasywiyah wafat tahun 282 Hijriyah. Konon wafat tahun 280 hijriyah, Tasybih yang jelas terlihat dari Ucapannya : ”bahwa orang yang berada di puncak gunung lebih dekat kepada Allah ketimbang orang yang berdiri di bawah gunung.”  Lihat al- Maqolat il Allamah al-Kautsari hal 282.

Saya Ahmad Syahid katakan: Sungguh ucapan ini bertentangan dengan Hadist shahih di dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rosulallah SAW bersabda: ” seorang Hamba Lebih dekat kepada Tuhannya ketika ia dalam keadaan Sujud”,  dan bahkan bertentangan dengan Al- Qur’an:  “Sujudlah dan mendekatlah. ” (qs. Al-alaq. 19).  Dalam ayat ini posisi sujud digandengkan dan diidentikkan dengan kedekatan dengan Allah, ayat ini jelas bertentangan dengan perkataan dan keyakinan Abu said ad-darimi diatas.

2). Status Hujjah gugur karena dua hal:

  1. Abu said ad-Darimi menyandarkan aqidahnya ini kepada ucapan ummat islam (entah ummat islam yang mana) dan ucapan Ummat Kafir ( yang tantu aqidahnya berbeda dengan muslimin ). Harusnya Abu Said Ustman ad-Darimi menyandarkan Aqidahnya kepada Qur’an dan Hadist yang shahih atau minmal kepada pernyataan Ulama Muslimin (ahlu Sunnah ), bukan kepada Ucapan orang Kafir.

  2. Aqidah abu said ustman ad-darimi bertentangan dengan Qur’an dan Hadist sebagaimana saya sebutkan diatas.

  3. Abu Said Ustman ad-Darimi bukanlah Imam Ahlu sunnah yang terkenal itu, sebab Imam ahlu sunnah adalah : Al-imam Al-hafidz Abu Muhammad abdullah bin Abdurohman bin Fadl bin Bahrom ad-Darimi at-Tamimi as-Samarqondi, beliaulah penulis kitab Sunan ad-darimi wafat tahun 255 hijriyah.  Hati-hatilah jangan sampai tercapur aduk antara ad-darimi Imam ahlu sunnah dengan ad-darimi ahlu Bidah. Dengan demikian Status hujjah gugur, karena omongan ini keluar dari Ahlul Bidah Ustman ad-Darimi yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist diatas.

Qoul ke 5 yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda dalam klaim Ijma` nya

Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)

Beliau berkata :

القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”

“Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami – dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai – bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
(Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185)

Tanggapan: Qoul ini diriwayatkan oleh ibn Bathoh al-U’kbari nama lengkapnya : Abu Abdullah Ubaidillah ibn Muhammad ibn Bathoh al- U’kbari, seorang Mujassim bermadzhab Hanbali sekaligus seorang pemalsu hadist (wadho’). Dilahirkan tahun 304 dan wafat pada tahun 387 hijriyah. Konon dialah pencetus Aqidah Pembagian Tauhid.  Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Astqolani mengatakan dalam kitabnya Lisanul Mizan juz 4 hal 113: “Aku memikirkan Ibnu Bathoh atas sebuah perkara yang sangat besar hingga kulitku merinding darinya. Kemudian aku tetapkan bahwa dia adalah seorang pemalsu hadist (wadho’) , dan dia mempunyai kebiasaan mencungkil nama-nama para imam ahli hadist. Kemudian dia letakkan Namanya ditempat nama Imam yang dicungkilnya. Begitu juga al-Khotib al-Baghdadi menyebutkan sebuah Hadist di mana sanad hadist tersebut terdapat Ibnu Bathoh, kemudian al-khotib al-baghdadi mengatakan Hadist ini palsu dengan jalur sanad ini, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Bathoh. Ibnu Bathoh meriwayatkan atsar ini dari Ahmad ibn as-Saji.  Al-Albani dalam Mukhtasor al-uluw hal. 223 mengakui bahwa Ahmad ini tidak dikenal alias majhul, status Hujjah GUGUR. Ustadz Firanda kok seneng yang palsu-palsu ya?

Qoul ke enam yang dijadikan Hujjah oleh Ustadz Firanda untuk klaim Ijma’ keberadaan Allah dilangit

Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)

Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254

“Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:
Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”

Tanggapan : Ibnu Khuzaimah Mujassim terkenal dan sangat sadis. Beliaulah yang berfatwa Kafirnya orang yang tidak mengakui Bahwa Allah berada di atas langit maka orang tersebut harus dibunuh jika tidak mau tobat dan mayatnya dibuang ke tempat sampah.  Namun al-hamdulillah akhirnya beliau tobat dari Aqidah tajsim ini seperti yang dinyatakan oleh Imam al-baihaqi dalam asma wa as-sifat hal. 269. Begitu juga dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam fathul bari juz 13 hal 492.

Jadi rupanya Ustadz firanda belum tahu atau pura-pura tidak tahu jika penulis kitab ” at-Tauhid ” (ibnu khuzaimah) telah tobat dari aqidah yang tertulis dalam kitabnya itu. Sehingga gugur-lah sandaran ke-enam atas klaim Ijmaknya Ustadz Firanda ini, sebab penulisnya pun sudah Tobat.

Qoul ke tujuh yang dijadikan Hujjah atas klaim Ijma’ Ulama bahwa Allah di Langit

Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)

Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :

“باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”

أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه

ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى

“Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”

Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-’uluw li Adz-Dzahabi 2/1284).

Tanggapan: Lagi-lagi ustadz firanda ber-hujjah dengan seorang Wadho’  alias pemalsu, status Hujjah gugur lagi. Lihat tanggapan saya atas poin ke 5.

Qoul ke 8 yang dijadikan Ustadz firanda sebagai sandaran atas Klaim Ijma’-nya

Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)

Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul

” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”

وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

“Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”

Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-’Uluw 2/1315)

Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-’Uluw 2/1315).

Tanggapan: Tahukah Ustadz firanda jika Adz-Dzahabi juga mengatakan dalam Siar ‘Alam an-Nubala juz 17 hal 567,  Adz-Azahabi berkata:  “Saya melihatnya ( at-Tholamanki , pent) menulis kitab yang diberi judul As-Sunnah dua jilid.  Secara umum kitab itu baik hanya saja dalam beberapa bab dalam kitab tersebut ada hal yang selamanya tidak akan sejalan (denganku-pent), seperti bab janb (lambung / sisi Allah ) dalam bab itu dia menyitir firman Allah :  “Sungguh rugi atas apa yang aku lalaikan di sisi Allah, hal ini merupakan bentuk keterglinciran seorang Alim.  Orang ini Mujassim omongannya tidak perlu dianggap.  Sandaran ustadz firanda yang ke 8 pun gugur. Karena Imam Adz-Dzahabi pun tidak sejalan dengannya.

Qoul ke sembilan yang dijadikan sandaran klaim Ijma` ustadz firanda

Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)

Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….
Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317)

Tanggapan: Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’  tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!

Qoul ke 10 yang dijadikan Hujjah untuk mendukung klaim Ijma’  sang ustadz

Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H)

Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :

Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”

Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-’Uluw 2/1321

Tanggapan: Kenapa Ustadz firanda tidak sekalian menyertakan perkataan Adz-Dzahabi dalam al-uluw ketika berbicara tentang As-sajzi? Berkata adz-dzahabi: bahwa lafadz ”Dzat” bukanlah pernyataan yang masyhur dan terjaga dari para Imam yang disebutkan oleh as-sijzi. Lafadz ”Dzat” itu dari kantongnya As-sijzi bukan dari para Imam.  As-Sijzi juga terkenal dengan Tahrif (merubah) hadist sebagai contoh As-Sijzi merubah Hadist ar-rohmah al-musalsal bil awliyah dari jalur Abi Qobus al-Majhul dengan Lafadz ”yarhamkum man fi as-sama” padahal lafadz hadist dari Abu Qobus al-Majhul dalam musnad Ahmad juz 2 hal. 160 ”yarhamkum Ahlu as-sama”. Begitu juga yang dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu hajar dalam Mu’jam al-Syaikhokh Maryam (makhtut) masih berupa manuskrip bahwa Aba Daud juga meriwayatkan dengan Lafadz  ”Yarhamkum Ahlu as-sama”.  Apakah menurut ustadz Firanda riwayat seorang Muharif ( tukang merubah) bisa diterima? Apakah riwayat (berita) yang telah dirubah isinya dapat dijadikan Hujjah? Mengingat riwayat–riwayat palsu pun dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda seperti riwayat-riwayat  yang telah lalu, tidak aneh jika riwayat yang telah dirubah pun dijadikan sandaran oleh ustadz firanda.
Status Hujjah Gugur bagi orang yang berakal waras.

Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)

Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod,

“Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…

dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-’Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-’Uluw 261)

Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-’Uluw 2/1306)

Tanggapan: Kitab al-I’tiqod karya Abu Nu`aim Al-ashfahani tidak ada wujudnya, ini merupakan kitab Majhul yang hanya diketahui oleh Imam Adz-dzahabi. Terlebih adz-Dzahabi sendiri telah meninggalkan faham yang dianutnya dalam kitabnya al-Uluw ini. Saya minta Ustadz Firanda untuk menunjukkan wujud asli kitab i’tiqod yang dinisbatkan kepada abu Nu’aim, atau kitab Majhul pun menurut Ustadz Firanda bisa dijadikan referensi? Status Hujjah gugur karena kitab al-I’tiqod Abu Nu’aim adalah kitab Majhul, terlebih dalam tulisan ini Ustadz Firanda banyak menyandarkan Hujjahnya pada para Pembohong dan Pemalsu seperti yang telah lewat diatas.

 

Qoul ke 12 yang dijadikan sandaran ustadz Firanda Untuk menguatkan Klaim Ijma’-nya

Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)

Berkata Ibnu Abi Hatim :

“Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:

Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…

Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,

“Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201.

Tanggapan: Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 ,  jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

Saya Ahmad Syahid katakan: Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah!

Status Hujjah gugur , karena rawi-rawinya Majhul.

Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)

Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),

“Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)

Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :

“Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)

Beliau juga berkata :

“Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)

Tanggapan: Inilah pentingnya menggabungkan antar riwayat sebagaimana saya sebutkan dalam awal Mukadimah, sehingga memberikan pemahaman yang utuh sesuai dangan maksud penulis, sebab Ibnu Abdil Bar dalam dalam At-Tamhid juga mengatakan :

Pertama:  “Bahwa Khobarul wahid (hadist ahad ) tidak memberikan keyakinan pasti (ilm) hanya mewajibkan untuk diamalkan ( hanya berlaku dalam furu’, pent).”  Tentu hal ini bertentangan dengan kaum wahabiyyin, yang menjadikan khobarul wahid (hadist ahad) sebagai Hujjah dalam Aqidah , bahkan dalam tulisan ini Ustadz Firanda membawakan atsar – atsar Mungkar tidak sah bahkan Maudu’  untuk landasan Aqidah, sebagaimana yang telah lewat diatas.

Kedua: Ibnu Abdil Bar juga mengingkari pernyataan Nu’aim bin Hammad yang menyatakan bahwa ”Allah turun dengan Dzatnya sementara dia diatas kursinya ”, berkata Ibnu Abdil Bar : ” ucapan ini bukanlah sesuatu (yang dapat dipegang- pent.) di kalangan ahli, karena ini merupakan kaifiyah (membagaimanakan-pent) sementara Ahli Ilmu Lari dari pernyataan seperti ini karena pernyataan seperti itu tidak bisa difahami kecuali terhadap sesuatu yang terlingkupi penglihatan ( bersifat fisik-pent).

Ketiga: Ibnu Abdil Bar juga mengatakan : telah bersepakat Ulama shahabat dan tabi’in yang dari mereka dibawakan takwil dst…, menunjukkan jika takwil itu boleh dan dibenarkan karena datang dari para sahabat dan tabi`in, lalu kenapa Wahabiyyin dalam masalah istiwa pun melarang takwil? Lebih dari itu Wahabiyyin  menganggap sesat orang yang melakukan Takwil?

Ke empat: Ibnu Abdil Bar mengatakan: telah berkata Ahli Atsar (tentang Hadist Nuzul –pent) bahwa yang turun adalah Perintah dan rahmatnya, kemudian beliau menyebutkan riwayat hingga Imam Malik rodiuallahu anhu dan berkata: bisa jadi (pentakwilan ini -pent) seperti perkataan imam malik rohimahullah yang bermakna ”Turunnya Rohmat dan Qodhonya (ketetapan-pent) dengan pengampunan dan penerimaan, At-Tamhid 7/ 144 .

Ke lima: Dari pernyataan-pernyataan yang digabungkan ini , jelas-lah Aqidah sang Imam bahwa Beliau adalah seorang Mufawwidh, yang salah difahami oleh sang Ustadz Firanda sehingga dijadikan landasan dan Hujjah akan Klaim Ijmaknya.  Lihatlah sang Imam mengingkari istiwa dengan ”Dzatnya” dan sang Imam pun membolehkan Takwil.  Lalu mengikuti siapakah kawan-kawan wahabiyiin ini? Mereka dan juga Ustadz Firanda menolak Tafwidh dan takwil, padahal keduanya ( Tafwidh dan Takwil) adalah Manhaj atau metodologi yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) sepanjang masa, sehingga status Hujjah Ustadz Firanda Gugur karena Imam Ibnu Abdil Bar adalah seorang Mufawwidh.

Firanda Berdusta Atas Nama Ijma Ulama Salaf Tentang Allah Berada di Langit …

ustadz Firanda mengatakan: “Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf.”

Jawab: Para pembaca yang budiman ternyata setelah dilakukan pengecekan secara seksama semua riwayat yang ustadz Firanda jadikan sandaran adalah tidak sah , Mungkar bahkan maudu’ sebagaimana tadi kita kupas satu per satu. Bukankah ustadz Firanda dan All wahabiyyin menolak Hadist-hadist dha’if meskipun hanya untuk Fadailul a’mal? Tetapi kenapa justru pada masalahushul/Pokok (Aqidah) sebagai Pondasi Iman seorang Muslim, justru Ustadz Firanda menyuguhkan dan bahkan menggunakan perkataan Ulama yang riwayatnya tidak sah , Mungkar bahkan maudhu’? Diletakkan di mana semboyan: ”hanya menggunakan hadist-hadist shahih-nya?”  Ijmak yang Ustadz Firanda klaim itu hanya berdiri di atas ketidak-absahan, kemungkaran dan kepalsuan!

Demikian kajian atas Klaim ijma tentang ”keberadaan Allah Di langit” telah gugur seiring dengan gugurnya para Rawi yang meriwayatkannya.  Dan sebenarnya masih banyak qoul –qoul lainnya yang dinisbatkan kepada para Ulama Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) yang jika diteliti sanadnya akan menghasilkan hal yang sama dengan atsar-atsar yang ditampilkan Ustadz Firanda, statusnya akan sama (gugur) karena riwayat-riwayat itu 95 % adalah Tidak Sah , Mungkar , dan maudhu’. Adapun Ijmak yang benar di kalangan Ahlu Sunnah Wal-jama’ah adalah keyakinan Bahwa ”Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah ”.  Ijmak ini dinukil Oleh Al-imam Al-Hafidz An-Nawawi dalam Syarh Muslim juz 5 hal. 24 cet. Darul Fikr,  juga Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-atsqolani Al-Imam Al- Hafidz az-zabidi. Ijmak ini pun dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijmak halaman 167.

Wallohu a’lam….

Bersambung….

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

969 Comments

  1. sejauh yang sudah saya baca-baca 😛
    saya jadi bertanya-tanya ketika membaca tulisan om Ahmad Syahid ini,
    setiap apa yg ditulisnya saya bertanya ke diri saya sendiri, apa Om ini belum baca tentang ini, Lagi.. apa Om ini belum baca mengenai itu, Lagi.. dan seterusnya.. padahal saya cuman pembaca biasa tapi menurut saya om ini malah belum pernah baca2 kali yah??! heee… saya ingin menuliskan klo ini tuh seprtiini loh… itu seperti ini loh.. dst, tapi apalah daya saya hanya pembaca biasa yg blum mempunya daya hapal, :mrgreen:

    naahh yg saya pikirin kemudian yaitu klo dibandingkan bacaan saya sama Om Firanda tentu lebih jauh lagi om Firanda dan tentunya om FIranda ketika baca tulisan ini senyumnya pasti lebih senyum.. 😀

    🙄 mumet ndasku 🙄

    1. Menurut yg ana baca dan lihat dari tulisan Mas Ahmad Syahid di atas, selain bukti dusta murokkabnya Firanda akibat kejahilannya yg juga murokkab, ada point sangat penting yg perlu dilihat oleh para pembaca dalam artikel ini, yaitu Mas Ahmad Syahid berhujah dgn tertib, sama sekali tdk ada kontradiksi. Demikianlah cara anak-anak aswaja berhujjah.

      Betul kata Mas Yanto Jenggot di bawah, emang artikel ini sangat enak dibaca dan perlu. Sangat mencerahkan dan menggugah kesadaran, eh ternyata Ustadz Firanda itu ternyata juga jahil murokkab dan sekaligus Pendusta Murokkab. Hal ini sudah dibuktikan dg sangat jelas oleh akhina Ahmad Syahid.

      Syukron Mas Ahmad Syahid dan tentunya Baravo Ummati Press. Suatu kerja yg perlu diacungi jempol! Syukron, syukron n syukron

  2. Jelaslah hal ini akibat kejahilan Ust Firanda yg murokkab , sehingga menyebabkannya jadi seorang PENDUSTA MUROKKAB. Sudah terbukti berdasarkan penelitian Mas Ahmad Syahid di atas. Thank you Mas Ahmad Syahid…, luar biasa!!!

    Oh ya, setelah dijadikan postingan ternyata lebih enak dibaca deh, syukron Ummati ya? Hasil kerja antum emang top banget, menjadikan tulisan Mas Syahid jadi terasa lebih enak dibaca n perlu lho. Sekali lagi syukron.

  3. ikan AMAZON ITU emang perlu di kasih pelajaran , , , qi qi qi

    kang syahid, @ makasih kang , bongkar trus kedunguan ustadz PENGUASA AMAZON tsb FIRANHA NAN DURJANA 👿

  4. samurai @ ngomong apa ente , , , kagak jelas ! ! !
    Klu ente g mampu, , , sifiranda suruh bantah dweh . . . Bukan malah ente yg koment macam orang yg otaknya kurang 1 ons

  5. firanda kalau ketemu habib mudzir…langsung pingsan… 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳
    klepek-klepek…

  6. Membaca bantahan Dan Tuduhan Adik ahmad syahid atas ustadz firanda sungguh mengerikan !!!

    Ternyata TUDUHAN Tipu Muslihat atas tulisan Ustadz firanda yg dilakukan adik ahmad syahid JUSTRU dengan cara Menipu dengan menyebut perawi2 Pemalsu yg sama sekali tidak ada hubungan nya dengan atsar2 tsb dan beraninya menuduh Ulama2 tsb dengan berbagai tuduhan keji !!!

    Justru Penipuan yg di lakukan Ahmad syahid dengan asal klaim ucapan ulama fulan dari kitab ini dan itu pada juz & hal sekian, mengesankan se-akan2 itu Ilmiah !!!

    Bagi pembaca yg ilmunya NOL jangan Taqlid dan jangan kagum karena anda bisa di tipu !!!
    BERTOBATLAH WAHAI ADIKKU SEBELUM AJAL MENJEMPUTMU !!!

    1. Abu Yaman @

      Pak Abu Yaman, antum tinggal kroscek aja referensinya Mas Ahmad Syahid, jadi jangan asal ngoceh, Pak Abu Yaman. Mas Ahmad Syahid walaupun dipanggil Mas, ana yakin 1000% beliau orang yg punya ilmu memadai. Jadi mikirlah Bapak Abu Yaman.

      Ini ana kasih COPAS koment Mas Baihaqi di atas yg sangat bagus:

      baihaqi: Menurut yg ana baca dan lihat dari tulisan Mas Ahmad Syahid di atas, selain bukti dusta murokkabnya Firanda akibat kejahilannya yg juga murokkab, ada point sangat penting yg perlu dilihat oleh para pembaca dalam artikel ini, yaitu Mas Ahmad Syahid berhujah dgn tertib, sama sekali tdk ada kontradiksi. Demikianlah cara anak-anak aswaja berhujjah.

      Betul kata Mas Yanto Jenggot di bawah, emang artikel ini sangat enak dibaca dan perlu. Sangat mencerahkan dan menggugah kesadaran, eh ternyata Ustadz Firanda itu ternyata juga jahil murokkab dan sekaligus Pendusta Murokkab. Hal ini sudah dibuktikan dg sangat jelas oleh akhina Ahmad Syahid.

      Syukron Mas Ahmad Syahid dan tentunya Baravo Ummati Press. Suatu kerja yg perlu diacungi jempol! Syukron, syukron n syukron

      Nah…. itulah Bapak Abu Yaman perlu belajar cara koment anak-anak Aswaja seperti Mas Baihaqi.

      Salam kenal tuk semuanya….

  7. izhoe:
    samurai @ ngomong apa ente , , , kagak jelas ! ! !
    Klu ente g mampu, , , sifiranda suruh bantah dweh . . . Bukan malah ente yg koment macam orang yg otaknya kurang 1 ons

    eiitssss kayaknya ada yg manggil2 saya nih… :mrgreen: waahh saya gak kenal ee sama Om Firanda…
    saya jugak gak kenal sama ini “(Asy’ariyah, Maturidiyah, Atsariyah dan Sufiyah al-hiqqoh), 4 kelompok inilah yang saya maksud dengan Ahlu Sunnah wal-jama’ah.” banyak banget yah… tuh ahlusunnah apa aswaja? gak jelas… :mrgreen:

  8. Alhamdulillah wa syukrulillah, serapi apa pun dusta Firanda akhirnya akan terungkap juga jika kita mau meneliti artikel2nya. Firanda sebetulnya kan hanya Coapas2 saja tanpa menalarnya, atau kemungkinan besar nalarnya tidak jalan.

    Ayo kita bonkar total dusta2 Firanda dan Tipu Muslihatnya, masih banyak artikel2 yg ditulisnya mangandung kejanggalan. Silahkan yang punya waktu dan ilmunya, ana dukung dg do’a semoga dianugrahi nalar yg encer sehingga mampu mendudukkan perso’alan yg ditulis Firanda yg full Dusta dan Tipu Daya.

    Mas Ahmad Syahid sdh membuktikan dg baik dan elegant, thank you Mas Syahid. Syukron Ummati and all aswaja. Lanjut sampai tuntas, semoga banyak yg dapat hidayah-NYA setelah membaca Artikel Mas Syahid, amin amin amin….

  9. Biarlah si syahid bercerita apa yang dia imani, karna secara tidak langsung artikel yang dia tulis mengungkap kesesatan dia sendiri…!!

    1. Biarlah si Firanda bercerita apa yang dia imani, karna secara tidak langsung artikel yang dia tulis mengungkap kesesatan Firanda dan keluarga besar saudi sendiri…!!

    1. kalau cuma bisa bilang… semua orang juga bisa bilang….

      sekarang tunjukkan satu aja deh… dari tulisam mas ahmad syahid yang anda anggap salah atau manipulatif….. ayo…. jangan cuman bisa bilang….
      semua bisa bilang cinta… semua bisa bilang.

  10. gue.. mu pade tau muke muke lo pade.. end suara-suara u klo bisa debat jangan ditempat ecek-ecek.. gag level gue.. telpon gue 3 lawan 1 .. gue berani.. ketemuan diskusipun ayo… 0898 8192958.. tusich klo u pade jentel..

    klo cuma ngetik disini megel megelin tangan doang.. yang ada ahli bida’ ngeyel lagi…

    1. Biasa Wahabiyyin ngomong begini kaya ibnu abdillah, tapi begitu dilayanin ya ngumpet. Sama kya Dufal si Wahabi yg sombong itu, dilayanin juga akhirnya ngumpet gak berani nongol?

      Nyebelin deh, Wahabiyyin sok berilmu, sok berani, paling2 beraninya bom bunuh diri? Ini mah bukan berani tapi pengencuttt.

    2. Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang
      sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” — Otto Von
      Bismarck.

  11. Sebenarnya para cheerleader ini gak tahu kalau seandainya akhi Ahmad Syahid berbohong, karena sudah taklid buta. Apapun yang disebut pasti akan dipercaya. Ahmad Syahid dengan gampang mencap mujassim kepada semua yang tidak mau mentakwil sifat Allah. Kenapa tidak sekalian saja para Imam mazhab dicap mujassim?

    Imam Abu Hanifah:
    Sesiapa berkata, aku tidak mengetahui tuhanku di langit atau di bumi, sesungguhnya dia kafir, dan begitu juga sesiapa yang berkata, sesungguhnya Dia di atas Arsy, dan tidak aku menngetahui Arsy’ samaada di langit atau di bumi.

    Imam Malik:
    Allah di langit, dan ilmunya disetiap tempat.

    Imam Syafi’i:
    Pegangan dalam atas sunnah Rasulullah SAW yang aku beradai di atasnya dan aku lihat sahabat-sahabat kita berada di atasnya, mereka itu Ahlul Hadis yang aku telah lihat mereka dan aku telah ambil daripada mereka seperti Sufyan, Malik dan selain mereka ialah ikrar bahawa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Muhammad itu Rasulullah. sesungguhnya Allah di atas Arsynya dilangitnya. Dia menghampiri sesiapa yang dikalangan makhluk-makhlukNya sebagaimana yang Dia kehendaki, Dan Allah SWT turun ke langit dunia sebagaimana yang dia kehendaki.

    Ini adalah salah satu dari nama dan sifat Allah, tapi kalian dustakan karena merasa itu bukan nama dan sifat Allah. Contohnya, apakah kalian percaya adanya pertemuan dengan Allah di akhirat, dan apakah sifat Kalam menurut kalian? Apakah Allah berbicara langsung dengan Musa? Bagaimana bisa kalian ingkari nama dan sifat yang Allah katakan sendiri, dan membuat sendiri sifat dan nama Allah “yang pantas” dengan sifat 20?

    1. Insyaallah nanti ulasan dan kritikan baliknya juga akan dijawab balik demi terbongkarnya tipu daya Firanda CS. Pokoknya sampai titik penghabisan, gitu aja kok refot?

  12. Ibnu Abdillah:
    Biarlah si syahid bercerita apa yang dia imani, karna secara tidak langsung artikel yang dia tulis mengungkap kesesatan dia sendiri…!!

    Komengnya kayak orang pasrah bener….udeh mentok alias binun ye mo bales komengnya Ust. Ahmad syahid. Lha Ust. nye aje ude kalah telak, pegimane murid2nye mo ngebantah…. 🙄

    kesian bener anak SaWah, “pahlawan Rodja” yg selama ini dibangga-banggain ternyata abis “ditelanjangin” ame Ust. Ahmad Syahid…

    >>>syukron Ummati dan Ust. Ahmad Syahid, ane tunggu lanjutannye… 😆

  13. Hi hi hi…

    sahih dari Hongkong mas….

    Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

    قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.

    “Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

    Pada bagian lain dalam kitab al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

    “Allah ada tanpa permulaan (Azali, Qadim) dan tanpa tempat. Dia ada sebelum menciptakan apapun dari makhluk-Nya. Dia ada sebelum ada tempat, Dia ada sebelum ada makhluk, Dia ada sebelum ada segala sesuatu, dan Dialah pencipta segala sesuatu. Maka barangsiapa berkata saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula menjadi kafir seorang yang berkata: Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit” (al-Fiqh al-Absath, h. 57).

    Asy-Syaikh ‘Ali Mulla al-Qari di dalam Syarah al-Fiqh al-Akbar menuliskan sebagai berikut:

    “Ada sebuah riwayat berasal dari Abu Muthi’ al-Balkhi bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang berkata “Saya tidak tahu Allah apakah Dia berada di langit atau berada di bumi!?”. Abu Hanifah menjawab: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena Allah berfirman “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa”, dan arsy Allah berada di atas langit ke tujuh”. Lalu Abu Muthi’ berkata: “Bagaimana jika seseorang berkata “Allah di atas arsy, tapi saya tidak tahu arsy itu berada di langit atau di bumi?!”. Abu Hanifah berkata: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena sama saja ia mengingkari Allah berada di langit. Dan barangsiapa mengingkari Allah berada di langit maka orang itu telah menjadi kafir. Karena Allah berada di tempat yang paling atas. Dan sesungguhnya Allah diminta dalam doa dari arah atas bukan dari arah bawah”.
    Kita jawab riwayat Abu Muthi’ ini dengan riwayat yang telah disebutkan oleh al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam kitab Hall ar-Rumuz, bahwa al-Imam Abu Hanifah berkata: “Barangsiapa berkata “Saya tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam ini memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka orang tersebut seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam adalah ulama besar terkemuka dan sangat terpercaya. Riwayat yang beliau kutip dari al-Imam Abu Hanifah dalam hal ini wajib kita pegang teguh. Bukan dengan memegang tegung riwayat yang dikutip oleh Ibn ‘Abi al-Izz; (yang telah membuat syarah Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah versi akidah tasybih). Di samping ini semua, Abu Muthi’ al-Balkhi sendiri adalah seorang yang banyak melakukan pemalsuan, seperti yang telah dinyatakan oleh banyak ulama hadits” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 197-198).

    Perkataan Imam Malik dan Imam Syefei itu dari mana mas riwayatnya…. baca lagi artikel mas Syahid….

    Pertemuan Allah di akherat? jangankan di akherat mas…. didunia ini aja Manusia bisa bertemu dengan Allah…. lihat hadistnya kan… : siapa yang mendatangiku berjalan, maka Aku mendatanginya berlari…

    Allah berbicara langsung dengan Musa…. emangnya kenapa? tetap aja Allah ada tempat dan arah.

    1. Allah di langit, dan ilmunya disetiap tempat.[Al-Siyar A’lam Al-Nubala]

      Pendapatku tentang sunnah,di mana aku berpegang kepadanya dan juga berpegang kepadanya oleh orang-orang yang aku lihat semisal Sufyan,Malik dan lain-lain,iaitu pengakuan terhadap persaksian bahawa Allah itu di atas Arasy-Nya yang ada di langit-Nya.Dia mendekat makhlukNya menurut apa yang Dia kehendaki dan turun ke ke langit terendah menurut apa yang Dia kehendaki.
      [Az-Zahabidalam kitabnya,Al-‘Uluw lil-‘Aliy al-Ghaffar]

      Jadi mas dianth tidak percaya pertemuan Allah dengan hamba-Nya?

      Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.. [Al Qiyamah : 22-23].

      Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. [Yunus:26].
      Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya. [Qaf : 35]
      * Menurut hadits dalam shahi hbukhari, yang dimaksud tambahan adalah melihat Allah.

      Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. [Al Muthaffifin:15].
      Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah.

      Ketahuilah, sesungguhnya kalian akan di hadapkan kepada Rabb kalian, maka kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. [HR Muslim].

      Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan semata-mata. [HR Bukhari]

      Apabila penghuni surga telah masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,”Apakah kalian menginginkan sesuatu yang dapat Aku tambahkan?” Mereka menjawab,”Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih berseri? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Nabi bersabda,”Maka disingkapkanlah tabir penutup, sehingga tidaklah mereka dianugerahi sesuatu yang lebih mereka senangi dibandingkan anugerah melihat Rabb mereka Azza wa Jalla.”

      Apakah mas dianth mendustakan pertemuan (atau nggak mau bertemu? 😆 ) dengan Allah?

      1. Inilah susahnya bicara ama wahabi… perkataan orang lainpun tak paham.

        sukanya membunuh karakter, sungguh karakternya sendiri yang terbunuh.

        “Apakah mas dianth mendustakan pertemuan (atau nggak mau bertemu? ) dengan Allah?”

        Padahal saya bilang : Pertemuan Allah di akherat? jangankan di akherat mas…. didunia ini aja Manusia bisa bertemu dengan Allah…. lihat hadistnya kan… : siapa yang mendatangiku berjalan, maka Aku mendatanginya berlari…

        1. Tentu mas dianth paham apa yang saya tanyakan (atau jangan2 gak paham nih, dijelasin aja deh 😀 ). Dengan dalil yang saya sebut di atas, orang yang beriman di akhirat nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Bagaimana menurut mas dianth? Ini melihat secara dhahir, atau ada takwilnya? Mohon dijelaskan.

          1. Melihat Allah di Akherat dijelaskan oleh Imam Abu Hanifah :

            alam al-Fiqh al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut:

            وَاللهُ تَعَالى يُرَى فِي الآخِرَة، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوسِهِمْ بلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيَّةٍ وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة.

            “Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”” ( Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan syarah Syekh Mulla Ali al-Qari, h. 136-137).

          2. Kalau Anda bisa mengimani pertemuan dengan Allah (tanpa adanya tasybih, kayfiyyah, dll), kenapa Anda tidak bisa mengimani Allah beristiwa’ di langit di atas ‘Arsy dengan cara yang sama?

          3. Pertemuan dengan Allah itu bisa dimaknai tanpa memberi batasan pada Allah.

            Sedangkan beristiwa’ di langit di atas ‘Arsy secara zhahir itu tidak bisa dimaknai kecuali memberi batasan pada Allah, karena zhahirnya makna berada pada suatu arah, atau di luar semesta itu adalah batas.

          4. ahsanta Mas Dianth, Wahabiyyin itu emang harus di-KO dulu biar pada mikir. Biar nalarnya jalan secara tertib, gitu Mas….

  14. wahabi dalilnya sangsot…..

    “Bagaimana bisa kalian ingkari nama dan sifat yang Allah katakan sendiri, dan membuat sendiri sifat dan nama Allah “yang pantas” dengan sifat 20?”

    Ini mah emang udah kagak paham….

    Allah sendiri udah jelaskan loh mas, kalau Dia tidak serupa dengan ciptaanNya, jadi masak ente katakan pantas memberikan sifat mahluk sebagai sifat Allah. sadar dong mas…..

    1. Baik, mari kita bahas dalil yang sangsot itu. Dalam sifat 20 ada sifat mendengar dan melihat. Bukankah itu sifat makhluk? Kenapa bisa masuk dalam sifat 20?

      1. Sifat mendengar dan melihat itu Sifat Allah.

        Mendengar dan melihat pada manusia itu anugrah Allah kepadanya agar manusia bersyukur kepada Allah

        1. Ya, mendengar dan melihat itu adalah ni’mat Allah yang diberikan pada manusia. Tetapi itu mendengar dan melihat itu juga sifat makhluk. Kenapa Anda menolak sifat2 yang lain dengan alasan itu adalah sifat makhluk, tetapi menerima sifat mendengar dan melihat sebagai sifat Allah, padahal ini juga sifat makhluk?

          1. Sifat mendengar dan melihat bukanlah sifat jisim yang mempunyai bentuk, ukuran dan batasan.

            Sifat Allah melihat dan mendengar itu tiada batas, bentuk dan ukurannya. Maka kita sering mengatakannya Maha melihat dan Maha Mendengar.

            sedangkan sifat melihat dan mendengar pada manusia terbatas, karena sifat manusia sebagai mahluk adalah terbatas dan berukuran. Jadi bisa kan anda bedakannya ??

    1. Yang mengatakan itu adalah Imam Malik, apakah Imam Malik Wahabi?
      Apakah Anda hendak mengatakan bahwa Ilmu Allah adalah makhluk?

  15. diajak debat.. dihiraukan.. gag jentel ya… klo u penasaran ama gw ayo kita ketemuan diskusi plus bawa kitab referensi u pada.. :mrgreen:
    berani kandang doang.. cupe dech 😳

    1. siapa yang berani di kandang doang mas….

      saya sudah mengembara ke kandang-kandang wahabi…. kebanyakannya pengecut dan tak berani tampilin komentar.

  16. yaudah skarang gini.. saya sudah kasih no.telepon.. u telp saya.. atau u kasih no.telp u nanti saya telpon.. bahkan saya ajak diskusi kita ketemu mau gag..??

    1. sya bukan di Jawa mas..

      ngapai teleponan… daripada telepon ente,,, ebih baik telepon yang lain… lebih genah dan ndak habisin pulsa.

  17. hehehe.. dari sini jawabanya udah Takut debat…!!

    Saksikan wahai kaum muslimin…!!

    padahal diatas saya sudah berkata ” atau u kasih no.telp u nanti saya telpon..”

    DIANTH MALAH BERKATA “ngapai teleponan… daripada telepon ente,,, ebih baik telepon yang lain… lebih genah dan ndak habisin pulsa.”

    udah tau saya yang nelepon..

    Pendekar sunnah tak akan gentar melawah orang-orang KECIL Sekalibir Ahli Bida’ wa ra’yi.. mereka hanya pandai memutar memutar kata.. :mrgreen:

    1. Ibnu Abdillah, kalau tak bisa koment silahkan turun dulu. Tuh hubungi aja no hp-nya Mas Dianth, jangan koar-koar terus, ntar mulut ente jadi dower, kawkkwkwkwkwkw … Oke?

  18. Saya teruskan di bawah supaya tidak makin sempit.

    dianth:
    Pertemuan dengan Allah itu bisa dimaknai tanpa memberi batasan pada Allah.

    Saya mendapat kesan Anda berusaha menafikan khabar “hamba melihat Allah” pada pertemuan dengan Allah. Saya tanya sekali lagi, apakah Anda percaya orang beriman akan melihat Allah sejelas melihat bulan purnama?

    Sedangkan beristiwa’ di langit di atas ‘Arsy secara zhahir itu tidak bisa dimaknai kecuali memberi batasan pada Allah, karena zhahirnya makna berada pada suatu arah, atau di luar semesta itu adalah batas.

    Bila “melihat” yang secara zhahirnya itu berarti batas, bentuk, bagaimananya objek bisa diketahui, tetapi harus diimani dengan tanpa tasybih, kaifiyyah, dll, kenapa untuk istiwa’ Anda tidak bisa mengatakan hal yang sama?

  19. Melihat Allah bisa saya gambarkan seperti pengetahuan kita kepada Allah.

    Sebagaimana kita mengetahui atau mengenal Allah sebatas Apa yang Allah beritahukan/makrifatkan kepada kita, maka melihat Allah, di akherat pun, kita melihatNya sebagaimana Allah memperlihatkan diriNya kepada kita.

    Jadi melihat kitalah yang ‘secara zhahirnya itu mempunyai batas’ sedangkan Allah itu tiada batas. Melihat Allah itu disandarkan pada manusia yang terbatas, maka yang terbatas adalah melihatNya, sedangkan Allah tidak terbatas.

    Istiwa itu disandarkan kepada Allah. Maka arti Istiwa yang merupakan bentuk dan menjadikan batas tidak bisa disandarkan kepada Allah.

    Jadi bagaimana sifat keterbatasan dan bentuk bisa disandarkan kepada Allah?

    1. Ishaaq bin Raahuyah (dikenal juga sebagai Ishaaq bin Ibrahim) –salah seorang guru Imam al-Bukhari- menyatakan :

      “Hanyalah dikatakan sebagai sikap penyerupaan (Allah dengan makhluk,pent) adalah jika seseorang menyatakan tangan (Allah) bagaikan tangan (makhluk), atau seperti tangan (makhluk), pendengaran (Allah) seperti (pendengaran) makhluk. Jika menyatakan bahwa pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk), maka itu adalah sikap penyerupaan. Adapun jika seseorang berkata sebagaimana perkataan Allah : Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan tidak menyatakan ‘bagaimana’ (kaifiyatnya), dan tidak mengatakan seperti pendengaran (makhluk), maka yang demikian ini bukanlah penyerupaan. Yang demikian ini adalah sebagaimana yang Allah nyatakan dalam KitabNya :

      “Tidak ada yang semisal denganNya suatu apapun, dan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Lihat Sunan AtTirmidzi bab Maa Jaa-a fi fadhli as-Shodaqoh juz 3 halaman 71).

      Di sini kita lihat menurut Ishaaq bin Raahuyah (dikenal juga sebagai Ishaaq bin Ibrahim) –salah seorang guru Imam al-Bukhari-, beliau mengimani Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan tidak menyatakan ‘bagaimana’ (kaifiyatnya), dan tidak mengatakan seperti pendengaran (makhluk). Kalau Anda berpendapat tangan, kaki, wajah, betis adalah sifat jisim yang menyatakan adanya bentuk, pendengaran dan penglihatan itu membutuhkan indera (yang juga bagian tubuh), berarti Anda menjisimkan Allah?

      1. Sifat Allah melihat dan mendengar itu tidak membutuhkan indra.

        Sedangkan manusia membutuhkan indra.

        Maha suci Allah dari membutuhkan Indra.

        mendengar dan melihat bukan, jisim, yang jisim itu telinga dan mata. Bisakah anda membedakannya?

      2. Sifat Allah melihat dan mendengar itu tidak membutuhkan indra.

        Sedangkan manusia membutuhkan indra.

        Maha suci Allah dari membutuhkan Indra.

        mendengar dan melihat bukan jisim, yang jisim itu telinga dan mata. Bisakah anda membedakannya?

      3. Ishaaq bin Raahuyah (dikenal juga sebagai Ishaaq bin Ibrahim) –salah seorang guru Imam al-Bukhari berakidah tafwidh, dan beliau tidak dikatakan tangan harus dimaknai zhahir.

  20. Yang mas/mbak jelaskan semua hanya pakai logika yang nggak mungkin nyampai bung…..ribut-2 kayak gini… Bersyukur itu yang jelas-2 aja seperti kita diberi kesehatan, masih Iman Islam, masih solat dg benar mempelajari dan mengamalkan Quran & Hadist saheh sesuai yang dituntunkan. Menafsirkan Al Quran dan termasuk sifat Allah dg Al Quran, Hadist dan ulama-ulama terdahulu. Jangan semata-mata dengan akal pikir saja apalagi pakai istilah Zahir segala. Kalau tidak bisa menjangkau ya samikna wa atokna… Maaf jika salah salam menulis dan kebenaran ada di tangan Allah, kesalahan hanya pada saya sebagai umat manusia…..

    dianth:
    Sifat mendengar dan melihat itu Sifat Allah.

    Mendengar dan melihat pada manusia itu anugrah Allah kepadanya agar manusia bersyukur kepada Allah

  21. dianth:
    saya mengikuti Imam Abu Hanifah.

    Maaf Ilmu Mas memang ilmu yang katanya pakai istilah MAKRIFAT gitu-2 itu ya mas? Maaf memang gak bisa nyambung. Karena akal pikiran terbatas akhirnya menggunakan rokyu masing-2. Maka lebih baik jalan masing2 aja mas…. Kalau saya lo mas, saya mesih memegang 4 mahaj imam yang dipakai Indonesia. Maaf jika ada salah kata… kebenaran hanya Allah Taala…

  22. Huffhh…sudah dari kemarin2 saya perhatikan, ternyata komen2 dari fans habaib tidak lebih dari sekedar muter2 diantara berikut :
    1. menghina ustadz Firanda dengan mengatai beliau dajjal, pendusta dsb.
    2. berkata bahwa artikel ustadz Firanda sesat tp ia tidak bisa menunjukkan dimana sesatnya.
    3. membangga2kan sanad ilmu gurunya dan merendahkan wahhaby bahwa wahhaby tidak punya sanad dan hanya belajar dari kitab terjemah/sanadnya terputus. Adapun fatwa pemilik sanad (katanya) tidak bisa dilanggar kecuali oleh pemilik sanad pula (hehehe pengen ketawa saya).
    4. Jalan terakhir…selalu menuduh bahwa wahabi mentahrif kitab, tp tidak bisa mendatangkan bukti2 otentik, pun tidak bisa menunjukkan penerbit mana yg bebas dari pentahrifan kitab.

    Sama sekali tidak ada bantahan2 yg ilmiah dari kalian wahai saudaraku, kalian hanya bisa mencerca, mencela dan menuduh. Kalau memang kalian belajar dari guru yg punya sanad ilmu hingga Imam Bukhari, tolong bantahlah artikel-nya dengan ilmiah dan tunjukkan letak kesalahannya, tunjukkan bukti sanad keilmuan kalian, atau yg diajarkan di majelis kalian itu hanya mencela wahabi???. Atau cukup tunjukkan artikel-nya ke habib Munzir, biar guru kalian itu yg membuat bantahannya, beres kan??? Jangan hanya cuma kalian, yang kadar ilmunya masih myeh-myeh

    1. gubraggg abu umar lo denger??? capeee dech

      walopun kau bilang di mekah ada ka’bah aku tak percaya. kenapa aku harus percaya ama mutowe 2 impor yg digaji bwt menghidupkan perselisihan.

      kata orang amerika itu polisi dunia.
      Negara Saudi belajar banyak dari paman sam, ia inginjuga menjadi polisi dunia (islam). hehe

    1. Istighfar akhi…antum sudah melecehkan nama guru kami dan bahkan membandingkannya dg seorang Firanda. Afwan, jika hanya seorang Firanda saja, tidak perlu disejajarkan dg Habibana itu terlalu jauh. Dilihat dari Akhlaqnya (tutur kata) saja sudah jauh apalagi ilmunya, silahkan dicek di web MR dan web Firanda.

      Artikel dari Ust. Ahmad Syahid jelas membuktikan lebar-lebar kekurangan ilmu seorang Firanda. Dan hanya orang2 yg menggunakan akal sehat serta hati yg jernih yg dapat memperoleh Hidayah dari Allah SWT.

  23. ngapain habib Munzir yg turun tangan?
    Kami yg myeh2 saja tak bs kau hadapi dg benar

    mana yg lbh besar, langit k7 atau kursi? Mana yg lbh besar, kursi atau ‘arsy?

  24. Abu Umar:
    Huffhh…sudah dari kemarin2 saya perhatikan, ternyata komen2 dari fans habaib tidak lebih dari sekedar muter2 diantara berikut :
    1. menghina ustadz Firanda dengan mengatai beliau dajjal, pendusta dsb.
    2. berkata bahwa artikel ustadz Firanda sesat tp ia tidak bisa menunjukkan dimana sesatnya.
    3. membangga2kan sanad ilmu gurunya dan merendahkan wahhaby bahwa wahhaby tidak punya sanad dan hanya belajar dari kitab terjemah/sanadnya terputus. Adapun fatwa pemilik sanad (katanya) tidak bisa dilanggar kecuali oleh pemilik sanad pula (hehehe pengen ketawa saya).
    4. Jalan terakhir…selalu menuduh bahwa wahabi mentahrif kitab, tp tidak bisa mendatangkan bukti2 otentik, pun tidak bisa menunjukkan penerbit mana yg bebas dari pentahrifan kitab.

    Sama sekali tidak ada bantahan2 yg ilmiah dari kalian wahai saudaraku, kalian hanya bisa mencerca, mencela dan menuduh. Kalau memang kalian belajar dari guru yg punya sanad ilmu hingga Imam Bukhari, tolong bantahlah artikel-nya dengan ilmiah dan tunjukkan letak kesalahannya, tunjukkan bukti sanad keilmuan kalian, atau yg diajarkan di majelis kalian itu hanya mencela wahabi???. Atau cukup tunjukkan artikel-nya ke habib Munzir, biar guru kalian itu yg membuat bantahannya, beres kan??? Jangan hanya cuma kalian, yang kadar ilmunya masih myeh-myeh

    Mas…baiknya baca lagi deh tiap-2 artikel yg membahas wahabi, membantah ustadz firanda secara detil, sumber per sumber, sesuai sanad nya….atau kalau awamnya secara history nya deh….ane aja yg masih sangat awam, membaca tiap artikel Mas Syahid or moderator ummati lainnya, komentar-2 Mas Dian & lainnya…saya urutin detil yg mrk kemukakan mengerti kok Mas, saya bener-2 masih nubie akan aswaja maupun wahabi….tapi saya bisa tangkap dg pikiran awam saya, wahabi membuat artikel & bantahan dg terburu-2, sumber-2nya banyak yg terputus atau pun tidak shahih spt dari pembuat hadits palsu dsb..maaf yah…Wahabi identik dg sifat menyerang & sinis, saya alami sendiri di kantor saya, belum apa-2 saya dah di sinisin duluan, padahal saya minta penjelasan yg detil dr yg sinis sama saya…tp orgnya males…laaah gimana perjuangannya spy saya mengerti kalo awal-2 dah males….

    Maaf kalo banyak kata-2 saya yg menyinggung…

  25. Kalian itu tidak lebih dari sekedar muter2 diantara berikut :
    1. menghina ustadz Firanda dengan mengatai beliau dajjal, pendusta dsb.
    2. berkata bahwa artikel ustadz Firanda sesat tp ia tidak bisa menunjukkan dimana sesatnya.
    3. membangga2kan sanad ilmu gurunya dan merendahkan wahhaby bahwa wahhaby tidak punya sanad dan hanya belajar dari kitab terjemah/sanadnya terputus. Adapun fatwa pemilik sanad (katanya) tidak bisa dilanggar kecuali oleh pemilik sanad pula (hehehe pengen ketawa saya).
    4. Jalan terakhir…selalu menuduh bahwa wahabi mentahrif kitab, tp tidak bisa mendatangkan bukti2 otentik, pun tidak bisa menunjukkan penerbit mana yg bebas dari pentahrifan kitab.
    Benar kan?

    1. baca lagi artikel Mas Syahid, beliau tunjukin “link-2” nya Mas, gampang kan?? supaya cek kebenaran apa yg Mas Syahid “Link-kan”…it’s so simple Kang…

  26. bagaimana dengan pertanyaan:
    Allah dimana?
    Jawab badui:
    Allah di langit .

    Ente artikan apa langit itu? Jawab. Paling ya ga bisa jawab. cuman muter2 ga karuan.. huahahahaha

    1. baca lagi artikel Mas Syahid, beliau tunjukin “link-2″ nya Mas, gampang kan?? supaya cek kebenaran apa yg Mas Syahid “Link-kan”…it’s so simple Kang…

    2. dimana Allah?
      Allah itu dekat.
      Allah itu di hati orang Mu’min
      Semua jawaban ini dan juga jawaban badui itu tdk bisa dipahami secara harfiah.

      Kalo dipahami secara harfiah, lalu Anda beri’tiqad bhw Allah itu berada di langit, dan kadang Anda beri’tiqad bhw Allah bersemayam di atas ‘arsy, maka saya tanya Anda: mana yg lbh besar, langit, kursi, atau ‘arsy?
      Jawab, ga usah muter2

      1. meski ane dah alhamdulillah bisa ngerti apa yg dijelaskan oleh Mas Syahid, mas Dianth dll….supaya nambah keyakinan saya lagi, maklum nubie…. 😀 😯

        1. TAPI bisa janji ga mas?? kalo apa yg ummati tampilkan dg detil sumber-2 nya, Mas ini telusuri sumber-2nya, kalo mang bner ketmu pas dg yg dijelaskan, apa bisa memberi komen mengakui bahwa sumber-2 yg dijelaskan benar ????

  27. Ahlussunnah waljama’ah ( versi ahlul bid’ah wadholalah ) merasa banyak pengikutnya, tapi kempes bak buih banjir bandang.Namun ahlussunnah waljama’ah ( versi ahluttauhid, ahlulatsar) lebih sedikit tapi kokoh.

    1. komentar si bdul ga mutu
      ga ilmiah
      kalo emang anda orangnya ilmiah, bantuin Abu Umar tuh utk jawab pertanyaan saya.
      Mana yg lbh bsr, langit, kursi, atau ‘arsy?

  28. Abu Umar:
    bagaimana dengan pertanyaan:
    Allah dimana?
    Jawab badui:
    Allah di langit .

    Ente artikan apa langit itu? Jawab. Paling ya ga bisa jawab. cuman muter2 ga karuan.. huahahahaha

    Nih hadith bikinan siapa ?

    1. Hahaha ABu Umar kagak pernah baca Syarah Shahih Muslim, kupas tuntas by Imam an Nawawi…juga haditsnya bukan “jawab badui”, tetapi “jawab jariyah”. Wah hebat2 wahabi memang ahli hadits — suka membuat hadits

  29. Abu Umar:
    COBA sekarang untuk artikel selanjutnya UMMATI membuat artikel dimana Allah menurut versi ASWAJANYA kalian. Di tunggu..

    Kerana itu wahhabi wajar ditolak sama sekali, Kerana dasar Islamnya adalah DI MANA ALLAH ! . Rasulullah, para sahabat, salafussoleh tidak pernah mengenal bahawa Islam itu intinya adalah DI MANA ALLAH !. Soalan DI MANA itu sendiri menunjukkan kamu sudah menetapkan TEMPAT bagi Allah.

  30. Abu Umar:
    Kalian itu tidak lebih dari sekedar muter2 diantara berikut :
    1. menghina ustadz Firanda dengan mengatai beliau dajjal, pendusta dsb.
    2. berkata bahwa artikel ustadz Firanda sesat tp ia tidak bisa menunjukkan dimana sesatnya.
    3. membangga2kan sanad ilmu gurunya dan merendahkan wahhaby bahwa wahhaby tidak punya sanad dan hanya belajar dari kitab terjemah/sanadnya terputus. Adapun fatwa pemilik sanad (katanya) tidak bisa dilanggar kecuali oleh pemilik sanad pula (hehehe pengen ketawa saya).
    4. Jalan terakhir…selalu menuduh bahwa wahabi mentahrif kitab, tp tidak bisa mendatangkan bukti2 otentik, pun tidak bisa menunjukkan penerbit mana yg bebas dari pentahrifan kitab.
    Benar kan?

    Jawab sahaja satu persatu yang telah diperjelaskan oleh Ahmad Syahid si atas. Tak perlu kamu membela dan bertaqlid buta ama Firanda. Mudah bukan ? Atau kamu sememangnya telah mengakui kekurangan ilmu?

  31. ummu Abdillah:
    Ahlussunnah waljama’ah ( versi ahlul bid’ah wadholalah ) merasa banyak pengikutnya, tapi kempes bak buih banjir bandang.Namun ahlussunnah waljama’ah ( versi ahluttauhid, ahlulatsar) lebih sedikit tapi kokoh.

    Kamu baca sendiri perkataan Ahlus sunnah Wal JAMA’AH. – Adakah udah termasuk dalam jama’ah atau terpinggir ? Atau masih tidak mampu berfikir lagi ?

  32. Assalamualaikum,…
    thanks to mas achmad syahid and ummatipress… 🙂 🙂
    artikel yg bagus tuk mencerahkan kita semua,dan terutama sekali para kaum sa-wah, 😀 agar go back to aswaja… :mrgreen:

  33. Ulama’ Salaf bersikap tafwidh…..(imrroruhaa kamaa jaa’at ).
    Ulama’ khalaf menggabungkan tafwidh dengan takwil supaya tidak terjebak dalam ta’thil maupun takyif / tajsim…..

    Wahabi : menolak tasybih, takwil, ta’thil, tafwidh….karepe opo ? Ya jelas tajsim lah….

    Sejauh yang saya baca, konsep ta’wil muncul di kalangan khalaf, dan khalaf yang sholih tidak ada yang menolaknya ( An Nawawi, Ibn Katsir, Ibn Hajar, dst… ).

    Hanya khalaf tholih al wahhabiyyah yang menolak takwil…dasar ahli fitnah

    1. “Kullu mu’athil musyabbih”, yaitu setiap orang yang menolak sifat Allah, mereka juga adalah orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk (melakukan tasybih). Karena takut menyerupakan Allah, akhirnya mereka menolak sifat Allah.

      1. Naaa ini orang belum pernah baca Fathul Bari di Kitab Tauhid, bagaimana ada golongan yang “mu’athhil”, di satu sisi ada golongan yang “mutsbit hingga melampaui batas jadi mujassim” . Sok baca dulu ulasan Imam Ibnu Hajar…atau jangan2 Wahabi anti ibnu hajar karena sudah di vonis menyimpang aqidahnya oleh syek2 whabaiyah

        1. Golongan salaf ahlussunnah waljama’ah berada di tengah2, tidak mu’athil dan tidak mujassim. Yang menuduh mereka mujassim adalah kaum jahmiyah.

  34. assalamualaikum warohmatuloohi wabarokatuh.

    “Asariyahh gadungan yang semoga diberikan hidayah oleh Alloh subhanahu wata’ala”

    saya sudah membaca artikel ini dari awal hingga akhir, namun saya tidak menemukan sama sekali hadits atau firman Alloh ta’ala yang mengguatkan bahwa Alloh BERSEMAYAM DIMANA-MANA, yang saya pahami adalah dimanapun saya berada Alloh pasti melihat apa yang saya lakukan BUKAN BERARTI disitu ada saya disitu pula Alloh bersemayam,

    namun Alloh mempunyai tempat BERSEMAYAM yang sangat mulia yaitu ARSY-NYA yang berada dilangit yang telah disepakati oleh PARA ULAMA TERDAHULU, PARA MUJADID, PARA MUFASSIRIN, PARA KAFIR
    ATAU BAHKAN PARA PEMALSU HADITS SEKALIPUN,

    bahkan mereka para pemalsu hadits pun mengakui dan takut kepada Alloh bahwa benar Alloh bersemayam di atas Arsy-Nya, sudah ada banyak dalil bukan hanya hadits dan Alloh juga yang mengatakan demikian di dalam kitabnya.

    TOLONG tunjukan bukti hadits dan Alquran yang menunjukan Alloh besemayam dimana-mana (ketika saya hendak buang hajat atau BAB, ketika saya buang air kecil, apakah bersemayam disitu ???ini yang saya tanya kepada assairoh gadungan?!!

    ada pun yang saya pahami Alloh melihat dan menjaga saya dimana saja saya berada. BUKAN BERARTI Alloh bersemayam dimana saja saya berada…!!!!

    artkel bantahan anda ini mengguatkan akan kebodohan dan kedengkian anda kepada Islam secara KAFFAH…

    tidak ada bedanya akidah anda dengan Abu Salafi gadungan itu…

    wallahu’alam

    wassalmualaikum warohmatullohi wabarokatuh

    1. Ngakunya sudah baca artikel dari awal hingga akhir, kok masih belum paham? koment-nya kok mencerminkan antum belum baca artikel di atas?

      Artikel di atas adalah fakta yg membongkar kedustaan Firanda, ternyata Firanda berdalil dg dalil palsu dan dusta, antum paham?

      1. tolong tunjukan buktinya? Hadits atau Alquran bahwa Alloh bersemayam dimana-mana..

        yang saya pahami Alloh melihat dan menjaga saya dimana saja saya berada, BUKAN BERARTI Alloh bersemayam dimana saja saya berada..?

        bahkan pendusta hadits pun percaya Alloh bersemayam di atas ARSY-NYA di langit.

        UDAH BACA KOMENTAR SAYA DIATAS KO MASIH GAK NGERTI SAYA MINTA DALIL YANG MENUNJUKAN ALLOH TA’ALA BERSEMAYAM DIMANA-MANA.

        kebanyakan denger musik ay ting” kali nih.,

        makanya MAS, MBAK, Alqur’an itu di tadaburi isi kandungannya
        BUKAN MALAH DIJADIIN JIMAT>>> 😆

        wong ustad Firanda membantah tidak bolehnya sholat di masjid ada kuburannya….ehhhhh si dia malah memalingkan topik Alloh bersemayam dimana-manam, agar tidak keliatan belangnya…ckckckckckckc…

        ilmiah mas bukan napsuuu

  35. dianth:
    Sifat Allah melihat dan mendengar itu tidak membutuhkan indra.

    Sedangkan manusia membutuhkan indra.

    Maha suci Allah dari membutuhkan Indra.

    mendengar dan melihat bukan jisim, yang jisim itu telinga dan mata. Bisakah anda membedakannya?

    Baik, mari kita teruskan.

    Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Nashr dan Muhammad bin Yuunus An-Nasaa’iy secara makna, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yaziid Al-Muqri’ : Telah menceritakan kepada kami Harmalah, yaitu Ibnu ‘Imraan : Telah menceritakan kepadaku Abu Yuunus Sulaim bin Jubair maulaa Abu Hurairah, ia berkata : Aku mendengar Abu Hurairah membaca ayat ini :

    ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya’ hingga firman-Nya ta’ala : ‘Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ (QS. An-Nisaa’ : 58).

    Ia (Abu Hurairah) berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meletakkan ibu jarinya pada telinganya, dan jari telunjuknya ke matanya”.

    Abu Hurairah berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat itu seraya meletakkan kedua jarinya tersebut”.

    Ibnu Yuunus berkata : Berkata Al-Muqri’ : “Yaitu, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, yaitu Allah mempunyai pendengaran dan penglihatan”.

    Abu Daawud berkata : “Hadits ini merupakan bantahan terhadap sekte Jahmiyyah”

    [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4728; dishahihkan sanadnya oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Abi Daawud 3/156].

    Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Juwairiyyah, dari Naafi’, dari ‘Abdullah (bin ‘Umar), ia berkata :
    Disebutkan Dajjaal di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

    lalu beliau bersabda :
    “Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi dari kalian. Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah matanya– lalu beliau berisyarat dengan tangannya ke matanya – .

    Dan bahwasannya Al-Masiih Ad-Dajjaal itu buta sebelah matanya yang kanan seakan-akan matanya itu seperti buah anggur yang mengapung (menonjol keluar)”
    [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 7407].

    Apakah Anda menuduh Rasulullah mujassim?

    Sifat pertama dalam sifat 20 adalah Wujud. Ini adalah sifat makhluk, karena wujud jelas menunjukkan jisim. Menurut kriteria kalian, sifat ini tidak layak bagi Allah karena menunjukkan jisim. Kenapa bisa menjadi sifat pertama?

    1. Abdullah asal terjemah saja ente….baca dulu Fathul Bari bagaimana penjelasan Ibnu Hajar tentang hadits tersebut……saya sudah pernah tulis di blognya mas jundu muhammad, saya nukil dikit buat ente yang tidak mau baca kecuali referensi wahabi.

      …….( hingga Ibnu Hajar menukil pernyataan al Baihaqi …)

      “ As Samii’ “ berarti Dia memiliki Sama’ ( pendengaran ) yang mampu menjangkau segala sesuatu yang terdengar , dan “al Bashiir “ berarti Dia memiliki bashor ( pandangan ) yang mampu menjangkau segala yang terlihat…dan masing-masing sifat itu adalah sifat dzat-Nya….

      ……( hingga sampai pada pernyataan al Baihaqi tentang hadits yang dinukil oleh Ibnu Katsir di dalam QS. An Nisa’ : 58 ) ….

      “Nabi SAAW menghendaki dengan isyarat ini –yakni menunjuk pada telinga dan mata—menyatakan penetapan sama’ dan bashor bagi Allah SWT dengan menjelaskan tempat keduanya pada manusia….
      ….(hingga pernyataan al Baihaqi ) …

      “ Dan Nabi SAAW tidak lah menghendaki dengan isyaratnya itu bahwa Allah memiliki anggota tubuh ( al jarihah ) sebab Allah SWT itu Maha Suci ( munazzah / tanzih ) dari keserupaan dengan para makhluq “ .
      ( Teks lengkap silakan rujuk Fathul Bari, Kitab Tauhid, Bab “Wa Kaanallaahu Samii’an Bashiiron”, Juz 14 : 317 , terbitan Darul Kutub, Lebanon, 2009 ).

      Sebagai tambahan keterangan, silakan difahami pernyataan Imamul Muhadditsiin Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fathul Bari, Kitab Tauhid, bagian akhir Bab “ Wa Litushna’a ‘Ala ‘Aini “ .

      “ …Saya pernah ditanya tentang bolehkan orang yang membaca hadits-hadits – yang secara dzohir mengesankan adanya tajsim – seraya melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAAW – yakni menunjuk pada bagian-bagian tubuh tertentu—maka saya ( Ibnu Hajar ) menjawab : Jika pembaca hadits itu berada ditengah-tengah orang-orang yang memiliki I’tiqod yang sama dengannya dalam men-sucikan ( tanzih ) Allah SWT dari sifat-sifat huduts ( baru ) , serta berniat mencontoh Nabi SAAW saja, maka hal itu boleh. Namun sebaiknya tidak dilakukan , sebab ditakutkan akan memasukkan syubhat tasybih ( menyerupakan Allah dengan makhluq ) kepada orang-orang yang melihatnya… “. ( Fathul Bari 14 : 333 ).

      Ayo Dul jangan taklid buta dan asal terjemah saja ente Dulah

    2. Abdullah asal terjemah saja ente….baca dulu Fathul Bari bagaimana penjelasan Ibnu Hajar tentang hadits tersebut……saya sudah pernah tulis di blognya mas jundu muhammad, saya nukil dikit buat ente yang tidak mau baca kecuali referensi wahabi.

      …….( hingga Ibnu Hajar menukil pernyataan al Baihaqi …)

      “ As Samii’ “ berarti Dia memiliki Sama’ ( pendengaran ) yang mampu menjangkau segala sesuatu yang terdengar , dan “al Bashiir “ berarti Dia memiliki bashor ( pandangan ) yang mampu menjangkau segala yang terlihat…dan masing-masing sifat itu adalah sifat dzat-Nya….

      ……( hingga sampai pada pernyataan al Baihaqi tentang hadits yang dinukil oleh Ibnu Katsir di dalam QS. An Nisa’ : 58 ) ….

      “Nabi SAAW menghendaki dengan isyarat ini –yakni menunjuk pada telinga dan mata—menyatakan penetapan sama’ dan bashor bagi Allah SWT dengan menjelaskan tempat keduanya pada manusia….
      ….(hingga pernyataan al Baihaqi ) …

      “ Dan Nabi SAAW tidak lah menghendaki dengan isyaratnya itu bahwa Allah memiliki anggota tubuh ( al jarihah ) sebab Allah SWT itu Maha Suci ( munazzah / tanzih ) dari keserupaan dengan para makhluq “ .
      ( Teks lengkap silakan rujuk Fathul Bari, Kitab Tauhid, Bab “Wa Kaanallaahu Samii’an Bashiiron”, Juz 14 : 317 , terbitan Darul Kutub, Lebanon, 2009 ).

      Sebagai tambahan keterangan, silakan difahami pernyataan Imamul Muhadditsiin Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fathul Bari, Kitab Tauhid, bagian akhir Bab “ Wa Litushna’a ‘Ala ‘Aini “ .

      “ …Saya pernah ditanya tentang bolehkan orang yang membaca hadits-hadits – yang secara dzohir mengesankan adanya tajsim – seraya melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAAW – yakni menunjuk pada bagian-bagian tubuh tertentu—maka saya ( Ibnu Hajar ) menjawab : Jika pembaca hadits itu berada ditengah-tengah orang-orang yang memiliki I’tiqod yang sama dengannya dalam men-sucikan ( tanzih ) Allah SWT dari sifat-sifat huduts ( baru ) , serta berniat mencontoh Nabi SAAW saja, maka hal itu boleh. Namun sebaiknya tidak dilakukan , sebab ditakutkan akan memasukkan syubhat tasybih ( menyerupakan Allah dengan makhluq ) kepada orang-orang yang melihatnya… “. ( Fathul Bari 14 : 333 ).

      Ayo Dul jangan taklid buta dan asal terjemah saja ente Dulah

  36. @Ahmad, perkataan antum ..TOLONG tunjukan bukti hadits dan Alquran yang menunjukan Alloh besemayam dimana-mana (ketika saya hendak buang hajat atau BAB, ketika saya buang air kecil, apakah bersemayam disitu ???ini yang saya tanya kepada assairoh gadungan?!!!!!! ente mau menggiring pemikiran kami kesana,, nggak lah yau!!!itu paham ente…Alloh mempunyai tempat BERSEMAYAM yang sangat mulia yaitu ARSY-NYA yang berada dilangit yang telah disepakati oleh PARA ULAMA TERDAHULU, PARA MUJADID, PARA MUFASSIRIN, PARA KAFIR
    ATAU BAHKAN PARA PEMALSU HADITS SEKALIPUN,
    ASWAJA berkata Allah SWT ada dan Allah itu tdk butuh tempat, masa Allah yg menciptakan mahluk butuh mahluk untuk bersemayamnya??? aduh ente..
    dan kami ASWAJA tidak mengatakan Allah dimana2 ya, Kekuasaan Allah itu meliputi segalanya,,,,,,ente paham??? makanya jangan ngarang dulu ya, masa ente Berpikir Allah di WC, dangkal bener otak ente…sy sarankan kalau otak ente dangkal,, gunakan hati ente!!! wajar org2 Sa-wah hatinya Pada mati, pd menolak zikir semuanya!!!

  37. saya juga tidak menemukan artikel diatas dalil bahwa Alloh ada tanpa tempat, ini sama saja tidak mengakui ada Alloh…

    tuuuuukaan lagi-lagi abu salafy gadungan ini memalingkan topik menuduh saya berpamah Alloh ada dimana-mana…ckakakakckckck

    dengan bangga dan tanpa dalil atau Alquran si gadungan ini nyebut Alloh ada tanpa tempat..kckckckcck

    Minta Dalil saya yang menunjukan Alloh ada tanpa tempat….

    1. Wahabi seperti dia ini emang gak mudengan makanya bodo terus-terusan, entah sampai kapan. Mungkin kalau hatinya sedikit agak melunak insyaallah nalar jadi encer dan akhirnya gampang dalam memahami kalimat. Duh kasihan ya?

      1. Wahabi tidak bodo, hanya dibutakan matahatinya karena menganggap dirinya paling benar hingga tidak mau membaca referensi dan tulisan orang lain secara lengkap jadinya salah tangkap

        1. hanya referensi kajian yang dibatasi oleh orang yang merasa mempunyai kepentingan tertentu (red.:politik) sehingga mereka seakan2 bodo walau sejujurnya tidak demikian. maka bukalah mata hati dan pikiran serta carilah guru yang terpercaya secara jalur dan ahlak.

          contoh rahib galeleo dihukum mati oleh para rahib karena keterbatasan referensi para rahib tentang alam raya, maka menjadi keharusan kita mengkaji semua referensi pengetahuan dan selalu disndarkan pada Al Karim dan Assunnah dengan bimbingan guru.

  38. qi qi qi para muqollid buta firanha beuneur kelimpungan bingung . Mau bilang iya berarti si firanha yg di taqlidi itu ternyata pendusta
    mau bantah pun kagak mungkin , , masa kebenaran + bukti2 nya bisa di bantah , , ,
    kasian kasian kasian

  39. maaf ya akhi Juman, komentar ana sedikit pun tidak memperolok-olok antum apalagi sampai ngatain antum bodo.

    komentar ane pada awalnya:
    “Asariyahh gadungan yang semoga diberikan hidayah oleh Alloh subhanahu wata’ala”

    bahkan ane mendoakan ente supaya mendapat hidayah, dan ruju kepada pemahaman Abul Musa Al-assyari yang beliau sendiri melepas pemahaman nya sebagaimana beliau melepas bajunya… SEMOGA ANTUM BACA DAN TAU SEJARAH ITU.

    anda, saya, kamu, dia, mereka, muslim dan muslimah adalah saudara.

  40. sambil ngopi, duduk..buka file2 lama lalu..
    ane baca penjelasan para imam tentang hal ini,..duh serasa mantab di hati, imam ghozali..

    “Pokok ke empat; Adalah mengetahui bahwa Allah bukan benda yang memiliki tempat. Dia maha suci dari dibatasi oleh tempat. Arguman atas ini adalah bahwa setiap benda itu pasti memiliki tempat, dengan demikian ia membutuhkan kepada yang mengkhususkannya dalam tempat tersebut. Juga sesuatu yang bertempat itu tidak lepas dari dua keadaan; menetap pada tempatnya tersebut atau bergerak pindah dari satu tempat ke tempat alinnya. Dan kedua sifat ini jelas merupakan sifat-sifat dari sesuatu yang baharu. Dan sesuatu yang tidak lepas dari kebaharuan maka berarti sesuatu tersebut adalah sesuatu yang baharu” (Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 1, h. 127).

    indah nya beliau menjelaskan,..

    “Pokok ke tujuh; adalah berkeyakinan bahwa Dzat Allah suci dari bertempat pada suatu arah. Karena arah tidak lepas dari salah satu yang enam; atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang. Arah-arah tersebut diciptakan oleh Allah denga jalan penciptaan manusia.

    Allah menciptakan manusia dengan dua bagian; bagian yang megarah ke bumi yaitu bagian kakinya, dan bagian yang berlawanan dengannya yaitu bagian kepalanya. Dengan adanya pembagian ini maka terjadilah arah, bagian ke arah kakinya disebut bawah dan bagian ke arah kepalanya disebut atas. Demikian pula seekor semut yang merayap terbalik di atas langit-langit rumah, walaupun dlaam pandangan kita tubuhnya terbalik, namun baginya arah atasnya adalah bagian yang ke arah kepalanya dan bagian bawahnya adalah adalah bagian yang ke arah bawahnya.

    Pada manusia kemudian Allah menciptakan dua tangan, yang pada umumnya salah satunya memiliki kekuatan lebih atas lainnya. Maka terjadilah penamaan bagi tangan yang memiliki kekuatan lebih sebagai tangan kanan. Sementara tangan bagian lainnya yang yang berlawanan dengannya disebut dengan tangan kiri. Juga Allah menciptakan bagi manusia tersebut dua bagian bagi arah badanya; bagian yang ia lihat dan ia tuju dengan bergerak kepadanya, dan bagian yang berada pada sebaliknya. Bagian yang pertama disebut arah depan semantara yang bagian sebaliknya disebut dengan arah belakang” (Ihya ‘Ulumiddin, j. 1, h. 128).

    terasa mantab di jiwa…

    imam assyafii: “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).

    serasa indah mengalun di relung hati,..

    “Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat.

    Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh
    dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua.

    Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (imam assyafii,al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

    Subhanallah,…

  41. maksud nya apa…?@ahmad
    apa yg ente maksudkan? terangkanlah,..seterang rembulan purnama..he..he
    yg mana..coba..nte kurang faham,jika ane tahu ane kasih tahu ente,
    jika ane nggak faham ntar ane bilang,..yg mana..

  42. بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

    Dengan nama-Mu, ya Allah, aku mati dan hidup. (HR. Al-Bukhari)

    tidur dulu akhi..udah malem nih..

  43. ane buka link nya mas imam nawawi,spt yg di bilang mas ahmad,..
    ada penjelasan lainnya yg bagus banget,:

    Rasulullah bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

    Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
    Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
    “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Firaq, hal. 333).

    Al-Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitabnya al-Asma Wa ash-Shifat, hal. 506, berkata:
    “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah:
    “Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.
    Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:
    “Engkaulah ya Allah yang tidak diliputi oleh tempat”. (Diriwayatkan oleh al-Hafizh az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al-Bayt; keturunan Rasulullah).dst..dst..

    sama bagus nya,..Subhanallah,…
    semoga Allah memberikan kebaikan dan keberkahan yg banyak pd mas imam nawawi ini,…

  44. Bukankah kalian mengimani bahwa Allah itu ada?
    Bukankah Kata ada berarti menunjukkan tempat? Misalkan bukan ada tafsir apa kata ada di sini.

    Ada yang bilang dari golongan kalian bahwa Allah ada tanpa tempat. Maksudnya apa lagi ini, susah di nalar. ada tapi tanpa tempat.
    Ada yang bilang Allah dekat dengan kaum muslimin. Yang di maksud sudah bertemu Allah di dunia ini, tidak di akhirat saja.
    Coba bayangkan kaum muslimin jumlahnya jutaan bahkan sampai milyaran. jelas ini berarti Allah ada di setiap kaum muslimin. kaum muslimin tersebar di penjuru dunia. sesuai dengan pernyataan kalian

    Lihat terjadi kontroversi dalam hal ini, tidak jelas.

    1. Abu Umar@

      Kok ada sih tempat bagi Allah Swt? Kok muat gitu lho Abu Umar, bukankah Allah itu Maha Besar (Allohu Akbar), artinya Maha Besar adalah Besar tanpa batas, itu jika diartikan secara Jisim sebagaimana pemahaman Wahabi lho? Sedangkan TEMPAT adalah makhluk yg terbatas, kalau Allah Swt bertempat berarti tidak Maha Besar lagi dong? Wallohu a’lam….

      1. si Abu Umar emang ga ilmiyah, ustadz

        Dalam al-Quran jelas2 dinyatakan bhw jika hamba2 Allah bertanya tentang Allah, maka jawablah bhw Allah itu dekat. Tetapi dkt di sini tak bisa dimaknai secara tekstual. Tapi dasar otak mujassim, nafsirinnya begitu deh.

        Seandainya saat ini saya blm melihat Allah, tentu saya tdk akan menyembah-Nya. Apa nalarnya Abu Umar itu dpt memahami perkataan saya yg ini ya?

        1. tuh diant bilang, di dunia sudah bertemu Allah. karena dekatnya itu. Aneh bin ajaib. Lihat tuh bani israel langsung mati mau melihat Allah.

          1. Abu Umar, antum salah paham abu Umar, silahkan tanya lagi sama Mas Dianth. Atau antum sengaja memelintir pengertiannya? Kalau antum sdang shalat itu apa artinya, para ulama mengatakan shalat itu bertemu dg Allah swt. Wallohu a’lam.

          2. Antum ga pernah baca bahwa Rasul bilang shalat itu mi’rajnya Mu`min?
            Antum ga tau bahwa ketika shalat, kita ga boleh meludah ke depan, karena kita sedang berhadapan dg Allah, kita sedang berdialog dg Allah?

          3. Apakah antum melihat Allah? ente Sholat menghadap di Ka’bah, ente sholat mengahadap Allah, berarti Allah berada di Ka’bah? berarti Allah bertempat.

          4. ga bisa jawab saja menuduh orang. jawab tuh. begitu kok mau mencari kebenaran. kalau ente ane tuduh mu’tazilah atau jahmiyah apa ente paham.

          5. Jangankan ngeliat ka’bah, lah wong sholat di menara masjid aja belum tentu keliatan itu ka’bah.

            Dul, tak perlu melihat ka’bah, melihat semut aja, ane bisa ngeliat Allah. bingung lagi ‘kan?
            hahahaha

          6. bukan ane yang bingung. tapi ente yang mabok. Bani Israel mati lho, mau melihat Allah. Nabi musa saja jatuh pinsang karena tak mampu melihat Dzat Allah, gunung2 meletus ga kuat untuk melihat Allah. Ente itu aneh masa bisa melihat Allah. Sudah kelihat pemahaman itu RUSAK.
            ooo.. makanya ga aneh orang sufi bilang, hatiku menceritakanku dari Allah.

    2. Golongan kalian tuh kontoversi bilang ada tanpa tempat, ada yang bilang Allah itu dekat dengan kaum muslimin (cek pekataan dianth) dan sejenisnya.

      1. kontroversi itu terjadi kalo yg nalar adalah orang mujassim seperti Anda.
        emangnya Anda belum bertemu Allah? Anda belum pernah melihat Allah?

        Sekarang saya tanya sama Anda, Anda bilang bahwa Allah berada di langit (textually) dan di kesempatan lain Anda bilang bahwa Allah berada di ‘arsy (textually). Mana yg benar menurut i’tiqad Anda? Allah berada di langit atau di ‘arsy? Tetapi jika kalimat2 itu tidak dimaknai secara tekstual, maka tak ada kontroversi.

        untuk membantu otak mujassim Anda berfikir, coba jawab, mana yg lebih besar, langit k7, kursi, atau ‘arsy?
        Jawab, ga pake muter2 :mrgreen:

        1. Ga usah muter2 ke permasalahan lain, jawab tuh pertanyaan ane. Anda meyakini Allah itu ada? trus ada dimana? Jawab itu dulu. Jangan mengalihkan ke yang lain.

          1. dah dijawab dul
            Allah itu dekat, sekarang jawab pertanyaan saya
            mana yg lebih besar?
            Anda takut sekali rupanya menjawab hal itu

          2. hahaha
            ente ga bisa jawab ya dul
            ilmunya kurang seh
            kursi itu lebih besar dari langit, dan ‘arsy itu lebih besar dari kursi
            sekarang apa jawaban ente?

          3. qs;tohaa,5.yang maha pemurah di atas arsy nya.itulah pernyataan alloh atas keberadaanya.
            sementara rosullulloh juga mengatakan kalau alloh ada di atas langit.bukan di langit.

      2. Abu Umar…., dari kata-kata antum itu tercermin sangat jelas bahwa antum menjisimkan Allah Swt. Demikian juga orang2 Wahabi berpemahaman seperti antum. Tapi anehnya kenapa kalian tidak terima ketika disebut Mujassim? Awas hati-hati, Ulama Ahlussunnah mengkafirkan i’tikqad tajsim/mujassim.

        Sebenarnya antum-antum itu mengerti dg apa yang kalian katakan apa tidak sih, Abu Umar?

        1. Allah itu tidak serupa dengan makhuk-Nya. bagaimana kata2 tersebut menyamakan dengan makhluk-Nya. Dah gini aja balik ke pertanyaan awal jangan meloncat2 seleseikan dulu permasalahan itu dul. Ada meyakini Allah ada? trus ada dimana?

          1. kata dekat itu menunjukkan tempat apa tidak? kalau kata dekat tidak menunjukkan tempat, trus dekat itu apa maksudnya?

  45. hehehe
    si Umar ngatain ane mabok
    padahal dia yg lagi teler
    aduh…. sudah tidak tertolong lagi

    memang agak susah ngomongin ketuhanan ama materialis

  46. Abdullah:

    Sifat pertama dalam sifat 20 adalah Wujud. Ini adalah sifat makhluk, karena wujud jelas menunjukkan jisim. Menurut kriteria kalian, sifat ini tidak layak bagi Allah karena menunjukkan jisim. Kenapa bisa menjadi sifat pertama?

    Kayaknye antum perlu belajar lagi kitab dasar Tauhid SIFAT 20… 😆
    TAKRIF WUJUD
    Wujud ialah satu hal ataupun keadaan yang wajib bagi zat selama mana ianya ada , dan hal ataupun keadaan ini tidak mempunyai sebab bagi wujudnya .

    HUKUM
    Wajib syara’ keatas semua mukallaf beri’tikad yakin seratus peratus bahwa ALLAH s.w.t itu wujud (ada) dan wajib kita nafikan sifat ‘adam ( tiada ) dari zat ALLAH . Wujud ALLAH tidak sama dengan wujud kita ini karena wujud ALLAH tidak didahului oleh tiada dan tidak dihubungi oleh tiada . Adapun wujud kita ini , ialah didahului oleh tiada dan dihubungi oleh tiada juga .

    1. makhluq itu tidak ada dan tidak pernah ada
      Ada dan diadakan itu berbeda
      sama seperti berdiri dg didirikan
      orang yg didirikan, haqiqatnya tdk berdiri
      ia ditopang oleh yg mendirikannya
      Allah itu Yang Wujud, tidak ada Yang Wujud secara haqiqi, kecuali Allah

      1. Ente itu jawabnya nglantur g jelas.. Dasar orang sufi. semua di pake ungkapan..
        Sama halnya itu kaya agama budha:
        Isi adalah kosong, kosong adalah isi..
        Huahahaha, pengen ketawa deh… huahahaha..
        Apaan2 coba?

          1. pelan2 mas AI mengajari orang yang mempunyai ghiroh dinnul islam. mereka selalu merasa paling benar, sangat jauh dari sifat salafussaleh, selalu menjaga hati.

  47. Saya heran sama abu umar, ibnu ini itu, mereka yg terlalu
    inter or saya yg terlalu bodoh yah? di kantor saya dicibir n dicap sebagai Abu Syibr, dibilang ane baru keluar dr pesantren ? Abu Syibr=org yg dangkal ilmunya, memang bener ane dangkal nih, setelah banyak membaca artikel2 dari firanda.com, forum2 wahabi, juga dari MR, FPI, ustadz Arifin Ilham, ummati, artikelislam, mengenai Alloh SWT ada tanpa tempat dan ada di Arsy, ane dah bener2 ngudeng mana yg ane bisa sangat mengerti akan keberadaan Alloh SWT, ane yakin Alloh SWT ada tanpa tempat sesuai penjelasan detil, ilmiah, sesuai sanad dari Hadits Shahih, dan tidak terputus, mungkin ane memang awalnya masih dangkal n bodoh x yah, jadi bisa cepet ngerti, sedangkan dari rekan2 wahabi, dah terlalu pinter, merasa sangat pinter, jadinya yah otaknya membatu , pemAhaman mereka itu itu aja…Astaghfirulloh….maaf kalo kata2 saya banyak yg kurang sopan

      1. Apa dalilnya bhw Wujud itu mewajibkan tempat?
        Kalo ga dalilnya…
        Hehehe, mohonmaaf.com kalo kami menolak pemahaman Anda

      2. kapasitas saya disini masih nubie alias masih dangkal, dah dijelaskan semua oleh sahabat2 ummati, Mas Syahid, Mas Dianth dll, saya masih bodoh kang mas abu umar, makanya baiknya kang mas abu umar baca lagi, kalo tdk paham juga n msh membatu dg pemahaman kang mas dari guru kang mas aja yaaah sampe kapanpun juga ga ngerti2 , inget mas ada org pinter, ada banyak lg yg lebih pinter, ada guru, adanyak lg yg lebih guru, jgn cuma itu2 aja kang mas, diajafrin oh paham, paham, logikanya masuk, temen2 saya sendiri yg wahabi bilang ajaran wahabi sesuai dg logika mereka…

  48. kang abu umar kenapa ngotot harus ada pertanyaan dimana alloh. apa pentingnya sih pertanyaan dimana alloh
    setiap orang kalo ditanya dimana alloh pasti ngak bisa jawab, karena alloh ada tanpa tempat dan arah sedangkan pertanyaan dimana itu pertannyaan menuju ketempat
    jadi pemikirannya harus diperbaikinya udah anda yakini aja alloh ada kalo ada yang nanya dimana jawab aja ngak tau

      1. @abu umar
        Ust AI dah jawb pertanyaan antum, Allah amat dekat dengan hamba-Nya, dlilnya jelas. pertnyaan antum itu tidak lain wujud dari akidah mujassim yang antum pegang. coba deh merenung sedikit, baca lagi dalil2 tentng keberadaan ALlah. klok cm pake ayat ttg isawa’ n gk d korelasikn dngan hadis2 nabi tentu akan kacau maknanya.

          1. Maklumlah, Abu Umar ini nalarnya masih kelas TK atau Pemula. Para Wahabiyyin yg lainnya juga sama, alur berpikirnya juga masih kelas TK, mulai sejak Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab sampai kroco-kroconyanya hingga zaman sekarang. Ketika alur pemikirannya sudah meningkat pastilah mereka akan sadar atas kekeliruannya dan Insyaallah akan bertobat kembali ke pemahaman Aswaja.

            Banyak Para Wahabiyyin yg tobat kok ketika cara berpikirnya sudah naik kelas sehingga bisa berpikit tertib. Semoga para Wahabiyyin yg punya hati jernih segera meningkat naik kelas cara mikirnya, sehingga hidayah turun kepadamereka, amin….

            Ada baiknya orang-orang yg punya alur nalar yg ditularkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bisa membaca link yg dikasih abah asra di bawah, agar cara berpikirnya segera naik kelas. Ini link-nya: http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34289/Warta/Gus_Mus__Beragama_Seperti_Anak_Sekolahan.html

  49. Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah meraa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku. ( QS Al-Mulk : 16-17).

    1. @abu umar
      Inget waktu kecil, selepas ane shalat ane berdoa, ane angkat tangan tinggi2 dan kepala ane dongak keatas, waktu itu ane pikir Allah diatas (Langit), eh sekarang ane gak begitu lagi, ane tundukin kepala n tangan ane gak usah angkat tinggi2, eh sekarang lebih makbul bisa menangis kalau doa.

      1. Ente itu sekarang doa bagaimana? apakah menunduk, menungging, menusuk, menoleh kesamping, atau bagaimana kek, katane Allah dekat? ya ga?

        1. @abu umar
          “Banyaklah kamu berdoa dikala sujud, karena saat itulah Allah sangat dekat dengan hambanya” (HR Bukhari).
          Nah disini siapa yang nyamperin Allah atau Hambanya?.

    1. kyakx abu umar pengen ngejebak dengan pertanyaannya “Ente berkeyakinan Allah itu wujud kan? trus wujud-Nya dimana?” agar orang berfikir ttg jisim Allah.

      1. amr says:
        October 12, 2011 at 12:38 pm

        kyakx abu umar pengen ngejebak dengan pertanyaannya “Ente berkeyakinan Allah itu wujud kan? trus wujud-Nya dimana?” agar orang berfikir ttg jisim Allah.

        Sifat 20 ada sifat Wujud lho..

        Wujud-Nya dimana? Ada wujud-Nya kan?

    1. Abu Umar apa kabarnya? masih belumpahamkah bila Allah tidakbertempat dan berarah ? kenapa….kan dalil-dalilnya udah jelas…. Allah itu kan Yang Awal, artinya tidak berawal, sedangkan tempat dan arah berawal atau tidak?

    2. Abu Umar apa kabarnya? masih belum pahamkah bila Allah tidak bertempat dan berarah ? kenapa….kan dalil-dalilnya udah jelas…. Allah itu kan Yang Awal, artinya tidak berawal, sedangkan tempat dan arah berawal atau tidak? tentu berawal. Allah Sendiri tidak ada selainNYa, tentulah tidak ada arah dan tempat baginya.

        1. he he he…apakah abu umar percaya segala sesuatu itu ciptaan Allah ?

          Ciptaan Allah itu wujud karena Allah menciptakannya. Percayakah? Apakah sekarang Allah berhenti mencipta…. ataukah kita sekarang ini ada karena Allah selalu menciptakan ciptaannya?

  50. Allah itu dekat. Itu ada di Qur’an
    Kemanapun kamu menghadap, kamu akan mendapati Wajah Allah. Itu ada di Qur’an.
    Apakah bagi Anda, hal itu bisa dimaknai secara tekstual begitu saja?

  51. Katanya Kemanapun kamu menghadap, kamu akan mendapati Wajah Allah.
    Kamu mau menghadap kemana?, katanya Allah tidak bertempat dan tidak berarah.

  52. orang mujassim dan materialis tak paham arti Wujud
    Wujud, menurut mereka, harus berjisim dan bertempat

    ketahuilah bhw alam materi ini fana
    alam materi itu haqiqatnya tidak ada
    ini bukan filsafat, tetapi ilmiah
    apakah setiap yg Anda liat itu sudah pasti wujud secara haqiqi?
    Apakah anda tak pernah bermimpi?
    Betapa parahnya kerusakan pemahaman anda

      1. Ane tau mujassim. tapi menurut ente itu apa mujassim itu? jangan2 ane nyubut ente mu’yazilah dan jahmiyah ente kagak tau?

  53. kalau semua kau artikan secara tekstual, maka bagaimana dg ‘Allah berada di hati orang Mu-min’? Atau ‘Allah melupakan orang2 kafir’? Atau ‘Allah bersama kita’? Apa itu juga diartikan secara tekstual?

  54. Abu Umar, apakah wujud alam ini stelah diciptakan Allah, terus wujud dengan sendirinya ataukah tergantung pada perbuatan Allah untuk mewujudkannya?

  55. abu umar tak paham makna kalimat tauhid
    bahkan ia berkata bhw Allah bersemayam di atas ‘arsy
    kadang kala ia berkata bhw Allah berada di langit secara tekstual
    ini jelas paham mujassimah
    keadaannya sungguh parah
    aku tak tau jika ada wahhabi yg mau membelanya

      1. atas dasar apa Anda berkata seperti itu?
        Adakah wahhabi selain Anda yg mengartikan istiwa dg ‘bersemayam’?
        Adakah wahhabi selain Anda yg mengatakan bhw ada yang wujud secara haqiqi selain Allah?

        1. Istiwa dalam bahasa arab memang tidak bisa di artikan dengan bersemayam. bersemayam itu salah kaprah. jelas. Tapi paham betuh bahwa Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy. Sekarang ane tanya balik. Ente itu sekarang wujud apa tidak?

      2. abu umar, anda terlalu vulgar mempertontonkan diri anda sesungguhnya
        sehingga orang dg mudah mengenali Anda sebagai seorang mujassim dan musyabbih

      3. Kalau ana di depan antum Abu Umar, supaya antum naik kelas sehingga mudah dalam memahami maslah ini maka ana tendang antum sampai ke langit tempat dewa Sun Go Kong bersemayam. Apakah pemikiran Wahabi-Wahabi seperti kalian diilhami oleh cerita Sun Go Kong?

          1. Abu Umar@

            Wahabi yg berkeyakinan Allah di langit kok masih berkelit, kan mirip tuhannya Sun Go Kong? Pernah lihat cerita kungfu Sun Go Kong, lihatlah menggambarkan tuhannya seperti keyakinan/keimanan Wahabi Tuhan di langit? Ayo masih terus berkelit berarti antum benar2 gak ngerti apa yg antum katakan sendiri, oye? Hik hik hik….

  56. ey abu umar, siapa yg lbh dkt dg Allah, orang yg sujud di lembah, atau orang yg berdiri di atas gunung tertinggi sambil menancapkan bendera?

  57. Bismillaah,

    Hanya selingan.

    Aqidah yang benar melahirkan ibadah yang benar. Mari kita cocokkan dengan ibadah shalat kita. Mari kita mulai dari gerakan shalat yang dapat dilihat oleh mata kita. Apakah gerakan shalat kita sudah benar sesuai yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam? Apakah berdiri dalam shalat kita sudah sesuai dengan berdirinya Rasulullaah dalam shalatnya.

    Wallaahu a’lam.

  58. ey abu umar, jika kau baca ayat tentang Wajah Allah, Tangan Allah dsb, apakah kau anggap ayat2 itu sbg ayat muhkamat, ataukah ayat mutasyabihat?

  59. di blog ane, orang2 yg komentarnya mulai muter2 ky keledai di penggilingan udah ane tendang.
    Kerjanya cuma menghabiskan energi dan waktu orang lain
    tak ada niat utk mencari kebenaran
    hanya mengikut ustadz2nya dan hawa nafsunya seperti kerbau dicocok hidungnya

  60. ey abu umar, ada orang2 yg rajin baca Qur’an, rajin shalat, rajin puasa, tetapi ketentuan mendahuluinya sbh ahlun nar, maka ketika sejengkal lagi kpd maut, ia melakukan kejahatan, dan ia mati dlm keadaan berma’siat.
    Aku khawatir bhw kau adalah salah satunya
    bertobatlah hai abu umar

  61. bukankah kau telah melihat bhw diantara orang2 spt kamu ada yg kemudian melakukan bunuh diri?
    Terlihat seperti ahlul jannah, tapi karena beraqidah melenceng dan menghina ahlus sunnah, akhirnya ia mengakhiri hidupnya dg cara ahlun naar.

  62. selepas sholat Magrib masih si abu umar belum ngudeng juga yah??? ane akuin abu umar emang lebih sangat2 pinter dari sahabat2 ummati lainnya, ane sujud n salut dg abu umar atas kepinterannya…tapi kepinteran utk kebodohannya…..kepinteran utk ga ngudengnya…kepinteran untuk muter2 nya…ga berhenti2 utk bisa mengerti…Subhanalloh….

  63. mas abu umar sy udah jawab alloh dimana? wallohu’alam saya mah kagak tau
    klo jawaban mas abu umar gimana alloh dimana?
    kalo jawab di arsy, dilangit atau dimanapun
    saya ada pertanyaan lagi
    selama arsy, langit atau apapun belum ada alloh ada dimana?
    mangga dijawab kalo bisa jawab pertanyan ke 2
    dijamin puyeng

  64. Assalamualaikum,,,
    Maaf,,, ikut-ikutan komentar,,
    Di kampungku wahabi lg berkembang biak dan yang jadi sasaran rata-rata anak muda yg pengetahuan agamanya sangat dangkal,,
    herannya kalau dia dinasehati walaupun oleh orang tuanya dia tdk akan pernah mau mendengarnya malah yang lebih cilaka lagi menganggap orang tuanya kafir,,,
    saya jadi berfikir, jangan-jangan sebelum mereka dibaiat otak merak dicuci ia agar tidak mau mendengar pendapat orang lain selain guru mereka,,
    disini jg terbukti walaupun sdh dikasih tau dalil-dalil yang shahih mereka selalu ngenyel kayak anak-anak yg tidak punya fikiran,,,
    kasihan kereka,,,

  65. Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat Hadits qudsi: –

    “Hai anak Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Ia [hamba] ber- kata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul ‘Âlamîin?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…“ (HR. Muslim,4/1990, Hadits no.2569)

    ALLAH ADA TANPA ARAH DAN TEMPAT

  66. apa Allah sakit?
    sakit Allah seperti apa?

    2 pertanyaan itu adalah contoh pertanyaan mengarah kekafiran karena mensifati Allah dengan sifat apalagi JAWABANNYA.

    ❓ 😳

  67. @abu umar
    Ane mau tanya, Langit itu apa sih?
    Kalau yang ane lihat biru diatas, merupakan lapisan-lapisan atmosfir, dimana gelombang2 air yang terkena sinar maka dia biru, setelah cahaya matahari melewati yang sangat jauh (stratosfir), maka keadaan kondisi setelahnya adalah gelap.
    Mari kita lihat ayat2 AlQur’an, langit itu apa :
    Surat A’Raad : 17 :”Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang…….”
    Surat Al Furqan :48 : “…… dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih”.
    Jadi menurut Al Qur’an langit itu awan yang terbang. Jadi bagaimana nih @abu umar?.
    Jadi dimana langit menurut ente?

  68. He…he…he…. Ikhwan Abu Umar masih ada! Masih muter2 loh. Gini ikhwan Abu Umar, sebelum ente berlanjutan diskusi mengenai Allah coba sambil2 itu cari mana tempat ROH dalam jasad manusia. ROH pasti ada dalam jasad yang hidup tapi di mana tempatnya dalam jasad kita?
    Seronok baca komen si Abu Umar….he..he…he…

    1. Ya Abang Krongthip, Abu Umar emang seronok nian. Tempat ROH aja Wahabi pada gak tau kok pada sok tahu tentang tempat bagi Allah, seronok nian ya?

  69. sampai kapanpun si abu umar ga akan ngerti n ga mau ngerrti, la wong otaknya membatu dg faham yg dicekoki oleh gurunya dg faham yg berasal dari Sang pencipta faham yg penuh dg pertumpahan darah, ada baiknya abu umar belajar sejarah lagi, siapa n apa aja yg telah terjadi sebelumnya…faham yg penuh dg pertumpahan darah dan disusupi oleh Yahudi….

  70. @abu Umar
    Anggap hujan dari langit pertama, ini langit yang keberapa?
    Firman Allah Al Mulk :5 : “Sesungguhnya kami Telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala”.
    1. Jadi langit adalah lapisan2 Atmosfir ?
    2. Apakah Allah mengawang-awang di atmosfir?

      1. @abu umar
        Ente kan disekolah pernah belajar lapisan udara kan! Ilmu pengetahuan membagi juga 7 lapisan udara : Atmosfir, Traposfir, Stratosfir, Mesosfir, Thermosfir, Ionosfir dan Eksosfir.
        Apa ini disebut Langit menurut ente?

  71. He he he…. Abu Umar gak usah ditendang sdh ngacir sendiri, gak kuat dia jika dihadapkan pada kebenaran. Anak-anak Aswaja emang OYYEE!

  72. paling lg mengumpulkan kekuatan dulu, lg laporan ke guru nya, minta bekel lg buat bikin komen2 yg muter2, lg cek ke kitab wahabinya, ada lg ga yg busa dibantah ke aswaja…ane yakin sih spt itu, kita tunggu aja, entah , mlm ini or besok

  73. abu umar @ klu ente dah kagak sanggup , , , ane harap ente bisa membawa raja ente (FIR’AUNDA) kemari , , , ane dah byangin bagai mana wajah firaunda ketika kedunguannya ke bongkar , , , kayak teletubis deh kayak nya

  74. @IZHOE………rata2 mereka nggak punya malu lebih baik ” mendebatnya ” walau nggak nyambung daripada mengakui kebenaran ………….makanya kalau diajak copydarat / ketemuan langsung mereka menolak ……………

  75. @Abu umar ……….nih contoh buat nt dari mas Imam Nawawi : DIALOG IMAM ABU HANIFAH DENGAN ATHEIS TENTANG KETUHANAN
    oleh Imam Nawawi pada 11 Oktober 2011 jam 20:05

    Imam Abu Hanifah pernah bercerita : Ada seorang ilmuwan besar, Atheis dari kalangan bangsa Romawi, dan ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu sang atheis segan bila bertemu dengannya.

    Pada suatu hari, saat manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu tiba-tiba naik mimbar dan ingin mengadakan tukar fikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Dan di antara shaf-shaf masjid bangkitlah seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah dan ketika beliau sudah berada di dekat mimbar, orang kafir itu berkata: “Saya ingin bertukar fikiran dengan anda”. Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena usia mudanya. Namun dia pun angkat bicara: “Katakan pendapat tuan!”.

    Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu terjadilah dialog antara ilmuwan Atheis dengan Imam Abu Hanifah, mari kita simak baik2 dialog ini,

    Atheis : Pada tahun berapakah Tuhanmu dilahirkan?

    Abu Hanifah : Allah berfirman: “Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan”

    Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah ada pertama yang tiada apa-apa sebelum-Nya?, Pada tahun berapa Dia ada?

    Abu Hanifah : Dia berada sebelum adanya sesuatu.

    Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan yg ada!

    Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?

    Atheis : Ya.

    Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?

    Atheis : Tidak ada angka (nol).

    Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahuluiNya?

    Atheis : Dimanakah Rabbmu berada sekarang?, sesuatu yang ada pasti ada tempatnya.

    Abu Hanifah : Tahukah tuan bagaimana air susu?, apakah di dalam air susu itu ada vitamin?

    Atheis : Ya, sudah tentu.

    Abu Hanifah : Tolong perlihatkan kepadaku di mana, di bagian mana tempatnya vitamin itu sekarang?

    Atheis : Tak ada tempat yang khusus. Vitamin itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu diseluruh bagian.

    Abu Hanifah : Kalau vitamin yang makhluk itu tidak ada tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak tuan meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah Ta’ala?, Dia tidak bertempat dan tidak ditempatkan!

    Atheis : Tunjukkan kepada kami zat Rabbmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau benda cair seperti air, atau menguap seperti gas?

    Abu Hanifah : Pernahkan tuan mendampingi orang sakit yang akan meninggal?

    Atheis : Ya, pernah.

    Abu Hanifah : Semula ia berbicara dengan tuan dan menggerak-gerakan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam tak bergerak, apa yang menimbulkan perubahan itu?

    Atheis : Kerana rohnya telah meninggalkan tubuhnya.

    Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya roh itu tuan masih ada disana?

    Atheis : Ya, masih ada.

    Abu Hanifah : Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat seperti besi, atau cair seperti air atau menguap seprti gas?

    Atheis : Entahlah, kami tidak tahu.

    Abu Hanifah : Kalau tuan tidak bisa mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana tuan bisa memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta’ala?!!

    Atheis : Ke arah manakah Allah sekarang menghadapkan wajahnya? Sebab segala sesuatu pasti mempunyai arah?

    Abu Hanifah : Jika tuan menyalakan lampu di dalam gelap malam, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?

    Atheis : Sinarnya menghadap ke seluruh arah dan penjuru.

    Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta’ala Pencipta langit dan bumi, sebab Dia nur cahaya langit dan bumi.

    Atheis : Kalau ada orang masuk ke syurga itu ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?

    Abu Hanifah : Perhitungan angka pun ada awalnya tetapi tidak ada akhirnya.

    Atheis : Bagaimana kita bisa makan dan minum di syurga tanpa buang air kecil dan besar?

    Abu Hanifah : Tuan sudah mempraktekkanya ketika tuan ada di perut ibu tuan. Hidup dan makan minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita melakukan dua hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.

    Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dinafkahkan?

    Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak, seperti ilmu. Semakin diberikan (disebarkan) ilmu kita semakin berkembang (bertambah) dan tidak berkurang.

    “Ya! kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?” tanya Atheis. “Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan”, pinta Abu Hanifah. Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. “Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?”. Ilmuwan kafir mengangguk. “Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan. Pekerjaan-Nya sekarang ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir yang tidak ada hak seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mukmin di lantai yang berhak, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu”. Para hadirin puas dengan jawaban yang diberikan oleh Abu Hanifah dan begitu pula dengan orang kafir itu

    Semoga Allah menjaga kita juga keluarga kita dari pengaruh aqidah sesat mujassimah yg menyebabkan kita syirik, yaitu dengan berkeyakinan Allah di dalam sesuatu atau di atas sesuatu. Aamiin Allaahumma Aamiin

    Allah adl Zat Yg Maha Segala-galanya, Dia tidak terbatas dan terikat oleh ruang dan waktu, karena ruang dan waktu adl ciptaan Allah SWT

    langit, juga ‘Arsy adl makhluk Allah yg bagi Allah keduanya kecil dan tentu kedua makhluk ini terbatas, sedang Allah Maha Tidak Terbatas, tidak mungkin sesuatu yg terbatas ini menjadi “tempat Allah” bahkan kita semua juga punya keyakinan di zaman azali tidak ada langit dan tdk ada ‘Arsy begitu juga saat kiamat kubro langit hancur begitu juga dg ‘Arsy semua musnah, yg ada hanyalah Allah, Allah Yang Maha Abadi dan Allah Yang Maha Kaya, tidak butuh apa2 dari makhluk-Nya

    inilah aqidah ulama’ salaf Imam Abu Hanifah yg mana beliau berfatwa “Allah tdk bertempat dan tidak ditempatkan” krn memang Allahlah Dzat yg menciptakan tempat dan menempatkan makhluk-Nya di tempat manapun yg Ia kehendaki, intinya jangan memberi sifat Allah dg sifat makhluk yaitu seperti berkeyakinan “bertempat di atas sesuatu”

  76. Demikian pula Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan beliau bersabda, “Apabila ahli surga telah memasuki surga, Allah berkata pada mereka, “Apakah kalian mau Aku tambahkan sesuatu?” Ahli surga menjawab , “Bukankah Engkau telah menjadikan wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?” Rosulullah berkata, “(Maka Allah membuka hijab/ penghalang, maka tidak ada sesuatu pun yang telah diberikan pada mereka (penghuni surga) yang paling mereka senangi daripada melihat kepada Rabbnya Azza wa Jalla.” (HR Muslim -Kitabul Iman dari Suhaib radhiyallahu ‘anhu).
    Allah juga berfirman (yang artinya), “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) tuhan mereka.” (QS Al Muthaffifiin: 15). Berkata Imam Syafi’i rahimahullah, “Maka, ketika Allah subhanahu wa ta’ala dengan kebencianNya menghalangi mereka (orang-0orang kafir) dari melihatNya, ini berarti dalil bahwa mereka (para wali Allah, orang-orang mu’min) melihatNya dengan keridhoanNya.” (Syarh Ushulul I’tiqaad: 3/506).

    Teramat banyak hadits-hadits yang memuat tentang orang mu’min melihat Allah di akhirat, bahkan dikategorikan sebagai hadits yang mutawatir oleh Ibnu Hajar al Atsqolaaniy dan lainnya, kami sebutkan di antaranya. “Orang-orang bertanya kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rosulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?’ Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah kalian terhalangi dari melihat bulan pada malam purnama?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Rosulullah.’ Beliau berkata lagi, ‘Apakah kalian terhalangi dari melihat matahari yang tak ada awan di bawahnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian Rosulullah berkata, ‘Sesungguhnya kalian akan melihatnya (yakni Rabb) seperti itu (yakni jelas tanpa ada penghalang).’” (HR Bukhori -Kitabut Tauhid- dan Muslim -Kitabul Iman-, dari sahabat Abu Hurairoh).

  77. Ketidak mungkinan melihat Allah di dunia.. Berdasarkan :

    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (Al-A’raaf: 143)

    Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”. (Al-Baqarah: 55)

    1. Berani taruhan deh Mas Dianth, Abu Umar pasti tidak paham dg dalil-dalil yg dibawakannya sendiri. Namanya juga burung BEO mana tahu perkataannya sendiri? Atau mungkin keledai Pemikul Kitab, mana paham keledai terhadap isi kitab yg dipikulnya. Begitulah Wahabiyyin, mulai kroco-kroconya sampai ustzdz-uztadznya sama aja.

      Coba deh test ini si Abu Umar pasti tidak mudeng dg dg dalil2 yg dibawakannya…

  78. @abu umar
    Jadi memandang Allah swt, jangan memandang itu adalah seperti mahlukNya, yakinkan kepada hal yang bisa ditembus oleh pikiran manusia dan kita yakin “Allah swt ada namun tidak menempati ruang (bertempat)”.
    Jawaban ente belum ane jawab tentang Allah, ini dalam surat An Nuur : 35 Allah berfirman : “Allah adalah cahaya langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
    Ane pesen ayat ini jangan ente tafsirkan sendiri, karena ulama-ulama saja gak berani menafsirkan ayat ini, cari guru, salah2 ente menafsirkan Allah adalah matahari. jadi Allah memang memberi perumpamaan, agar manusia itu berpikir. Lihat firman Allah dalam surat Al Baqarah : 26 :
    “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?.” dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”.
    Demikian @abu umar, ape ente masih berkelit tentang tampat dan Allah swt?

    1. Mas Ucep@

      Abu Umar belum naik kelas kata Putri Karisma, semoga setelah ini dia naik kelas sehingga tidak jadi anak TK seumur hidupnya, kasihan kalau jadi anak TK seumur hidup ya?

  79. Nasrulloh @

    Sebaiknya jangan pernah merasa cape Mas, biarkan Abu Umar tampil mewakili Salafi Wahabi supaya ummat Islam tahu seperti Abu Umar itulah keyakinan Salafi Wahabi, benar2 mujassim yg batil tanpa ragu lagi.

    Sehingga orang mempunyai yang berakal bisa memilih keyakinannya; apakah pilih keyakinan ala Wahabi yg batil atau pilih keyakinan ala Aswaja yg shahih.

    1. iya juga sih kang, tapi kok ga ngerti-2, ane aja yg masih dangkal…menyimak dg seksama dari sahabat-2 ummati sekalian, dari firanda.com, forum wahabi lainnya…kok bisa cepet nanggep kan, makanya ane jadi heran juga sih knapa abu umar ga ngudeng-2 yah???? sebelum-2nya ane bimbang mana yg bener nih ?? Wahabi kah ?? aswaja kah ?? makanya ane banyak nanya ama ke-2 belah pihak di forum-2 OL, juga membaca artikel nya….jadi cepet yakin dg faham yg bener…bukan karea garis dari keluarga semuanya aswaja yah kang…kang manusia jg punya kelemahan, kadang yakin, kadang labil…Alhamdulillah…Aswaja yg menurut saya benar…sesuai dg penjelasan dari sahabat-2 sekalian yg enak & gampang dipahami….it’so simple kok, meski penjelasannya panjaaaaang bgt…kan ilmu kita harus dapat dg seluas-luasnya, tentunya dg sumber yg benar & valid….

  80. Assalamualaikum semuanya……

    dari awal hingga akhir kawan-kawan wahabi kok komentarnya ga ada yang nyambung dengan isi Artikel…..? mereka enggak faham dengan substansi Artikel …………? ato mereka sengaja ngeles karena tidak mampu membela Ustadz Firanda………? yang menyebarkan Bid`ah Tasybih dan Tajsim bahkan dengan riwayat-riwayat yang tidak sah , Mungkar bahkan Palsu……..?

    1. Benar ustad,
      Mereka hanya menyangkal komen2 aswaja tanpa ilmu
      “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya (Al Hajj:8)”
      “Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia?” mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar (Ar Zukhruf:58)”.
      Pertanyaan-pertanyan mereka Ini hanyalah mencari perbantahan saja, bukanlah mencari kebenaran. jalan pikiran mereka itu adalah kesalahan yang besar disisi Allah swt.
      Jadi ane rasa perlu didelete aja, koment2 sebelumnya.

    2. Firanda dah antum bongkar. Gmn wahhabi2 ini bisa ngebela?
      Bisa sakit kepala mereka mikirin caranya. Akhirnya mereka ngoceh sekenanya bak orang mabok.

  81. Alloh….
    ya Alloh ampunilah abu umar…
    jangan jadikan dia kalangan mujassim…
    berilah taufiq dan hidayah sebelum engkau cabut nyawanya ya alloh…!

    1. Allah ada dan tidak ditanya dimana dalam artian tempat dan arah oleh ciptaanNya, yang merupakan perbuatanNya.

      Abu Umar kalau sedang melangkahkan kaki kedepan, maka terciptalah yang namanya berjalan, saya mau tanya Abu Umar dimana ? diatas berjalan, atau dibawah berjalan ? berjalan itu dimana ? diatas abu umar, di bawah Abu umar atau didalam abu umar atau diluar abu umar?

    1. kan sudah pernah saya bahas, bahwa tangan itu secara zhahir adalah anggota tubuh, merupakan suatu bentuk, alias sesuatu yang berukuran.

      Kan yang berukuran dan mempunyai bentuk itu mahluk. Karena ada yang membentuknya dan memberi ukurannya.

      Allah itu tidak ada yang membentuknya, memneri ukuran kepadaNya, dan tidak ada yang membatasiNya.

      Jadi sekali lagi makna jisim, tangan, kaki, mata, wajah dsb secara hakikat tidak bisa disandarkan atau menjadi sifat bagi Allah, karena sifat Allah itu tidak seperti dan serupa dengan mahlukNya, dalam hal ini Allah tidak seperti dan serupa mahlukNya yang mempunyai bentuk dan ukuran.

      Masih ngeyel…. atau pura-pura tidak paham?

  82. Tangan dalam makna hakiki dalam bahasa Arab adalah anggota tubuh yang terdiri dari pangkal lengan hingga ujung jari (Mu’jam Al Wasith).

    Kalau ente memaknai tangan secara hakiki. Maka ente menjisimkan Allah, karena tangan hakiki yang sesaui dengan bahasa Arab maknanya di atas dan itu tangan makhluk.

    So, ente nekad memaknai tangan secara hakiki?

    Ahlusunnah menghindari pemaknahan hakiki: 1. dengan cara mentakwil, yang tudak bertentangan dengan bahsa Arab (mutaakhirin). 2. Dengan cara menyerahkan maknanya kepada Allah dan menolak makna dzahir hakiki.

    Nah, akidah ente yang mana?

  83. rony:
    mas abu umar sy udah jawab alloh dimana? wallohu’alam saya mah kagak tau
    klo jawaban mas abu umar gimana alloh dimana?
    kalo jawab di arsy, dilangit atau dimanapun
    saya ada pertanyaan lagi
    selama arsy, langit atau apapun belum ada alloh ada dimana?
    mangga dijawab kalo bisa jawab pertanyan ke 2
    dijamin puyeng

    kang abu umar sebelum meracau kemana mana mohon dijawab pertanyaan saya diatas

    1. Gak perlu kecewa dengan tidak menjawabnya Abu Umar. Karena itu dah menunjukkan bahwa ia tidak mempu menghadapi argumen lawan diskusinya. Hingga ia perlu tulisa apa saja untuk lari dari diskusi. Sampai sekarang si Abu ini juga masih lom nngejawab pertanyaan ane yang dulu secara gentel Bro. Maklumi aje, memang segitu kemampuannya.

      Sebentar lagi mungkin ia akan muncul dengan tema barunya yang lain untuk lari dari ane.

      1. bener juga yah Kang, saya telusuri komen-2 nya abu Umar, di tanya ini, dia balik nanya yg lain….. jaka sembung makan terasi nih heheheheehe :mrgreen:

  84. @Abu Umar: apa pun dalil yg antum kemukakan, permasalahannya adalah bagaimana cara antum menafsirkannya. Apakah tafwidh ma’a tanzih, ta’wil, atau justeru memaknainya secara tekstual begitu saja. Jika setiap yg menta’wil disebut mu’athil, jadi kita harus mensifati Allah dg sifat lupa, sakit, lapar, dsb? Mahasuci Allah dr sifat2 tsb.

  85. He…he….he… Abu Umar sudah mahu kabur. Topik diskusi telah dirubahnya,
    ditimbulkan kasus baru “mengenai melihat Allah pula” . Ente ini berhujjah dengan hawa nafsu atau dengan ilmu ? Jangan gitu dong, focus dahulu pada topik asal. Keluarkan semua hujjah2 ente atau hujjah guru2 ente atau ngajak sekali guru2 ente turut diskusi semoga ada percambahan ilmu.
    Rasanya rekan2 ASWAJA ga keberatan.
    Apapun diharap ente tidaklah termasuk dalam golongan yang Allah firmankan dalam surah Al Baqaroh ayat 6,7 , 8 ,9,10,11,12,13,14 , 15, 16 17 dan 18.

  86. Sabar-sabar kite tungguin aja, mereka memahami Al Qur’an secara Harfiah, Nah kalau begini hatinya gak bekerja. Maha benar Engkau ya Allah Summum bukmun …….., semoga mereka diridhoi Allah.

  87. A. Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat
    Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

    Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada RasulNya.

    Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

    Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

    B. Manhaj salaf (para sahabat, tabi’in dan ulama pada kurun waktu yang diutamakan) dalam hal asma’ dan sifat allah.
    Yaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan), dan hal itu termasuk pengertian beriman kepada Allah.

    Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: “Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun (para generasi pertama), serta tidak melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits.

    Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits.

    Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil. Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk DiriNya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak.

    Maknanya sudah dimengerti, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk. Dan sekali pun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)Nya Yang Mahasuci yang disebut dalam asma’ dan sifatNya, juga tidak dalam perbuatanNya.

    Sebagaimana yang kita yakini bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala mempunyai Dzat, juga af’al (perbuatan), maka begitu pula Dia benar-benar mempunyai sifat-sifat, tetapi tidak ada satu pun yang menyamaiNya, juga tidak dalam perbuatanNya. Setiap yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts maka Allah Subhannahu wa Ta’ala benar-benar bebas dan Mahasuci dari hal tersebut.

    Sesungguhnya Allah adalah yang memiliki kesempurnaan yang paripurna, tidak ada batas di atasNya. Dan mustahil baginya mengalami huduts, karena mustahil bagiNya sifat ‘adam (tidak ada); sebab huduts mengharuskan adanya sifat ‘adam sebelumnya, dan karena sesuatu yang baru pasti memerlukan muhdits (yang mengadakan), juga karena Allah bersifat wajibul wujud binafsihi (wajib ada dengan sendiriNya).

    Madzhab salaf adalah antara ta’thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Sebagaimana mereka tidak menyerupakan DzatNya dengan dzat pada makhlukNya. Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diriNya, atau apa yang disifatkan oleh RasulNya. Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan asma’ husna dan sifat-sifatNya yang ‘ulya (luhur), dan berarti mengubah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari asma’ Allah dan ayat-ayatNya.

    1. @abu umar
      “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

      Jadi bagaimana sifat Allah mempunyai tangan, berlari, melihat, mendengar bagi Allah swt, menurut ente pribadi?
      atas komen ente diatas?

    2. @Abu Umar:” Manhaj salaf (para sahabat, tabi’in dan ulama pada kurun waktu yang diutamakan) dalam hal asma’ dan sifat allah.
      Yaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang.”

      Apa maksudnya menetapkan sebagaimana ia datang? Apakah maknanya mengambil makna dzahir hakikinya? Atau bagaimana?

  88. hehehehe muncul lagi Dajjal nya…..sekarang dg komen yg lain, pasti baru dapet dari kitab A,B,C dst, dari Guru A,B,C…..semoga Abu Umar di solehkan yah…amiiinnnn

  89. Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits.

    Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil. Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk DiriNya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak.

    Maknanya sudah dimengerti, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk. Dan sekali pun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)Nya Yang Mahasuci yang disebut dalam asma’ dan sifatNya, juga tidak dalam perbuatanNya.

    1. @abu umar
      Manusia memiliki bentuk hakiki yang dapat di indera, dibentuk, diciptakan, ditentukan dalam aktualitas. Allah disamakan pada bentuk manusia ini hanya dalam ungkapan (bi al Lafazh), karena nama2 Allah “Hidup”, “Berkuasa” dan seterusnya tidak menyatu (tajtami) dalam sifat2 Manusia kecuali pada nama2 yang hanya ungkapan2 external (ibarat talafush).
      Janganlah berpikir dari sini tentang penolakan Sifat2 Allah ini. Kita harus membedakan sejauh mungkin antara kedua bentuk (yaitu bentuk Allah dan bentuk manusia), Jadi sifat manusia tidak bisa menyatu dengan Sifat2 Allah, kecuali dalam penyebutan nama-nama.

  90. sepertinya ucapan Imam Ahmad sudah dibahas disini http://ummatipress.com/2011/09/10/mengaku-pengikut-salaf-wahabi-anti-takwil-padahal-salaf-shalih-melakukan-takwil/

    coba kita perhatikan lagi ucapan Imam Ahmad andalan wahabi

    Takwil Imam Ahmad

    Imam ibnu Taimiyah SYAEKHUL ISLAM berkata:
    ﺁﻧﻤﺎ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﺍﻣﺮﺍﺭ ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﻭﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻋﻠﻲ ﻇﺎﻫﺮﻫﺎ :
    BahwA manhaj imam ahmad bin hambal dlm aqidah adalahh menjalankan nas dan tafsir diatas arti dohirnya.pendpat ini di ikuti muqolidnya para Wahabiun.

    AYO cek pedapat imam ahmad RA dlm aqidah,hususnya tntg ayat2 sifat / mutasyabih.
    1-ﻭﺭﻭﻱ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻋﻦ ﺍﺑﻲ ﻋﻤﺮﻭ ﺁﺑﻦ ﺍﻟﺴﻤﺎﻙ ﻋﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺁﻥ ﺁﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺗﺂﻭﻝ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ:ﻭﺟﺎﺀ ﺭﺑﻚ (ﺍﻟﻔﺠﺮ٢٢)، ﺁﻧﻪ ﺟﺎﺀ ﺛﻮﺍﺑﻪ-ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ:ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﻨﺪ ﻻ ﻏﺒﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ :
    Meriwayatkan albaehaqi dari alhakim dari abi amr ibnu samak dari hambal: ssungguhnya imam ahmad bin hambal mentakwil firman allah (ﻭﺟﺎﺀ ﺭﺑﻚ QS ALFAJR 22): Telah datang tuhanmu’ DI TAKWIL dengan ﺟﺎﺀ ﺛﻮﺍﺑﻪ : telah datang ‘balasan’ tuhanmu. berkata alBaihaqi: sanad ini tdk ada debu sdkt pun alias soheh

    (al BIDAYAH wa NIHAYA karya Ibnu Katsir 10/354)
    2-ﻣﺎ ﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﺗﺂﻭﻳﻠﻪ ﻛﮕﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻲ (ﻭﺟﺎﺀ ﺭﺑﻚ) ﺁﻯ ﺟﺎﺀ ﺁﻣﺮﻩ ﻭ ﻗﺪﺭﺗﻪ، ﻗﺎﻝ ﺍﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ :ﻭﺁﻧﻤﺎ ﺻﺮﻓﻪ ﺍﻟﻲ ﺫﺍﻟﻚ ﺁﺩﻟﺔ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﻓﺂﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻻﻧﺘﻘﺎﻝ
    ————–
    ﺛﺒﺖ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﺂﻭﻳﻞ ﻋﻦ ﺍﻵﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﻤﺠﺴﻤﺔ ﺑﺎﻵﻧﺘﺴﺎﺏ ﺁﻟﻴﻪ،ﺩﺑﺎﻵﺱﻧﺎ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﻣﻨﺎﻗﺐ ﺍﻣﺎﻡ ﺁﺣﻤﺪ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ
    (ﻣﺨﻄﻮﻁ)ﻭ ﻗﺪ ﻧﻘﻠﻬﺎ ﺁﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﺑﺴﻨﺪ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻓﻲ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺁﺣﻤﺪ :

    :Diantara yg mesti ditakwil sprti firman allah;ﻭﺟﺎﺀ ﺭﺑﻚ،ﺍﻱ ﺟﺎﺀ ﺁﻣﺮﻩ ﻭ ﻗﺪﺭﺗﻪ-
    : Telah datang robmu, yakni urusan dan kekuasaanNYA,dan berkata Imam Ahmad: dipalingkannya kepeda takwil karena secara akal bahwa Allah tdk berpindah tempat (serupa mahluk)
    ——
    Telah tetap takwil dari imam ahmad yg dijadikan sandaran oleh kaum mujasimah, riwayat diatas sanadnya soheh di kitab Manaqib Imam Ahmad dgn tulisan Alhafid Al Baihaqi, jg tlah dinukil oleb Ibnu Kasir dlm Al Bidayah wan Nihayah dgn sanad Al Baihaqi jg dari Imam Ahmad (daf’u syubha tasybih- Alhafid Abul Faroh Ibnul Jauzi hal 110)

    >berkata Ad Dzahabi dlm kitab Syiar Alam Nubala 13/52: maksud Hanbal
    yg mnerima dari Imam Ahmad adalah Hambal bin Ishaq bin Hambal bin Hin Hilal seorg yg hafid dan muhadis yg jujur, bliau keponakan Imam Ahmad jg muridnya. dan berkata al Khotibi: beliau adalah Tsiqoh dan Tsabit, beliau menerima banyak ilmu dari imam Ahmad.

    >tlah menukil Abil Fadhl at Tamimi dalam kitabnya (I’tiqod Imam Ahmad 38-39) dari Imam Ahmad sesungguhnya beliau berkata:
    ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﻠﺤﻘﻪ ﺗﻐﻴﺮ ﻭﻻ ﺗﺒﺪﻝ ﻭﻻ ﻳﻠﺤﻘﻪ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﻗﺒﻞ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻭﻻ ﺑﻌﺪ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻌﺮﺵ، ﻳﻨﻜﺮ ﻋﻠﻲ ﻣﻦ ﻭﻛﺎﻥ
    ﺁﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻣﻜﺎﻥ ﺑﺬﺍﺗﻪ ﻵﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻻﻣﻜﻨﺔ ﻛﻠﻬﺎ ﻣﺤﺪﻭﺩﺓ

    artinya: Dan Allah tdk terkena perobahan jg pergantian,dan tdk terikat batas sblm mencipta arasy atau sesudahnya .brkta pula Abil Fadhl: dan beliau INKAR TERHADAP ORANG YG BERKATA ALLAH ADA DISETIAP
    TEMPAT MANA PUN DENGAN DZATNYA,KARENA SEMUA TEMPAT TERIKAT BATASAN (I’TIQAD IMAM AHMAD 38-39)

    BERKATA ABUL FADHL AT TAMIMI PEMIMPIN MADHAB HAMBALI DI BAGDAD DLM KTB I’TIQAD IMAM AHMAD HAL 45 : DARI IMAM AHMAD, BELIAU INKAR TRHADAP ORANG YG BERKATA BAHWA ALLAH JISIM/ MATERI, DAN BELIAU BERKATA BAHWA ASMA DAN SIFAT ALLAH DIAMBIL DARI SYARIAT DAN JUGA DARI LUGOT (BAHASA), DAN AHLI LUGOT MENSIFAT DGN ASMA ALLAH DENGAN UKURAN PANJANG, LEBAR, TEMPAT DAN TERSUSUN (TARKIB), RUPA DAN KETERKAITAN, PADAHAL ALLAH TDK SEPERTI ITU, MAKA TIDAK BOLEH MENAMAI DENGAN KEJISIMAN DAN TIDAK BERLAKU DALAM SYARIAT HAL TERSEBUT.JUGA PERKATAAN INI DI NUKIL OLEH ALHAFID ALBAEHAQI DALAM KITAB MANAQIB IMAM AHMAD HAL 42.

    JADI KESIMPULANNYA IBNU TAI-MIYAH ROHIMAHULLAH BERDUSTA
    JAZALLOHU AN IMAM AHMAD WA AN NABIYINA MUHAMAD SAW MA HUWA AHLUH..AMIIN.

  91. Abu Umar masih ga ngudeng juga yah?? jgn asal copas aja dong gan…..baca dg teliti, seksama, pelan-pelan aja, jgn terburu-2….

  92. @all wahabiun

    menurut ente seorang muslim yang tidak mengimani aqidah bahwa Allah istawa (makna secara dzohir) menjadi batal halal dagingnya? karena muslim tersebut percaya ALLAH QODIM TANPA ARAH DAN TEMPAT

  93. kalo ane bilang bhw ane dkt banget ama guru ane yg pake tongkat itu yg sedang berjalan ke sini, ente paham ga?
    Kalo ane bilang bhw yg akan membereskan semua persoalan itu adalah 2 tangan kanan ane, ente ngerti ga?
    Kalo ane bilang bhw tangan ane selalu terbuka lebar dan tidak pernah tergenggam, ente ngerti ga?
    Kalo ane bilang bahwa ane akan pegang kata2 ente, ente ngerti ga?
    Kemaren ente bilang bhw ga mungkin ane melihat Allah, karena Nabi Musa aja pingsan. Tapi sekarang ente berpendapat sebaliknya? Betapa mengherankan ente. Sungguh ajaib.
    Jadi kita harus menyifati Allah dg sifat sakit, lupa, dan lapar?

  94. Tolong!Tolong! Abu Umar udah terkepung kerana hujjah sendiri. Hujjahnya memakan dirinya sendiri.(Eh..dia faham ga?)
    Asyik merubah tajuk aje. Mulanya melihat Allah kemudian Asma Allah pula,
    Apa lagi tajuk yang akan dikeluarkan. Abu Umar sedang fikirin sekarang.
    Ayo Abu Umar ente wahhabiyum ganteng, lawan dong ! He…he…he….

  95. Atheis lJahil murakkab lebih jago agama (slogan; dibawah bendera emas qur’an dan assunnah)

    saya m,ah ga benar-benar yaqinyg berkata dmana Allah itu 100 persen muslim. sori nihpendapat pribadi. melihat gaya bahasanya dan gaya bahasa teman2nya yang menikam muslim. bisa jadi seorang pria 20-40 tahunan muslim abangan trus ikut2an harokah suniah gt. ato lebih parah dari ortu yg beda agama. bisa jadi masih dbawah bayang-bayang keraguan n animisme. lebih parah lagi dia non muslim yg makai nama khalifah agung kita untuk mengelabui anda semua. saya yakin itu. dan ada negara yang aktif memproduksi n mengimpor org2 gila macam firanda dan aboomar. mmmm

    coba buka ini ( basa sunda)
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/message/42115

  96. Saya Mahasiswa ITS. Wahabi memang sudah menguasai PTN se-Indonesia. Tidak hanya di Surabaya saja. melalui berbagai macam sumber info: Radio, blog-blog, majalah-majalah buku-buku yang beredar di masyarakat. semua dikuasai. banyak pemuda-pemudi yang ilmu agamanya masih awam seperti saya yang terpengaruh sama Wahabi. meskipun ilmu saya belum mumpuni, pernah suatu hari ketika saya ikut-ikutan aktivis dakwah kampus. Saya mendengar para aktivis saling bertukar pengalaman masalah kajian. Kata mereka”Salafy dikagumi karena ilmunya”. sehingga tidak dapat dipungkiri jika Para kalangan aktivis dakwah seprti di Kampus-kampus maupun sekolah memandang sebelah mata Islam yang bermadzab dan berubah menjadi wahabi. banyak teman-teman saya yang semula bermadzab menjadi pindah jadi Wahabi. setelah pidah wahabi kebanyakan teman2 pada jadi Horor. merasa paling bener ndiri. kaku, sombong, angkuh. Saya dulu hampir mengalami nasib seperti tmn2, Tapi Alhamdulillah. meskipun saya masih awam semoga terus terjaga. hal terpenting bagi pemuda-pemudi aswaja yaitu mengenal hujjah jika ada yang mengusik amaliyah kita. baik dari kalangan salafy, HTI, PKS, LDII, dll. karena realita di masyarakat, pemuda-pemudi (saya contohnya) tidak menguasai hujjah-hujjah ulama kita. sehingga jika didebat sama Wahabi kami klepek-klepek. 😳 😳 😳

  97. Silahkanlah kalau saudara Ahmad Syahid dengan akal2annya membantah perkataan 10 ulama yang mengatakan Allah di langit, silahkan dicari akal2an untuk 100 orang berikut:

    01. Abu Bakar ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa yang menyembah Allah maka Allah berada di langit, ia hidup dan tidak mati.” [Riwayat Imam ad Darimiy dalam Ar Radd ‘Alal Jahmiyah].

    02. Dari Zaid bin Aslam, dia berkata,

    مر ابن عمر براع فقال هل من جزرة فقال ليس هاهنا ربها قال ابن عمر تقول له أكلها الذئب قال فرفع رأسه إلى السماء وقال فأين الله فقال ابن عمر أنا والله أحق أن أقول أين الله واشترى الراعي والغنم فأعتقه وأعطاه الغنم

    “(Suatu saat) Ibnu ‘Umar melewati seorang pengembala. Lalu beliau berkata, “Adakah hewan yang bisa disembelih?” Pengembala tadi mengatakan, “Pemiliknya tidak ada di sini.” Ibnu Umar mengatakan, “Katakan saja pada pemiliknya bahwa ada serigala yang telah memakannya.” Kemudian pengembala tersebut menghadapkan kepalanya ke langit. Lantas mengajukan pertanyaan pada Ibnu Umar, ”Lalu di manakah Allah?” Ibnu ‘Umar malah mengatakan, “Demi Allah, seharusnya aku yang berhak menanyakan padamu ‘Di mana Allah?’.”

    Kemudian setelah Ibnu Umar melihat keimanan pengembala ini, dia lantas membelinya, juga dengan hewan gembalaannya (dari Tuannya). Kemudian Ibnu Umar membebaskan pengembala tadi dan memberikan hewan gembalaan tadi pada pengembara tersebut. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 311. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini jayyid sebagaimana dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 95, hal. 127].

    03. Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata:

    والعرش على الماء والله عز وجل على العرش يعلم ما أنتم عليه

    “Arsy berada di atas air, dan Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, yang mengetahui apa-apa yang kalian lakukan” [HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir; shahih].

    04. Ibnu Abbas menemui ‘Aisyah ketika ia baru saja wafat. Ibnu Abbas berkata padanya,

    كنت أحب نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يكن يحب إلا طيبا وأنزل الله براءتك من فوق سبع سموات

    “Engkau adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah engkau dicintai melainkan kebaikan (yang ada padamu). Allah pun menurunkan perihal kesucianmu dari atas langit yang tujuh.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 335].

    05. Dari Ibnul Mubarok, dari Sulaiman At Taimi, dari Nadhroh, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

    ينادي مناد بين يدي الساعة أتتكم الساعة – فيسمعه الأحياء والأموات – ثم ينزل الله إلى السماء الدنيا

    “Ketika hari kiamat ada yang menyeru, “Apakah datang pada kalian hari kiamat?” Orang yang hidup dan mati pun mendengar hal tersebut, kemudian Allah pun turun ke langit dunia.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 296. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih sesuai syarat Muslim sebagaimana dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 94, hal. 126].

    Dalam riwayat lainnya, Ibnu ‘Abbas mengatakan,

    إذا نزل الوحي سمعت الملائكة صوتا كصوت الحديد

    “Jika wahyu turun, aku mendengar malaikat bersuara seperti suara besi.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 295. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa periwayat hadits ini tsiqoh (terpercaya) sebagaimana dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 93, hal. 126].

    Jika dikatakan bahwa wahyu itu turun dan wahyu itu dari Allah, ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas karena sesuatu yang turun pasti dari atas ke bawah.

    06. Dari Ka’ab Al Ahbar [meninggal pada tahun 32 atau 33 H] berkata bahwa Allah ‘azza wa jalla dalam taurat berfirman,

    أنا الله فوق عبادي وعرشي فوق جميع خلقي وأنا على عرشي أدبر أمور عبادي ولا يخفى علي شيء في السماء ولا في الأرض

    “Sesungguhnya Aku adalah Allah. Aku berada di atas seluruh hamba-Ku. ‘Arsy-Ku berada di atas seluruh makhluk-Ku. Aku berada di atas ‘Arsyku. Aku-lah pengatur seluruh urusan hamba-Ku. Segala sesuatu di langit maupun di bumi tidaklah samar bagi-Ku. ” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 315. Adz Dzahabi mengatakan bahwa sanadnya shahih. Begitu pula Ibnul Qayyim dalam Ijtima’ul Juyusy Al Islamiyah mengatakan bahwa riwayat ini shahih].

    07. Masruq rahimahullah [wafat tahun 63 H] menceritakan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

    حدثتني الصديقة بنت الصديق حبيبة حبيب الله، المبرأة من فوق سبع سموات.

    “’Aisyah -wanita yang shidiq anak dari orang yang shidiq (Abu Bakar), kekasih di antara kekasih Allah, yang disucikan oleh Allah yang berada di atas langit yang tujuh.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 317. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shohih berdasarkan syarat Bukhari Muslim dan sanadnya sampai pada Abu Shofwan itu shahih. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 128].

    08. ‘Ubaid bin ‘Umair rahimahullah mengatakan,

    ينزل الرب عزوجل شطر الليل إلى السماء الدنيا فيقول من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له حتى إذا كان الفجر صعد الرب عزوجل أخرجه عبد الله بن الإمام أحمد في كتاب الرد على الجهمية تصنيفه

    “Allah ‘azza wa jalla turun ke langit dunia pada separuh malam. Lalu Allah berkata, “Siapa saja yang memohon kepada-Ku, maka akan Kuberi. Siapa saja yang meminta ampun kepada-Ku, maka akan Kuampuni.” Jika fajar telah terbit, Allah pun naik.”

    Dikeluarkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam kitab karyanya yang berisi bantahan terhadap Jahmiyah. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 320].

    09. Penjelasan Al-Imam Mujahid rahimahullah [dilahirkan pada tahun 21 Hijrah dan meninggal pada tahun 103 Hijrah] – murid Ibnu ‘Abbas – mengenai firman Allah istawaa ‘alal-‘Arsy :

    علا على العرش

    “Ia berada tinggi di atas ‘Arsy.” [HR. Al-Bukhari].

    10. Imam Adh-Dhahhaak [wafat th. 102 H].

    Ahmad (bin Hanbal) meriwayatkan dengan sanadnya sampai Adh-Dhahhaak tentang ayat (yang artinya) : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya’ (QS. Al-Mujaadalah : 7); maka Adh-Dhahhaak berkata :

    هو على العرش وعلمه معهم

    “Allah berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya bersama mereka”. [As-Sunnah oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal hal. 80 – melalui perantaraan Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imam Ahmad bin Hanbal fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah bin Sulaimaan Al-Ahmadiy, 1/319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412].

    11. Qotadah rahimahullah [wafat tahun 118 H] mengatakan bahwa Bani Israil berkata,

    يا رب أنت في السماء ونحن في الأرض فكيف لنا أن نعرف رضاك وغضبك قال إذا رضيت استعملت عنكم عليكم خياركم وإذا غضبت إستعلمت عليكم شراركم هذا ثابت عن قتادة أحد الحفاظ الكبار

    “Wahai Rabb, Engkau di atas langit dan kami di bumi, bagaimana kami bisa tahu jika Engkau ridho dan Engkau murka?” Allah Ta’ala berfirman, “Jika Aku ridho, maka Aku akan memberikan kebaikan pada kalian. Dan jika Aku murka, maka Aku akan menimpakan kejelekan pada kalian.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 336. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad riwayat ini hasan. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 131].

    12. Dari Malik bin Dinar [wafat pada tahun 130 H], beliau berkata,

    خذوا فيقرأ ثم يقول : إسمعوا إلى قول الصادق من فوق عرشه

    “Ambillah (Al Qur’an) ini. Lalu beliau membacanya, kemudian beliau mengatakan, ‘Hendaklah kalian mendengar perkataan Ash Shodiq (Yang Maha Jujur yaitu Allah) dari atas ‘Arsy-Nya’.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 348. Adz Dzahabi mengatakan diriwayatkan dalam Al Hilyah dengan sanad yang shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa mengatakan riwayat ini hasan saja termasuk murah hati. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 131].

    13. Harun bin Ma’ruf mengatakan, Dhomroh mengatakan pada kami dari Shodaqoh, dia berkata bahwa dia mendengar Sulaiman At Taimiy berkata,

    لو سئلت أين الله لقلت في السماء

    “Seandainya aku ditanyakan di manakah Allah, maka aku menjawab (Allah berada) di atas langit.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa periwayat riwayat ini tsiqoh/terpercaya. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 133].

    14. Ayyub As Sikhtiyani [wafat th. 131 H].

    Hamad bin Zaid mengatakan bahwa ia mendengar Ayyub As Sikhtiyani berbicara mengenai Mu’tazilah,

    إنما مدار القوم على أن يقولوا ليس في السماء شيء

    “Mu’tazilah adalah asal muasal kaum yang mengatakan bahwa di atas langit tidak ada sesuatu apa pun.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 354].

    15. Robi’ah bin Abi ‘Abdirrahman [Wafat tahun 136 H ].

    Sufyan Ats Tsauriy mengatakan bahwa ia pernah suatu saat berada di sisi Robi’ah bin Abi ‘Abdirrahman kemudian ada seseorang yang bertanya pada beliau,

    الرحمن على العرش استوى كيف استوى

    “Ar Rahman (yaitu Allah) beristiwa’ (menetap tinggi) di atas ‘Arsy, lalu bagaimana Allah beristiwa’?” Robi’ah menjawab,

    الإستواء غير مجهول والكيف غير معقول ومن الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التصديق

    “Istiwa’ itu sudah jelas maknanya. Sedangkan hakikat dari istiwa’ tidak bisa digambarkan. Risalah (wahyu) dari Allah, tugas Rasul hanya menyampaikan, sedangkan kita wajib membenarkan (wahyu tersebut).” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 352. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 132].

    16. Imam Abu Hanifah (tahun 80-150 H) mengatakan dalam Fiqhul Akbar,

    من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

    “Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.” [Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 116-117, Darus Salafiyah, Kuwait, cetakan pertama, 1406 H. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 137, Al Maktab Al Islamiy].

    17. Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau berkata,

    سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

    Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”. [QS. Thaha: 5] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Adz Dzahabi, hal. 135-136, Maktab Adhwaus Salaf, Riyadh, cetakan pertama, 1995].

    18. Imam Malik bin Anas (tahun 93-179 H),

    Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah : Telah menceritakan ayahku, kemudian ia menyebutkan sanadnya dari ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : Telah berkata Malik bin Anas :

    الله في السماء، وعلمه في كل مكان، لا يخلو منه شيء.

    “Allah berada di atas langit, dan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Tidak ada terlepas dari-Nya sesuatu”. [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah dalam As-Sunnah hal. 5, Abu Dawud dalam Al-Masaail hal. 263, Al-Aajuriiy hal. 289, dan Al-Laalikaa’iy 1/92/2 dengan sanad shahih – dinukil melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 140 no. 130].

    19. Telah masyhur riwayat Al-Imam Maalik bin Anas rahimahullah sebagai berikut :

    ذكره علي بن الربيع التميمي المقري قال ثنا عبد الله ابن أبي داود قال ثنا سلمة بن شبيب قال ثنا مهدي بن جعفر عن جعفر بن عبد الله قال جاء رجل إلى مالك بن أنس فقال يا أبا عبد الله الرحمن على العرش استوى كيف استوى قال فما رأيت مالكا وجد من شيء كموجدته من مقالته وعلاه الرحضاء يعني العرق قال واطرق القوم وجعلوا ينتظرون ما يأتي منه فيه قال فسرى عن مالك فقال الكيف غير معقول والاستواء منه غير مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة فإني أخاف أن تكون ضالا وامر به فأخرج

    Telah menyebutkan kepadanya ‘Aliy bin Ar-Rabii’ At-Tamimiy Al-Muqri’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abi Dawud, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Ja’far, dari Ja’far bin ‘Abdillah, ia berkata : Datang seorang laki-laki kepada Malik bin Anas. Ia berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah, ‘Ar-Rahman yang beristiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy’; bagaimana Allah beristiwaa’ ?”. Perawi berkata : “Belum pernah aku melihat beliau (Malik) marah sedemikian rupa seperti marahnya beliau kepada orang itu. Tubuhnya berkeringat, orang-orang pun terdiam. Mereka terus menantikan apa yang akan terjadi. Maka keadaan Al-Imam Malik kembali normal, beliau berkata : “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku khawatir kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya. [Syarh Ushuulil-I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 398, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdaan; desertasi S3].

    Makna “istiwaa’ itu bukan sesuatu yang majhuul” adalah bahwa istiwaa’ itu diketahui maknanya secara hakiki sebagaimana dhahir bahasa Arab yang jelas.

    20. Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (yang terkenal dengan Imam Syafi’I, tahun 150-204 H).

    Syaikhul Islam berkata bahwa telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’la Al Kholil bin Abdullah Al Hafizh, beliau berkata bahwa telah memberitahukan kepada kami Abul Qosim bin ‘Alqomah Al Abhariy, beliau berkata bahwa Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Roziyah telah memberitahukan pada kami, dari Abu Syu’aib dan Abu Tsaur, dari Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, beliau berkata,

    القول في السنة التي أنا عليها ورأيت اصحابنا عليها اصحاب الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله وذكر شيئا ثم قال وان الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وان الله تعالى ينزل الى السماء الدنيا كيف شاء وذكر سائر الاعتقاد

    “Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keyakinan (i’tiqod) lainnya. [Lihat Itsbatu Shifatul ‘Uluw, hal. 123-124. Disebutkan pula dalam Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal.165]

    21. Imam Ahmad bin Hambal (tahun 164-241 H).

    Beliau pernah ditanya,

    ما معنى قوله وهو معكم أينما كنتم و ما يكون من نجوى ثلاثه الا هو رابعهم قال علمه عالم الغيب والشهاده علمه محيط بكل شيء شاهد علام الغيوب يعلم الغيب ربنا على العرش بلا حد ولا صفه وسع كرسيه السموات والأرض

    “Apa makna firman Allah,

    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

    “Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada.” [QS. Al Hadiid: 4]

    مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ

    “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” [ QS. Al Mujadilah: 7]

    Yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.” [Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116].

    22. Imam Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan, “Pembahasan dari Imam Ahmad mengenai ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya amatlah banyak. Karena beliaulah pembela sunnah, sabar menghadapi cobaan, semoga beliau disaksikan sebagai ahli surga. Imam Ahmad mengatakan kafirnya orang yang mengatakan Al Qur’an itu makhluk, sebagaimana telah mutawatir dari beliau mengenai hal ini. Beliau pun menetapkan adanya sifat ru’yah (Allah itu akan dilihat di akhirat kelak) dan sifat Al ‘Uluw (ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya).” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 176. Lihat pula Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 189]

    23. Diriwayatkan dari Yusuf bin Musa Al Ghadadiy, beliau berkata,

    قيل لأبي عبد الله احمد بن حنبل الله عز و جل فوق السمآء السابعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه بكل مكان قال نعم على العرش و لايخلو منه مكان

    Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” [ Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 116].

    24. Al Auza’i Abu ‘Amr ‘Abdurrahman bin ‘Amr [hidup sebelum tahun 157 H], Seorang Alim di Negeri Syam di Masanya Berbicara Mengenai Keyakinannya:

    قال أبو عبد الله الحاكم أخبرني محمد بن علي الجوهري ببغداد قال حدثنا إبراهيم بن الهيثم البلدي قال حدثنا محمد بن كثير المصيصي قال سمعت الأوزاعي يقول كنا والتابعون متوافرون نقول إن الله عزوجل فوق عرشه ونؤمن بما وردت به السنة من صفاته

    Abu ‘Abdillah Al Hakim mengatakan, Muhammad bin Ali Al Jauhari telah mengabarkan kepadaku di Bagdad. Ia mengatakan, Ibrahim bin Al Haitsam Al Baladi telah menceritakan pada kami. Ia mengatakan, Muhammd bin Katsir Al Missisiy telah menceritakan pada kami. Ia berkata, aku mendengar Al Auza’i mengatakan, “Kami dan pengikut kami mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy-Nya. Kami beriman terhadap sifat-Nya yang ditunjukkan oleh As Sunnah.” [Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Kitab Al Asma’ wa Ash Shifat. Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 136. Ibnu Taimiyah sebagaimana dalam Al Aqidah Al Hamawiyah menyatakan bahwa sanadnya shahih, sebagaimana pula hal ini diikuti oleh muridnya (Ibnul Qayyim) dalam Al Juyusy Al Islamiyah].

    25. Diriwayatkan dari Abu Ishaq Ats Tsa’labi –seorang pakar tafsir, ia berkata, “Al Auza’i pernah ditanya mengenai firman Allah Ta’ala,

    ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

    “Kemudian Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya”. Al Auza’iy mengatakan, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Dia sifati bagi Diri-Nya.” [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137].

    26. Muqaatil bin Hayyaan (semasa dengan Imam Al Auza’i, beliau hidup sebelum tahun 150 H).

    Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad, dari ayahnya, dari Nuuh bin Maimuun, dari Bukair bin Ma’ruuf, dari Muqaatil bin Hayyaan tentang firman Allah ta’ala : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadalah : 7), ia berkata :

    هو على عرشه، وعلمه معهم.

    “Allah berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya bersama mereka”. [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah hal. 71, Abu Dawud dalam Al-Masaail hal. 263, dan yang lainnya dengan sanad hasan melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 138 no. 124].

    27. Diriwayatkan dari Al Baihaqi dengan sanad darinya, dari Muqotil bin Hayyan. Ia berkata, “Allah-lah yang lebih memahami firman-Nya:

    هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ

    Huwal awwalu wal akhiru … (Allah adalah Al Awwal dan Al Akhir …) (QS. Al Hadiid: 3). Makna Al Awwalu adalah sebelum segala sesuatu. Al Akhir adalah setelah segala sesuatu. Azh Zhohir adalah di atas segala sesuatu. Al Bathin adalah lebih dekat dari segala sesuatu. Kedekatan Allah adalah dengan ilmu-Nya. Sedangkan Allah sendiri berada di atas ‘Arsy-Nya.”

    Adz Dzahabi mengatakan, “Muqotil adalah ulama yang tsiqoh dan dia adalah imam besar yang semasa dengan Al Auza’i.” [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa dalam sanad yang disebutkan oleh Al Baihaqi (hal. 430-431) terdapat Ismail bin Qutaibah. Ibnu Abi Hatim tidak memberikan penilaian positif (ta’dil) atau negatif (jarh) terhadapnya. Telah diriwayatkan pula oleh Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Musa Al Ka’bi, rowi dari atsar ini darinya. Beliau merupakan guru dari Al Hakim. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 138].

    28. Sufyan Ats Tsauri [hidup pada tahun 97-161 H].

    روى غير واحد عن معدان الذي يقول فيه ابن المبارك هو أحد الأبدال قال سألت سفيان الثوري عن قوله عزوجل وهو معكم أينما كنتم قال علمه

    Diriwayatkan lebih dari satu orang dari Mi’dan, yang Ibnul Mubarok juga mengatakan hal ini. Ia mengatakan bahwa ia bertanya pada Sufyan Ats Tsauri mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,

    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

    “Dia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada.” (QS. Al Hadid: 4). Sufyan Ats Tsauri menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah ilmu Allah (yang berada bersama kalian, bukan dzat Allah, pen). [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 137-138].

    29. Abdullah bin Al Mubarok [Seorang Alim Besar Negeri Khurosan tahun 118 – 181 H], Menyatakan Allah Berada di Atas Langit Ketujuh,

    صح عن علي بن الحسن بن شقيق قال قلت لعبد الله بن المبارك كيف نعرف ربنا عزوجل قال في السماء السابعة على عرشه ولا نقول كما تقول الجهمية إنه هاهنا في الأرض فقيل هذا لأحمد بن حنبل فقال هكذا هو عندنا

    Telah shahih dari ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, dia berkata, “Aku berkata kepada Abdullah bin Al Mubarok, bagaimana kita mengenal Rabb kita ‘azza wa jalla. Ibnul Mubarok menjawab, “Rabb kita berada di atas langit ketujuh dan di atasnya adalah ‘Arsy. Tidak boleh kita mengatakan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah berada di sini yaitu di muka bumi.” Kemudian ada yang menanyakan tentang pendapat Imam Ahmad bin Hambal mengenai hal ini. Ibnul Mubarok menjawab, “Begitulah Imam Ahmad sependapat dengan kami.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 149. Riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Al Hamawiyah dan Ibnul Qayyim dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 152].

    30. Abu Bakr Al Atsrom mengatakan bahwa Muhammad bin Ibrahim Al Qoisi mengabarkan padanya, ia berkata bahwa Imam Ahmad bin Hambal menceritakan dari Ibnul Mubarok ketika ada yang bertanya padanya,

    كيف نعرف ربنا

    “Bagaimana kami bisa mengetahui Rabb kami?” Ibnul Mubarok menjawab,

    في السماء السابعة على عرشه

    “Allah di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya.” Imam Ahmad lantas mengatakan,

    هكذا هو عندنا

    “Begitu juga keyakinan kami.” [ Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, hal. 118].

    31. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad ketika membantah pendapat Jahmiyah dan beliau membawakan sanadnya dari Ibnul Mubarok. Ia ceritakan bahwa ada seseorang yang mengatakan pada Ibnul Mubarok, “Wahai Abu ‘Abdirrahman (Ibnul Mubarok), sungguh pengenalan tentang Allah menjadi samar karena pemikiran-pemikiran yang diklaim oleh Jahmiyah.” Ibnul Mubarok lantas menjawab, “Tidak usah khawatir. Mereka mengklaim bahwa Allah sebagai sesembahanmu yang sebenarnya berada di atas langit sana, namun mereka katakan Allah tidak di atas langit.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 150. Syaikh Al Albani mengatakan dikeluarkan dalam As Sunnah (hal. 7) dari Ahmad bin Nashr, dari Malik, telah mengabarkan kepadaku seseorang dari Ibnul Mubarok. Seluruh periwayatnya tsiqoh (terpercaya) kecuali yang tidak disebutkan namanya. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 152].

    32. ‘Abbad bin Al ‘Awwam [ hidup sekitar tahun 185 H], Muhaddits (Pakar Hadits) dari Daerah Wasith.

    قال عباد بن العوام كلمت بشرا المريسي وأصحابه فرأيت آخر كلامهم ينتهي إلى أن يقولوا ليس في السماء شيء أرى أن لا يناكحوا ولا يوارثوا

    ‘Abbad bin Al ‘Awwam mengatakan, “Aku pernah berkata Basyr Al Murosi dan pengikutnya, aku pun melihat bahwa mereka mengatakan, “Di atas langit tidak ada sesuatu pun. Aku menilai bahwa orang semacam ini tidak boleh dinikahi dan diwarisi.” [ Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 151].

    33. ‘Abdurrahman bin Mahdi [hidup pada tahun 125-198 H], Seorang Imam Besar.

    ابن مهدي قال إن الجهمية أرادوا أن ينفوا أن يكون الله كلم موسى وأن يكون على العرش أرى أن يستتابوا فإن تابوا وإلا ضربت أعناقهم

    ‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan bahwa Jahmiyah menginginkan agar dinafikannya pembicaraan Allah dengan Musa, dinafikannya keberedaan Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy. Orang seperti ini mesti dimintai taubat. Jika tidak, maka lehernya pantas dipenggal. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 159. Dikeluarkan pula oleh Abdullah (hal. 10-11) dari jalannya, disebutkan secara ringkas. Ibnul Qayyim menshahihkan riwayat ini dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 170].

    34. Syaikhul Islam Yazid bin Harun [hidup sebelum tahun 206 H],

    قال الحافظ أبو عبد الرحمن بن الإمام أحمد في كتاب الرد على الجهمية حدثني عباس العنبري أخبرنا شاذ بن يحيى سمعت يزيد بن هارون وقيل له من الجهمية قال من زعم أن الرحمن على العرش استوى على خلاف ما يقر في قلوب العامة فهو جهمي

    Al Hafizh Abu ‘Abdirrahman bin Al Imam Ahmad dalam kitab bantahan terhadap Jahmiyah, ia mengatakan, ‘Abbas Al Ambari telah menceritakan padaku, ia mengatakan, Syadz bin Yahya telah menceritakan pada kami bahwa ia mendengar Yazid bin Harun ditanya tentang Jahmiyah. Yazid mengatakan, “Siapa yang mengklaim bahwa Allah Yang Maha Pengasih menetap tinggi di atas ‘Arsy namun menyelisih apa yang diyakini oleh hati mayoritas manusia, maka ia adalah Jahmi.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 157. Abdullah bin Ahmad mengeluarkan dalam As Sunnah (hal. 11-12) dari jalannya. Namun Adz Dzahabi menyebutkan dari selain kitab itu yaitu dalam kitab Ar Rodd ‘alal Jahmiyah (bantahan terhadap Jahmiyah), Abdullah berkata, Abbas bin Al ‘Azhim Al Ambari telah mengabarkan pada kamim Syadz bin Yahya telah menceritakan pada kami. Juga riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Masail (hal. 268), ia berkata, Ahmad bin Sinan telah menceritakan pada kami, ia berkata: Aku mendengar Syadz bin Yahya. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 168].

    35. Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i [hidup pada tahun 122-208 H], Ulama Bashroh.

    قال عبد الرحمن بن أبي حاتم حدثنا أبي قال حدثت عن سعيد ابن عامر الضبعي أنه ذكر الجهمية فقال هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء

    ‘Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata aku diceritakan dari Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’I bahwa ia berbicara mengenai Jahmiyah. Beliau berkata, “Jahmiyah lebih jelek dari Yahudi dan Nashrani. Telah diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 168].

    36. Wahb bin Jarir [meninggal tahun 206 H], Ulama Besar Bashroh,

    محمد بن حماد قال سمعت وهب بن جرير يقول إياكم ورأي جهم فإنهم يحاولون أنه ليس شيء في السماء وما هو إلا من وحي إبليس ما هو إلا الكفر

    Muhammad bin Hammad mengatakan bahwa ia mendengar Wahb bin Jarir berkata, “Waspadalah dengan pemikiran Jahmiyam. Sesungguhnya mereka memalingkan makna bahwa di atas langit sesuatu pun (berarti Allah tidak di atas langit, pen). Sesungguhnya pemikiran semacam ini hanyalah wahyu dari Iblis. Perkataan semacam tidak lain hanyalah perkataan kekufuran.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 159. Atsar ini dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al Juyusy. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 170].

    37. Al Qo’nabi [meninggal tahun 221 H], Ulama Besar di Masanya,

    قال بنان بن أحمد كنا عند القعنبي رحمه الله فسمع رجلا من الجهمية يقول الرحمن على العرش استوى فقال القعنبي من لا يوقن أن الرحمن على العرش استوى كما يقر في قلوب العامة فهو جهمي أخرجهما عبد العزيز القحيطي في تصانيفه والمراد بالعامة عامة أهل العلم كما بيناه في ترجمة يزيد بن هارون إمام أهل واسط ولقد كان القعنبي من أئمة الهدى حتى لقد تغالى فيه بعض الحفاظ وفضله على مالك الإمام

    Bunan bin Ahmad mengatakan, “Aku pernah berada di sisi Al Qo’nabi, ia mendengar seorang yang berpahaman Jahmiyah menyebutkan firman Allah,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [ QS. Thoha: 5], Al Qo’nabi lantas mengatakan, “Siapa yang tidak meyakini Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy sebagaimana diyakini oleh para ulama, maka ia adalah Jahmi.” [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 166. Bunan bin Ahmad tidak mengapa, sejarah hidupnya disebutkan di Tarikh Bagdad. Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 178].

    38. Abdullah bin Az Zubair Al Qurosyi Al Asadi Al Humaidi [meninggal tahun 219 H, Ulama Besar Makkah, Murid dari Sufyan bin ‘Uyainah, Guru dari Imam Al Bukhari], mengatakan:

    أصول السنة عندنا فذكر أشياء ثم قال وما نطق به القرآن والحديث مثل وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم ومثل قوله والسموات مطويات بيمينه وما أشبه هذا من القرآن والحديث لا نزيد فيه ولا نفسره ونقف على ما وقف عليه القرآن والسنة ونقول الرحمن على العرش استوى ومن زعم غير هذا فهو مبطل جهم

    Aqidah yang paling pokok yang kami yakini (lalu beliau menyebutkan beberapa hal): Ayat atau hadits yang menyebutkan (misalnya tangan Allah, pen),

    وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ

    “Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu” [ QS. Al Maidah: 64].

    Semisal pula firman Allah,

    وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

    “Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya” [ QS. Az Zumar: 67], dan juga ayat dan hadits yang semisal itu, kami tidak akan menambah dan kami tidak akan menafsirkan (bagaimanakah hakekat sifat tersebut). Kami cukup berdiam diri sebagaimana yang dituntunkan Al Quran dan Hadits Nabawi (yang tidak menyebutkan hakekatnya). Kami pun meyakini,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [ QS. Thoha: 5]. Barangsiapa yang tidak meyakini seperti ini, maka dialah Jahmiyah yang penuh kebatilan. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 168. Ibnu Taimiyah telah menshahihkan atsar ini dari Al Humaidi dalam Kitabnya “Mufashol Al I’tiqod”. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw hal. 180].

    39. Al-Imam Al-Humaidiy rahimahullah juga berkata :

    وما أشبه هذا من القرآن والحديث، لا نزيد فيه ولا نفسره. نقف على ما وقف عليه القرآن والسنة. ونقول : (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)، ومن زعم غير هذا فهو معطل جهمي.

    “Dan ayat-ayat serta hadits-hadits yang serupa dengan ini (tentang Asma dan Shifat Allah), maka kami tidak menambah-nambahi dan tidak pula menafsirkannya (menta’wilkannya). Kami berhenti atas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunah berhenti padanya. Dan kami berkata : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Barangsiapa yang berpendapat selain itu, maka ia seorang Mu’aththil Jahmiy” [Ushuulus-Sunnah oleh Al-Humaidiy, hal. 42, tahqiq : Misy’aal Muhammad Al-Haddaadiy; Daar Ibn Al-Atsiir, Cet. 1/1418].

    40. Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi [meninggal tahun 221 H], Ulama Hanafiyah, murid dari Muhammad bin Al Hasan.

    قال ابن أبي حاتم حدثنا علي بن الحسن بن يزيد السلمي سمعت أبي يقول سمعت هشام بن عبيد الله الرازي وحبس رجلا في التجهم فجيء به إليه ليمتحنه فقال له أتشهد أن الله على عرشه بائن من خلقه فقال لا أدري ما بائن من خلقه فقال ردوه فإنه لم يتب بعد

    Ibnu Abi Hatim mengatakan, ‘Ali bin Al Hasan bin Yazid As Sulami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ayahku berkata, “Aku pernah mendengar Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi –ketika itu beliau menahan seseorang yang berpemikiran Jahmiyah, orang itu didatangkan pada beliau, lantas beliau pun mengujinya-. Hisyam bertanya padanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.” Orang itu pun menjawab, “Aku tidak mengetahui apa itu terpisah dari makhluk-Nya.” Hisyam kemudian berkata, “Kembalikanlah ia karena ia masih belum bertaubat.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 169. Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Al Haruwi dalam “Dzammul Kalam” (1/120). Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 181].

    41. Basyr Al Haafi [hidup pada tahun 151-227 H], Ulama yang Begitu Zuhud di Masanya

    Disebutkan oleh Adz Dzahabi,

    له عقيدة رواها ابن بطة في كتاب الإبانة وغيره فمما فيها والإيمان بأن الله على عرشه استوى كما شاء وأنه عالم بكل مكان

    Basyr Al Haafi memilki pemahaman aqidah yang disebutkan oleh Ibnu Battoh dalam Al Ibanah dan selainnya, di antara perkataan beliau adalah: “Beriman bahwa Allah menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Allah kehendaki. Namun meski begitu, ilmu Allah di setiap tempat.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 172. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 185].

    42. Ahmad bin Nashr Al Khuza’i [meninggal tahun 231 H].

    قال إبراهيم الحربي فيما صح عنه قال أحمد بن نصر وسئل عن علم الله فقال علم الله معنا وهو على عرشه

    Ibrahim Al Harbi berkata mengenai perkataan shahih darinya, yaitu Ahmad bin Nashr berkata ketika ditanya mengenai ilmu Allah, “Ilmu Allah selalu bersama kita, sedangkan Dzat-Nya tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 173. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 186-187].

    43. Abu Ma’mar Al Qutai’iy [meninggal tahun 236 H, Guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim].

    نقل ابن أبي حاتم في تأليفه عن يحيى بن زكرياء عن عيسى عن أبي شعيب صالح الهروي عن أبي معمر إسماعيل بن إبراهيم أنه قال آخر كلام الجهمية أنه ليس في السماء إله

    Dinukil dari Ibnu Abi Hatim dalam karyanya, dari Yahya bin Zakariya, dari ‘Isa, dari Abu Syu’aib Sholih Al Harowiy, dari Abu Ma’mar Isma’il bin Ibrohim, beliau berkata, “Akhir dari perkataan Jahmiyah: Di atas langit (atau di ketinggian) tidak ada Allah yang disembah.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174-175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188].

    44. ‘Ali bin Al Madini [meninggal tahun 234 H, Imam Para Pakar Hadits].

    قال شيخ الإسلام أبو إسماعيل الهروي أنبأنا محمد بن محمد بن عبد الله حدثنا أحمد بن عبد الله سمعت محمد بن إبراهيم بن نافع حدثنا الحسن بن محمد بن الحارث قال سئل علي بن المديني وأنا أسمع ما قول أهل الجماعة قال يؤمنون بالرؤية وبالكلام وأن الله عزوجل فوق السموات على عرشه استوى

    Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harowi mengatakan, Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdillah menceritakan kepada kami, aku mendengar Muhammad bin Ibrahim bin Naafi’ mengatakan, Al Hasan bin Muhammad bin Al Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ali bin Al Madini ditanya dan aku pun mendengarnya, “Apa perkataan dari Ahlul Jama’ah (Ahlus Sunnah)?” ‘Ali bin Al Madini mengatakan, “Mereka (Ahlus Sunnah) beriman pada ru’yah (Allah akan dilihat), mereka beriman bahwa Allah berbicara dan Allah berada di atas langit, menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188-189].

    45. Ishaq bin Rohuwyah [hidup antara tahun 166-238 H, Ulama Besar Khurosan.

    قال أبو بكر الخلال أنبأنا المروذي حدثنا محمد بن الصباح النيسابوري حدثنا أبو داود الخفاف سليمان بن داود قال قال إسحاق بن راهويه قال الله تعالى الرحمن على العرش استوى إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

    Abu Bakr Al Khollal mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Al Maruzi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Muhammad bin Shobah An Naisaburi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Abu Daud Al Khonaf Sulaiman bin Daud. Beliau katakan, Ishaq bin Rohuwyah berkata, “Allah Ta’ala berfirman,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy” [ QS. Thaha: 5]. Para ulama sepakat (berijma’) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy dan beristiwa’ (menetap tinggi) di atas-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawah-Nya, sampai di bawah lapis bumi yang ketujuh. [Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 179. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 194].

    46. Ishaq bin Rohuwyah,

    قال حرب بن إسماعيل الكرماني قلت لإسحاق بن راهويه قوله تعالى ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم كيف تقول فيه قال حيث ما كنت فهو أقرب إليك من حبل الوريد وهو بائن من خلقه

    ثم ذكر عن ابن المبارك قوله هو على عرشه بائن من خلقه

    ثم قال أعلى شيء في ذلك وأبينه قوله تعالى الرحمن على العرش استوى رواها الخلال في السنة عن حرب

    Harb bin Isma’il Al Karmani, ia berkata bahwa ia berkata pada Ishaq bin Rohuwyah mengenai firman Allah,

    مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ

    “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” (QS. Al Mujadilah: 7). Bagaimanakah pendapatmu mengenai ayat tersebut?”

    Ishaq bin Rohuwyah menjawab, “Dia itu lebih dekat (dengan ilmu-Nya) dari urat lehermu. Namun Dzat-Nya terpisah dari makhluk. Kemudian beliau menyebutkan perkataan Ibnul Mubarok, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.”

    Lalu Ishaq bin Rohuwyah mengatakan, “Ayat yang paling gamblang dan paling jelas menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [ QS. Thoha: 5]

    Al Khollal meriwayatkannya dalam As Sunnah dari Harb. [ Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 177. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 191].

    47. Qutaibah bin Sa’id [hidup tahun 150-240 H], Ulama Besar Khurosan.

    قال أبو أحمد الحاكم وأبو بكر النقاش المفسر واللفظ له حدثنا أبو العباس السراج قال سمعت قتيبة بن سعيد يقول هذا قول الأئمة في الإسلام والسنة والجماعة نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه كما قال جل جلاله الرحمن على العرش استوى وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه

    Abu Ahmad Al Hakim dan Abu Bakr An Naqosy Al Mufassir (dan ini lafazh dari Abu Bakr), ia berkata, Abul ‘Abbas As Siroj telah menceritakan pada kami, ia berkata, aku mendengar Qutaibah bin Sa’id berkata, “Ini adalah perkataan para ulama besar Islam, Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.” [QS. Thoha: 5]. [ Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187].

    48. Begitu pula dinukil dari Musa bin Harun dari Qutaibah, ia berkata,

    نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه

    “Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187].

    49. Al Imam Al ‘Alam Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad Dainuri [hidup pada tahun 213-276 H]–penulis kitab yang terkenal yaitu Mukhtalaf Al Hadits- berkata,

    قال وفي الإنجيل أن المسيح عليه السلام قال للحواريين إن أنتم غفرتم للناس فإن أباكم الذي في السماء يغفر لكم ظلمكم أنظروا إلى الطير فإنهن لا يزرعن ولا يحصدن وأبوكم الذي في السماء هو يرزقهن ومثل هذا في الشواهد كثير قلت قوله أبوكم كانت هذه الكلمة مستعملة في عبارة عيسى والحواريين وفي المائدة وقالت اليهود والنصارى نحن أبناء الله وأحباؤه

    “Disebutkan dalam Injil bahwa Al Masih (‘Isa bin Maryam) ‘alaihis salam berkata kepada (murid-muridnya yang setia) Al Hawariyyun, “Jika kalian memaafkan orang lain, sungguh Rabb kalian yang berada di atas langit akan mengampuni kezholiman kalian. Lihatlah pada burung-burung, mereka tidak menanam makanan, Rabb mereka-lah yang berada di langit yang memberi rizki pada mereka.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 196 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 216-217. Catatan: Istilah “abukum” (ayah kalian) untuk menyebut Allah yang digunakan di masa Isa dan sudah tidak berlaku lagi untuk umat Islam. Demikian dijelaskan oleh Adz Dzahabi].

    50. Qutaibah berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :

    “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran.” [Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395].

    Adz Dzahabi setelah membawakan perkataan Qutaibah, beliau mengatakan, “Inilah Qutaibah sudah dikenal kebesarannya dalam ilmu dan kejujurannya, beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai keyakinan Allah di atas langit”. [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187].

    51. Muhammad bin Aslam Ath Thusi [meninggal dunia tahun 242 H].

    قال الحاكم في ترجمته حدثنا يحيى العنبري حدثنا أحمد بن سلمة حدثنا محمد بن أسلم قال قال لي عبد الله بن طاهر بلغني أنك لا ترفع رأسك إلى السماء فقلت ولم وهل أرجو الخير إلا ممن هو في السماء

    Al Hakim dalam biografinya mengatakan, Yahya Al ‘Anbari menceritakan pada kami, Ahmad bin Salamah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Aslam menceritakan kepada kami, beliau berkata, “’Abdullah bin Thohir berkata padaku, “Telah sampai padaku berita bahwa engkau enggan mengangkat kepalamu ke arah langit.” Muhammad bin Aslam menjawab, “Tidak demikian. Bukankah aku selalu mengharap kebaikan dari Rabb yang berada di atas langit?” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 191 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 208-209].

    52. ‘Abdul Wahhab Al Warroq [meninggal dunia tahun 250 H].

    حدث عبد الوهاب بن عبد الحكيم الوراق بقول ابن عباس ما بين السماء السابعة إلى كرسيه سبعة آلاف نور وهو فوق ذلك ثم قال عبد الوهاب من زعم أن الله ههنا فهو جهمي خبيث إن الله عزوجل فوق العرش وعلمه محيط بالدنيا والآخرة

    ‘Abdul Wahhab bin ‘Abdil Hakim Al Warroq menceritakan perkataan Ibnu ‘Abbas, “Di antara langit yang tujuh dan kursi-Nya terdapat 7000 cahaya. Sedangkan Allah berada di atas itu semua.” Kemudian ‘Abdul Wahhab berkata, “Barangsiapa yang mengklaim bahwa Allah itu di sini (di muka bumi ini), maka Dialah Jahmiyah yang begitu jelek. Allah ‘azza wa jalla berada di atas ‘Arsy, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu di dunia dan akhirat.”

    Adz Dzahabi menceritakan, bahwa pernah ditanya pada Imam Ahmad bin Hambal, “Alim mana lagi yang jadi tempat bertanya setelah engkau?” Lantas Imam Ahmad menjawab, “Bertanyalah pada ‘Abdul Wahhab bin Al Warroq”. Beliau pun banyak memujinya. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 193 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 212].

    53. Abu Muhammad Ad Darimi, penulis kitab Sunan Ad Darimi [hidup pada tahun 181-255 H].

    Adz Dzahabi mengatakan,

    وممن لا يتأول ويؤمن بالصفات وبالعلو في ذلك الوقت الحافظ أبو محمد عبد الله بن عبد الرحمن السمرقندي الدارمي وكتابه ينبيء بذلك

    “Di antara ulama yang tidak mentakwil (memalingkan makna) dan benar-benar beriman dengan sifat Allah al ‘Uluw (yaitu Allah berada di ketinggian) saat ini adalah Al Hafizh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman As Samarqindi Ad Darimi. Dalam kitab beliau menjelaskan hal ini.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 195 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 214].

    54. Harb Al Karmaniy [meninggal dunia pada tahun 270-an H],

    قال عبد الرحمن بن محمد الحنظلي الحافظ أخبرني حرب بن إسماعيل الكرماني فيما كتب إلي أن الجهمية أعداء الله وهم الذين يزعمون أن القرآن مخلوق وأن الله لم يكلم موسى ولا يرى في الآخرة ولا يعرف لله مكان وليس على عرش ولا كرسي وهم كفار فأحذرهم

    ‘Abdurrahman bin Muhammad Al Hanzholi Al Hafizh berkata, Harb bin Isma’il Al Karmani menceritakan padaku terhadap apa yang ia tulis padaku, “Sesungguhnya Jahmiyah benar-benar musuh Allah. Mereka mengklaim bahwa Al Qur’an itu makhluk. Allah tidak berbicara dengan Musa dan juga tidak dilihat di akhirat. Mereka sungguh tidak tahu tempat Allah di mana, bukan di atas ‘Arsy, bukan pula di atas kursi-Nya. Mereka sungguh orang kafir. Waspadalah terhadap pemikiran sesat mereka.”

    Adz Dzahabi mengatakan bahwa Harb Al Karmani adalah seorang ulama besar di daerah Karman di zamannya. Ia mengambil ilmu dari Ahmad dan Ishaq. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 194 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 213].

    55. Al Muzanni [meninggal dunia pada tahun 264 H dalam usia 80-an tahun].

    أنبأنا ابن سلامة عن أبي جعفر الطرطوسي عن يحيى بن منده حدثنا أحمد بن الفضل أنبأ الياطرقاني سمعت أبا عمر السلمي سمعت أبا حفص الرفاعي سمعت عمرو بن تميم المكي قال سمعت محمد بن إسماعيل الترمذي سمعت المزني يقول لا يصح لأحد توحيد حتى يعلم أن الله على العرش بصفاته قلت مثل أي شيء قال سميع بصير عليم قدير أخرجها ابن منده في تاريخه

    Ibnu Salamah telah menceritakan pada kami, dari Abu Ja’far Ath Thurthusi, dari Yahya bin Mandah, Ahmad bin Al Fadhl telah menceritakan kepada kami, Al Yathuqorni telah menceritakan, aku mendengar ‘Umar As Sulami, aku mendengar Abu Hafsh Ar Rifa’i, aku mendengar ‘Amr bin Tamim Al Makki, ia berkata, aku mendengar Muhammad bin Isma’il At Tirmidzi, aku mendengar Al Muzanni berkata,

    لا يصح لأحد توحيد حتى يعلم أن الله على العرش بصفاته

    “Ketauhidan seseorang tidaklah sah sampai ia mengetahui bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-nya dengan sifat-sifat-Nya.” Aku pun berkata, “Sifat-sifat yang dimaksud semisal apa?” Ia berkata, “Sifat mendengar, melihat, mengetahui dan berkuasa atas segala sesuatu.” Ibnu Mandah mengeluarkan riwayat ini dalam kitab tarikhnya. [Syaikh Al Albani mengatakan, “Dari jalur yang dibawakan oleh penulis (Adz Dzahabi) dengan sanadnya terdapat perowi yang tidak aku kenal semisal ‘Amr bin Tamim Al Makki.” (Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 201)].

    56. Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy [meninggal dunia pada tahun 258 H].

    قال الحاكم قرأت بخط أبي عمرو المستملي سئل محمد بن يحيى عن حديث عبد الله بن معاوية عن النبي ليعلم العبد أن الله معه حيث كان فقال يريد أن الله علمه محيط بكل ما كان والله على العرش

    Al Hakim berkata, “Aku membacakan dengan tulisan pada Abu ‘Amr Al Mustahli, Muhammad bin Yahya ditanya mengenai hadits ‘Abdullah bin Mu’awiyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    ليعلم العبد أن الله معه حيث كان

    “Supaya hamba mengetahui bahwa Allah bersama dirinya di mana saja ia berada.”

    Lantas Adz Dzuhliy mengatakan,

    أن الله علمه محيط بكل ما كان والله على العرش

    “Ketahuilah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, namun Allah tetap di atas ‘Arsy-Nya.” [Syaikh Al Albani mengatakan, “Riwayat ini dibawakan oleh penulis dari Muhammad bin Nu’aim, aku sendiri tidak mengenalnya.” (Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202)].

    57. Muhammad bin Isma’il Al Bukhari [hidup dari tahun 194-256 H].

    قال الإمام أبو عبد الله محمد بن إسماعيل في آخر الجامع الصحيح في كتاب الرد على الجهمية باب قوله تعالى وكان عرشه على الماء قال أبو العالية استوى إلى السماء إرتفع وقال مجاهد في استوى علا على العرش وقالت زينب أم المؤمنين رضي الله عنها زوجني الله من فوق سبع سموات

    Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari berkata dalam akhir Al Jaami’ Ash Shohih dalam kitab bantahan kepada Jahmiyah, beliau membawakan Bab firman Allah Ta’ala,

    وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

    “Dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air.” (QS. Hud : 7).

    Abul ‘Aliyah mengatakan bahwa maksud dari ‘istiwa’ di atas langit’ adalah naik. Mujahid mengatakan bahwa istiwa’ adalah menetap tinggi di atas ‘Arsy. Zainab Ummul Mukminin mengatakan, “Allah yang berada di atas langit ketujuh yang telah menikahkanku.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 186 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202].

    58. Abu Zur’ah Ar Rozi [meninggal tahun 264 H].

    قال أبو إسماعيل الأنصاري مصنف ذم الكلام وأهله أنبا أبو يعقوب القراب أنبأنا جدي سمعت أبا الفضل إسحاق حدثني محمد ابن إبراهيم الأصبهاني سمعت أبا زرعة الرازي وسئل عن تفسير الرحمن على العرش استوى فغضب وقال تفسيره كما تقرأ هو على عرشه وعلمه في كل مكان من قال غير هذا فعليه لعنة الله

    Abu Isma’il Al Anshori –penulis Dzammul Kalam wa Ahlih-, Abu Ya’qub Al Qurob menceritakan, kakekku menceritakan pada kami, aku mendengar Abul Fadhl Ishaq, Muhammad bin Ibrohim Al Ash-bahani telah menceritakan padaku, aku mendengar Abu Zur’ah Ar Rozi ditanya mengenai tafsir firman Allah,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah yang menetap tinggi di atas ‘Arsy .” (QS. Thoha : 5). Beliau lantas marah. Kemudian beliau pun berkata, “Tafsirnya sebagaimana yang engkau baca. Allah di atas ‘Arsy-Nya sedangkan ilmu Allah yang berada di mana-mana. Siapa yang mengatakan selain ini, maka dialah yang akan mendapat laknat Allah.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 187-188 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 203].

    59. Ahmad bin Abul Khoir telah menceritakan kepada kami, dari Yahya bin Yunus, Abu Tholib menceritakan pada kami, Abu Ishaq Al Barmaki telah menceritakan pada kami, ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz telah menceritakan pada kami, ia berkata bahwa ‘Abdurrahman bin Abu Hatim telah menceritakan pada kami, bahwa dia bertanya pada ayahnya dan Abu Zur’ah mengenai aqidah Ahlus Sunnah dalam ushuluddin dan apa yang dipahami oleh keduanya mengenai perkataan para ulama di berbagai negeri dan apa saja keyakinan mereka.

    Abu Hatim dan Abu Zur’ah berkata,

    “Yang kami ketahui bahwa ulama di seluruh negeri di Hijaz, ‘Iraq, Mesir, Syam, Yaman; mereka semua meyakini bahwa Allah Tabaroka wa Ta’ala berada di atas ‘Arsy-nya, terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana yang Allah sifati pada diri-Nya sendiri dan tanpa kita ketahui hakikatnya. Sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” [ Lihat Al ‘Uluw, hal. 188 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 204].

    60. Abu Hatim Ar Rozi [meninggal dunia tahun 277 H].

    قال الحافظ أبو القاسم الطبري وجدت في كتاب أبي حاتم محمد بن إدريس بن المنذر الحنظلي مما سمع منه يقول مذهبنا وإختيارنا إتباع رسول الله وأصحابه والتابعين من بعدهم والتمسك بمذاهب أهل الأثر مثل الشافعي وأحمد وإسحاق وأبي عبيد رحمهم الله تعالى ولزوم الكتاب والسنة ونعتقد أن الله عزوجل على عرشه بائن من خلقه ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

    Al Hafizh Abul Qosim Ath Thobari mengatakan bahwa beliau mendapati dalam kitab Abu Hatim Muhammad bin Idris bin Al Mundzir Al Hanzholi, perkataan yang didengar darinya, Abu Hatim mengatakan,

    “Pilihan kami adalah mengikuti Rasulullah, para sahabat, para tabi’in dan yang setelahnya. Kami pun berpegang dengan madzhab Ahlus Sunnah semacam Asy Syafi’i, Ahmad , Ishaq, Abu ‘Abdillah rahimahumullah. Kami pun konsekuen dengan Al Kitab dan As Sunnah. Kami meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya. Tidak ada yang semisal dengan-Nya, Dialah (Allah) yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    Lantas Abu Hatim Ar Rozi menyebutkan perkataan,

    وعلامة أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر وعلامة الجهمية أن يسموا أهل السنة مشبهة

    “Di antara tanda ahlul bid’ah adalah berbagai tuduhan keliru yang mereka sematkan pada Ahlus Sunnah. Tanda Jahmiyah adalah mereka menyebut Ahlus Sunnah dengan musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 189-190 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 206-207].

    61. Yahya bin Mu’adz Ar Rozi [meninggal dunia tahun 258 H].

    قال أبو إسماعيل الأنصاري في الفاروق بإسناد إلى محمد بن محمود سمعت يحيى بن معاذ يقول إن الله على العرش بائن من خلقه أحاط بكل شيء علما لا يشذ عن هذه المقالة إلا جهمي يمزج الله بخلقه

    Abu Isma’il Al Anshori berkata dalam Al Faruq dengan sanad sampai ke Muhammad bin Mahmud, aku mendengar Yahya bin Mu’adz berkata, “Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya. Namun ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang memiliki perkataan nyleneh selain Jahmiyah. Jahmiyah meyakini bahwa Allah bercampur dengan makhluk-Nya.” [Lihat Al ‘Uluw, hal. 190 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 207-208].

    62. Imam ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi [meninggal tahun 280 H] berkata :

    قد اتفقت الكلمة من المسلمين أن الله فوق عرشه فوق سماواتة

    “Sungguh kaum muslimin telah bersepakat terhadap satu kalimat bahwasannya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit-langit-Nya”. [Al-Arba’iin fii Shifaati Rabbil-‘Aalamiin oleh Adz-Dzahabiy, tahqiq ‘Abdul-Qaadir Athaa, hal. 43 no. 17; Maktabah Al-‘Uluum wal-Hikam, Cet. 1/1413].

    63. Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi berkata: “Hadits ini (tentang hadits nuzul) sangat pahit bagi kelompok Jahmiyah dan mematahkan faham mereka bahwa Allah tidak di atas arsy tetapi di bumi sebagaimana Dia juga di langit. Lantas bagaimanakah Allah turun ke bumi kalau memang Dia sendiri sudah di atas bumi? Sungguh lafazh hadits ini membantah faham mereka dan mematahkan argumen mereka”. [Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Mirrisi Al-Jahmi Al-Anid hal. 285].

    64. Imam ‘Utsman ad-Darimi berkata: “Dalam hadits ini (tentang budak jariyah) terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi ‘Di mana Allah?’ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak disifati dengan ‘di mana?’, sebab sesuatu yang ada di mana-mana tidak mungkin disifati ‘dimana?’. Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi akan mengingkari jawabannya.”. [Ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 46-47].

    65. Imam Utsman ad-Darimi berkata: “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah.” [Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-’Aniid Hal 25].

    66. Abu Ja’far Ibnu Abi Syaibah, Ulama Hadits di Negeri Kufah [meninggal tahun 297 H].

    Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah Al ‘Abasi, muhaddits Kufah di masanya, di mana beliau telah menulis tentang masalah ‘Arsy dalam seribu kitab, beliau berkata,

    ذكروا أن الجهمية يقولون ليس بين الله وبين خلقه حجاب وأنكروا العرش وأن يكون الله فوقه وقالوا إنه في كل مكان ففسرت العلماء وهومعكم يعني علمه ثم تواترت الأخبار أن الله تعالى خلق العرش فاستوى عليه فهو فوق العرش متخلصا من خلقه بائنا منهم

    Jahmiyah berkata bahwa antara Allah dan makhluk-Nya sama sekali tidak ada pembatas. Jahmiyah mengingkari ‘Arsy dan mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy. Jahmiyah katakan bahwa Allah berada di setiap tempat. Padahal para ulama menafsirkan ayat (وهومعكم), Allah bersama kalian, yang dimaksud adalah dengan ilmu Allah. Kemudian juga telah ada berbagai berita mutawatir (yang melalui jalan yang amat banyak) bahwa Allah menciptakan ‘Arsy, lalu beristiwa’ (menetap tinggi) di atasnya. Allah benar-benar di atas ‘Arsy, namun Allah terpisah atau tidak menyatu dengan makhluk-Nya. [Lihat Al ‘Uluw, hal. 220 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 220-221].

    67. Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H).

    Beliau berkata :

    القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”.

    “Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami –dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai- bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya.”

    (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482).

    Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185).

    68. Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H).

    Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid :

    “Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:

    Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang

  98. dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah” [At-Tauhiid 1/254].

    69. Berkata Muhammad bin Ishaq ibnu Khuzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (rampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid :

    “Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim”. (HR. Bukhari Muslim). [Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47].

    70. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi rahimahullah [wafat tahun 321 H].

    Beliau berkata: “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang ada dibawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang ada diatasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Beliau menjelaskan bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah memiliki hikmah tersendiri tentang hal itu. Bahkan sebaliknya, sekalian makhluk termasuk ‘Arsy bergantung kepada Allah Jalla wa ‘Ala.” [Lihat Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdil ‘Izz ad-Dimasyqi dalam Syarh ‘Aqidah at-Thahâwiyah, (hal. 372)].

    71. Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari rahimahullah [lahir tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H].

    Beliau berkata dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:

    Ijmak kesembilan :

    Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah,

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ

    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).

    Dan Allah berfirman

    إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

    kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).

    Dan Allah berfirman

    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5).

    Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya,

    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

    Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4).

    Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” [Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234].

    72. Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy malah bersaksi bahwa ciri ahlussunnah adalah sebagai berikut: “Berkata Ahlussunnah dan Ashhab al-Hadits: “Dia bukan jisim, tidak menyerupai apapun, Dia ada di atas Arsy seperti yang Dia kabarkan (Thaha: 5). Kita tidak melancangi Allah dalam ucapan, tetapi kita katakan: istawa tanpa kaif. Dia adalah Nur (pemberi cahaya) sebagaimana firmann-Nya (an-Nur: 35), Dia memiliki wajah sebagaimana firman-Nya (al-Rahman: 27), Dia memiliki Yadain (dua tangan) sebagaimana firman-Nya (Shad: 75), dia memiliki dua ‘ain (mata) sebagaimana firmanNya (al-Qamar: 14), Dia akan datang pada hari kiamat Dia dan para malaikat-Nya sebagaiman firman-Nya (al-Fajr: 22), dia turun ke langit terendah sebagaimana dalam hadits. Mereka tidak mengatakan apapun kecuali apa yang mereka dapatkan dalam al-Qur`an atau yang datang keterangannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.” [Al Maqalat: 136].

    73. Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkomentar tentang ‘aqidah Jahmiyyah yang satu ini dengan perkataannya :

    وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق، وذهبوا في الإستواء إلى القدرة، فلو كان كما قالوا كان لا فرق بين العرش وبين الأرض السابعة لأنه قادر على كل شيء، والأرض شيء، فالله قادر عليها وعلى الحشوش.

    وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء، لجاز أن يقال : هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول : إن الله مستو على الأخلية والحشوش، فبطل أن يكون الإستواء [على العرش] : الإستيلاء.

    “Dan telah berkata orang-orang dari kalangan Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah (Khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). Jika saja hal itu seperti yang mereka katakan, maka tidak akan ada bedanya antara ‘Arsy dan bumi yang tujuh, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Bumi adalah sesuatu, dimana Allah berkuasa atasnya dan atas rerumputan.

    Begitu juga apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)” [selengkapnya, silakan lihat Al-Ibaanah, hal. 34-37 – melalui perantaraan Mukhtashar Al-‘Ulluw lidz-Dzahabiy oleh Al-Albaaniy, hal. 239; Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1401 H].

    74. Al Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam Al-Ibanah fi Ushul Diyanah hal. 69-76 : “Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdoa, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas arsy dan arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah arsy.”

    75. Al-Qaadhiy Abu Bakr Al-Baqillaniy (beliau adalah seorang ulama madzhab Asy’ariyyah generasi awal yang terkemuka dan banyak dipuji, wafat pada tahun 403 H di Baghdad).

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah :

    “Jika dikatakan : Apakah kalian mengatakan bahwa Allah berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kepada Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”

    Beliau berkata, “Kalau seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …”

    [Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-’Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-’Uluw 258)].

    76. Al-Qaadhiy Abu Bakr Al-Baqillaniy berkata :

    Bab : Apabila ada seseorang yang bertanya : “Dimanakah Allah ?”. Dikatakan kepadanya : “Pertanyaan ‘dimana’ adalah pertanyaan yang menyangkut tempat, dan Dia tidak boleh dilingkupi oleh satu tempat. Tidak pula satu tempat bisa meliputi-Nya. Namun, kita hanya boleh mengatakan (atas pertanyaan itu) : ‘Dia berada di atas ‘Arsy-Nya’, dimana hal itu tidak berkonsekuensi makna wujud badan (jism) yang bersentuhan dan berbatasan/berdekatan. Maha Tinggi (Allah) dari atas semua itu dengan setinggi-tinggi dan seagung-agung-Nya !” [At-Tamhiid, hal. 300-301].

    77. Ibnu Kullab [241 H] sendiri mengatakan: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, yang dia itu adalah orang pilihan Allah, dan yang terbaik, paling alim secara keseluruhan membolehkan untuk bertanya dengan “Dimana Allah”, dan mengatakannya serta membenarkan ucapan orang yang mengatakan: Di langit, dan pada saat itu bersaksi bahwa orang itu mukmin. Sedangkan Jahm ibn Abi Shafwan dan pengikutnya tidak membolehkan pertanyaan “Dimana“, mereka melarang mengucapkan itu. seandainya salah tentu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lebih berhak untuk mengingkari. Seharusnya beliau mengatakan kepada jariyah itu: jangan berkata begitu nanti kamu mengesankan bahwa Allah itu dibatasi, atau di satu tempat tidak di tempat lain, tetapi ucapkanlah ada di setiap tempat, karena itu yang benar, bukan yang tadi kamu katakan. Tidak, sekali kali tidak. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah membolehkannya dengan segenap pengetahuan beliau tentang kandungannya, dan dia adalah ucapan yang paling benar, sesuatu yang wajib adanya iman bagi pengucapnya, karena itu rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan keimanannya saat ia mengucapkannya. Lalu bagaimana kebenaran ada pada selainnya, sementara al-Qur`an mengatakan itu dan bersaksi untuk itu.” [Dar` at-Ta’arud: 6/193-194; Mawqif ibn taimiah minal asyairah, Dr. Abdurrahman al-Mahmud: 1/443].

    78. Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H).

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :

    “باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”

    أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه

    ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى

    “Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”

    Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136).

    Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-’uluw li Adz-Dzahabi 2/1284).

    79. Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H).

    Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul,

    ” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”

    وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

    “Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”

    80. Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz.” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-’Uluw 2/1315).

    Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-’Uluw 2/1315).

    81. Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H).

    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….

    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44).

    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317).

    82. Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H).

    Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) : Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”. Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-’Uluw 2/1321.

    83. Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H).

    Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod :

    “Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…

    dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-’Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-’Uluw 261).

    Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-’Uluw 2/1306).

    84. Imam Ibnu Abdil Barr (meninggal tahun 463H).

    Beliau berkata: “Dalam hadits ini (tentang hadits nuzul) terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyah yang berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana, bukan di atas arsy”. [At-Tamhid 3/338. Lihat pula Kitab At-Tauhid hal. 126 oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Dar’u Ta’arudzil Aqli wa Naqli 7/7 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah].

    85. Imam Ibnu Abdil Barr juga berkata :

    “Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut.” [Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47].

    86. Al-Imam Juwaini (ayahnya Imam Al-Haramain rahimahumallah, penulis kitab Al-Jauharah, tahun 438 H) berkata:

    استوى على عرشه فبان من خلفه لا يخفى عليه منهم خافية علمه بهم محيط وبصره بهم نافذ وهو في ذاته وصفاته لا يشبهه شيء من مخلوقاته ولا يمثل بشيء من جوارح مبتدعاته . هي صفات لائقة بجلاله وعظمته لا تتخيل كيفيتها الظنون ولا ترها في الدنيا العيون . بل نؤمن بحقائقها وثبوتها واتصاف الرب تعالى بها وننفي عنها تأويل المتأولين وتعطيل الجاحدين وتمثيل المشبهين تبارك الله أحسن الخالقين فبهذا الرب نؤمن وإياه نعبد وله نصلي ونسجد . فمن قصد بعبادته إلى إله ليست له هذه الصفات فإنما يعبد غير الله وليس معبوده ذلك بإله

    “Dia (Allah) bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, ilmu-Nya melingkupi mereka, dan penglihatan terhadap mereka terbukti. Dalam Dzat dan sifat-Nya, Dia tidak menyerupai makhluk-Nya. Tidak juga dimisalkan dengan sesuatu dari anggota-anggota badan makhluk-Nya. Ini adalah sifat-sifat yang sesuai dengan keagungan dan keluhuran-Nya. Bagaimananya tidak bisa dibayangkan, dan tidak ada mata yang dapat melihat-Nya di dunia. Tapi kita harus meyakini kebenaran dan ketetapannya, serta menyifati Tuhan dengan sifat-sifat tersebut. Kita (harus) menafikkan penakwilan dari orang-orang muta’awwiliin, penolakan dari orang-orang yang ingkar, dan permisalan dari orang-orang musyabbihiin. Maha Suci Allah dan Ia adalah sebaik-baik pencipta. Kepada Tuhan ini kita beriman, menyembah, shalat, dan bersujud. Oleh karena itu, orang yang sengaja beribadah kepada Tuhan yang tidak memiliki sifat-sifat ini, maka sesungguhnya ia menyembah kepada selain Allah, karena yang disembahnya itu bukanlah Tuhan.” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 56-57].

    87. Imam ‘Abdul Malik al Juwaini [Imam Al-Haramain, tahun 478 H].

    Pernah dikisahkan bahwa suatu hari Imam ‘Abdul Malik al Juwaini mengatakan dalam majelisnya, “Allah tidak dimana-mana, sekarang Ia berada di mana pun Dia berada.” Lantas bangkitlah seorang yang bernama Abu Ja’far al Hamdhani seraya berkata, “Wahai ustadz! Kabarkanlah kepada kami tentang ketinggian Allah yang sudah mengakar di hati kami ini, bagaimana kami menghilangkannya?” Abdul Malik al Juwaini berteriak dan menampar kepalanya seraya mengatakan, “Al Hamdhani telah membuat diriku bingung, al Hamdhani telah membuat diriku bingung.” [Lihat Siyar A’lamin Nubala 18/475, al ‘Uluw hal. 276-277 oleh Adz Dzahabi].

    Akhirnya Imam Juwaini pun mendapat hidayah Allah dan kembali ke jalan yang benar. Semoga saudara-saudara kita yang tersesat bisa mengikuti jejak beliau. Amiin.

    88. Imam Isma’il bin Muhammad at Taimi berkata, “Kaum muslimin bersepakat bahwa Allah tinggi sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an.” [Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hal. 182].

    89. Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni berkata:

    قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ ” أَلْفُ دَلِيلٍ ” أَوْ أَزْيَدُ : تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ . وَقَالَ غَيْرُهُ : فِيهِ ” ثَلَاثُمِائَةِ ” دَلِيلٍ تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ

    “Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Dan sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.” [Lihat Majmu’ Al Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 5/121, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H. Lihat pula Bayanu Talbisil Jahmiyah, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni, 1/555, Mathba’atul Hukumah, cetakan pertama, tahun 1392 H].

    90. Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H).

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad : “Dan maksud Allah adalah Allah di atas langit, sebagaimana firman-Nya, “Dan sungguh aku akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya adalah di atas muka bumi. Dan setiap yang di atas maka dia adalah samaa’. Dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- adalah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?” [Al-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)].

    91. Syaikh Abdul Qadir Jailani [470 H].

    Beliau berkata: “Allah, menggenggam, membuka tangan, mencintai, senang, tidak suka, membenci, ridha, marah, dan murka. Dia memiliki dua tangan, dan kedua tangan itu kanan, dan bahwa hati para hamba berada di antara dua jari dari jemari-Nya. Dia berada di atas, beristiwa’ di atas Arsy, meliputi segala kerajaan-Nya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyaksikan keIslâman budak wanita ketika beliau bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Maka dia menunjuk ke atas. Dan bahwasanya Arsy Allah itu di atas air. Allah beristiwa’ di atasnya, sebelumnya (di bawahnya) adalah 70.000 hijab dari cahaya dan kegelapan. Dan bahwa arsy itu memiliki batasan yang diketahui oleh Allah.”

    Beliau juga berkata: “Seyogyanya menyebutkan sifat istiwa’ tanpa ta`wil. Bahwasanya ia adalah istiwa’nya Dzat di atas Arsy, bukan bermakna duduk dan bersentuhan sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok Mujassimah Karromiyah; juga dalam arti ketinggian (kedudukan) seperti yang dikatakan oleh Asy’arîyyah, juga bukan beristila’ (menguasai) sebagaimana ucapan Mu’tazilah.”

    “Allah juga turun ke langit terendah dengan cara yang Dia kehendaki, bukan bermakna turun rahmat-Nya atau pahala-Nya sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’tazilah dan Asya’irah.” [‘Abdul Qadir al-Jailani, al-Ghunyah Li Thalibi `l-Haq, 56-57].

    92. Al Imam Ibnu Qudamah [wafat pada tahun 629 H].

    Beliau mengatakan, “Amma ba’du: Sesungguhnya Allah mensifati diri-Nya bahwa Dia tinggi diatas langit, demikian juga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam –penutup para Nabi- mensifati Allah dengan ketinggian juga, dan hal itu disepakati oleh seluruh para ulama dari kalangan shahabat yang bertaqwa dan para imam yang mendalam ilmunya, hadits-hadits tentangnya juga mutawatir sehingga mencapai derajat yakin, demikian pula Allah menyatukan semua hati kaum muslimin dan menjadikannya sebagai fithrah semua makhluk.” [Itsbat Shifatul Uluw hal. 12].

    93. Al Imam Al Qurthubi [Abu ‘Abdillah, Muhammad bin Ahmad bin Farh al-Anshariy al-Khazrajiy al-Andalusiy al-Qurthubiy. Wafat tahun 671 H].

    Beliau berkata dalam tafsirnya, “Tiada satupun dari kalangan Salafush Shalih yang ingkar bahwa Allah istiwa di atas ‘Arsy secara hakiki.” [Tafsir Qurthubi 7219].

    94. Al Imam an-Nawawi rahimahullah [al-Imam al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Mury bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi asy-Syafi’i . Lahir tahun 631 H, wafat tahun 676 H].

    Beliau mengatakan dalam kitabnya “Juz Fi Dzikri I’tiqod Salaf fil Huruf wal Ashwath” : “Kami mengimani bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya, sebagaimana telah diberitakan di dalam Kitab-Nya yang mulia. Kami tidak mengatakan bahwa Dia berada di setiap tempat. Akan tetapi Dia berada di atas langit, sedangkan ilmu-Nya di setiap tempat. Tidak ada satu tempat pun yang lutput dari ilmu-Nya. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), ‘Apakah kalian merasa aman dari hukuman Tuhan yang berada di atas langit?’ (Qs. al-Mulk: 16)…” [ad-Dala’il al-Wafiyah fi Tahqiq ‘Aqidati an-Nawawi a Salafiyah am Khalafiyah, transkrip ceramah Syaikh Masyhur Hasan Salman, hal. 42-43].

    Imam Nawawi juga menegaskan ketinggian Allah dalam kitabnya Thobaqot Fuqoha Syafi’iyyah 1/470 dan Roudhoh Tholibin 10/85, dan beliau juga menulis kitab Al-Ibanah karya Abul Hasan al-Asya’ari sebagaimana dalam Majmu Fatawa 3/224 yang di dalamnya terdapat ketegasan tentang ketinggian Allah.

    95. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu [wafat tahun 728 H].

    Beliau berkata: “Dan termasuk dalam hal yang kami sebutkan dari iman kepada Allah,yaitu beriman kepada apa yang Allah beritakan dalam kitabNya dan dengan apa yang telah diriwayatkan dari RasulNya secara mutawatir serta disepakati oleh Salafus Sholih,bahwa Allah itu berada diatas langit diatas Arsy-Nya. Allah Maha Tinggi diatas mahlukNya dan Allah Subhanahu wa ta’ala bersama mereka dimana saja mereka berada dan Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan. “ [Syarh Aqidah Al Wasithiyyah].

    96. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu juga berkata: “Masalah ini luas sekali, karena orang-orang yang menukil ijma’ Ahlis Sunnah atau ijma’ Shahabat dan Tabi’in bahwa Allah di atas ‘Arsy, berpisah dari makhluk-Nya tidak bisa dihitung jumlahnya kecuali hanya Allah saja yang mampu…” [Bayanu Talbis Jahmiyyah 3/531].

    97. Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah [Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah adz-Dzahabi al-Fariqi. Tahun 673 H – 748 H].

    Beliau berkata mengomentari hadits budak jariyah,

    “Demikianlah kita melihat setiap orang yang ditanya: Dimana Allah? Niscaya dia akan menjawab dengan fitrahnya: Allah diatas langit. Dalam hadits ini terdapat dua masalah:

    Pertama, disyariatkannya pertanyaan kepada seorang muslim: Dimana Allah?

    Kedua, jawaban orang yang ditanya pertanyaan tersebut: Di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.” [Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Azhim, (Mukhtasar al ‘Uluw, Albani, hal. 81)].

    98. Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah [Imad ad-Dien, Abu al-Fida`, Isma’il bin ‘Umar bin Katsir ad-Dimasyqiy asy-Syafi’iy, seorang Imam, Hafizh dan juga sejarawan.Wafat tahun 774 H].

    Beliau berkata dalam menafsirkan surat Al Hadiid: 4,

    “…Dia bersama kamu…” ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit.” [Lihat Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317].

    99. Al Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah [wafat 751 H].

    Beliau juga berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya: ‘Di mana Allah?’ Lalu dijawab oleh yang ditanya bahwa Allah berada di atas langit. Nabi pun kemudian ridha akan jawabannya dan mengetahui bahwa itulah hakekat iman kepada Allah dan beliau juga tidak mengingkari pertanyaan ini atasnya. Adapun kelompok Jahmiyyah, mereka menganggap bahwa pertanyaan ‘Dimana Allah?’ seperti halnya pertanyaan: Apa warnanya, apa rasanya, apa jenisnya dan apa asalnya dan lain sebagainnya dari pertanyaan yang mustahil dan batil!?”. [I’lamul Muwaqqi’in (3/521)].

    100. Al-Hafizh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi [wafat tahun 792 H].

    Beliau mengatakan: “Dalam hadits Mi’raj ini terdapat dalil tentag ketinggian Allah ditinjau dari beberapa segi bagi orang yang menceramatinya”. [Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 1/277].

    101. Al-Hafizh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi juga mengatakan, “Dalil-dalil yang muhkam (yang begitu jelas) menunjukkan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Dalil-dalil ini hampir mendekati 20 macam dalil”. [Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/437].

    1. @. Abdulloh , jika antum bisa mematahkan ” alasan Jarh ” yang saya lakukan terhadap 10 lebih riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda , jika antum bisa , maka saya akan tunjukkan 100 riwayat yang anda bawakan itu status sanadnya sama percis dengan status sanad dari riwayat yang dibawakan ustadz Firanda. tidak sah Mungkar dan Maudhu`sesuai dengan kaidah-kaidah Ilmu Jarh wa Ta`dil.

      saya mohon kepada saudara Abdulloh untuk mematahkan Alasan Jarh yang saya lakukan terhadap riwayat2 yang dibawakan Ustadz Firanda , setelah itu saya akan tunjukkan jika seratus nama yang anda bawakan itu statusnya akan sama dengan riwayat2 ustadz Firanda.

      saya telah lakukan Jarh silahkan saudara Abdulloh lakukan Ta`dil saya tunggu.. ……… (tapi jangan akal2an lho , silahkan gunakan metodologi Jarh Wa Ta`dil sebagaimana Ahlul Hadist menggunakannya.)

      1. Anda ingat peristiwa Isra’ Mi’raj Rasullullah yang ente peringati tiap tahun itu? apakah ente mengingkari Mi’raj Rasullullah?

  99. @abdullah

    kenepa ente selalu mebunuh karakter sesama muslim meski bertentangan? diskusilah dengan adab yang baik.

    pastilah aswaja memabantah bila ada yang harus diluruskan.

    JANGAN MEMBUNUH KARAKTER SESAMA MUSLIM, DISKUSI DENGAN ADAB YANG BAIK

    SYUKRON

  100. @abdullah
    Joke aja ya, apakah ente waktu shalat mesti memandang tempat sujud, kenapa tidak mendongak keatas? kan Allah dilangit.
    Rasullullah sangat marah jika kite waktu shalat dan berdoa memandang keatas, maximum kite memandang sebatas pandangan kedepan.
    Tolong kite maknai Langit menurut agama, jangan langit dimaknai dari sisi bahasa. Dari sisi bahasa langit secara zhahir, apa yang dilihat langit berwarna biru, ditinjau dari sisi ilmu pengetahuan, warna biru adalah pantulan lapisan udara yang terkena sinar matahari. seperti pelangi kite bisa lihat berwarna warni kan!
    Menurut Imam Al Gazali, Langit dibagi 7 tingkatan adalah tingkatan iman seseorang dalam mencapai kedekatan Hamba dengan Allah, maka diperumpamakan seperti langit yang biasa kita lihat, sejauh itu kita menempa iman.
    Kalau kita maknai langit secara zhahir, nanti timbul pertanyaan2 yang membuat kita bingung sendiri, contoh 1 aja dalam ayat Al qur’an : Diturunkan hujan dari langit. Jadi disini pengertian zhahir, langit berarti awan, jadi Allah diatas awan?
    Berarti benar tinjauan agama budha, yang mengatakan dewi sri menduduki singgasananya diatas awan, makanya film2 dibayangkan para dewa duduk diatas awan? – film sun go kong – dewa2nya duduk diatas awan.

      1. @abu umar
        Ente belum jawab, Langit yang ente pahami, juga Allah yang ente pahami.
        Gak fair dong, ane n aswaja dah kasih tau, tapi ente gak kasih jawaban yang pasti cuma muter2 aja.
        Kalau ente gak jawab berarti benar firman-firman Allah :

        “Hai manusia, Telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah”.
        “Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.(Al Hajj : 73-74)”
        “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya (Al Hajj-8).”

  101. Kalian kan ada yang menafi’kan kata langit scara dzahir. trus kalau seperti itu gmn? Trus di manakah letak surga dan neraka?

  102. he he he he Abu ……….dhohir nt pelihara coba ana tanya kalau nt bisa jawab biarin ana tobat jadi aswaja ………..dhohir prtanyaan ana juga dhohir ………bagaimana nt jelaskan cara terbang buraq kendaraan Nabi ???? apa tegak lurus kaya apolo ??? apa tinggal landas kayak pesawat terbang ??? apa muter2 kayak obat nyamuk monggo wong gombong ngenteni …….

    1. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “(Jibril) telah datang kepadaku bersama Buraq, yaitu hewan putih yang tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari kuda, yang dapat meletakkan kakinya (melangkah) sejauh pandangannya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka aku menaikinya hingga sampailah aku di Baitul Maqdis, lalu aku turun dan mengikatnya dengan tali yang biasa dipakai oleh para Nabi.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kemudian aku masuk ke masjid al-Aqsha dan aku shalat dua raka’at di sana, lalu aku keluar. Kemudian Jibril Alaihissalam membawakan kepadaku satu wadah khamr dan satu gelas susu, maka aku memilih susu, lalu Jibril berkata kepadaku: ‘Engkau telah memilih fitrah (kesucian).’”

  103. Bismillaah,

    Dua kubu – Wahabi dan ASWAJA – memperebutkan pengakuan sebagai Ahlul Sunnah wal Jamaah.

    Untuk mengetahui kubu mana yang masuk ke dalam Ahlul Junnah wal Jamaah, lihatlah shalatnya termasuk shalat berjamaahnya. Ahlul Sunnah wal Jamaah sangat memperhatikan shalatnya sebab mereka mengetahui bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Amal ibadah yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Bila shalatnya baik atau benar baik maka baik pula amalan ibadah yang lain. Apabila shalatnya rusak, maka rusak pula amal ibadah lainnya.”

    Maka dari itu, Ahlul Sunnah wal Jamaah berusaha sekuat tenaga untuk menuntut ilmu agar mengetahui shalat yang benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullaah.

    Dalam shalat berjamaah, Ahlul Sunnah wal Jamaah dapat dikenali dari rapatnya shaf shalat karena mereka mengetahui bahwa Rasulullaah memerintahkannya dan mengancam keras orang yang menolak merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Kalau di sebuah masjid, shaf shalat berjamaahnya rapat, maka jamaah masjid itu insya Allah Ahlul Sunnah wal Jamaah. Sebaliknya, bila shaf shalat berjamaahnya berantakan, maka orang yang shalat di masjid tersebut bukan Ahlul Sunnah wal Jamaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ahlu Sunnah Wal-Jama`ah atau bukan hanya bisa dibedakan dengan pokok-pokok Aqidah yang diyakini , sudah sesuaikah dengan Qur`an dan Hadist Shahih atau tidak , sama sekali bukan dari Shaf dalam Sholat.

      semoga Ibnu Suradi faham.

    1. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “(Jibril) telah datang kepadaku bersama Buraq, yaitu hewan putih yang tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari kuda, yang dapat meletakkan kakinya (melangkah) sejauh pandangannya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka aku menaikinya hingga sampailah aku di Baitul Maqdis, lalu aku turun dan mengikatnya dengan tali yang biasa dipakai oleh para Nabi.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kemudian aku masuk ke masjid al-Aqsha dan aku shalat dua raka’at di sana, lalu aku keluar. Kemudian Jibril Alaihissalam membawakan kepadaku satu wadah khamr dan satu gelas susu, maka aku memilih susu, lalu Jibril berkata kepadaku: ‘Engkau telah memilih fitrah (kesucian).’”
      Tuh cermati jawabanya