Firanda Berdusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (1)

No image available, sorry.

Firanda Berdusta Atas Nama Konsesnsus Ulama Tentang Allah Berada di Langit … Sekelumit Upaya Mengungkap Tipu Muslihat Firanda … Oleh: Ustadz Ahmad Syahid

Firanda adalah sebuah nama yang sedang tenar di kalangan kaum Salafi Wahabi.  Sejak hobby-nya menghujat-hujat Abu Salafy,  nama Firanda langsung nanjak dan ngetop di tengah kaumnya yang dielu-elukan sebagai pahlawan Salafi Wahabi.  Bukan itu saja, Firanda  oleh kaumnya selalu dibanggakan di mana-mana dan dianggap sebagai reppresentasi kebenaran Salafi Wahabi. Benarkah anggapan yang demikian prestisius itu pantas disandang oleh Ustadz Firanda?

Nah,  untuk mengungkap siapa sejatinya Ustadz Firanda, mari kita simak presentasi fakta-fakta tersembunyi di balik artikel-artikel Firanda. Tulisan yang diwarnai dengan warna merah di bawah ini adalah cuplikan dari artikel Ustadz Firanda yang penuh dusta dan tipu muslihat yang dapat mengecoh ummat Islam yang masih pemula.

Artikel-artikel Firanda ini ditulis  sedemikian antusias plus dibumbui dengan referensi-referensi sehingga dalam pandangan orang-orang awam artikel ini seakan-akan bernilai ilmiyyah. Padahal jika diteliti ternyata artikel ini adalah artikel tanpa makna yang menyelisihi kebenaran.

Tulisan warna hitam adalah tanggapan dari Ahmad Syahid, sedangkan yang warna merah adalah tulisan Ustadz Firanda seorang aktifis Wahabi di Indonesia.

Silahkan simak dan teliti sendiri bagi anda yang punya ilmunya….

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semoga salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah.

Sungguh merinding tatkala membaca tulisan-tulisan tentang dimana Allah yang ditulis oleh Abu Salafy dan pemilik blog salafytobat. Karena tulisan-tulisan mereka penuh dengan tuduhan-tuduhan serta manipulasi fakta yang ada. Ternyata mulut-mulut mereka sangatlah kotor. Cercaan dan makian memenuhi tulisan-tulisan kedua orang ini yang pada hakekatnya mereka berdua takut menunjukkan hakekat mereka berdua. Begitulah kalau seseorang merasa berdosa dan bersalah takut ketahuan batang hidungnya. Allahul Musta’aan.

Sesungguhnya apa yang mereka berdua perjuangkan hanyalah lagu lama yang telah dilantunkan oleh pendahulu-pendahulu mereka yang bingung sendiri dengan aqidah mereka.

Maka pada kesempatan kali ini penulis mencoba mengungkapkan manipulasi fakta yang telah mereka lakukan dan mengungkap kerancuan cara berpikir kedua orang ini.
Dan tulisan kali ini terkonsentrasikan pada pengakuan Abu Salafi cs bahwasanya aqidah mereka tentang dimana Allah adalah aqidah yang disuarakan oleh sebagian sahabat seperti Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu dan juga sebagian ulama salaf. Sebagaimana pengakuan mereka ini tercantumkan dalam :http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/ (dalam sebuah artikel yang berjudul : Ternyata Tuhan itu tidak di langit).

Sebelum membantah pengakuan mereka tersebut maka kami akan menjelaskan tentang 3 point yang sangat penting yang merupakan muqoddimah (pengangtar) untuk membuktikan tipu muslihat mereka. Point-point tersebut adalah :
1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah di atas langit

Keberadaan Allah di atas langit merupakan konsensus para ulama Islam. Bahkan telah dinukilkan ijmak mereka oleh banyak para ulama Islam. Diantara mereka: …… dst.

————————

=================

Komentar Ustadz Ahmad Syahid:

Bismilahirohmanirohim, Al-hamdulillah wa sholatu wasalmu `ala Sayyidina wa Mawlana Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, wa ala alihi wa shohbihi waman tabi`ahum bi Ihsanin ila yaumiddin, amma ba`du.

Tulisan ini ditulis semata–mata hanya untuk meluruskan pemahaman atas apa yang diklaim oleh Ustadz Firanda dalam situsnya. Andai tulisan ustadz Firanda ini tidak bisa diakses kecuali hanya oleh orang-orang tertentu , niscaya saya tidak akan capai–capai atau repot  membuat bantahan ini. Tulisan ini ditujukan untuk mengungkap apakah benar klaim dan dakwa’an (anggapan) Ustadz Firanda soal :

  1.  Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.

  2.  Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.

  3.  Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

Apakah klim ini benar  atau itu hanya sekedar Klaim kosong yang mengelabui Ummat? Atau sekedar tipu muslihat untuk menyesatkan Ummat? Mari kita lihat, baca dan kaji secermat mungkin agar mendapatkan kesimpulan yang benar,  yaitu kesimpulan yang mengedepankan aspek obyektifitas dan sportifitas demi menemukan kebenaran sejati.

Sebelum membahas lebih lanjut saya ingin menyampaikan beberapa kaidah penting yang digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah Wal-jama’ah ( Asya’irah ) dalam menetapkan Asma dan sifat Allah, sebagai sebuah manhaj atau metodologi dalam memahami kitab dan Sunnah. Hal ini juga untuk memberikan patokan bagi siapa pun yang ingin mengetahui Aqidah Ahlu Sunnah ( asy’ariyah) sehingga tidak menggunakan prasangka dalam memahami pernyataan-pernyataan Ulama asy’ariyah.

Seperti kita ketahui bersama Agama Islam yang kita anut ini, bersandarkan kepada apa yang diriwayatkan (Al-qur’an dan As-sunnah ), sama sekali tidak bersandar kepada akal-akalan, namun tentu saja tanpa membuang pentingnya akal dalam memahami apa yang diriwayatkan. Di samping itu Ulama Asy’ariyah memahami bahwa Agama ini terdiri dari tiga hal utama yang tidak bisa dipisahkan :

1. Masalah pokok/ushul ( Aqidah ) sebagai pondasi dasar.

2. Masalah Furu’  atau cabang atau yang biasa disebut dengan Mua’amalat baik antara hamba dengan Tuhan atau antara hamba itu sendiri.

  1. Masalah kamaliyat atau kesempurnaan atau yang biasa disebut dengan Akhlak atau prilaku.

1). Dalam masalah ushul/pokok (Aqidah) Ulama Asy’ariyah hanya menerima riwayat (dalil-dalil) yang bersifat Pasti ( qoth’i) seperti hadist Mutawatir hadits Mustafidh dan Hadits Masyhur.

2). Dalam masalah Furu’  atau cabang atau Mu’amalat Ulama Asy’ariyah di samping menggunakan Riwayat yang Qoth’i juga menggunakan riwayat yang bersifat Dzonni seperti hadits Ahad.

3). Dalam masalah Kamaliyat atau kesempurnaan atau Akhlak dan prilaku di samping menggunakan dua jenis Hadits di atas, Ulama Asy’ariyah juga menggunakan Hadits Dha’if sebagai hujjah dan tentu ada syarat-syarat untuk digunakannya Hadits Dha’if tersebut sebagai Hujjah dalam masalah kamaliyyat.
Dengan kaidah–kaidah ini Ulama Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) berjalan memahami dan mengamalkan Agama. Terkait dengan tulisan Ustadz Firanda tentang ”keberadaan Allah” Ulama Asy’ariyah hanya menerima Riwayat atau hadits – Hadist yang bersifat Qoth`i (pasti ) baik dari sisi periwayatan maupun dari sisi dalalah (petunjuk dari riwayat),  sebab tulisan Ustadz Firanda ini berkaitan dengan masalah pokok/ushul, masalah yang sangat esensi sebagai Pondasi yang dibangun di atasnya keyakinan-keyakinan.

Mungkin standar Ulama Asy’ariyah ini dibawah standar yang ditetapkan oleh Ulama-Ulama Salafi (Wahabi) dalam memahami Kitab dan Sunnah, karena standar mereka adalah: hanya menggunakan Hadits-Hadits  Shahih serta membuang jauh Hadits–haditst Dha’if meskipun hanya dalam masalah kamaliyyat.  Disamping itu Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) juga berpegang kepada Prinsip ”Al-jam’u wa at-taufiq bainal adillah”  menggabungkan dan menselaraskan  antar dalil sepanjang masih bisa dilakukan penggabungan dan penselarasan (al-jam`u wa at-taufiq) antar dalil atau antar Riwayat sepanjang itu pulalah kewajiban penggabungan dan penselarasan antar dalil atau riwayat sesuai dengan Syarat-syarat yang tertera dalam kitab-kitab mereka.

Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bari:  ”Dan penggabungan (antar riwayat dalam masalah yang sama) dikedepankan daripada tarjih (pengguguran salah satu riwayat)”, Fathul Bari juz 13 hal 421.  Harus dilakukan hal senada juga dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam sarh Muslim : “Tidak ada perbedaan antar ulama bahwa jika dimungkinkan penggabungan antar Hadist maka tidak boleh meninggalkan salah satunya tetapi Wajib penggabungan diantaranya (syarh muslim juz 3 hal. 155)
Hal ini penting saya sampaikan karena melihat cara atau metode Istidlal atau pendalilan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini tidak berjalan di atas Manhaj atau metodologi yang digariskan dan digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah). Sebagai contoh Ustadz firanda hanya membawakan perkataan Imam al-Awza’i yang mendukung tujuannya saja,  sementara Ucapan Imam Al-Auza’i yang lainnya tidak dia bawakan.  Cara pendalilan Ustadz firanda seperti ini bukanlah cara pendalilan yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (asy’ariyah).  Ala Kulli Hal itulah metode yang digunakan Ustadz Firanda dalam tulisannya ini beliau hanya menyebutkan riwayat yang hanya mendukung maksud yang ingin dicapainya saja tanpa melihat riwayat-riwayat lain yang lebih Shahih.

Baiklah, mari kita kaji dan cermati riwayat-riwayat yang disampaikan Ustadz Firanda yang dijadikannya sebagai Hujjah dan Sandaran dalam menetapkan Kosensus atau Ijmak bahwa: ”Allah berada dilangit.”

Catatan :

  1. Ketika saya sebutkan ” Ahlu Sunnah Wal-jama’ah ( Asy’ariyah ) ” maka yang saya maksud adalah (Asy’ariyah, Maturidiyah, Atsariyah dan Sufiyah al-hiqqoh), 4 kelompok inilah yang saya maksud dengan Ahlu Sunnah wal-jama’ah.

  2.  Qoul atau perkataan para ulama bukanlah Hujjah Syariyah, Hujjah syar’iyah (sumber hukum) adalah Al-Qur’an al-Karim dan Hadits-hadits  yang Shahih.

Baik kita mulai dengan mengkaji sandaran-sandaran ustadz Firanda dalam klaim Ijmaknya :

Riwayat Pertama yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda untuk klaim adanya Ijmak tentang keberadaan Allah di langit :

Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)

Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu – dan para tabi’in masih banyak- kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsy-Nya, dan kita beriman dengan sifat-sifat-Nya yang datang dalam sunnah”  (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

Tanggapan: Tidak ada keraguan jika al-Imam al-awza’i adalah Ulama besar panutan Ahlu Sunnah (asy`ariyah) yang wajib diikuti, hanya apakah riwayat ini bersifat Qoth’i  (pasti) atau riwayat ini bersifat Dzani ( tidak pasti) yang sama sekali tidak diterima oleh Ulama Ahlu Sunnah? Karena riwayat yang bersifat Dzani tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah aqidah, mari kita kenali rawi-rawi dalam riwayat ini:

Dalam sanad riwayat ini terdapat rawi yang bernama Muhammad bin katsir al-mashishi (urut 4).  al-Mashishi menurut Imam Ahmad hadistnya Mungkar atau meriwayatkan sesuatu yang mungkar hal ini disebutkan oleh ibnu Adi dalam al-Kamil, dan ibnu Adi mengatakan al-mashishi mempunyai riwayat-riwayat dari Ma’mar dan Al-aw-za’i khususnya Hadist-hadist A’dad yang tidak diikuti oleh seorang pun. Demikian juga disebutkan dalam kitab al-jarh wa at-ta’dil juz 8 hal 69, al-mashishi di dha’ifkan oleh Imam ahmad, disifati sangat lemah. Jika para Imam Ahli jarh wa-ta’dil sudah melakukan Jarh seperti ini maka riwayatnya sama sekali tidak bisa diterima apalagi dijadikan Hujjah dalam Aqidah.

Terlebih Dalam riwayat ini al-Mashishi meriwayatkannya dari Ibrohim bin al-haitsam (urut 3), berkata al-Uqoili dalam kitab ad-Du’afa juz 1 hal 274:  dia (Ibrohim al-haitsam) meriwayatkan Hadist yang dianggap Dusta oleh ahli Hadist dan ahlul Hadist menyerangnya dengan periwayatan Hadist yang dianggap dusta itu. Dengan demikian dua orang rawi dalam atsar ini jatuh, al-Mashishi tertuduh meriwayatkan yang Mungkar dan al-Haitsam tertuduh dusta, sehingga hukum atsar ini Maudhu’.  Otomatis hal ini menggugurkan Sandaran pertama Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini. Ya, gugur!

Riwayat kedua yang dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda

Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)

Beliau berkata :

هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى

“Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

Tanggapan: Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist.  Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643,  meninggal tahun 351 hijriyah.  Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248.  Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

Qoul ketiga yang dijadikan sandaran dan Hujjah oleh Ustadz Firanda

Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H)

Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :

“Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395)

Tanggapan: Ibnu Qutaibah seorang Mujassim, lihatlah perkataannya dan perhatikan : “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran”. Perkataan ini sama sekali tidak menunjukkan adanya Ijma’  sebagaimana yang di dakwakan Ustadz firanda. Terlebih Ulama Asy’ariyah hanya menerima Qur`an dan hadist yang bersifat qoth’i sebagai Hujjah dalam Aqidah.  Kalaupun ada Ijma’  ia harus bersandar kepada Qur’an dan hadist, bukan bersandar kepada perkataan seluruh Ummat.  Ibnu Qutaibah mencoba berdalil dengan omongan semua orang baik Hindu, Atheis,  Konghucu dan sebagainya dan ini Bathil. Dengan demikian Status hujjah menjadi Gugur!

Saya jadi semakin heran terhadap ustadz Firanda sampai-sampai igauan Bathil Ibnu Qutaibah pun dijadikan sandaran dalam Aqidah! Apakah Ibnu Qutaibah menganggap seorang Atheis pun ber-Aqidah-kan “Allah di langit”  sehingga berani mengatakan SELURUH UMMAT dst…?”  Apakah Ustadz Firanda pun mengigau seperti ini? Ya akhi jangan main-main lho ini Aqidah pondasi dasar keyakinan.

Qoul ke empat yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda

Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)

Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
“Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-’Aniid Hal 25)

Tanggapan :
1). Abu said Ustman bin said ad-darimi as-sajzi bermadzhab hanbali, dia seorang mujassim musyabih dari golongan Hasywiyah wafat tahun 282 Hijriyah. Konon wafat tahun 280 hijriyah, Tasybih yang jelas terlihat dari Ucapannya : ”bahwa orang yang berada di puncak gunung lebih dekat kepada Allah ketimbang orang yang berdiri di bawah gunung.”  Lihat al- Maqolat il Allamah al-Kautsari hal 282.

Saya Ahmad Syahid katakan: Sungguh ucapan ini bertentangan dengan Hadist shahih di dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rosulallah SAW bersabda: ” seorang Hamba Lebih dekat kepada Tuhannya ketika ia dalam keadaan Sujud”,  dan bahkan bertentangan dengan Al- Qur’an:  “Sujudlah dan mendekatlah. ” (qs. Al-alaq. 19).  Dalam ayat ini posisi sujud digandengkan dan diidentikkan dengan kedekatan dengan Allah, ayat ini jelas bertentangan dengan perkataan dan keyakinan Abu said ad-darimi diatas.

2). Status Hujjah gugur karena dua hal:

  1. Abu said ad-Darimi menyandarkan aqidahnya ini kepada ucapan ummat islam (entah ummat islam yang mana) dan ucapan Ummat Kafir ( yang tantu aqidahnya berbeda dengan muslimin ). Harusnya Abu Said Ustman ad-Darimi menyandarkan Aqidahnya kepada Qur’an dan Hadist yang shahih atau minmal kepada pernyataan Ulama Muslimin (ahlu Sunnah ), bukan kepada Ucapan orang Kafir.

  2. Aqidah abu said ustman ad-darimi bertentangan dengan Qur’an dan Hadist sebagaimana saya sebutkan diatas.

  3. Abu Said Ustman ad-Darimi bukanlah Imam Ahlu sunnah yang terkenal itu, sebab Imam ahlu sunnah adalah : Al-imam Al-hafidz Abu Muhammad abdullah bin Abdurohman bin Fadl bin Bahrom ad-Darimi at-Tamimi as-Samarqondi, beliaulah penulis kitab Sunan ad-darimi wafat tahun 255 hijriyah.  Hati-hatilah jangan sampai tercapur aduk antara ad-darimi Imam ahlu sunnah dengan ad-darimi ahlu Bidah. Dengan demikian Status hujjah gugur, karena omongan ini keluar dari Ahlul Bidah Ustman ad-Darimi yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist diatas.

Qoul ke 5 yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda dalam klaim Ijma` nya

Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)

Beliau berkata :

القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”

“Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami – dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai – bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
(Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185)

Tanggapan: Qoul ini diriwayatkan oleh ibn Bathoh al-U’kbari nama lengkapnya : Abu Abdullah Ubaidillah ibn Muhammad ibn Bathoh al- U’kbari, seorang Mujassim bermadzhab Hanbali sekaligus seorang pemalsu hadist (wadho’). Dilahirkan tahun 304 dan wafat pada tahun 387 hijriyah. Konon dialah pencetus Aqidah Pembagian Tauhid.  Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Astqolani mengatakan dalam kitabnya Lisanul Mizan juz 4 hal 113: “Aku memikirkan Ibnu Bathoh atas sebuah perkara yang sangat besar hingga kulitku merinding darinya. Kemudian aku tetapkan bahwa dia adalah seorang pemalsu hadist (wadho’) , dan dia mempunyai kebiasaan mencungkil nama-nama para imam ahli hadist. Kemudian dia letakkan Namanya ditempat nama Imam yang dicungkilnya. Begitu juga al-Khotib al-Baghdadi menyebutkan sebuah Hadist di mana sanad hadist tersebut terdapat Ibnu Bathoh, kemudian al-khotib al-baghdadi mengatakan Hadist ini palsu dengan jalur sanad ini, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Bathoh. Ibnu Bathoh meriwayatkan atsar ini dari Ahmad ibn as-Saji.  Al-Albani dalam Mukhtasor al-uluw hal. 223 mengakui bahwa Ahmad ini tidak dikenal alias majhul, status Hujjah GUGUR. Ustadz Firanda kok seneng yang palsu-palsu ya?

Loading...
loading...

Qoul ke enam yang dijadikan Hujjah oleh Ustadz Firanda untuk klaim Ijma’ keberadaan Allah dilangit

Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)

Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254

“Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:
Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”

Tanggapan : Ibnu Khuzaimah Mujassim terkenal dan sangat sadis. Beliaulah yang berfatwa Kafirnya orang yang tidak mengakui Bahwa Allah berada di atas langit maka orang tersebut harus dibunuh jika tidak mau tobat dan mayatnya dibuang ke tempat sampah.  Namun al-hamdulillah akhirnya beliau tobat dari Aqidah tajsim ini seperti yang dinyatakan oleh Imam al-baihaqi dalam asma wa as-sifat hal. 269. Begitu juga dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam fathul bari juz 13 hal 492.

Jadi rupanya Ustadz firanda belum tahu atau pura-pura tidak tahu jika penulis kitab ” at-Tauhid ” (ibnu khuzaimah) telah tobat dari aqidah yang tertulis dalam kitabnya itu. Sehingga gugur-lah sandaran ke-enam atas klaim Ijmaknya Ustadz Firanda ini, sebab penulisnya pun sudah Tobat.

Qoul ke tujuh yang dijadikan Hujjah atas klaim Ijma’ Ulama bahwa Allah di Langit

Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)

Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :

“باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”

أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه

ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى

“Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”

Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-’uluw li Adz-Dzahabi 2/1284).

Tanggapan: Lagi-lagi ustadz firanda ber-hujjah dengan seorang Wadho’  alias pemalsu, status Hujjah gugur lagi. Lihat tanggapan saya atas poin ke 5.

Qoul ke 8 yang dijadikan Ustadz firanda sebagai sandaran atas Klaim Ijma’-nya

Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)

Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul

” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”

وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

“Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”

Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-’Uluw 2/1315)

Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-’Uluw 2/1315).

Tanggapan: Tahukah Ustadz firanda jika Adz-Dzahabi juga mengatakan dalam Siar ‘Alam an-Nubala juz 17 hal 567,  Adz-Azahabi berkata:  “Saya melihatnya ( at-Tholamanki , pent) menulis kitab yang diberi judul As-Sunnah dua jilid.  Secara umum kitab itu baik hanya saja dalam beberapa bab dalam kitab tersebut ada hal yang selamanya tidak akan sejalan (denganku-pent), seperti bab janb (lambung / sisi Allah ) dalam bab itu dia menyitir firman Allah :  “Sungguh rugi atas apa yang aku lalaikan di sisi Allah, hal ini merupakan bentuk keterglinciran seorang Alim.  Orang ini Mujassim omongannya tidak perlu dianggap.  Sandaran ustadz firanda yang ke 8 pun gugur. Karena Imam Adz-Dzahabi pun tidak sejalan dengannya.

Qoul ke sembilan yang dijadikan sandaran klaim Ijma` ustadz firanda

Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)

Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….
Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317)

Tanggapan: Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’  tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!

Qoul ke 10 yang dijadikan Hujjah untuk mendukung klaim Ijma’  sang ustadz

Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H)

Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :

Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”

Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-’Uluw 2/1321

Tanggapan: Kenapa Ustadz firanda tidak sekalian menyertakan perkataan Adz-Dzahabi dalam al-uluw ketika berbicara tentang As-sajzi? Berkata adz-dzahabi: bahwa lafadz ”Dzat” bukanlah pernyataan yang masyhur dan terjaga dari para Imam yang disebutkan oleh as-sijzi. Lafadz ”Dzat” itu dari kantongnya As-sijzi bukan dari para Imam.  As-Sijzi juga terkenal dengan Tahrif (merubah) hadist sebagai contoh As-Sijzi merubah Hadist ar-rohmah al-musalsal bil awliyah dari jalur Abi Qobus al-Majhul dengan Lafadz ”yarhamkum man fi as-sama” padahal lafadz hadist dari Abu Qobus al-Majhul dalam musnad Ahmad juz 2 hal. 160 ”yarhamkum Ahlu as-sama”. Begitu juga yang dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu hajar dalam Mu’jam al-Syaikhokh Maryam (makhtut) masih berupa manuskrip bahwa Aba Daud juga meriwayatkan dengan Lafadz  ”Yarhamkum Ahlu as-sama”.  Apakah menurut ustadz Firanda riwayat seorang Muharif ( tukang merubah) bisa diterima? Apakah riwayat (berita) yang telah dirubah isinya dapat dijadikan Hujjah? Mengingat riwayat–riwayat palsu pun dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda seperti riwayat-riwayat  yang telah lalu, tidak aneh jika riwayat yang telah dirubah pun dijadikan sandaran oleh ustadz firanda.
Status Hujjah Gugur bagi orang yang berakal waras.

Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)

Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod,

“Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…

dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-’Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-’Uluw 261)

Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-’Uluw 2/1306)

Tanggapan: Kitab al-I’tiqod karya Abu Nu`aim Al-ashfahani tidak ada wujudnya, ini merupakan kitab Majhul yang hanya diketahui oleh Imam Adz-dzahabi. Terlebih adz-Dzahabi sendiri telah meninggalkan faham yang dianutnya dalam kitabnya al-Uluw ini. Saya minta Ustadz Firanda untuk menunjukkan wujud asli kitab i’tiqod yang dinisbatkan kepada abu Nu’aim, atau kitab Majhul pun menurut Ustadz Firanda bisa dijadikan referensi? Status Hujjah gugur karena kitab al-I’tiqod Abu Nu’aim adalah kitab Majhul, terlebih dalam tulisan ini Ustadz Firanda banyak menyandarkan Hujjahnya pada para Pembohong dan Pemalsu seperti yang telah lewat diatas.

 

Qoul ke 12 yang dijadikan sandaran ustadz Firanda Untuk menguatkan Klaim Ijma’-nya

Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)

Berkata Ibnu Abi Hatim :

“Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:

Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…

Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,

“Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201.

Tanggapan: Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 ,  jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

Saya Ahmad Syahid katakan: Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah!

Status Hujjah gugur , karena rawi-rawinya Majhul.

Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)

Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),

“Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)

Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :

“Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)

Beliau juga berkata :

“Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)

Tanggapan: Inilah pentingnya menggabungkan antar riwayat sebagaimana saya sebutkan dalam awal Mukadimah, sehingga memberikan pemahaman yang utuh sesuai dangan maksud penulis, sebab Ibnu Abdil Bar dalam dalam At-Tamhid juga mengatakan :

Pertama:  “Bahwa Khobarul wahid (hadist ahad ) tidak memberikan keyakinan pasti (ilm) hanya mewajibkan untuk diamalkan ( hanya berlaku dalam furu’, pent).”  Tentu hal ini bertentangan dengan kaum wahabiyyin, yang menjadikan khobarul wahid (hadist ahad) sebagai Hujjah dalam Aqidah , bahkan dalam tulisan ini Ustadz Firanda membawakan atsar – atsar Mungkar tidak sah bahkan Maudu’  untuk landasan Aqidah, sebagaimana yang telah lewat diatas.

Kedua: Ibnu Abdil Bar juga mengingkari pernyataan Nu’aim bin Hammad yang menyatakan bahwa ”Allah turun dengan Dzatnya sementara dia diatas kursinya ”, berkata Ibnu Abdil Bar : ” ucapan ini bukanlah sesuatu (yang dapat dipegang- pent.) di kalangan ahli, karena ini merupakan kaifiyah (membagaimanakan-pent) sementara Ahli Ilmu Lari dari pernyataan seperti ini karena pernyataan seperti itu tidak bisa difahami kecuali terhadap sesuatu yang terlingkupi penglihatan ( bersifat fisik-pent).

Ketiga: Ibnu Abdil Bar juga mengatakan : telah bersepakat Ulama shahabat dan tabi’in yang dari mereka dibawakan takwil dst…, menunjukkan jika takwil itu boleh dan dibenarkan karena datang dari para sahabat dan tabi`in, lalu kenapa Wahabiyyin dalam masalah istiwa pun melarang takwil? Lebih dari itu Wahabiyyin  menganggap sesat orang yang melakukan Takwil?

Ke empat: Ibnu Abdil Bar mengatakan: telah berkata Ahli Atsar (tentang Hadist Nuzul –pent) bahwa yang turun adalah Perintah dan rahmatnya, kemudian beliau menyebutkan riwayat hingga Imam Malik rodiuallahu anhu dan berkata: bisa jadi (pentakwilan ini -pent) seperti perkataan imam malik rohimahullah yang bermakna ”Turunnya Rohmat dan Qodhonya (ketetapan-pent) dengan pengampunan dan penerimaan, At-Tamhid 7/ 144 .

Ke lima: Dari pernyataan-pernyataan yang digabungkan ini , jelas-lah Aqidah sang Imam bahwa Beliau adalah seorang Mufawwidh, yang salah difahami oleh sang Ustadz Firanda sehingga dijadikan landasan dan Hujjah akan Klaim Ijmaknya.  Lihatlah sang Imam mengingkari istiwa dengan ”Dzatnya” dan sang Imam pun membolehkan Takwil.  Lalu mengikuti siapakah kawan-kawan wahabiyiin ini? Mereka dan juga Ustadz Firanda menolak Tafwidh dan takwil, padahal keduanya ( Tafwidh dan Takwil) adalah Manhaj atau metodologi yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) sepanjang masa, sehingga status Hujjah Ustadz Firanda Gugur karena Imam Ibnu Abdil Bar adalah seorang Mufawwidh.

Firanda Berdusta Atas Nama Ijma Ulama Salaf Tentang Allah Berada di Langit …

ustadz Firanda mengatakan: “Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf.”

Jawab: Para pembaca yang budiman ternyata setelah dilakukan pengecekan secara seksama semua riwayat yang ustadz Firanda jadikan sandaran adalah tidak sah , Mungkar bahkan maudu’ sebagaimana tadi kita kupas satu per satu. Bukankah ustadz Firanda dan All wahabiyyin menolak Hadist-hadist dha’if meskipun hanya untuk Fadailul a’mal? Tetapi kenapa justru pada masalahushul/Pokok (Aqidah) sebagai Pondasi Iman seorang Muslim, justru Ustadz Firanda menyuguhkan dan bahkan menggunakan perkataan Ulama yang riwayatnya tidak sah , Mungkar bahkan maudhu’? Diletakkan di mana semboyan: ”hanya menggunakan hadist-hadist shahih-nya?”  Ijmak yang Ustadz Firanda klaim itu hanya berdiri di atas ketidak-absahan, kemungkaran dan kepalsuan!

Demikian kajian atas Klaim ijma tentang ”keberadaan Allah Di langit” telah gugur seiring dengan gugurnya para Rawi yang meriwayatkannya.  Dan sebenarnya masih banyak qoul –qoul lainnya yang dinisbatkan kepada para Ulama Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) yang jika diteliti sanadnya akan menghasilkan hal yang sama dengan atsar-atsar yang ditampilkan Ustadz Firanda, statusnya akan sama (gugur) karena riwayat-riwayat itu 95 % adalah Tidak Sah , Mungkar , dan maudhu’. Adapun Ijmak yang benar di kalangan Ahlu Sunnah Wal-jama’ah adalah keyakinan Bahwa ”Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah ”.  Ijmak ini dinukil Oleh Al-imam Al-Hafidz An-Nawawi dalam Syarh Muslim juz 5 hal. 24 cet. Darul Fikr,  juga Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-atsqolani Al-Imam Al- Hafidz az-zabidi. Ijmak ini pun dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijmak halaman 167.

Loading...

Wallohu a’lam….

Bersambung….

loading...

You might like

About the Author: admin

969 Comments

  1. Ya Allah, Ya Ghofur, Ya Rahim,
    Ampunilah semua dosa dan kesalahanku, istri dan anak-anakku,ayah dan ibuku,kakek dan nenekku, serta saudara-saudaraku kaum muslimin dan muslimat,baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
    Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Robbal ‘alamin,
    Limpahkanlah Berkah, Rahmat, dan RizkiMu kepada keluarga kami, mudahkanlah segala urusan kami, bebaskanlah kami dari segala kesulitan hidup yang kami alami. Hindarkanlah kami dari azab kubur dan siksa api neraka.
    Amiin, ya Robbal ‘alamiin.

  2. Salafy itu karbitan….bicara gede aja. Ngomong pengikut SALAF tapi ulama SALAF malah di caci maki.
    Tidak bermazhab tapi justru belajar sama ulama yg bermazhab.
    Salafi itu nafsnya aja yg gede, ane yakin orang orang kayak gini nanti yg bakal yg mau bunuh imam mahdi

  3. Semoga Allah mencurahkan sholawat dan Salam kepada baginda Rasulillah, sahabat dan keluarga beliau.
    Semoga berkah, rahmah dan maghfirah menghujani tim admin ummati press.
    Jazakumullah atas info2 yang diberikan.

    Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah

  4. @admint
    Bagi anda yang memiliki website atau blog sendiri juga dapat menambahkan radio-radio online tersebut pada situs anda. Dengan tambahan live streaming radio pada situs anda tersebut dapat memberi kesan yang menarik dan mempercantik website atau blog anda. Pengunjung situs anda juga dapat menikmati sajian acara-acara yang disuguhkan oleh stasiun radio tersebut. Alhasil, pengunjung situs anda dapat lebih berlama-lama mengakses situs anda karena ingin mendengarkan radio online yang anda pasang tesebut dan ini dapat meningkatkan trafik kunjungan ke situs anda. Dan tentu saja website anda diharapkan akan lebih populer.

  5. Jawabnya sama dengan seorang yang tidak memiliki kapasitas ijithad yang membaca hadits shahih,”Mencela muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran”, tanpa merujuk kepada para mujtahid, lalu menghukumi orang yang melakukan pembunuhan sebagai orang murtad berdarakan kesimpulannya sendiri tentang hadits itu.

  6. Gini neh tingkatan pencari ilmu:
    1. Muqallid awwam: Menerima leterlijk apa yang diajarkan gurunya yang bersumber dari pendapat rajih dalam madzhab. Karena kalau tidak belajar pada gurunya ia tidak akan mengetahui yang rajih dalam madzhab.
    2. Alim Muqallid: Mengetahui rajih dalam madzhab dengan merujuk kepada alim murajjih. Ini juga berat bro, ia perlu membaca karya Imam Ar Rafi’i, Imam An Nawawi, ashab as syuruh (para ulama yang mensyarah minhaj), ashab al kahwasy (para ulama yang mensyarah syuruh al minhaj), nah walau muqallid orang kalau samapi tingakatn ini dah mengkaji dalil.
    3. Alim murajjih: mampu mengambil pendapat yang rajih berdasarkan dalil secara mandiri, namun tidak membuat pendapat baru. Semisal Imam An Nawawi.
    4. mujtahid madzhab: Dia tidak perlu mentarjih dan sudah membuat produk pendapat baru secara mandiri , namun metodenya masih mengikuti metode Imam. Sebab itulah mereka masih bermadzhab. Misal Al Muzani, Al Buwaiti dll.
    5. Mujtahid mutlak: Indpenden dalam ijtihad dan kaidah, semisal Imam 4.
    Ente dihitung keluar dari awam kalau dah berada di peringkat 2,3,4,5. Dan untuk ke no 2 aja anda perlu jerih payah yang sungguh-sungguh dengan bimbingan guru yang juga betul-betul kompeten.

    Sayang para mulfiqin saat ini, belum sampai ke no 1 atau 2, tapi dan memposisikan sebagai pihak 3,4 kadang 5 sekaligus. Namun mereka suka salah dalam menukil pendapat madzhab yang rajih.

    Kadang orang balajar seumur hidup, ada yang sampai tingakatan 5,4,3,2 atau mungkin satu. Dan yang terakhir adalah mayoritas, dan ini tidak mengapa karena ia dah mengetahui hukum syar’i. Yang diperintahkan adalah belajar sungguh-sungguh dengan metode yang benar. Dan hasilnya serahkan kepada Allah.

    Pemahaman Salaf Shalih.
    Ini adalah istilah yang absurd. Salaf shalih, yakni para ulama di masa 3 kurun ada ada yang menyebut 3 abad pertama dalam memahami nash berbeda-beda metode sakaligus kesimpulannya. Nah, Salaf siapa di sini yang dimaksud?
    Apakah anak kecil akan diajari, dalam hadits ini imam a,b,c,d,e,f,g,h,i,j,k… pendapatnya a,b,c,d,e,f,g,h….karena ulama salaf itu banyak! Termasuk Imam 4 sendiri karena hidup di 3 abad pertama.

    Yang jelas, pemahaman salaf bukan pemahaman para mulfiqin di akhir zaman ini, yang dilalebeli pemahaman salaf. Karena mereka juga sering menyalahkan amalan-amalan para salaf juga. Nah, kalau bermadzhab dah bisa disebut sebagai orang yang mengikuti salah satu ulama salaf, yakni imamnya.

    Nah diajari dengan pemahaman para salaf yang sebenarnya sekalipun, anak yang baru belajar tidak boleh dikasih pengatahuan tentangnya, yakni dalam hadits ini ulama a,b,c,d,f….berpendapat a,b,c,d,e…Kalau belajar seperti ini. Anak kecil gak slelsai-slesai bejalar taharahnya, malah bingung, padahal yang dibutuhkan adalah pengamalan dengan segera. Cukup ambil salah satu dari madzhab mu’tabar, cara wudhu, gak perlu sebut dalil sumber ijithad hingga melahirkan pendapat-pendapat itu. Karena belum waktunya mereka mengkaji dalil!

    Lebih-lebih diajari pemahaman para mulfiqin, yang dilabeli pamahaman salaf, lebih tidak boleh lagi.

  7. Ne, kpde ente2 yg ngaku2 ASWAJA dsni ne. Ane btuh jawaban ma ente2 smuanye…

    Ne p’tanyaannye :

    ” ENTE2 SMUE DALAM ILMU AGAME, UDE PDA KELAS BERAPE??? SEDE, SEMPE, SEM-A, KULIAH, APE UDH PROPESHOR ??? ”

    maap ye,gw cm mo nanya doank…^_^
    soalnye gw liat komen2nye ude ky ustad smuaaa….

    Kali aje gw bs blajar ma ente2 dsni…

    djawab ye….

    >>> bapak kamu TENTARA ya?? ( emang kenapa ? ) karna kamu telang ngegranat hatiku. . . .

    Hehehe. . .

  8. @ibnu suradi
    “Bapaknya tidak menyampaikan pendapat imam madzhab terlebih dahulu, tapi langsung menyampaikan hadits. Dia tidak menyampaikan jawaban: “Dalam Madzhab Syafii, cara sujud adalah ………”

    Salahkah cara pengajaran yang demikian?”

    Ente kudu tau juga tentang Imam Syafi’i, ini dari hadist.
    Rasulullah bersabda : “Janganlah kamu menghina orang-orang Quraisy, karena seorang ulama dari kalangan bangsa Quraisy, ilmunya akan memenuhi penjuru bumi ini.” ( HR Baihaqi didalam al-Manaqib Syafi`i, Abu Naim didalam al-Hilyah, Musnad Abu Daud ath-Thayalisi ).

    Para ulama menta’wilkan maksud hadits tersebut kepada Imam Syafi’i al-Quraisyi yang telah menebarkan ilmu dan madzhabnya dibumi ini. Diantara ulama yang mengungkapkan hal itu ialah Imam Ahmad Bin Hanbal, Imam Abu Nuaim al-Ashbahani, Imam Baihaqi.
    Dan maksud ilmu pada hadits tersebut adalah madzhab dan pemahamannya terhadap al-Quran dan As Sunnah, sebab pemahaman terhadap al-Qur’an dan sunnah itulah yang disebut ilmu. Ilmu itu adalah madzhab jika ilmu tersebut diikuti orang lain. Dengan demikian, madzhab adalah salah satu pemahaman al-Qur’an dan hadits yang diikuti oleh orang lain.

  9. mau tau bahayanya jika terkena virus WAHABI…??? yah seperti kang Ibnu Suradi dampaknya…

    doktrin WAHABI yang “mengena” kepada anak muda sekarang adalah : “membentuk pola pikir kritis salah kaprah dengan menanamkan perasaan paling benar”. Komentar2 nyeleneh Ibnu Suradi ini sangat tidak asing dikalangan Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengerti sepak terjang WAHABI. Tetapi, bagi yang awam, maka akan menjadi sebuah paradigma hebat yang sangat mengagumkan. Coba cermati satu persatu komentarnya, dan mari kita berfikir sebagai orang awam seolah tanpa ilmu agama seperti sekarang. Maka jangan heran jika kitapun akan sepaham dengan Ibnu Suradi. mengapa bisa demikian, karena doktrin WAHABI membentuk jiwa-jiwa pemuda yang kritis untuk bebas berfikir aktif dan mengeksplorasi hasil pemikirannya menjadi argumentasi2 hebat (menurut mereka) berdasarkan ilmu yang mereka punya.

    Dan banyak pengalaman yang terjadi pada kawan2 kita yang secara ilmu agama masih dasar, tapi sangat kritis terhadap kebiasaan ibadah kita, semisal mengkritisi TAHLILAN, DZIKIR BERJAMAAH, YASINAN dsb. Padahal kebanyakan mereka baru “anak kemaren” kenal ilmu agama. Kenapa mereka berani dan tetap ngotot untuk mengkritisi hal2 tsb, karena doktrin WAHABI (merasa paling sunnah & paling benar) sudah tertanam dengan kuat di dada mereka. Dan inilah yang tidak disadari oleh mereka2 yang sudah terkena virus WAHABI.

    Semoga sodara2 yang terkena virus WAHABI mau berobat untuk menyehatkan AQIDAH pada diri mereka…..Aaamiiiieeennn…

  10. @ibnu suradi,
    “Orang tua tersebut tidak mengambil pendapat imam madzhab terlebih dahulu, tapi langsung menyampaikan hadits. Salahkah cara pengajaran yang demikian?”
    Begini…….

    Rasulullah tidak pernah memerintahkan ente untuk bermadzhab. Dari maknanya, tidak ada perintah untuk bermazhhab secara khusus, akan tetapi, bermazhab diperintahkan secara umum.
    Perintah umum tersebut terdapat didalam al-Qur`an dan Hadits Rasul , demikian juga disana tidak terdapat larangan untuk bermazhab dari Rasulullah. Dengan demikian tidak boleh kita buang dalil umum yang menyuruh untuk bermadzhab. Bahkan sebagian dalil dan hujjah-hujjah menjurus kepada kekhususan mengikuti ulama-ulama yang telah sampai derajat Ijtihad.
    Ada beberapa dalil tentang bermadzhab:

    Allah Berfirman :
    Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui. (Al Anbiyya:7)
    Dan (Ingatlah) ketika kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan kami Telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh (Al Ahjab : 7).
    Perjanjian yang teguh ialah kesanggupan menyampaikan agama kepada umatnya masing-masing.

    Penjelasan 2 ayat diatas memerintahkan orang-orang awam yang tidak mengetahui sesuatu atau belum mencapai derajat mujtahid untuk bertanya kepada orang alim atau orang yang telah sampai derajat Mujtahid. Hal ini bermakna orang yang tidak sampai derajat mujtahid diharuskan mengikuti mazhab-madzhab yang di i’tiraf (diakui) oleh ulama-ulama. Siapa yang merasa tidak memiliki ilmu maka dia wajib bertaqlid kepada ulama, sebab Allah tidak mengatakan, jikalau kau tidak mengetahui maka hendaklah lihat didalam al-Qur`an dan Hadits. Karena al-Qur`an dan al-Hadits memiliki pemahaman yang hanya ulama yang mujtahid saja yang memahaminya. Karena itulah Allah memerintahkan untuk bertanya kepada Ulama mujtahid akan arti dan pemahaman dari al-Qur`an dan al-Hadits.

    Rasulullah SAW bersabda :
    Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari hati hamba-hambanya ( ulama ) akan tetapi mengambil ilmu dengan mencabut nyawa ulama, sehingga apabila tidak terdapat ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh ( menjadi pegangan mereka ), mereka bertanya hukum kepadanya, kemudian orang-orang bodoh itu berfatwa menjawab pertanyaan mereka, jadilah mereka sesat dan menyesatkan pula. ( H.R Bukhari, Muslim , Tirmidzi , Ibnu Majah. Ahmad, ad-Darimi).

    Penjelasan Hadits ini menunjukan kepada kita semakin sedikitnya ulama pada masa sekarang. Siapa yang mengatakan semakin banyak maka dia telah menyalahi hadits Nabi yang shahih dan kenyataan yang ada. Sebab Allah mencabut nyawa ulama dan tidak ada pengganti yang dapat menandingi keilmuannnya. Siapa yang dapat menandingi keilmuan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi`i, Imam Ahmad pada zaman sekarang? Tidak ada yang mampu. Mereka telah wafat dan meninggalkan warisan yang sangat besar yaitu ilmu dan madzhab-mazhab mereka.
    Jadi orang -orang awam yang mengambil warisan ilmu-ilmu mereka seolah-olah bertanya langsung kepada Imam yang empat. Dengan begitu, jauhlah mereka dari kesesatan dan menyesatkan orang. Tetapi orang bodoh yang tidak mau bermadzhab akan menanyakan permasalahannya kepada orang yang berlagak alim dan mujtahid tetapi bodoh, tolol dan sok tahu, maka dia berfatwa menurut hawa nafsunya dan perutnya dalam memahami hadits dan lainnya. Orang ini sangat membahayakan dan menyesatkan umat Islam. Mereka tidak menyadari kesesatan mereka dan berusaha untuk menyebarkan pemahaman mereka, inilah ciri-ciri kebodohannya.
    Dari hadits ini kita perlu bertanya, mengapa Rasulullah mengatakan,”mereka bertanya kepada orang-orang bodoh”. Penyebab mereka mengambil ilmu kepada orang yang bodoh ialah karena orang alim sudah tiada lagi.

    Bukan begitu ibnu suradi ? sekarang bisa jawab pertanyaan ane diatas? jujur aja ane gak marah kok!!!!!

    1. Subhanalloh penjelasan kang Ucep, ane juga penasaran nih kok Kang Suradi ga jawab-2 yah? padahal pertanyaannya simple, apa Kang Suradi mau nanya ke saya dulu? pasti saya jawab kang heheheehehe….tapi janji jawab pertanyaan kang Ucep lho !!!!

  11. Bismillaah,

    Seorang anak bertanya kepada bapaknya: “Bagaimana cara bersujud dalam shalat?” Bapaknya menjawab: “Sahabat Abi Humaid bercerita bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersujud dengan menjauhkan perut dari paha dan menjauhkan betis dari paha.”

    Bapaknya tidak menyampaikan pendapat imam madzhab terlebih dahulu, tapi langsung menyampaikan hadits. Dia tidak menyampaikan jawaban: “Dalam Madzhab Syafii, cara sujud adalah ………”

    Salahkah cara pengajaran yang demikian?

    Wallaahu a’lam.

    1. @ ibnu suradi

      pertama kami tidak pernah menyebut bahwa pemakaian qur’an dan hadist langsung adalah terlarang, tapi kami menyebutkan bahwa apabila anda mengambil quran dan hadist sebagai dalil anda harus dulu mempuyai keilmuan untuk menyampaikannya. dan anda tidak mengapa memberikan dalil dengan perkataan ulama.

      kedua seperti dijelaskan oleh para ustadz disini bahwa ada qur’an dan hadist yang harus dikaji dipelajari baru menghasilkan hukum ada yang bisa langsung dipraktekkan.

      contohnya
      perkataan anda tentang makan dengan tangan kanan bapaknya bisa dengan langsung dengan hadist nabi atau bisa dengan perkataan itu yang diajarkan oleh guru kami. toh duanya sama bahwa makan itu bagusnya pake tangan kanan.

      tp kalau anda mengharuskan semuanya dijawab dengan dalil quran dan sunah bisa jadi prakteknya jadi salah.

      contohnya perkataan anda tentang cara sujud.
      lalu si anak sujud dengan tangan terkepal, kaki tidak menentuh tanah. dibapak marah kamu sujud tidak benar
      sianak jawab dalam hadist yang anda kemukakan hanya menyuruh kalo sujud jauhkan perut dari paha dan betis dari paha. ngak disebut tuh jari kaki harus yentuh tanah dan dilipat, tangannya jangan dikepal trus lutut yentuh tanah.

      dengan gitu berarti ngak hanya ada satu hadist yang menerangkan tentang sujud ada lebih dari satu bahkan berpuluh puluh.otomatis apabila anda ingin sujud yang sempurna anda harus hapal seluruh hadist tersebut baru bisa sujud yang sempurna. kira kira butuh berapa lama untuk sebuah gerakan sujud bisa dilaksanakan dengan sempurna. sedangkan kewajiban sujud yang sempurna berlaku seketika begitu kita ngaku islam.

      pertanyaannya jadi apakah harus selalu mengemukakan qur’an atau hadistnya dulu sebelum beribadah?

      saya mau tanya pada kang ibnu suradi apakah anda tahu qurannya kita disuruh sholat lima waktu, berapa ribu hadist yang diperlukan cuma untuk mengetahui cara sholat yang benar, kapan mau sholatnya apabila kita diwajibkan dulu tau qur’an dan hadistnya dulu?
      kapan kita mau ibadahnya?
      kapan kita dapat pahalanya?

  12. Bismillaah,

    Kang Rony,

    Ada anak yang makan dengan tangan kiri. Orang tuanya menghentikannya seraya mengatakan: “Rasulullaah bersabda: ‘Janganlah engkau makan dan minum dengan tangan kiri. Makan dan minumlah dengan tangan kanan”

    Orang tua tersebut tidak mengambil pendapat imam madzhab terlebih dahulu, tapi langsung menyampaikan hadits. Salahkah cara pengajaran yang demikian?

    1. Eh Ibnu Suradi…
      Sekedar mengingatkan, bahwa segala sesuatunya itu terjadi atas sebab sebagai bahan untuk berpikir. yang didiskusikan teman2 ASWAJA dengan nt itu intinya adalah proses alias sebab yang benar supaya akibatnya juga benar… Begitu loh kang….!!! :mrgreen:

  13. @ibnu suradi
    Nah nongol juga, bagaimana dengan pertanyaan ane diatas????
    yang ini……..
    Ane tau ente islam kan!!, kalau orang islam gak boleh bohong, ane tanya jujur…
    1. Ente mengakui madzhab gak?
    2. Madzhab ape yang ente anut?

  14. Bismillaah,

    Kang Naka menulis: “Nah, kalau si murid dipandang sudah memiliki kapasitas, maka ia dikasih dalil-dalilnya. Semakin tinggi kapasitasnya info dari guru semakin mendalam dan meluas.”

    Komentar:

    Kita diperintahkan untuk terus menuntut ilmu darai lahir hingga sebelum masuk liang lahat. Kapan kita dianggap memiliki kapasitas, bukan awam lagi sehingga kita sudah layak menerima dalil Qur’an dan hadits? Apakah dibenarkan seorang Muslim tetap awam hingga dia meninggal? Apakah salah seorang guru memperkenalkan perkataan Allah (ayat Qur’an) dan perkataan Rasulullaah (hadits) kepada muridnya sejak kecil, tentu berdasarkan pemahaman salafush shalih yang disampaikan para imam madzhab kepada umat Islam?

    Wallaahu a’lam.

    1. @ ibnu suradi

      anda tuh jawab pertanyaan mas naka, anda juga menjawab pertanyaan anda sendiri.
      kata anda juga belajar tuh sampai liang lahat, masa udah belajar sampai liang lahat levelnya terusan awam, ya enggak atuh kalo udah belajar lama-lama juga bakalan pinter dan naik kelas.

      saya kasih contoh
      belajar agama sama sengan belajar formal. apakah anak tk langsung disuruh belajar kalkulus, trus dikasih tau pelajaran kimia fisika matematik tingkat akhir. ngak kan paling belajar gambar, nanti udah sd belajar baca nulis matematika dasar, naik lagi ke smp balajar tingkat menegah terus kalo dia belajar terus ampe kuliah baru dikasih tau tentang asal muasal hukum hukum yang dia pelajari dari waktu tk ampe sma.

      jd kalo orang itu belajar udah lama terus ngak naik naik levelnya itu ada dua masalah
      1. gurunya ngak bisa ngajar
      2. muridnya yang bodoh

  15. Naka:
    Jikaguruadalahulamabijak,diaakanmengajariilmusesauidengankapasitasmuridnya.Jikamuridnyaawam,gurutidakakankasihyangringkasdaninstan,siapdiamalkan.Cukupsyaratrukunnya,kerenasemuadahpastiadadalilnya.

    Ralat neh, “Jika guru adalah ulama bijak,dia akan mengajari ilmu sesaui dengan kapasitas muridnya.Jika muridnya awam,guru akan kasih yang ringkas dan instan,siap diamalkan.Cukup syarat rukunnya,kerena semuadah pasti ada dalilnya.”

  16. Mas ferry ASWAJA
    Kalau gitu menukilkan pendapat para imam kita yang empat (Al Imam al ‘Alamah Hanafi, Maliki, Syafeii, Ahmad bin Hambal Rohimahullahhuta’allah) untuk memdukung argumentasi mereka itu sungguh berbahaya kang!! Sebab itu bisa menipu orang2 yang masih sangat awam pemahamannya akan Ahlu sunnah waljama’ah yang asli, orang2 awan nanti malah megira salafi/wahabi adalah ASWAJA yang asli padahal ASPAL ( Asli Tapi Palsu ) 😆 😆 😆

    1. Mas @ferry
      Yang membuat matan AlBani, pembuat syarah Utsaimin, pembuat Hasyisiyah nya Bin Baz, pembuat mukhtasarnya Al Saud, pembuat Madzhabnya MAW he he he…….. Komplit dah. Tukang bohongnya Firandaaaaaaa.

  17. mas Wahyuboez.
    @ ibnu Suradi memakai mazhab empat (4), MAW, Albani, Bin Baz, dan Utsaimin (he.he.he.. sama2 (4) empat ) lebih di taklid buta,,, yg katanya lebih hebat dr pada 4 Imam mazhab (Al Imam al ‘Alamah Hanafi, Maliki, Syafeii, Ahmad bin Hambal Rohimahullahhuta’allah), seharusnya mereka Wahhabian malu memakai hujjah keempat imam mazhab ini??? dipersilahkan para Wahabbi memakai pendapat2 imam2 mereka (jangan nukil adn nukil and nukil)!!!maaf dilarang keras memakai pendapat Imam Mazhab yang empat!!!!!

    1. Emang, Wahabiyah pernah menyebut Imam 4 (Aimah Al Arb’ah) bukan Imam Abu Hanifah, Malik, As Syafi;i atau Ahmad. Tapi Bin Baz, Muqbil, Al Albani serta Utsaimin. Dulu ada situs resminya http://www.imams4.com, tapi sekarang situsnya dah mati. Sekarang mereka semakin gak karuan jadinya.

  18. @ibnu suradi
    Ane tau ente islam kan!!, kalau orang islam gak boleh bohong, ane tanya jujur…
    1. Ente mengakui madzhab gak?
    2. Madzhab ape yang ente anut?
    Biar gak bertele-tele

  19. intermezo sedikit, main-2 tadi ke firanda.com , kok yg dibahas bantahan Habib Munzir terus yah??? dendam kesumat apa yah si kang firanda? coba-2 kasih komen ga pernah muncul….isi nya komen-2 pengikutnya aja…padahal saya kasih komen mengundang kang Firanda untuk diskusi di ummati atas tulisan artikel Mas Syahid, apa dia udah pernah ke sini tp dengan nama lain kali yah???? :mrgreen: :mrgreen: coba untuk para pengikut firanda.com…ajak-2 dong kang firanda main di mari, disini gampang bgt kok masuk & kasih komennya, dari aswaja maupun wahabi..laaaah di sana wahabi semua….

    1. Kang!! Ane sudah dulu juga sering kasi komen diblog-blog dan website2nya salafi/wahabi, tapi tak satupun komen ane yang ditampilkan, sedangkan mereka sendiri komen diblog-blog dan websitenya all aswaja tetap saja ditampilkan meski dengan tutur bahasa yang extrims sekalipun, dari situ ane tau cara belajar mereka itu tidak memakai pembanding, mereka hanya belajar dari satu sisi dan inilah mungkin yang menyebabkan logika beragama mereka itu kembali kejaman batu hingga kalau diajak diskusi sering ngawur dan ngak nyabung!! :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

    2. Itulah prinsip cermin, cuma dari depan aja, belakang, samping kiri kanan gak keliatan, jadi buat dirinya aja. begitu juga dengan blog-blog lain, makanye ane seneng sama blog ini, bisa tuker pikiran ya All Aswaja……. mantab.

  20. Bsimillaah,

    Kang Ucep menulis: “Masa seorang guru tidak melampirkan dalilnya, dalam menjelaskan aqidah.”

    Komentar:

    Jadi, dalam bermadzhab, seorang guru harus menyampaikan dalil Qur’an dan hadits dalam menjelaskan masalah agama. Dan seorang murid harus memperhatikan dalil Qur’an dan hadits dari penjelasan gurunya. Benarkah demikian, Kang?

    Jadi, tidak boleh seorang guru menjawab pertanyaan muridnya tentang dalil Qur’an dan hadits dari penjelasan guru tersebut dengan perkataan: “Pokoknya dalam Madzhab Syafii itu begini. Titik.”

    Wallaahu a’lam.

    1. Jika guru adalah ulama bijak, dia akan mengajari ilmu sesaui dengan kapasitas muridnya. Jika muridnya awam, guru tidak akan kasih yang ringkas dan instan, siap diamalkan. Cukup syarat rukunnya, kerena semua dah pasti ada dalilnya.

      Nah, kalau si murid dipandang sudah memiliki kapasitas, maka ia dikasih dalil-dalilnya. Semakin tinggi kapasitasnya info dari guru semakin mendalam dan meluas.

      Hanya guru bodoh yang memperlakukan muridnya yang awam dan yang alim sama saja.

      Demikian juga sikap murid. Dia hendaknya tahu diri, jika guru menahan untuk memberikan dalil. Guru yang ngerti mesti punya alasan untuk menahan info itu, karena melihat kondisi muridnya.

      Jangankan dalam ilmu agama, dalam ilmu eksat pun demikian, matematika untuk anak SD ringkas saja, hanya taklid kepada rumus. Nah tar baru setelah SMP ada info asal-usul rumus itu. Tar kalau dah tingkat profesor bahkan bisa ciptakan rumus sendiri.

      Juga demikian dalam ilmu fiqih ada untuk pemula, yang kitabnya hanya berupa matan dan ringkasan. Tar kalau dah menguasai ada kitab-kitab yang disebut dalilnya. Kalau dah ekspert kitab yang dipajari juga mempelajari dalil madzhabnya sekaligus madzhab lain dan mematahkan hujjah lawannya.

      Tahapan ilmu kayak gini dah diterangkan dalam buku-buku adab mencarilmu . Para pencari ilmu pemula dalam Syafi’iyah mangkaji adab-adab ini terlebih dahulu, hingga ia paham tahapan-tahapan dalam mencari ilmu sekaligus intaraksi antara guru dan murid.

      Mereka yang tidak mengkaji adab mencari ilmu biasanya langsung suudzon ketika ada ulama yang tidak memberikan dalil. Ada yang menyebut ulama itu gak ngerti dalil, ada juga yang menyebut ulama itu menyembunyikan informasi.

      Masalah Fatwa
      Demikian juga fatwa bagi kaum awam tidak perlu disebutkan dalil. Adapun fatwa bagi bagi seorang faqih disebut dalilnya. Lebih-lebih fatwa untuk qadhi, diperinci penjelasan metodologi yang digunakan dalam fatwa itu.

      Bahkan bagi awam tidak perlu bertanya dalil. Nah, kalau si awam masih bertanya hanya dalil-dalil untuk masalah qath’i saja, sedangkan dalil masalah dhanni yang perlu ijtihad tidak perlu dijawab. Lihat Adab Fatwa karya Imam An Nawawi.

      Kebanyakan kelompok mulfiq (orang yang mencampur-adukkan madzhab), baik “muftinya” maupun mustaftinya (orang yang meminta fatwa). tidak mengindahkan adab-adab ini.

  21. @ibnu suradi
    Pertanyaan murid itu, namanya muridnya tidur waktu dijelasin. Masa seorang guru tidak melampirkan dalilnya, dalam menjelaskan aqidah.
    Kalau guru ane ditanya seperti itu pasti disuruh wudhu dulu, sebelum nanya.

  22. Bismillaah,

    Biar menjadi jelas bagi saya, tolong terangkan kasus berikut ini berdasarkan cara bermadzhab yang benar.

    Ketika seorang guru menjelaskan cara berdiri untuk dengan menyampaikan: “Dalam Madzhab Syafii, cara berdiri untuk shalat adalah begini, begini, begini …….” Seorang muridnya lalu bertanya: “Apa dalil dari Qur’an dan hadits dari penjelasan guru?”

    Dalam bermadzhab, bolehkan seorang murid melontarkan pertanyaan seperti itu?

    Wallaahu a’lam.

  23. @ibnu suradi
    Apakah gak terbalik, kalau ane justru penjelasan dari Ayat Al Qur’an dan Hadist yang diterapkan, bukannya Al Qur’an dan hadist yang diterapkan. seperti bab thaharah atau bab wudhu, gak hadistnya rata2 kita gak bisa nangkep langsung, tapi penjelasannya yang kita terapkan.
    Coba diskusi sama mas @naka dah, nti ente jelas. mas @naka dah nunggu tuh.

    Ane mau tanya kenape ente gak berpegangan satu madzhab aja?

  24. Bismillaah,

    Kang Ucep dan kawan-kawan semua,

    Saya bukanlah mujtahid. Saya tidak mengetahui ayat Qur’an dan hadits sebagai dasar amalan ibadah. Saya tidak langsung mengambil ayat dan hadits sendiri karena saya mengetahui betapa lemah ilmu saya. Para imam Madzhab lalu menunjukkan ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits kepada umat Islam termasuk saya lewat kitab-kitab mereka dan guru guru yang memahami pendapat madzhab.

    Kemudian, saya gunaan ayat dan hadits tersebut sebagai pegangan beramal ibadah.

    Demikianlah cara bermadzhab saya.

    Wallaahu a’lam.

  25. Penjelasan dari kang Ucep sangat bisa difahami oleh orang awam seperti saya sekalipun… Ibnu Suradi yang berilmu kenapa ga mudeng juga..? ada yang salah kayanya ni 💡 💡 😆 😆

  26. @ibnu suradi
    He he he dari kata-kata ente gak mau berpegang pada salah satu madzhab ya, tapi gak apa-apa, terserah ente.

    Kalau pendapat ente bahwa Al-Qur`an dan As Sunnah sudah cukup menjadi sumber hukum, silahkan dan itu adalah ungkapan seorang Mujtahid, yang telah memenuhi syarat-syarat berijtihad.
    Rasul bersabda : “Allah menyayangi seseorang yang mengetahui batas kemampuannya.”.

    Kalau ente sadar akan batas keilmuan dan kemampuan ente, tentu ente akan mengikuti salah satu madzhab yang empat. Perlu ente ketahui jika ente belum sampai kepada tahap Mujtahid, terus ingin mengambil secara langsung dari al-Qur`an dan Sunnah, apakah ente telah menghapal al-Qur`an keseluruhannya? Atau paling sedikit ayat-ayat Ahkam dan telah mengetahui maksud ayat-ayat tersebut, sebab-sebab turunnya ayat, apakah ayat tersebut tergolong Nasikh atau Mansukh, apakah ayat tersebut Muqayyad atau Muthalaq, atau ayat itu Mujmal atau Mubayyan, atau ayat tersebut `Am atau Khusus, atau ayat tersebut Muhkamat atau mutasyabihat atau kedudukan setiap kalimat didalam ayat dari segi Nahwu dan `Irabnya, Balaghahnya, bayannya, dari segi penggunanaan kalimat Arab secara `Uruf dan hakikatnya atau majaznya, kemudian adakah terdapat didalam hadits yang mengkhususkan ayat tersebut, ini masih sebagian yang perlu ente ketahui dari al-Qur`an.
    Sementara dalam Hadits, ente mesti menghapal seluruh hadits-hadits Ahkam, kemudian mengetahui sebab-sebab terjadinya hadits tersebut, mana yang mansukh dan mana yang Nasikh, mana yang Muqayyad dan mana yang Muthlaq, mana yang mujmal dan mubayyan, mana yang `Am dan Khas, dan mesti mengetahui bahasa arab dengan sedalam-dalamnya, agar tidak menyalahi Qaidah-Qaidah dalam bahasa. Hal ini meliputi Nahwu, Balaghah, bayan, ilmu usul Lughah.
    Ente juga mesti mengetahui fatwa-fatwa ulama yang terdahulu, sehingga tidak mengeluarkan hukum yang menyalahi ijma` ulama dan mengetahui shahih atau tidaknya hadits yang akan digunakan. Hal ini meliputi pengetahuan tentang sanad, Jarah dan Ta`dil, Tarikh islami dan ilmu musthalah hadits secara umum dan mendalam, sebab tidak semua hadits shahih dapat dijadikan hujjah secara langsung, karena mungkin saja telah dimansukhkan atau hadits tersebut umum dan adalagi hadits yang khusus, maka mesti mendahulukan yang khusus.
    Shalafus Shaleh tidak bermadzhab, karena Rasulullah saw masih ada. Sehingga kalau ada masalah para sahabat langsung bertanya kepada beliau, kite ini jauhnya 14 abad lebih, 4 imam madzhab jauhnya 13 abad dan semuanya telah wafat, terus bertanya kepada siapa?
    Terus terang ane belum sanggup karena masih bodoh, tolol, sok tau!!! makanya ane bermadzhab. he he he…….

    1. ampun dah penjelasannya kang ucep, ampe bengong ane, tp yg bs ane ambil poin pentingnya, shalafus sholeh tidak bermahzab krn hidup di zaman Rosululloh SAW msh ada, jd langsung bertanya….naaaah skrg wahabi menamakan dirinya salafus sholeh…padahal masanya beda…jd merasa spt masa dulu, mengambil pemahaman lngsung tanpa melaui guru, meski mungkin ada….apa lupa hidup di beda zaman yah???

  27. Bismillaah,

    Kang Ucep menulis: “Bermadzhab adalah kite belajar mengambil fadilah atau manfaat dari para imam-imam tersebut.”

    Pertanyaan:

    Fadilah apa, Kang? Ini masih kabur, perlu penjelasan.

    Sejauh pemahaman saya, kita harus melakukan amal ibadah berdasarkan Qur’an dan hadits. Sedangkan kita masih buta tentang Qur’an dan hadits. Oleh karena itu, para imam madzhab menunjukkan kepada kita ayat Qur’an dan hadits yang harus dijadikan dasar bagi kita dalam melakukan amal ibadah.

    Itulah hakekat tujuan kita bermadzhab: mengetahui ayat Qur’an dan hadits yang kita gunakan sebagai dasar amal ibadah kita. Mengetahui apa yang diperintahkan Allah kepada kita untuk beribadah kepadaNya. Mengetahui cara beribadah yang diajarkan Rasulullaah kepada umat Islam.

    Wallaahu a’lam.

    1. sepertinya gini kang suradi yg bisa saya tangkap sbg abu syibr, dr kang ucep, kang naka, memang kita belajar Qur’an & Hadits, tapi kita sendiri ga akan mampu untuk menangkap arti di dalam itu, perlu guru yg pastinya lebih berilmu dari kita untuk menjelaskan apa maksud ayat ini , hadits ini dsb…contoh : Syurga ada di bawah telapak kaki ibu, waktu kita awam kita kan cuma tau arti harpiah…tapi kita lihat apa di bawah kaki ibu ada tempat yg namanya syurga? ga ada kan? maka kita butuh guru untuk menjelaskan arti/maksud hadits tsb….itu sih contoh yg sangat gampang menurut saya, contoh-2 berat pastinya Kang Ucep, Kang Naka dll yg lebih ngerti…maaf kalo saya salah….

  28. @ibnu suradi
    Alanea 1&2, menurut ane itu benar berarti kita harus berpegang pada satu madzhab kan !! (kalau itu benar dari perkataan Imam Abu hanifah !!).
    Alanea 3 : kan ane dah jelasin diatas, bermadzhab adalah kite belajar mengambil fadilah atau manfaat dari para imam-imam tersebut. Supaya ente gak bingung, ambil satu madzhab dulu baru yang lain (kalau dah tingkatan mujtahid).
    Coba ente diskusi sama mas @naka, tentang thaharah satu aja, nte bingung gak kalau 4 madzhab sekaligus.

  29. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Saya mendapatkan perkataan Imam Abu Hanifah: “Tidaklah halal bagi seorang pun mengambil pendapat kami, selama ia tidak mengetahui dari mana (dengan dasar apa) kami mengambil pendapat tersebut.”

    Jadi, beliau menyarankan untuk mengetahui ayat Qur’an dan hadits yang beliau gunakan sebagai dasar pendapatnya. Kita tidak diperbolehkan mengambil pendapat seseorang bila kita tidak mengetahui ayat Qur’an dan hadits yang digunakan sebagai dasar pendapat orang tersebut.

    Jadi, tujuan bermadzhab adalah agar kita mengetahui ayat Qur’an dan hadits sebagai dasar amal ibadah yang akan kita lakukan. Dan, memang imam-imam madzhab telah menunjukkan kepada kita ayat-ayat dan hadits-hadits sebagai dasar amal ibadah yang dilakukan oleh umat Islam.

    Wallaahu a’lam.

  30. @ibnu suradi
    Kitab Al Umm merupakan salah satu warisan ilmu imam syafi’i dan itu menjadi salah pegangan yang bermadzhab syafi’iyah. Kalau ente baru satu mengamalkan salah satu aqidah imam syafi’i, ane rasa ente kudu membaca habis kitab Al umm seluruhnya, maka ente tau pertanyaan ente itu.
    Nanti ente terapkan apa yang ada dikitab Al Umm dalam kehidupan sehari-hari (Ane yakin kalau ente sudah menerapkan kitab Al Umm, pasti ente bisa nangis, betapa kecilnya aku ini dibandingkan para sahabat yang begitu 100 % mengamalkan Al Qur’an dan hadist dikehidupan sehari-hari).
    Karena kite ini masih bodoh, maka pelajari aja satu madzhab dulu, nti kalau sudah diterapkan 100% kitab Al Umm dan kitab imam syafi’i yang lain, boleh dah baca Kitab madhzab yang lain, supaya kita gak bingung menerapkannya.

    Seorang jago sufi Ibnu Al Arabi dalam kitab Al Washayya bilang : Berpeganglah pada satu madzhab, kalau sudah ahli baru ber tanpa madzhab.
    Lagi seorang wali kutub Syech Abdul Qadir jailani yang bermadzhab hanya satu yaitu madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.
    Jadi yang jago-jago aja cuma satu madzhab, apalagi kita yang mungkin 0.000001% nya.
    Jadi kite pegang lah satu madzhab yang tepat buat kite gampang mengamalkannya.
    OK.

  31. Kang Ucep,

    Dahulu saat saya bingung tentang masalah merapatkan shaf shalat berjamaah. Ada orang yang melaksanakan dengan ketat. Ada juga yang membolehkan renggang asal tidak seukuran tubuh orang dewasa. Lalu saya menanyakannya kepada guru saya. Dan guru saya menyampaikan hadits dari Kitab Shahih Bukhari dan pendapat Imam Syafii yang diambil dari Kitab Al Um. Kemudian saya mengikuti hadits tersebut dan pendapat Imam Syafii tersebut.

    Dengan demikian, apakah saya dapat dikatakan telah mengikuti madzhab?

    Wallaahu a’lam.

  32. @ibnu suradi

    Bermadzhab tak lain adalah belajar. Ketika kita belajar kepada guru A, tanpa disadari kita telah bermadzhab kepada beliau. Maka, jika ada orang yang bilang tidak bermadzhab tapi dia masih belajar kepada seorang guru, maka bisa dikatakan bahwa ia tidak membuka matanya.

    Sebenarnya madzhab tidak hanya empat, bahkan bisa jadi tidak terhitung, karena hasil ijtihad setiap orang bisa saja berbeda. Ada Imam Laits bin Sa`ad, Ibnu Hazm, Imam Auza`i, dan masih banyak ulama lainnya yang telah mampu berijtihad sendiri, hanya saja, mereka tidak memiliki murid sebanyak empat imam tadi, para murid yang kembali mengajarkan ilmunya dan masih menisbatkan dirinya kepada imamnya. Karena itulah, meski tidak secara formal, seluruh umat muslim di Dunia sepakat bahwa keempat imam ini boleh diikuti tanpa memandang bahwa yang satu lebih baik dari yang lain.

    Banyak orang berkata bahwa ‘Yang harus kita ikuti adalah Al-Qur’an dan Hadis, bukan perkataan ulama! Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis itu lebih selamat, tidak ada campur tangan akal manusia dan ulama-ulama jahat .

    Para ulama adalah jembatan kita dalam memahami Al-Qur’an dan Hadis, mereka adalah pewaris Rasulullah dan bukan penghalang antara kita dengan beliau. Belajar membaca Al-Qur’an saja kita membutuhkan guru, apalagi untuk memahami isinya. Kembali kepada keduanya tanpa melalui ulama bahkan bisa lebih berbahaya lagi karena hanya menggunakan pemahaman sendiri tanpa ada bimbingan dari guru.

    Sekarang sedikit tentang silsilah buku yang dipakai di Sekolahan Syafi`iyah. kita sedikit tahu dari mana Imam Syafi`i belajar. Lalu, setelah itu beliau berijtihad, lalu menuangkan ijtihadnya dalam kitab Al-Umm. Murid beliau, Al-Muzani berijtihad dengan hasil bimbingan dari gurunya, lalu menuliskan ijtihadnya dalam kitab Mukhtashar Al-Muzani, begitu juga Al-Buwaithi. Lalu, Kitab Mukhtashar Al-Mizani saja setidaknya memiliki 7 ringkasan yang dibuat oleh para ulama generasi setelahnya. Mereka berijtihad menjelaskan isi kitab itu, mengoreksi dan memilih antara yang lebih penting, menambahkan kekurangan, mereka tidak merubah isi kitab lalu tetap menggunakan nama Al-Muzani sebagai penulis, mereka membuat kitab baru dengan nama mereka, jika mereka berbeda pendapat dengan Al-Muzani, mereka akan tulis keterangan di dalamnya.
    Lalu dari ketujuh Mukhtasar kitab Al-Muzani tadi, masih dijelaskan kembali oleh ulama lain, menambahkan kekurangan dan menuliskan hasil ijtihadnya. Lalu kitab mereka kembali dijelaskan oleh ulama generasi setelahnya, dan seperti itulah karya ulama kita. Maka jika kita belajar, kita akan tahu ada kitab Matan, lalu Syarah, lalu Hasyiyah, lalu Mukhtashar. Matan adalah kitab pertama, lalu Syarah adalah penjelasan dari Matan, dan Hasyiyah adalah penjelasan dari Syarah, lalu Mukhtashar adalah Ringkasan dari kitab sebelumnya. Terkadang, ada kitab Mukhtashar yang kembali disyarah, lalu syarahnya dijelaskan lagi dalam hasyiyah. Ada beberapa kitab yang bisa dirujuk untuk mempelajari madzhab Syafi`i, di antaranya adalah Al-Fawa’id Al-Makkiyah fi ma yahtajuhu thalabah Asy-Syafi`iyah. Karangan Syaikh Ahmad bin Alawi bin Abdirrahman As-Saqqaf. Dar Al-Faruq lil Istitsmarat Ats-Tsaqafiyah. Atau Al-Madkhal ila Dirasah Al-Madzahib Al-Fiqhiyah. Dr. Ali Jum`ah. Percetakan Darussalam Cairo.

    Imam Malik, ketika beliau tidak bisa menjawab pertanyaan, beliau tidak akan malu berkata “Tidak Tahu!” padahal beliau adalah seorang Mujtahid Mutlak! Aisyah ra pernah menolak orang yang bertanya kepadanya, lalu berkata bahwa yang lebih tahu dalam masalah ini adalah seorang sahabat yang lain. Beliau adalah istri Rasulullah, tapi beliau tidak sok tahu lalu menjawab, atau bahkan menyalahkan pendapat orang lain dan merasa benar sendiri. Para ulama memiliki akhlak, yang bahkan seakan itulah yang sekarang sudah lenyap. Sesungguhnya suatu kaum terlihat dari akhlaknya, dan jika akhlak itu lenyap, maka lenyaplah juga kaum itu.

    Imam Abu Hanifah tidak membuat madzhab agar umat Islam terpecah, beliau tidak lain adalah menyampaikan Syari`at yang diturunkan kepada Rasulullah, lalu Ibnu Mas`ud lalu kepada beliau. Imam Syafi`i tidak membangun sebuah madzhab baru untuk ‘menandingi’ Imam Malik atau Imam Abu Hanifah, beliau tidak lain adalah menyampaikan ilmu yang beliau dapatkan dari semua gurunya dan berujung kepada Rasulullah. Maka, apa bedanya beliau-beliau ini dengan seorang guru yang mengajarkan ilmunya di masjid-masjid?

    Begitu ceritanya.

    1. makanya kita butuh guru utk menuntun kita, krn pemahaman sendiri juga bs sangat berbahaya merubah pandangan kita, subhanalloh atas penjelasan kang ucep, sungguh mententramkan hati….

  33. Bismiullaah,

    Kang Naka,

    Bukankah topik diskusi ini berjudul “Mari Bermadzhab”. Kalau orang sudah mau mengikut ajakan mengikuti madzhab, ia akan bertanya: “Bagaimana cara mengikuti madzhab seperti yang diinginkan oleh para imam madzhab?”

    Silahkan dijawab dengan jelas sehingga orang yang bodoh seperti saya tidak bertanya-tanya lagi.

    Wallaahu a’lam.

    1. Kan dah ane jawab. Bermadzhab itu ada tangkatannya.
      Ada muqallid awam, ada alim muqallid, ada murajjih, ada ashab al wujuh, ada mujtahid madzhab. Tergantung kapasitasnya.

      Bagi muqallid awam yang dipelajari adalah hal-hal yang simpel semisal syarat rukun tanpa banyak membahas dalil walau sudah jelas ada dalilnya. Seiring dengan kemampuan belajarnya bisa semakin meningkat dan meningkat, hingga bisa menjadi alim muqallid, atu bahkan murajjih, walau memang amat berat syaratnya.

      Demikianlah belajar dalam bimbingan ulama madzhab. Beda dengan mereka yang mentalfiq madzhab. Kebanyakan pemula dah dikasih perdebatan para ulama dan dalil-dalilnya, padahal masalah simpel seperti syarat rukun thaharah kagak tahu.

      Akhirnya mereka menganggap dari prilaku wudhu dan shalat Rasulullah di hadits-hadits semuanya adalah rukun, hingga kalau ada pihak yang tidak melakukan hal yang sunnah dari perbuatan Rasulullah dalam shalat dah dianggap menyelisihi Rasulullah. Padahal itu merupakan kesunnahan.

  34. ooo…jadi semua dalil madzhab yang dipelajari hebat betul ente? Gimane, kalau ane tanya satu masalah aja tentang thaharah, tar sebutkan pendapat dan dalil madzhab-madzhab yang ada baik madzhab 4 maupun madzhab para sahabat dan para tabi’in?

  35. Bismillaah,

    Kang Naka,

    Mungkin saya sama dengan anda. Mungkin juga tidak sama. Jika menemukan suatu masalah agama, saya bertanya kepada guru saya. Lalu guru saya menunjukkan ayat Qur’an dan hadits sebagai solusi masalah tersebut. Setelah itu, beliau menunjukkan pendapat imam-imam madzhab tentang ayat dan hadits stersebut.

    Beliau mendahulukan menyampaikan ayat dan hadits sebelum pendapat para imam untuk menyesuaikan firman Allah: “Janganlah engkau mendahulukan orang daripada Allah dan rasulNya.”

    Wallaahu a’lam.

    1. Jadi intinya Kang kalo saya boleh ikut komen, Kang Suradi ikut ke semua Mahzab??? bukankah para wahabi lebih condong ke Mahzab Hambali ???

    2. @ibnu suradi
      kang katanya ikut salaf sholeh tapi kayaknya guru anda ngak ikut salaf sholeh deh. guru anda kalo ditanya tentang hukum langsung ngeluarin quran ama hadist sedangkan salaf sholeh engak tuh. mau bukti ????? nih buktinya

      kita tau bahwa imam malik adalah salah satu tokoh besar salaf sholeh. tau ngak anda bahwa imam malik kalo ada yang bertanya kepada beliau tentang suatu masalah beliau tanyakan dulu apakah masalah itu menyangkut hukum agama atau hadist. dan apabila masalah itu hadist imam malik akan berdandan sedemikian rupa sebelum menjawab persoalan hadist.
      disini kita bisa simpulkan bahwa apa bila yang bertanya tentang masalah agama imam malik sebisa mungkin akan menjawab tanpa menggunakan hadist.

      sayyidina ibnu mas’ud dalam biografi beliau. sahabat beliau berkata “saya mengaji kepada ibnu mas’ud selama satu tahun dan selama satu tahun itu saya hanya mendapati beliau mengucapkan hadist hanya beberapa puluh saja. itupun apabila beliau mengucapkan hadist wajahnya pucat pasi, keringatnya bercucuran dan mengucapkan dengan terbata-bata lahu diakhiri dengan ucapan kira-kira seperti itu rasullulloh bersabda”

      jadi guru guru kita ngak mengeluarkan qurannya hadistnya bukan berarti menfatwakan tanpa quran hadist. tapi mengikuti para salaf sholeh.

      guru saya suka bilang dalam pengajian umumnya kita mah kelas teri cukup menggunakan dalil dari perkataan ulama, kalo mau tau quran hadistnya itumah untuk kelas bandeng atau kakap.

      artinya apa orang awam mah yang pertama kali dibutuhkan adalah sandaran untuk beramal, gimana mau mempelajari quran ama hadist sholat juga belum bener, gimana mau ngerapatin shaf wong rukun sama syaratnya sholatpun ngak tau, batalnya solatpun ngak tau. tp bukan berartingak boleh belajar quran dan hadist. udah semua amalan tahu hukumnya dari para ulama baru silahkan cari tau ulama itu menfatwakan seterti ini itu dasar hukumnya dari mana/

      jad kang ibnu suradi ternyata guru kami yang ikutin salaf sholeh bukan guru anda. jangan tergiur dengan jargon harusr tau dari quran ama hadist. dan dengan seenaknya menganggap guru kami tidak tahu dasar quran ama hadistnya

      semoga anda dan saya diberikan hidayah oleh alloh untuk mendapatkan guru yang kamil mukammil, guru yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan akhirat, guru yang bersedih biila kita masih dalam kebodohan, guru yang selalu mendoakan kita dalam kebahagian dunia dan akhirat. amiiin

  36. Bismillaah,

    Kang Naka,

    Sebetulnya apa tujuan kita mengikuti madzhab? Agar kita dapat mengikuti Allaah dan Rasulullaah, kan? Untuk mengetahui dalil Quir’an dan hadits bagi amalan yang kita lakukan, kan?

    Para imam madzhab menunjukkan kepada kita dalil-dalil amalan yang akan kita lakukan: “Ini, lho, dalil-dalil Qur’an dan hadits yang engkau tanyakan tentang amalan yang engkau lakukan.” Jadi, kita tinggal mengambil dalil-dalil tersebut, tak usah capai-capai mencarinya di Al Qur’an dan kitab-kitab hadits.

    Nah, jika kita tidak mau mengambil dalil-dalil yang ditunjukkan oleh imam madzhab, maka sama saja kita tidak memperhatikan perkataan imam madzhab. Dan pada hakekatnya, kita tidak mengikuti imam madzhab.

    Ikutilah imam madzhab hingga engkau mengetahui dalil-dalil yang digunakan imam madzhab sebagai dasar amalan yang engkau lakukan.

    Wallaahu a’lam.

    1. Oke, gini aja bro….sekarang ante ngikut madzhab apa….trus nanti ane akan tanya ente dalil dari madzhab yang ente anut. Untuk membuktikan ente dah belajar dalil dari madzhab yang ente anut atau tidak? Oke?

  37. @ibnu suradi
    Bolehkah kita melakukan suatu amalan sedangkan kita belum mengetahui dalil baik dari Qur’an maupun hadits?

    Berarti ente, sdh menempatkan diri ente lebih tinggi dari imam2 mazhab???, berarti level antum udh lebih dr mujtahid mutlak????? kasihan2!!!!

    sangat berbahaya bagi, org2 awam apabila mengikuti alur pikiran ente,,,

    Kita sdh dipermudah oleh para imam2 mazhab, tinggal melaksanakan lagi, masih saja minta yg lebih, lama2 nanti memproklamasikan diri menjadi nabi,,, Astaqfirullah hal’azim,,,,,,kazzab-kazzab!!!

  38. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Ini mengenai madzhab. Semua imam madzhab mengajak orang beriman untuk mengikuti Al Qur’an dan Sunnah. Bolehkah kita melakukan suatu amalan sedangkan kita belum mengetahui dalil baik dari Qur’an maupun hadits?

    Wallaahu a’lam.

  39. @ibnu suradi

    “Akan muncul pada akhir zaman, suatu kaum yang umurnya masih muda (yakni sedikit ilmunya), rusak akalnya. Mereka berkata dengan sebaik-baik perkataan manusia (yakni suka membahas masalah agama). Mereka membaca al-Qur`an, namun Al Qur’an tidak melewati kerongkongannya (yakni salah dalam memahami al-Qur`an). Mereka telah terlepas dari agama, bagaikan terlepasnya anak panah dari busurnya. Apabila kalian menemui mereka, bunuhlah mereka, karena terdapat ganjaran bagi yang membunuh mereka di sisi Allah pada hari kiamat nanti.” (HR. Bukhari: 3611, Muslim: 1066)

    Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW telah bersabda’: “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari hati hamba-hambanya (ulama), akan tetapi mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga apabila tidak terdapat ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh menjadi pemimpin mereka, lalu orang-orang bodoh itu akan ditanya (dimintai fatwa), kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, maka orang-orang bodoh itu menjadi sesat dan menyesatkan orang lain”. (H.R Bukhari: 100, Muslim: 6971).

    Dan bila dikatakan kepada mereka: ”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: ”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah: 11-12).

    Inilah intisari perkataan ente “Ikutilah orang yang benar. Meski mereka jumlahnya sangat sedikit.”
    Kite ini orang2 yang sedikit ilmu, jangan berfatwa itu tidak sunnah atau mengingkari sunnah. Belum tentu yang kite katakan itu tidak sunnah, padahal dimata Allah itu adalah baik dan sesuai sunnah.
    Ok deh mas, kite belajar sama yang benar2 guru kite.

  40. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Orang yang mengatakan: “Kata guru saya bukan begitu. Sejak dahulu, sudah begini, tidak begitu. Di sini begini, bukan begitu. Dll” itu banyak sekali, bahkan mencapai mayoritas umat Islam. maka benar saja apa yang difirmankan Allah: “Janganlah engkau mengikuti kebanyakan orang karena sesungguhnya kebanyakan orang akan menyesatkanmu.”

    Ikutilah orang yang benar. Meski mereka jumlahnya sangat sedikit.

    Wallaahu a’lam.

  41. @ibnu suradi
    —Bila disampaikan hadits tentang suatu amalan, banyak orang yang menolaknya dengan mengatakan: “Kata guru saya bukan begitu. Sejak dahulu, sudah begini, tidak begitu. Di sini begini, bukan begitu. Dll”—
    Apa ente punya bukti, kalau kite2 mengatakan seperti itu coba deh cek dulu kata-kata itu. Ane ngalamin yang namanya sekolah, jadi ane telaah dulu. kecuali adab murid terhadap guru dalam ilmu tarekat (maaf).

    — “Boleh renggang asal tidak serenggang badan orang.” Banyak orang meninggalkan hadits untuk mengikuti perkataan Mamah Dedeh.—
    Cuma perkataan ini ente jadi momennya, gak ikut sunnah.

  42. Bismillaah

    Kang Ucep,

    Bila disampaikan hadits tentang suatu amalan, banyak orang yang menolaknya dengan mengatakan: “Kata guru saya bukan begitu. Sejak dahulu, sudah begini, tidak begitu. Di sini begini, bukan begitu. Dll”

    Contoh, ada hadits tentang merapatkan shaf yang terang benderang. Ustadzah Mamah Dedeh mengatakan: “Boleh renggang asal tidak serenggang badan orang.” Banyak orang meninggalkan hadits untuk mengikuti perkataan Mamah Dedeh.

    Inilah yang menjadi sasaran perkataan Ibnu Abas.

    Wallaahu a’lam.

  43. @ibnu suradi
    “Banyak orang yang menolak hadits yang jelas-jelas shahih dengan menyampaikan perkataan sahabat, para imam, ulama, ustadz dan gurunya.”

    Siapa yang menolak hadist-hadist mas?, dah tertanam berapa hadist (ente terapin) didalam tubuh (prilaku) ente ?
    Jangan bicara begitulah !!!, apa ente sudah merasa paling sunnah ?.
    Sunnah yang wajib “Shalat Tahajut” apa ente dah laksanain ?

  44. @ ibnu suradi,
    Banyak orang yang menolak hadits yang jelas-jelas shahih dengan menyampaikan perkataan sahabat, para imam, ulama, ustadz dan gurunya. Ini persis perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:
    : “Hampir-hampir hujan batu turun menimpamu dari langit, ketika aku katakan, “Berkata Rasulullah .” kalian berkata, “Berkata Abu Bakar dan Umar” (Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi wa Fadhlihi 2: 196)

    antum menggunakan senjata ini untuk menolak hadist2 Rosulullah SAW, sebagaimana yg telah teman2 Aswaja sampaikan. kepada siapa lagi kita mendapat rujukan, saya rasa inilah yg terjadi pada diri antum…
    ingatlah saudaraku hati2lah dengan perkataan antum,!!!!!….

    Pengertian Sahabat Nabi

    Yang dimaksud dengan istilah ‘sahabat Nabi’ adalah:

    من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في حال إسلام الراوي، وإن لم تطل صحبته له، وإن لم يرو عنه شيئاً

    “Orang yang melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan Islam, yang meriwayatkan sabda Nabi. Meskipun ia bertemu Rasulullah tidak dalam tempo yang lama, atau Rasulullah belum pernah melihat ia sama sekali”

    Empat sahabat Nabi yang paling utama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu’ahum ajma’in. Tentang jumlah orang yang tergolong sahabat Nabi, Abu Zur’ah Ar Razi menjelaskan:

    شهد معه حجة الوداع أربعون ألفاً، وكان معه بتبوك سبعون ألفاً، وقبض عليه الصلاة والسلام عن مائة ألف وأربعة عشر ألفاً من الصحابة

    “Empat puluh ribu orang sahabat Nabi ikut berhaji wada bersama Rasulullah. Pada masa sebelumnya 70.000 orang sahabat Nabi ikut bersama Nabi dalam perang Tabuk. Dan ketika Rasulullah wafat, ada sejumlah 114.000 orang sahabat Nabi”

    Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia mulia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan keutamaan sahabat Nabi:

    والصحابة كلهم عدول عند أهل السنة والجماعة، لما أثنى الله عليهم في كتابه العزيز، وبما نطقت به السنة النبوية في المدح لهم في جميع أخلاقهم وأفعالهم، وما بذلوه من الأموال والأرواح بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم

    “Menurut keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah, seluruh para sahabat itu orang yang adil. Karena Allah Ta’ala telah memuji mereka dalam Al Qur’an. Juga dikarenakan banyaknya pujian yang diucapkan dalam hadits-hadits Nabi terhadap seluruh akhlak dan amal perbuatan mereka. Juga dikarenakan apa yang telah mereka korbankan, baik berupa harta maupun nyawa, untuk membela Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”

    Pujian Allah terhadap para sahabat dalam Al Qur’an diantaranya:

    وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah: 100)

    Pemahaman Sahabat Nabi, Sumber Kebenaran

    Jika kita telah memahami betapa mulia kedudukan para sahabat Nabi, dan kita juga tentu paham bahwa tidak mungkin ada orang yang lebih memahami perkataan dan perilaku Nabi selain para sahabat Nabi, maka tentu pemahaman yang paling benar terhadap agama Islam ada para mereka. Karena merekalah yang mendakwahkan Islam serta menyampaikan sabda-sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam hingga akhirnya sampai kepada kita,walhamdulillah. Merekalah ‘penghubung’ antara umat Islam dengan Nabinya.

    Oleh karena ini sungguh aneh jika seseorang berkeyakinan atau beramal ibadah yang sama sekali tidak diyakini dan tidak diamalkan oleh para sahabat, lalu dari mana ia mendapatkan keyakinan itu? Apakah Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepadanya? Padahal turunnya wahyu sudah terhenti dan tidak ada lagi Nabi sepeninggal RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam. Dari sini kita perlu menyadari bahwa mengambil metode beragama Islam yang selain metode beragama para sahabat, akan menjerumuskan kita kepada jalan yang menyimpang dan semakin jauh dari ridha Allah Ta’ala. Sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat Nabi. Setiap hari kita membaca ayat:

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

    “Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah: 6-7)

    “Yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang telah Engkau beri nikmat‘ adalah yang disebutkan dalam surat An Nisa, ketika Allah berfirman:

    وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

    “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
    Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’ut tabi’in, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya

    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memuji dan memuliakan para sahabatnya. Beliau bersabda:

    لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني ومن رأى من رآني ومن رأى من رأى من رآني

    “Kebaikan akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi’in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi’ut tabi’in)”.

    Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

    خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونه

    “Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka”.

    Dan masih banyak lagi pujian dan pemuliaan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap para sahabatnya yang membuat kita tidak mungkin ragu lagi bahwa merekalah umat terbaik, masyarakat terbaik, dan generasi terbaik umat Islam. Berbeda dengan kita yang belum tentu mendapat ridha Allah dan baru kita ketahui kelak di hari kiamat, para sahabat telah dinyatakan dengan tegas bahwa Allah pasti ridha terhadap mereka. Maka yang layak bagi kita adalah memuliakan mereka, meneladani mereka, dan tidak mencela mereka. Imam Abu Hanifah berkata:

    أفضل الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم : أبوبكر وعمر وعثمان وعلي , ثم نكف عن جميع أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بذكر جميل

    “Manusia yang terbaik setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman lalu Ali. Kemudian, kita wajib menahan lisan kita dari celaan terhadap seluruh sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, kita tidak boleh menyebut mereka kecuali dengan sebutan-sebutan yang indah”.

    Lebih lagi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    لا تسبوا أصحابي ، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيف

    “Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya
    Dalam matan Ushul As Sunnah, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:

    أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم والاقتداء بهم…

    “Asas Ahlussunnah Wal Jama’ah menurut kami adalah berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan meneladani mereka… dst.”

    beliau juga bersabda menjelang hari-hari wafatnya:

    أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة ، وإن كان عبدا حبشيا فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين ، فتمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة )

    “Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun ia dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafa ar raasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena ia adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Abu Daud no.4609, Al Hakim no.304, Ibnu Hibban no.5)

    Dari Abi Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari r.a. berkata: Nabi saw bersabda, “Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa ya Rasulullah?” Rasulullah saw bersabda, “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam-imam Muslimin dan bagi Muslimin umumnya.”
    (Muslim)
    Dari Anas bin Malik r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka Allah menyegerakan siksaannya di dunia. Dan jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka Ia menangguhkannya sampai pada hari kiamat nanti.”
    (Tirmidzi)

    Dari Abu Bakar ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak usahkan aku menceritakan tentang dosa terburuk?” Kami berkata, “Katakanlah, ya Rasulullah!” Rasulullah saw bersabda, “Menyekutukan seseorang dengan Allah dan tidak patuh terhadap orang tua.” Rasulullah saw sedang bersandar kemudian duduk tegak seraya bersabda, “Hati-hatilah dari berkata dusta.” Beliau terus mengulang-ulangi perkataan beliau itu sehingga kami memohon agar berkenan menghentikannya.
    (Bukhari)

    Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang dihatinya ada setitik kesombongan.”
    (Muslim)

    Dari Abdillah bin Mas’ud ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang mempunyai sifat sombong sedikit saja di dalam hatinya tidak akan masuk surga.” Seseorang berkata, “Bagaimana halnya ihwal seseorang yang mempunyai pakaian-pakaian yang indah dan sepatu-sepatu yang indah?” Rasulullah saw bersabda, “Allah itu indah dan Allah menyukai keindahan (Seseorang tidak disebut sombong jika ia mempercantik dirinya). Kesombongan terletak pada penolakan terhadap kebenaran dan memandang orang lain rendah.”
    (Muslim)

    Dari Abu Musa r.a. berkata: Saya bertanya, “Ya Rasulullah siapakah diantara kaum Muslimin yang paling utama?” Nabi saw menjawab, “Siapa yang selamat semua orang Islam dari (kejahatan) LIDAH DAN TANGANNYA.”
    (Bukhari – Muslim)

    Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan sahabat yang baik dan sahabat yang buruk bagaikan pembawa misk (kasturi) dan peniup api. Maka pembawa misk itu ada kalanya memberi kepadamu atau engkau memberi kepadanya atau engkau mendapat bau harum daripadanya. Adapun peniup api maka kalau tidak membakar pakaianmu maka kau akan mendapatkan bau busuk daripadanya.”
    (Bukhari – Muslim)

  45. Assalamu’alaykum Wr Wb,
    @Suradi n All Wahabiyun
    Soal merapatkan shaf dlm sholat bjama’ah (menempelkan kaki & bahu) ini adalah ikhtilaf antara Aswaja vs Wahabi, menurut Wahabi harus menempel, dimana rujukan nya diantaranya terjemah Fathulbari yg di terjemahkan oleh ulama2 mereka, dgn judul “MERAPATKAN SHAF DALAM SHOLAT BERJAMA’AH” dari HR Bukhori : dari Anas ra berkata : “Ketika iqamat utk shalat telah di kumandangkan, Rasulullah Saw, menoleh kepada kami dan bersabda : “Luruskan barisanmu dan rapatkan, karena ssungguh nya aku bisa melihat kamu dari belakang punggungku”
    Dalam riwayat lain dikatakan : “Kemudian masing2 dari kami “MERAPATKAN” bahunya dgn bahu kawannya dan matakakinya dgn matakaki kawannya”.itu versi Wahabi,
    Sedangkan versi Aswaja, rujukannya sama dari hadits diatas, hanya beda cara meng artikan Wakaana ahaduna YULZIQU mankibahu bimankibi shoohibihi waqoda muhu biqodamihi, dmn lafadz YULZIQU oleh ulama2 Aswaja diartikan dgn MELURUSKAN bukan MERAPATKAN, disitulah letak perbedaannya, Nah skr kenapa ulama2 Aswaja mengartikan YULZIQU dgn melurus kan, karena lafadz YULZIQU itu istiroq ; 1 lafadz banyak arti, Ulama2 Aswaja melihat alur ceritanya dari hadits tsb, dimana yang disebut pertama oleh Rosul, meluruskan bukan merapatkan, dalam keterangan dijelaskan bahwa yg pertama adalah yg aula,juga diperkuat oleh hadits lain yg diriwayatkan Abu Daud : Dari Anas r.a. Bahwasanya Rasulullah Saw, bersabda : “Rapatkanlah shaf-shafmu dan berdekat-dekatanlah kamu serta luruskanlah leher- lehermu. Demi Dzat yg jiwaku berada dlm genggamanNya, sungguh aku melihat syetan2 itu masuk pada sela2 barisan spt kambing yg hitam lagi kecil” Nah !! berarti selama renggangnya tdk melebihi kambing yg terkecil, maka ini termasuk kategori rapat, itu isyarat dari Rasul yg ana tangkap dalam hadits diatas, Skr tinggal pilih, mau pilih versi Wahabi, apa Versi Aswaja? Sedangkan klu ditanya mana yg benar Wallohu Ta’ala a’lam.

  46. Kang Nasrulloh,

    Saya menyukai sikap anda yang netral. Anda menerima apa saja yang datang dari Rasulullaah setelah disampaikan hadits shahih.

    Banyak orang yang menolak hadits yang jelas-jelas shahih dengan menyampaikan perkataan sahabat, para imam, ulama, ustadz dan gurunya. Ini persis perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:
    : “Hampir-hampir hujan batu turun menimpamu dari langit, ketika aku katakan, “Berkata Rasulullah .” kalian berkata, “Berkata Abu Bakar dan Umar” (Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi wa Fadhlihi 2: 196)

    Saya berdoa semoga Allah memberikan kekuatan kepada anda untuk istiqomah di atas Qur’an dan Sunnah.

    Wallaahu a’lam.

    1. Amiiiin Kang Suradi, terima kasih atas do’a nya, semoga ente jg dapat pahala berlimpah dari Alloh SWT, saya masih netral karena meski saya mengikuti Aswaja, tetapi saya masih Abu Sybr (dangkal ilmunya), saya benar-2 masih NOL akan ilmu-2 agama Islam, saya baru dikasih banyak waktu untuk mendalami Islam, makanya saya disini memantau & tentunya sambil belajar dari rekan-2 ummati & kang Suradi juga, meski dari wahabi tapi masih lebih santun dari rekan wahabi yg lain, apa yg Kang Suradi & rekan ummati sampaikan ilmu di forum ini, tentunya saya akan mengecek kebenaran sumber-2 yg ditampilkan, perihal Sholat, kerapatan shafnya yg Kang Suradi tampilkan merupakan hal yg bagus & nambah ilmu untuk saya, meski ada perbedaan dari rekan-2 ummati lainnya, 2-2nya ada hal-2/ilmu yg baik akan saya terima & laksanakan, seperti rapat shafnya dg merapatkan bahu atau merapatkan kaki, 2-2nya baik menurut saya, supaya kualitas sholat kita bisa menjadi lebih baik lagi, cara-2 buang hajat yg diajarkan rekan ummati lainnya adalah hal bagus & saya pun mempraktekannya. Kemudia juga hal-2 lainnya yg ditampilkan di sini, saya mengambil komentar-2 yg baik, sesuai sanad yg shahih, dari para peng-komentar yg santun, akan saya ambil & ikuti, meski saya berpaham Aswaja, apabila ada rekan-2 Aswaja dg komentar yg kurang santun…tentunya saya tidak akan mengikutinya, maaf kalo kata-2 saya banyak yg salah, karena sekali lagi saya memang masih dangkal akan ilmu agama Islam.

      Semoga kita semua menjadi ummat Rosululloh SAW yg terbaik….

  47. Menurut riwayat Abu Yazid Al Busthami :
    Suatu waktu Abu Yazid Al Busthami menyuruh murid2 nya belajar pada seorang Mufti yang berilmu, tiba2 dihadapannya muncul Mufti yang dimaksud, maka diikutilah mufti tersebut dari belakang oleh Abu Yazid Al Bustami dan murid2nya sampai kedepan masjid, tiba2 mufti tersebut meludah kearah kiblat.
    Dengan marahnya Abu Yazid menyuruh murid2nya kembali ke rumah masing2, maka bertanya murid2nya : “kenapa kami disuruh kembali padahal anda menyuruh kami belajar padanya”. Abu Yazid menjawab : “Dia tidak amanah atas sunnah”.
    Disini terlihat adab lebih didahului, karena Rasulullah melarang meludah kearah atau membelakangi kiblat.

  48. @ kang suradi,,ini berhubungan dengan perkara adab seperti yg tlh dijelaskan oleh para Ulama,,,,,,
    kata-kata ulama hikmah :
    barang siapa menjaga perkara yang adab, maka Allah akan memudahkan utuk menjaga perkara yang sunnah,
    barangsiapa menjaga perkara yang sunnah, Allah akan memudahkan untuk menjaga perkara yang wajib,
    barangsiapa menjaga perkara yang wajib, Allah akan memudahkan untuk menjaga imannya,

    imam malik rah kurang lebih :
    “kami belajar dan mengamalkan perkara-perkara adab, sebelum kami belajar ilmu (fiqh, hadis…dsb)”
    seperti yg telah dijelaskan oleh imam malik rah, saya bertanya apakah ilmu kita sdh setinggi beliau,,,

    dan ingatlah,,,,
    jangan kita sampai meremehkan perkara adab, sebab barang siapa meremehkan perkara adab bisa berakibat kita meremehkan perkara sunnah! Jangan sampai kita meremehkan perkara sunnah, dan sebab meremehkan perkara sunnah bisa berakibat kita meremehkan perkara wajib! Janganlah kita meremehkan perkara wajib, sebab meremehkan perkara wajib adalah perkara yang sangat buruk!”

    Sabda Nabi Muhammad Saw:
    “Empat perbuatan termasuk perbuatan yang tidak terpuji, yaitu
    (1) bila seseorang buang air kecil sambil berdiri,
    (2) seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat,
    (3). Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti yang diucapkan muadzin,
    (4) seseorang yang apabila mendengar namaku disebut, tetapi ia tidak membacakan shalawat atasku. (HR. Bazzar dan Tabhrani)

    Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw bersabda, “Biarkanlah selama aku membiarkan kamu dalam kebebasanmu. Maka sesungguhnya penyebab kebinasaan umat terdahulu sebelummu adalah karena mereka banyak bertanya dan menyalahi Nabi-nabi mereka. Maka apabila aku mencegahmu dari sesuatu perkara, tinggalkanlah perkara itu dan jika aku perintahkan sesuatu perkara, kerjakanlah sekuat tenagamu.”
    (Bukhari – Muslim)

    Dari Abu Musa r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan tuntunan hidayah dan ilmu yang diutuskan Allah kepadaku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Ada tanah yang subur menerima air dan menumbuhkan tanaman dan rumput yang banyak dan ada yang keras tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah contoh orang yang mengerti agama Allah lalu belajar dan mengajar dan,, orang yang tidak dapat menerima sama sekali petunjuk ajaran Allah yang diutuskan kepadamu.”
    (Bukhari – Muslim)

  49. @ kang suradi, sdh dijelaskan oleh para ulama,, ini berhubungan dengan adab,,
    kata-kata ulama hikmah :
    barang siapa menjaga perkara yang adab, maka Allah akan memudahkan utuk menjaga perkara yang sunnah,
    barangsiapa menjaga perkara yang sunnah, Allah akan memudahkan untuk menjaga perkara yang wajib,
    barangsiapa menjaga perkara yang wajib, Allah akan memudahkan untuk menjaga imannya,

    imam malik rah kurang lebih :
    “kami belajar dan mengamalkan perkara-perkara adab, sebelum kami belajar ilmu (fiqh, hadis…dsb)”
    jd apakah ilmu kita sdh setinggi imam malik rohimahullah
    ingat

  50. Perintah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk kencing duduk sudah jelas. Cara kencing duduk sudah dicontohkan oleh para sahabat dengan jelas pula.

    Silahkan laksanakan kalau mau. Kalau nggak mau, silahkan lakukan semau anda.

    Wallaahu a’lam.

  51. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Perintah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk merapatkan shaf shalat berjamaah sudah jelas. Cara merapatkan shaf sudah dicontohkan oleh para sahabat dengan jelas pula.

    Silahkan laksanakan kalau mau. Kalau nggak mau, silahkan lakukan semau anda.

    Wallaahu a’lam.

  52. Kang Nasrulloh,

    Bisa merapatkan bahu dalam shaf shalat berjamaah itu sudah bagus . Ketika sudah terbiasa merapatkan bahu, boleh dicoba merapatkan kaki. Kalau sudah terbiasa, rasanya nikmat rapat bahu dengan bahu dan rapat mata kaki dengan mata kaki.

    Merapatkan kaki ada dalil dari hadits riwayat Bukhari dan Abu Dawud. Hadits riwayat Bukhari menunjukkan rapatnya kaki dengan kaki kawan. Sedangkan hadits Abu Dawud menunjukkan rapatnya mata kaki dengan mata kaki kawan.

    Jadi nggak usah dipertanyakan orang yang merapatkan kaki.

    Wallaahu a’lam.

  53. Bismillaah,

    Kalau begitu nggak masalah kan saya mencontoh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kencing berdiri. Toh, saya juga tidak selalu kencing berdiri.

    Begini kawan-kawan. Bila amalan itu ada contohnya dari Rasulullaah, maka kita tak usah mempermasalahkan. Namun bila amalan tersebut tidak ada contohnya dari Rasulullaah, maka itu harus dipertanyakan.

    Wallaahu a’lam.

      1. Berarti juga ga masalah juga @kang Suradi, pada waktu sholat, merapatkan shaf ga masalah kalo tidak rapat kaki, kan di hadits lain cuma menyebutkan merapatkan shaf, merapatkan bahu saja……

  54. @suradi
    Ente liat n baca dong asbabun wurudnya. Hadist itu saat Rasulullah tergesa-gesa ingin maju kemedan perang. Banyak mana hadist yang menunjukan posisi duduk dengan posisi berdiri. posisi berdiri cuma itu aja, sedangkan duduk banyak.

  55. hehehe
    ini orang msh ga ngatri juga rupanya

    gini ben, kencing dg duduk bertumpu itu sunnah, bkn wajib
    kencing berdiri itu makruh, bkn haram
    sama saja dg minum sambil duduk, itu sunnah
    nabi juga PERNAH minum smbil diri, ini menunjukkan tdk haram, tp makruh
    makruh itu ga dosa, ben
    paham ga?

  56. Bismillaah,

    Kang FerryASWAJA yang berjuang untuk istiqomah dalam melaksanakan sunnah,

    Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    اتَّقُوا اللَّاعِنَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّاعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ
    “Takutlah kalian terhadap perihal dua orang yang terlaknat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah dua orang yang terlaknat itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang buang air di jalanan manusia atau tempat berteduhnya mereka.” (HR. Abu Daud no. 25)
    Dari Jabir  dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-:
    أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ
    “Bahwa beliau melarang kencing pada air yang diam (tidak mengalir).” (HR. Muslim no. 281)
    Dari Huzaifah -radhiallahu anhu- dia berkata:
    كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ ادْنُهْ فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ فَتَوَضَّأَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ
    “Aku pernah berjalan bersama Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, saat kami sampai di tempat pembuangan sampah suatu kaum beliau kencing sambil berdiri, maka aku pun menjauh dari tempat tersebut. Akan tetapi beliau bersabda, “Mendekatlah,” aku pun menghampiri beliau hingga aku berdiri di belakang kedua tumitnya. Kemudian beliau berwudlu dengan mengusap di atas kedua khuf (sepatu) beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 225 dan Muslim no. 273)

    Wallaahu a’lam.

  57. mantab mas ferry
    jadi inget pas waktu ngaji dulu. bahkan untuk jongkoknyapun ada tata caranya.
    supaya pas waktu buang hajat mau kecil atau besar tuntas dan ngak ada sisa lagi.
    terkadang kita suka was was kalo kencing suka ada yang keluar lagi dikit atau kentut yang tertahan.

    jadi ka ibnu suradi
    saya saranin untuk belajar fikih pake kitab kecil aja dulu, udah lengkap kok jadi anda ngak salah mana yang harus didahulukan.
    anda sungguh ngotot untuk merapatkan shaf yang kalo ditinjau dari fikih hukumnya sunat dan tidak menbatalkan sholat.
    sedangkan untuk masalah buang hajat anda sembrono yang mana ada riwayat orang disiksa di kubur karena sembrono dalam buang hajat.

    guru saya pernah dikasih tau oleh guru beliau, ulama sepuh pemimpin thorekat beliau berkata:
    kalo mau selamat dunia akhirat ngaji ngak usah banyak banyak kitab. tiga kitab cukup:
    1.tijan untuk masalah akidah
    2.safinah untuk masalah fikih
    3. sulam untuk tasawuf

    dan terbukti saya ngak belajar hadist ternyata untuk masalah buang hajat ada semua di kitab safinah. saya baru tau ada hadistnya dari mas ferry diatas.

    trus anda menuduh kami tidak menjalankan sunah yang simple. saya kasih contoh dimana ulama kami mendidik kami
    di pesantren buya dimyati banten ada santri yang dikeluarkan dari pesantren gara-gara kencing sambil berdiri. kata beliau ngak pantes kalo santri kencingnya berdiri.

  58. kang ucep terima kasih atas petunjuknya, maklum rumah kecil kang serba diminimalisir, tp insya Alloh sy akan jalankan saran dari kang ucep…nuhun

  59. Tambahan Keterangan Hadist..
    Ketika di dalam WC, jika waktu memungkinkan, maka lebih baik kita buka seluruh celana atau rok kita, tetapi kalau waktu tidak memungkinkan, misalnya sedang di sekolah, di kantor, atau di tempat umum. Kan kita pakai sepatu, maka kita buka celana/rok kita sampai atas lutut saja (Jadi sekarang Posisi Celana /Rok kita sedang berada di lutut), kemudian jongkok (Baik laki-laki maupun perempuan), JANGAN BERDIRI!!! dan usahakan jangan menghadap kiblat ataupun membelakanginya. Sebagaimana Abu Hurairah berkata, Bahwasanya Rasulullah Shollallahu ‘Alayhi wasallam bersabda;

    اِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ بِحَاجَتِهِ فَلاَ يَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ وَلاَ يَسْتَدْبِرُهَا

    İDZAA JALASA AHADUKUM Bİ HAAJATİHİİ FALAA YASTAQBİLUL QİBLATA WALAA YASTADBİRUHAA

    “ Apabila seseorang dari kamu duduk (jongkok) hendak buang air, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya”. (Hadits Riwayat Muslim dan Ahmad)

    Dari Hadits di atas, Rasulullah Shollallahu ‘Alayhi wasallam MELARANG KENCING BERDIRI dengan bersabda menggunakan kataجَلَسَ “Jalasa” yang artinya Duduk (Jongkok)!!! Beliau bukan bersabda menggunakan kata قَا مَ “Qooma” yang artinya Berdiri.

    1. benar sekali bang ferry
      sebagian laki2 merasa gengsi untuk membuka seluruh celananya dan kencing sambil duduk
      padahal ini adalah cara yg paling aman

    2. Mantab Mas @ferry
      Pencerahan buat @suradi dan perlu digaris bawahi yang pentingnya :
      1. ingatlah hadist rosulullah SAW dan Sahabat ketika melewati sebuah kubur, dan Rosulullah SAW diperlihatkan dengan siksaan terhadap 2 penghuni kubur tersebut, lalu sahabat bertanya apa yang terjadi dengan penghuni kubur tersebut ya Rosulullah SAW, jawab Rosulullah SAW sesungguhnya 2 penghuni kubur itu di siksa dengan pekara yg sangat sepele ttp mereka lalai, salah satu diantaranya tdk membersihkan air kencingnya,,,”
      2. “ Apabila seseorang dari kamu duduk (jongkok) hendak buang air, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya”. (Hadits Riwayat Muslim dan Ahmad)

      Inilah perkara yang utama diamalkan sehari-hari. Mudah2an kite gak termasuk orang yang lalai.

    3. terima kasih kang atas ilmunya, ane baru tahu nih dan siap menajalankannya, maaf kasih penjelasan dong kalo tempat wudhu jadi satu dg kamar mandi dan wc itu gimana ? baiknya gimana? makasih kang sebelumnya

      1. @nasrulloh
        Kalo gak salah, belum ada dalil untuk hal ini, tapi bagusnya dipisah untuk wudhu. Karena WC adalah tempat berkumpulnya syaiton dan syaiton mencintai hal-hal yang Bau.

  60. @ ibnu suradi,, Alhamdulillah antum sdh jujur, insya Allah cahaya kebenaran msh ada didlm hati antum tinggal antum perbanyak dgn zikir dan resapi keagungan Allah,
    Dari segi ilmu anatomi manusia, saluran kencing tpt m’buang air kecil itu mirip seperti leher angsa, apabila kita kecing sambil berdiri maka akan tersisa sebagian kecil tdk tuntas seluruhnya, dimana organ tubuh kita semakin tua semakin mengalami kemunduran fungsi dan sel-selnya mengalami penyusutan volume, ttp organ prostat mengalami pembesaran sehingga dapat mengakibatkan tidak tuntasnya air kencing, prostat yg membesar dapat menggakibatkan terjadinya penutupan saluran pembuangan air seni sehingga endapan air seni yg seharusnya keluar jadi tertahan di kandung kemih ini dapat berefek pada terjadinya batu kandung kemih, dan tak terasa akan keluar bersamaan saat kita ruku’ atau sujud, untuk itu dianjurkan (disunnahkan) kencing sambil jongkok, karena terjadi penekanan pada saluran prostat dan terbukanya saluran kencing shingga air seni dan endapannya yg tersisa keluar seluruhnya dibarengi dengan deheman atau sambil berdehem serta dibarengi mengurut saluran kemih dibawah kemaluan sehingga air seni itu keluar seluruhnya, dan ketika membersihkan air seni dgn air suci hendaknya kita menekan saluran kemih diujung kemaluan agar terbuka baru kita siram dgn air, disamping itu dgn jongkok, juga membantu melebarkan anus dan membantu mengeluarkan kentut,
    Hadits yang menceritakanbahwa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengingkari kalau ada yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi pernah kencing sambil berdiri.

    ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- mengatakan,

    مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُوْلُ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ قَاعِدًا

    “Barangsiapa yang mengatakan pada kalian bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian membenarkannya. (Yang benar) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa kencing sambil duduk.” (HR. At Tirmidzi dan An Nasa’i).

    Hadits berikut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kencing sambil duduk.

    ‘Abdurrahman bin Hasanah mengatakan,

    خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ فِي يَدِهِ كَهَيْئَةِ الدَّرَقَةِ قَالَ : فَوَضَعَهَا ، ثُمَّ جَلَسَ فَبَالَ إِلَيْهَا

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar bersama kami dan di tangannya terdapat sesuatu yang berbentuk perisai, lalu beliau meletakkannya kemudian beliau duduk lalu kencing menghadapnya.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

    ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu- berkata,

    رَآنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَبُولُ قَائِمًا فَقَالَ :« يَا عُمَرُ لاَ تَبُلْ قَائِمًا ». قَالَ فَمَا بُلْتُ قَائِمًا بَعْدُ.

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku kencing sambil berdiri, kemudian beliau mengatakan, “Wahai ‘Umar janganlah engkau kencing sambil berdiri.” Umar pun setelah itu tidak pernah kencing lagi sambil berdiri.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Dari Buraidah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ثلاثٌ مِنَ الجَفاءِ أنْ يَبُولَ الرَّجُلُ قائِماً أوْ يَمْسَحَ جَبْهَتَهُ قَبْلَ أنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلاتِهِ أوْ يَنْفُخَ في سُجُودِهِ

    “Tiga perkara yang menunjukkan perangai yang buruk: [1] kencing sambil berdiri, [2] mengusap dahi (dari debu) sebelum selesai shalat, atau [3] meniup (debu) di (tempat) sujud.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam At Tarikh dan juga oleh Al Bazzar). Terdapat perkataan yang shahih sebagaimana hadits Buraidah di atas, namun bukan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi perkataan Ibnu Mas’ud.

    Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,

    إِنَّ مِنَ الجَفَاءِ أَنْ تَبُوْلَ وَأَنْتَ قَائِمٌ

    “Di antara perangai yang buruk adalah seseorang kencing sambil berdiri.” (HR. Tirmidzi)
    ingatlah hadist rosulullah SAW dan Sahabat ketika melewati sebuah kubur, dan Rosulullah SAW diperlihatkan dengan siksaan terhadap 2 penghuni kubur tersebut, lalu sahabat bertanya apa yang terjadi dengan penghuni kubur tersebut ya Rosulullah SAW, jawab Rosulullah SAW sesungguhnya 2 penghuni kubur itu di siksa dengan pekara yg sangat sepele ttp mereka lalai, salah satu diantaranya tdk membersihkan air kencingnya,,,
    kata-kata ulama hikmah :
    barang siapa menjaga perkara yang adab, maka Allah akan memudahkan utuk menjaga perkara yang sunnah,
    barangsiapa menjaga perkara yang sunnah, Allah akan memudahkan untuk menjaga perkara yang wajib,
    barangsiapa menjaga perkara yang wajib, Allah akan memudahkan untuk menjaga imannya,

    imam malik rah kurang lebih :
    “kami belajar dan mengamalkan perkara-perkara adab, sebelum kami belajar ilmu (fiqh, hadis…dsb)”

    dan hati2 thdp pemakaian CD sangat tdk dianjurkan dan akan mempengaruhi suhu disekitar Alat kelamin dan kantung sperma dan itu tdk disunnahkan,
    antum mungkin tau memakai CD itu bukan cara islami kan,
    sesuai sabda Rosulullah SAW, barang siapa mengikuti suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut,
    …ingatlah wahai saudaraku belajarlah ilmu walau itu dengan binatang, kisah nabi Dawud AS, ketika sedang asyik membaca kitab zabur dengan suara merdunya, kemudian beliau melihat seekor ulat buluh, terbesit dalam hati nabiyullah Daud AS, yg memandang dengan pendangan bahwa ulat buluh tersebut( gatal, menjijikan, tidak berguna, memakan daun-daunan yg hijau) akan tetapi dengan kebesaran Allah SWT, Ulat tersebut berbicara kepada Nabi Daud AS, ya Nabiyullah Daud, sesungguhnya aku diperintahkan oleh Allah SWT, dimana pd siang hari aku bertasbih kepada Allah SWT 1000x dengan bacaan Subhanallah, Walhamdulillah, Walaillahailallah, waullahuakbar dan 1000x dimalam hari dengan bacaan Asyhaduallahilaahailallah wasyhaduannamuhammadarrosullah, maka menjeritlah Nabiyullah Daud AS mohon ampun kepada Allah SWT karena telah meremehkan ciptaan Allah SWT tersebut,….. i’tibar dari kisah ini, apakah kita sdh sebaik Ulat buluh tersebut????

  61. si ben suradi bilang bhw pohon yg baik dpt dilihat dr buahnya yg baik (alkitabiah bngt nih)
    tp liat, dia kencing sambil brdiri yg kalo pk standardnya berarti dia ini buahnya ga baik dan berarti pula pohonnya buruk. Pohon di sini adalah aqidahnya

  62. @suradi
    ente kencing sambil berdiri, bukankah rasulullah sangat murka, bagaikan anjing yang kencing. belajar dulu dah.
    Bicara nyunah, hal yang kecil jauh ditinggal.

  63. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Saya mendapatkan hadits tentang adzan:

    “Adzan harus dilakukan secara tarassul (berlahan-lahan), keras –bersuara tinggi hingga bisa didengar orang banyak, dan dengan suara indah. Abu Mandzurah menyebutkan, Nabi Saw terkagum-kagum dengan suaranya, lalu beliau mengajarinya adzan” (HR. Ibnu Khuzaimah).

    Wallahu a’lam.

  64. Bismillaah,

    Kang FerryASWAJA,

    Kadang-kadang saya kencing sambil berdiri. Mengapa? Gak boleh?

    Kang Nasrulloh,

    Saya belum mengetahui persis dalil melagukan adzan. Mari kita sama-sama mencarinya.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ben suradi
      ente orang yg sm dg orang yg ngotot utk mengamalkan sunnah merapatkan kaki? Atau ente orang yg beda dg nick name yg sama?

      Tp ente kencing smbil diri?

  65. @ibnu suradi antum blm jawab pertanyaan ane???? nggak susah kok, ana mau kejujuran ente????? nggak usah yg tinggi2 dulu pembahasannya???

  66. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Mohon cari tahu hadits tentang perintah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memerdukan suara kita saat membaca Qur’an. Kalau nggak salah hadits tersebut juga ada di Riyadhush Shalihin Imam Nawawi. Hanya memerdukan suara bacaan seperti bacaan murotal, tidak berlebihan hingga suaranya melengking dan nafasnya panjang sekali kaya lomba MTQ.

    Wallaahu a’lam.

  67. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Saya ingin sekali shalat khusyu’ hingga menangis seperti anda. Namun, sayang anda meninggalkan shalat berjamaah. Di Masjid Walidain Perumahan Pesona Cilebut, Blok I, Bogor, shalat berjamaah dipimpin seorang imam yang bacaan suratnya bagus sekali. Tidak hanya bagus bacaannya. Ia juga sering menangis bila membaca ayat-ayat azab neraka. Banyak jamaah yang ikut menangis.

    Saya sarankan. Jangan anda menceritakan keadaan anda tersebut kepada khalayak. Takut riya’. Biarlah orang lain yang mnenceritakan kebaikan anda kepada khalayak. Carilah masjid yang keadaan shalat berjamaah seperti di masjid yang telah saya ceritakan sehingga anda bisa menangis saat shalat berjamaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. Gak apa2 yang penting orang lain gak terganggu ya.
      Dah kite bahas topik artikel diatas @ibnu suradi, jangan yang lain. Mari belajar menghormati orang yang telah membuat artikel yang telah berbagi ilmu untuk didiskusikan.

  68. Nasrulloh@

    Mas Nasrul, ibarat menhadapi kebo, apa yg ana lakukan terhadap Pak Dul semisal menyabet/memecut kebo agar mengerti n jalannya benar. Ini hanya ibarat aja, jangan salah paham.

    Kalau khusnudzon, ana khusnudzon sama Pak Dul, semoga Pak Dul setelah ini ketemu jalan yg benar sesuai petunjuk AlQur’an n Hadits/Sunnah Rasul Saw menurut pemahaman Salafush Sholihin….

    Harapan ana semoga Pak Dul dapat Hidayah-Nya, begitu juga ana dan anda semauanya….

    Yaa, Allah yaa Robbana…. dzat yg membolak-balikkan hati manusia, tetapkan kami dalam agama Islam yg benar, amin….

  69. Masyaallah, astaghfirullah…. Yang kelihatan sombong itu jelas pak Dul sendiri kok malah balik menuduh Ustadz AI. Diajak bertaubat kok malah melotot seperti Abu Jahal aja neh Pak Dul? Padahal di sini kelihatan jelas sekali Ustadz AI ingin meyelamatkan Pak Dul, tapi pak Dul malah menggonggong terus, bahkan kelihatan ingin menggigit ustadz AI sebagai penolong.

    Padahal intinya sangat simple, Pak Dul ini mau pilih yg mana, PILIH BERTAUBAT ATAU MUBAHALAH. Tapi kok malah menggonggong terus-menerus gak jelas maunya pa gitu….

    Pak Dul dari awal kan sudah nantang-nantang minta dilaknat, tapi begitu dikasih opsi pilih selamat atau terlaknat eh kok malah menggonggong ,,,, masih merasa sebagai manusia atau bukan sih Pak Dul? Coba gerayangi kepala Pak Dul, sudah muncul belum tanduk Syetan Najd-nya?

    Kalau tanduk tsb belum muncul berarti masih bertengger di hati Pak Dul, afwan….

    1. Astaghfirullah, ada orang yang suka mendoakan orang muslim kecelakaan. Atau paling tidak terbersit di hatinya ingin orang lain celaka.

      1. ane tdk berharap bhw antum celaka,
        ane mau antum taubat dan mendapatkan keselamatan
        tetapi antum lbh memilih kecelakaan dunia dan akhirat bg diri antum

        1. Kang AI, sampe kiamatpun sepertinya bos Bedul ga bakal mau berfikir akan kekeliruan faham yg dia terima, karena dia sudah di doktrin faham yg dia terima itu paling benar, dia paling pinter dalam agama, biarkan sajalah Kang AI dia mau bicara apa, juga rekan-2 ummati yg lain, ga usah ditanggapi, ntar juga dia cape sendiri, kita do’a kan saja bos Bedul disholeh-kan, diberi Hidayah, Rahmat & Rezeki yg berlimpah untuk dia & keluarganya, kita do’akan supaya bos Bedul sadar akan kekeliruannya, semoga rekan-2 dia yg lainnya juga bisa sadar akan kekhilafan mereka…amiiiin

          1. saya berharap dia mau taubat sblm trlmbt

            jika ia bertobat, maka dg sendirinya, saya cabut doa laknat tsb dan saya doakan smoga keberkahan slalu tercurah atasnya

          2. betul Kang AI, semua artikel, isi dg sumber/sanad yg shahih sudah Kang AI & lainnya tampilkan, tinggal dia mau cek kebenarannya atau tidak kita tidak tahu, kalo menurut saya semua kembali kepada dia, semua kita telah tampilkan, tetapi kalo dia tetap tidak bisa menerima, tetap merasa paling benar, paling pintar, kita berserah diri kepada Alloh SWT, semoga Alloh SWT memberikan hidayah, rahmat & rezeki yg berlimpah untuk dia, semoga dia sadar akan kekhilafannya sendiri dari hati dia sendiri, semoga dia sadar bukan karena ditegur Alloh SWT…sungguh teguran Alloh SWT itu bisa datang dg keadaan,cara apa saja, semoga dia tidak ditegur Alloh SWT

  70. fikirkanlah baik2 dul

    ane ksh 3 opsi sm antum
    1. Ucapkan kata2 taubat, maka ane g akan melaknat antum
    2. Ucapkan ‘mari berdiskusi’. Maka kita berdiskusi mencari kebenaran, tanpa ngeyel dan tanpa muter2.
    3. Ucapkan ‘ane siap antum laknat’. Maka ane akan melaknat antum yg beraqidah mujassimah dan musyabbihah serta menafi’kan sbagian syari’at.

    1. Mari kita gabung saja:
      1. Astaghfirullah, saya berdakwah kepada Asy’ariyyah dengan kata2 yang keras, sehingga mereka makin keras pada keyakinannya.
      2. Kita diskusikan yang no. 3.
      3. Jangan seenaknya menentukan sendiri. Saya siap dilaknat AI karena berakidah manhaj salaf sesuai tuntunan Nabi, sahabat & ulama slafus shalih tetapi dituduh mujassimah & musyabbihan & menafikan syari’at.

  71. Dul, klo ane smp melaknat Antum, dan ternyata laknat itu g berbalik k ane, maka laknat itu jatuh k antum. Antum yaqin ga mau taubat? Antum yaqin dan siap ane laknat? Fikirkan baik2. Kalo antum yaqin, maka ane akan melaknat antum. Dan jika ane masih aktif, maka cukuplah itu sbg bukti kebenaran aqidah dan syari’ah yg ane pegang.
    Ane bukan orang sakti atau takabbur. Ane cuma pengen antum tau bhw Allah berpihak kpd ane sbg pihak yg benar.

  72. Bismillaah,

    Kang FerryASWAJA,

    Kita sedang membicarakan sunnah merapatkan shaf shalat berjamaah. Kalau anda memiliki informasi tambahan, silahkan sampaikan kepada kami.

    Kang Daiban,

    Mohon cari tahu hadits Nu’man bin Basyir riwayat Abu Dawud tentang menempelkan bahu dengan bahu dan menempelkan mata kaki dengan mata kaki. Mohon Kang Syahid menjelaskan derajat hadits ini.

    Juga cari tahu hadits Abi Humaid riwayat Bukhari tentang cara berdiri Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat. Abu Humaid berkata: yastaqbilu bi athrafi rijlaihi al qiblah (Beliau (Rasulullaah) menghadapkan jari-jari kakinya ke kiblat.”

    Jadi ada kesesuaiannya antara menempelkan mata kaki dan menghadapkan jari-jari kaki ke kiblat.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Kite sudahi aja tentang saf shalat, ente punya faham ane punya faham yang penting ane bisa shalat khusu’, terus terang ane sekarang shalat 5 waktu hampir2 sendiri karena ane selalu nangis sampai tersedak-sedak diwaktu shalat, seolah-olah ane mahluk yang paliiiiing banyak dosanya diantara mahluk Allah swt, jadi ganggu orang lain, mendingan shalat sendiri aja lah, mau diterima shalat ane apa nggak terserah Allah swt aja lah (ane pribadi loh). Ane udah mengislamkan 32 orang nasroni, puasa daud 8 tahun ampe skr, mudah2an aja impas gak jama’ah, ane hanya pasrah sama Allah swt.

      Nah sekarang kite tungguin @abdullah aja untuk berdiskusi dengan ustad @AI sampai tuntas ya.

      Tapi mana @abdullah nya ???????

    2. @ibnu suradi, inilah hadits tentang merapatkan dan meluruskan shaf :

      عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ
      Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah dia bersabda “:Lurus rapatkan shaf kalian, karena lurus rapatnya shaf adalah bagian dari kesempurnaan tegaknya shalat.” (HR. Bukhari No. 690. Muslim No. 433)

      Sedangkan, ulama lain mengatakan, merapatkan shaf adalah sunah saja. Inilah pendapat Abu Hanifah, Syafi’I, dan Malik. (‘Umdatul Qari, 8/455). Bahkan Imam An Nawawi mengklaim para ulama telah ijma’ atas kesunahannya. Berikut perkataannya:

      وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاء عَلَى اِسْتِحْبَاب تَعْدِيل الصُّفُوف وَالتَّرَاصّ فِيهَا

      “Ulama telah ijma’ (aklamasi) atas sunahnya meluruskan shaf dan merapatkan shaf.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/384. Mauqi’ Ruh A Islam)

      Apa yang dikatakan Imam An Nawawi ini, didukung oleh Imam Ibnu Baththal dengan perkataannya:

      تسوية الصفوف من سنة الصلاة عند العلماء

      “Meluruskan Shaf merupakan sunahnya shalat menurut para ulama.” (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Bukhari, 2/344. Dar Ar Rusyd)
      Alasannya, menurut mereka merapatkan shaf adalah untuk penyempurna dan pembagus shalat sebagaimana diterangkan dalam riwayat yang shahih. Hal ini dikutip oleh Imam Al ‘Aini, dari Ibnu Baththal, sebagai berikut:

      لأن حسن الشيء زيادة على تمامه وأورد عليه رواية من تمام الصلاة

      “Karena, sesungguhnya membaguskan sesuatu hanyalah tambahan atas kesempurnaannya, dan hal itu telah ditegaskan dalam riwayat tentang kesempurnaan shalat.” (‘Umdatul Qari, 8/462)

      Riwayat yang dimaksud adalah:

      أقيموا الصف في الصلاة. فإن إقامة الصف من حسن الصلاة

      “Aqimush Shaf (tegakkan shaf) karena tegaknya shaf merupakan diantara pembagusnya shalat.” (HR. Bukhari No. 689. Muslim No. 435)

      Imam An Nawawi mengatakan, maksud aqimush shaf adalah meluruskan menyeimbangkan, dan merapatkan shaf. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/177. Maktabah Misykah)

      Berkata Al Qadhi ‘Iyadh tentang hadits ini:

      دليل على أن تعديل الصفوف غير واجب ، وأنه سنة مستحبة .

      “Hadits ini adalah dalil bahwa meluruskan shaf tidak wajib, dia adalah sunah yang disukai.” (Al Qadhi ‘Iyadh, Ikmal Al Mu’allim Syarh Shahih Muslim, 2/193. Maktabah Misykah)

  73. Bismillah,

    Kang Nasrulloh,

    Kita berjuang untuk melaksanakan sunnah semampu kita. Kalau mampu, kita laksanakan. Kalau belum mampu, kita berdoa semoga Allah mengkaruniakan kemampuan kepada kita untuk melaksanakan sunnah.

    Itulah sikap Ahlul Sunnah wal Jamaah. Allah berfirman: “Katakanlah kepada umatmu Wahai Muhammad: ‘Jika engkau mencnitai Allah, maka ikutilah aku.’ ” Rasulullaah bersabda: “Ikutilah sunnahku dan sunnah sahabatku.”

    Semoga Allah melembutkan hati kita dengan ilmu dan merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Wallaahu a’lam.

  74. Bismillaah

    Kang Ucep,

    Saya tidak mengubah tulisan Habib Sholeh. Saya tidak mengurangi bahkan satu uruf pun pada tulisan tersebut. Saya juga tidak menambah satu huruf pun pada tulisan tersebut.

    Kang Nasrulloh,

    Untuk lebih cepat mendapatkan tulisan Habib Sholeh tersebut, silahkan googling dengan kata kunci: Merapatkan shaf – Madinatul Ilmi. Di situ ada forum tanya jawab. Ada seseorang yang menanyakan masalah merapatkan shaf shalat berjamaah. Kemudian Habib Sholeh menjawabnya. Silahkan Kang Nasrulloh dan juga Kang Ucep mencoba.

    Supaya lebih mantap lagi, anda dapat mencek hadits-hadits dalam tulisan tersebut dalam kitab induknya: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dll. Semoga Kang Nasrulloh mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Kang Suradi, terima kasih atas petunjuknya, saya sudah baca link-nya, sesuai yg ente ungkapkan sebelumnya, dari Hadits-2 yg ditampilkan memang ada disunnah kan merapatkan bahu & kaki, sedangkan lainnya tidak menampilkan merapatkan kaki, saya masih dangkal, maaf kalo saya salah, berarti tetap merapatkan kaki sunnah, tidak merapatkan kaki tapi sudah merapatkan bahu pun juga sunnah yah…..sekali lagi maaf kalo pengertian saya salah, mungkin rekan-2 ummati yg lebih berilmu akan menambahkannya nanti….

  75. Pak Dul Dijamin gak berani bermubahalah kecuali dia nekad ingin celaka seperti orang2 yg telah lalu, atau mungkin Pak Dul takut tanduk Syetan Najd kelihatan di kepalanya, hik hik hik….

  76. Waduh dah berat nih, ane pikir @abdullah sama ustad @AI berdiskusi berdua sampai selesai dengan damai, team yang lain cukup jadi pemerhati dulu, agar tidak rancu dalam pemikiran keduanya.
    Biar diskusi mantab n tepat sasaran bolehlah keduanya berargumen dengan memilih topik artikel diatas.
    Mas @admin bisa menjadi mediator tulisan keduanya, ane sayang sama blog ini.

  77. @bdul
    bukannya ane nakut2in antum
    tp ane g mau antum gegabah
    1 orang yg mubahalah ama ane dan 1 orang yg tantangin mubahalah dah g ketauan rimbanya.
    Abu hannan as sundawi, antum googling, mk aktivitas dia terhenti pd bulan juli. SID, aktivitasnya terhenti beberapa hari setelah mubahalah ama ane. Fikirkan baik2.

    1. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ini ada orang jahil tapi takabbur, menganggap dirinya punya karomah yang membuat orang sakit/mati. Saya gak takut mubahalah, tapi gak mau melaknat. Jadi silahkan saja kamu melaknat saya, karena saya yakin laknat kepada orang yang berjalan di atas petunjuk Qur’an dan sunnah, akan kembali kepada pelaknatnya. Manhaj salaf itu sesuai dengan petunjuk Nabi, sahabat, tabi’in, imam mazhab, tidak dikotori oleh ilmu kalam yang mengedepankan aqli daripada naqli.

  78. 1. Ibnu mas’ud pernah brmubahalah mengenai masa iddah.
    2. Ane beri’tiqad bhw Allah ada tanpa tempat, Allah tdk berjisim, tdk berarah. Sdangkan antum sebaliknya.

    Ane g takut mubahalah ama antum. Tp ane ksh ksmptn bg antum utk merenung. Jika antum bertobat, mk ane ga akan melaknat antum.
    Makanya, sebelum ane melaknat antum, jelaskan dg terang dan lantang aqidah antum dan sikap antum trhdp yasinan malam jum’at dan dzikir berjama’ah.

    1. 1. Ibnu Mas’ud bermubahalah dengan ahlul bid’ah.
      2. I’tiqad manhaj salaf adalah sesuai dengan petunjuk Nabi, sahabat, dan salafus shalih. Seperti kata Imam Maalik, Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya. Bersih dari pengaruh ilmu kalam yang menafikan sifat2 Allah dan membatasinya hanya 20.

      Saya ndak usah menjelaskan lagi, sudah saya jelaskan di banyak komentar. Kalau kopaser ulung seperti Dianth, yang kopas pegangannya selama belasan tahun dipatahkan semua oleh ustadz Abul Jauzaa, tapi tetap tidak bergeming dalam akidahnya, ya saya tidak berharap banyak kepada kopaser amatir pentaklid buta seperti kamu.

      Saya mau safar sekitar 20 hari, setelah itu saya bertekad berhenti dari jidal tidak berguna seperti di blog ini dan lebih banyak mencurahkan waktu untuk belajar agama. Jadi gak usah cari2 di google kalau saya gak ada. Mari berpisah secara baik2. Saya minta maaf atas segala perkataan saya yang menyinggung perasaan saudara sekalian semua, dan saya juga sudah memaafkan kalian semua.

      Ma’assalaamah.

      1. antum juga ahlul bid’ah krna menafi’kan sbagian syari’ah dan beraqidah menyimpang.
        Antum ga mau taubat, tapi juga ga brani mubahalah. Antum itu dlm keraguan dan ketakutan. Kalo ane, ane ga akan bergeming dr aqidah dan syari’ah suci ini, dan ga takut mubahalah ama antum.

        1. Saya gak takut mubahalah, tapi gak mau melaknat orang yang aqidahnya belum keluar walaupun ada kebid’ahan dalam dirinya. Karena kamu sudah menganggap saya wahabi kafir, ya sudah, nggak usah banyak bacot, langsung saja tulis laknatmu di blog kamu. Atau kamu sebenarnya yang pengecut?

          1. Dul, ane anggap bhw antum memilih opsi ketiga

            wallahi, wallahi, wallahi, wallahi
            jika Antum adalah orang yg menafi’kan dzikir berjama’ah, dan antum menjisimkan Allah serta beri’tiqad bhw Allah berarah, yg karenanya Antum itu termasuk orang2 yg sesat, maka semoga laknat Allah menimpa antum
            tetapi jika antum bertaubat dari itu semua maka smoga keberkahan turun atas antum

  79. buat Adullah…

    ana punya pertanyaan ringkas buat ente, kira2 gini dech;terkait pernyataan anda yg gegabahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh..

    1. apakah sama melihat air terjun di selembar kertas foto dengan melihat secara langsung?

    jwb ya…. ntu ja dlu..

  80. Dijamin Pak Abdullah yg pengecut kagak bakalan bernai bermubahalah Vs Mas AI, Sudah jelas dari awal kemunculannya aja Pak Dul ini orang yg rapuh jiwanya. Mana berani bermubahalah, kecuali nekad ingin celaka lahir batin dunia akhirat.

    Kalau gak berani sebaiknya Pak Dul ini melenyapkan diri dari blog ini, sebab kehadirannya hanya bikin kotor pemandangan di sini. Maaf ya Pak Dul, mboten pareng nesu-nesu terus nanti malah kelihatan seperti Abu Jahal kata Mbak Putri. Ana juga sepakat dg Mbak Putri tentang karakter Abu Jahal buat pak Dul….

    1. Oh, lupa ada wanita jahil satu lagi selain putri. Silahkan saja bilang sama AI untuk melaknat saya diblognya, terus kamu amini. Aman kan, nggak ada resiko kena laknat dari saya.

      1. Pak Dul ini sungguh kasihan, kemarahannya semakin tak terkendali. Seandainya dua tanduk Syetan Najd kelihatan nongol di kepalanya niscaya orang2 di sekitarnya akan lari terbirit-birit.

        Para hadirin…., Syetan Najd itu kira2 mempan dilaknat apa tidak? Ana kira tidak usah dilaknat pun pemilik dua tanduk Syetan Najd itu kan sudah dilaknat Nabi Saw? Beruntunglah laknat jaman Ummat Nabi Muhammad tidak langsung kelihatan benjol, seandainya langsung kelihatan seperti laknat2 di zaman Nabi-nabi terdahulu alangkah seramnya muka2 Wahabiyyin ini ya?

  81. Dul…Dul…. ente tinggal bilang : saya siap menerima tantangan mas AI untuk bermubahalah di blognya Artikel Islami! gitu aja ko repot. tapi ane yakin ente kaga berani 😆 😆 :mrgreen: :mrgreen:

  82. ente bilang bhw banyak terjadi orang yg blm tau ilmu merapatkan kaki itu kmdn marah dan menginjak kaki yg mengejar

    1. Ente yaqin bhw yg sering nginjek itu yg g tau ilmu merapatkan kaki?
    2. Berarti ganggu orang shalat kan? Smp marah tuh orang. Orang klo g diganggu, ga marah.
    3. Berarti banyak kan yg suka ngejar2 kaki?
    4. Waktu sekolah dulu, ada ustadz yg ngajarin sambil nyontoin, ‘kalo ga mau rapet dan terus menghindar, injek aja.’ dan ketika menginjak itu, ane melihat kakinya terkangkang

  83. ente bilang bhw banyak terjadi orang yg blm tau ilmu merapatkan kaki itu kmdn marah dan menginjak kaki yg mengejar

    1. Ente yaqin bhw yg sering nginjek itu yg g tau ilmu merapatkan kaki?
    2. Berarti ganggu orang shalat kan? Smp marah tuh orang. Orang klo g diganggu, ga marah.
    3. Berarti banyak kan yg suka ngejar2 kaki?
    4. Waktu sekolah dulu, ada ustadz yg ngajarin sambil nyontoin, ‘kalo ga mau rapet dan terus menghindar, injek aja.’

  84. 1. Ane ga takut mubahalah ama ente
    2. Mubahalah juga bs mengenai pengingkaran salah satu perkara sunnah. Makanya ane tanya ama ente: yasinan tiap malam jum’at dan dzikir berjama’ah itu bid’ah dholalah ga? Kalo ente bilang bid’ah dholalah, berarti ente mengingkarinya. Maka ane siap mubahalah ama ente. Tp masalahnya ente blm jawab pertanyaan ane, bid’ah dholalah ga 2 hal itu?
    3. Aqidah ente dah ga bener, ane ga takut mubahalah ama ente.
    4. Perkataan kafir kmbl pd 1 dr 2 pihak, dlm hal ini, klo ga ane, ya ente. Dan ane yaqin bhw itu akan tertuju pd ente, mengingat aqidah ente ga bnr.

    Klo ente siap mubahalah, bilang2 ane. Krn ane jarang hadir di sini, tlg k blog ane aje. Klo di sini, takutnya ane ga nemuin komentar ente.

    1. Ustad @AI
      Jangan dilayani si dulo (@abdullah), jawaban2 dia gak ada yang ilmiah cuma makian n cacian.
      Lihat tulisannya disini kasar apalagi kenyataannya, ane yakin dia lagi bingung!!! mau jawab apa gak ngarti, ilmunya dikiiiit atw pelit.

    2. Kalau kamu udah yakin saya wahabi kafir, ya udah gak usah banyak bacot! Langsung saja laknat saya karena saya wahabi sesat kafir. Gak usah omdo, cuma nunjukin kamu itu pengecut!

      Saya udah bilang berkali-kali, bid’ah yang itu macem2. Ada bid’ah yang bisa membawa ke dalam kekafiran, yaitu bid’ah i’tiqadi seperti qadariyah, jahmiyah, ahmadiyyah, syi’ah, dll. Pelakunya disebut ahlul bid’ah. Kalau hanya bid’ah2 kecil yang tidak membawa ke dalam kekafiran, hanya disebut dalam dirinya ada kebid’ahan.

      Saya tidak menganggap AI kafir, hanya saja dalam dirinya ada kebid’ahan. Saya menganggap AI muslim, hanya saja dia jahil. Saya tidak akan melaknat seorang muslim, walaupun dia jahil.

      1. ane tanya ama antum. Kalo antum ga jahil, coba jawab, apakah inkar kpd hadits dhaif yg tdk ada hadits shahih yg menyelisihinya itu gmn? Inkar kpd dzikir berjama’ah yg sebenarnya disyari’atkan itu gmn?
        Trus antum beneran brani ga klo ane ajak mubahalah?

  85. Mohon maaf copasan lg dari : forsansalaf.com, untuk scan kitab bisa dilihat dulu di link :

    Wahabi-Salafi Menentang Syeikh Ibnu Taimiyah

    Submitted by forsan salaf on Sunday, 20 December 2009

    Tak dipungkiri, banyak umat Islam resah dengan keberadaan Wahabi alias Salafy — demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Cara dakwah yang mereka lakukan, membuat umat Islam gerah. Mereka kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Wahabi. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khurafi, penyembah kubur, gerakan sempalan sesat, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya. Anehnya, ketika (ulama) wahabi dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya.

    Sebetulnya, kalau mereka mau menelaah ulang kitab para pendahulunya, seperti Ibnu Taimiyah sebagai tokoh sentral mereka. Mereka akan sadar bahwa Ibnu Taimiyah sendiri tidak se-ekstrem kaum salafi sekarang. Peringatan maulid misalnya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa merayakan maulid dengan dasar cinta Nabi Saw. adalah bernilai pahala. Kaum wahabi berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah, kurafat, dan pengkultusan yang ujung-ujungnya adalah syirik.

    Bagi masyarakat Muslim, jika ada kelompok yang suka menyalahkan, mencaci-maki dan membid’ahkan amalan-amalan ahlussunnah, cukuplah dijawab dengan dalil-dalil imam mereka sendiri, yang akan kita bahas satu persatu. Dijamin, mereka bakal kelabakan dan diam seribu bahasa. Sebab, nyatanya mereka melabrak pendapat-pendapat para imam mereka sendiri.

    Berikut kami tunjukkan beberapa bukti yang shahih.

    PERTAMA, tentang maulid. Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim hal.269 menyatakan bahwa mereka yang mengagungkan maulid mendapat pahala besar karena tujuan baik dan pengagungan mereka kepada Rasulullah Saw..”

    Video berikut akan memperjelas buktinya

    Terjemah narasi:

    Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta. Amma ba’du

    Peringatan maulid Nabi Saw. itu tergolong bid’ah hasanah. Peringatan semacam ini sudah ditradisikan sejak ratusan tahun lalu. Peringatan ini merupakan kesepakatan yang dilakukan oleh raja-raja, para ulama’, masayikh. Termasuk para ahli hadits, pakar fikih, orang-orang zuhud, para ahli ibadah dan berbagai individu dari kalangan awam.

    Di samping itu, peringatan ini punya dasar kuat yang diambil dengan cara istinbath seperti telah dijelaskan Imam al-Hafid Ibnu Hajar dan para ulama ahlussunnah lainnya.

    Diantara bidah dan kesesatan para penentang tawassul, mereka mengharamkan maulid dengan ekstrem. Bahkan seorang tokoh mereka, Abubakar Aljazairi –semoga Allah memberinya petunjuk- menyatakan, sembelihan yang disediakan untuk suguhan maulid lebih haram dari babi. Wal iyadzu billah, semoga Allah melindungi kita dari membenci Rasulillah Saw.

    Begitu antinya mereka terhadap maulid. Namun yang menarik, Ibnu Taimiyah sendiri tidak mengharamkan, bahkan dalam sebagian fatwanya dia katakan, “Jika maulid dilaksanakan dengan niat baik akan membuahkan pahala,” artinya sah-sah saja dilakukan.

    Marilah kita simak kitab Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim karya seorang filosof mujassim Ahmad ibn Taimiyah (meninggal tahun 728 hijriah) cet. Darul Fikr Lebanon th.1421 H. Pada hal.269 Ibnu Taimiyah berkata,

    “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah Saw..”

    Jika semua ini telah jelas, maka bersama siapakah kelompok sempalan wahabi ini? Mereka tidak bersama ahlussunnah wal jamaah. Tidak pula bersama tokohnya, Ibnu Taimiyah. Sepatutnya mereka mencela diri mereka sendiri, dan bertaubat dari kesesatan mereka selama masih ada kesempatan. Cukuplah sebagai kehinaan, penilaian buruk mereka terhadap hal yang telah disepakati kaum muslimin berabad-abad di penjuru timur dan barat bumi.

    Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita taufiq untuk menjelaskan hal ini. Semoga salawat dan rahmat Allah tetap tercurah atas Rasulullah Saw..

    KEDUA, Ibnu Taimiyah meriwayatkan kisah Abdullah bin Umar yang sembuh dari lumpuhnya setelah ia ber-istighasah dengan memanggil nama Rasulullah Saw..

    Simak video berikut:

    Terjemahnya:

    Alhamdulillah Rabbil Alamin. Salawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw.. Amma ba’du, ini adalah kitab “al-Kalimut Toyyib” karya filsuf mujassim Ahmad bin Taimiyah al Harrani (w.728 H) cet. Darul kutub ilmiyah Beirut 1417 H

    “عن الهيثم بن حنش قال كنا عند عبد الله بن عمر رضي الله عنهما فخدرت رجله أي أصابها مثل شلل فقال له رجل اذكر أحب الناس إليك فقال يا محمد فكأنما نشط من عقال -أي تعافى فورا-”.
    Pada halaman 123 Ibnu Taimiyah berkata

    “Dari al-Haitsam bin Hanasy dia berkata, ‘Kami sedang bersama Abdullah bin Umar r.a. tatkala tiba-tiba kakinya mendadak lumpuh, maka seorang menyarankan ’sebut nama orang yang paling kau cintai!’ maka Abdullah bin Umar berseru, ‘Ya Muhammad!’ maka dia pun seakan-akan terlepas dari ikatan, artinya sembuh seketika.”

    Inilah yang diterangkan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “al-Kalimut Toyyib” (perkataan yang baik), yakni dia menilai baik semua isi kitabnya.

    Yang dilakukan Abdullah bin Umar ini adalah istighatsah dengan Rasulullah Saw. dengan ucapan ‘Ya Muhammad’

    Dalam Islam ini diperbolehkan, Ibnu Taimiyah menganggapnya baik, menganjurkannya, dan mencantumkan dalam kitabnya, “al-Kalimut Toyyib”.

    Ini menurut wahabi sudah termasuk kufur dan syirik, artinya istighasah dengan memanggil Nabi Saw. setelah beliau wafat adalah perbuatan kafir dan syirik menurut wahabi.

    Apa yang akan dilakukan kaum wahabi sekarang? Apakah mereka akan mencabut pendapatnya yang mengkafirkan orang yang memanggil ‘Ya Muhammad’ ataukah mereka tidak akan mengikuti Ibnu Taimiyah dalam masalah ini? Padahal dialah yang mereka juluki Syeikhul islam.

    Alangkah malunya mereka, alangkah malunya para imam yang diikuti Ibn Abdil Wahab karena pendapatnya bertentangan dengan pendapat kaum muslimin.

    Dalam hal ini, kaum wahabi, dengan akidah mereka yang rusak, telah mengkafirkan Ibnu Taimiyah, karena ia telah menganggap baik hal yang syirik dan kufur menurut anggapan mereka.

    Ini semua adalah bukti bahwa mereka adalah kelompok mudzabdzab (plin-plan), kontradiksi dan menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah

    Segala puji selamanya bagi Allah, di permulaan dan penghujung.

    KETIGA, dalam Majmu Fatawanya Jilid 4 Hal.379 Ibnu Taimiyah mengakui keberadaan wali qutb, autad dan abdal. Dia juga menegaskan, jika malaikat membagi rejeki dan mengatur alam maka orang-orang saleh bisa berbuat lebih dari para malaikat. Apalagi para wali qutb, Autad, Ghauts, wali abdal dan Nujaba’. (Scan kitab klik di sini)

    وَقَدْ قَالُوا : إنَّ عُلَمَاءَ الْآدَمِيِّينَ مَعَ وُجُودِ الْمُنَافِي وَالْمُضَادِّ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ . ثُمَّ هُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ ؛ وَأَمَّا النَّفْعُ الْمُتَعَدِّي وَالنَّفْعُ لِلْخَلْقِ وَتَدْبِيرُ الْعَالَمِ فَقَدْ قَالُوا هُمْ تَجْرِي أَرْزَاقُ الْعِبَادِ عَلَى أَيْدِيهِمْ وَيَنْزِلُونَ بِالْعُلُومِ وَالْوَحْيِ وَيَحْفَظُونَ وَيُمْسِكُونَ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَفْعَالِ الْمَلَائِكَةِ . وَالْجَوَابُ : أَنَّ صَالِحَ الْبَشَرِ لَهُمْ مِثْلُ ذَلِكَ وَأَكْثَرُ مِنْهُ وَيَكْفِيك مِنْ ذَلِكَ شَفَاعَةُ الشَّافِعِ الْمُشَفَّعُ فِي الْمُذْنِبِينَ وَشَفَاعَتُهُ فِي الْبَشَرِ كَيْ يُحَاسَبُوا وَشَفَاعَتُهُ فِي أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ . ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ تَقَعُ شَفَاعَةُ الْمَلَائِكَةِ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ قَوْلِهِ : { وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } ؟ وَأَيْنَ هُمْ عَنْ الَّذِينَ : { وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ } ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِمَّنْ يَدْعُونَ إلَى الْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ ؛ وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” { إنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَشْفَعُ فِي أَكْثَرَ مِنْ رَبِيعَةَ وَمُضَرَ } ” ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ الْأَقْطَابِ وَالْأَوْتَادِ والأغواث ؛ وَالْأَبْدَالِ وَالنُّجَبَاءِ ؟

    Apakah ini pendapat Ibnu Taimiyah ini tergolong khurafat, takhayul dan bid’ah? Adakah dasarnya dari Qur’an dan Sunnah?

    KEEMPAT, tentang hadiah pahala, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barangsiapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa jilid 24 halaman 306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama Islam, dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah, dan ijma’ (konsensus) ulama’. Barang siapa menentang hal tersebut, maka dia termasuk ahli bid’ah”. (Scan kitab klik di sini)

    Hal senada juga diungkapkannya berulang-ulang di kitabnya, Majmu’ Fatawa, diantaranya pada Jilid 24 hal. 324 (scan kitab klik di sini)

    KELIMA, tentang tasawuf. Dalam kumpulan fatwa jilid 10 hal. 507, Syeikh Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun para imam sufi dan para syeikh yang dulu dikenal luas, seperti Imam Juneid bin Muhammad beserta pengikutnya, Syeikh Abdul Qadir Jaelani serta yang lainnya. Maka, mereka adalah orang-orang yang paling teguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.”

    Selanjutnya, pada jilid. 11 hal. 18 Ibnu Taimiyah berkata,

    والصواب أنهم مجتهدون في طاعة الله
    “Yang benar, para sufi adalah mujtahidin dalam taat kepada Allah.” (scan kitab klik di sini)

    KEENAM, pujian Ibnu Taimiyah terhadap para ulama sufi. Berikut ini kutipan dari surat panjang Ibnu Taimiyah pada jamaah Imam Sufi Syekh Adi bin Musafir Al Umawi, (Majmu’ Fatawa jilid 3 hal. 363-377). Ini sudah cukup menjadi bukti, begitu hormatnya Ibnu Taimiyah pada kaum sufi.

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تيمية إلَى مَنْ يَصِلُ إلَيْهِ هَذَا الْكِتَابُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ الْمُنْتَسِبِينَ إلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ؛ الْمُنْتَمِينَ إلَى جَمَاعَةِ الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ . أَبِي الْبَرَكَاتِ عَدِيِّ بْنِ مُسَافِرٍ الْأُمَوِيِّ ” – رَحِمَهُ اللَّهُ – وَمَنْ نَحَا نَحْوَهُمْ –
    Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada penerima surat ini, kaum muslimin yang tergolong Ahlussunnah wal Jamaah, yang bernisbat pada jamaah Syeikh al-Arif, seorang panutan, Yang penuh berkah, Adi bin Musafir Al Umawi (Scan kitab klik di sini)

    وَلِهَذَا كَثُرَ فِيكُمْ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ وَالدِّينِ..
    Karenanya, banyak diantara kalian orang-orang saleh yang taat beragama.. (scan kitab klik di sini)

    وَفِي أَهْلِ الزَّهَادَةِ وَالْعِبَادَةِ مِنْكُمْ مَنْ لَهُ الْأَحْوَالُ الزَّكِيَّةُ وَالطَّرِيقَةُ الْمَرْضِيَّةُ وَلَهُ الْمُكَاشَفَاتُ وَالتَّصَرُّفَاتُ . وَفِيكُمْ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ الْمُتَّقِينَ مَنْ لَهُ لِسَانُ صِدْقٍ فِي الْعَالَمِينَ
    Diantara orang-orang zuhud dan ahli ibadah dari golongan kalian terdapat mereka yang punya kepribadian bersih, jalan yang diridoi, ahli mukasyafah dan tasarruf. Diantara kalian juga terdapat para wali Allah yang bertakwa dan menjadi buah tutur yang baik di alam raya. (Scan kitab klik di sini)

    Cermati kata-kata yang dipakai Ibnu Taimiyah dalam risalahnya berikut: panutan, Abil barakat, berkepribadian bersih, jalan yang diridoi, ahli mukasyafah dan tasarruf, para wali Allah. Semua itu menyuratkan pengakuan beliau akan kebesaran orang-orang sufi yang bersih hati. Adakah orang-orang wahabi sekarang ini meneladani beliau?

    Surat tersebut selengkapnya juga bisa dibaca di Maktabah Syamilah versi 2 Juz 1 hal. 285-286.

    KETUJUH, Ibnu Taimiyah mengakui khirqah sufiyah dalam kitabnya, Minhajus Sunnah Jilid 4 Hal. 155

    الخرق متعددة أشهرها خرقتان خرقة إلى عمر وخرقة إلى علي فخرقة عمر لها إسنادان إسناد إلى أويس القرني وإسناد إلى أبي مسلم الخولاني وأما الخرقة المنسوبة إلى علي فإسنادها إلى الحسن البصري
    “Khirqah itu ada banyak macamnya. Yang paling masyhur ada dua, yakni khirqah yang bersambung kepada Sayidina Umar dan khirqah yang bersambung kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Khirqah Umar memiliki dua sanad, sanad kepada Uwais Al-Qarniy dan sanad kepada Abu Muslim Al-Khawlaniy. Adapun khirqah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, sanadnya sampai kepada Imam Hasan Al-Bashri.” (Scan kitab klik di sini)

    Jelas sudah, Ibnu Taimiyah menyatakan keberadaan sanad khirqah ini. Lantas, apakah beliau punya sanad khirqah? Dalam kitab yang sama beliau memberi jawab,

    وقد كتبت أسانيد الخرقة لأنه كان لنا فيها أسانيد
    “Aku telah menulis sanad-sanad khirqah, karena kami juga punya beberapa sanad khirqah” (scan kitab klik di sini)

    Kini kita telah paham, Ibnu Taimiyah ternyata memiliki khirqah. Tak hanya satu, tapi beberapa. Lantas apakah Syaikh-syaikh wahabi saat ini juga punya khirqah seperti halnya Ibnu Taimiyah?.

    KEDELAPAN, Pernyataan bahwa seluruh alam takkan diciptakan kalau bukan karena Rasulullah Saw. bisa dibenarkan. (Majmu’ Fatawa jilid 11 hal. 98)

    وَمُحَمَّدٌ إنْسَانُ هَذَا الْعَيْنِ ؛ وَقُطْبُ هَذِهِ الرَّحَى وَأَقْسَامُ هَذَا الْجَمْعِ كَانَ كَأَنَّهَا غَايَةُ الْغَايَاتِ فِي الْمَخْلُوقَاتِ فَمَا يُنْكَرُ أَنْ يُقَالَ : إنَّهُ لِأَجْلِهِ خُلِقَتْ جَمِيعهَا وَإِنَّهُ لَوْلَاهُ لَمَا خُلِقَتْ فَإِذَا فُسِّرَ هَذَا الْكَلَامُ وَنَحْوُهُ بِمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ قُبِلَ ذَلِكَ
    “Nabi Muhammad Saw. adalah esensi kedua mata ini. Beliau adalah poros segala pergerakan alam ini. Ia laksana puncak dari seluruh penciptaan. Maka tak bisa ditepis lagi bahwa untuk beliaulah seluruh alam ini diciptakan. Kalau bukan karena beliau, takkan wujud seluruh semesta ini. Bila ucapan ini dan semisalnya ditafsir sesuai dengan Al-Quran dan Hadis maka hendaknya diterima.” (Scan kitab klik di sini)

    Demikianlah sekelumit data dari hasil penelitian obyektif pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah sebagai rujukan kaum wahabi. Tak ada sentimen pribadi yang melandasi tulisan ini. Kami hanya berharap semua pihak bisa menerima kebenaran secara obyektif, lalu tak ada lagi sikap cela-mencela di antara sesama muslim. Ibnu KhariQ

  86. @Abdullah
    Beranikah ente mubahalah dengan mas AI ?
    harus berani dong! masa beraninya ama cewe… kalo ga berani, sebaiknya ente pake jilbab aja seperti mba’ putri. af1

    1. Apakah kamu cuma mengulangi kejahilan si putri? Saya sudah mempersilahkan AI melaknat saya karena menganggap saya kafir, tapi dia nggak berani.

      1. Ana gak takut sekarang walaupun Pak Dul marah2 sambil melotot sekali pun. Paling mukanya jadi tambah jelek karena kemarahannya? Mulai stress seperti Abu Jahal ketika tahu Nabi di pihak yg benar, eh si Abu Jahal juga semakin marah. Sama seperti Pak Dul ini kan? Pak Dul Bedul ini kok semakin kelihatan bingung ya? Orang diajak Mubahalah kok malah minta dilaknat? Hi hi hi….

        Kalau antum ngotot merasa benar dan kami juga merasa benar, daripada ngotot gak jelas juntrungnya, maka Mubahalah itu bisa dilakukan. Dan antum tidak berani kan? Kalau berani jawab itu ajakan mubahalah dari Ustadz AI.

        (Kenapa antum ngiri ketika ana sebut USTADZ kepada Ustadz AI? Antum pikir antum merasa lebih berilmu dibanding Ustadz AI? Ngaca dong Pak Dul biar sadar diri, afwan Pak Dul….)

        1. Duh putri yang jahil, sebaiknya kamu belajar lagi tidak bertambah lagi kejahilanmu. Dipanggil ustadz oleh orang jahil bukanlah suatu keuntungan, hanya menunjukkan kejahilannya diakui oleh orang jahil lain.

          Nggak usah berbelit-belit, mubahalah kan intinya saling bersumpah supaya yang sesat dilaknat oleh Allah, ya udah, silahkan saja AI melaknat saya di blognya, kan dia suah menganggap saya wahaby kafir, terus kamu dan yang jahil lainnya seperti ucep, nasrullah dan elang mengamini. Enak gitu kan, karena saya tidak melaknat, nggak ada resikonya, aman.

  87. copas dari : forsansalaf.com

    Albani, Muhaddis Tanpa Sanad Andalan Wahabi

    Submitted by forsan salaf on Monday, 26 October 2009

    Di kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.

    Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.

    Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?.

    Siapakah Nashirudin al- Albani?

    Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.

    Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).

    Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.

    Penyelewengan Albani

    Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’

    1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.

    2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .

    3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,

    4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.

    5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.

    6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.

    7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.

    8 ) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,

    9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.

    10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.

    Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:

    1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

    2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

    3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

    4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

    5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;

    6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

    7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;

    8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

    9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

    10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.

    Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.

    1. Di point ini ane gak setuju buanget.
      6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.
      Masa seorang muslim bilang seperti itu dalam fatwanya, masyaAllah mau kiamat nih dunia. Fatwa ini yang ane benci seumur hidup, muslim ini yahudi atw nasrani sih?, masa kata jihad sudah mati dihati seorang muslim.

    1. @ibnu suradi
      Kan ane bilang, untuk hal itu ane gak meragukan apalagi itu dari ahlul bait. Copasan ente yang ane raguin, siape tau ente rubah isinya trus disuruh lihat blog itu, biasanya wahabi suka jahil mengubah-ubah maksudnye (ane positif aje spy diskusinye jalan dan gak maki2) dan biasanya ahlul bait menuliskan beserta sanadnya, inikan gak ada. tapi ane cek dibuku2 klasik ane.
      Sekarang ane mau tanya, ente wahabi atau Aswaja atau partikelir?

  88. @ibnu suradi
    Ane perlu tanya itu perlu, apalagi kalau ente copas. ane pernah punya pengalaman di blog2 wahabi, setelah ane cek kok bunyinya lain dari yang sebenarnya, ane sih positif aja, ternyata ya memang salah.
    Apalagi ane sering beli buku2 yang ternyata isinya jauh banget dari kandungan sebenarnya, contoh buku judul Manhaj dan aqidah Imam syafi’i karangan Dr M Aqil dan masih banyak buku lain yang pernah ane beli, akhirnye buku2 itu ane belah dua.
    Apalagi ente kalau cuma copas, kudu hati-hati belajar.
    Ane setuju kalau meluruskan saf dan merapatkan barisan waktu jama’ah itu, tapi ane aneh kalau bahu ketemu bahu, kaki ketemu kaki. Nyusahin umat.
    Islam itu tidak pernah menyusahkan umatnya, contoh kalau gak punya makanan ya puasa, kalau gak bisa berdiri waktu shalat ya tiduran, bukan begitu!!. apalagi ini cuma adab shalat.

  89. Bismillaah.

    Kang Ucep,

    Hadits yang disampaikan Habib Sholeh saja, anda masih mempertanyakan. Apalagi hadits yang disampaikan oleh orang-orang yang anda sebut sebagai Wahabi.

    Anda ini tidak konsisten. Di satu waktu, anda mengatakan saya percaya guru saya menyampaikan ilmu yang dia miliki. Kini anda mempertanyakannya.

    Saya sudah jelas dengan tulisan Habib Sholeh. Kalau anda belum jelas, maka anda dapat menanyakan kepada Habib Sholeh atau guru anda atau Kang Syahid.

    Wallaahu a’lam.

  90. @ibnu suradi
    Ok kite ambil – Dari Anas bin Malik ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian, dekatkan jarak antaranya, dan sejajarkan bahu-bahu kalian! Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seperti anak kambing.” (HR: Abu Dawud, Ahmad dan lainnya)
    Disini gak ada kan kata merapatkan bahu dan merapatkan kaki. Dimana dalil yang mengatakan rapatkan bahu dan kaki?

    1. yg ini juga : “Dan dalam riwayat lafaz Imam Bukhari disebutkan pula;
      Dari Anas bin Malik ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf kalian! Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya.”

      Mohon rekan-2 ummati bisa tanggapi, mungkin Kang Suradi berpedoman pada ini…..

  91. Bismillaah.

    Kang Nasrulloh,

    Inilah tulisan habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Idrus:

    Di antara syari‘at yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya yang amat penting, namun tidak banyak diketahui, disadari dan dilaksanakan oleh umatnya adalah pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah.

    Barangsiapa yang melaksanakan syari‘at agama, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba‘ nya atau pengikutannya dan kecintaannya kepada Rasulullah SAW.

    Adapun hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah teramat banyak, hampir semua imam-imam hadist meriwayatkan hadist-hadist tersebut, antara lain hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
    Dari Jabir bin Samurah ra, Rosulullah keluar kepada kami lalu ia berkata: “Tidakkah kalian berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Tuhan mereka?” Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Tuhan mereka?” Beliau menjawab, “Mereka menyempurnakan shaf yang pertama kemudian shaf yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan.” (HR Muslim, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah).

    Dalam riwayat yang lain juga disebutkan :
    Dari Anas bin Malik ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian, dekatkan jarak antaranya, dan sejajarkan bahu-bahu kalian! Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seperti anak kambing.” (HR: Abu Dawud, Ahmad dan lainnya, dishohihkan oleh Imam Al-Albani)

    Sebagian ulama berkata bahwa hadits ini menjelaskan bahwa setan masuk dari celah-celah shaf yang tidak rapat, kemudian menghalangi antara seseorang dengan saudaranya dan menjauhkan antara keduanya, yang demikian itu akan membawa pada perselisihan di dalam hati-hati mereka.
    Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Nu‘man bin Basyir disebutkan:
    Dari Nu`man bin Basyir berkata, “Dahulu Rasullullah saw meluruskan shaf kami sehingga seakan meluruskan anak panah, sehingga beliau menganggap kami telah paham terhadap apa yang beliau perintahkan kepada kami sampai rapi, kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) lalu beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda; “Wahai para hamba Allah, sungguh ratakanlah shaf kalian atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian.” (HR: Muslim)

    Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin malik, ia mengatakan:
    Dari Anas bin Malik ra, ia mengatakan: “Telah dikumandangkan iqomat untuk sholat, lalu Rosulullah menghadap kepada kami lalu bersabda: “Luruskan dan rapatkan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku.” (HR. Bukhari dan Muslim dan lafaz ini dari Imam Muslim).

    Dan dalam riwayat lafaz Imam Bukhari disebutkan pula;
    Dari Anas bin Malik ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf kalian! Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya.”

    Rosulullah SAW pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf sahabat untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhir. Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah Umar bin Khaththab, Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus” maka Khalifah Umar pun bertakbir untuk memulai shalat berjamaah.

    Demikian juga hal ini dilakukan oleh Utsman bin Affan ketika menjadi khalifah, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf kaum muslimin, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus”, beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.
    Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah SAW dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.

    bahkan dalam konteks fiqih disebutkan barangsiapa yang tidak memperhatikan masalah shaf ini sehingga kadang kita melihat seseorang shalat sendirian di belakang shaf padahal di depannya ada tempat yang kosong, maka dia yang menyendiri dari shaf tersebut tidak mendapatkan fadhilah berjamaah. Sekalipun tadinya sudah niat berjamaah. Wallahu a`lam.

    Sumber: Website Madinatul Ilmi

    Wallaahu a’lam.

    1. Kang Suradi, terima kasih atas pencerahannya, smg pahala berlipat ganda utk Kang Sudari & keluarga, selanjutnya saya pribadi menunggu tambahan dari Mas Syahid atau rekan ummati lainnya, supaya ilmu kita bertambah banyak lagi…..

  92. Kang Syahid,

    Artikel Islami menulis:

    “dalam tulisan itu ga ada perintah nginjek kaki.
    dan kami dah jelaskan bhw merapatkan shaf itu kami terima, tak ada yg memperoloknya. yg diperolok adalah nyari2 kaki utk diinjek.”

    Komentar:

    Itulah contoh komentar yang menuduh orang yang mengajak merapatkan kaki sebagai orang yang menginjak kaki.

    Padahal, yang menginjak kaki itu justru orang yang menolak ajakan merapatkan shaf. Dia menghindar ketika diajak merapatkan kaki karena ketidaktahuannya. Karena kakinya terus dikejar, maka dia marah dan menginjak kaki orang yang mengejar. Ini yang sering terjadi. Bukan sebaliknya: orang yang mengajak merapatkan kaki, menginjak kaki orang diajak merapatkan kaki.

    Kami mengetahui dalil bahwa jarak kaki kanan dan kaki kiri seorang musholli tidak boleh melebihi lebar bahu. Makanya, tidak mungkin bagi kami untuk mengejar kaki terlalu berlebihan.

    Wallaahu a’lam.

  93. maka ketahuilah oleh kalian bhw ajaran wahhabi itu bathil. Jika mereka merayu kalian dg slogan ilmiyyah dan slogan2 ksg lainnya, katakan kpd mereka, ‘aku tak akan bergeming dr ahlus sunnah wal jama’ah, walau kau ajak aku mubahalah’

    1. Jahil. Pertama, karena hujjah kamu banyak yang nggak ilmiah, banyak plitirannya. Kedua, yang suka ngajak mubahalah itu kamu. AI ini tahu nggak sih mubahalah itu apa, kok gampang banget tiap orang yang gak sepaham langsung diajak mubahalah. Mungkin mubahalah ala AI itu berasal dari kata bahlul, karena itu saya tidak menanggapi ajakannya bermubahalah, biar dia bahlul sendiri 😆 😆 😆

      1. @abdullah
        Tunjukin dong yang ilmiah gimana!! Tulisan ente aja cuma cacian n makian . Gimane sih cara ilmiah menurut Wahabiyun ala @Abdullah.

  94. Kang Syahid,

    Saya masuk ke forum ini pertama-tama sebagai pengunjung pasif. Namun, setelah kawan-kawan memperolok-olok orang yag berusaha menjalankan perintah Rasulullaah untuk merapatkan shaf shalat berjamaah, berjenggot dan berpakaian di atas mata kaki, maka saya mulai berkomentar. Silahkan anda memeriksa komentar kawan-kawan anda tersebut.

    Hati saya tergerak untuk mengingatkan para pengolok-olok sunnah-sunnah yang mulia tersebut. Kalau mereka belum mengetahui dalilnya, mustinya mereka mencari tahu tentang masalah tersebut, bukan memperolok-olok pengamalnya.

    Tentang sunnah merapatkan shaf shalat berjamaah, lalu saya membawakan tulisan Habib Sholeh. Namun, mereka tetap saja menolak dengan hawa nafsunya dengan mengatakan: “tidak khusyu’, terganggu, dll.” Padahal, tulisan Habib Sholeh dengan jelas menerangkan masalah merapatkan shaf disertai dalil-dalil dari hadits yang sangat jelas pula.

    Saya melihat Kang Syahid mengetahui banyak tentang masalah agama Islam ini. Tolong sampaikan semua hadits tentang perintah Rasulullaah untuk merapatkan shaf shalat berjamaah dan cara para sahabat merapatkan shaf kepada mereka. Barangkali mereka mau menerima sunnah tersebut dengan lapang dada.

    Pertanyaan buat yang meminta didatangkannya dalil dari empat madzhab. Tidakkah cukup dalil yang disampaikan Habib Sholeh dalam tulisannya? Hadits-hadits yang disampaikan oleh Habib Sholeh saja anda tolak, apalagi dari saya.

    Wallaahu a’lam.

    1. Mungkin gini kali yah Kang Suradi, coba kang suradi tampilkan lagi isi dalil yg disampaikan Habib Sholeh, juga jawab dulu pertanyaan Mas Syahid, mungkin ada rekan ummati yg lupa atau blum tau sperti saya, nanti insya Alloh Mas Syahid bisa menjawab, kan jadi tambahan ilmu untuk kita-kita juga Kang, gimana Kang???

      1. dalam tulisan itu ga ada perintah nginjek kaki

        dan kami dah jelaskan bhw merapatkan shaf itu kami terima, tak ada yg memperoloknya

        yg diperolok adalah nyari2 kaki utk diinjek

        merapatkan barisan itu sunnah, tetapi mengganggu shalat orang yg kurang ilmu dg kakimu itu tdk diajarkan

        cukuplah kau rapatkan, jika ia menghindar, jangan kau kangkangkan kakimu hingga tambah renggang shafmu

        dan jangan jadikan ini parameter aqidah

        kalau kau mau berkata bhw aqidah kami sesat, nyatakan dg lantang, dan mari kita saling mendoa agar laknat Allah turun bg pihak yg mendukung aqidah sesat

    2. @ibnu suradi
      Begini aja, coba ente sebutkan dari dalil 4 mazhab atau 8 periwayat hadist atau asbabul wurudnya yang mengatakan bahwa rapatnya himpit2an dan atau rapat kaki ya?
      Ane setuju luruskan saf dan rapatkan barisan, tapi himpit2an dan rapatkan kaki ane belom ketemu itu hadist dimana? tolong sebutin ya, nti ane crosscheck sama buku2 ane ya!!!!!

  95. Seandainya Nabi menemui Wahhabi, maka Nabi akan memerangi mereka. Terhadap orang2 spt ini, ane ga takut mubahalah. Diskusi dg mereka jarang mempan.
    Syaikh Moqbel mati krna kanker lidah pun tak mrk jadikan pelajaran. Begitulah nasib dedengkot Wahhabi yg suka menghina para wali Allah.

    1. Syaikh Moqbel itu siapa kang? mungkin sedikit biografi nya buat nambah pengetahuan ane yg masih dangkal ini, juga yg lain tau kalo memang belum tau….

    2. Ustad @AI
      Masa sih ustad, ane pernah mimpi ketemu waliullah waktu umroh bln puasa kemarin tentang penyakit lidah diterangkan panjaaang lebar, kalau itu nyata masya Allah itu ternyata nyata ya, subhanalloh, innaka antallahu robbulalamin.

      1. na’am. Syaikh Moqbel itu salah satu dedengkot wahhabi yaman. Dia kena kanker lidah. Berobat ke amrik, tdk tertolong. Dan dia mati di amrik.

        1. Nauzubillah…..smg yg lainnya cepat tobat, jgn nunggu ampe kena azab dari Alloh SWT, sebutir pasirpun azab dari Alloh SWT pasti akan menyakitkan….

  96. ibnu suradi ngomongin Sholat terus nih , saya jadi pengen tahu Syarat dan Rukun Sholat menurut kaum wahabi , bisakan Ibnu suradi menyebutkan Syarat dan Rukun Sholat menurut kaum Wahabi………….?

    1. Alhamdulillah Mas Syahid muncul, smg tambah jelas nih urusannya, maaf Mas mau tanya lagi perihal sejarah Abdurahman bin wahab, terkait sejarahnya beliau membunuh org yg tidak sepaham dg nya, di kitab apa yah? saya ingat-2 pernah baca, tp lupa tp di judul diskusi yg mana yah Mas? mohon pencerahaanya, terima kasih sebelumnya.

      1. Dalam buku “Fathul Majid” karangan MAW buku tentang 3 Tauhid, ada tertera penghalalan darah. Tapi ane lupa dihalaman berapanya, nti malam atw besok coba ane lihat dibukunya mas.
        Kalau sejarahnya MAW di buku “Sejarah sekte salafi wahaby”.

        1. Kang Ucep terima kasih banyak, kalo org jepun bilang arigatoo gozaimashita hehehe, supaya buat tambah pengetahuan sejarahnya waktu saya nanti jelaskan kepada rekan-2 yg lain, terutama di kantor saya jug lagi sdikit rame ABG Wahabi mendekati yg belum paham, sbg penguat mrk yg belum terpengaruh spy ga ikut terpengaruh wahabi…nuhun sekali Kang ucep

  97. Kang Jonggol,

    Kalau anda merasa memiliki aqidah yang benar, mustinya anda mendukung orang yang menyampaikan hadits tentang perintah Rasulullaah untuk merapatkan shaf shalat berjamaah dan cara sahabat merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Anda pasti tahu firman Allah: “Katakanlah Wahai Muhammad kepada manusia: ‘Jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku.” Ayat ini mengandung masalah akidah terutama berkaitan kecintaan kita kepada Allah dan kewajiban mengikuti Rasulullah.

    Bila Rasulullaah memerintahkan kita untuk merapatkan shaf shalat berjamaah dan mengikuti cara sahabat dalam merapatkan shaf shalat berjamaah, maka kita tinggal menjalankan perintah tersebut. Itulah yang musti anda lakukan, bukan mengajak orang lain bersumpah. Kalau begitu caranya, tutup saja forum diskusi ini dan situs ini juga.

    Ucapan bahwa akidah yang benar akan membuahkan ibadah yang benar bukan mirip perkataan orang Nashoro, tapi mirip dengan firman Allah yang artinya kira-kira: “Kalimat thayibah itu bagaikan pohon yang besar. Akarnya menghujam ke bumi. Batangnya kokoh. Cabang-cabangnya kuat ditumbuhi daun-daun yang rindang dan buah-buah yang bermanfaat bagi manusia.” Mohon maaf bila ada kesalahan dalam menterjemahkan.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Begini aja, coba ente sebutkan dari dalil 4 mazhab atau 8 periwayat hadist atau asbabul wurudnya yang mengatakan bahwa rapatnya himpit2an dan atau rapat kaki ya?
      Tolong dong ente sebutin disini buat ane yah.

  98. @ibnu suradi
    Begini aja, coba ente sebutkan dari dalil 4 mazhab atau 8 periwayat hadist atau asbabul wurudnya yang mengatakan bahwa rapatnya himpit2an dan atau rapat kaki ya?

  99. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Rasulullaah shallallaahu a’alaihi wa sallam mengajarkan kita cara shalat termasuk shalat berjamaah dan merapatkan shaf shalat berjamaah itu tujuannya agar kita dapat melaksanakan shalat dengan benar. Nah, dari shalat yang benar tersebut, kekhusyu’an akan diperoleh. Mustahil, orang bisa khusyu’ bila shalatnya tidak benar sesuai yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullaah dan para sahabatnya.

    Rasulullaah mengajarkan merapatkan shaf shalat berjamaah itu pasti membawa kebaikan termasuk kekhusyu;an shalat berjamaah. Kalau shalat anda tidak khusyu’ bila merapatkan shaf shalat berjamaah, maka saya sarankan belajarlah menjalankan perintah Rasulullaah untuk meraih kekhusyu’an sejati.

    Kalau anda merasa khusyu’ dengan meninggalkan perintah merapatkan shaf shalat berjamaah, maka bisa jadi itu adalah kekhusyu’an palsu.

    Wallaahu a’lam.

    1. kalo antum shalat dg orang yg kurang ilmu, merpatkan kaki dapat mengganggu kekhusyuan

      sama seperti Anda menarik seseorang ke belakang utk menemani Anda berjama’ah. jika ia kurang ilmu, bisa2 batal shalatnya.

      kami tidak menolak sunnah ini
      tidak melakukan suatu sunnah bukan berarti menolaknya
      kami sudah terima sunnah ini

      yg perlu dipermasalahkan adalah orang yg menolak suatu ibadah sunnah.
      Anda boleh saja tidak melakukan yasinan, misalnya
      tetapi menolak yasinan sebagai ibadah, itu tidak bisa dibenarkan.

  100. @ibnu suradi
    Ente pilih mana Khusu’ (dengan tidak meninggalkan rukun shalat) atau pilih adab shalat dengan meninggalkan kekhusu’an?
    Biasanya seorang imam jika akan memulai shalat akan menoleh kebelakang “luruskan shaf dan rapatkan barisan”, tinggal makmumnya.
    “Banyak orang yang shalat tapi dia tidak mendapatkan apa2 kecuali lelah” bukannya begitu!!!. Kite selalu berjamaah, tapi yang didapat cuma lelah bagaimana?
    Coba deh ente ikut Jama’ah tablig, disitu ente belajar sunnah yang baik (cara kehidupan sahabat), cara berda’wah, makan-minum, berpakaian, shalat berjama’ah dll.

  101. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Saya sudah menyampaikan tulisan Habib Sholeh di thread ini. Dalam tulisan tersebut, Habib Sholeh mengutip hadits tentang rapatnya bahu dengan bahu dan kaki dengan kaki. Silahkan membaca tulisan Habib Sholeh tersebut, biar komentar anda relevan, tidak lagi mempersoalkan orang yang merapatkan kaki dengan kaki kawannya.

    Kang Jonggol,

    Anda mungkin bukan orang kampungan tapi anda menulis komentar dalam bahasa yang kampungan. Tidak jelas tata bahasa dan rasa bahasanya serta pemiliha katanya. Menyebut orang lain orang kampung saja mencerminkan sikap kampungannya.

    Anda musti berfikir jernih dalam menilai. Bagaimana anda menganggap remeh urusan shaf shalat berjamaah padahal Rasulullaah dan para sahabatnya sangat memperhatikan masalah ini? Mohon dibaca sekali lagi tulisan Habib Sholeh teruatam pada paragraf akhir. Bagaimana anda dapat memahami aqidah dengan benar bila anda meremehkan sunnah dalam merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Saya sampaikan sekali lagi bahwa aqidah yang benar akan membuahkan ibadah yang benar pula. Orang yang beraqidah benar akan merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. aqidah kami atau aqidah Anda yg benar?
      kalimat Anda ini mirip dg kalimat nashoro
      pohon yg baik dapat dilihat dari buahnya yg baik

      kalo Anda merasa bahwa aqidah Andalah yg benar dan aqidah kami ini sesat, mari kita saling berdoa agar Allah mela’nat orang yg aqidahnya bathil di antara kita.

      itu kalo Anda merasa yaqin bhw aqidah Anda benar. kalo Anda ga yaqin bhw aqidah Anda benar, sebaiknya mundurlah sebisa Anda dg berbagai alasan.

  102. @ibnu suradi
    Ane ambil dari ente ya :
    =” Keakraban hubungan silaturahim mereka membuahkan persatuan di antara mereka. Dengan mengamalkan hadits yang menyatakan bahwa Rasulullaah bersabda: “Luruskan dan rapatkan shaf kalian, jika tida maka Allah akan mencerai-beraikan hati-hati kalian.”, mereka tidak terpecah-belah. Ketika ada masalah, mereka dapat mengatasinya dengan merujuk pada Al Qur’an dan hadits, bukan pendapat pribadi sehingga perselisihan dalam memecahkan masalah dapat dicegah.=”
    Merapatkan bukan berarti harus himpit-himpitan ya atau tempel-tempelan kaki, sehingga mengganggu pihak lain. Sah2 aja jika bahu ketemu bahu, tapi kaki ketemu kaki bisa berantem, krn fokus kita hanya kepada / untuk Allah sementara kaki ada yang injak atau terjepit, fokus kita terpecah.

  103. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Sayang anda tidak ikut shalat Dhluhur di Masjid Imam Ahmad sehingga tidak mengetahui bagaimana rapatnya shaf shalat berjamaah mereka. Mereka tidak mengaku bahwa shalatnya paling benar, tapi hanya berusaha untuk shalat sesuai dengan yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berdasarkan hadits-hadits shahih.

    Mereka merapatkan shaf dengan menempelkan bahunya dengan bahu kawannya dan menempelkan mata kakinya dengan mata kaki kawannya karena mereka telah mendengar dan membaca haditsnya.

    Karena mereka sering menempelkan lengannya yang lembut dengan lengan kawannya yang lembut pula untuk melaksanakan hadits tentang perintah Rasulullaah untuk melembutkan lengan saat merapatkan shaf, maka hati mereka menjadi lembut. Hubungan silaturahim mereka terjalin akrab. Mereka sangat dekat satu sama lainnya.

    Keakraban hubungan silaturahim mereka membuahkan persatuan di antara mereka. Dengan mengamalkan hadits yang menyatakan bahwa Rasulullaah bersabda: “Luruskan dan rapatkan shaf kalian, jika tida maka Allah akan mencerai-beraikan hati-hati kalian.”, mereka tidak terpecah-belah. Ketika ada masalah, mereka dapat mengatasinya dengan merujuk pada Al Qur’an dan hadits, bukan pendapat pribadi sehingga perselisihan dalam memecahkan masalah dapat dicegah.

    Dari persatuan sejati tersebut, terbangun kekuatan yang besar di antara mereka. Kekuatan mereka bagaikan benteng kokoh yang tidak roboh meski terus digempur pasukan musuh. Musuh yang menggempur tersebut bagaikan orang yang membentur-benturkan kepalanya ke tembok batu yang keras. Bukan temboknya yang rusak, tapi kepalanya yang berdarah-darah akibat benturan ke tembok tersebut.

    Saya sarankan kepada kawan-kawan semuanya. Bila ingin mengajak umat Islam Indonesia bersatu, mulailah dengan merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah. Jika semua umat Islam mau merapatkan shaf seperti tersebut di atas, maka mereka akan memiliki hati yang lembut, menjadi bersatu dan kuat sehingga musuh Islam takut dan lari terbirit-birit.

    Wallaahu a’lam.

    1. ya elah nih orang
      kamfung banget sih
      aqidah ente urusin
      sesama salafy aja saling sikut
      ga ada bekasnya tuh rapetnya shaf shalat ente pade

  104. shalat mereka lbh hebat dr shalat kalian, puasa mereka lbh hebat dr puasa kalian, tilawah quran mereka lbh hbt dr tilawah kalian, mereka merasa sbg sebaik2 manusia, tapi siapa sangka jika mereka kluar dr agama dan menjadi anjing2 neraka

    1. Mari kita lihat. Orang2 yang sangat khusyuk sholat di kuburan, sholat raghoib, dll, siapa ya. Yang kuat puasa mutih 40 hari berturut-turut siapa ya. Yang tiap malam baca Waqiah, tiap jum7at baca yasin, hampir tiap saat apa2 dibacain fatihah, siapa ya? Yang suka zikir dengan koor, yang sama sahabat Ibnu Mas’ud ditentang keras siapa ya?

      1. ane menganggap bhw
        1. Membaca yasin tiap malam jum’at itu berpahala dan bukan bid’ah dholalah
        2. Dzikir berjama’ah itu bukan bid’ah bahkan dianjurkan dan tdk dicela oleh Abdullah bin Mas’ud.

        Jika Antum mengatakan 2 hal ini sbg bid’ah, maka mari kita saling berdoa kpd Allah agar menurunkan la’nat bagi pihak yg bathil dlm 2 hal ini.

        1. Ya begini ini kaum takfir, kalau nggak cocok dengan mereka, dianggap kafir lalu diajak mubahalah.

          Walaupun fadhilah baca Yaasin itu haditsnya dhoif, yang lebih kuat adalah baca Al-Kahfi, tidak ada yang menganggap bid’ah, ataupun kalau ada yang menganggap bid’ah, bukan termasuk bid’ah i’tiqadi yang membawa kepada kekafiran.

          1. jadi yasinan tiap malam jum’at bukan bid’ah menurut Anda?
            dan dzikir berjama’ah bukan bid’ah menurut Anda?

          2. segala ibadah yang dianggap bid’ah maka ibadah itu dianggap tertolak, tidak termasuk ibadah.
            Jika yasinan tiap malam jum’at dan dzikir berjama’ah dianggap bid’ah oleh seseorang, itu artinya orang tersebut menolak adanya ibadah sunnah berupa yasinan tiap malam jum’at dan dzikir berjama’ah.
            apa tanggapan Anda tentang orang yg meniadakan sebagian syari’at?

          3. walau sebagian hadits fadhilah yasin ada yg dha’if (dan lainnya ada yg hasan), tetapi ia tidak bisa ditolak begitu saja. siapa yg menolaknya berarti inkar sunnah.

            antum boleh saja tidak mengerjakannya, tetapi antum tidak boleh menolaknya. Menolaknya, maka antum inkar sunnah

          1. Abdullah @

            Sudah cukup Pak Dul, antum jika merasa membawa kebenaran jangan jadi pengecut. Jika merasa sebgai Orang beriman itu jangan pengecut. Jawab aja ajakan mubahalah dari Ustadz AI, kalau merasa benar kenapa atum grogi n bingung? Ana melihat sudah banyak orang2 yg kontra dg kebenaran seperti antum lenyap dari peredaran di dunia maya setelah melayani ajakan Ustadz AI. Silahkan antum menyusul mereka.

            Ana ingatkan, yang di bawakan Ustadz AI di atas adalah bagian dari Hadits Shohih, bahwa ciri-ciri anjing neraka adalah sholat n ibadah mereka lebih hebat dari mayoritas kaum muslimin dll. Itu adalah ucapan Nabi Saw. Jadi bagaimana antum memahami hadits tsb? Adakah kelompok FIRQAH selain Wahabi yg punya ciri2 seperti ucapan Nabi Saw tsb? Renungkanlah Pak Dul, semoga antum sadar setyelah mau merenungkannya.

          2. Masih kembali? Katanya sudah kapok? Sayangnya kamu kembali tapi masih tetap membawa kejahilan.

            Putri yang berani tapi jahil, tidak ada orang beriman yang demikian jahilnya berani mengatakan orang yang masih beriman itu kafir. AI si tukang kopas artikel kok dibilang ustadz, artikel yang diwebnya kalau ditanyai bingung dia. Begini ya Putri jahil, mubahalah hanya dilakukan dengan orang yang kafir atau yang jelas2 keluar dari ajaran agama Islam. Kalau AI menganggap saya kafir terus mengajak mubahalah, ya saya tidak menanggapi karena saya tidak menganggap AI kafir. Kalau AI mau ngotot melaknat saya, ya silahkan saja, toh dia sudah menganggap saya kafir, saya tidak akan balas melaknat. Karena kalau saya tidak kafir, laknat itu akan kembali kepada AI. Berani nggak AI melaknat saya?

            Sekarang gini aja Putri jahil, kalau Wahabi itu firqah sesat, kenapa Allah menyerahkan pengelolaan dua tanah haram kepada mereka, dan masih ditambah harta kekayaan minyak yang melimpah. Bayangkan kalau yang mengelola PBNU, bisa2 non-muslim bisa berkeliaran di masjidil haram, dengan alasan Ibrahim adalah bapak dari agama Islam, Yahudi dan Kristen, dan juga di jaman dulu orang2 musyrik thawaf di Ka’bah.

          3. @abdullah
            Kok aneh ente sih, bisa marah2 begitu, tenangin jiwa ente supaya sadar buat diskusi n diskusinya jadi mantab ya gak. Masalah masuk sorga atau masuk neraka bukan disini dah.
            Kalau ente gak mau diskusi ya udah go home aja.

          4. pendalilan ente yg g ilmiah dul. Ente menshahihkan wahhabiah dg dsr bhw pengelola Masjidil Haram dr kalangan wahhabi.
            Tp ente mengatakan hal yg kontra setelahnya dul. Ente sendiri yg bilang, ‘di jaman
            dulu orang2 musyrik thawaf di Ka’bah.’ dul, menurut ente, pengelola sblm dibangkitkan Nabi Muhammad itu dr kalang musyrik apa ahlut tauhid?

          5. kan antum yg sering menyebut orang lain sbg ahlunnar
            ahlul bid’ah = ahlun nar

            mengenai kenyataan bahwa kelompk antum itu adalah calon2 anjing2 neraka telah ada hadits2 yg merupakan hujjah utk menhadapi kelompok kalian.

            antum baru sekali disebut calon anjing neraka aja dah ky gitu.
            kelompk antum dah terhitung menyebut orang sbg ahlul bid’ah, musyrik, kafir

            so… siapa yg sering takfir kalo begitu?

  105. Kang Nasrulloh,

    Jika anda ingin melihat rapatnya shaf umat Islam yang anda sebut sebagai Wahabi, datanglah ke Masjid Imam Ahmad bin Hanbal di Tanah Baru, Cimapar, Bogor saat shalat Dhuhur pada hari Ahad pas ada kajian. Anda akan melihat para makmum merapatkan bahunya dengan bahu kawannya dan mata kakinya dengan mata kaki kawannya. Atau datanglah ke Masjid Walidain, Perumahan Pesona Cilebut, Bogor pada saat shalat Maghrib, Isya’ dan Subuh.

    Tentang apakah sudah pasti benar shalatnya atau tidak, perlu diketahui bahwa mereka terus belajar untuk shalat termasuk dalam merapatkan shaf shalat berjamaah sesuai dengan yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullaah dan para sahabatnya berdasarkan hadits shahih.

    Wallaahu a’lam.

    1. saya sih dah pernah lihat sekali di Masjid Imam ,yg dtang kbanyakan org2 sukses menurut saya, krn sebagian besar bermobil, pasti org2 kaya, waktu itu hari minggu pagi, sptnya ada Tausiyah, saya lihat sholatnya kusyu’ sekali, wkt itu pengen ikut jamaahnya tp krn asal fahamnya, sejarah fahamnya, bagaimana bangganya dlm kitabnya Abdurahman Wahab mengakui sendiri membunuh org yg tidak sepaham, bagaimana bencinya dia kpd sodaranya sendiri Syaikh Sulaiman, yg menjadi awal keraguan saya utk ikut jamaah wahabi…..

      1. Kalau orang yang sudah terbiasa menyebarkan cerita2 dusta seperti Nasrulloh ini, akan sangat ringan bagi dirinya untuk membuat cerita dusta. Hai pendusta, kamu sudah baca belum kitabnya Muhammad bin Abdulwahhab, apakah ada yang menyebutkan bangga membunuh orang yang tidak sepaham, benci kepada saudaranya Sulaiman, dan tuduhan2 dusta yang sering kamu bawa? Kalau tidak, kamu memang benar2 pendusta!

        1. kan saya bilang saya ralat kang & saya berani bilang mohon maaf telah salah menulis, maaf juga baru nongol, karena sibuknya berjihad di jalan Alloh SWT, yaitu jihad menafkahi keluarga lahir bathin….sedikit sejarah wahabi yg saya baca, karena kalo saya tanya langsung ke YBS spt : Abdurrahman bin Wahab, Ibnu Saud, Hempher kan sudah pada meninggal, jadi penulis di bawah saya anggap guru saya :

          SEJARAH WAHABI

          Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I?tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha?i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.
          Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama? besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa?iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi?i, menulis surat berisi nasehat: ?Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A?dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin?.
          Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : ?Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)
          Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama?ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.
          Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, ?Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?? Dengan segera dia menjawab, ?Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan? Lelaki itu bertanya lagi ?Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu person pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.? Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.
          Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar?iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.
          Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama? besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : ?Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.
          Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka?bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma?la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa?ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi?i yang sudah mapan.
          Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma?la (Mekkah), di Baqi? dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.
          Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.
          Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.
          ?Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,? katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, ?Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.?
          Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.
          Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid?ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.
          Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).
          Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur?an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid?ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid?ah? Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa?ud.
          Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: ?Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,? sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)
          ?Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur?an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).? (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
          Nabi SAW pernah berdo?a: ?Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,? Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo?a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: ?Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.?, Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.
          Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: ?Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid?ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian?. Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala?udz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: ?Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin?? AI-Hadits.
          BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab.
          Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama? mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: ?Ba daa halaakul khobiits? (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji) (Masun Said Alwy)

          Diambil dari rubrik Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th. III Sya?ban 1426 H / September 2005 M
          Wassalamu?alaikum wr wb

  106. Bismillaah,

    Kang Jonggol and the gang,

    Justru yang menginjak kaki itu orang yang menolak merapatkan shaf. Dia menghindar ketika diajak merapatkan kaki karena ketidaktahuannya. Karena kakinya terus dikejar, maka dia marah dan menginjak kaki orang yang mengejar. Ini yang sering terjadi. Bukan sebaliknya: orang yang mengajak merapatkan kaki, menginjak kaki orang diajak merapatkan kaki.

    Kalian sudah memutarbalikkan fakta. Coba perhatikan komentar orang-orang yang tidak senang merapatkan shaf di thread ini. maka anda akan mendapati komentar tentang orang yang menginjak kaki orang yang mengajak merapatkan shaf. Hal ini terjadi karena dia tidak pernah mendengar dan membaca hadits tentang merapatkan bahu dengan bahu dan kaki dengan kaki seperti yang disampaikan dalam tulisan Habib Sholeh.

    Wallaahu a’lam.

    1. sungguh luar biasa ilmu Kang Suradi ini….ane salut sama akang, smg tetap rendah hati, tidak sombong, tidak merasa benar, ane mau tanya lg kang, kan menurut penglihatan ente masjid-2 surau-2 jama’ah aswaja kan sholatnya tidak rapat, terutama kaki, apakah jama’ah wahabi pasti rapat? pasti sudah benar sholatnya ?? ane jd penasaran juga nih…..berarti ente melakukan studi banding, ane jg pengen tuh studi banding jg

  107. Katanya kite harus ikut Kehidupan Rasulullah ya gak!!, tapi kenapa rambut albani kok tidak gondrong ya, rambut Rasulullah panjang sekepalan (hampir sebahu).

    1. iya nih minta yg detil dong dalilnya, kalo sampe nginjek kaki, terus kalo shaf terlalu rapat, berhimpit-2an, sesak, waktu sujud susaaaah, bukankan jadi ga kusyu’ yah???

  108. Kutipan:

    “Dan orang yang tidak pernah mendengar dan membaca hadits tersebut, maka ia selalu menghindar bila diajak untuk merapatkan shaf shalat berjamaah. Karena kesal dikejar-kejar kakinya, akhirnya ia menginjak kaki orang yang mengejarnya. Orang seperti inilah yang selalu berteriak-teriak: “Shalat kok injak-injak kaki. Shalat kok berdesak-desakan. Nggak khusyu’. Nggak nyaman, dst.”

    Komentar:

    Orang semacam ini menjadi mayoritas dari umat Islam di Indonesia. Kalau mau dakwah, jangan muluk-muluk. Ajak mereka merapatkan shaf shalat berjamaah sesuai dengan yang diperintahkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan dicontohkan oleh para sahabatnya.

    Dakwah mengajak merapatkan shaf shalat berjamaah ini aman, jauh dari ikhtilaf karena para imam tidak berselisih tentang masalah merapatkan shaf shalat berjamaah. Baik orang NU, Muhammadiyah dan Salafi yang berilmu tidak menentang dakwah ini. Hanya orang-orang jahil saja yang menghujat dakwah ini.

    Wallaahu a’lam.

    1. yg menghujat siape ben?
      Ane setuju rapetin shaf. Tp ada ga dalilnya nginjek kaki?
      Rambut ente gondrong ky ane ga?
      Ente shalat lepas alas kaki atau pake alas kaki?

  109. Betul Kang Jonggol,

    Haditsnya memang seperti itu: bahu rapat dengan bahu dan kaki rapat dengan kaki. Orang yang memahami hadits ini tidak akan mengejar kaki kawannya secara berlebihan sehingga kerapatan bahunya dengan bahu kawannya tetap terjaga. Sedangkan, orang yang kurang memahami hadits tersebut akan mengejar kaki kawannya sampai jarak yang terlalu lebar sehingga tidak dapat menjaga kerapatan bahunya dengan bahu kawannya.

    Dan orang yang tidak pernah mendengar dan membaca hadits tersebut, maka ia selalu menghindar bila diajak untuk merapatkan shaf shalat berjamaah. Karena kesal dikejar-kejar kakinya, akhirnya ia menginjak kaki orang yang mengejarnya. Orang seperti inilah yang selalu berteriak-teriak: “Shalat kok injak-injak kaki. Shalat kok berdesak-desakan. Nggak khusyu’. Nggak nyaman, dst.”

    Saya berdoa semoga Allah memberikan hidayah dan kemampuan kepada kita semua untuk merapatkan shaf shalat berjamaah agar hati kita menjadi lembut. Kita menjadi akrab, bersatu dan kuat.

    Wallaahu a’lam.

  110. rapat bahu. Kaki saling rapat. Tetapi bukan berarti dikangkang hingga bahu tak menempel, apa lagi menginjak kaki orang lain. Merapatkan kaki itu sunnah. Menginjak kaki orang? Tdk ada dalilnya.
    O ya, apa al-Albani shalat dg mengenakan alas kaki seperti Rasulullah dan para shahabat?

  111. perkara merapatkan shaf kami, sesuai dg yg diajarkan guru kami, pastinya perkataan beliau sesuai ilmu yg dimiliki beliau….insya Alloh

  112. Bismillaah,

    Bagus kalau begitu. Kalau kalian benar-benar meresapi apa yang terkandung dalam tulis Habib Sholeh, maka kalian tidak akan lagi memperolok-olok orang yang menggerakkan kaki untuk melaksanakan sunnah merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Lihat hadits yang dibawakan Habib tentang menempelkan bahu dengan bahu dan menempelkan kaki dengan kaki untuk merapatkan shaf shalat berjamaah. Lihat hadits itu. Jangan hanya mengandalkan kata guru saya begini, begitu dan seterusnya.

    Wallaahu a’lam.

  113. Buat para pengolok orang yang melaksanakan sunnah merapatkan shaf shalat berjamaah, mungkin tulisan HabibSholeh bin Ahmad bin Salim Al Idrus berikut akan bermanfaat bagi mereka.

    Di antara syari‘at yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya yang amat penting, namun tidak banyak diketahui, disadari dan dilaksanakan oleh umatnya adalah pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah.

    Barangsiapa yang melaksanakan syari‘at agama, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba‘ nya atau pengikutannya dan kecintaannya kepada Rasulullah SAW.

    Adapun hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah teramat banyak, hampir semua imam-imam hadist meriwayatkan hadist-hadist tersebut, antara lain hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
    Dari Jabir bin Samurah ra, Rosulullah keluar kepada kami lalu ia berkata: “Tidakkah kalian berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Tuhan mereka?” Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Tuhan mereka?” Beliau menjawab, “Mereka menyempurnakan shaf yang pertama kemudian shaf yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan.” (HR Muslim, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah).

    Dalam riwayat yang lain juga disebutkan :
    Dari Anas bin Malik ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf-shaf kalian, dekatkan jarak antaranya, dan sejajarkan bahu-bahu kalian! Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seperti anak kambing.” (HR: Abu Dawud, Ahmad dan lainnya, dishohihkan oleh Imam Al-Albani)

    Sebagian ulama berkata bahwa hadits ini menjelaskan bahwa setan masuk dari celah-celah shaf yang tidak rapat, kemudian menghalangi antara seseorang dengan saudaranya dan menjauhkan antara keduanya, yang demikian itu akan membawa pada perselisihan di dalam hati-hati mereka.
    Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Nu‘man bin Basyir disebutkan:
    Dari Nu`man bin Basyir berkata, “Dahulu Rasullullah saw meluruskan shaf kami sehingga seakan meluruskan anak panah, sehingga beliau menganggap kami telah paham terhadap apa yang beliau perintahkan kepada kami sampai rapi, kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) lalu beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda; “Wahai para hamba Allah, sungguh ratakanlah shaf kalian atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian.” (HR: Muslim)

    Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin malik, ia mengatakan:
    Dari Anas bin Malik ra, ia mengatakan: “Telah dikumandangkan iqomat untuk sholat, lalu Rosulullah menghadap kepada kami lalu bersabda: “Luruskan dan rapatkan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku.” (HR. Bukhari dan Muslim dan lafaz ini dari Imam Muslim).

    Dan dalam riwayat lafaz Imam Bukhari disebutkan pula;
    Dari Anas bin Malik ra, Rosulullah bersabda: “Luruskan shaf kalian! Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya.”

    Rosulullah SAW pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf sahabat untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhir. Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah Umar bin Khaththab, Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus” maka Khalifah Umar pun bertakbir untuk memulai shalat berjamaah.

    Demikian juga hal ini dilakukan oleh Utsman bin Affan ketika menjadi khalifah, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf kaum muslimin, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus”, beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.
    Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah SAW dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.

    Bahkan dalam konteks fiqih disebutkan barangsiapa yang tidak memperhatikan masalah shaf ini sehingga kadang kita melihat seseorang shalat sendirian di belakang shaf padahal di depannya ada tempat yang kosong, maka dia yang menyendiri dari shaf tersebut tidak mendapatkan fadhilah berjamaah. Sekalipun tadinya sudah niat berjamaah. Wallahu a`lam.

    1. kami semua berusaha supaya sholat kami rapat shaf-nya, supaya sholat kami kusyu’ diterima Alloh SWT, supaya kami menjadi manusia yg baik, menjadi imam yg baik utk keluarga kami, berjihad kepada keluarga kami dg memberikan nafkah lahir bathin, kami berdo’a supaya tidak dijadikan pribadi yg radikal, tidak menjadi teroris yg merugikan semua orang…amiiiin

  114. Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki pun menggelarinya dengan sebutan “Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin” (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya Mafahim Yajib an-Tushahhah[1] halaman 202:”“Inilah dia Imam Tauhid dan kepala ahli tauhid mengatakan ucapannya yang benar dengan hikmahnya yang lurus yang karenanya dakwahnya tersebar di tengah-tengah manusia dan thariqatnya kesohor di kalangan orang khusus maupun orang kebanyakan.”

    seorang wahabi akan berkata kepada : “Tuh lihat, kerajaan Arab Saudi telah puluhan tahun mengatur Masjid Nabawi dan Al-Masjid Al-Haroom, serta kepengurusan haji dan Umroh, bukankah ini bukti bahwasanya Allah meridhoi kaum Wahabi?, dan Allah mengajarkan kepada umat Islam agar meneladani mereka??”, dan seorang wahabi yang lain berkata, “Tuh lihat bukankah kerajaan Saudi pusat wahabi dalam kondisi aman dan makmur, sementara Negara-negara lain seperti yaman –yang pusatnya kaum sufi dan tempat belajarnya para habib (diantaranya habib Munzir)- dalam kondisi kacau dan tidak aman, serta perekonomian terbelakang, bukankah ini adalah menunjukkan bahwa Allah mengajar umat Islam agar meneladani kerajaan Saudi pusat wahabi??”
    http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/198-pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-3

  115. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Makki, mereka bermadzhab Maliki, Beliau Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki menggelari Syech Muhammad bin abdul Wahab dengan sebutan “Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin” (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya Mafahim Yajib an-Tushahhah[1] halaman 202
    “Inilah dia Imam Tauhid dan kepala ahli tauhid mengatakan ucapannya yang benar dengan hikmahnya yang lurus yang karenanya dakwahnya tersebar di tengah-tengah manusia dan thariqatnya kesohor di kalangan orang khusus maupun orang kebanyakan.”

  116. Imam syafei :

    Ketika imam Syafi’I ditanya tentang makna ISTIWA dalam al-Quran beliau menjawab :

    “ ءامنت بلا تشبيه وصدقت بلا تمثيل واتهمت نفسي في الإدراك وأمسكت عن الخوض فيه كل الإمساك”

    ذكره الإمام أحمد الرفاعي في ( البرهان المؤيد) (ص 24) والإمام تقي الدين الحصني في (دفع شبه من شبه وتمرد ) (ص 18) وغيرهما كثير.

    “ Aku mengimani istiwa Allah tanpa memberi perumpamaan dan aku membenarkannya tanpa member permisalan, dan aku mengkhawatirkan nafsuku di dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam persoalan ini dengan sebenar-benarnya pencegahan “

    Ini telah disebutkan oleh imam Ahmad Ar-Rifa’i di dalam kitab “ Al-Burhan Al-Muayyad “ (Bukti yang kuat) halaman ; 24.

    Juga telah disebutkan oleh imam Taqiyyuddin Al-Hishni di dalam kitab Daf’u syibhi man syabbaha wa tamarroda halaman : 18. Di dalam kitab ini juga pada halaman ke 56 disebutkan bahwa imam Syafi’I berkata :

    ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله

    “ Aku beriman dengan apa yang datang dari Allah Swt atas menurut maksud Allah Swt, dan beriman dengan apa yang datang dari Rasulullah Saw menurut maksud Rasulullah Saw “.

    Syaikh Salamah Al-Azaami dan selainnya mengomentari ucapan imam syafi’I tsb :

    ومعناه لا على ما قد تذهب إليه الأوهام والظنون من المعاني الحسية والجسمية التي لا تجوز في حق الله تعالى.

    “ Maknanya adalah bukan seperti yang terlitas oleh pikiran dan persangkaan dari makna fisik dan jisim yang tidak boleh bagi haq Allah Swt “

    Di dalam kitab Ittihaafus saadatil muttaqin juz : 2 halaman ; 24, imam Syafi’I berkata :

    إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكانَ لا يجوز عليه التغييرُ في ذاته ولا التبديل في صفاته”

    “ Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tanpa tempat, lalu Allah menciptakan tempat sedangkan Allah masih atas sifat azaliyah-Nya sebagaimana wujud-Nya sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagi Allah perubahan di dalam Dzat-Nya dan juga pergantian di dalam sifat-sifat-Nya “.

    Di dalam kitab Syarh Al-Fiqhu Al-Akbar halaman : 52, imam Syafi’I berkata yang merupakan keseluruhan pendapat beliau tentang Tauhid :

    من انتهض لمعرفة مدبره فانتهى إلى موجود ينتهي إليه فكره فهو مشبه وإن اطمأن إلى العدم الصرف فهو معطل وإن اطمأن لموجود واعترف بالعجز عن إدراكه فهو موحد

    “ Barangsiapa yang bergerak untuk mengetahui Allah Sang Maha Pengatur-Nya hingga pikirannya sampai pada hal yang wujud, maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dgn makhluq). Dan jika ia merasa tenang dengan suatu hal yang tiada, maka ia adalah mu’aththil (meniadakan sifat Allah Swt). Dan jika ia merasa tenang pada kewujudan Allah Swt dan mengakui ketidak mampuan untuk memahaminya, maka ia adalah muwahhid (orang yang mengesakan Allah Swt) “.

    dan ini :

    إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)
    “Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak –secara mendetail– membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam– adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13). kitab karyanya; al-Fiqh al-Akbar[selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi’i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar]

    1. Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki pun menggelarinya dengan sebutan “Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin” (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya Mafahim Yajib an-Tushahhah[1] halaman 202:“Inilah dia Imam Tauhid dan kepala ahli tauhid mengatakan ucapannya yang benar dengan hikmahnya yang lurus yang karenanya dakwahnya tersebar di tengah-tengah manusia dan thariqatnya kesohor di kalangan orang khusus maupun orang kebanyakan.”

      seoerang wahabi berkata : “Tuh lihat, kerajaan Arab Saudi telah puluhan tahun mengatur Masjid Nabawi dan Al-Masjid Al-Haroom, serta kepengurusan haji dan Umroh, bukankah ini bukti bahwasanya Allah meridhoi kaum Wahabi?, dan Allah mengajarkan kepada umat Islam agar meneladani mereka??”, dan seorang wahabi yang lain berkata, “Tuh lihat bukankah kerajaan Saudi pusat wahabi dalam kondisi aman dan makmur, sementara Negara-negara lain seperti yaman –yang pusatnya kaum sufi dan tempat belajarnya para habib (diantaranya habib Munzir)- dalam kondisi kacau dan tidak aman, serta perekonomian terbelakang, bukankah ini adalah menunjukkan bahwa Allah mengajar umat Islam agar meneladani kerajaan Saudi pusat wahabi??”

      http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/198-pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-3

  117. Mulla ‘Ali al-Qari (w. 1014 h. / 1606; Mekah), seorang faqih Hanafi, seorang Muhaddith, seorang ahli dalam bahasa, mutakallim, dan penulis produktif teks-teks Islam penting termasuk komentar pada karya Abu Hanifah, al-Fiqh al-Akbar, yang bekerja dengan keyakinan, dan mengomentari di bab 10 pada kompilasi Hadis Mishkat Al-Masabih.

    Mengomentari hadist dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam “Dimanakah Allāh” ? dalam hadits al-Jariyah, ia menulis:

    ” Dalam versi lain dari hadits yang sama ada kata-kata ini: “Di mana Tuhanmu?” Ini berarti bahwa di mana adalah tempat keputusan-Nya, dan peraturan-Nya, dan tempat kekuasaan-Nya dan kekuasaan diwujudkan. {Dia berkata: “Di langit.”} Al-Qadhi [‘Iyad] berkata: “Artinya adalah bahwa perintah-Nya dan larangan-Nya datang dari arah langit. Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak bermaksud menanyakan tentang keberadaan Allāh, karena Dia tidak dibatasi tempat, sama seperti Dia tidak dibatasi waktu. Sebaliknya, Nabi sallallahu alaihi wa sallam bermaksud untuk mengetahui dengan pertanyaannya apakah ia seorang beriman yang menyatakan keesaan Allāh (muwaḥḥidah), atau apakah ia seorang pagan (musyrikin) karena orang-orang Arab menyembah berhala-berhala. Setiap suku diantara mereka memiliki berhala khusus, yang disembah dan dihormati. Mungkin beberapa orang mereka bodoh dan dungu tidak mengakui tuhan apapun, karena itu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam ingin memastikan apa yang disembah. Jadi, ketika dia berkata “di langit,” atau, seperti dalam versi lain, dia menunjuk ke langit, dia sallallahu alaihi wa sallam mengerti bahwa dia adalah seorang monoteis menyatakan keesaan Allāh. Dengan kata lain, ia ingin menolak para dewa di bumi, yaitu berhala-berhala. Dia tidak bermaksud mengatakan bahwa Dia menempati tempat di langit, ditiadakan atas Allāh dari prasangka yang melampui batas dan durhaka kepadaNya dengan kesombongan mereka. Selain itu, Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah diperintahkan untuk berbicara kepada orang-orang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka, dan membimbing mereka untuk kebenaran dengan cara yang tepat untuk pemahaman mereka. Jadi, ketika Nabi sallallahu alaihi wa sallam menemukan bahwa dia percaya bahwa yang layak untuk disembah adalah Allah yang mewujudkan kehendak-Nya dari langit ke bumi, bukan para dewa yang disembah orang-orang kafir, dia cukup puas dengannya, dan dia sallallahu alaihi wa sallam tidak hanya bertanggung jawab dengan tauhid belaka -prinsip transendensi (haqiqat al-tanzīh). Beberapa [dari ulama ‘] telah mengatakan bahwa artinya adalah bahwa Nya peraturan dan larangan, rahmat-Nya dan wahyu berasal dari langit. Dalam hal ini, hadits ini mirip [dalam implikasinya] untuk firman-Nya sallallahu alaihi wa sallam: “Apakah kamu merasa aman dari-Nya yang di langit …?” Selain itu, dalam beberapa lainnya [otentik] versi hadits ini yang datang bahwa gadis itu bisu, dan menjadi alasan [Imam] Al-Syafi’i [d. 204 / 820; Kairo] diizinkan membebaskan budak jika ia bisu. Dalam hal demikian, kata-kata dalam hadits “kata Dia,” Di langit. ‘”Berarti bahwa dia menunjuk ke langit [karena ia tidak bisa berbicara jelas, dan ini hanya apa yang telah datang dalam versi lain yang menegaskan hadits : “. Dia menunjuk ke langit”]

    saya terjemahkan dari versi bahasa inggris.

    semoga bermanfaat.

  118. Buat yg belum tau ..

    Tau Arti WAHABI ga?…jangan asal sebut… ini cuma istilah dan propoganda barat…Syech Muhammad bin Wahab…sendiri ga nyebut dia itu wahabi…dia tulen Ahlusunnah waljamaah… baca buku-buku karangannya…isinya sunnah all…

    Syech Muhammad Nasaruddin Al Albani…Buku-bukunya sunnah all….

    baca bukunya pahami dalilnya baru Comment…. pengikut Sunnah ato pengikut hawa nafsu…
    jangan Taklid buta…menghujat Orang tapi ga kenal…lucu kaya orang bodoh…

    Naka:
    Firanda Berkata:
    Beliau (Ad Darimi) berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini…….”

    Ngambil akidah dari orang kafir dan anak-anak, dengan alasan fitrah. Kenapa tidak dari hewan sekalian sebagaimana yang dilakukan Ibnu Qayyim dalam Ijtima’ Al Juyus (hal. 297)? Yang juga mengambil akidah dari sapi. Dan itu dinilai sebagai fitrah, hingga patut ambil akidah dari hewan-hewan itu bahwa Allah bertempat di langit.

    Tentu hal itu ditopang dengan dalil yang dinisbatkan kepada Rasulullah bahwa beliau menyatakan,”Hormatilah sapi, sesungguhnya ia adalah tuan dari para hewan yang tidak pernah mengangkat anggota tubuhnya ke langit karena malu kepada Allah.”

    Namun sayang dalil itu maudhu menurut Ibnu Al Jauzi (Al Maudhuat, 3/3).

    Selain dari sapi, Ibnu Qayyim juga ambil akidah dari himar, berdalil dengan kisah bahwa seekor khimar liar mengangkat mulutnya ke langit ketika haus, hingga akhirnya hujan turun.

    Dari kisah yang sama sekali bukan hadits atau atsar ini Ibnu Qayyim menyimpulkan bahwa Allah bertempat di langit.

    1. antum tau ahlus sunnah wal jama’ah ga?
      Baca kitab2nya Imam Nawawi, Imam ibnu Hajar al-‘Asqolani, mereka itu bermadzhab syafi’i, mereka ahlus sunnah
      Baca kitabnya Qadhi ‘Iyyadh, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Makki, mereka bermadzhab Maliki, mereka ahlus sunnah

  119. Kang Abah Asro,

    Saya sudah menyampaikan hadits Nu’man bin Basyir tentang dalil merapatkan mata kaki dengan mata kaki dalam shaf shalat berjamaah tapi anda tidak mau memperhatikannya. Makanya, anda ngotot bahwa yang rapat hanya bahu dengan bahu.

    Mohon anda agak berusaha sedikit untuk mencari tahu tentang hadits tersebut.

    Wallaahu a’lam.

  120. Firanda Berkata:
    Beliau (Ad Darimi) berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini…….”

    Ngambil akidah dari orang kafir dan anak-anak, dengan alasan fitrah. Kenapa tidak dari hewan sekalian sebagaimana yang dilakukan Ibnu Qayyim dalam Ijtima’ Al Juyus (hal. 297)? Yang juga mengambil akidah dari sapi. Dan itu dinilai sebagai fitrah, hingga patut ambil akidah dari hewan-hewan itu bahwa Allah bertempat di langit.

    Tentu hal itu ditopang dengan dalil yang dinisbatkan kepada Rasulullah bahwa beliau menyatakan,”Hormatilah sapi, sesungguhnya ia adalah tuan dari para hewan yang tidak pernah mengangkat anggota tubuhnya ke langit karena malu kepada Allah.”

    Namun sayang dalil itu maudhu menurut Ibnu Al Jauzi (Al Maudhuat, 3/3).

    Selain dari sapi, Ibnu Qayyim juga ambil akidah dari himar, berdalil dengan kisah bahwa seekor khimar liar mengangkat mulutnya ke langit ketika haus, hingga akhirnya hujan turun.

    Dari kisah yang sama sekali bukan hadits atau atsar ini Ibnu Qayyim menyimpulkan bahwa Allah bertempat di langit.

    1. Hi hi hi… manteb Mas Naka, maju terus jangan bosen berdakwah kepd kaum sesat agar mereka dapat hidayah-NYA. Phalanya besar lho kalau tulisan kita menjadi sebab turunnya hidayah kepada kaum sesat, bukankah begitu? ➡

      Mari luruskan niat kita berdakwah mengoreksi paham-paham sesat, dg terus berpegang pada kebenaran petunjuk Alah dan Rasul-NYA.

  121. Firanda Berkata:
    Beliau (Ad Darimi) berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini…….”

    Ngambil akidah dari orang kafir dan anak-anak, dengan alasan fitrah. Kenapa tidak dari hewan sekalian sebagaimana yang dilakukan Ibnu Qayyim dalam Ijtima’ Al Juyus? Yang juga mengambil akidah dari sapi. Dan itu dinilai sebagai fitrah, hingga patut ambil akidah dari hewan-hewan itu bahwa Allah bertempat di langit.

    Tentu hal itu ditopang dengan dalil yang dinisbatkan kepada Rasulullah bahwa beliau menyatakan,”Hormatilah sapi, sesungguhnya ia adalah tuan dari para hewan yang tidak pernah mengangkat anggota tubuhnya ke langit karena malu kepada Allah.”

    Namun sayang dalil itu maudhu menurut Ibnu Al Jauzi (Al Maudhuat, 3/3).

    Selain dari sapi, Ibnu Qayyim juga ambil akidah dari himar, berdalil dengan kisah bahwa seekor khimar liar mengangkat mulutnya ke langit ketika haus, hingga akhirnya hujan turun.

    Dari kisah yang sama sekali bukan hadits atau atsar ini Ibnu Qayyim menyimpulkan bahwa Allah bertempat di langit.

  122. abah asra:
    Sebenarnya membahas pemahaman firanda, tapi karena ibnu suradi selalu menyalahkan cara shalat orang lain dan merasa cara shalat pengikut wahabi laknatuLLAH yang paling benar maka perlu ditanggapi.

    Tapi shalat di masjidnya ASWAJA tetep aja kagak bisa lurus… gak kompak…

    1. @ pokemonduri
      Memang yang lurus harus kakinya ditempel kiri-kanan jamaah, jadinya ngangkang lebar2 kayak kuda2 pencak silat (se-olah2 mau nantang tuhan) padahal kalo kakinya agak dirapatkan lagi diantara kaki yg ngangkang itu masih bisa ditambah lagi jamaahnya, belum lagi sedekapnya dibawah dagu sambil ngelus-elus jenggot, telunjuk digerakkan terus menerus kayak orang sakit parkinson.
      Apa memang begitu cara shalat Nabi ? atau cara shalat yang sudah dimodifikasi oleh Al Bani panutan kaum wahabi.
      motor atau mobil kalo dimodifikasi malah bagus tapi ini shalat yang dimodifikasi ditambah celananya cingkrang ……ha ha ha 3x lucu ni ye kayak jojon lagi ngelawak.

  123. Nasrulloh:
    kok tuduhan ga bermutu kang ??? baca dong berita, pengajian or gurunya siapa, kan bisa tau faham yg mereka anut apa !!! iya kan ???kan sudah ada buktinya loh, terus kalo dukun & penyembah tempat angker itu aswaja, ada buktinya??? bisa aja mereka atheis, faham animisme dinamisme, aliran kepercayaan, bicara pake bukti boss…..

    Emang bener… coba aja liat .. ASWAJA mosok minta2 sama mayat di kuburan…

    1. Sepertine antum pakai kacamata gelap sehingga orang2 yg sedang ziarah kubur (sunnah Nabi Saw) , di mata antum kelihatan seperti minta2 pada mayat di kuburan. Sekali-kali antm tak usah pakai kaca mata, tapi lihat langsung dar dekat, atau kalau perlu antum ikut berziarah bersama mereka biar dapat pahala Sunnah.

      Antum kok berani sekali ngatain Sunnah Nabi Saw sebagai minta2 pada mayat? Antum gak takut dosa ya? 🙄

      1. Berarti sanad bid’ah minta2 ke orang mati belum sampe ke kamu 😆

        meminta pada para wali Allah swt tidak syirik, apakah ia masih hidup atau telah wafat, karena kita tak meminta pada diri orang itu, kita meminta padanya karena keshalihannya, karena ia ulama, karena ia orang yg dicintai Allah maka hal ini tidak terlarang dalam syariah dg dalil yg jelas. (Silahkan lihat di http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=25356&catid=7)

        1. Abdullah@

          Pak Abdullah, bukankah dalam link yg antum kasih itu dijelaskan dg sangat jelas, kenapa antum TELMI n gak bisa mikir Pak? Af1ya, dibaca tuntas dong, jangan cuma bisa kasih link tapi tak dibaca tuntas terlebih dulu.

          Kalau baca link yg jelas n gamblang itu masih jg tak paham, berarti antum benar2 oarng yg titik-titik deh Pak Abdul?

  124. terus terang saja, …..ini mbahas bukunya mbah Albani apa mbahas pemahaman mas firanda, sich… ❓ mas admin, para komentator kayaknya dah pada mulai OOT nich.

    1. Sebenarnya membahas pemahaman firanda, tapi karena ibnu suradi selalu menyalahkan cara shalat orang lain dan merasa cara shalat pengikut wahabi laknatuLLAH yang paling benar maka perlu ditanggapi.

  125. @All aswaja
    Ibnu suradi jangan diladeni, die ngeyel dan dia pasti bilang Shalatnya paling bener, paling khusu’.
    Ketahui aswaja, setiap imam masjid sebelum shalat pasti akan menoleh kebelakang dan berkata luruskan shaf dan rapatkan barisan.
    Jadi ibnu suradi tidak pernah shalat dimasjid.
    Sudah akhiri saja dengan ibnu suradi, tidak ada manfaat yang didapat, Allah akan menilai setiap huruf yang kita tuliskan disini dan siap menerima ganjaran pahala dan siap juga menerima ganjaran dosa jika salah, Allah Maha Tahu.
    InsyaAllah dengan adanya blog ini, kita mendapatkan sedikit ilmu dan pencerahan jiwa yang masih tertutup hijab. Insya Allah.

  126. Afwan ane mo nanggapin komeng mas Ibnu suradi :

    Ibnu Suradi:
    Bismillaah,

    Saya sudah mengingatkan kepada anda semua untuk tidak memperolok-olok orang yang berusaha untuk merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah. Selebihnya, terserah anda sekalian apakah anda terus atau berhenti memperolok-oloknya.

    Kami ini bukan memperolok Hadits ttg “merapatkan shaf dlm shalat” tp yg kami bahas tata cara golongan antum dlm merapatkan shaf, yg sering menginjak kaki orang disebelahnya…(apakah begitu tafsir Haditsnya…???)

    Ibnu Suradi:

    Sepertinya, anda semuanya tidak pernah membaca hadits-hadits tentang merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah. Atau guru-guru anda tidak pernah menyampaikan hadits-hadits tersebut. Maka, pantas saja bilaanda semua merasa risih, tidak nyaman dan jengah bila diajak merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Guru2 kami jelas mengajarkan untuk merapatkan shaf dalam shalat, tapi tidak saling injak seperti yg guru2 antum ajarkan.

    Ibnu Suradi:

    Yang lebih aneh lagi ada yang berkata: “Saya menjadi tidak khusyu’ bila diajak merapatkan shaf shalat berjamaah.” Bagaimana mungkin umat Rasulullaah merasa tidak khusyu’ bila melaksanakan sunnah Rasulullaah tapi merasa khusyu’ bila melaksanakan sunnah orang.
    Wallaahu a’lam.

    Yah kalo caranya injak menginjak kaki, gimana mo khusyu’…???

    Ibnu Suradi:

    Saya jadi penasaran ingin melihat keadaan shaf shalat berjamaah anda semua. Saya bisa melihatnya di masjid mana, ya? Sesekali saya ingin shalat berjamaah di masjid anda semua agar saya dapat melihat dengan keadaan shaf shalat berjamaah anda semua.

    Silahkan mas datang ke Masjid Al Hawi di Condet terutama pada malam ke 23 Ramadhan. Shaf disana bukan rapat lagi mas, tapi sesak dan sempit sampai susah untuk duduk tahiyat akhir.

    Ibnu Suradi:

    Berdasarkan hadits-hadits shahih, saya mengetahui keadaan shalat berjamaah Ahlul Sunnah wal Jamaah yang rapat dan lurus, sangat berbeda dari shaf shalat berjamaah ASWAJA yang berantakan, tidak rapat dan tidak lurus.

    Wallaahu a’lam.

    Ahlussunnah wal Jama’ah dan ASWAJA apa bedanya mas…gak usah ganti nama deh, biar diganti2 pake Salafi apalagi Ahlussunnah wal Jama’ah tetep aja antum WAHABI…iya kagak…??? 😆 😆 😆

    1. Benar Bang Nur, Musang tetap musang meskipun berbulu domba, wahabi tetap wahabi meskipun me-ngaku2 Salafy atau Ahlu Sunnah wal Jamaah tapi palsu. yang asli pasti selau dicari dan diminati.

  127. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Saya mulai berkomentar di thread ini setelah melihat komentar yang memperolok-olok orang yang berusaha sekuat tenaga untuk merapatkan dan meluruskan shaf yang merupakan perintah Rasulullaah. Sebelumnya, saya pengunjung pasif, hanya mengamati saja karena bahasanannya adalah masalah akidah yang sangat berat bagiku. Namun begitu sunnah dan orang yang melaksanakan sunnah merapatkan shaf shalat berjamaah diolok-olok, maka saya mencoba untuk memberikan komentar peringatan kepada pengolok-olok tersebut.

    Wallaahu a’lam.

  128. penjelasan yg logis dari kang suradi apa nih ???

    Nasrulloh:
    waiting for the answer….kalo menurut saya sih….semua kembali ke pribadi masing-2 juga, kalo ternyata mereka lupa or tidak menuruti apa yg telah diajarkan bagaimana? tidak semua sholatnya jama’ah ASWAJA itu salah & tidak rapat, tidak semua sholatnya SAWAH benar meski rapat, ini menurut saya yah yg masih dangkal ilmunya, tetapi kenapa para teroris yg beraksi di tanah air itu berfaham Sawah? tanyakan kenapa ? kan mereka pastinya sholatnya dg shaf yg rapat spt yg mereka terima…ada penjelasan yg masuk akal ????

  129. Bismillaah,

    Mamo menulis:

    “…..Rapat shaf menurut ana bukan nempelnya kaki,,,,…… gimana nggak mengganggu mending kalau nempel doang nginjek juga jadinya ………silahkan mau merapatkan namun jangan ngganggu jamaah lainya …”

    Komentar:

    Coba simak hadits Nu’man bin Bashir riwayat Abu Dawud. Maka anda akan mendapatkan bahwa merapatkan shaf tidak hanya rapat bahu dengan bahu tapi juga rapat mata kaki dengan mata kaki.

    Jangankan merapatkan mata kaki dengan mata kaki, merapatkan bahu dengana bahu saja, anda dan kawan-kawan belum tentu mampu. Ini yang saya temukan di masjid-masjid dan surau-surau di Indonesia.

    Wallaahu a’lam.

    1. waiting for the answer….kalo menurut saya sih….semua kembali ke pribadi masing-2 juga, kalo ternyata mereka lupa or tidak menuruti apa yg telah diajarkan bagaimana? tidak semua sholatnya jama’ah ASWAJA itu salah & tidak rapat, tidak semua sholatnya SAWAH benar meski rapat, ini menurut saya yah yg masih dangkal ilmunya, tetapi kenapa para teroris yg beraksi di tanah air itu berfaham Sawah? tanyakan kenapa ? kan mereka pastinya sholatnya dg shaf yg rapat spt yg mereka terima…ada penjelasan yg masuk akal ????

      1. Mau diulangi lagi tuduhan gak mutu ini? Kalau kamu tanya kenapa semua teroris sawah, jawabannya sama dengan jawaban pertanyaan kenapa semua dukun dan penyembah tempat angker itu aswaja.

        1. kok tuduhan ga bermutu kang ??? baca dong berita, pengajian or gurunya siapa, kan bisa tau faham yg mereka anut apa !!! iya kan ???kan sudah ada buktinya loh, terus kalo dukun & penyembah tempat angker itu aswaja, ada buktinya??? bisa aja mereka atheis, faham animisme dinamisme, aliran kepercayaan, bicara pake bukti boss…..

        2. untuk dukun & penyembah tempat angker itu, berdosa & kerugian dia pribadi kan yah??? kalo para teroris itu berdosa untuk dia sendiri tapi kerugian untuk banyak orang, berlipat-2 berarti dosanya yah?? misal yg meninggal org yg ga berdosa….gimana kang Abdullah ??? haw nafsu aja sih di otak ente….

        3. Bismillaah

          Akh Abdullah,

          Itulah bedanya antara Ahlul Sunnah wal Jamaah dan ASWAJA. Ahlul Sunnah wal Jamaah selalu berusaha istiqomah melaksanakan perintah Rasulullah untuk merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah. Sedangkan, dalam ASWAJA, banyaka yang menolak perintah tersebut dengan alasan: “Shalat kok injak-injak kaki. Shalat kok berdesak-desakan. Nggak nyaman. Dll.”

          Wallaahu a’lam.

          1. bedanya ASWAJA dg ahlul sunnah wal jamah ga ada bedanya kang, artinya sama, kalo dg SALAFY WAHABI ada bedanya, lihat aja tulisannya beda, ga usah malu mengaku Wahabi kan yah? faham ente yg buat kan ente tau sendiri, anda merasa paling benar? dan perbedaan terbesar adalah faham ente itu yg penuh pertumpahan darah dari dulu ampe skrg, bermesra2 dg AS/Yahudi, lihat sendiri kan Saudi yg dikelilingi ulama2 wAhabi begitu mendewakan AS , kok ulama Wahabi diem aja, eh tanya knPa????

      2. Kang Nasrulloh,

        Merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah itu perintah Rasulullaah. Siapapun – baik Wahabi maupun ASWAJA – harus melaksanakan perintah itu, kalau ia masih mau disebut ummat Rasulullaah. Adakah ummat Rasulullaah yang membangkang perintah Rasulullaah tersebut? Ada. Mereka ada di banyak masjid dan surau.

        Bahkan, di situs ini ada juga yang memperolok-olok orang yang istiqomah melaksanakan perintah tersebut dari awal hingga akhir shalat berjamaah dengan mengatakan: “Shalat kok injak-injakan kaki. Shalat kok berdesak-desakan kaya kurang tempat saja. Nggak nyaman, nih!”

        Wallaahu a’lam.

        1. menurut anda banyak yg disitus ini memperolok, bukankan dari SAWAH juga banyak yg menghina & memperolok-2 kan yah ??? coba baca lagi komen-2 dari ke-2 pihak…..jgn merasa benar sendiri

  130. Ooooh baru ngaku yah Kang Suradi dari SAWAH !!! tapi kok pertanyaan ane lom di jawab ??? juga ane tanya : Berarti sholat nya jama’ah SAWAH itu yg paling rapat & paling benar sholatnya ??? coba Kang Suradi jawab doooongggg, kalo merapatkan kaki wajib bukannya merapatkan lengan, ada di hadits or ayat Qur’an yg mana diterangkannya ??? jangan bertele-2 yah Kang, supaya kita semua tahu niiihhh 💡

    Nasrulloh:
    berarti rapat yg nyaman itu sesuai rapat bahu kanan kiri or kaki kanan kiri? kan kalo nyaman kalo masih ada sedikit space diantara jama’ah, supaya waktu sujud dll juga nyaman, kalo rapat sekali, baik kaki& badan, waktu sujud jadi ga nyaman, naaah yg detil dong kang, maklum nih ane bener-2 dangkal ilmunya

  131. ibnu @ silahkan dgn keyakinan nt ana kan hanya nggak mau ke ganggu dgnkeyakinan group nt silahkan nempel ama yang se keyakinan ……rapat shaf menurut ana bukan nempelnya kaki,,,,…… gimana nggak mengganggu mending kalau nempel doang nginjek juga jadinya ………silahkan mau merapatkan namun jangan ngganggu jamaah lainya … :mrgreen:

  132. @ibnu suradi
    Mas ane kisahkan riwayat ya.
    1. Abu bakar ra,- Pada suatu hari Rasulullah mencari Abu bakar, kemana abu bakar ? bertanya Rasulullah kepada para Sahabat, biar Abu bakar menjadi Imam shalat.
    Para sahabat berkata : Ya Rasulullah janganlah Abu bakar ikut berjamaah dengan kami.
    Rasulullah bertanya : Kenapa ?
    Sahabat berkata : Jika Abu bakar ikut berjamaah dengan kami, kami terganggu karena tangisnya dia, dari takbir awal sampai akhir shalat, sehingga shalat kami terganggu dan tidak khusu’
    Maka Abu bakar membuat mushola disamping rumahnya dan abu bakar shalat sendiri, tidak pernah berjamaah lagi.
    2. Abdurahman bin Auf pernah memimpin shalat, saat itu terjadi gempa sehingga meruntuhkan bangunan masjid. Setelah dia salam ternyata makmunnya tidak ada satupun.
    3. Uais Al Qarni.
    Suatu saat hendak berperang Rasulullah berkata kepada Umar dan Ali, Rasulullah berkata :
    Hai Umar, hai Ali pergilah kamu ke daerah Qarn temui seseorang yang bernama Uais dengan ciri2 ini itu (panjang Rasulullah menjelaskan ciri2 orang ini), setelah kamu berdua bertemu mintalah doa darinya, maka berdua berangkat mencari. Sesampainya di daerah Qarn, ditanyai setiap warga dan setiap warga menjelaskan yang sama, bahwa dia tidak pernah berjamaah, seorang penggembala kambing, berpakaian bulu domba kasar, kotor sehingga dihina orang, selalu menyendiri dsb.
    Umar dan Ali bertanya-tanya dalam hatinya : Apa hebatnya dia (uais), sehingga Rasulullah menyuruh minta doa darinya, setelah bertemu Umar dan Ali berkata : Wahai hamba yang mulia, doakan kami karena Rasulullah menyuruh kami minta doa kepadamu. Akhirnya didoakanlah Umar dan Ali,
    lalu Umar dan ali berkata : Bukankah kamu yang kalau ikut berperang paling terdepan.
    Dari sisi ini silahkan anda menyimpulkan sendiri.
    Kisah lengkapnya bisa dilihat di Kitab Zuhd karangan Imam Ahmad bin Hanbal.

  133. @Abah Asra,

    Anda musti berterima kasih kepada Albani. Gara-gara menyebarnya kitabnya yang berjudul “Sifat Shalat Nabi” ke umat Islam di Indonesia, maka K.H. Muhyiddin Abdushshomad dan Habib Munzir menulis kitab sejenis dengan judul “Shalat Sesuai Rasulullaah” dan “Shalat Seperti Nabi”. Kalau beliau berdua memuat dalam kitabnya semua hadits tentang shalat, maka isi kitab mereka tidak jauh berbeda dengan isi kitab Albani.

    Anda dapat membandingkan dua kitab ASWAJA dengan kitab Albani, syukur-syukur kitab aslinya yang berjudul “Aslu Sifat Shalat Nabi” bukan kitab ringkasannya.

    Gara-gara kritik beliau terhadap hadits-hadits yang anda pakai untuk melakukan amalan-amalan ibadah, maka anda sekarang bersungguh-sungguh mempelajari hadits terutama derajat haditsnya.

    Wallaahu a’lam.

  134. Bismillaah,

    Saya sudah mengingatkan kepada anda semua untuk tidak memperolok-olok orang yang berusaha untuk merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah. Selebihnya, terserah anda sekalian apakah anda terus atau berhenti memperolok-oloknya.

    Sepertinya, anda semuanya tidak pernah membaca hadits-hadits tentang merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah. Atau guru-guru anda tidak pernah menyampaikan hadits-hadits tersebut. Maka, pantas saja bila anda semua merasa risih, tidak nyaman dan jengah bila diajak merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Yang lebih aneh lagi ada yang berkata: “Saya menjadi tidak khusyu’ bila diajak merapatkan shaf shalat berjamaah.” Bagaimana mungkin umat Rasulullaah merasa tidak khusyu’ bila melaksanakan sunnah Rasulullaah tapi merasa khusyu’ bila melaksanakan sunnah orang.

    Saya jadi penasaran ingin melihat keadaan shaf shalat berjamaah anda semua. Saya bisa melihatnya di masjid mana, ya? Sesekali saya ingin shalat berjamaah di masjid anda semua agar saya dapat melihat dengan keadaan shaf shalat berjamaah anda semua.

    Berdasarkan hadits-hadits shahih, saya mengetahui keadaan shalat berjamaah Ahlul Sunnah wal Jamaah yang rapat dan lurus, sangat berbeda dari shaf shalat berjamaah ASWAJA yang berantakan, tidak rapat dan tidak lurus.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ Ibnu Suradi,
      Anda selalu menuduh orang meperolok-olok hadits dan sunnah nabi, coba anda periksa dan baca buku2 perukunan shalat dari ulama2 klasik Aswaja yg bermazhab 4 adakah merapatkan shaf dalam shalat dengan menempelkan kaki ke kiri kanan jamaah, sedekap dalam shalat tangan dibawah dagu, telunjuk di-gerak2an terus menerus waktu duduk tahyat ? tidak ada kecuali buku2 perukunan shalatnya Wahabi, cara shalat kalian adalah cara shalat yahudi, kliklah link ini :

      1. Sekali lagi yang kami perolok-olok bukan cara shalat Nabi tapi cara shalat Wahabi yang udah dimodifikasi Al Bani, habis lucu sih cara shalatnya maka kami tertawa kalo lihat cara shalat kalian……ha ha ha 3x

        1. lucunya di mana jelaskan jangan ngambang begitu. apakah semua cara yang dijelaskan oleh sheh albany? kalau wahabi dengan sekuat tenaga mengikuti cara sholat rosul bukannya mengolok-olok seperti anda

  135. hik hik pengalaman pribadi mbak …………..rasanya risih gitu loh ……..pikir2 awalnya ana mikir nih orang nggak normal kali ??? sebab ana menghindar ada 3x kok dia ngejar nempel terus walau setelah rokaat berikutnya ………..hikhik nggak taunya sunnah ktnya ………….ya shalat ana nggak konsenlah ………sahun deh……..padahal shalat yang nggak khusuk ancaman neraka wail …….waduh ……gimana tuh wahaboy ????? ibnu gimana nih ???

    1. Sama Mas Mamo, saya juga mengalami waktu shalat magrib pada rakaat pertama kaki saya ditempel lalu ditarik, rakaat ke 2 ditempel lagi ana tarik lagi, rakaat ke 3 ditempel lagi ditarik lagi ampek kedua kaki ana dempet. karena merasa terganggu saya injak aja kakinya setelah selesai shalat dia melotot aja ke saya. lucukan kayak balapan motor aja ….ha ha ha.
      padahal kaki ngangkang lebar2 gak urung kalo sujud dirapatkan lagi coba aja kalo kaki ngangkang lebar2 sujud pasti gak enak dan sakit kakinya.

  136. @mas dianth

    jawaban mas di blog tetangga sebelah banthansalafy..di buat artikel khusus…he..he…

    uda tau kok diem aja…tanggapin dong mas..biar rame pembahasannya..
    ane tunggu tanggapan mas Dianth ya…hadanalloh waiyyakum

  137. http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/beberapa-catatan-tentang-ijmaa.html

    1. Qutaibah bin Sa’iid
    Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
    Beliau[1] berkata :
    هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).
    Mukhaalif berkata :
    Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist. Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643, meninggal tahun 351 hijriyah. Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248. Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !
    Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!
    Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
    Atsar Al-Imaam Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah tersebut shahih. Yang disebutkan oleh Adz-Dzahabiy merupakan bagian dari perkataan beliau yang panjang mengenai ketetapan-ketetapan ‘aqiidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim rahimahullah sebagai berikut (saya ringkas matannya) :
    سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ، قَالَ: ” هَذَا قَوْلُ الأَئِمَّةِ الْمَأْخُوذِ فِي الإِسْلامِ وَالسُّنَّةِ: الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ، ………وَيَعْرِفَ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى
    Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy, Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H; sanadnya shahih].
    Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia adalah Abul-‘Abbaas As-Sarraaj; seorang yang haafidh, tsiqah, lagi mutqin. Lahir tahun 218 H, dan wafat pada usia 95/96/97 tahun [lihat : Zawaaid Rijaal Shahiih Ibni Hibbaan oleh Yahyaa bin ‘Abdillah Asy-Syahriy, hal. 1117-1124 no. 520, desertasi Univ. Ummul-Qurra’].
    Adapun Qutaibah bin Sa’iid, maka telah mencukupi apa yang disebutkan di atas. Beliau lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 240 H [At-Taqriib, hal. 799 no. 5557, tahqiq : Abu Asybal Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].
    Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya.

    1. Untuk Mas Ahmad dan tolong sampaikan kepada Abul Jauzaa Al-wahabiy,

      Bahwa tanggapan Ustd. Ahmad Syahid itu sudah benar, beliau mengkritik ABU BAKAR AN-NAQOSY sebagai periwayat riwayat/atsar tersebut berdasarkan kitab lisan Al-Mizan, An-Naqosy sebagai seorang yang tertuduh pemalsu hadits.

      YANG ANEH ADALAH TANGGAPAN ABUL JAUZAA, dalam hal ini yang sedang dikritik perowi bernama ABU BAKAR AN-NAQOSY, EEE…..BELIAU MEMBICARAKAN PEROWI LAIN YANG BERNAMA ABUL ABBAS AS-SAROOJ atau bernama Muhammad bin Ishaq Ats-Tsaqofiy …..kan aneh ini dan ga nyambung…….

      Kalau Abul Jauzaa dan jamaahnya membaca kitab Tarikh baghdad maka disana disebutkan lengkap sanadnya yaitu :

      قال أبو بكر النقاش صاحب التفسير و الرسالة : حدثنا أبو العباس السراج قال : سمعت قتيبة بن سعيد يقول : هذا قول الأئمة فى الاسلام ….

      Berkata Abu Bakar An-Naqosy seorang pengarang kitab tafsir dan risalah : menceritakan kepada kami Abul Abbas Al- sarooj, ia berkata : saya mendengar Qutaebah bin sa`id berkata : ….dst.

      Menurut Tholhah bin Muhammad bin Ja`far menyebutkan bahwa Abu Bakar An-Naqosy adalah seorang pembohong dalam hadits.

      Abu Bakar Al-Barqoniy mengatakan semua hadits yang diriwayatkannya ( An-Naqosy ) Mungkar.
      Kemudian beliau mengatakan mengenai tafsir An-naqosy bahwa di dalamnya tidak ada hadits yang shoheh.

      Berkata Abul qosyim Al-Lalika`iy : Tafsir An Naqosy adalah Isyfa Asyudur bukan syifais suduur ( perusak hati bukan penyembuh hati ).

      Berkata Al-Khotib : Hadistnya mungkar dengan sanad masyhur.

      Ad-daroqutni mendoifkannya.

      Silakan buka kitab Tarikh Baghdad dan lisan Al-mizan, terimakasih.

  138. mamo cemani gombong@

    Masak sih Mas, shalat kok nyari kaki sebelahnya, gemana bisa khusuk kalau cari-cari kaki melul sepanjang shalatnya? Wah, kapan2 mau ngintip shalat jama’ahnya Wahabi, pasti seru n bikin ngakak kali ya? 😀

  139. hik hik Ibnu paling2 kalau shalat masih nyariin kaki sebelahnya ….ayooo jangan boong ,lalu setelah nempel dia pikir inilah merapatkan shaf yang benar …..sesuai shalat karangannya syaikh Al Al Bani ……..kaya gitu mau khusyuk ????? hakikat shalat HANYA ALLAH yang diingat …….hayooo ibnu gimana tuh ???

  140. Kenapa ibnu suradi diladenin, dia cuma mau bilang, sholatnya udah benar, kalian salah semua, sholat yg paling benar itu sholatnya wahabi. Udah tahu masalah tata cara sholat ini perkara fikih, tetap aja ada perbedaan, masih juga ama dia dibesar-besarkan. Pengalaman ana, yg banyak mengajak orang sholat dan mengingatkan masalah shaf itu dari jamaah tabligh, kalau wahabi sibuk di dunia maya doang.

      1. sebenarnya ada beberapa koment ana terakhir di beberapa artikelnya yang tidak ditampilin… saya malas ke sana lagi.

        biar aja dulu…. ana mau fokus ke pembahasan disinii dulu mas prass.

  141. @ibnu suradi
    kata siapa semua aswaja shafnya pada bengkok renggang renggang. di masjid saya enggak tuh rapet shafnya klo ada yang ngak rapet atau bengkok kita kasih tau dkm kami tiap minggu ngasih tau berulang-ulang sebelum sholatpun shaf pertama dicek ama imam. jd pandangan antum shaf kami semuanya bengkok salah atuh.
    trus untuk yang bengkok ya kasih tau. kami ngaji ngak pernah ngaji hadist tapi fikih kalo belum tau ngaji fikih apaan saya kasih tau.
    ngaji fikih itu didalamnya termasuk ngaji tentang sholat dan seluk beluknya. termasuk tentang tata cara sholat berjamaah yang didalamnya dijelaskan bagaimana tata cara bikin shaf. cara pindah tempat, cara ngegaruk kalo gatel, bahkan cara kalo ada sisa makanan dimulut gimana ngeluarinnya.
    kami juga tau dan kamipun mencoba untuk mengerjakannya. kalo ada yang masih bengkok ya kasih tau atuh.

    trus yang paling penting kenapa kesimpulan anda jadi gini
    “Padahal, mereka belajar akidah sifat 20 dan ibadah dari guru-guru yang bersanad. Padahal, mereka mengaku Ahlul Sunnah wal Jamaah. Tanya kenapa?”
    kenapa anda menghubungkan masalah aqidah dengan masalah fikih
    masa orang disebut aqidahnya bengkok karena shafnya bengkok kesimpulan ini yang aneh bukan dari ajakan anda untuk merapatkan shaf

    dan satu catatan penting rapatnya shaf kami dengan anda mungkin ada perbedaan. dan itu wajar dalam fikih. betul ngak
    kalo kami rapatnya itu pundak ukurannya kalo kalian kaki
    bener ngak?

    1. Benar Kang Rony, kalau Aswaja yang rapat pundak beda dengan kaum SAWAH yang rapat kakinya ditempel kiri kanan sehingga berdiri ngangkang lebar2 seperti kuda2 pencak silat (seolah2 mau nantang Tuhan padahal mau menghadap Tuhan) belum lagi tangannya dibawah dagu sambil ngelus-elus janggut, telunjuk di-gerak2an terus menerus. apa iya begitu cara shalat Nabi atau cara shalat yang sudah dimodifikasi oleh Al Bani, ngeliatnya aja lucu menggelikan ….ha ha ha.

  142. ibnu suradi@ dah gini aja bagai mana kalau kita bhs 1 ayat atau hadits aja , , , jangan terjemahan nya , , , dgn ilmu nahwu , shorop , tashrip , ushul fiqh dll , , saya ingin liat bagai mana anda memahami hadits atau qur,an , , , cukup ane ama ente doang , , ,
    tak ada ngeles2 san ye . . . Hadits atau ayat qur,an nya terseurah ente ! ! !

    Jangan cuma nuduh2 kami tak ikut qur,an hadits ! !
    BAGAIMANA ? ? ?

    1. Palingg Ibn Suradi ga berani, Kang izhoe. Dia Ngacir, Firanda aja ana ga yakin kalau mampu membahas secara komprehensif sepwerti tantangan Kang izhoe…

  143. @ibnu suradi
    Shalat khusu’ atau shalat yang diterima adalah penyerahan diri seorang hamba kepada sang Maha, disini otak/pikiran dan hati harus benar2 tegak lurus antara seorang hamba dan Allah.
    Banyak orang shalat hanya mendapatkan lelah dan orang yang berpuasa hanya mendapatkan Lapar.
    Saya tanya lagi, kalau orang yang gerakan nya tidak sunnah tapi hubungannya dengan Allah bisa tegak lurus bagaimana?

  144. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Bila gerakan, bacaan dan thuma’niah shalat dikerjakan dengan benar, insyaallaah kekhuyu’an akan mudah didapat. Namun, bila gerakan, bacaan dan thuma’ninah shalat belum dikerjakan dengan benar, maka kekhusyu’an akan sulit diperoleh.

    Saya sendiri juga tidak mengaku bahwa shalat saya paling khusyu’. Saya hanya berusaha sekuat tenaga untuk shalat dengan khusyu’ dengan memohon pertolongan dari Allah.

    Wallaahu a’lam.

  145. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Kita sama-sama belajar untuk mencocokkan shalat kita dengan shalat Rasulullaah bukan berdasarkan katanya-katanya yang tidak jelas tolok ukurnya tapi berdasarkan Al Qur’an yang jelas surat dan ayatnya dan Hadits yang jelas periwayatnya, sanadnya dan matannya.

    Guru-guru kita menyampaikan ayat Qur’an dan hadits tentang shalat. Kita musti mengetahui ayat Qur’an dan hadits tentang shalat tersebut untuk diamalkan dan disampaikan kepada keluarga dan saudara kita sesama umat Islam.

    Dahulu, dengan ilmu dari TPA, saya merasa shalat saya sudah benar. Padahal, saya belum belajar dengan maksimal dari guru dan membaca kitab-kitab tentang shalat. Namun, setelah belajar dengan sungguh-sungguh dari guru dan membaca kitab-kitab tentang shalat, maka saya menyadari bahwa selama itu shalat saya jauh dari tuntunan Rasulullaah. Ilmu saya tentang shalat ternyata baru sepucuk kuku jari kelingking.

    Dulu banyak orang mengritik kitab yang berjudul Sifat Shalat Nabi, namun kini banyak kyai dan Habib seperti KH. Muhyiddin Abdushomad dan Habib Munzir sekarang menulis kitab tentang cara shalat Rasulullaah. Kita bisa belajar dari kitab-kitab tersebut.

    Janganlah kalian menyebut orang yang merujuk kitab Sifat Shlat Nabi sebagai orang berguru pada kitab. Apakah kalian juga akan menyematkan sebutan yang sama kepada orang yang merujuk pada kitab K.H. Muhyiddin Abdush Shomad dan Habib Munzir?

    Wallaahu a’lam

  146. Ucep yang bersemangat mencari kebenaran,

    Shalat yang khusyu’ adalah shalat yang sesuai diajarkan oleh Rasulullaah dan dicontohkan oleh para sahabatnya baik gerakannya maupun bacaannya serta thuma’niahnya berdasarkan ilmu yang benar-benar berasal dari Rasulullaah. Saya anggap anda mengetahui shalat yang demikian sebab anda berguru kepada guru yang bersanad bersambung hingga ke Rasulullaah, seperti juga Imam Bukhari yang menulis Kitab Shahih Biukhari dan Imam Muslim yang menulis Kitab Shahih Muslim serta ahlul hadits lainnya seperti Abu Dawud, Ibnu Majjah, Thabrani, Turmidzi dan Ahmad.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Bagaimana kalau semua gerakan yang ane kerjain itu seluruhnya bener, tapi otak ane masih ngalantur, pikirin sesuap nasi karena perut ane kosong. Gimana tuh.

  147. @kang suradi, gimana nih pertanyaan saya?? kalo memang bgitu, saya mau belajar sholat yg benar dr sahabat-2 salafy wahabi….

    Nasrulloh:
    intinya kang suradi menjustifikasi bahwa jama’ah aswaja yg memang paling besar di indonesia itu, kebanyakan sholatnya salah yah ??? dari awal sih yg saya tangkap bgitu, makanya saya tanya : jama’ah salafy wahabi itu sholatnya dg shaf yg rapat & sudah benar yah kang ???

  148. Bismillaah,

    Nasrullah yang mengharapkan pertolongan Allah,

    Semoga Allah menolongmu untuk merapatkan dan meluruskan shaf shalat jamaah sesuai dengan perintah Rasulullah dan contoh dari sahabat berdasarkan ilmu yang benar-benar berasal dari Rasulullaah, yang mungkin juga disampaikan oleh guru anda. Dengan demikian, anda tidak termasuk kebanyakan umat Islam yang shaf shalat berjamaahnya berantakan.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ben suradi: sebaiknya Anda suruh saja jemaat wahhabi utk merapatkan barisan mereka yg tercerai berai karena berebut dana dari yayasan2 wahhabi.

  149. Bismillaah,

    Kang Artikel Islami,

    Anda dan semuanya boleh saja mengaku berguru kepada guru yang bersanad hingga ke Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kalian musti membuktikan bahwa ilmu yang kalian dapat dalam praktek ibadah terutama shalat, lebih khususnya lagi dalam merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Pertama-tama, oleh karena kalian berguru kepada guru yang bersanad yang bersambung hingga kepada Rasulullaah, maka kalian pasti mengetahui perintah Rasulullaah kepada para sahabat untuk merapatkan shaf shalat berjamaah. Kalian juga mengetahui apa yang dilakukan para sahabat saat mendapatkan perintah tersebut.

    Mustinya juga kalian menyampaikan perintah Rasulullaah dan contoh dari para sahabatnya tersebut kepada umat islam kebanyakan sehingga mereka senantiasa merapatkan shaf shalat berjamaah sesuai dengan perintah rasulullaah dan contoh dari para sahabatnya.

    Namun, kenyataannya adalah bahwa shaf shalat kebanyakan umat islam di masjid-masjid dan surau-surau di kota-kota dan desa-desa di Indonesia, tidak rapat dan tidak lurus, bahkan cenderung berantakan.

    Itu baru masalah merapatkan shaf, sebuah amalan yang nampak oleh mata. Belum lagi amalan-malan kasat mata lainnya. Belum juga amalan hati yang tak terlihat oleh mata.

    Padahal, mereka belajar akidah sifat 20 dan ibadah dari guru-guru yang bersanad. Padahal, mereka mengaku Ahlul Sunnah wal Jamaah. Tanya kenapa?

    Wallaahu a’lam

    1. intinya kang suradi menjustifikasi bahwa jama’ah aswaja yg memang paling besar di indonesia itu, kebanyakan sholatnya salah yah ??? dari awal sih yg saya tangkap bgitu, makanya saya tanya : jama’ah salafy wahabi itu sholatnya dg shaf yg rapat & sudah benar yah kang ???

    2. @ibnu suradi
      Shalat yang diterima adalah shalat yang khusu’ menuju Allah
      Bagaimana menurut ente shalat yang khusu’ itu, agar amalan shalat ane diterima. Please ajarin ane.

  150. Assalam `alaikum,

    Sebuah Tanggapan yang sangat ilmiah dari Ustd. Ahmad Syahid terhadap artikel Ustd. Firanda.

    Sebenarnya Ustd. Firanda hanya COPAS ( Copy paste ) saja dari blog pendukung mazdhab Wahabi yang berbahasa Arab. Bisa saya contohkan sebagai berikut : ( dalam bentuk bahasa Arabnya yang saya ambil dari blog itu ) :

    أولا: الإمام الأوزاعي ت 157 هـ
    قال: “كنا والتابعون متوافرون نقول:ان الله عز وجل فوق عرشه ونؤمن بما وردت به السنة من صفاته”

    1. Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)

    Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu – dan para tabi’in masih banyak- kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsy-Nya, dan kita beriman dengan sifat-sifat-Nya yang datang dalam sunnah

    ثانيا:الإمام قتيبة بن سعيد (150-240) هـ
    قال: “هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة:
    نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى”.
    قال الذهبي: فهذا قتيبة في إمامته وصدقه قد نقل الإجماع على المسألة ،وقد لقي مالكا والليث وحماد بن زيد ، والكبار وعمر دهرا وازدحم الحفاظ على بابه.

    Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)

    Beliau berkata :

    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya

    Sebenarnya ada 15 pendapat ulama mengenai hal ini yang belum dicopas semua oleh Ustd. Firanda Al-wahabiy dan ternyata oleh Ustd. Ahmad Syahid telah dikritisi akan kedoifannya. Saya ucapkan terimakasih kepada Ustd. Ahmad Syahid atas waktunya untuk mengkritisi kedoifan sandaran Ustd. Firanda.

    Wassalam `alaikum

  151. ibnu suradi@ permintaan ane yg kemarin kagak sanggup ente penuhi ye , , , ya udah ane maklum ko , , ,

    ente teuriak2 belajar sholat dri qur,an n hadits , , , he he he
    emang ane n temen2 aswaja belajar nya dri buku matematika apa ! ! ! He he he
    emang qur,an hadits cuma ente n golongan ente doang yg pake , , liat tuh mahrus ali yg teuriak2 kaya ente sholat n amaliyah nya ngawur , , , masa sajadah die haramin , , sholat id kagak boleh di masjid dll , , ,

  152. @ibnu suradi
    Bismillahir-rahmanir-rahim
    segala puji bagi Allah yg mengistimewakan kami dg Muhammad Rasulullah
    shalawat serta salam atas junjungan kita dan Nabi kita yg rahmah

    begini, sbg ulama yg benar, dia akan mengajarkan ilmu dr gurunya dr gurunya dr gurunya yg bersambung terus dr Nabi. Hadits Nabi itu seperti hutan belantara yg menyesatkan. Tidak ada yg memahaminya kecuali para pewaris nabi. Para pewaris nabi ini mempunyai sanad yg bersambung kpd Rasulullah. Jika guru Anda tdk mempunyai sanad bersambung kpd Rasulullah atau ilmunya tdk sesuai dg ulama yg sanad ilmunya bersambung kpd Rasulullah, maka guru Anda itu tak dpt diterima penyampaian haditsnya. Karena hadits tanpa pemahaman ilmu yg benar itu sama seperti hutan yg Anda lintasi tanpa pemandu berlisensi resmi. Tak ada yg menjamin kebenarannya.

    Contohnya hadits berikut:
    Menuntut ilmu itu wajib bagi tiap Muslimin dan Muslimat.

    Hadits ini perlu penjelasan yg benar. Karena tdk semua ilmu itu wajib ‘ain. Ada yg wajib ‘ain, ada yg wajib kifayah, ada yg sunnah, ada yg mubah, ada yg makruh, dan ada yg haram.

    Begitu juga hadits kullu bid’atin dholalah. Dan banyak hadits yg perlu penjelasan. Makanya ada yg namanya syarh hadits, asbabul wurud hadits, takhrij, dsb. Begitu juga Qur’an, ada tafsir, asbabun nuzul, dsb.

    Lihatlah dr siapa Anda mengambil agama Anda.

  153. Ibnu Suradi:
    Bismillaah,

    @Dianth,

    ………………. dan berpakaian di atas mata kaki dan lain-lain.

    Kalau kalian belum mampu melaksanakan sunnah-sunnah tersebut, saya memakluminya. Saya mendoakan agar Allah memberikan kemampuan kepada kalian untuk dapat melaksanakan sunnah-sunnah tersebut.

    Wallaahu a’lam.

    untuk case ini bisa dilihat juga penjelasan pada :

    untuk masalah Sholat, saya menunggu dari rekan-2 ummati lainnya, maaf cuma copas ga berilmu….

  154. Waduh ane gak berjenggot, ane gak punya rambut di janggut, yang ada jenggot 5 lembar. Ape ane gak jadi orang islam ya.
    Jangan berpikir islam itu sempit, sekarang yang ingin keamerika jenggot mesti dipotong (kl gak percaya buktiin). Kalau mau kerja di perusahaan, harus cukur jenggot, pakaian rapih, kalau gak mau ikut aturan keluar. Jadilah banyak laki-laki yang pengangguran – ini aktual dan nyata didepan mata lho, apa mesti begini islam ?.

  155. Bismillaah,

    @Dianth,

    Kalau memang perintah Rasulullaah kepada para sahabatnya untuk merapatkan shaf shalat berjamaah sudah jelas dan contoh dari sahabat bagaimana merapatkan shaf juga sudah jelas, mengapa banyak kawan-kawan kalian memperolok-olok orang yang berusaha untuk merapatkan shaf dari awal hingga akhir shalat berjamaah?

    Dan kalau kalian semua melaksanakan apa ayang diperintahkan Rasulullaah dan apa yang dicontohkan para sahabat dalam merapatkan shaf shalat berjamaah, mengapa kalian memperolok-olok orang menggerakkan kakinya untuk menjaga kerapatan shaf shalat berjamaah?

    Saya perhatikan komentar-komentar kalian di berbagai artikel. Saya temukan kalian banyak komentar yang memperolok-olok orang yang melaksanakan sunnah merapatkan shaf, memelihara jenggot dan berpakaian di atas mata kaki dan lain-lain.

    Kalau kalian belum mampu melaksanakan sunnah-sunnah tersebut, saya memakluminya. Saya mendoakan agar Allah memberikan kemampuan kepada kalian untuk dapat melaksanakan sunnah-sunnah tersebut.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ass wr wb

      @Ibnu Suradi,..

      Bismillaah
      [..]untuk merapatkan shaf dari awal hingga akhir shalat berjamaah[..]
      [..] orang menggerakkan kakinya[..]

      Kalau boleh bertanya..apakah setiap kaki renggang ditiap-tiap raka’at harus dirapatkan kembali dengan orang disamping kita ?

      Kalau saya sholat diatas perahu yang lagi berjalan dan banyak berbelok disungai..apakah saya harus berputar juga untuk menghadap kiblat ?

      Terima kasih..

  156. Bismillaah,

    Kang Bima Syafi’i,

    Saya pun belajar agama Islam ini dari guru. Guru saya mengajari saya shalat berdasarkan ayat Qur’an dan hadits shahih. Ia bilang: “Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ratakanlah shaf kalian. Sesungguhnya ratanya shaf itu merupakan bagian dari kesempurnaan shalat.’ Ini hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

    Ketika orang bertanya kepada saya: “Mengapa kita musti merapatkan shaf?”, saya pun menjawab: “Itu perintah Rasulullaah.” lalu saya ikuti dengan penyampaian hadits yang saya terima dari guru saya. Saya tidak menjawab: “Itu kata guru saya.”

    Wallaahu a’lam.

  157. Mantaab mas @rony, jangan main-main dengan Ayat Al qur’an dan hadist, bentar-bentar dalil. Kite ini yang minim ilmu, apalagi persyaratan ahli tafsir kudu belajar 8 ilmu : Lughah, Nahwu, sharaf, Tajwid, qira’at, hadist……., nah ilmu masih minim cari-cari dalil, neraka lah tempatnya.
    Mending cari guru yang bersanad, jadi diakhirat kalau salah ditanya :
    A : Belajar dari mana kamu
    B : Belajar dari guru saya si anu
    C : Dari mana guru anu belajar
    D : Dari guru si anu
    Nah begitu nti kite ditanya. Kalau gak ada guru,
    A : Dari mana kamu belajar
    B : Dari komputer yang bisa copas.
    Malaikat bingung, copasan yang dicari ternyata dari orang bingung. Jadi sama2 bingung. Jawabnya Binun eh bingung.

  158. @ Ibnu Suradi
    Terima kasih ya atas tanggapannya. Tapi saya jujur memang saya belajar agama dari orang tua dan guru-guru saya, Demikian juga teman-teman kecil saya di kampung yang jauh banget dari kota. Kami belajar Qur’an diajarkan guru kami. Begitu juga belajar beribadah dari guru-guru kami. Kami sangat tidak pantas belajar dan bertanya langsung kepada Qur’an dan Hadits, karena memang kami tidak berkompeten untuk itu. Maka kalau ada yang tanya kepada saya, darimana kamu tahu hal ini. Saya bilang dari guru saya.

  159. saya punya guru bahasa arabnya jago. kalo suruh baca kitab kuning kaya baca koran. selama saya belajar ngak pernah di ajarin hadist alesannya beliau bilang gini
    “kalo hadist ama quran itu kalo dimasakan kayak bahan baku kalo kamu mau makan kamu harus dicuci dulu, dimasak dulu, kokinya yang bagus baru dimakan.
    sedangkan perkataan ulama kayak masakan yang siap jadi. jadi langsung bisa dimakan. untuk batasan kita-kita mah cukup dengan perkataan ulama”

    trus saya pernah baca biografi sayyidina abdullah bin mas’ud rh. sahabatnya pernah berkata kira kira isinya gini
    “kami pernah mengaji sama sayyidina ibnu mas’ud selama satutahun beliau tidak pernah membawakan hadist lebih dari jumlah jari jemari. apabila beliau bicara tentang hadist badannya gemetar keringatnya bercucuran dan raut mukanya ketakutan dan setelah membacakan hadist beliau akan berbicara” kira-kira seperti itu rasul berkata””

    kita juga tau imam malik tatkala berbicara hadist beliau berdandan dengan rapih. klo tentang hukum beliau berdandan biasa.

    jadi yang suka seenaknya ngeluarin hadist ikut siapa ya?
    ikut sahabat? ngak kali liat ibnu mas’ud rh
    ikut tabiin ? ngak kali liat imam malik
    jadi ikut siapa atuh? auah

  160. kang ibnu suradi klo saya yang ditanya jawabnya gampang : “guru saya udah meninggal klo kamu mau tanya yang lain kamu saya ajak kemuridnya, atau anaknya” jadi diskusi bisa berjalan
    kalo orang sembarangan pake hadist dijadiin dalil tanya jawabnya jadi gini
    A:”(si a membawakan dalil yang katanya hadist)”
    B: ” hebat kamu bicara dalil pake hadist”
    A:”iya dong kalo mau dalil harus pake quran ama hadist”
    B:” kapan ketemu rosululloh ?”
    A:”ya ngak pernah lah kan rosul udah wafat”
    B:”trus kamu dapat hadist itu dari mana?”
    A:”ya dari buku ama copasan”
    B:”tau dari mana hadistnya shoheh?”
    A: ” imam bukhori atuh, kan kamu juga tau kalo hadist imam bukhori itu shoheh”
    B:”kapan ketemu imam bukhori?”
    A:”ya ngak pernah kan imam bukhori juga udah wafat”
    B:” jadi hadist yang kamu bawain itu hadist dari siapa?”
    A:”kan saya udah bilang dari buku ama kopasan”
    B:”trus kamu tau yang ngarang tuh buku?”
    A:”tau kan ada biografinya”
    B:”kenal kagak atau udah ketemu”
    A:” kagak kenal dan ngak pernah ketemu”
    B:”trus tau darimana hadist itu bener bener dari rasul sama riwayat imam bukhori, kalo yang ngarangnya ngibul gimana?”
    A:” ya bandingin ama pengarang pengarang yang lain?”
    B:” kalo beda kamu pilih yang mana?”
    A:”ya milih yang menurut saya paling bener”
    B:”kamu yakin dengan ilmu kamu itu pilihan kamu paling bener”
    A:”ngak yakin yakin juga sih”
    B:” kalo gitumah meningan gua atuh punya guru jadi klo salah ada yang benerin”

    jd ngak selamanya dalil yang pake quran ama hadist itu hasil kesimpulannya bener. untuk kita yang awam cukup nurut ama guru dan cari guru yang punya sanad jadi klo ditanya masalah hadist ngak asal ngomong

    tolong digaris bawahi bukan quran ama hadistnya yang salah tapi pengambilan kesimpulannya yang bisa salah.

  161. Ibnu ………ana mau tanya ( nt kan langsung dari sumber Al Qur’an n hadits ) shalat kiblatnya kan ka’bah ……….la kalau shalat di dalam ka’bah menghadap kemana ? tolong jawab tentunya ana minta nt sertai dalil n hadits shohih ya …..

  162. Bismillaah,

    @Kang Nasrulloh

    Hadits-hadits tentang perintah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjamaah sudah jelas. Kita tinggal melaksanakannya saja.

    Bila anda merasa tidak nyaman dalam melaksanakan perintah Rasulullaah tersebut, maka belajarlah shalat berjamaah dengan nyaman sesuai yang diajarkan Rasulullaah dan dicontohkan para sahabatnya. Mengapa anda merasa tidak nyaman dengan melaksanakan sunnah sementara anda nyaman melaksanakan yang bukan sunnah?

    Wallaahu a’lam.

    1. Ini apaan sih bahas masalah lain.

      Masalah perintah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjamaah sudah jelas. Kita tinggal melaksanakannya saja.

      Ya memang kami juga laksanakan kok….

      emangnya kalian aja yang melaksanakannya……??

      kami juga melaksanakan perintah Nabi.

      selesai.

    2. berarti rapat yg nyaman itu sesuai rapat bahu kanan kiri or kaki kanan kiri? kan kalo nyaman kalo masih ada sedikit space diantara jama’ah, supaya waktu sujud dll juga nyaman, kalo rapat sekali, baik kaki& badan, waktu sujud jadi ga nyaman, naaah yg detil dong kang, maklum nih ane bener-2 dangkal ilmunya

      1. @kang dianth maaf nih hehehee, kang suradi kan ngebahas sholat, nah ane mau minta penjelasan yg detil menurut dia kang, kalo kang dianth mau tambah pencerahan lagi, lebih afdol kang untuk ane yg masih belajar ini, afwan….

  163. Bismillaah,

    @Bima Syafi’i yang ingin sekuat tokoh pewayangan Bima dan sealim Imam Syafi’i,

    Kalau seseorang berbicara tentang agama berdasar perkataan guru, maka itu akan merepotkan dirinya. Maka dialog yang memalukan akan terjadi.

    A: “Apa dasarnya kamu melakaukan amalan ibadah shalat?”
    B: “Dasarnya adalah kata guru saya.”
    A: “Saya mau bertanya kepada guru anda. Tolong bawa saya ke guru anda.”
    B: “Guru saya sudah meninggal.”

    Maka dialog menggantung tanpa ada solusi yang jelas.

    Namun, bila orang berbicara tentang agama berdasarkan Qur’an dan Hadits, maka ia akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang agama dengan tuntas dengan menunjukkan ayat Qur’an dan hadits riwayat siapa dari sahabat siapa.

    Wallaahu a’lam.

      1. yg ini kang : sebenarnya sholat yg baik itu, harus rapat sekali tp bikin ga nyaman sholat krn terlalu sempit atau rapat tp nyaman & ga terlalu sempit kang ?? -> nah ini harusnya gimana?? tata caranya gimana? hukum-2nya gimana?? spy saya ga salah sholatnya

    1. Gurunya adalah alim muqallid. So cek aja di kitab madzhab, yang menunjukkan masalah yang rajih menurut madzhab, karena dari situlah alim muqallid mengambil pendapat. Mereka tidak akan berani berijtihad keluar dari yang rajih menurut madzhab.

      Kalau merujuk Al Qur`an dan Sunnah, atas pemahaman siapa? Para salaf juga memiliki persepsi berbeda hingga akhirnya mereka berbeda pendapat. Demikian pulam madzhab 4.

      Kalau Al Qur`an dan As Sunnah menurut pemahaman ente. Ente itu siapa???

  164. @Ibnu Suradi
    Ternyata Mas Izhoe itu bukan tidak paham dalil, hanya saja bentuk tawadhu mengikuti ulama yang telah berpendapat akan hal itu. Berbeda dengan sikap orang angkuh yang mengumbar pengetahuan, tetapi tidak mau tahu tentang pengetahuan orang lain. Padahal boleh jadi pemahaman orang lain juga bids benar.

  165. Menurut ane, agar lebih tertib pada artikel, bagaimana yang kita bahas yang diartikel aja, kita menghormati yang menulis artikel kan itu juga adab yang diajarkan oleh Rasulullah. Nanti kaum yang lain menilai blog ini cuma forum debat kusir aja. Emang asyik sih baca nya, seruuu banget.
    Ini menurut ane pribadi loh, agar pembahasannya selesai satu persatu. Apalagi team SAWAH mau memberikan sharing artikelnya juga seperti @dufal, good banget.

  166. merapatkan shaf shalat ……qiqiqiqiqi …..hakikatnya beda lagi …….nggak usah di jabarkan lah ntar malah jadi ramai dan menghalalkan darah ana ……he he he ….pemahaman syariat kadang jadi salah menilai ……seperti Abu Umar kirain ahli dalam dhohirnya isra mi’raj nggak taunya nggak tau apa2 ……….salam semuanya ……

  167. Afwan mas Ibnu Suradi, sungguh sempit pemikiran antum jika mengambil kesimpulan hanya dengan bersandar pada hal “merapatkan shaf dlm shalat” dan korelasinya dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Padahal sudah dijelaskan oleh Ust. Ahmad Syahid dg sejelas-jelasnya, tapi antum tetap mencari celah untuk memaksakan opini antum sendiri. Dari paparan yg antum ulas, pada dasarnya adalah ingin menyimpulkan bahwa :

    “Wahabi lebih layak disebut sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah karena terlihat lebih menerapkan sunnah (merapatkan shaf) dibanding golongan lain, sedangkan golongan yg lain tidak pantas disebut Ahlussunnah wal Jama’ah karena tidak mau merapatkan shaf dlm shalat”. Padahal masalah merapatkan shaf masih ada perbedaan penafsiran sebenarnya.

    Opini2 seperti inilah yg merupakan amunisi utama dalam dakwah Wahabi untuk menjatuhkan golongan lain yg mereka anggap tidak sepaham. Akibatnya, justru ini yang menjadi akar permasalahan hingga timbul perselisihan dan perpecahan dalam Islam. Jadi, bukan karena tidak rapatnya shaf (menurut Wahabi) yg menjadi perpecahan ummat Islam di Indonesia, melainkan “keangkuhan merasa paling benar” yang kalian terapkan dan menyalahkan golongan lainnya.

    Sama misalnya dengan Jenggot, kalian (Salafi/Wahabi) pasti akan menganggap lebih nyunnah (meskipun jenggot awut2an) dari golongan lain. Sama juga dengan celana ngatung dan lain sebagainya. Cara2dakwah klasik model begini masih merupakan amunisi ampuh untuk merontokkan aqidah orang awam untuk dapat mengikuti aqidah mereka. Yang padahal hal2 tsb diatas masih ada dalam koridor perbedaan penafsiran Haditsnya.

    Dan apa jadinya jika orang sudah kena doktrin dakwah Wahabi, maka akan terbentuklah pribadi2 yg angkuh, sombong, kaku dan keras hati. Karena apa, karena mereka menghina, menghujat, dan antipati terhadap Ilmu Tasawuf yg merupakan ilmu membersihkan hati. Gak percaya…??? liat aja komen2 Salafi di Ummati….???

    >>>MEREKA KERAS HATI DAN TERTUTUP AKAN KEBENARAN…KARENA MERASA PALING BENAR….!!!

  168. ibnu suradi @ emang anda coment dri tdi pake qur,an hadist apa ? ? ? Anda cuma mengungkap terjemahan , , , itu pun cara istidlal anda tak pake ilmu , , , maaf ane agak tegas , , , klu anda tak sanggup beritidlal seundiri lebih bail ente tampilkan satu ulama salaf yg menjadikan hadits niat tsb sebagai hujjah untuk menetapkan aqidah , ,

    asal ente tau dlm kitab asybah wa nodloir karya imam syuyuthi , ,tentang hadist niat ulama telah mengistidlal n menghasilkan sebuah kaidah fiqh berupa , , al umur bi maqoshidiha n dalam praktek nya bnyak sekali pembhasan nya , , , tpi tak ada ulama yg menjadikan hadist tsb hujjah untuk menetapkan aqidah , , , saya singkat saja pembhsan ke 3 dri kaidah tsb , , adlah tentang maqshud dri disyari’at kan nya niat , , , yaitu tamyizul ibadat minal ‘adat wa tamyizu rotbil ‘ibadah ba’dhiha min ba’dhin , , ,dst dri pembhsan panjang tsb ulama ada beberapa hasil istidlal , yg ke 1. . Tidak disyaratkan nya niat dlm ‘ibadah laa takunu ‘adatan idz laa taltabisu bighoirihaa , , sprt iman pada alloh , ma’ripat , khouf , raja, niat , membaca alqur,an , karena sudah bisa dibedakan dgn bentuk nya , , , kecuali dlm kasus yg dinadzari , , , kemudian hasil yg ke 2 , ke 3 dst masih panjang , , , ane cukupkan dulu , , , mohon di tanggapi dgn ilmu , , , bukan cuma terjemah , , , asybah wa nadloir hal 6-9 . Cetakan alhidayah , , ,

  169. abah asra:
    @ Ibnu Suradi
    Kami tidak memperolok-olok hadits tentang merapatkan shaf shalat berjamaah dan tentang hadits sunnah memelihra jenggot.

    1. yang kami tau merapatkan shaf bukan menempelkan kaki ke jamaah kiri kanannya yg dapat mengganggu khusuknya shalat jamaah lain tapi yg dirapatkan lengan atas.

    2. kami tau memelihra jenggot adalah sunah yg kami pertanyaakan adalah haramnya merapihkan dan memotong jenggot sehinggah jenggot tidak rapih dan awut2an seperti jenggotnya kaum SAWH.

    @kang ahmad suradi, telaah lagi deh

    1. saya juga mrasa agak susah sih, kalo kaki terlalu dirapatkan, apalagi saya gendut, pas sujud atau waktu tahiyat itu yg susah banget, jadinya ngedudukin kaki di sebelah kiri saya, pasti sakit kan? akhirnya ke ganggu juga sholat nya

  170. Kang Izhoe,

    Saya sarankan berbicaralah dengan Al Qur’an dan Hadits. Maka, engkau akan selamat. Dan janganlah berbicara dengan mengandalkan akal fikiranmu dan hawa nafsumu. Akal fikiran dan hawa nafsu semata akan mencelakanmu.

    Bantahlah dengan dalil komentar saya bahwa orang yang memiliki niat yang ikhlas itu mengesakan Allah. Bantahlah dengan dalil pernyataan saya bahwa orang yang niatnya atidak ikhlas itu menyekutukan Allah. Bantahlah dengan dalil bahwa permasalahan tentang mengesakan Allah dan menyekutukan Allah adalah permasalahan tauhid atau akidah.

    Wallaahu a’lam.

    1. sebenarnya sholat yg baik itu, harus rapat sekali tp bikin ga nyaman sholat krn terlalu sempit atau rapat tp nyaman & ga terlalu sempit kang ??

  171. Bismillaah,

    Apalagi sebutan orang yang menghina orang yang berusaha untuk merapatkan shaf shalat berjamaah dari awal hingga akhir shalat, kalau bukan pengolok-olok sunnah Rasulullaah? Apalagi sebutan yang cocok bagi orang yang memperolok-olok sunnah Rasulullaah, kalau bukan pengolok-olok Rasulullaah?

    Yang harus anda urus itu mustinya orang-orang yang enggan dan menolak merapatkan shaf shalat berjamaah yang menjadi mayoritas umat Islam di Indonesia. Jangan menutup mata tentang kenyataan ini, ya saudaraku.

    Maka benar sabda Rasulullaah: “Rapikanlah (luruskanlah dan rapatkanlah) shaf kalian. Jika tidak, maka Allah akan mencerai-beraikan hati-hati kalian.” Apa yang kita lihat? Umat Islam Indonesia berpecah-belah dalam berbagai golongan, kelompok, organisasi, aliran dan lain-lain. Mereka tidak dapat bersatu.

    Akibatnya, umat Islam banyak tapi lemah. Maka benar apa yang disabdakan Rasulullaah: “Jumlah umat islam banyak tapi seperti buih. Allah menanamkan rasa takut dalam jiwa umat islam dan menanamkan rasa berani pada jiwa musuh umat Islam.”

    Tunjukkan bahwa kalian Ahlul Sunnah wal Jamaah dengan merapatkan shaf shalat berjamaah. Bisa nggak? Jangan-jangan kalian bukan Ahlul Sunnah wal Jamaah karena merapatkan shaf saja tidak bisa. Jangan-jangan Wahabilah yang sebenarnya Ahlul Sunnah wal Jamaah karena dapat merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Wallaahu a’lam.

  172. ibnu suradi @ siapa yg mengolok2 sunnah rosul , , ? ? ? Kita cuma heran dgn pemahaman wahabi salapi ama sunnah2 rosul tsb , , ,
    ulama2 menimbang sunnah2 itu n beristidlal dgn perangkat yg lengkap , , , tpi wahabi kebnyakan beristidlal seundiri dgn modal terjemahan , , akhirnya produk istidlal nya ngawur n lucu deh . . . Coba liat istidlal nya mahrus ali , , yg mengharamkan sajadah , mlester masjid , , dll pokok nya komedi bngeut dweh , , ,

    untuk hadist niat , , , ente pahami dulu deh apa itu defenisi hujjah , dalil , istidlal , hukum , ,

    biar koment ente layak untuk di tanggapi

  173. Kang Ahmad Syahid,

    Niat memang dikaitkan dengan amal perbuatan dalam kalimat awal hadits tentang niat: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergatung niatnya.” Namun, bila kita cermati kalimat berikutnya: “Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan Allah dan RasulNya.”, maka kita dapat menemukan hubungan antara niat dan akidah.

    Ada orang yang memiliki niat yang ikhlas, yaitu niat untuk mengerjakan sesuatu amalan ibadah hanya karena Allah. Ia telah mengesakan Allah dalam ibadah. Ini masalah tauhid atau akidah. Namun ada orang memilkiki niat yang tidak ikhlas, yaitu mengerjakan sesuatu amalan ibadah bukan karena Allah. Ia telah menyekutukan Allah dengan yang lain. ia telah berbuat syirik. Ini masalah akidah juga.

    Jadi, salah besar bila Kang Syahid tidak memasukkan niat dalam pembicaraan masalah akidah.

    Pandangan seseorang mengenai niat menunjukkan apakah ia Ahlul Sunnah wal Jamaah atau tidak.

    Wallaahu a’lam.

  174. Bismillaah,

    Kang Ahmad Syahid,

    Tolong nasehati kawan-kawan di Ummatipress agar tidak memperolok-olok hadits merapatkan shaf shalat berjamaah dan jenggot. Mereka tidak menyadari bahwa mereka telah memperolok-olok Rasulullaah yang memerintahkan makmum shalat berjamaah untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Mereka juga tidak menyadari bahwa mereka telah memperolok-olok Rasulullaah yang berjenggot dan memerintahkan umatnya untuk memelihara jenggot.

    Kang Ahmad Syahid sampaikan apa akibat dari tindakan memperolok-olok Rasulullaah.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ Ibnu Suradi
      Kami tidak memperolok-olok hadits tentang merapatkan shaf shalat berjamaah dan tentang hadits sunnah memelihra jenggot.

      1. yang kami tau merapatkan shaf bukan menempelkan kaki ke jamaah kiri kanannya yg dapat mengganggu khusuknya shalat jamaah lain tapi yg dirapatkan lengan atas.

      2. kami tau memelihra jenggot adalah sunah yg kami pertanyaakan adalah haramnya merapihkan dan memotong jenggot sehinggah jenggot tidak rapih dan awut2an seperti jenggotnya kaum SAWH.

  175. ucep:
    Benar @bang Nur, ane disini sama sekali tidak membenci mereka-meraka yang mengaku atau pembela salafi wahabi, bahkan didalam hati ane sangat sayang dengan mereka.
    Didaerah ane yang demikian ane rangkul, ane sama ustad2 berusaha meluruskan aqidahnya, Alhamdulillah.

    Akur dah Bang Ucep kalo gitu… 😀

    Ane sih cuman pengen negesin aje buat para Salafi/Wahabi yg bertamu dimari supaye kagak negative thinking melulu bahkan sampe menyesatkan web ini. Coba antum (Salafi/Wahabi) pelajari dan pahami baek-baek forum diskusi terbuka yg ada di Ummati ini, yg ane liat kagak berlaku di web Salafi /Wahabi. Saran Ane sih, silahkan pade berdebat secara sehat asal jangan saling menghujat.

    Ade pantunnye :

    Buah pepaya buah jambu
    Banyak dijual di pasar minggu
    Ente pake ilmu, ane juga pake ilmu
    Entu makanye jangan saling ganggu

    Duit cebanan dipake belanja
    Cuman dapet ikan tenggiri
    Ini web kepunyaan Aswaja
    makanye Wahabi kudu tau diri

    Ke mampang lewat rawajati
    Biar cepet kite naek taksi
    Kalo emang kagak mo ngarti
    Silahkan Wahabi pade permisi

    ……afwan….. 😆 😆 😆

  176. Alhamdulillah, syukron pencerahannya Ust. Ahmad Syahid. Semakin terkuak rupanya kelemahan2 komentar dari para pembela Firanda. Perlu digaris bawahi untuk pengunjung Ummati, bahwa artikel2 yg ada di Ummati ini lebih kepada Objektifitas bukan Subjektifitas. Jadi, dakwah sahabat2 Ummati dari Ahlussunnah wal Jama’ah disini adalah berusaha se-objektif mungkin meluruskan kesalahpahaman yg dimiliki oleh kawan-kawan Salafi/Wahabi yg umumnya memandang negatif bahkan menyesatkan kami para pemegang teguh aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy-ariyah wal Maturidiyah). Jika kebetulan disini Ummati mengupas tuntas tulisan2 dari Firanda, bukan orangnya (personal) yg kami kritik tetapi lebih kepada karya tulisnya. Mohon ini dipahami lagi agar tidak terkesan Ummati membenci orang per orang para pengikut Salafi/Wahabi. Jika kalian para Salafi/Wahabi anti Taqlid, maka bukalah mata hati kalian lebar2 dan jauhkan dari segala penyakit hati untuk bersikap objektif dalam menilai pendapat2 dari para Sahabat Ummati. Jika memang ada kebenaran dari para Sahabat Ummati, mengapa juga kalian para Salafi/wahabi harus berkeras hati membela sesuatu yg salah…??? artinya, jikalau memang tulisan dari Firanda itu ada beberapa kekeliruan atau bahkan kesalahan, kenapa juga harus membela seorang Firanda habis2an…???

    Jagalah hati…jangan kau kotori…jagalah hati menghadapi Ummati… 😀

    1. Benar @bang Nur, ane disini sama sekali tidak membenci mereka-meraka yang mengaku atau pembela salafi wahabi, bahkan didalam hati ane sangat sayang dengan mereka.
      Didaerah ane yang demikian ane rangkul, ane sama ustad2 berusaha meluruskan aqidahnya, Alhamdulillah.

      1. @Mas Admin
        Bagaimana caranya menampilkan semua komen, jangan cuma newer coment dan older coment.

        Terima kasih banyak, Atas perhatian Mas Admin.

    2. Seandainya apa yang kau tuliskan adalah benar2 keluar dari lubuk hati yang paling dalam dan bukan sekedar pemanis mulut, tentu tidak mudah kata2 khawarij, kafir, sesat, teroris, dll keluar.

      Sekarang jika Habib Munzir salah, kenapa harus dibela habis2an? Keturunan Nabi bukan berarti maksum tanpa dosa dan lepas dari kesalahan. Justru bila ada kesalahan tetapi diam saja, itulah keburukan karena tidak mengingatkan saudara sesama muslim.

      Tipuan saudara Ahmad Syahid sudah dikuliti habis2an:
      http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/beberapa-catatan-tentang-ijmaa.html

  177. @ustad AS dan @ustad AI
    Ane lagi pusing tujuh keliling nih. ceritanya 2 bulan lalu ane beli Kitab karangan sunan ke sepuluh Muhammad bin abdul wahab “Fathul Majid” dibaca sama mertua ane yang ex Pastur dia baca sampai habis, setelah itu dia bilang “Katanya islam sudah tauhid satu kenapa ini tauhid dibagi 3 lagi, menjadi konsep trinitas. Dulu kamu mengislamkan saya dan anak2 saya dengan tauhid La Ilaha Ilallah, kenapa begini”.
    Ane jelasin, itu buku kan mengedepankan ilmu furu, bukan ilmu ushul “La illaha ilallah”. baru deh redaan marahnya. Untungnya buku itu gak dibakar, ane simpen buat sandaran belajar.

  178. selingan dari topik utama & mohon maaf kalu keluar dari jalur, ane mau tanya beberapa perihal :
    1. Waktu ane sholat Maghrib, rakaat ke dua mau selesai tahiyat, tiba-2 anak ane yg baru 1 thn hampirin ane, terus meluk ane, jadi ane ga bisa berdiri untuk masuk ke rakaat ke-3, apa yg harus ane lakukan? teruskan sholat dg posisi duduk ? atau membatalkan dulu? yg kemarin ane lakukan krn kedangkalan ilmu ane, ane batalkan sholat, taruh anak ane di box nya, lalu ulang sholatnya…mohon pencerahannya.

    2. Bagaimana hukum tempat wudhu yg menyatu dg kamar mandi+WC? jika memang tidak boleh, ane mau buat tempat khusus wudhu.

    mohon jawabannya, supaya ane bisa berbagi ke keluarga ane yg lain, jika memang tidak berkenan di forum ini, bisa diberikan pencerahannya ke e-mail saya : nasrul.cemani.toka@gmail.com.

    sekali mohon maaf jika menyalahi forum & terima kasih atas bantuannya.

  179. @Mas Ahmad Syahid, Alhamdulillah, barokallohu fik, terima kasih banyak Mas, sudah dijawab sanggahannya DUFAL, coba sekalian Ustadz Firanda juga yg keluar, menjadi pengalaman yg sangat berilmu & bermanfaat untuk saya sbg pemula & lainnya….tetapi ini semua yg sudah ditampilkan sangat…sangat bermanfaat untuk kita semua, semoga pahala yg berlipat ganda untuk Mas Syahid & rekan-2 ummati lainnya…amiiiin.

  180. Mas Ahmad Syahid,

    Yang ana lihat dari sanggahan Dufal di point 1 sampai 3 adalah beliau tidak layak menanggapi tulisan Mas Syahid, itu saja. Ilmunya belum sampai ke situ, masih sangat jauuuh. Anehnya berlagak sok berilmu. Yang bikin geli Dufal meniru gaya Albani, hei hi hi….

    Sungguh, ana lihat Dufal tidak tertib ilmu alias campur aduk. Hal ini tentu merusak kredibilatasnya sebgai orang yg merasa dirinya berilmu semacam Dufal.

    Benar bahwa orang semacam Dufal ini memang tidak akan merasa punya malu, sebagaimana sifat orang-orang Jahil Murokkab. Orang Jahil Murokkab tidak mungkin merasa malu, dari mana terbitnya rasa malu jika dirinya merasa sedemikian tinggi ilmunya padahal sebenarnya sangat jahil? Wallohu a’lam, afwan….

  181. @ahmad: tererah ente boleh saja menghindar dari pertanyaan saya,tapi satu hal yang perlu untuk diketahui, bahwa apa yang menjdi bantahan anda disini tidak mendapat perhatian sdikit pun dari ustad Firanda!Dan hal itu wajar terjadi,sebab cara berpikir ahmad syahid sangat kacau dan lemah dalam menelaah tulisan ustad Firanda.
    @putri: anti ini laki apa prempuan? Kok mulut nya kotor bnget ya..saran saya,putri sebaiknya belajar dlu bgaimana adab-adab seorang wanita ( jika putri merasa bahwa putri itu wanita) dalam bertutur,agar aura kecantikannya tetap terjaga.

    1. Terima kasih Mbak Putri atas atensinya , hanya memang dufal ini gak punya malu , begitu benarnya kata-kata mbak Putri namun tetap saja dufal gak peduli , lagipula kasihan juga kalo enggak ditanggapi , dufal membuat bantahannya dah hampir sebulan , untuk kali ini biar saya tanggapi dulu ya….? biar nanti kawan – kawan yang lanjutin .

      dufal , bagi saya tidak penting ada tanggapan atau tidak dari Ustadz firanda , yang terpenting bagi saya adalah ” menyampaikan kebenaran ” , setelah itu gugurlah kewajiban atas diri saya. Karena banyak orang awam yang terbawa oleh tipu muslihat Ustadz Firanda ya seperti dufal ini.

      Dufal mengatakan :
      : Didalam kitab al Arba’in an Nawawiyyah Imam Nawawi Rahimahullah membuka kitabnya dengan pembahasn tentang Hadits Niat. Dst…..

      Jawab : Hadist yang coba dufal kemukakan untuk membantah Kaidah Ahlu Sunnah bahwa : ” dalam hal Aqidah Ulama Ahlu Sunnah tidak menggunakan Khobarul ahad ” , sangatlah tidak nyambung , dufal sejak kapan Niat menjadi masalah Aqidah……? Dufal , Rosul mengatakan ” Innamal A`malu binniyyat ” , Rosul mengaitkan Niat dengan amal perbuatan dufal , bukan keyakinan (Aqidah). Sehingga `Amalul mukallaf itu masuk dalam pembahasan Ilmu fikih , disitulah Niat menjadi pembeda antara `adah dan Ibadah jadi maaf anda salah sambung dufal.

      Dufal menulis :
      Point ke 2
      : ini salah satu bukti yang menunjukan bahwa sejatinya ahmad syahid tidak paham dengan salafus sholeh ( salafi / wahabi ) dalam memperlakukan Hadits-hadits Dho’if yang ke Dho’ifan nya lemah (tidak parah). Dst……..

      Jawab : sungguh ironi lagi-lagi dufal gak nyambung dengan poin yang coba dibantahnya , dufal juga menulis ” salafus sholeh ( salafi / wahabi ) ” , salafus shalih kok salafi / wahabi , dufal dufal…… Istilah salafu shalih aja gak ngerti……..

      Dufal menulis :
      point ke 3
      :Setelah membaca pengakuan ahmad syahid ini,timbul keinginan bagi saya untuk mempertanyakan bagaimana sikap kelompok mereka (Asy’ariyyah/aswaja) dalam memperlakukan Hadits – hadits Nabi Saw yang berikut ini dst……..:

      Jawab : dufal , sampean ini mau menyanggah artikel saya , atau mau nanya cara men Jama` dan men-taufiq……? Kalo mau tahu Coba pelajarilah Ushul Fiqh Bab at-Ta`arrudh wa at-tarjih agar sanggahan dufal tidak berubah menjadi permohonan.

      Dufal mengatakan :
      point ke 4
      : Mengapa mesti ikut cara pendalilan kelompok Asy’ariyyah?orang jelas-jelas beda kok di ikutin,Aneh! Dan kalau kita mau objektif seperti apa yang ahmad syahid katakan,tentu kita akan menilai Ustad Firanda jauh lebih baik, sebab bukti yang ada bersamanya.Namun jika ahmad tetap memaksa untuk menyalahkan ustad Firanda,kenapa ahmad syahid tidak membawakan perkataan imam Al-Auzaai yang membantah perkataan beliau yang di bawakan ustad Firanda??? ahmad masih bisa mikir kan??.

      Jawab : 1. karena Asy`ariyah adalah Ahlu Sunnah sepanjang masa , sejak taubatnya Al-Imam Abul Hasan Al-as`ary dari faham Mu`tazilah Hingga hari ini , inilah Aqidah yang dianut mayoritas Ulama diberbagai penjuru dunia Islam.

      2. cara pendalilan ustadz firanda yang separo-separo (hanya mengambil yang mendukung saja ) adalah cirri Khas pendalilan Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid`ah , sebagaimana dinyatakan oleh Imam As-syathibi dalam al-`itisham , dufal bias cros cek dib log Ummati judul artikel ” cirri-ciri aliran sesat menurut as-syathibi semuanya ada di salafi wahabi” silahkan di cek.

      3. pernyataan Imam Al-Auzai yang tidak dibawakan ustadz firanda sudah saya bawakan dalam artikel ini , hanya karena artikel ini cukup panjang -+ 70 halaman oleh Mas admin Ummati dibikin ber seri. Sabar ya insya Allah lengkap kok…

      Dufal menulis :
      Point ke 5
      : Para ulama dalam men jarh seorang perawi tidak selamanya sejalan,bahkan terkadang perawi yang di ta’dil dalam saat yang sama juga di jarh oleh ulama yang lain.Fenomena seperti ini biasa terjadi di kalangan ulama jarh dan ta’dil.Hanya saja ahmad syahid yang baru bangun dari tidur panjang. Dst……

      Jawab : dufal baru nyambung nih saya jawab sekilas saja ya…..

      1.betul jika Ulama Ahli Jarh wa Ta`dil tidak selamanya sepakat dalam menjarh atau men Ta`dil , hanya saja dikalangan Ulama Jarh wa Ta`dil ada kaidah yang disepakati bahwa : jika seorang Rawi di Jarh tetapi juga ada yang men Ta`dil maka Jarh lebih di kedepankan ( digunakan) ketimbang ta`dil.

      2. dufal , dalam sanad riwayat ini bukan hanya al-mashishi yang menjadi masalah , tetapi rawi sebelumnya malah tertuduh dusta yaitu Ibrahim bin al-haitsam al-baladi , jadi tolong al-haitsam juga dufal sebut jangan disembunyiin.

      3. pembawaan riwayat Al-mashishi oleh adz-dzahabi bukan berarti bahwa Al-mashishi adalah Tsiqoh , dan perlu Dufal ketahui jika adz-dzahabi juga banyak membawakan riwayat riwayat Maudhu` ( palsu ) dalam kitabnya al-uluw.

      dufal menulis :
      point ke 6
      : dalam point ini saya tidak akan memaksakan diri untuk menyanggah,sebab saya belum menemukan biografi dari rowi-rowi yang menyampaikan riwayat tersebut.untuk itu saya lebih memilih bersikap diam sambil mencari biografi dari rowi-rowi tersebut.. semoga Allah Ta’ala memudahkan saya untuk menemukannya..amin..

      jawab : terimakasih untuk diamnya

      dufal menulis :
      point ke 7
      : Saya pikir Ahmad syahid lemah dalam mengkaji setiap teks yang ada dalam riwayat yang dibawakan ustad Firanda.Terbukti ahmad syahid coba mencari kesalahan dari riwayat tersebut dengan secara sengaja menjadikan titik pangkalnya pada kata-kata “seluruh ummat”. Padahal kita tau bahwa inti dari riwayat tersebut bertitik pangkal pada kata “FITROH”,yang kemudian di jeneralisasikan kepada seluruh ummat.Artinya,seandainya saja fitroh manusia tidak di palingkan maka selama itu juga seluruh ummat (termasuk ahmad syahid) akan meyakini bahwa Allah Ta’ala berada diatas langit.Namun jika kita bertitik pangkal seperti halnya Ahmad syahid,maka jangankan Fir’aun, ahmad Syahid aja tidak meyakini bahwa Allah berada di ata langit beserta Dzat-Nya (bukan Derajat).benar kan???

      Jawab : 1. dufal sumber hokum dalam Islam adalah Qur`an dan Hadist , sejak kapan Fitroh menjadi sumber hokum…..? aya – aya wae dufal nih..

      2. jika dufal pernah membaca kitab Al-uluw karya adz-dzahabi niscaya dufal akan banyak dapati jika Adz-dzahabi pun banyak menyesalkan perkataan ” beserta Dzatnya ” ( bidzatihi ) , ad-dzahabi menganggap kata Bi dzatihi ( dengan Dzatnya) adalah Fudulul kalam yang sepantasnya ditinggalkan , dufal belum pernah baca al-uluw benarkan…..?

      Dufal menulis :
      point ke 8:
      : Betapapun ustad Firanda telah berusaha menghadirkan fakta-fakta yang menunjukan perkataan para Ulama,namun selama itu pula Ahmad syahid mencoba mematahkan hujjah-hujjah yang di bawakan ustad Firanda dengan fakta-fakta yang menurut saya,tidak cukup untuk dikataan sebagai bukti.sebagai contoh:Ustad firanda membawakan riwayat yang menunjukan perkataan Utsman Bin Saiid Ad Daarimi, bahwa kaum muslimin telah bersepakat dst…

      Jawab : Dufal , Abu Said ustman ad-darimi adalah Mujassim terkenal Ahli Bid`ah , silahkan dufal baca kitab karya beliau Radd ala Bisyr al muraisy , orang ini punya Aqidah yang sama persis dengan Aqidah Yahudi silahkan dufal baca karyanya , kecuali jika dufal juga doyan sama Aqidah yahudi ya terserah dufal.

      Dufal menulis :
      point ke 9
      Ahmad syahid katakan: Abu Hurairah,Rosulullah SAW bersabda,” seorang: Selain meyakini Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy menurut dengan kehendak-Nya,pada saat yang sama ahlussunnah juga menetapkan Ma’iyyah (kebersamaan Allah)dengan sebagian Makhluknya (Ma’iyyah khusus) dan menetapkan kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya (ma’iyyah umum)..
      sabda Nabi SAW,”Sesungguhnya Allah yang engkau berdo’a kepadanya,lebih dekat kepada seseorang di antara kamu dari pada leher binatang tunggangannya.(mutafaqqun alaih dan selainnya..lafadz hadit ini milik Ahmad)
      Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya – At Taanbiihaatul lathiifah (hlm.66)-,”Dan apa bila ada yang bertanya: sesungguhnya Allah itu maha tinggi diatas makhluk-Nya,bagaimana mungkin bisa dikatakan Allah bersama dan dekat dengan mereka?Maka jawabnya, Allah tetap bersama hambanya tetapi Dia maha tinggi di atas makhluk-Nya,dan pokok pembahasan ini adalah pokok yang telah tetap di dalam alQur’an,as-sunnah dan Ijma Ummat.Dan Allah itu tidak sama dengan suatu apa pun juga dala semua sifat-Nya”.selesai penukilan (syarah Aqidah ahlu sunnah wal jama’ah.oleh ustad Yazid bin Abdul Qadir jawas).

      Jawab :
      1. Dufal , nt tahu dari mana jika : Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy …..? emang ada ya dalam Al-qur`an Allah bersemayam……? Jangan ngarang dufal .

      2. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di itu siapa…..? terus Yazid bin abdul qodir jawwas itu siapa……? Gak mutu ah.

      3. dufal dimanakah saya pernah mengatakan : ” Abu Hurairah,Rosulullah SAW bersabda,” seorang: Selain meyakini Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy menurut dengan kehendak-Nya,pada saat yang sama ahlussunnah juga menetapkan Ma’iyyah (kebersamaan Allah) dst….” Dufal error…..

      dufal menulis :
      point ke 10
      : Alhamdulillah,status hujjah masih tetap kuat karena dua alasan.Pertama:Abu saiid menyandarkan aqidahnya kepada seluruh ummat yang belum di palingkan Fitroh nya.dan apa yang menjadi sandaran Abu saiid ad daarimi selaras dengan apa yang di kabarkan oleh Allah Ta’ala dalam al Qur’an yang Artinya: “Mereka takut kepada Rabb yang (berkuasa) di atas mereka dan melaksanakan apa yang di perintahkan (kepada mereka).(Qs; An-Nahl :50).Sandaran aqidah Abu saiid ad Daarimi tidak hanya selaras dengan firman Allah Ta’ala,bahkan Rasulullah dalam Sabdanya sangat sesuai dengan sandaran Aqidah abu saiid ad Daarimi.berikut sabda Nabi SAW.” Dimana Allah? ia (budak wanita) menjawab,”Allah itu di atas langit,” lalu Rasulullah Saw bersabda lagi,”Siapa Aku? Engkau adalah Rasulullah,”jawabnya.Rasulullah Saw Bersabda,”Merdekakanlah ia,karena sesungguhnya ia seorang mukminah”.(Shahih Muslim (no:537) dan selain nya dari sahabat Muawiyyah bin hakam as- Sulami rahimahullah).bahkan aqidah abu Saiid ad Daarimi mendapa dukungan penuh dari para Imam founder Mdzhab semisal,Imam Abu Hanifah,Imam Malik,Imam Syafi’i Dan Imam Ahmad sebagaimana yang dikatakan Al Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah…dan yang ke dua: Terkenal atau tidaknya seseorang,bukanlah ukuran mutlak untuk menilai seseorang itu berada diatas kebenaran..Wallahu A’lam..

      Jawab : 1. lagi – lagi Fitroh dijadikan alas an , dufal , anak yang baru lahir itu dalam keadaan Fitroh , makanya dufal sama Abu Said belajar Aqidahnya sama anak-anak yang baru lahir aja ya……..? Nabi dan Rosul gak perlu diutus , biarkan anak-anak aja yang ngajarin Tauhid , terus itu doktor2 yang di universitas2 saudi diganti aja sama anak-anak ya …bayarnya cukup biscuit , susu sama maenan bayar doctor mahal dufal he he he …..

      2. soal hadist jariyah bahasanya panjang lebar , lagi pula yang dibahas adalah artikel saya yang membatalkan klaim Ijmak Ustadz Firanda. Bukan soal hadist jariyah , kalo dufal mau bela ustadz firanda yang nyambung ya…….?

      3. soal dukungan penuh dari para Imam founder Mdzhab semisal,Imam Abu Hanifah,Imam Malik,Imam Syafi’i Dan Imam Ahmad sebagaimana yang dikatakan Al Hafidz Ibnu Katsir (menurut dufal), sangat janggal banget soalnya Imam Abu Hanifah meninggal tahun 150 hijriyah , -+ setelah 50 tahun Imam Abu hanifah meninggal Abu said baru dilahirkan tapi bisa ngasih dukungan…..? ah yang bener aja dufal…..?

      4. lalu Imam Malik yang lahir tahun 93 hijriyah meninggal tahun 179 hijriyah , artinya ketika Imam Malik meninggal Abu said ad-darimi baru dilahirkan 29 tahun kemudian kok bisa ya Imam Malik ngasih dukungan penuh sama orang yang belum dilahirkan……….?

      5. Begitu juga Imam Syafi`I yang meninggal tahun 204 hiriyah yang artinya setelah Imam syafi`I meninggal , 6 Tahun kemudian Abu said ad-darimi baru dilahirkan kok bisa ya Imam Syafi`I kata dufal (mungkin gurunya dufal) ngasih dukungan juga sama orang yang belum lahir …..Aaaah……. dufal ngebo`ongnya keterlaluan .

      6. imam ahmad meninggal tahun 241 , sedangkan abu said ustman ad-darimi meninggal tahun 280 , jika umur ad-darimi 70 tahun maka ketika Imam Ahmad meninggal ad-darimimi berusia 31 tahun , lalu kapankah Imam Ahmad mendukung ad-darimi …….? Pasti setelah ad-darimi dianggap matang keilmuannya oleh Imam Ahmad , katakanlah pada usia 40 tahun ad-darimi dianggap matang dalam keilmuan berarti dukungan Imam Ahmad untuk ad-darimi terjadi setelah 10 tahun Imam Ahmad meninggal , apa dufal menganggap jika Roh Imam Ahmad gentayangan setelah 10 tahun meninggal hanya untuk memberikan dukungan kepada ad-darimi……..?

      dufal menyandarkan pernyataannya ini kepada Ibnu Katsir se jahil itukah Ibnu Katsir……? Dufal telas berbohong atas nama Al-Imam Ibnu Katsir dan para Imam Madzhab.

      Saya mohon dufal untuk tidak terlalu fanatic (ghuluw) terhadap faham wahabi , saya mohon dufal untuk berfikir ulang , mumpung masih ada kesempatan untuk taubat, carilah kebenaran karena kebenaran lebih berhak untuk diikuti ketimbang fanatisme buta.

      Jika dufal mau , sampaikanlah artikel ini kepada Ustadz Firanda saya yakin beliau jauh lebih kompeten untuk menyanggahnya , dufal janganlah kau pikul beban diluar kemampuanmu.

  182. Dikasih teks arab ada yang ngeles, minta “diterjemahin” ame yang lain dengan cara pura-pura ngetes. Jangankan bahasa Arab, kadang2 hasil copy pastenya sendiri yang bahasa Indonesia aja ga paham. Ada yang bilang persis burung beo. Ah … itu fitnah! Karena burung beo ga bisa ngeles. Jadi burung beo masih lebih jujur ….

    1. Gak usah terjemahin, cukup kamu jujur, mengerti apa nggak teksnya tadi? Jangan2 cuma taklid buta percaya apa saja yang dikatakan orang lain? Bima yang ngaku Asy-Syafi’i ngerti nggak?

      1. hehehehe gitulah kang….si abdullah ini, make saya yg suruh terjemahin, kan saya dicap ABU SYIBR, yah memang saya masih dangkal ilmunya….

  183. Sesungguhnya Wahhabi aka Khawarij, Syiah dan sekte sesat lain ini terwujud sebagai suatu ujian kepada kita umat Islam dari firkah Najiyyah Ahli Sunnah Wal Jamaah.

    @Abdullah
    Abdullah tidak perlu marah2 kalau aqidah ente tidak bersalahan sepertimana pendapat ulama yang ane paparkan. Kami dari ASWAJA mencontohi Rasulullah semampu mungkin terutama dalam hal dakwah. Apa yang saya paparkan itu perkara bener untuk tujuan dakwah bukan untuk menghentam siapa2. Persepsi ente nyata salah mungkin juga kerna jiwa ente dikala ini berantakan antara dakwah dan dakyah.
    Ane tidak menuduh siapa2 tetapi sidang pembaca bisa lihat sendiri komentar Abdullah, Abu Umar dan assosias sealiran mereka di situs ini. komentar mereka pada artikel sebelum artikel ini lebih nyata pegangan mereka.
    Tidak ngapain ente ngejek ane dengan perkataan ‘koplot’ kalo itu boleh membuat ente bahgia ,ane tidak marah kerna ane faham ente mempunyai masalah jiwa dan mental tapi usah dibiarin lama2 kerna bisa menatijahkan keadaan yang lebih parah.
    Apapun ane sentiasa berdoa pada Allah semoga para Wahhabi terutama Abdullah ini kembali ke firkah yang bener kerana dia berkeupayaan untuk menjadi warisatun anbiaya’ di suatu hari nanti.
    Untuk makluman Abdullah memang namaku berbahasa Thai. Seorang sepupuku berasal dari Solo, Jawa dan seorang lagi dari suku bugis. (Keduanya telah Arwah) Keturunanku bermula pada nabi Adam atau Nabi Nuh begitulah yang diceritakan padaku. Keluarga kami dari Arab,Melayu Champa , Bugis, Melayu juga China (tapi dah tak tahu cakap Bugis). Saudara2ku bertaburan di Nusantara ini, dari Thailand, Malaysia, Singapura juga ada di Indonesia.
    Alhamdulillah kalo Encik Abdullah bisa ngajarin saya Bahasa Indonesia yang baku bukannye bahasa pasar.

    1. Tak payahlah ber-pura2 dan bermanis lidah, awak semenjak dahulu memendam kebencian yang sangat dahsyat terhadap pengajaran Wahabi. Bila awak tak boleh tunjuk bukti dakwaan awak bahwa Wahabi adalah khawarij, semoga laknat yang awak ucapkan Allah kembalikan kepadamu.

      Macam mana imam 4 nak ajarkan untuk meminta-minta di kubur? Sila sebut kitab apa? Apakah imam mazhab memberikan ajaran sifat Allah 20 dan menghilangkan sifat2 yang lain? Awak mengaku bermazhab Syafi’i tetapi banyak melakukan apa yang bukan beliau kata. Berfikirlah!

  184. abdulloh@ bca nie , , , jangan asal taqlid ama albani n firanda cs

    :ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ
    ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ:ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺣﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ
    ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ ﺍﻟﻌﻠﻮﻱ ﺍﻟﻬﺎﺷﻤﻲ.
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ
    ﺑﻤﺎ ﺛﺒﺖ ﻭﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ
    ﺗﺄﻟﻴﻒ
    ﺣﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ ﺍﻟﻘﺮﺷﻲ
    ﺍﻟﻬﺎﺷﻤﻲ ﺍﻟﺤﺴﻴﻨﻲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻋﻔﺎ
    ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺩ ﺍﺭ ﺍﻻﻣﺎ ﻡ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ
    ________________________________
    ________
    ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
    ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﻛﻔﻰ،ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ
    ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﺬﻳﻦ
    ﺍﺻﻄﻔﻰ.
    ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ:ﻓﻘﺪ ﻭﻗﻔﺖ ﻋﻠﻰ ﻛﻼﻡ
    ﻟﻼﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ”ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺍﻟﻌﻠﻮ”ﺹ
    ( 82 )ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺃﺧﻄﺎ
    ﻓﻴﻪ،ﺛﻢ ﻭﻗﻔﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻳﻂ ﻟﻪ
    ( 1 )ﺗﻌﺮﺽ ﻓﻴﻪ ﻟﻲ ﻓﻲ ﻧﻔﺲ
    ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻉ ﻭﺗﻠﺨﺺ ﻛﻼﻣﻪ ﺍﻟﺬﻱ
    ﻳﻐﺎﻟﻂ ﻓﻴﻪ! !ﻓﻲ ﻣﺴﺄﻟﺘﻴﻦ:
    )ﺍﻻﻭﻟﻰ: (ﺃﻧﻪ ﻳﺪﻋﻲ ﺛﺒﻮﺕ ﻟﻔﻆ”
    ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﻭﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻦ
    ﺍﻟﻠﻪ ﺑـ”ﺃﻳﻦ! ! ”ﻭﺍﺩﻋﻰ ﺑﺄﻥ
    ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﻴﻦ ﻟﻢ
    ﻳﻀﻌﻒ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﻬﺬﺍ
    ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ
    ﺑﺎﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻭﺍﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻓﻲ
    ﺣﻜﺎﻳﺔ ﻣﺘﻨﻪ! !ﻭﺯﻋﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ
    ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ
    ﺑﻠﻔﻆ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ“ : ”
    ﻭﻫﺬﺍ ﺻﺤﻴﺢ ﻗﺪ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﻠﻢ! ! ”
    ﻭﺍﻟﻮﺍﻗﻊ ﺃﻥ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺑﺄﻧﻪ
    ﺻﺤﻴﺢ ﺑﻞ ﻧﻔﻰ ﻭﺟﻮﺩﻩ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ
    ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺃﻋﻠﻪ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ
    ﻓﻴﻪ؟ﺃﻱ ﺑﺎﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻛﻤﺎ ﺳﻴﻤﺮ
    ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﺳﺎﻟﺔ ﻣﻔﺼﻼ ﻣﻮﺿﺤﺎ
    ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ! !
    )ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: (ﺇﻧﻜﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻝ
    ﺑﺄﻥ” :ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﻳﻘﺎﻝ ﺇﻧﻪ ﺧﺎﺭﺝ
    ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻭﻻ ﺩﺍﺧﻠﻪ! ! ”ﻭﺗﻜﻔﻴﺮﻩ ﻟﻲ
    ﻻﻧﻨﻲ ﺃﻗﻮﻝ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺓ! !ﺯﺍﻋﻤﺎ
    ﺑﺄﻥ
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 1 )ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﺮﻳﻂ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ
    ﻫﻮ ﻋﺒﺎﺭﺓ ﻋﻦ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﺮﻃﺔ ﺗﺠﺪ
    ﺗﻌﻠﻴﻘﻨﺎ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻠﺤﻖ ﺍﻟﺨﺎﺹ
    ﺁﺧﺮ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﺳﺎﻟﺔ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ
    ﺗﻌﺎﻟﻰ( * ) .
    ?
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ4
    ________________________________
    ________
    ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺻﺤﺔ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺓ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻨﻪ
    ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ! !ﻭﺫﻟﻚ
    ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻣﻨﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺟﺴﺎﻡ)ﺍﻟﻤﺎﺩﺓ(
    .
    ﻋﻠﻤﺎ ﺑﺄﻥ ﻛﺒﺎﺭ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺻﺮﺣﻮﺍ
    ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺭﺓ ﻣﻨﺰﻫﻴﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
    ﻋﻦ ﺍﻟﺠﺴﻤﻴﺔ ﻭﺍﻟﺘﺼﻮﺭ ﻛﻤﺎ ﺳﻴﺄﺗﻲ
    ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.
    ﻓﻠﻨﺸﺮﻉ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻋﻦ ﻫﺎﺗﻴﻦ
    ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺘﻴﻦ ﺳﺎﺋﻠﻴﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ
    ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺍﻻﻋﺎﻧﺔ:
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ5
    ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻘﻄﺔ ﺍﻻﻭﻟﻰ:
    ﻧﺺ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻴﻪ ﻗﺼﺔ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺑﻠﻔﻆ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﻛﺎﻣﻼ:
    ﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺴﺨﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺑﻴﻦ ﺃﻳﺪﻳﻨﺎ ﻣﻦ
    ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺸﺮﺡ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ
    ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ( 20 / 5 )ﻣﺎ ﻧﺼﻪ:ﺣﺪﺛﻨﺎ
    ﺃﺑﻮ ﺟﻌﻔﺮ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﺼﺒﺎﺡ ﻭﺃﺑﻮ
    ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺷﻴﺒﺔ ﻭﺗﻘﺎﺭﺑﺎ ﻓﻲ ﻟﻔﻆ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
    ﻗﺎﻻ:ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ
    ﻋﻦ ﺣﺠﺎﺝ ﺑﻦ ﺻﻮﺍﻑ ﻋﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ
    ﺃﺑﻲ ﻛﺜﻴﺮ ﻋﻦ ﻫﻼﻝ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﻴﻤﻮﻧﺔ
    ﻋﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ
    ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ ﻗﺎﻝ:ﺑﻴﻨﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﺻﻠﻰ
    ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ)ﺹ(ﺇﺫ ﻋﻄﺲ
    ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻮﻡ؟ﻓﻘﻠﺖ:ﻳﺮﺣﻤﻚ
    ﺍﻟﻠﻪ
    ﻓﺮﻣﺎﻧﻲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺑﺄﺑﺼﺎﺭﻫﻢ! !
    ﻓﻘﻠﺖ:ﻭﺍﺛﻜﻞ ﺃﻣﻴﺎﻩ ﻣﺎ ﺷﺄﻧﻜﻢ
    ﺗﻨﻈﺮﻭﻥ ﺇﻟﻲ! ؟ﻓﺠﻌﻠﻮﺍ ﻳﻀﺮﺑﻮﻥ
    ﺑﺄﻳﺪﻳﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻓﺨﺎﺫﻫﻢ! !ﻓﻠﻤﺎ
    ﺭﺃﻳﺘﻬﻢ ﻳﺼﻤﺘﻮﻧﻨﻲ ﻟﻜﻨﻲ ﺳﻜﺖ،
    ﻓﻠﻤﺎ ﺻﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ)ﺹ(
    ﻓﺒﺄﺑﻲ ﻫﻮ ﻭﺃﻣﻲ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﻌﻠﻤﺎ
    ﻗﺒﻠﻪ ﻭﻻ ﺑﻌﺪﻩ ﺃﺣﺴﻦ ﺗﻌﻠﻴﺎ
    ﻣﻨﻪ؟ﻓﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻛﺮﻫﻨﻲ ﻭﻻ
    ﺿﺮﺑﻨﻲ ﻭﻻ ﺷﺘﻤﻨﻲ،ﻗﺎﻝ) :ﺇﻥ
    ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻻ ﻳﺼﻠﺢ ﻓﻴﻬﺎ ﺷﺊ ﻣﻦ
    ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﺴﺒﻴﺢ
    ﻭﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ”ﺃﻭ ﻛﻤﺎ
    ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ)ﺹ، (ﻗﻠﺖ:ﻳﺎ
    ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻬﺪ
    ﺑﺠﺎﻫﻠﻴﺔ،ﻭﻗﺪ ﺟﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺎﻻﺳﻼﻡ
    ﻭﺇﻥ ﺭﺟﺎﻻ ﻳﺄﺗﻮﻥ ﺍﻟﻜﻬﺎﻥ،ﻗﺎﻝ” :
    ﻓﻼ ﺗﺄﺗﻬﻢ. ”
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ6
    ﻗﺎﻝ ﻭﻣﻨﺎ ﺭﺟﺎﻝ ﻳﺘﻄﻴﺮﻭﻥ،ﻗﺎﻝ” :
    ﺫﻟﻚ ﺷﺊ ﻳﺠﺪﻭﻧﻪ ﻓﻲ ﺻﺪﻭﺭﻫﻢ ﻓﻼ
    ﻳﺼﺪﻧﻬﻢ”ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺼﺒﺎﺡ:ﻓﻼ
    ﻳﺼﺪﻧﻜﻢ.ﻗﺎﻝ:ﻗﻠﺖ:ﻭﻣﻨﺎ ﺭﺟﺎﻝ
    ﻳﺨﻄﻮﻥ؟ﻗﺎﻝ” :ﻛﺎﻥ ﻧﺒﻲ ﻣﻦ
    ﺍﻻﻧﺒﻴﺎﺀ ﻳﺨﻂ ﻓﻤﻦ ﻭﺍﻓﻖ ﺧﻄﻪ
    ﻓﺬﺍﻙ. ”ﻗﺎﻝ:ﻭﻛﺎﻧﺖ ﻟﻲ ﺟﺎﺭﻳﺔ
    ﺗﺮﻋﻰ ﻏﻨﻤﺎ
    ________________________________
    ________
    ﻟﻲ ﻗﺒﻞ ﺃﺣﺪ ﻭﺍﻟﺠﻮﺍﻧﻴﺔ،ﻓﺎﻃﻠﻌﺖ
    ﺫﺍﺕ ﻳﻮﻡ ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻟﺬﻳﺐ ﻗﺪ ﺫﻫﺐ ﺑﺸﺎﺓ
    ﻣﻦ ﻏﻨﻤﻬﺎ ﻭﺃﻧﺎ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺑﻨﻲ ﺁﺩﻡ
    ﺁﺳﻒ ﻛﻤﺎ ﻳﺄﺳﻔﻮﻥ،ﻟﻜﻨﻲ
    ﺻﻜﻜﺘﻬﺎ ﺻﻜﺔ ﻓﺎﺗﻴﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
    )ﺹ، (ﻓﻌﻈﻢ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻲ،ﻗﻠﺖ:ﻳﺎ
    ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻓﻼ ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ! ؟ﻗﺎﻝ” :
    ﺍﺋﺘﻨﻲ ﺑﻬﺎ”ﻓﺄﺗﻴﺘﻪ
    ﺑﻬﺎ؟ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ” :ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ” ؟
    ﻗﺎﻟﺖ:ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ.ﻗﺎﻝ” :ﻣﻦ ﺃﻧﺎ
    ”ﻗﺎﻟﺖ:ﺃﻧﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ.ﻗﺎﻝ” :
    ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﺆﻣﻨﺔ. ”ﺍﻧﺘﻬﻰ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ.
    ﻭﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺃﺷﺮﻉ ﻓﻲ ﺑﻴﺎﻥ ﻭﺇﻳﻀﺎﺡ ﻣﺎ
    ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻭﺩ ﺃﻥ ﺃﻃﻠﻌﻜﻢ
    ﺳﺮﻳﻌﺎ ﻋﻠﻰ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺗﻼﻋﺒﺎﺕ
    ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﻓﻲ ﻛﻼﻡ
    ﺍﻻﺋﻤﺔ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻭﻛﻴﻒ ﺃﻧﻪ ﻳﻮﻫﻢ
    ﻗﺮﺍﺀﻩ ﺑﺄﻥ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺍﻻﺋﻤﺔ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ
    ﺑﻘﻮﻟﻪ ﻣﻊ ﺃﻥ ﺍﻟﻮﺍﻗﻊ ﺧﻼﻑ ﺫﻟﻚ ﺇﺫ
    ﺃﻥ ﻧﺼﻮﺻﻬﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺒﻬﻢ ﺗﺼﺮﺡ
    ﺑﻀﺪ ﻣﺎ ﻳﺰﻋﻢ ﻭﻳﻨﻘﻞ ﻋﻨﻬﻢ:
    ﻗﺎﻝ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻘﻪ ﻋﻠﻰ”
    ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺍﻟﻌﻠﻮ”ﺹ( 82 )ﻧﺎﺻﺎ
    ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻤﻦ ﺻﺤﺢ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﻬﺬﺍ
    ﺍﻟﻠﻔﻆ” :ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ
    ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻝ ﻋﻘﺒﻪ ﺹ: 422ﻭﻫﺬﺍ
    ﺻﺤﻴﺢ ﻗﺪ
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ7
    ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﻠﻢ”ﻫﺬﺍ ﻛﻼﻡ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ
    ﻫﻨﺎﻙ! !
    ﻭﺍﻧﻈﺮﻭﺍ ﺍﻻﻥ ﺇﻟﻰ ﻛﻼﻡ ﺍﻻﻣﺎﻡ
    ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻣﻨﻘﻮﻻ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺑﻪ”
    ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﻔﺎﺕ”ﻣﻦ ﻧﻔﺲ
    ﺍﻟﺼﺤﻴﻔﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻋﺰﺍ ﻟﻬﺎ
    ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ
    ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ” :ﻭﻫﺬﺍ ﺻﺤﻴﺢ
    ﻗﺪ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﻣﻘﻄﻌﺎ ﻣﻦ
    ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻻﻭﺯﺍﻋﻲ ﻭﺣﺠﺎﺝ ﺍﻟﺼﻮﺍﻑ
    ﻋﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻛﺜﻴﺮ ﺩﻭﻥ ﻗﺼﺔ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ؟ﻭﺃﻇﻨﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﻣﻦ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻻﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻓﻲ
    ﻟﻔﻈﻪ؟
    ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮﺕ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﻣﻦ
    ﺍﻟﺴﻨﻦ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻣﻦ ﺧﺎﻟﻒ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ
    ﺑﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ. ”
    ﻓﺘﺄﻣﻠﻮﺍ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻛﻴﻒ ﺑﺘﺮ ﻛﻼﻡ
    ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﻗﻠﺒﻪ ﺭﺃﺳﺎ ﻋﻠﻰ ﻋﻘﺐ! !
    ﻭﺍﺩﻋﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻳﻘﻮﻝ
    ﺑﺄﻥ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻗﺪ ﺃﺧﺮﺟﻪ
    ﻣﺴﻠﻢ! !
    ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻛﻤﺎ ﺗﺮﻭﻥ ﻳﺼﺮﺡ ﺑﺄﻥ
    ﻗﺼﺔ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﻗﻄﻌﺔ ﻣﻦ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻴﺴﺖ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ
    ﻋﻨﺪﻩ! !ﻭﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻘﺼﺔ ﺍﺧﺘﻠﻒ
    ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻓﻲ ﺃﻟﻔﺎﻇﻬﺎ! !ﻓﻬﻲ ﻟﻴﺴﺖ
    ﺻﺤﻴﺤﺔ! !
    ________________________________
    ________
    ﻭﻗﺪ ﻋﻠﻖ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ
    ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﻛﻼﻡ
    ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ”ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ
    ﻭﺍﻟﺼﻔﺎﺕ”ﻓﻘﺎﻝ” :ﻭﻗﺼﺔ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻣﺬﻛﻮﺭﺓ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﺄﻳﺪﻳﻨﺎ ﻣﻦ
    ﻧﺴﺦ ﻣﺴﻠﻢ ﻟﻌﻠﻬﺎ ﺯﻳﺪﺕ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻌﺪ
    ﺇﺗﻤﺎﻣﺎ ﻟﻠﺤﺪﻳﺚ،ﺃﻭ ﻛﺎﻧﺖ ﻧﺴﺨﺔ
    ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻧﺎﻗﺼﺔ؟
    ﻭﻗﺪ ﺃﺷﺎﺭ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ–ﺃﻱ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ–
    ﺇﻟﻰ ﺍﺿﻄﺮﺍﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﻘﻮﻟﻪ)ﻭﻗﺪ
    ﺫﻛﺮﺕ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ–ﻣﻦ
    ﺍﻟﺴﻨﻦ–ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻣﻦ ﺧﺎﻟﻒ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ
    ﺑﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ” . . . (
    ﺍﻫ.
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ8
    ﻓﺒﺎﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻌﻘﻼﺀ ﻣﺎﺫﺍ
    ﺗﺴﻤﻮﻥ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ
    ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ ﻫﻨﺎ! ! ! ؟ﻭﺧﺼﻮﺻﺎ ﺃﻧﻪ
    ﻟﻢ ﻳﻜﺘﻒ ﺑﻤﺎ ﺍﻗﺘﺮﻓﻪ! !
    ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻗﺎﻡ ﻟﻴﺴﺘﺮ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﻪ ﻣﻦ
    ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻒ ﺑﺸﺘﻢ ﻭﺳﺐ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ
    ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻘﺎﻝ
    ﻋﻘﺐ ﺫﻟﻚ ﻣﺒﺎﺷﺮﺓ” :ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ
    ﻧﺮﻯ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﺍﻟﻬﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﺗﻌﺼﺒﻪ
    ﻳﺤﺎﻭﻝ ﺍﻟﺘﺸﻜﻴﻚ ﻓﻲ ﺻﺤﺘﻪ ﺑﺎﺩﻋﺎﺀ
    ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻓﻴﻪ! ! ! ”
    ﻋﻠﻤﺎ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﻟﻢ ﻳﺪﻉ
    ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﺍﺭﺗﺠﺎﻻ ﺇﻧﻤﺎ ﻗﺮﺭ
    ﺍﺿﻄﺮﺍﺑﻪ ﺍﻋﺘﻤﺎﺩﺍ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﻋﻠﻢ
    ﺍﻻﺻﻮﻝ ﻭﺍﻟﻤﺼﻄﻠﺢ ﺍﻟﺘﻲ ﺳﻨﺬﻛﺮﻫﺎ
    ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻌﺪ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
    ﻭﺍﻋﺘﻤﺎﺩﺍ ﻋﻠﻰ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ
    ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﺻﺮﺡ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ
    ﻓﻲ ﻟﻔﻈﻪ ﻭﻫﺬﺍ ﻫﻮ
    ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﺑﻌﻴﻨﻪ! !ﻓﺘﺄﻣﻠﻮﺍ
    ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻤﻨﺼﻔﻮﻥ! !ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
    ﺣﺴﻴﺐ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ ﻋﻠﻰ
    ﺃﻓﻌﺎﻟﻪ! !ﻭﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻧﺸﺮﻉ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ
    ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻧﻘﻮﻝ ﻣﺨﺘﺼﺮﻳﻦ:ﻟﻘﺪ
    ﺟﺎﺀ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺃﻟﻔﺎﻅ
    ﻓﺠﺎﺀ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ
    ﺑﻠﻔﻆ” :ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ
    ﺃﺧﺮﻯ ﺑﻠﻔﻆ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ
    ﺍﻟﻠﻪ” . .ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺛﺎﻟﺜﺔ ﺑﻠﻔﻆ”
    ﻣﻦ ﺭﺑﻚ”ﻓﻼ ﺑﺪ ﻟﻨﺎ ﺍﻻﻥ ﺃﻥ ﻧﻌﺮﺽ
    ﻛﻞ ﻟﻔﻆ ﻣﻨﻬﺎ ﻣﻊ ﺑﻴﺎﻥ ﺭﺗﺒﺔ ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ
    ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺔ ﻭﺍﻟﻀﻌﻒ ﻓﻨﻘﻮﻝ:
    ﺭﺍﺟﻊ ﺹ9
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ9
    ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺍﻻﻭﻝ” :ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ! ! ”
    ﺍﻟﺒﺮﻫﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﻡ ﺛﺒﻮﺕ ﻟﻔﻆ”
    ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ:
    ﺃﻗﻮﻝ:ﻟﻘﺪ ﺍﻋﺘﺮﻑ ﺍﻻﺑﺎﻧﻲ
    ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻳﻂ ﺑﺄﻥ
    ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺎﺕ ﺃﻭ ﺍﻻﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ
    ﺻﺤﻴﺤﺔ! !
    ________________________________
    ________
    ﻟﻜﻨﻪ ﺯﻋﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻳﻂ ﻭﻓﻲ
    ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺍﻟﻌﻠﻮ ﺹ( 83 )ﺃﻥ ﺭﺟﺎﻝ
    ﺭﻭﺍﻳﺔ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﺛﻘﺎﺕ) ! !ﺑﻤﻌﻨﻰ
    ﺃﻥ ﺣﺪﻳﺜﻬﻢ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﺘﻔﻖ
    ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻴﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ! ! (
    ﻭﺃﻗﻮﻝ ﻟﻪ:ﻟﻴﺮﻯ ﻛﺬﻟﻚ! !ﻻﻥ ﺍﻟﺤﻖ
    ﻭﺍﻟﻮﺍﻗﻊ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺗﻘﻮﻝ ﺃﻳﻬﺎ
    ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﻭﺫﻟﻚ ﻻﻥ ﻓﻲ ﺳﻨﺪ
    ﺭﻭﺍﻳﺔ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ) : ”ﻫﻼﻝ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ
    ﻣﻴﻤﻮﻧﻪ(ﻭﺍﺳﻤﻪ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ:ﻫﻼﻝ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺃﺳﺎﻣﺔ،
    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﻤﺰﻱ ﻓﻲ ﺗﺮﺟﻤﺘﻪ
    ﻓﻲ”ﺗﻬﺬﻳﺐ ﺍﻟﻜﻤﺎﻝ/ 30 ) ”
    ( 344ﻣﺎ ﻧﺼﻪ” :ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﺗﻢ:
    ﺷﻴﺦ ﻳﻜﺘﺐ ﺣﺪﻳﺜﻪ.
    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ:ﻟﻴﺲ ﺑﻪ ﺑﺎﺱ. ”
    ﺃﻗﻮﻝ:ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻻﻟﻔﺎﻅ ﺻﺮﻳﺤﺔ ﻣﻨﻬﻢ
    ﺑﺄﻧﻪ ﻓﻲ ﺃﺩﻧﻰ ﻣﺮﺍﺗﺐ ﺍﻟﺘﻮﺛﻴﻖ
    ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻓﻘﺪ ﻗﺴﻢ ﺍﻟﻤﺤﻘﻘﻮﻥ
    ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻣﺮﺍﺗﺐ ﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﺇﻟﻰ
    ﺳﺘﺔ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺴﺔ،ﻗﺎﻝ
    ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﺨﺎﻭﻱ ﻓﻲ”ﻓﺘﺢ
    ﺍﻟﻤﻐﻴﺚ” : ( 1 ) ( 109 / 2 ) ”
    ﻣﺮﺍﺗﺐ ﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻭﻫﻲ ﺳﺖ“
    ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺹ” : ( 113 )ﻭﻳﻠﻲ ﻫﺬﻩ
    ﺍﻟﻤﺮﺗﺒﺔ ﺧﺎﻣﺴﺔ ﻭﻫﻲ ﻗﻮﻟﻬﻢ ﻟﻴﺲ
    ﺑﻪ ﺑﺄﺱ ﺃﻭ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ. . .ﻭﺗﻼ ﻫﺬﻩ
    ﺍﻟﻤﺮﺗﺒﺔ ﺳﺎﺩﺳﺔ ﻭﻫﻲ ﻣﺤﻠﻪ
    ﺍﻟﺼﺪﻕ. . .ﻭﻛﺬﺍ ﺷﻴﺦ ﻭﺳﻂ
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 1 )ﻃﺒﻌﺔ ﻫﻨﺪﻳﺔ ﻭﻫﻲ ﻣﺼﻮﺭﺓ
    ﺩﺍﺭ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻄﺒﺮﻱ ﺑﺘﺤﻘﻴﻖ
    ﻭﺗﻌﻠﻴﻖ:ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﻠﻲ ﺣﺴﻴﻦ ﻋﻠﻲ
    ﺍﻟﻄﺒﻌﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ412ﺍﻫ. ( * )
    ?
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ10
    ﺃﻭ ﻭﺳﻂ ﻓﺤﺴﺐ ﺃﻱ ﺑﺪﻭﻥ ﺷﻴﺦ ﺃﻭ
    ﺷﻴﺦ ﻓﻘﻂ”ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻣﺨﺘﺼﺮﺍ.
    ﻓﻌﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻳﻜﻮﻥ ﺣﺪﻳﺚ ﻫﻼﻝ ﺍﺑﻦ
    ﺃﺑﻲ ﻣﻴﻤﻮﻧﺔ ﺣﺴﻨﺎ ﻻ ﺻﺤﻴﺤﺎ،
    ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﻳﻌﻘﻮﺏ ﺑﻦ ﺳﻔﻴﺎﻥ
    ﺍﻟﻔﺴﻮﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺭﻳﺦ
    ” : ( 466 / 2 )ﻫﻼﻝ ﺛﻘﺔ ﺣﺴﻦ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﺮﻭﻱ ﻋﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ
    ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺣﺴﺎﻧﺎ( 2 ) ”ﺍﻫ.
    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺒﺮ ﻓﻲ”
    ﺍﻻﺳﺘﻴﻌﺎﺏ– ( 403 / 3 ) ”ﻓﻲ
    ﺗﺮﺟﻤﺔ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ
    ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ” :ﻟﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ)ﺹ(
    ﺣﺪﻳﺚ ﻭﺍﺣﺪ ﺣﺴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﻬﺎﻧﺔ
    ﻭﺍﻟﻄﻴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺨﻂ ﻭﺗﺸﻤﻴﺖ ﺍﻟﻌﺎﻃﺲ
    ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺟﺎﻫﻼ ﻭﻓﻲ ﻋﺘﻖ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ. ”
    ﻓﺎﺗﻀﺢ ﺍﻻﻥ ﻭﺗﻠﺨﺺ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻼﻡ
    ﺍﻟﺴﺎﺑﻖ ﺃﻥ ﺭﻭﺍﻳﺔ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﺍﻟﺘﻲ
    ﺭﻭﻳﺖ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻫﻼﻝ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ
    ﻣﻴﻤﻮﻧﺔ ﻋﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ﻋﻦ
    ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ
    ﺇﺳﻨﺎﺩﻫﺎ ﺣﺴﻦ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺘﻦ
    ﻣﻀﻄﺮﺏ
    ________________________________
    ________
    ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﺃﻳﻀﺎ ﺑﻐﺾ ﺍﻟﻨﻈﺮ
    ﻋﻦ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺘﻴﻦ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ
    ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ”ﻭ”ﻣﻦ ﺭﺑﻚ، ”ﻻﻥ ﺫﻟﻚ
    ﺍﺿﻄﺮﺍﺑﺎ ﺍﺧﺮ ﻓﻬﻲ ﺗﻮﺍﺟﻪ ﻧﻮﻋﻴﻦ
    ﻣﻦ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﻯ ﻭﺇﻟﻴﻜﻢ ﺫﻟﻚ
    ﻣﻔﺼﻼ:
    ??
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 2 )ﺗﻨﺒﻴﻪ ﻣﻬﻢ:ﻟﻮ ﺣﺎﻭﻝ ﻫﺬﺍ
    ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ ﺃﻥ ﻳﺘﺤﺠﺞ ﺑﺘﻮﺛﻴﻖ ﺇﺑﻦ
    ﺣﺒﺎﻥ ﻟﻬﻼﻝ ﻫﺬﺍ ﻟﻴﺨﺪﻉ ﺑﻌﺾ
    ﺍﻟﺒﺴﻄﺎﺀ! !ﻗﻠﻨﺎ:ﻟﻘﺪ ﺍﻋﺘﺮﻑ
    ﻓﺼﺮﺡ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺘﻤﺴﻠﻒ ﻓﻲ ﻣﻮﺍﺿﻊ
    ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻣﻦ ﻛﺘﺒﻪ ﺑﺄﻧﻪ ﻻ ﻋﺒﺮﺓ ﺑﺘﻮﺛﻴﻖ
    ﺃﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ،ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻟﻮ ﺍﺣﺘﺞ ﺑﺄﻧﻪ ﻣﻦ
    ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻗﻠﻨﺎ ﺃﻳﻀﺎ ﻟﻘﺪ ﺻﺮﺡ
    ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﻣﻦ ﻛﺘﺒﻪ
    ﺑﺘﻀﻌﻴﻒ ﺭﺟﺎﻝ ﻣﻦ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ
    ﻭﺗﺠﺪﻭﺍ ﺃﻣﺜﻠﺔ ﺇﻫﻤﺎﻟﻪ ﻟﺘﻮﺛﻴﻖ ﺃﺑﻦ
    ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺒﺮﻫﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻌﺒﺄ
    ﺑﺮﺟﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻨﺎ”
    ﺗﻨﺎﻗﻀﺎﺕ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﺍﻟﻮﺍﺿﺤﺎﺕ
    ( 48 – 46 / 2 ) ”ﻓﺘﻨﺒﻬﻮﺍ ﻟﺬﻟﻚ! !
    … ( * )ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–
    ﺣﺴﻦ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ11
    ﺍﺿﻄﺮﺍﺏ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺍﻟﺴﺎﻟﻤﻲ
    ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﻋﺮﺿﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺑﺎﻗﻲ
    ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺎﺕ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ:
    ﻟﻘﺪ ﺟﺎﺀﺕ ﺭﻭﺍﻳﺔ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﺍﻟﺘﻲ
    ﺭﻭﺍﻫﺎ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ﻫﺬﻩ ﺑﻠﻔﻆ
    ﺁﺧﺮ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﻋﻦ
    ﺗﻮﺑﺔ ﺍﻟﻌﻨﺒﺮﻱ ﻋﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ
    ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ. . .
    ﻭﺃﻭﺭﺩﻫﺎ ﺍﻟﺬﻫﺒﻲ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ”ﺍﻟﻌﻠﻮ
    ”ﺹ( 3 )ﻭﺫﻛﺮ ﺳﻨﺪﻫﺎ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ
    ﺍﻟﻤﺰﻱ ﻓﻲ”ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻻﺷﺮﺍﻑ
    ( 427 / 8 ) ”ﻭﻫﻲ ﺑﻠﻔﻆ” :ﻓﻤﺪ
    ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻳﺪﻩ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻣﺴﺘﻔﻬﻤﺎ:ﻣﻦ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ؟ ،ﻗﺎﻟﺖ:ﺍﻟﻠﻪ. ” . . .ﺃﻱ
    ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻬﺎ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ” ؟ﺃﻱ
    ﺃﻥ ﻟﻔﻆ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ، ”ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺘﺸﺒﺚ
    ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﻭﺍﻟﻤﺘﻌﺼﺒﻮﻥ! !
    ﻏﻴﺮ ﻣﺬﻛﻮﺭ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ
    ﻓﺘﻨﺒﻬﻮﺍ ﻟﺬﻟﻚ! !
    ﻭﻗﺪ ﺣﺎﻭﻝ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﺃﻥ
    ﻳﻀﻌﻒ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﻟﻴﻨﻔﻲ
    ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻋﻦ ﺭﻭﺍﻳﺔ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”
    ﻓﻄﻌﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﻋﻠﻴﻪ
    ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﻭﺍﻟﺮﺿﻮﺍﻥ)ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺒﻪ ﻋﻠﻴﻬﺎ
    ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻘﻪ ﻋﻠﻰ”ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ
    ﻭﺍﻟﺼﻔﺎﺕ”ﻭﺩﻟﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻟﻔﻆ”
    ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ” . .ﻣﻦ ﺗﺼﺮﻑ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ( ! !
    ________________________________
    ________
    ﻓﻘﺎﻝ–ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ– ! !ﻓﻲ”
    ﻣﺨﺘﺼﺮ ﺍﻟﻌﻠﻮ”ﺹ( 82 )ﻣﺎ
    ﻧﺼﻪ:ﺃﻭ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻧﺮﻯ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ
    ﺍﻟﻬﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﺗﻌﺼﺒﻪ ﻳﺤﺎﻭﻝ ﺍﻟﺘﺸﻜﻴﻚ
    ﻓﻲ ﺻﺤﺘﻪ ﺑﺎﺩﻋﺎﺀ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻓﻴﻪ،
    ﻓﻘﺪ ﻋﻠﻖ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻴﻤﺎ
    ﺳﻮﺩﻩ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﺎﺏ”ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ
    ﻭﺍﻟﺼﻔﺎﺕ”ﺑﻘﻮﻟﻪ
    )ﺹ” : ( 442 – 441ﺍﻧﻔﺮﺩ
    ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ﺑﺮﻭﺍﻳﺔ ﺣﺪﻳﺚ
    ﺍﻟﻘﻮﻡ)ﻛﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺤﻖ(
    ﻋﻦ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ،ﻭﻗﺪ ﻭﻗﻊ
    ﻓﻲ ﻟﻔﻆ ﻟﻪ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ”ﺍﻟﻌﻠﻮ”
    ﻟﻠﺬﻫﺒﻲ( ! )ﻣﺎ ﻳﺪﻝ
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ12
    ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ)ﺹ(ﻣﻊ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺇﻻ ﺑﺎﻻﺷﺎﺭﺓ ﻓﻲ
    ﻟﻔﻆ ﺍﺧﺘﺎﺭﻩ( ! )ﻓﻠﻔﻆ ﻋﻄﺎﺀ ﺍﻟﺬﻱ
    ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻗﻠﻨﺎﻩ ﻫﻮ) :ﺣﺪﺛﻨﻲ
    ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻧﻔﺴﻪ.ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ: (
    ﻓﻤﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺪﻝ ﺇﻟﻴﻬﺎ
    ﻣﺴﺘﻔﻬﻤﺎ:ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ؟
    ﻗﺎﻟﺖ:ﺍﻟﻠﻪ،ﻗﺎﻝ:ﻓﻤﻦ ﺃﻧﺎ،
    ﻓﻘﺎﻟﺖ:ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ،ﻗﺎﻝ:ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ
    ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﺴﻠﻤﺔ.
    ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ)ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ(
    ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ)ﺹ(
    ( ! )ﻭﻗﺪ ﻓﻌﻠﺖ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺑﺎﻟﻤﻌﻨﻰ
    ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﺎ ﺗﺮﺍﻩ ﻣﻦ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ
    . ”ﻛﺬﺍ ﻗﺎﻝ–ﺃﻱ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ–ﻋﺎﻣﻠﻪ
    ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻌﺪﻟﻪ،ﻭﺃﻧﺖ ﺇﺫﺍ ﺗﺬﻛﺮﺕ ﻣﺎ
    ﺑﻴﻨﺎﻩ ﻟﻚ ﻣﻦ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ،ﻭﺇﺫﺍ
    ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻥ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻄﺎﺀ ﻋﻦ ﺻﺎﺣﺐ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻧﻔﺴﻪ ﻻ ﻳﺼﺢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ
    ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﻻﻧﻪ ﻣﻦ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ
    ﺯﻳﺪ،
    ﻓﻬﻮ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ﺻﺪﻭﻗﺎ،
    ﻓﻠﻴﺲ ﻗﻮﻯ ﺍﻟﺤﻔﻆ،ﻭﻟﺬﻟﻚ ﺿﻌﻔﻪ
    ﺟﻤﻊ،ﺑﻞ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺳﻌﻴﺪ
    ﻳﻀﻌﻔﻪ ﺟﺪﺍ،ﻭﻗﺪ ﺃﺷﺎﺭ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ
    ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﻘﺎﻝ:
    ﺻﺪﻭﻕ ﻟﻪ ﺃﻭﻫﺎﻡ،ﺯﺩ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺃﻥ
    ﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻣﻦ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻴﺪ
    ﻭﺍﻻﺳﺘﻔﻬﺎﻡ ﻫﻮ ﻣﻤﺎ ﺗﻔﺮﺩ ﺑﻪ ﺩﻭﻥ
    ﻛﻞ ﻣﻦ ﺭﻭﻯ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﻦ
    ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻭﻓﻦ ﺩﻭﻧﻬﻢ ﻓﺘﻔﺮﺩﻩ
    ﺑﺬﻟﻚ ﻳﻌﺪﻩ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ
    ﻣﻨﻜﺮﺍ ﺑﻼ ﺭﻳﺐ( 3 )ﺍﻫ.
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 3 )ﻣﻦ ﻫﻢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ
    ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻋﺪﻭﺍ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﺎﻟﻒ
    ﻫﻮﺍﻙ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ ﻣﻨﻜﺮﺍ! ! ؟ﺃﻡ
    ﺃﻧﻚ ﺳﺘﻘﻮﻝ ﻫﺬﺍ ﻣﻨﻜﺮ ﺣﺴﺐ
    ﺍﻟﻘﻮﺍﻋﺪ ﺍﺳﺘﻨﺒﺎﻃﺎ ﻭﺍﺟﺘﻬﺎﺩﺍ ﻣﻨﻚ! ؟
    ________________________________
    ________
    ﻓﺈﺫﺍ ﻛﻨﺖ ﻗﺪ ﺍﺳﺘﻨﺒﻄﺖ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻨﻜﺮ
    ﺑﻌﻘﻠﻚ ﺍﻟﺴﺨﻴﻒ! !ﻓﻠﻤﺎﺫﺍ ﺗﻨﻜﺮ
    ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﺍﺳﺘﻨﺒﺎﻃﻪ
    ﺃﻥ ﻟﻔﻆ)ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ،ﻣﻀﻄﺮﺏ
    ﺑﻌﻘﻠﻪ ﺍﻟﻔﺬ ﺍﻟﺮﺟﻴﺢ! ؟ﻻ ﺳﻴﻤﺎ
    ﻭﺃﻗﻮﺍﻝ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﺗﺆﻳﺪﻩ! ؟ﺃﻡ ﺃﻥ
    ﺍﻻﻣﻮﺭ ﺩﺍﺋﻤﺎ ﺣﻼﻝ ﻟﻚ ﺣﺮﺍﻡ ﻋﻠﻰ
    ﻏﻴﺮﻙ! !ﺃﺭﻏﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻧﻔﻚ( * ) ! !
    ?
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ13
    ﻭﺃﻗﻮﻝ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ: ! !ﻛﻼ؟
    ﻓﺈﻥ ﺳﻌﻴﺪﺍ ﺛﻘﺔ ﻣﻦ ﺭﺟﺎﻝ ﻣﺴﻠﻢ
    ﻛﻤﺎ ﺑﻴﻨﺘﻪ ﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻨﺎﻗﻀﺎﺕ/ 2 )
    ( 65ﻭﻟﻘﺪ ﻭﻗﻌﺖ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻻﻟﻤﻌﻲ! !
    ﺍﻻﻥ ﻓﻲ ﺗﻨﺎﻗﺾ ﺑﻴﻦ! !ﻭﺫﻟﻚ ﻻﻧﻚ
    ﻭﺛﻘﺖ ﺳﻌﻴﺪﺍ ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﻣﻮﺍﺿﻊ
    ﺃﺧﺮﻯ ﻣﻦ ﻛﺘﺒﻚ ﻓﺤﺴﻨﺖ ﺣﺪﻳﺜﻪ! !
    ﻣﻨﻬﺎ ﺃﻧﻚ ﻗﻠﺖ ﻓﻲ”ﺇﺭﻭﺍﺀ ﻏﻠﻴﻠﻚ
    ( 338 / 5 ) ”ﻋﻦ ﺇﺳﻨﺎﺩ ﻓﻴﻪ ﺳﻌﻴﺪ
    ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻧﺼﻪ” :ﻗﻠﺖ:ﻭﻫﺬﺍ ﺇﺳﻨﺎﺩ
    ﺣﺴﻦ،ﺭﺟﺎﻟﻪ ﻛﻠﻬﻢ ﺛﻘﺎﺕ،ﻭﻓﻲ
    ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ–ﻭﻫﻮ ﺃﺧﻮ ﺣﻤﺎﺩ–
    ﻛﻼﻡ ﻻ ﻳﻨﺰﻝ ﺑﻪ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﻋﻦ ﺭﺗﺒﺔ
    ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ؟
    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﺳﻴﺔ20
    ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﺟﻴﺪ ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ”ﺍﻫ! !
    ﻓﺎﻧﻈﺮﻭﺍ ﻳﺎ ﻗﻮﻡ ﻛﻴﻒ ﻳﺘﻼﻋﺐ
    ﺑﺎﻟﺮﺟﺎﻝ ﻓﻴﺮﺩ ﺃﺣﺎﺩﻳﺜﻬﻢ ﻣﺘﻰ
    ﺧﺎﻟﻔﺖ ﻫﻮﺍﻩ! !ﻭﻳﻘﺒﻠﻬﺎ ﻣﺘﻰ
    ﻭﺍﻓﻘﺘﻪ! !ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﺎﻥ( 4 ) ! !
    .
    ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻓﺮﻭﺍﻳﺔ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﺛﺎﺑﺘﺔ! !
    ﻋﻨﺪﻩ ﺇﻥ ﺗﺨﻠﺼﺖ ﻣﻦ ﻫﻮﺍﻩ ﺯﺩ ﻋﻠﻰ
    ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺳﻌﻴﺪﺍ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺭﺟﺎﻝ
    ﻣﺴﻠﻢ ﻭﻗﺪ ﻭﺛﻘﻪ ﺍﺑﻦ ﻣﻌﻴﻦ ﻭﺍﺑﻦ
    ﺳﻌﺪ ﻭﺍﻟﻌﺠﻠﻲ ﻭﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺑﻦ
    ﺣﺮﺏ،ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ
    ﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ:ﺻﺪﻭﻕ ﺣﺎﻓﻆ.
    ﻛﻤﺎ ﺗﺠﺪﻭﺍ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ”ﺗﻬﺬﻳﺐ
    ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ؟ ( 29 / 4 ) !ﻓﺤﺪﻳﺜﻪ
    ﺣﺴﻦ ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ.ﻓﺎﻻﻥ ﺛﺒﺖ ﺃﻥ ﺭﻭﺍﻳﺔ
    ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﺇﺳﻨﺎﺩﻫﺎ ﺣﺴﻦ؟
    ﻭﺭﻭﺍﻳﺔ”ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ– ،ﻣﺎﺩﺍ
    ﻳﺪﻩ ﻣﺴﺘﻔﻬﻤﺎ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﻨﻄﻖ–
    ﺣﺴﻨﺔ ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ ﺃﻳﻀﺎ؟ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ
    ﻳﻘﺮﺭ ﻭﻳﻘﻀﻲ ﺑﺎﺿﻄﺮﺍﺏ ﻣﺘﻦ
    ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ
    ﻣﻦ
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 4 )ﺍﻧﻈﺮ ﺍﻟﺘﻤﺜﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺗﻼﻋﺒﻪ ﻓﻲ
    ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻨﺎ)ﺗﻨﺎﻗﻀﺎﺕ
    ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﺍﻟﻮﺍﺿﺤﺎﺕ– 65 / 2 ) ”
    ( * ) ! ! ( 66
    ?
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ14
    ________________________________
    ________
    ﻃﺮﻳﻖ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ﻋﻨﻪ ﻭﻋﺪﻡ
    ﺛﺒﻮﺕ ﻟﻔﻈﺔ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﻓﻴﻪ؟ﻣﻊ
    ﺍﻟﺘﻨﺒﻪ ﻫﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺍﺿﻄﺮﺍﺑﺎ
    ﺁﺧﺮ ﻣﻊ ﺑﺎﻗﻲ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺎﺕ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﺃﻋﻈﻢ
    ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﻴﻨﺎﻩ ﺍﻻﻥ
    ﻭﻫﻮ ﺍﺿﻄﺮﺍﺏ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺘﻦ ﻣﻊ ﻣﺘﻮﻥ
    ﺃﺧﺮﻯ ﺳﺘﺄﺗﻲ ﺑﻌﺪ ﻗﻠﻴﻞ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ
    ﺗﻌﺎﻟﻰ! !
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ14
    ﺗﻜﻤﻠﺔ ﻟﺼﻔﺤﺔ14
    ﻓﺼﻞ ﻣﻬﻢ ﺟﺪﺍ
    ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺭﻭﺍﻩ
    ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ﺑﻠﻔﻆ ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ
    ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺴﻨﺪ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﺟﻬﻞ
    ﺫﻟﻚ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻯ
    ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻋﻄﺎﺀ–ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ
    ﺭﻭﻱ ﻋﻨﻪ ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ
    ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ ﺑﻠﻔﻆ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ– ”ﺃﻳﻀﺎ
    ﺑﺴﻨﺪ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﺻﺢ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺪ ﺍﻟﺬﻱ
    ﻭﺭﺩﺕ ﻓﻴﻪ ﻟﻔﻈﺔ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﺑﻠﻔﻆ
    ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ“ . . .
    ﻭﺫﻟﻚ ﻓﻲ”ﻣﺼﻨﻒ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻋﺒﺪ
    ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ( 175 / 9 ) ”ﻭﻗﺪ ﺟﻬﻞ
    ﺫﻟﻚ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﺟﻬﻼ ﻣﻄﺒﻘﺎ! !ﻭﺳﺎﺭﻉ
    ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻌﻦ ﺑﺎﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ
    ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﻭﺳﻴﺪﻱ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ
    ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺗﻌﺪﻳﺎ ﻭﺗﻄﺎﻭﻻ
    ﺑﺠﻬﻞ ﻓﺎﺿﺢ ﻭﺑﻜﻞ ﺻﻔﺎﻗﺔ! !ﺩﻭﻥ
    ﺃﻥ ﻳﺘﺒﺼﺮ ﻓﻲ
    ﻃﺮﻕ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﻤﺼﻄﻠﺢ
    ﻭﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﺪﺭﻙ ﺗﻨﺎﻗﻀﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻜﻢ
    ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻣﻤﺎ ﺟﻌﻞ ﺍﻻﻣﺮ ﺍﻟﺬﻱ
    ﻧﻌﺖ ﺧﺼﻮﻣﻪ ﺑﻪ ﻳﻨﻘﻠﺐ ﻋﻠﻴﻪ
    ﻭﻳﻠﺒﺴﻪ ﻟﺒﻮﺳﺎ ﻻ ﺍﻧﻔﻜﺎﻙ ﻟﻪ ﻣﻨﻪ
    ﻭﺑﺮﺃ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﻭﺍﻟﻐﻤﺎﺭﻱ ﻭﻋﻠﻰ
    ﻧﻔﺴﻬﺎ ﺟﻨﺖ ﺑﺮﺍﻗﺶ! !ﻭﺭﻭﺍﻳﺔ
    ﻋﻄﺎﺀ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺑﻠﻔﻆ”
    ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ” . . .ﺗﺆﻛﺪ
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ15
    ﺍﺿﻄﺮﺍﺏ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻣﻦ ﺟﻬﺔ
    ﺑﻞ ﺗﺆﻛﺪ ﺑﻄﻼﻥ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻓﻴﻬﺎ
    ﻟﻔﻆ ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺷﺬﻭﺫﻫﺎ،ﻭﺗﺮﺟﻴﺢ
    ﺭﻭﺍﻳﺔ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ
    ﺍﻟﻠﻪ” . . .ﻣﻦ ﺟﻬﺔ ﺃﺧﺮﻯ! !ﻭﻫﺬﺍ
    ﻫﻮ ﺍﻻﻣﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﺳﻴﻨﺘﻬﻲ ﺇﻟﻴﻪ ﻛﻞ
    ﺑﺎﺣﺚ ﻣﻨﺼﻒ ﻣﺤﻘﻖ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ
    ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ.
    ________________________________
    ________
    ﻭﺇﻟﻴﻜﻢ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ
    ﻫﺬﻩ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩﻫﺎ ﻭﻣﺘﻨﻬﺎ:ﺭﻭﻯ
    ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺟﺮﻳﺞ
    ﻗﺎﻝ:ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﻋﻄﺎﺀ:ﺃﻥ ﺭﺟﻼ
    ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻪ ﺟﺎﺭﻳﺔ ﻓﻲ ﻏﻨﻢ ﺗﺮﻋﺎﻫﺎ،
    ﻭﻛﺎﻧﺖ ﺷﺎﺓ ﺻﻔﻲ،ﻳﻌﻨﻲ ﻏﺰﻳﺮﺓ
    ﻓﻲ ﻏﻨﻤﻪ ﺗﻠﻚ،ﻓﺄﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﻌﻄﻴﻬﺎ
    ﻧﺒﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ
    ﻭﺳﻠﻢ،ﻓﺠﺎﺀ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻓﺎﻧﺘﺰﻉ
    ﺿﺮﻋﻬﺎ ﻓﻐﻀﺐ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﺼﻚ ﻭﺟﻪ
    ﺟﺎﺭﻳﺘﻪ،ﻓﺠﺎﺀ ﻧﺒﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    ﻓﺬﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻟﻪ،ﻭﺫﻛﺮ ﺃﻧﻬﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﻠﻴﻪ
    ﺭﻗﺒﺔ ﻣﺆﻣﻨﺔ ﻭﺍﻓﻴﺔ،ﻗﺪ ﻫﻢ ﺃﻥ
    ﻳﺠﻌﻠﻬﺎ ﺇﻳﺎﻫﺎ ﺣﻴﻦ ﺻﻜﻬﺎ،ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ
    ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ” :
    ﺇﻳﺘﻨﻲ ﺑﻬﺎ”ﻓﺴﺄﻟﻬﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ” :ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ
    ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ” .ﻭﺃﻥ
    ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:
    ﻧﻌﻢ” .ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻭﺍﻟﺒﺤﺚ ﺣﻖ؟
    ”ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ” .ﻭﺃﻥ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺭ
    ﺣﻖ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ.ﻓﻠﻤﺎ ﻓﺮﻍ
    ﻗﺎﻝ” :ﺃﻋﺘﻖ ﺃﻭ ﺃﻣﺴﻚ“
    ﻭﻫﺬﺍ ﺳﻨﺪ ﺻﺤﻴﺢ ﻋﺎﻝ ﺇﻟﻰ ﻋﻄﺎﺀ
    ﺭﺍﻭﻱ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻦ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ
    ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻛﻤﺎ ﺗﺮﻯ. ( 1 )ﻓﻬﺬﺃ ﻫﻮ
    ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻣﻦ
    ﻃﺮﻳﻖ ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻠﻔﻆ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ”
    ﻭﻗﺪ ﺗﻘﺪﻡ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺍﻻﻭﻝ ﻭﻫﻮ”ﺃﻳﻦ
    ﺍﻟﻠﻪ”ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻴﻪ ﺃﻧﻪ ﺃﺷﺎﺭ
    ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻣﺴﺘﻔﻬﻤﺎ ﺑﻴﺪﻩ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﻨﻄﻖ
    ”ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ” ؟ﻭﻫﺬﺍ ﻛﻠﻪ
    ﻳﻘﺮﺭ ﻭﻳﻘﻀﻲ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻳﻘﻞ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ
    ”ﻓﻜﻴﻒ
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 1 )ﻭﻣﻦ ﺣﺎﻭﻝ ﺃﻥ ﻳﺠﺎﺩﻝ ﻭﻳﻜﺎﺑﺮ
    ﻭﻳﻤﺎﺭﻱ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺑﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺁﺧﺮ
    ﺃﻭ ﺳﻨﺪ ﻏﻴﺮ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﻟﻘﻤﻨﺎﻩ ﺣﺠﺎﺭﺓ
    ﺍﻟﺒﺮﺍﻫﻴﻦ ﻭﺍﻻﺩﻟﺔ ﺳﺎﻋﺘﺌﺬ ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ
    ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ( * ) .
    ?
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ16
    ﻳﺒﻨﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻤﺘﻤﺴﻠﻔﻮﻥ ﻭﺧﺎﺻﺔ
    ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ ﻗﺼﻮﺭﺍ
    ﻭﻋﻮﺍﻟﻲ! ! ! ؟ﻭﺗﻨﺒﻪ ﻫﻨﺎ ﺟﻴﺪﺍ ﺇﻟﻰ
    ﺃﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺍﺿﻄﺮﺍﺑﺎ ﺁﺧﺮ ﻣﻊ ﺑﺎﻗﻲ
    ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺎﺕ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ
    ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻃﺮﻳﻖ ﻋﻄﺎﺀ ﺃﻛﺒﺮ ﻭﺃﻋﻈﻢ
    ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﻴﻨﺎﻩ
    ﺍﻻﻥ،ﻭﻫﻮ ﺍﺿﻄﺮﺍﺏ ﻣﺘﻦ ﻋﻄﺎﺀ
    ﻣﻊ ﻣﺘﻮﻥ ﺃﺧﺮﻯ ﺳﺘﺄﺗﻲ ﺍﻻﻥ ﻓﻲ
    ﺍﻟﻔﺼﻮﻝ ﺍﻻﺗﻴﺔ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ16
    ﺗﻜﻤﻠﺔ ﻟﺼﻔﺤﺔ16
    ________________________________
    ________
    ﻓﺼﻞ ﺟﺎﺀﺕ ﺭﻭﺍﻳﺔ” )
    ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ( . . .ﻟﻢ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺁﺧﺮ
    ﺻﺤﻴﺢ ﺃﻳﻀﺎ ﺭﻭﻯ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻮﻃﺄ
    )ﺹ( 777ﺑﺴﻨﺪ ﻋﺎﻝ ﺟﺪﺍ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ
    ﺷﻬﺎﺏ ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ
    ﻋﺘﺒﺔ ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻣﻦ ﺍﻻﻧﺼﺎﺭ ﺟﺎﺀ ﺇﻟﻰ
    ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺠﺎﺭﻳﺔ ﻟﻪ ﺳﻮﺩﺍﺀ.
    ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﻋﻠﻲ ﺭﻗﺒﺔ
    ﻣﺆﻣﻨﺔ.ﻓﺈﻥ ﻛﻨﺖ ﺗﺮﺍﻫﺎ ﻣﺆﻣﻨﺔ
    ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ.ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
    )ﺹ” : (ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ
    ﺍﻟﻠﻪ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ.ﻗﺎﻝ:
    )ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺃ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ؟
    ”ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ.ﻗﺎﻝ” :ﺃﺗﻮﻗﻨﻴﻦ
    ﺑﺎﻟﺒﻌﺚ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻮﺕ“ ؟
    ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ.ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
    )ﺹ” : (ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ. ”
    ﻭﺭﻭﺍﻩ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﻓﻲ
    ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ( 175 / 9 )ﻗﺎﻝ:ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ
    ﻣﻌﻤﺮ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻋﻦ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻻﻧﺼﺎﺭ ﺑﻪ ﻭﻣﻦ
    ﻃﺮﻳﻘﻪ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ
    ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ( 452 – 451 / 3 )ﻛﻤﺎ
    ﺭﻭﺍﻩ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﺃﻳﻀﺎ.
    ﻗﻠﺖ:ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ﻓﺈﻣﺎﻡ ﺛﻘﺔ ﻣﻦ
    ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺴﺘﺔ.ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ” :ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻣﺘﻔﻖ
    ﻋﻠﻰ ﺟﻼﻟﺘﻪ ﻭﺇﺗﻘﺎﻧﻪ. ”
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ17
    ﻭﺃﻣﺎ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺘﺒﺔ
    ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻓﺄﺣﺪ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺍﻟﺴﺒﻌﺔ
    ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭﻳﻦ ﻣﻦ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺴﺘﺔ ﺃﻳﻀﺎ
    ﺇﻣﺎﻡ ﺛﻘﺔ.
    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ ﻋﻨﻪ” :
    ﺛﻘﺔ ﻓﻘﻴﻪ ﺛﺒﺖ”ﻭﻻ ﻳﻌﺮﻑ
    ﺑﺘﺪﻟﻴﺲ،ﻭﻋﻨﻌﻨﺘﻪ ﻣﺤﻤﻮﻟﺔ ﻋﻠﻰ
    ﺍﻟﺴﻤﺎﻉ ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ” :ﻋﻦ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ
    ﺍﻻﻧﺼﺎﺭ. ”
    ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺮﻩ/ 1 )
    ” ( 547ﺇﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﺟﻬﺎﻟﺔ
    ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﻲ ﻻ ﺗﻀﺮﻩ“
    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺒﺮ ﻓﻲ”ﺍﻟﺘﻤﻬﻴﺪ
    ” : ( 4 / 119 ) ”ﻇﺎﻫﺮﻩ ﺍﻻﺭﺳﺎﻝ
    ﻟﻜﻨﻪ ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺗﺼﺎﻝ ﻟﻠﻘﺎﺀ
    ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ، ”
    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﻬﻴﺜﻤﻲ ﻓﻲ”
    ﺍﻟﻤﺠﻤﻊ” ( 23 / 1 ) ”ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ
    ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ. ”
    ﻗﻠﺖ:ﻭﻟﻠﻔﻆ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ” . .
    ﺷﻮﺍﻫﺪ ﻋﺪﻳﺪﺓ ﻣﻨﻬﺎ:
    ________________________________
    ________
    : 1ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ ﻓﻲ”ﺍﻟﺴﻨﻦ
    ( 187 / 2 ) ”ﻗﺎﻝ:ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ
    ﺍﻟﻮﻟﻴﺪ ﺍﻟﻄﻴﺎﻟﺴﻲ ﺛﻨﺎ ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ
    ﺳﻠﻤﺔ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﻋﻦ
    ﺃﺑﻲ ﺳﻠﻤﺔ( 5 )ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﺪ ﻗﺎﻝ:
    ﺃﺗﻴﺖ ﺍﻟﻨﺒﻲ)ﺹ(ﻓﻘﻠﺖ:ﺇﻥ ﻋﻠﻰ
    ﺃﻣﻲ ﺭﻗﺒﺔ ﻭﺇﻥ ﻋﻨﺪﻱ ﺟﺎﺭﻳﺔ ﺳﻮﺩﺍﺀ
    ﻧﻮﺑﻴﺔ ﺃﻓﺘﺠﺰﺉ ﻋﻨﻬﺎ؟ﻗﺎﻝ” :ﺃﺩﻉ
    ﺑﻬﺎ”ﻓﻘﺎﻝ” :ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ
    ﺍﻟﻠﻪ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ.ﻗﺎﻝ” :
    ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﺆﻣﻨﺔ. ”
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 5 )ﻭﻗﺪ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﺭﻭﺍﻳﺔ
    ﺣﻤﺎﺩ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ
    ﺳﻠﻤﺔ ﻓﻲ”ﺻﺤﻴﺤﺘﻪ240 / 1 ) ”
    ﺍﻟﺴﻄﺮ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﺃﺳﻔﻞ(
    ﻭﺣﻜﻢ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻭ ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ
    ﺑﻌﻴﻨﻪ ﻓﻲ”ﺻﺤﻴﺢ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ/ 2 ) ”
    632ﺑﺮﻗﻢ( 3283 – 2810ﺑﺄﻧﻪ” :
    ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ“
    ﻭﺍﻧﻈﺮ ﺍﻟﺴﻨﺪ ﻓﻲ”ﺳﻨﻦ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ
    ( 230 / 3 ) ”ﻓﺘﻨﺒﻪ ﻟﺬﻟﻚ ﻭﻻ ﺗﻐﻔﻞ
    ﻋﻨﻪ ﻋﻨﺪ ﻣﺤﺎﻭﺭﺍﺕ ﻭﻣﺪﺍﻭﺭﺍﺕ ﻫﺬﺍ
    ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !ﺍﻟﻔﺎﺷﻠﺔ! !ﻭﺷﻴﻌﺘﻪ
    ﺍﻟﻤﻨﺨﺪﻋﻴﻦ ﺑﻪ! !ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺤﺎﻭﻟﻮﻥ
    ﺃﻥ ﻳﻨﺼﺮﻭﻩ ﻭﻟﻮ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻞ! !ﻭﺍﻟﻠﻪ
    ﻣﻦ ﻭﺭﺍﺋﻬﻢ ﻣﺤﻴﻂ( * ) ! !
    ?
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ18
    – 2ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺰﺍﺭ)ﻛﺸﻒ ﺍﻻﺳﺘﺎﺭ
    ( 14 / 1ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ27 / 12 )ﻓﻲ
    ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻋﻦ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ
    ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻗﺎﻝ” :ﺃﺗﻰ ﺭﺟﻞ ﺍﻟﻨﺒﻲ
    )ﺹ(ﻓﻘﺎﻝ:ﺇﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻲ ﺭﻗﺒﺔ
    ﻭﻋﻨﺪﻱ ﺃﻣﺔ ﺳﻮﺩﺍﺀ،ﻓﻘﺎﻝ” :ﺍﺋﺘﻨﻲ
    ﺑﻬﺎ”ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ)ﺹ” : (
    ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﻲ
    ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ.ﻗﺎﻝ:
    ”ﻓﺄﻋﺘﻘﻬﺎ. ”
    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﻬﻴﺜﻤﻲ ﻓﻲ”
    ﺍﻟﻤﺠﻤﻊ( 244 / 4 ) ”ﻋﻦ ﻫﺬﺍ
    ﺍﻟﺴﻨﺪ” :ﻓﻴﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻟﻴﻠﻰ
    ﻭﻫﻮ ﺳﺊ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﻭﻗﺪ ﻭﺛﻖ. ”
    ﻭﺳﺘﺄﺗﻲ ﺷﻮﺍﻫﺪ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮﺓ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻠﻔﻆ
    ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﻓﺼﻞ ﺧﺎﺹ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ
    ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ18
    ﺗﻜﻤﻠﺔ ﻟﺼﻔﺤﺔ18
    ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺟﺎﺀﺕ ﺑﻠﻔﻆ”ﻣﻦ ﺭﺑﻚ
    ”ﺻﺤﻴﺤﺔ ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ ﺃﻳﻀﺎ:ﺭﻭﻯ ﺍﺑﻦ
    ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ”ﺻﺤﻴﺤﻪ– 418 / 1 ) ”
    ( 419ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﺪ ﺑﻦ ﺳﻮﻳﺪ
    ﺍﻟﺜﻘﻔﻲ ﻗﺎﻝ:ﻗﻠﻤﺖ:ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ
    ﺍﻟﻠﻪ،ﺇﻥ ﺍﻣﻲ ﺃﻭﺻﺖ ﺃﻥ ﻧﻌﺘﻖ ﻋﻨﻬﺎ
    ﺭﻗﺒﺔ ﻭﻋﻨﺪﻱ ﺟﺎﺭﻳﺔ ﺳﻮﺩﺍﺀ،ﻗﺎﻝ:

    ________________________________
    ________
    ﺃﺩﻉ ﺑﻬﺎ”ﻓﺠﺎﺀﺕ،ﻓﻘﺎﻝ” :ﻣﻦ
    ﺭﺑﻚ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﺍﻟﻠﻪ،ﻗﺎﻝ” :ﻣﻦ
    ﺃﻧﺎ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﺃﻧﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ،
    ﻗﺎﻝ” :ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﺆﻣﻨﺔ. ( 6 ) ”
    ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻱ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺸﺮﻳﺪ ﻫﺬﺍ ﺑﻠﻔﻆ
    ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ“ . . .
    ﺃﻳﻀﺎ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ/ 2 )
    ( 187ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ ﻋﻨﺪ
    ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 6 )ﻗﻠﺖ:ﺭﻭﻯ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻣﻦ
    ﻃﺮﻳﻖ ﺣﻤﺎﺩ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ
    ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻠﻤﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﺪ:
    ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻐﺮﻯ( 252 / 6 )
    ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ( 110 / 4 )ﻭﺃﺣﻤﺪ
    222 / 4 )ﻭ388ﻭ( 389
    ﻭﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ320 / 7 )ﺑﺮﻗﻢ
    ، ( 7257ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ= ( 388 / 7 )
    ( * )
    ?
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ19
    ﻓﺘﺒﻴﻦ ﺑﺬﻟﻚ ﺃﻥ ﺳﺆﺍﻝ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ
    ﻣﻀﻄﺮﺏ ﺍﻟﻤﺘﻦ ﺑﻼ ﺭﻳﺐ ﻭﻻ ﺷﻚ،
    ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﺿﻄﺮﺍﺏ ﻓﻠﻴﺲ
    ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺍﻻﺭﺽ ﺣﺪﻳﺚ
    ﻣﻀﻄﺮﺏ! !
    ﻭﺇﻟﻴﻚ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻤﻀﻄﺮﺏ
    ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﻴﻦ،ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻧﺼﻮﺹ
    ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻭﺍﻟﻤﺤﺪﺛﻴﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻗﺎﻟﻮﺍ
    ﺑﺎﺿﻄﺮﺍﺏ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻻ ﻋﻠﻰ
    ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺤﺼﺮ:ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
    ﺍﻟﻤﻀﻄﺮﺏ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ
    ﺍﻟﻤﺤﺪﺛﻴﻦ:ﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ
    ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ ﻣﻌﺮﻓﺎ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
    ﺍﻟﻤﻀﻄﺮﺏ:
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    =ﻭﺭﻭﺍﻩ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺯﻳﺎﺩ ﺑﻦ ﺍﻟﺮﺑﻴﻊ
    ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻠﻤﺔ ﻋﻦ
    ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﺪ:ﺍﺑﻦ
    ﺧﺰﻳﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ)ﺹ. ( 122
    ﻭﺭﻭﺍﻩ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺃﺑﻮ ﻋﺎﺻﻢ ﺛﻨﺎ
    ﻣﻌﺪﺍﻥ ﺍﻟﻤﻨﻘﺮﻱ ﻋﻦ ﻋﻮﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ
    ﺍﻟﻠﻪ ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺃﺑﻲ ﻋﻦ ﺟﺪﻱ:
    ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ136 / 17 )ﺑﺮﻗﻢ( 338
    ،
    ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ، ( 258 / 3 )
    ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ) ( 388 / 7 )ﺣﺪﻳﺚ
    ﺁﺧﺮ. (
    ﻭﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻻﻭﺳﻂ ﻣﻦ
    ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺑﻠﻔﻆ” :ﻣﻦ
    ﺭﺑﻚ“
    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﻬﻴﺜﻤﻲ ﻓﻲ”
    ﺍﻟﻤﺠﻤﻊ” : ( 24 / 1 ) ”ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ
    ﻣﻮﺛﻘﻮﻥ. ”
    ﺃﻧﻈﺮ ﻣﺠﻤﻊ ﺍﻟﺒﺤﺮﻳﻦ ﻓﻲ ﺯﻭﺍﺋﺪ
    ﺍﻟﻤﻌﺠﻤﻴﻦ84 / 4 )ﺑﺮﻗﻢ( 2134
    .
    ﻭﺗﻨﺒﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ! !ﺻﺤﺢ
    ﻃﺮﻳﻖ ﺣﻤﺎﺩ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ
    ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻠﻤﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﺪ ﻓﻲ”
    ﺻﺤﻴﺢ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ632 / 2 ) ”ﺑﺮﻗﻢ
    ( 3283 – 2810ﻓﻘﺎﻝ” :ﺣﺴﻦ
    ﺻﺤﻴﺢ، ”
    ﺃﻧﻈﺮ ﻟﻠﺘﺄﻛﺪ”ﺳﻨﻦ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ/ 3 ) ”
    230ﺑﺮﻗﻢ( * ) . ( 3283
    ?
    ________________________________
    ________
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ20
    )ﺍﻟﻤﻀﻄﺮﺏ:ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺮﻭﻯ ﻋﻠﻰ
    ﺃﻭﺟﻪ ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ ﻣﺘﻘﺎﺭﺑﺔ،ﻓﺈﻥ
    ﺭﺟﺤﺖ ﺇﺣﺪﻯ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺘﻴﻦ ﺑﺤﻔﻆ
    ﺭﺍﻭﻳﻬﺎ ﺃﻭ ﻛﺜﺮﺓ ﺻﺤﺒﺘﻪ ﺍﻟﻤﺮﻭﻱ ﻋﻨﻪ
    ﺃﻭ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﻟﺤﻜﻢ ﻟﻠﺮﺍﺟﺤﺔ،ﻭﻻ
    ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻀﻄﺮﺑﺎ ﻭﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻳﻮﺟﺐ
    ﺿﻌﻒ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻻﺷﻌﺎﺭﻩ ﺑﻌﺪﻡ
    ﺍﻟﻀﺒﻂ ﻭﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ ﺗﺎﺭﺓ ﻭﻓﻲ
    ﺍﻟﻤﺘﻦ ﺃﺧﺮﻯ،ﻭﻓﻴﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺭﺍﻭ ﺃﻭ
    ﺟﻤﺎﻋﺔ. ”
    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺩﻗﻴﻖ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻓﻲ
    ﺍﻻﻗﺘﺮﺍﺡ” :ﺍﻟﻤﻀﻄﺮﺏ:ﻫﻮ ﻣﺎ
    ﺭﻭﻱ ﻣﻦ ﻭﺟﻮﻩ ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ.ﻭﻫﻮ ﺃﺣﺪ
    ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻞ ﻋﻨﺪﻫﻢ،ﻭﻣﻮﺟﺒﺎﺕ
    ﺍﻟﻀﻌﻒ ﻟﻠﺤﺪﻳﺚ. ”
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ20
    ﺗﻜﻤﻠﺔ ﻟﺼﻔﺤﺔ20
    ﺗﺼﺮﻳﺢ ﺑﻌﺾ ﺍﻻﺋﻤﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ
    ﻭﺍﻟﻤﺤﺪﺛﻴﻦ ﺑﺎﺿﻄﺮﺍﺏ ﺣﺪﻳﺚ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ:
    – 1ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ:ﺗﻘﺪﻡ
    ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
    ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ”ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ
    ﻭﺍﻟﺼﻔﺎﺕ”ﺹ” : ( 422 )ﻭﻫﺬﺍ
    ﺻﺤﻴﺢ ﻗﺪ ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﻣﻘﻄﻌﺎ
    ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻻﻭﺯﺍﻋﻲ ﻭﺣﺠﺎﺝ
    ﺍﻟﺼﻮﺍﻑ ﻋﻦ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻛﺜﻴﺮ
    ﺩﻭﻥ ﻗﺼﺔ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ؟
    ﻭﺃﻇﻨﻪ ﺇﻧﻤﺎ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
    ﻻﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻓﻲ ﻟﻔﻈﻪ،ﻭﻗﺪ
    ﺫﻛﺮﺕ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻈﻬﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﻦ
    ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻣﻦ ﺧﺎﻟﻒ ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﺑﻦ
    ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﻟﻔﻆ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ) ”ﺍﻧﻈﺮ
    ﺍﻟﺴﻨﻦ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ. ( 388 / 7
    ﻓﺎﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻳﺮﻯ ﺑﻜﻞ ﻣﺮﺍﺣﺔ ﻭﻭﺿﻮﺡ
    ﺑﺄﻥ ﻗﺼﺔ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻟﻴﺴﺖ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ
    ﻣﺴﻠﻢ،ﻭﻧﺴﺨﺔ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻟﻢ
    ﻳﺸﺘﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻜﺘﺒﺔ ﺍﻟﻔﻼﻧﻴﺔ ﺃﻭ
    ﺍﻟﻤﻜﺘﺒﺔ
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ21
    ﺍﻟﻔﻼﻧﻴﺔ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻲ ﻧﺴﺨﺔ ﻗﺮﺃﻫﺎ
    ﻋﻠﻰ ﻣﺸﺎﻳﺨﻪ ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ
    ﺍﻟﺘﻨﺒﻪ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﺍ ﺟﻴﺪﺍ! !ﻫﺬﺍ ﻣﻦ
    ﺟﻬﺔ.
    ﻭﻣﻦ ﺟﻬﺔ ﺃﺧﺮﻯ ﻫﻨﺎﻙ ﺃﻣﺮ ﺁﺧﺮ
    ﻣﻬﻢ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ
    ﺻﺮﺡ ﺑﺎﺿﻄﺮﺍﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻱ
    ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻓﻲ ﻟﻔﻈﻪ! !ﻓﻌﻠﻰ
    ﺗﺴﻠﻴﻢ ﺃﻧﻪ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻬﻮ
    ﻣﻀﻄﺮﺏ ﺑﻼ ﺷﻚ ﻟﻤﺎ ﺃﺛﺒﺘﻨﺎﻩ ﻓﻲ
    ﺍﻟﻔﺼﻮﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﺪﻣﺖ ﻋﻨﺪ ﻋﺮﺽ
    ﻃﺮﻗﻪ.
    ﻭﻣﻦ ﺟﻬﺔ ﺛﺎﻟﺜﺔ ﺃﻳﻀﺎ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ
    ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻣﺴﻠﻢ ﻗﺼﺔ ﻋﺘﻖ ﻫﺬﻩ
    ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻌﺘﻖ ﻭﻻ ﻓﻲ
    ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻻﻳﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﻨﺬﻭﺭ،ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ
    ﻳﺆﻛﺪ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ
    ﻭﺍﻟﻤﺤﺪﺙ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ
    ﻭﺍﻟﺮﺿﻮﺍﻥ.
    ________________________________
    ________
    – 2ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﺰﺍﺭ:ﻟﻘﺪ
    ﺻﺮﺡ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺒﺰﺍﺭ ﺑﺎﺿﻄﺮﺍﺏ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪﻩ،ﻓﻘﺎﻝ
    ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﻣﻦ
    ﻃﺮﻗﻪ)ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﻛﺸﻒ ﺍﻻﺳﺘﺎﺭ/ 1
    ” : ( 14ﻭﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﺭﻭﻱ ﻧﺤﻮﻩ ﺑﺄﻟﻔﺎﻅ
    ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ. ”
    – 3ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ:
    ﺻﺮﺡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺑﺎﺿﻄﺮﺍﺑﻪ
    ﺃﻳﻀﺎ ﺇﺫ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ”ﺍﻟﺘﻠﺨﻴﺺ ﺍﻟﺤﺒﻴﺮ
    ( 223 / 3 ) ”ﻣﺎ ﻧﺼﻪ” :ﻭﻓﻲ
    ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﻛﺜﻴﺮﺓ”ﺍﻫ.
    ﻭﻗﺪ ﺻﺮﺡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺑﺎﻧﻪ ﻻ
    ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ)ﺍﻻﻳﻦ(ﻓﻲ ﺣﻖ
    ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻠﻢ ﻳﻌﻤﻞ
    ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺭﻏﻢ ﺻﺤﺔ ﺳﻨﺪﻩ
    ﺑﻨﻈﺮﻩ ﻭﺫﻟﻚ ﻻﺿﻄﺮﺍﺑﻪ! !ﻻﻥ
    ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻣﻮﺟﺐ ﻟﻠﻀﻌﻒ ﻣﻊ
    ﻛﻮﻥ ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ22
    ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ ﻳﻌﺮﻓﻪ ﺻﻐﺎﺭ
    ﺍﻟﻄﻠﺒﺔ ﻓﻀﻼ ﻋﻤﻦ ﻳﺪﻋﻲ ﺍﻟﻔﺼﺎﺣﺔ
    ﻭﺍﻟﺘﺤﺪﻳﺚ! !
    ﻟﺬﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﻓﻲ”ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ
    ” : ( 221 / 1 ) ”ﻓﺈﻥ ﺇﺩﺭﺍﻙ
    ﺍﻟﻌﻘﻮﻝ ﻻﺳﺮﺍﺭ ﺍﻟﺮﺑﻮﺑﻴﺔ ﻗﺎﺻﺮ ﻓﻼ
    ﻳﺘﻮﺟﻪ ﻋﻠﻰ ﺣﻜﻤﻪ ﻟﻢ ﻭﻻ ﻛﻴﻒ؟
    ﻛﻤﺎ ﻻ ﻳﺘﻮﺟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﻭﺟﻮﺩﻩ ﺃﻳﻦ
    ﻭﺣﻴﺚ” . .ﺍﻫ.ﻓﺘﺄﻣﻞ ﺟﻴﺪﺍ! !
    – 4ﻭﺑﻠﻐﻨﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻲ
    ﺣﻜﻢ ﻋﻠﻰ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺑﻠﻔﻆ”
    ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻤﺎ ﺑﺎﻟﺸﺬﻭﺫ ﻓﻲ ﺃﻣﺎﻟﻴﻪ
    ﻓﻠﻴﻨﻈﺮ.
    – 5ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﻋﻠﻴﻪ
    ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﻭﺍﻟﺮﺿﻮﺍﻥ:ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ
    ﺍﻟﻜﻮﺛﺮﻱ ﻋﻠﻰ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ
    ﺑﺎﻻﺿﻄﺮﺍﺏ ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻘﻪ ﻋﻠﻰ”
    ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﻔﺎﺕ”ﺹ( 422 )
    ﻓﻘﺎﻝ” :ﻗﺪ ﻓﻌﻠﺖ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺑﺎﻟﻤﻌﻨﻰ
    ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﺎ ﺗﺮﺍﻩ ﻣﻦ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺏ
    . ”
    ﻭﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻘﻪ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ
    ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ”ﺍﻟﺴﻴﻒ
    ﺍﻟﺼﻘﻴﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻦ ﺯﻓﻴﻞ”
    ﺹ( 94 )ﺗﻮﺳﻊ ﻓﻲ ﻣﺒﺤﺚ
    ﺍﺿﻄﺮﺍﺑﻪ.
    – 6ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ ﺳﻴﺪﻱ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ
    ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺃﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺩﺭﺟﺘﻪ:
    ﺫﻛﺮ ﺳﻴﺪﻱ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ
    ﻓﻲ ﺗﻌﻠﻴﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﺎﺏ
    ”ﺍﻟﺘﻤﻬﻴﺪ( 135 / 7 ) ”ﻟﻠﺤﺎﻓﻆ
    ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺒﺮ ﻋﻦ ﻟﻔﻆ”ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”
    ﻣﺎ ﻧﺼﻪ” :ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ
    ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ.
    ﻭﻗﺪ ﺗﺼﺮﻑ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻓﻲ ﺃﻟﻔﺎﻇﻪ،
    ﻓﺮﻭﻱ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻛﻤﺎ ﻫﻨﺎ ﻭﺑﻠﻔﻆ”
    ﻣﻦ ﺭﺑﻚ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺑﻲ.
    ﻭﺑﻠﻔﻆ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ
    ﺍﻟﻠﻪ” ؟ﻗﺎﻟﺖ:ﻧﻌﻢ.
    ________________________________
    ________
    ﻭﻗﺪ ﺃﺳﺘﻮﻋﺐ ﺗﻠﻚ ﺍﻷﻟﻔﺎﻅ
    ﺑﺄﺳﺎﻧﻴﺪﻫﺎ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺴﻨﻦ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﺑﺤﻴﺚ ﻳﺠﺰﻡ ﺍﻟﻮﺍﻗﻒ
    ﻋﻠﻴﻬﺎ
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ23
    ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻫﻨﺎ ﻣﺮﻭﻱ
    ﺑﺎﻟﻤﻌﻨﻰ ﺣﺴﺐ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﺮﺍﻭﻱ. ” . . .
    ﻭﺑﻬﺬﺍ ﺛﺒﺖ ﺛﺒﻮﺗﺎ ﻻ ﺷﻚ ﻓﻴﻪ ﻋﻨﺪﻧﺎ
    ﺣﺴﺐ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﻤﺼﻄﻠﺢ
    ﻭﺗﺼﺮﻳﺤﺎﺕ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻲ
    ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﺿﻄﺮﺍﺏ ﻣﺘﻦ
    ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ
    ﺍﻟﺘﻌﻮﻳﻞ ﻋﻠﻰ ﻟﻔﻆ ﻣﻦ ﺃﻟﻔﺎﻇﻪ؟
    ﻭﺃﺻﺢ ﺃﺳﺎﻧﻴﺪﻩ ﻛﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺑﻠﻔﻆ”
    ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ، ” . . .
    ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﻣﺠﺎﻝ ﻟﻠﺘﺮﺟﻴﺢ ﺑﻴﻦ
    ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺎﺕ ﻓﺎﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺮﺍﺟﺤﺔ ﺑﻼ
    ﺷﻚ ﻭﻻ ﺭﻳﺐ ﻫﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ”
    ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ” . . .ﻻﻧﻬﺎ ﺍﻻﺻﺢ ﺇﺳﻨﺎﺩﺍ
    ﻭﻻﻥ ﺍﻟﻤﻌﻬﻮﺩ ﻣﻦ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ
    )ﺹ(ﺍﻟﺜﺎﺑﺖ ﻋﻨﻪ ﺑﺎﻟﺘﻮﺍﺗﺮ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ
    ﻳﺄﻣﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﻘﺎﺗﻠﻬﻢ ﻭﻳﺨﺘﺒﺮ
    ﺇﻳﻤﺎﻧﻬﻢ ﺑﺎﻟﺸﻬﺎﺩﺗﻴﻦ ﻓﺘﻜﻮﻥ ﺭﻭﺍﻳﺔ”
    ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ”ﺷﺎﺫﺓ ﺃﻭ ﻣﻨﻜﺮﺓ( 7 ) ! !
    ﻭﺇﻟﻴﻜﻢ ﺑﻌﺾ ﺍﻻﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ:
    ) *ﻫﺎﻣﺶ* (
    ( 7 )ﻓﺈﻥ ﻗﺎﻝ ﻛﻴﻒ ﺗﻘﻮﻝ”
    ﺷﺎﺫﺓ” . . .ﻭﻫﻲ ﻓﻲ ﻣﺴﻠﻢ! ؟
    ﻗﻠﻨﺎ:ﻫﻨﺎﻙ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﻋﺪﻳﺪﺓ ﺣﻜﻢ
    ﺍﻟﺤﻔﺎﻅ ﻭﺍﻟﻤﺤﺪﺛﻮﻥ ﺑﺸﺬﻭﺫﻫﺎ
    ﻭﻫﻲ ﻓﻲ ﻣﺴﻠﻢ ﺃﻭ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ! !
    ﺑﻞ ﺇﻥ ﻓﺎﻙ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ
    ﻭﻣﺴﻠﻢ ﺣﻜﻢ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻫﺬﺍ
    ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﻀﻦ! !ﺑﺄﻧﻬﺎ ﺷﺎﺫﺓ! !
    ﻣﻨﻬﺎ ﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﻲ)ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ
    ” ( 2148 / 4 ) ”ﺛﻢ ﻳﻄﻮﻱ
    ﺍﻻﺭﺿﻴﻦ ﺑﺸﻤﺎﻟﻪ”ﻓﺤﻜﻢ
    ﺑﺸﺬﻭﺫﻫﺎ ﻓﻲ”ﺗﺨﺮﻳﺞ
    ﺍﻟﻤﺼﻄﻠﺤﺎﺕ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓ ﻓﻲ
    ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ”ﺭﻗﻢ( 1 )ﻟﻠﻤﻮﺩﻭﺩﻱ.
    ﻭﺳﻴﺄﺗﻲ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺼﻔﺤﺎﺕ ﺍﻟﻘﺎﺩﻣﺔ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ
    ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺸﺊ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ( * ) ! !
    ?
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ24
    – 1ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ”ﺻﺤﻴﺤﻪ
    ( 171 / 6 ) ”ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﻛﻴﻒ ﻳﻌﺮﺽ
    ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ
    ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ
    )ﺹ(ﻗﺎﻝ ﻻﺑﻦ ﺻﻴﺎﺩ” :ﺃﺗﺸﻬﺪ
    ﺃﻧﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ. ” ؟
    – 2ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ( 497 / 1 )ﻋﻦ
    ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻭ( 112 / 6 )ﻋﻦ
    ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﻛﺬﺍ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ”
    ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ“
    ________________________________
    ________
    ( 53 – 51 / 1 )ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ
    ﻭﺟﺎﺑﺮ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻭﻋﺒﺎﺩﺓ
    ﺑﻦ ﺍﻟﺼﺎﻣﺖ( 57 / 1 )ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻋﻨﻬﻢ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ ﻗﺎﻟﻮﺍ:ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ
    ﺍﻟﻠﻪ)ﺹ” : (ﺃﻣﺮﺕ ﺃﻥ ﺃﻗﺎﺗﻞ
    ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺘﻰ ﻳﺸﻬﺪﻭﺍ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ” . .
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ.
    ﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ)ﺑﺮﻗﻢ( 1630
    ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺫﻛﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ” :ﻭﻫﻮ
    ﻣﺘﻮﺍﺗﺮ. ”
    ﻭﺯﺍﺩ ﺍﻟﻤﻨﺎﻭﻱ ﻓﻲ ﺷﺮﺣﻪ ﻓﻘﺎﻝ” :
    ﻭﻫﻮ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮ ﻻﻧﻪ ﺭﻭﺍﻩ ﺧﻤﺴﺔ ﻋﺸﺮ
    ﺻﺤﺎﺑﻴﺎ. ”
    ﻭﻓﻲ)ﻧﻈﻢ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﺛﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
    ﺍﻟﻤﺘﻮﺍﺗﺮ”ﻟﻠﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ
    ﺍﻟﻜﺘﺎﻧﻲ ﻣﺎ ﻧﺼﻪ” :ﻭﻓﻲ ﺷﺮﺡ
    ﺍﻻﺣﻴﺎﺀ–ﻟﻠﻤﺤﺪﺙ ﺍﻟﺰﺑﻴﺪﻱ–ﺭﻭﺍﻩ
    ﺳﺘﺔ ﻋﺸﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ
    ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻲ. ” . . .
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ25
    – 3ﻭﻓﻲ”ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ/ 1 ) ”
    ( 50ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺃﻥ
    ﻣﻌﺎﺫﺍ ﻗﺎﻝ:ﺑﻌﺜﻨﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
    )ﺹ(ﻓﻘﺎﻝ” :ﺇﻧﻚ ﺗﺄﺗﻲ ﻗﻮﻣﺎ ﻣﻦ
    ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﺎﺩﻋﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ
    ﻻ ﺍﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ. . .
    . ”
    – 4ﻭﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ( 60 / 1 )
    ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ)ﺹ(ﺃﻋﻄﻰ ﺃﺑﺎ
    ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻧﻌﻠﻴﻪ ﻭﻗﺎﻝ” :ﺇﺫﻫﺐ ﺑﻨﻌﻠﻲ
    ﻫﺎﺗﻴﻦ ﻓﻤﻦ ﻟﻘﻴﺖ ﻣﻦ ﻭﺭﺍﺀ ﻫﺬﺍ
    ﺍﻟﺤﺎﺋﻂ ﻳﺸﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻣﺴﺘﻴﻘﻨﺎ ﺑﻬﺎ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﺒﺸﺮﻩ ﺑﺎﻟﺠﻨﺔ. .
    . ”
    – 5ﻭﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ( 61 / 1 )
    :ﻋﻦ ﻋﺘﺒﺎﻥ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺃﻥ ﺟﻤﺎﻋﺔ
    ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺃﺣﺒﻮﺍ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮ ﺍﻟﻨﺒﻲ
    )ﺹ(ﻋﻠﻰ ﻣﺎﻟﻚ ﺑﻦ ﺩﺧﺸﻢ ﻟﻴﻬﻠﻚ
    ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ)ﺹ” : (ﺃﻟﻴﺲ
    ﻳﺸﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﻲ ﺭﺳﻮﻝ
    ﺍﻟﻠﻪ” ؟ﻗﺎﻟﻮﺍ:ﺇﻧﻪ ﻳﻘﻮﻝ ﺫﻟﻚ ﻭﻣﺎ
    ﻫﻮ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ.ﻗﺎﻝ” :ﻻ ﻳﺸﻬﺪ ﺃﺣﺪ
    ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﻲ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻓﻴﺪﺧﻞ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺃﻭ ﺗﻄﻌﻤﻪ”ﻗﺎﻝ
    ﺃﻧﺲ:ﻓﺄﻋﺠﺒﻨﻲ ﻫﺬ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻘﻠﺖ
    ﻻﺑﻨﻲ:ﺍﻛﺘﺒﻪ ﻓﻜﺘﺒﻪ.
    ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻻﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻛﺜﻴﺮ ﺑﻠﻐﺖ
    ﻣﺒﻠﻎ ﺍﻟﺘﻮﺍﺗﺮ ﺟﻤﻴﻌﻬﺎ ﻳﺮﺧﺢ ﺭﻭﺍﻳﺔ”
    ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ”ﻣﻊ ﻛﻮﻥ
    ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﻫﻲ ﺍﻻﺻﺢ ﺇﺳﻨﺎﺩﺍ
    ﻭﺍﻻﻗﻮﻯ ﻣﺪﺭﻛﺎ.
    ﺗﻨﻘﻴﺢ ﺍﻟﻔﻬﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻴﺔ–ﺣﺴﻦ ﺑﻦ
    ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺴﻘﺎﻑ–ﺹ26
    ﺗﻨﺒﻴﻪ:ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺠﺎﺋﺐ ﺍﻟﻐﺮﺍﺋﺐ ﺃﻥ
    ﺍﻻﻟﺒﺎﻧﻲ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ! !
    ________________________________
    ________
    ﺍﻋﺘﺒﺮ ﻓﻲ”ﺇﺭﻭﺍﺀ ﻏﻠﻴﻠﻪ/ 1 ) ”
    ( 31ﺃﻥ ﺣﺪﻳﺚ”ﻛﻞ ﺃﻣﺮ ﺫﻱ ﺑﺎﻝ ﻻ
    ﻳﺒﺪﺃ ﻓﻴﻪ ﺑﺎﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺃﻗﻄﻊ”
    ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ”ﺍﺑﺘﺮ”ﻭﺗﺎﺭﺓ”ﺃﺟﺬﻡ”
    ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻣﻀﻄﺮﺑﺎ! !ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺎ ﻧﺼﻪ” :
    ﻭﻣﻤﺎ ﻳﺪﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﺿﻌﻔﻪ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ
    ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﺍﺿﻄﺮﺍﺑﻪ ﻓﻲ ﻣﺘﻦ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ،ﻓﻬﻮ ﺗﺎﺭﺓ ﻳﻘﻮﻝ:ﺃﻗﻄﻊ،
    ﻭﺗﺎﺭﺓ:ﺃﺑﺘﺮ،ﻭﺗﺎﺭﺓ:ﺃﺟﺬﻡ،ﻭﺗﺎﺭﺓ
    ﻳﺬﻛﺮ ﺍﻟﺤﻤﺪ،ﻭﺃﺧﺮﻯ ﻳﻘﻮﻝ:ﺑﺬﻛﺮ
    ﺍﻟﻠﻪ” . .ﺍﻫ.
    ﻣﻊ ﺃﻥ ﻣﻌﻨﻰ ﺃﺟﺬﻡ ﻭﺃﻗﻄﻊ ﻭﺃﺑﺘﺮ
    ﻭﺍﺣﺪ ﻛﻤﺎ ﻳﻌﺮﻑ ﺫﻟﻚ ﺃﺩﻧﻰ ﻣﻦ ﻟﻪ
    ﺍﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﻠﻐﺔ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﺑﻠﻪ ﻣﻦ ﻳﺪﻋﻲ
    ﺍﻟﻔﻬﻢ ﻭﺍﻟﻔﺼﺎﺣﺔ! !ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻘﻄﻊ
    ﻭﺍﻟﺒﺘﺮ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺍﻟﺠﺬﻡ
    ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺎﻣﻮﺱ! !ﻭﺣﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ
    ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻦ ﺫﻛﺮﻩ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ! !ﻭﺑﻪ
    ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺃﻟﻔﺎﻅ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ،
    ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﺍﻻﻟﻤﻌﻲ ﺍﻟﻤﺘﻨﺎﻗﺾ!
    ﻟﻢ ﻳﻊ ﺫﻟﻚ! !
    ﻓﺎﻟﺴﺆﺍﻝ ﻫﻨﺎ ﻛﻴﻒ ﺍﻋﺘﺒﺮ ﺃﺟﺬﻡ
    ﻭﺃﺑﺘﺮ ﻭﺃﻗﻄﻊ ﺍﺿﻄﺮﺍﺑﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﺘﺒﺮ”
    ﺃﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ” . .ﻭ”ﺃﺗﺸﻬﺪﻳﻦ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ
    ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ” . .ﻭ”ﻭﻣﻦ ﺭﺑﻚ” . .
    ﺍﺿﻄﺮﺍﺑﺎ! ! ! ؟ﺇﻧﻪ ﺍﻟﻬﻮﻯ ﻧﺴﺄﻝ
    ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ! !ﻭﻳﺪﻋﻲ ﺍﻻﻥ
    ﺑﻜﻞ ﻓﺸﻞ ﻭﺑﺠﺎﺣﺔ ﺑﺄﻧﻪ ﻳﻤﻜﻦ
    ﺍﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻻﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﺜﻼ

    1. wah berat nih kang, ampe bukti otentiknya kluar juga, btw sahabat2 wahabi kita pada bisa baca ga yah? skiranya bisa, mau mengakui sumber2 dari rekan ummati tampilkan ga yah? pesimis sih memang, hati fikiran mrk tlah mmbatu dg wahabisme, smg bisa mncair n kmbali ke jalan yg bnar yaaah

      1. Sebelum saya menjawab, apakah Nasrulloh bisa membaca dan mengerti, atau cuma sekedar taklid buta? Saya cuma khawatir kalau Nasrullah ini kaya si putri, walaupun saya percaya bung Nasrullah jauh lebih pintar dan tidak taklid buta.

        1. Saya jujur ga bisa baca arab gundul boss, emak saya yg bisa, krn beliau dulu di Madrasah belajar arab gundul…saya ga malu kok saya ga bisa baca, karena yg saya bilang dari awal, kapasitas saya disni sebagai pemula yg baru belajar mendalami ASWAJA Kang, disini yg ditampilkan untuk anda, silahkan jawab, saya menunggu juga terjemahan rekan-2 ummati, supaya saya jadi tahu…..jgn mengalihkan topik ke yg lainnya boss….

          1. Nah gitu dong, jujur. Berarti komen kamu sebelumnya cuma asal njeplak ala pentaklid buta dong? Gak ngerti artinya tapi langsung bilang otentik.

            Saya kurang lancar bahasa Arab, dan males baca tulisan panjang gitu. Jadi saya pake jurus Ahmad Syahid saja: Hasan Saqqaf adalah jahmiyyah, dan tulisannya tidak perlu diperhatikan.

  185. Berikut adalah kutipan terjemahan rekaman Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini, murid pertama Syaikh al-Albani:
    ” Kalau saja kita bisa melakukan invasi jihad setidaknya setahun sekali atau jika mungkin dua / tiga kali, maka banyak orang di bumi akan menjadi Muslim. Dan jika seseorang mencegah Dawa kami, maka kita harus membunuh mereka atau mengambil sebagai sandera dan merampas harta mereka, perempuan dan anak. Pertempuran tersebut akan mengisi kantong para Mujahid yang bisa kembali ke rumah dengan 3 atau 4 budak, wanita 3 atau 4 dan 3 atau 4 anak-anak. Ini bisa menjadi bisnis yang menguntungkan jika Anda kalikan setiap kepala oleh 300 atau 400 dirham. Hal ini bisa menjadi seperti tempat tampungan keuangan seorang pen-jihad, dalam waktu kebutuhan keuangan, selalu dapatdi jual satu kepalanya (berarti perbudakan)”

    Rekaman dalam bahasa arab 18 tahunan lalu
    Sumber:http://www.youm7.com/News.asp?NewsID=418494

    1. M.Husaini @

      Bang Husein, ana yakon informasi antum adalah benar. Itu memang ajaran Salafi yg diajarkan secara sembunyi-sembunyi di sini. Suatu saat jika memungkikan bagi mereka akan melaksanakan ajaran Murid Albani tsb.

      Salafi Wahabi saat masih kecil jumlahnya, mereka minta diakui sbg saudara sesama muslim. Tapi jika sudah besar jumlahnya sungguh amat sangat berbahaya bagi kaum muslimin di Indonesia. Ajaran murid Albani tsb bisa dipraktekkan sungguhan.

      Seharusnya jika mereka merasa berakal ya malulah sama cicak-cicak di dinding. 🙂 🙂 🙂

      1. Wadoh, keyakinan ala bakul sayur pentaklld buta kaya putri? 😆
        Kamu kalau dibilangin “Wahabi merusak bukit Shafa dan Marwa, sekarang tidak ada pohonnya sama sekali” pasti percaya.

        1. Pak Abdullah@

          Pak Dul, antum yg taklid buta kepada para Wahabis tapi kok bisa nggak merasa ya? Oke Pak Dul, ana tanya sama antum, siapa pencetus aqidah Tauhid tiga (Trinitas) Wahabi)? Kalau natum bisa jawab dg benar, baru deh antum layak terus berdiskusi dg ane di sini. Kalau tidak mampu jawab dg benar, bagaimana diskusi kita bi9sa dilanjutkan? Oke jawab ya pertanyaan ana SIAPA PENCETUS TAUHID TRINITAS WAHABI?

          Alhamdulillah, ana sdh beberapa kali berkunjung ke kota Nabi Saw, jadi antum tidak perlu aneh2 deh Pak Dul?

    2. Sudah dilihat, gak ada isi beritanya, kosong. Apakah Anda sudah kopas url dengan benar? Hobi Anda suka koleksi berita buruk tentang Wahabi ya, siapapun yang mengatakan, benar atau salah?

  186. selama ini sya lbih bnyak mnyimak stiap koment yg masuk.tp utk ABDULLAH ini sya bsa memberikan kredit poin,klo orang ini bkan tuk mncari kbnaran d masa yg pnuh fitnah ini,tp brusaha agar prbedaan itu trus ada dan dia seakan tdk ada niat tuk mncari ptunjukNya.dan utk lawan bicara ABDULLAH ini subhanallah utk kesabarannya mladeni komennya wlaupun klo d perhatikan gk intelek n d bwah standart orang berilmu.

    1. Ass wr wb,
      @oyoy cemanitoka..Kalau yang anda maksud lawan bicara abdullah adalah saya, maka anda salah dalam menilai kesabaran saya tapi anda sangat benar dalam menilai ke”intelek”an saya.

      Mudah-mudahan orang berilmu dan intelek seperti anda selalu diberkahi KETETAPAN ilmu oleh Allah SWT..dan bisa berbagi ilmu kepada saya..Amiiin.

      Begini bang oyoy..saya pernah ditanya apa makna ”TITIK” dibawah “BA”..kerena ketidaktahuan saya maka saya tidak bisa menjawab. Bisakah abang menerangkannya untuk saya..terima kasih.

  187. Ass wr wb,
    @Abdullah ..Menurut anda berita dibawah ini bagaimana ?

    WND GLOBAL JIHAD
    Saudi Syekh: “Perbudakan adalah bagian dari Islam ‘

    Seorang ulama terkemuka Saudi dan pemerintah penulis kurikulum agama di negara itu percaya Islam menganjurkan perbudakan.

    “Perbudakan adalah bagian dari Islam,” kata Sheik Saleh Al-Fawzan, menurut Badan Informasi independen Saudi, atau SIA.

    Dalam sebuah ceramah yang direkam pada tape oleh SIA, para Syekh berkata, “Perbudakan adalah bagian dari jihad, dan jihad akan tetap selama ada adalah Islam.”

    Buku-buku agama-Nya digunakan untuk mengajar 5 juta siswa Saudi, baik di dalam negeri dan luar negeri, termasuk Amerika Serikat.

    Al Fawzan – anggota Dewan Senior Ulama, lembaga keagamaan tertinggi Arab Saudi – kata Muslim yang berpendapat Islam menentang perbudakan “yang bodoh, bukan sarjana.”

    “Mereka hanyalah penulis,” katanya, menurut SIA. “Siapa pun yang mengatakan hal tersebut merupakan kafir.”

    Paling terkenal buku al-Fawzan itu, “Al-Tauhid – Tauhid,” kata Muslim kebanyakan orang musyrik, dan darah mereka dan uang karenanya gratis untuk mengambil dengan “Muslim sejati.”

    SIA mengatakan meskipun pemerintah Saudi mengklaim kurikulum agama sedang direformasi, buku Al-Fawzan yang masih digunakan secara luas.

    Al-Fawzan adalah anggota Dewan maklumat Agama dan Penelitian, Imam Masjid Mitaeb Pangeran di Riyadh dan seorang profesor di Imam Mohamed Bin Saud Islamic University, pusat utama Arab Saudi belajar untuk interpretasi yang ketat Wahhabi Islam.

    SIA mencatat Al-Fawzan, lawan terkemuka reformasi kurikulum, menentang pemilihan umum dan demonstrasi sebagai pengaruh Barat, terhadap perempuan Arab menikahi Muslim non-Arab dan telah mengeluarkan fatwa yang melarang menonton televisi.

    Al-Fawzan telah mengancam akan memenggal kepala seorang penulis Saudi dan ulama, Sheik Hassan Al-Maliki, karena kritikannya terhadap Wahhabisme, menurut SIA. Al-Maliki dipecat dari posisinya dengan pelayanan pendidikan setelah menulis 50 – kertas halaman mengkritik buku Al-Fawzan itu “Al-Tauhid”

    Sumber:http://www.wnd.com/?pageId=21700

    1. Nggak heran kalau kamu ambil berita dari sini. Salafy tobat & abu salafi aja udah biasa ambil artikel2 dari situs syiah karena mereka menyerang Wahabi. WND.com adalah sumber berita yang tidak bisa dipercaya. Joseph Farah, pendirinya adalah seorang ultra right wing (kristen exkstrimis). Sangat menyedihkan kalau berita dari orang2 seperti ini dipercaya, bukannya menyelidiki kebenarannya dengan membaca langsung buku At-Tauhid.

      1. Ass wr wb,
        Abdullah@..Kalau berita dari WND.com ini salah, anda tinggal memberikan buktinya saja.

        Pernyataan Sheik Saleh Al-Fawzan “ITU” bukan pada kitab
        At-Tauhid tetapi kepada SIA.

        Bacalah dengan kepala dingin supaya persoalan menjadi jelas.

  188. Wah…wah…wah….. bener bener sombong orang orang sawah di kampungku !!!

    tetangga ku tadi siang ada yang ngadain ratiban, dia mau berangkat haji, semua tetangga pada diundang….. nah ternyata tetangga yang wahabi yang kebetulan persis banget rumahnya didepan yang punya hajat malah gak datang. habis acara dia ditanya , dengan sombongnya dia bilang ngapain datang acara gituan ? kan jaman nabi gak ada ratiban ????……………… 😈 😯 😯 🙂 😳

  189. padahal hadist jariyah itu adalah hadist andalan firanda untuk menetapkan bhwa alloh bertempat di langit , , , qi qi qi
    padahal ntu hadist mudhthorib tapi tetep di pake buat menetapkan aqidah sama firanda cs ,
    qi qi qi

    1. Kamu lebih percaya pada Abu Salafy al-majhul daripada Firanda? Kebanyakan minta2 ke kuburan sih. Lucu memang buku rujukan kamu banyak yang pengarangnya majhul. Syech Idahram, siapa? Tapi bukunya 3 seri diborong habis. Salafy tobat jadi pujaan. Abu Syafiq jadi tuntunan, tapi semuanya majhul.

      Ok, misalkan, ini misalkan hadits ini mudhthorib kata si majhul (tapi anehnya dipercaya), terus dalil2 dari Qur’an dan hadits yang menyatakan Allah di atas langit apa mau ditahrif semua?

  190. Abdullah:
    Liat aja judulnya, sudah salah alamat. Salafi tidak beri’tikad Allah bertempat. Lha kalau Krongthip yang bikin tempat untuk Allah karena Salafi tidak mau takwil, terus menuduh Salafi beriktikad seperti yang dituduhkan, ya namanya Krongthip koplok.

    Berarti yang mayakini bahwa Allah bertempat di langit bukan Salafy ya? So bagaimana dengan hadits jariyah? Yang disebutkan oleh beberapa pihak bahwa itu menunjukkan Allah berada di langit?

    Gue acung jempol sepuluh jari jika ente gentel menjawab.

    1. Apakah di dalam hadits tersebut si budak jariyah mengatakan Allah bertempat tinggal di langit? Hapuskan pemikiran tajsim-mu itu, dan jangan menisbatkan kepada pihak lain.

  191. Kalau dikatakan Allah bertempat, maka dia telah mengingkari sifat Allah Ajja Wa jalla yaitu Al Aliyy, Al Azhiim & Al Malik yang maha tinggi, maha Agung & Maha menguasai.
    Firman Allah : “Dan Maha Suci Tuhan yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan (Az Zhukruf : 85)”.

    1. Liat aja judulnya, sudah salah alamat. Salafi tidak beri’tikad Allah bertempat. Lha kalau Krongthip yang bikin tempat untuk Allah karena Salafi tidak mau takwil, terus menuduh Salafi beriktikad seperti yang dituduhkan, ya namanya Krongthip koplok.

  192. Penjelasan Hukum Golongan Yang Beriktiqad
    Bahawa Allah Wujud Bertempat

    Dengan pertolongan Allah taala, di fasal ini saya membawa pendapat ulama berkenaan hukum golongan yang beriktiqad bahawa Allah mendiami langit atau mengambil ruang atau tempat di atas Arasy atau di tempat-tempat yang lain.

    Al-Imam al-Mujtahid Abu Hanifah (w. 150 H) radiyaLlahu ^anhu telah mengkafirkan sesiapa yang menyandarkan tempat bagi Allah taala; iaitu seperti katanya dalam kitabnya al-Fiqhul-Absat[1]:

    من قال لا أعرف ربّي في السماء أو في الأرض فقد كفر وكذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أو في الأرض
    Maksudnya:
    “Barangsiapa berkata: “Aku tidak tahu Tuhan-ku di langit atau di bumi”, maka dia telah kafir. Demikian juga, barangsiapa berkata: “Sesungguhnya Dia di atas Arasy, dan aku tidak tahu adakah Arasy itu di langit atau di bumi”. Intaha.

    Al-Shaykh al-^Allamah Kamalud-Din al-Bayadi al-Hanafi (w. 1098 H) telah menghuraikan kata-kata al-Imam Abu Hanifah di atas dalam kitabnya Isharatul-Maram min ^Ibaratul-Imam seperti berikut[2]:
    فقال – أي أبو حنيفة -: (من قال لا أعرف ربّي في السماء أو في الأرض فقد كفر) لكونه قائلاً باختصاص البارئ بجهة وحيّز وكلّ ما هو مختصّ بالجهة والحيّز فإنه محتاج محدَث بالضرورة فهو قول بالنقص الصريح في حقّه تعالى (وكذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أو في الأرض) لاستلزامه القول باختصاصه تعالى بالجهة والحيّز والنقص الصريح في شأنه سيما في القول بالكون في الأرض ونفي العلوّ عنه بل نفي ذات الإله المنزه عن التحيّز ومشابهة الأشياء
    Maksudnya:
    “Maka beliau – Abu Hanifah – berkata: (Barangsiapa berkata: “Aku tidak tahu Tuhan-ku di langit atau di bumi”, maka dia telah kafir) kerana hal keadaannya berkata dengan mengkhususkan Allah al-Bari’ itu dengan suatu arah dan ruang sedangkan secara darurah setiap perkara yang dikhususkan dengan arah dan ruang sememang suatu perkara yang berhajat (kepada selainnya) lagi baharu. Ini adalah kata-kata yang membawa kekurangan yang jelas pada hak Allah taala. – Abu Hanifah berkata: – (Demikian juga, barangsiapa berkata: “Sesungguhnya Dia di atas Arasy, dan aku tidak tahu adakah Arasy itu di langit atau di bumi) lantaran dia memestikan pendapat dengan mengkhususkan Allah taala dengan arah, ruang dan kekurangan yang jelas pada martabat Allah lebih-lebih lagi pendapat yang membawa pegangan bahawa Allah ada di bumi dan penafian ketinggian martabat Allah, bahkan penafian zat Tuhan yang disucikan dari ruang dan persamaan dengan segala sesuatu”. Intaha.

    Al-Imam al-Mutakallim al-Faqih al-Mu’arrikh al-Shaykh al-Fakhr ibn al-Mu^allim al-Qurashi al-Dimashqi (w. 725 H) berkata dalam kitabnya Najmul-Muhtadi wa-Rajmul-Mu^tadi[3]:
    نقلاً عن الشيخ الإمام أقضى القضاة نجم الدين في كتابه المسمى كفاية النبيه في شرح التنبيه في قول الشيخ أبي إسحاق رضي الله عنه في باب صفة الأئمة: “ولا تجوز الصلاة خلف كافر لأنه لا صلاة له فكيف يُقتدى به”. قال: “وهذا يفهم من كفره مجمع عليه ومن كفّرنا من أهل القبلة كالقائلين بخلق القرءان وبأنه لا يعلم المعدومات قبل وجودها ومن لم يؤمن بالقدر وكذا من يعتقد أنّ الله جالس على العرش كما حكاه القاضي حسين هنا عن نصّ الشافعي رضي الله عنه
    Maksud:
    “Nukilan daripada al-Shaykh al-Imam Aqdal-Qudah Najmud-Din dalam kitabnya yang berjudul Kifayatun-Nabih fi Sharhit-Tanbih dalam pendapat al-Shaykh Abu Ishaq radiyaLlahu ^anhu dalam Bab Sifat Para Imam: “Tidak boleh solat di belakang seseorang yang kafir kerana tidak ada suatu solat pun baginya maka bagaimana pula dia boleh diikuti”. Dia berkata: “Dan ini difahami dari kekufurannya adalah suatu yang diijmakkan ke atasnya dan sesiapa yang telah kami kafirkan mereka daripada kalangan ahli qiblat seperti golongan yang berpendapat dengan aqidah bahawa al-Quran itu makhluk, dengan aqidah bahawa Allah tidak mengetahui perkara yang tiada sebelum kewujudan perkara tersebut, golongan yang tidak beriman dengan taqdir, demikian juga golongan yang beriktiqad bahawa Allah duduk di atas Arasy sebagaimana diceritakan oleh al-Qadi al-Husayn di sini daripada nas al-Shafi^i radiyaLlahu anhu”. Intaha.

    Al-Imam al-Hafiz Jalalud-Din ^Abdur-Rahman ibn Abi Bakr al-al-Suyuti (w. 911 H) berkata dalam kitabnya al-Ashbah wan-Naza’ir[4]:
    قال الشافعي: لا يكفر أحد من أهل القبلة. واستثنى من ذلك: المجسّم ومنكر علم الجزئيات
    Maksudnya:
    “Al-Shafi^i berkata: “Tidak ada seorang pun ahli qiblat yang kafir. Terkecuali dari hal itu ialah mujassim (orang beraqidah tajsim) dan orang yang mengingkari ilmu (Allah berkenaan) juz’iyyat”. Intaha.

    Antara aqidah mujassim ialah berpegang bahawa Allah itu adalah suatu jisim yang mempunyai arah dan bertempat di suatu tempat. Antara mujassim tersebut ialah Muhammad ibn Karram pengasas fahaman al-Karramiyyah seperti yang disebut al-Imam Abu Mansur ^Abdul-Qahir ibn Tahir al-Baghdadi (w. 429 H) dalam kitabnya al-Farq baynal-Firaq[5]:
    فمنها: أن ابن كرّام دعا أتباعه إلى تجسيم معبوده وزعم أنه جسم له حدّ ونهاية من تحته والجهة التي منها يلاقي عرشه… وقد ذكر ابن كرّام في كتابه أن الله تعالى مماسٌّ لعرشه وأن العرش مكان له
    Maksudnya:
    “Antara kesesatannya: Bahawa Ibn Karram telah menyeru para pengikutnya kepada tajsim Tuhannya dan menganggap Tuhannya itu suatu jisim yang mempunyai had dan penghujung yang terdiri daripada arah bawah-Nya dan arah yang bertemu dengan Arasy-Nya… Sesungguhnya Ibn Karram menyebut di dalam kitabnya bahawa Allah taala bersentuhan dengan Arasy-Nya dan bahawasanya Arasy adalah tempat bagi-Nya…”. Intaha.

    Al-Shaykh Lisanul-Mutakallimin Abul-Mu^in Maymun ibn Muhammad al-Nasafi al-Hanafi (w. 508 H) berkata dalam kitabnya Tabsiratul-Adillah fi Usulid-Din[6]:
    والله تعالى نفى المماثلة بين ذاته وبين غيره من الأشياء فيكون القول بإثبات المكان له ردًّا لهذا النصّ المحكم – أي قوله تعالى{ليس كمثله شيء} – الذي لا احتمال فيه لوجهٍ ما سوى ظاهره ورادُّ النصّ كافر عصمنا الله عن ذلك
    Maksudnya:
    “Dan Allah taala menafikan persamaan di antara zat-Nya dan di antara selain-Nya yang terdiri daripada pelbagai perkara. Oleh itu, pendapat yang menetapkan tempat bagi-Nya adalah suatu sanggahan bagi nas yang muhkam ini iaitu {ليس كمثله شيء}[Surah al-Shura, ayat 11] yang di dalamnya tiada tanggungan bagi suatu sisi makna melainkan makna zahirnya. Orang yang menyanggah nas tersebut adalah kafir. Semoga kita dilindungi oleh Allah dari perkara tersebut”. Intaha.

    Al-Shaykh Zaynud-Din yang lebih dikenali dengan nama Ibn Nujaym al-Hanafi (w. 970 H) berkata dalam kitabnya al-Bahr al-Ra’iq (dalam bab hukum golongan murtad, juz. 5, hlm. 129):
    ويكفر بإثبات المكان لله تعالى فإن قال: الله في السماء فإن قصد حكاية ما جاء في ظاهر الأخبار لا يكفر وإن أراد المكان كفر
    Maksudnya:
    “Dan kufur dengan sebab penetapan tempat bagi Allah taala. Oleh itu, jika seseorang berkata: “Allah di langit”, sekiranya dia bertujuan menceritakan suatu yang datang dalam zahir nas al-Quran dan Hadis maka dia tidak kafir, dan sekiranya dia bermaksud tempat (bagi Allah taala) maka dia telah kafir”. Intaha.

    Al-Shaykh Shuhabud-Din Ahmad ibn Muhammad al-Misri al-Shafi^i al-Ash^ari yang dikenali dengan nama Ibn Hajar al-Haytami (w. 974 H) berkata dalam kitabnya al-Minhajul-Qawim ^alal-Muqaddimatil-Hadramiyyah[7]:
    واعلم أنّ القرافي وغيره حكوا عن الشافعي ومالك و أحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم القول بكفر القائلين بالجهة والتجسيم وهم حقيقون بذلك
    Maksudnya:
    “Dan ketahuilah bahawa al-Qarafi dan selain beliau telah menceritakan daripada al-Shafi^i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah radiyaLlahu ^anhum tentang pendapat kufurnya golongan yang berpendapat dengan arah dan tajsim (bagi Allah taala), dan mereka (para imam mazhab tersebut) pasti tentang perkara tersebut”. Intaha.

    Al-Shaykh al-Mulla ^Ali al-Qari al-Hanafi (w. 1014 H) berkata dalam kitabnya Mirqatul-Mafatih Sharh Mishkatil-Masabih[8]:
    بل قال جمع منهم – أي من السلف – ومن الخلف إنّ معتقد الجهة كافر كما صرح به العراقي وقال: إنه قول لأبي حنيفة ومالك والشافعي و الأشعري والباقلاني
    Maksudnya:
    “Bahkan sekumpulan daripada kalangan ulama salaf dan ulama khalaf bahawa orang yang beriktikad dengan adanya arah bagi Allah adalah kafir seperti yang diterangkan oleh al-^Iraqi dengan jelas iaitu dia berkata: “Sesungguhnya ini adalah pendapat bagi Abu Hanifah, Malik, al-Shafi^i, al-Ash^ari dan al-Baqillani”. Intaha.

    Al-Shaykh al-Mulla ^Ali al-Qari berkata lagi dalam kitabnya Sharhul-Fiqhil-Akbar[9]:
    وكذا من قال بأنه سبحانه جسم وله مكان ويمرّ عليه زمان ونحو ذلك كافر حيث لم تثبت له حقيقة الإيمان
    Maksudnya:
    “…dan demikian juga orang yang berpendapat bahawa Allah subhanahu itu suatu jisim, mempunyai suatu tempat, dilalui oleh suatu masa dan seumpamanya adalah kafir yang hakikat iman tidak sabit baginya”. Intaha.

    Al-Shaykh ^Abdul-Ghani al-Nabulusi al-Hanafi (w. 1143 H) berkata dalam kitabnya al-Fathur-Rabbani wal-Faydur-Rahmani[10]:
    وأمّا أقسام الكفر فهي بحسب الشرع ثلاثة أقسام ترجع جميع أنواع الكفر إليها وهي: التشبيه والتعطيل والتكذيب… وأمّا التشبيه: فهو الاعتقاد بأن الله تعالى يشبه شيئًا من خلقه كالذين يعتقدون أن الله تعالى جسم فوق العرش أو يعتقدون أن له يدين بمعنى الجارحتين… أو أنه في السماء أو في جهة من الجهات الستّ أو أنه في مكان من الأماكن أو في جميع الأماكن أو أنه ملأ السموات والأرض… وجميع ذلك كفر صريح والعياذ بالله تعالى
    Maksudnya:
    “…dan adapun bahagian-bahagian kufur itu maka menurut syarak pembahagian kufur itu ada tiga bahagian yang dirujuk oleh semua jenis kufur[11] kepada pembahagian ini iaitu tashbih, ta^til dan takdhib… Dan adapun tashbih maka istilah ini bermaksud iktiqad bahawa Allah taala menyamai atau menyerupai sesuatu dari makhluk-nya seperti mereka yang beriktiqad bahawa Allah taala itu suatu jisim di atas Arasy atau mereka beriktiqad bahawa Dia mempunyai anggota tangan… atau bahawa Dia di langit atau di suatu arah dari arah yang enam atau di suatu tempat dari sebarang tempat atau di semua tempat atau Dia memenuhi segala langit dan bumi… dan semua itu adalah suatu kufur yang jelas dan kita mengharapkan perlindungan dengan Allah taan”. Intaha.

    Al-Shaykh al-^Allamah Muhammad Arshad ibn ^Abdullah al-Banjari berkata dalam kitabnya Tuhfatur-Raghibin[12] berkenaan golongan al-Mujassimah al-Mushabbihah:
    “…(dan) setengah mereka itu iktikaqnya bahawa Allah taala datang dan turun dengan zat-Nya serta bergerak dan berpindah daripada sesuatu tempat kepada suatu tempat (dan setengah) mereka itu iktiqadnya bahawa allah taala duduk di atas Arasy (dan setengah) mereka itu iktiqadnya bahawa Allah taala masuk pada Arasy dan Arasy itulah tempat kediaman-Nya (Shahdan adalah) perpegangan setengah kaum Mujassimah pada iktikadnya yang tersebut itu zahir (ayat) dan hadith yang mutashabih dan dinamai pula kaum Mujassimah itu Mushabbihah (Kata Imam Fakhrud-Din al-Razi) yang Mujassimah itu Mushabbihah dan Mushabbihah itu kafir (kerana) diithbatkannya bagi hak Allah taala berjisim dan akan jisim itulah yang disembahnya (Dan barangsiapa) menyembah jisim maka sanya jadi kafir…”. Intaha [dipindah dari tulisan jawi].

    Al-Shaykh Zaynul-^Abidin ibn Muhammad al-Fatani yang masyhur dengan panggilan Tuan Minal Fatani berkata dalam kitabnya Irshadul-^Ibad ila Sabilir-Rashad[13]:
    “…dan sanya telah banyak pada zaman ini beberapa manusia yang mendakwakan dirinya alim yang mengajar ia akan manusia yang awam dengan pengajaran yang salah dan beberapa iktikad dan rahsia yang menyesatkan hamba Allah dan setengah mereka itu yang berpegang dengan zahir ayat Quran yang mutashabihah atau Sunnah yang mutashabihah pada hal tiada dilentangkan dengan qawati^ ^aqliyyah dan naqliyyah yang muhkamat tetapi berpegang mereka itu dengan zahir ayat yang mutashabihah maka jatuh mereka itu di dalam laut kufur maka sesat mereka itu dan menyesat oleh mereka itu akan manusia yang awam maka adalah mereka itu seperti Dajjal atau terlebih jahat daripada Dajjal…”. Intaha

    Al-Shaykh al-^Allamah al-Muhaddith al-Faqih Abul-Mahasin Muhammad al-Qawuqji al-Tarabulusi al-Lubnani al-Hanafi (w. 1305 H) berkata dalam kitabnya al-I^timad fil-I^tiqad[14]:
    ومن قال لا أعرف الله في السماء هو أم في الأرض كفر لأنه جعل أحدهما له مكانًا
    Maksudnya:
    “…dan barangsiapa berkata: “Aku tidak mengenal Allah itu sama ada Dia di langit atau di bumi” maka dia telah kafir kerana dia menjadikan salah satu daripada dua benda tersebut sebagai suatu tempat bagi-Nya”. Intaha.

    Al-Shaykh Muhammad Zahid al-Kawthari – Wakilul-Mashikhah al-Islamiyyah di negara Khilafah ^Uthmaniyyah – (w. 1371 H) berkata dalam kitabnya Maqalatul-Kawthari[15]:
    إن القول بإثبات الجهة له تعالى كفر عند الأئمة الأربعة هداة الأمة كما نقل عنهم العراقي على ما في شرح المشكاة لعلي القاري
    Maksudnya:
    “Sesungguhnya pendapat yang menetapkan arah bagi Allah taala itu adalah suatu kekufuran di sisi para imam yang empat yang menjadi pemimpin hidayah umat sebagaimana yang dinukilkan oleh al-^Iraqi berdasarkan apa yang ada di dalam kitab Sharhul-Mishkah oleh [al-Mulla] ^Ali al-Qari”. Intaha.

    Al-^Allamah al-Shaykh al-Muhaddith al-Hafiz al-Faqih ^AbduLlah al-Harari yang dikenali dengan gelaran al-Habashi (w. 1429 H) berkata dalam kitabnya al-Siratul-Mustaqim[16]:
    ويكفر من يعتقد التحيّز لله تعالى أو يعتقد أن الله شيء كالهواء أو كالنور يملأ مكانًا أو غرفة أو مسجدًا ونسمّي المساجد بيوت الله لا لأن الله يسكنها بل لأنها أماكن يُعبَدُ الله فيها. وكذلك يكفر من يقول: (الله يسكن قلوب أوليائه) إن كان يفهم الحلول. وليس المقصود بالمعراج وصول الرسول إلى مكان ينتهي وجود الله تعالى إليه ويكفر من اعتقد ذلك إنما القصدُ من المعراج هو تشريف الرسول صلى الله عليه وسلم باطلاعه على عجائب في العالم العلويّ وتعظيمُ مكانته ورؤيته للذات المقدس بفؤاده من غير أن يكون الذات في مكانٍ
    Maksudnya:
    “Dan kafirlah sesiapa yang beriktikad ada ruang bagi Allah taala atau beriktikad bahawa Allah adalah suatu seperti udara atau seperti cahaya yang memenuhi suatu tempat atau bilik atau masjid. Kita menamakan masjid sebagai rumah Allah bukanlah kerana Allah mendiami masjid, tetapi kerana masjid itu suatu tempat yang di dalamnya Allah disembah. Demikian juga kafirlah sesiapa yang berkata: “Allah mendiami hati para wali-Nya” jika dia memahami (ungkapan tersebut) dengan aqidah hulul. Mi^raj bukanlah bermaksud sampainya Rasul ke suatu tempat yang kewujudan Allah taala sampai padanya, dan kafirlah sesiapa yang beriktiqad begitu. Tujuan Mi^raj hanyalah kemuliaan atau keraian buat Rasul sallaLlahu ^alayhi wa-sallam dengan mendedahkan kepada baginda tentang perkara-perkara ajaib di alam tinggi dan juga suatu pengagungan kedudukan baginda. Baginda melihat Zat Yang Maha Suci dengan hatinya tanpa Zat tersebut ada di suatu tempat”. Intaha.

    WaLlahu a^lam.

    1. Eh Krongthip koplok (itu bahasa Thailand bukan? 😀 ), yang punya i’tiqad Allah bertempat itu siapa? Belajar bahasa Indonesia yang benar, kamu pakai bahasa Melayu, pantas saja banyak perkataan yang tidak kamu mengerti.

  193. Yang jadi obyek sanggahan Ahmad Syahid ada 13 ulama. Dufal hanya membantah 3 ulama, itupun sebagian bukan sanggahan, namun bertanya minta bukti.

    So, masih ada sisa 10 ulama. Gimana nasib mereka? Jika tidak mampu membela mereka, tentu nasib Firanda yang bakal dipertaruhkan.

  194. Abu Umar klepek klepek ………Abdulah bingung sendiri ………….pada ngaji lagi gih ………kalau abis shalat jangan langsung ngloyoooor ….doain tuh ortu salaman ama tetangga shalat bilang makasih kakinya dah NEMPEL ………wkwkwkwkwk….bid’ah ya …..

  195. hik hik hik ha ha ha ha he he he he qiqiqiqiqiqi :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: …….nggak nahan …..kadang kalau diskusi bukan cari kebenaran ………….hati dah pada keras keras ………urusan salah paham kalau di kasih hujjah malah ngeyel ……….malah ngatain JAHIL ……..

    1. Orang jahil seperti mamo hanya bisa mengeluarkan hujjah jahil yang tidak layak dijadikan hujjah. Kalau kamu masih ngeyel ziarah ke Tebuireng lebih utama daripada ke Mekkah, ya silahkan saja.

    1. Jidat hitam itu untuk pamer bahwa pengikut wahabi itu ahli ibadah dan kata mereka (wahabi) itu yang berjidat gosong dijamin masuk surga.

    2. Maaf ya, orang salafi ganteng2, gak ada bekas sujudnya, karena Nabi dan sahabat ndak ada bekas sujudnya, mereka mencontoh itu. Coba bandingkan sama orang2 NU yang pakai sarung lusuh dan kelihatan kumuh, cuci kaki saja pakai air butek yang nggak pernah diganti, karena “air ini suci karena lebih dari dua kullah”.

      1. Gak salah nih, bukankah orang sawah yg jidatnya hitam2 bekas dibenturkan kelantai supaya kelihatan ahli ibadah, celananya yg cingkrang baju gamisnya yg itu2 aja kelihatan lusuh kepalanya plontos tapi jenggotnya awut2an gak pernah dirapihkan soalnya motong jenggot dianggap haram, beda dgn orang ASWAJA yg asli(bukan wahabi yg ngaku2 ASWAJA tapi palsu) kening jernih bercahaya wajah sejuk dan ramah kepada siapa saja, bandingkan dgn orang sawah jidat hitam, jenggot awut2an, wajah seram dan sinis kalo ketemu dgn orang yg tak segolongan dgnnya, baru ramah dan tersenyum kalo ketemu orang sawah juga.

        1. Lucu juga si jahil abah asra, gak tahu ya kyai2 NU jidatnya item2? Orang salafi muda2, ganteng2, jenggotnya dicukur rapi. Jidatnya putih bersih, tidak ada tanda hitam bekas sujud. Orang salafi pakai pakaian yang banyak dipakai penduduk setempat. Memakai pakaian nyleneh yang menyebabkan gunjingan/ketenaran adalah makruh. Salafi ganteng2 pakai dasi dan jas? Banyak! Apa ini tasyabbuh? Ya bukan, karena dasi dan jas bukan tanda orang kristen. Hanya orang jahil yang mengira salafi harus pakai gamis dan ke kantor naik onta.

  196. lebih susah lagi ama @Adulah ……nama aja yang bagus …..nt kalau shalat berjamaah pasti masih nyariin kaki tetangga ya kan …??? wkwkwkwkwkwkwkwk SHALAT KHAWATIR KAKINYA NGGAK NEMPEL hahahahaha…….gimana mau khusyuk ????? 😆 hikhik kok mr Green ilang ???

    1. Yang paling heran, ada orang yang ogah shalat jama’ah, dan suka mencela sunnah nabi, tapi suka membuat-buat sendiri “bid’ah hasanah”. Waktu berdiri, imam harus melihat dan memerintahkan merapatkan dan merapikan shof. Kaki berdiri sejajar pundak, kalau ada orang yang kakinya gak mau nempel, ya sudah, biarin aja, nggak ada yang maksa. Ada yang membuat “bid’ah hasanah” salat tarawih super kilat express, 23 rakaat 15 menit. Alasannya sholat sunnah itu lebih pendek daripada sholat wajib. Khusyuk dari Hong Kong?

    2. @ Mas Mamo
      Bukan nempilin kaki kiri kanan aja seperti kuda2 pencak silat (yg se-olah2 nantang Tuhan) tapi tangannya dibawah daku waktu berdiri sambil ngelus-elus janggut serta telunjuknya di-gerak2an terus waktu tahyat yg katanya melambangkan tuhan hidup makanya digerakkan.
      Apa memang begitu cara shalat Nabi ? atau cara shalat al bani, panutan wahabi ha ha ha ….lucu ni ye.

      1. Semoga abah asra dimaafkan atas kejahilannya. Dimana di kitab apa yang menyebutkan jari telunjuk digerakkan untuk melambangkan tuhan hidup? Kalau tidak bisa membuktikan, kamu hanyalah pendusta dan tukang fitnah.

        1. @ abdullah
          kalo perlu kitab baca aja kitab2 ulama 4 Mazhab yang asli (bukan yg udah dipalsu dan diubah sama SAWAH) adakah yg mengatakan jari telunjuk waktu tahyat di-gerak2an terus menerus. kalo gak salah jari telunjuk di-gerak2an terus menerus adalah shalat yang dimodipikasi oleh utsaimin dan panutan2 wahabi LaknatuLLah.

          Memang Allah Maha Kuasa, menakdirkan ciri khas kepada Aliran2 Sesat separti wahabi, Kepala Plontos, jenggot awut2an, jidat hitam, merasa paling benar sendiri, gampang mengkafirkan orang2 yg gak sefaham dan halal darahnya untuk dibunuh, bertauhid dgn tauhid 3(trinitas) dan membid’ahkan sifat 20 Tauhid Asyariyah dan Marturidiyah yg dianaut mayoritas umat Islam seluruh dunia.

          1. Saya tanya sekali lagi, kamu bisa tidak menyebutkan kitab apa yang dipakai Wahabi yang menyebutkan menggerakkan telunjuk untuk melambangkan tuhan hidup? Kalau tidak bisa, kamu itu cuma pendusta dan tukang fitnah, semoga laknat Allah dikembalikan kepadamu.

            Kamu kebanyakan ngayal, dikibuli kyai/habib. Orang Salafi itu ganteng2, yang di Arab lebih ganteng dan mancung, jenggotnya rapi, jidatnya putih bersih. Kalau orang macam kamu dikafirkan, kamu gak boleh berhaji ke Mekkah, karena orang kafir haram masuk Mekkah. Nyatanya nggak kan. Tapi walaupun dibolehkan, kamu lebih milih ziarah dan minta2 di kubur.

  197. alhamdulillah mendapat pencerahan mbak putri rasanya maknyuuus…
    betul mas Bima Assyafi’i, kita jangan sampai ketepu…………….

      1. Yang jahil murokab itu antun Abdullah dan pengikut2 wahabi yang bertauhid Trinitas, masak Allah diserupakan dengan makhluk ciptaanNYA berwujud dan bertempat seperti makhluk. Dasar pengikut bedul wahab laknatullah.

        1. Susah memang berdiskusi sama orang yang lebih suka thawaf di Tebuireng daripada di Ka’bah. Kamu bisa buktikan tidak kalau Muhammad bin Abdulwahab mengatakan Allah berwujud dan bertempat? Sebutkan di kitab apa? Kalau tidak bisa, berarti kamu sudah melakukan takfir, dan bilamana takfir kamu tidak berdasar, maka laknat Allah akan kembali kepada kamu. Kalau tidak tahu apa2, lebih baik mulut kamu diam, itu lebih selamat daripada di akhirat kamu jadi orang yang muflis.

    1. Doh, ini ada cheerleader lain, bisanya cuma ngerecoki aja. Sana bantu artikelislami cari artikel tentang wahabi buat dikopas diblognya.

  198. @Mbak Putri
    Terima kasih atas pencerahannya. Kami orang awam hampir saja ketipu lagi. Jadi jelas sekarang ada upaya penipuan berjamaah terhadap orang-orang awam. Wahai teman-teman awam, waspadalah terhadap tipu daya yang dapat menjadikan kita sebagai orang-orang yang merugi.

  199. qiqiqiqiqiqi Alhamdulillah ………lama nggak jumpa mr Dufal lumayan ada kemajuan ………minimal nggak komen sembarangan …….namun kayaknya masih berbau Copas juga meski sebagian ……..jadi senyum aja dah ….ikut nyimak aja silahkan ustadz Dufal nangepin @Putri Karisma ………

  200. Dufal and All Pembaca@

    Sungguh teramat parah kerusakan Cara Berpikir para pemuda kita akibat membaca artikel-artikel website Firanda. Dufal hanyalah salah satu contoh korban dari bacaan-bacaan yg ditulis oleh Firanda tsb. Akal pembaca awam jadi mati suri atau mungkin menjadi lemah akal, sehingga tidak mampu berpikir sesuai alur berpikir yang benar.

    Sebagai contoh di sini adalah Dufal sendiri, bagaimana hal ini tergambar jelas dalam tanggapannya di poin ke-3. Coba lihat dan perhatikan bagaimana di situ terlihat tumpulnya akal sehingga tak mampu membedakan mana perkataan asli Mas Syahid dan mana perkataan Ibnu Hajar Al-Atsqolani dan Imam Nawawi…. Mari kita lihat tulisan Dufal di Poin ke-3…

    dufal: Ahmad syahi katakan: ulama-ulama Asy’ariyyah juga berpegang kepada prinsip “Al jam’u wa at-taufiq”menggabungkan antar dalil sepanjang dalil tersebut masih bisa di gabungkan atau di jamak.Dan penggabungan antar dalil dalam masalah yang sama di kedepankan dari pada tarjih (memilih yang lebih kuat dari salah satunya).

    Aslinya itu bukan perkataan Ahmad Syahid, hanya saja Dufal merekayasa kalimat tsb seolah-olah Mas Syahid yg mengatakan hal itu. Padahal kalau Dufal jujur seharusnya dia mengutip secara lengkap sehingga pembaca tahu bahwa Mas Syahid sedang menukil perkataan Ibnu Hajar dalam Fathul Baari dan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim. Mari kita lihat tulisan Mas Ahmad syahid selengkapnya:

    “Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) juga berpegang kepada Prinsip ”Al-jam’u wa at-taufiq bainal adillah” menggabungkan dan menselaraskan antar dalil sepanjang masih bisa dilakukan penggabungan dan penselarasan (al-jam`u wa at-taufiq) antar dalil atau antar Riwayat sepanjang itu pulalah kewajiban penggabungan dan penselarasan antar dalil atau riwayat sesuai dengan Syarat-syarat yang tertera dalam kitab-kitab mereka.

    Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bari: ”Dan penggabungan (antar riwayat dalam masalah yang sama) dikedepankan daripada tarjih (pengguguran salah satu riwayat)”, Fathul Bari juz 13 hal 421. Harus dilakukan hal senada juga dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam sarh Muslim : “Tidak ada perbedaan antar ulama bahwa jika dimungkinkan penggabungan antar Hadist maka tidak boleh meninggalkan salah satunya tetapi Wajib penggabungan diantaranya (syarh muslim juz 3 hal. 155)”

    Nah itulah tulisan Mas Syahid selengkapnya, di mana Mas Syahid sangat jelas menukil keterangan dari dua Imam Ahlussunnah yg mu’tabar. Hallo Dufal, apakah antum merasa lebih ahli dibanding kedua Imam Mu’tabr tsb? Lalu Dufal dg berlagak sok ahli ilmu malah menyodorkan contoh2 antara dua hadits yg tidak ada sangkut pautnya dg permasalahan aqidah yg sedang dibahas di dalam artikel. Ketahuilah Dufal, hadits yg antum bawakan itu berkaitan dg masalah Fiqhus Syar’i.

    Duh, Dufal, Dufal…. Kualitas kelas TK seperti antum kok ikut-ikutan tampil mewakili udtadz Firanda? Apakah antum sudah minta izin kepada Firanda, atau antum diam-diam ingin tampil jadi Pahlawan Kesiangan bagi Salafi Wahabi? Tapi dg kemampuan ilmu antum yg seperti ini bagaimana antum bisa jadi pahlawan? Afwan….

    Dufal, afwan ya, ana hanya ingin membantu antum agar selamat dari kesesatan Salafi Wahabi dg cara ana membongkar Salah Fikir (SALAFI) yg antum pertunjukkan di sini. Sehingga seandainya setelah ini antum mau berpikir secara tertib dg hati yg ikhlas, insyaallah antum akan dapat hidayah-NYA. 🙄 🙄 🙄 Wallohu a’lam.

  201. Komentar untuk @Dufal. Poin no 8
    1. Penyerupaan Allah terhadap manusia: “….ingin menjelaskan ke pada pembaca bahwa keberadaan Allah Ta’ala beserta Dzat-Nya berada di ketinggian (arah atas).Sehingga beliau mengilustrasikan dengan orang yang berada di atas gunung dan orang yang berada di bawah gunung”

    Jadi Ad Darimi menurut Dufal menjelaskan keberadaan Allah dengan ilustrasi antara orang di atas dan di bawah gunung. Inilah tasybih!

    Inilah hasilnya, orang-orang yang kebanyakan baca situs Firanda cs!

  202. Dufal , gimana saya tanggapi jangan…….? soalnya ada usul dari Mbak putri supaya jangan ditanggapi…….? tapi kalo saya tanggapi dufal Pasti malu (kalo masih punya malu) 2 poin sudah dijawab mbak Putri (mestinya dufal sudah malu) , tapi terserah dufal …….

  203. Dufal@

    Dalam Point ke-2 pun, Dufal masih saja menampakkan ciri khas seorang Salafi Wahabi yg hobby berdusta. Bukankah sangat jelas, bahwa Salafi Wahabi dalam praktek dakwahnya sangat menghina hadits dho’f sehingga dg kejahilannya mereka menyamakan hadits dho’if dg hadits Maudhu’ (palsu) ? Ingat, ini bicara Salafi Wahabi bukan bicara ahli hadits Bung! Apakah antum menyamakan Ahli Hadits dg Salafi Wahabi? Jauh itu Bung, Ahli Hadits sejati memang tidak menyamakan hadits dhoif dg hadist maudhu’ akan tetapi Salafi Wahabi selalu dan senantiasa menghina hadits dhoif. Kenapa antum tidak malu mencoba menyamakan Salafi Wahabi dg para Ahli Hadist?

    Jangan coba-coba berbohong, kita di sini tentu mengerti akan pembicaraan masalah ini. Sekali lagi ana ingatkan jangan coba-coba menipu pembaca awam, sebab kami akan segera membuka kebohongan antum. Atau, kalau antum merasa tidak berbohong dalam masalah ini, berarti memang antum lah yg jahil. Tidak tahu ilmunya tapi merasa berilmu, itulah yg disebut dg jahil murokkab, yaitu kebodohan yg bertumpuk-tumpuk. Astaghfirullahal’adziim….

    1. Ternyata jawaban dari cheerleader kaya Putri ini jahil murokkab, menjawab kok pakai tuduhan, nggak pakai fakta. Kurang lama thawaf di Tebuireng-nya?

      1. Abdullah

        Bapak Abdullah, Mana yg bukan fakta? Ana menanggapi berdasar fakta yg ditulis oleh Dufal. Mana yg menurut Bapa Abdullah tidak berdasar fakta?

        Niscaya antum sendiri yg asal koment membela kejahilan….

        1. Dalam Point ke-2 pun, Dufal masih saja menampakkan ciri khas seorang Salafi Wahabi yg hobby berdusta. Bukankah sangat jelas, bahwa Salafi Wahabi dalam praktek dakwahnya sangat menghina hadits dho’f sehingga dg kejahilannya mereka menyamakan hadits dho’if dg hadits Maudhu’ (palsu) ?

          Ini fakta dari Hong Kong? Kalau gak ngerti ya gak usah ngomong, cuma jadi penyebar fitnah saja (alhamdulillah yang difitnah dapat pahala kamu). Yang suka pake hadits2 palsu itu kan yang ngaku2 “Aswaja”. Misalnya yang suka baca sholawat bathil “Sholawat Nariyah”, sampai dibuatkan haditsnya tentang sahabat nabi bernama “Syaikh Nariyah” yang bla bla bla dst. Mana ada sahabat Nabi pakai Syaikh, dan mana ada sahabat Nabi namanya Nariyah?

      2. Alhamdulillah, ana selalu menjawab dg fakta. Kalau menurut Pak Abdullah ana tdk berdasar fakta, berarti Pak Abdullah yg belum baca koment ana sdh langsung koment. Syukron

        1. Jadi susah membedakan kamu dengan bakul sayur dan orang terpelajar. Kalau orang terpelajar, akan bilang “Wahabi suka malsu hadits, buktinya adalah ustadz ini malsu hadits begini2, menurut matan gak masuk akal, perawinya juga meragukan, seharusnya begini2”. Atau Wahabi suka menghina hadits dhoif, buktinya hadits tentang Nur Muhammad ditolak mentah2, padahal jalur perawinya sohih dari sini sini sini.

          Lha kalau omongon kaya kamu yang asal njeplak, bakul sayur sama tukang pecel juga bisa.

  204. Ahmad Syahid@

    Ana usul kepada Mas Syahid sebaiknya tidak menanggapi apa yg dijawab oleh dufal, cukup anak2 Aswaja yg ada di sini aja yg jawab. Karena Dufal emang tdk layak diskusi secara ilmiyah…. terlalu ngawur jauh ilmunya. Demikian…., hal ini agar menjadi perhatian bagi teman2 Aswaja sehingga bisa melihat secara jernih bagaimana ngawurnya Dufal dalam menanggapi tulisan Mas Syahid.

    Di point pertama itu sangat jelas menggambarkan betapa jahilnya Dufal. Kelihatan sekali dia tidak mengerti Bab-bab ilmu keislaman. Demikian, syukron.

    1. Langsung aja putri, jangan omdo, buka kitabmu, terus bantah. Kamu bilang ngawur2, tapi gak bisa bantah, ya sebenarnya kamu yang jahil murokkab tsumma mutakabbir.

  205. Dufal@

    Antum ini benar2 orang jaahilun murokkabun kok ikut2an jawab mewakili Firanda? Ini ana baca jawaban antum di pont pertama aja langsung ketahuan antum adalah seorang jahil murokkab yg merasa diri punya ilmu.

    Mas Syahid di situ bicara soala aqidah, jawaban antum bicara soal ibadah (niat). Dalam pembahasan ilmu keislaman, Aqidah adalah berkaitan dg keimanan, sedangkan niat adalah berkaitan dengan ibadah yg mana ibadah ini dibahas di dalam ilmu Syari’ah. Betapa sangat jahilnya antum dalam masalah ini, menurut ane sesungguhnya antum sama sekali tidak layak menjawab apa-apa yg diiskusikan anatara Firanda dg Ahmad Syahid.

    Dalam melihat apa yg antum bicarakan di pont pertama, ibaratnya Mas syahid berbicara tentang permasalahan daging rendang lalu antum jawab dg permasalahan tentang ikan pepes. Apakah ini nyambung? Sungguh teramat sangat jahil antum dan ana pikir antum sangat tidak layak berdiskusi dg Ahmad Syahid. Jauh ilmunya, sungguh jauh dan tidak akan nyambung. Bikin geli dan sebal melihat tingkah antum yg sok berilmu akan tetapi ana lihat dari jawaban antum di point pertama langsung ketahuan bahwa antum sangat jahil sama persis dg Abu Umar yg berkoar-koar di sini. Afwan kepada semuanya, ana terpaksa berkata demikian demi keadilan dalam diskusi ini. Jangan sampai diskusi yg ilmiyah ini dirusak oleh orang jahil semacam Dufal yg jahil murokkab ini. Syukron.

    1. Dufal@

      Antum tidak lebih dari orang-orang jahil yg Ge-Er alias gede rasa.

      Orang yg bodoh tapi merasa diri berilmu sehingga bertingkah dan berlagak sok berilmu layaknya seorang ahli ilmu, itulah yg disebut Jahil Murokkab alias bodoh bertumpuk-tumpuk. Ketahuilah benar-benar akan sebutan Jahil Murokkab ini, agar antum selamat dari sifat jelek Jahil Murokkab yg banyak diderita oleh para Pengikut Salafi Wahabi.

  206. jgn gembira dulu kang, kita tunggu Mas Syahid menyampaikan argumennya, sabar aja, jgn anggap lama ga keluar2 itu dg komen negatif…ini..itu…dll, ttp berbaik sangka setiap org punya urusan masing2, nanti ada kesempatan bagus, pasti Mas Syahid memberi tanggapan kok…insya Alloh

  207. Bismillahirrahmanirrahim……

    Pada kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ummati atas kesediaannya menampilkan komentar saya dan sekaligus mempersilahkan saya untuk menanggapi komentar ahmad syahid atas fakta-fakta ilmiyah yang di sajikan secara sistematis dan sangat bertanggung jawab oleh ustad Firanda.
    Dan sebelum saya menanggapi komentar ahmad,ada baiknya saya perlu mengklarifikasi dulu komentar saya yang karenanya ummati dan konco-konconya mendadak keluar tanduk di kepala mereka.Komentar saya yang kurang lebih tertulis seperti ini ,” jika di perkenankan,saya ingin menanggapi tulisan ahmad syahid.Jika boleh,tolong di tampilkan komentar saya.Namun jika tidak,saya pikir ummati lebih tau apa yang harus di lakukan terhadap komentar saya”.. Mungkin setelah membaca komentar saya,teman-teman aka bertanya,”kenapa sampai saya menulis komentar dengan kata-kata seperti di atas??
    Saya Jawab.”karena saya sangat berkeinginan untuk menjawab apa yang saya baca dari tanggapan syahid terhadap fakta-fakta yang di bawakan ustad firanda..Pertanyaan berikut.”Kalau komentar Amad Syahid yang ingin di tanggapi,kenapa anda menulisnya dengan kata-kata seperti”Jika boleh,tolong di tampilkan komentar saya.Namun jika tidak,saya pikir Ummati lebih tau apa yang harus di lakukan terhadap komentar saya”?? Komentar anda ini,memberi kesan seolah-seolah ummati menerapkan prinsip tembang pilih.Dimana hanya anak-anak Aswaja dan komentar-komentar yang menunjukan buruknya Akhlak orang tersebut dan tidak sepaham dengan ummati yang kemudian sengaja di tampilkan untuk menjatuhkan akhlak dan mempertontonkan minimnya pengetahuan orang tersebut dihadapan komentar-komentar yang lain.Sehingga dengan demikian akan menimbulkan stigma negativ pada website http://www.ummatipress.com..
    Saya jawab: Kurang lebih sebulan yang lalu-seingat saya-saya pernah mengirimkan komentar di artiel ummati yang berjudul ” kenapa salafy wahabi anggap ulama berakidah Asy’ariyyah sebagai musuh abadi”

    yang tertulis ” Ummati pembohong Ummat!!! dst…lihat selengkapnya di artikel yang di maksud. Kemudian di balas oleh ummati,”Alhamdulillah kami tidak memiliki tradisi berbohong dst…silakan lihat di artikel yang sama..setelah itu di susul dengan komentar krongthib,dianth dan seterusnya..setelah saya baca komentar mereka,tanpa menunggu lama saya langsung menulis komentar saya.Namun sayangnya,yang saya dapati tidak seperti sebelumnya,Komentar saya tidak dapat terkirim.Tertulis di layar komputer yang saya gunakan “eror dst…Saya coba untuk yang ke dua kalinya hasilnya pun tetap sama,tidak tertikirim dan muncul tulisan yang sama pula,eror dst…Kembali saya coba lagi di hari lain, hasilnya pun tidak berubah.sama seerti sebelumnya.Bahkan,saya sampai menggunakan email saya yang lain pun tetap saja tidak dapat terkirim.Na,berangkat dari alasan ini lah yang kemudian saya secara sengaja menulis komentar saya dengan kata-kata seperti itu agar kiranya pengelola ummatipress bersedia menampilkan komentar saya tanpa harus di sortir mana yang layak dan mana yang gak layak.Sebab seminim-minimnya pengetahuan saya,Alhamdulillah saya masih bisa-insya Allah- menakar suatu kewajaran daam berucap!!Saya pikir klarifikasi saya selesai sampai disini.Dan jika ada dari teman-teman Ummati menginginkan agar adanya suatu kesaksian yang mengikat.Dengan kata lain,saya harus bersumpah atas apa yang saya alami,maka Demi Allah saya akan lakukan hal itu.
    Kembali pada permasalahan yang ingin saya sanggah-insya Allah-.Saya melihat ada begitu banyak kejanggalan-kejanggalan yang di jadikan sandaran oleh ahmad syahid.Baik dari sisi penyajian data-hujjah- maupun ucapan-ucapan ahmad syahid yang mencoba memaksakan diri untuk mewakili golongan asy’ariyyah dalam menjelaskan sandaran Aqidah mereka yang hanya terbatas pada Hadits mutawatir,mustafidh dan masyhur.Dan dalam saat yang sama juga,ahmad syahid memberanikan dirinya terjun bebas masuk ke dalam wilayah-wilayah yag dimana dirinya SANGAT TIDAK BERKOMPETEN untuk menjelaskan bagaimana manhaj yang di gunakan atau yang di tempuh oleh para ulama yang di nisbatkan olehnya sebagai ulama-ulama asy’ariyyah semisal Ibnu Hajar al Atsqolani dalam memperlakukan hadits – hadits Nabi Saw.Sebab kita tau bahwa dalam ilmu hadits ada banyak disiplin-displin ilmu yang tentuya wajib bagi seorang penuntut ilmu _jika konsentrasinya mengacu pada ilmu hadits- untuk di telusuri secara mendalam dan komperhensif,agar mendapatkan pemahaman yang utuh,bukan ucapan-ucapan kosong yang tidak dapat di pertanggung jawabkan.karena begitu saking kompleks nya ilmu Hadits,sampai-sampaisyaikh Al-Albani rahimahullah pernah di nasehati oleh orang tuanya untuk tidak meneruskan mempelajari ilmu hadits sebab,mempelajari ilmu hadits, dalam bayangan orang tua nya adalah perkerjaan orang-orang yang pailit.
    Mudah-mudahan teman-teman ummati bisa tetap bersabar mengikuti pendahuluan yang coba saya buat hanya semata-mata untuk memberikan rangasangan penyamengat kepada teman-teman semua agar bisa lebih fokus mengikuti alur sanggahan saya terhadap sederetan kejanggalan-kejanggalan “fakta”yang di susun oleh ahmad syahid dalam menanggapi hujjah ustad Firanda.Dan sekedar memenuhi janji dari apa yang menjadi pesan(jangan copas tulisan orang) teman-teman ummati,insya Allah saya akan indahkan hal itu – meski sejatinya saya sangat tidak sependapat dengan isi pesan tersebut-.Dan hal yang sama tentunya juga berlaku-tanpa di ingatkan lagi-pada ahmad syahid.Meski kita tau ahmad syahid adalah orang yang sangat tidak setuju jika di ajak untuk meng-copas-tulisan orang.Dan dalam kesempatan ini juga saya akan menyanggah jawaban-jawaban ahmad syahid yang terkait dengan fakta-fakta yang saya miliki,selebihnya akan saya diamkan sampai saya menemukan ke absahan faktanya baru setelah itu saya akan menentukan sikap,apakah harus menerima argumentasi ahmad syahid sebagai suatu kebenaran ataukah harus menolaknya sebagai suatu kedustaan??? wallahu a’lam…

    point ke1:
    Ahmad katakan: Dalam masalah pokok (Aqidah) Ulama Asy’ariyyah hanya menerima riwayat ( dalil-dalil) yang bersifat pasti (qoth’i) seperti Hadits mutawatir,mustafidh dan masyhur Dan MENOLAK jauh-jauh hadits AHAD.

    Saya jawab: Didalam kitab al Arba’in an Nawawiyyah Imam Nawawi Rahimahullah membuka kitabnya dengan pembahasn tentang Hadits Niat.Kita semua mungkin tau bahwa setiap perbuatan yang tidak didasari dengan Niat karena Allah Ta’ala,Maka pasti perbuatan kita akan berlalu begitu saja dan tidak akan tercatat sebagai suatu ibadah dan bahkan bahkan bisa menghantarkan kita terjatuh dalam kesyirikan jika Niat kita di sandarkan kepada selain Allah a’ala.Oleh sebab itu,Para ulama – semoga Allah merahmati mereka- menetapkan sebuah Qaedah yang berdiri di atas al Qur’an dan Hadits Nabi Saw,bahwa setiap perbuata yang tidak di dasari dengan Niat karena Allah Ta’ala dan tidak pula sesuai dengan apa yang di contohkan oleh Nabi Saw maka perbuatan tersebut tertolak atau tidak diterima.Qaedah diatas adalah syarat yang telah ditetapkan oleh para Ulama sebagai standar di terimanya amal ibadah seseorang.Jika kita mengikuti qaedah diatas maka pastilah kita akan terjaga dari praktek-praktek ritual ibadah yang dapat menghantarkan kita pada perbuatan syirik.Dan pembahasan-pembahasan tentang keharuskan mengikhlaskan Niat ini masuk dalam pembahasan Aqidah.dan saya pikir ahmad syahid tau akan hal ini.Saya ingin katakan,bagaimana mungkin anda menolak Hadits Ahad dalam maslah Aqidah sementara Hadits tentang Niat masuk dalam pembahasan Aqidah? Dan perlu untuk Ahmad syahid ketahui,bahwa hadits tentang niat statusnya adalah hadits Ahad.

    Point ke 2

    Ahmad Syahid katakan: Ulama-ulama salafi ( wahabi) dalam memahami kitab dan sunnah HANYA menggunakan Hadits-hadits sahih serta membuang jauh Hadits Dha’if meskipun sebatas masalah kamaliyyat.

    Saya Jawab: ini salah satu bukti yang menunjukan bahwa sejatinya ahmad syahid tidak paham dengan salafus sholeh ( salafi / wahabi ) dalam memperlakukan Hadits-hadits Dho’if yang ke Dho’ifan nya lemah (tidak parah).Dan bukan hanya itu,ahmad syahid juga sangat tidak paham dengan syarat-syarat yang merubah atau mengangkat hadits Dho’if kepada derajat hasan yang dimana syarat-syarat tersebut diberlakukan di kalangan Ulama Ahli Hadits dari dulu hingga sekarang.Akibat dari pemaksaan diri inilah yang kemudian membuat ahmad syahid di tertawai oleh orang-orang yang paham dengan ilmu Hadits.Saran saya,ahmad syahid tidak perlu melibatkan diri dalam permasalahan yang dimana ahmad syahid tidak punya pengatahuan akan hal itu.

    point ke 3
    Ahmad syahi katakan: ulama-ulama Asy’ariyyah juga berpegang kepada prinsip “Al jam’u wa at-taufiq”menggabungkan antar dalil sepanjang dalil tersebut masih bisa di gabungkan atau di jamak.Dan penggabungan antar dalil dalam masalah yang sama di kedepankan dari pada tarjih (memilih yang lebih kuat dari salah satunya).

    Saya jawab:Setelah membaca pengakuan ahmad syahid ini,timbul keinginan bagi saya untuk mempertanyakan bagaimana sikap kelompok mereka (Asy’ariyyah/aswaja) dalam memperlakukan Hadits – hadits Nabi Saw yang berikut ini: [1] ” Aisyah ra berkata,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbaring di rumahku sedangkan kedua pahanya terbuka,lalu bakar masuk sementara beliau masih dalam keadaan keadaan demikian…” [HR Muslim] kemudian pada kesempatan lain Nabi Saw bersabda,”Hai Ma’mar,tutup kedua pahamu kaena keduanya adalah aurat”.[HR Ahmad]..Saya mohon penjelasannya…[2]” Sabda Nabi,”Berpuasalah dengan melihat hilal dan berbukalah dengan melihat hilal dan berhajilah dengan melihat hilal juga, jika tertutup awan maka sempurnakanlah tiga puluh hari,jika ada dua orang bersaksi maka berpuasa dan berbukalah”,[HR Nasai] dalam Hadits lain Ibnu Umar berkata,”Orang-orang berusaha melihat hilal,lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah Saw bahwa aku melihatnya,maka Beliau Saw berpuasa dan menyuruh manusia untuk berpuasa..[HR Abu Dawud]..Saya mohon penjelasannya.[3] ”Sabda Nabi Saw,” Maukah aku kabarkan sebaik-baiknya saksi? yaitu orang yang bersaksi sebelum ia diminta bersaksi”..[HR Muslim] Dan dalam kesempatan lain Nabi Saw juga bersabda,” Sebaik-baiknya umatku adalah generasiku,kemudian setelahnya kemudian setelahnya.Imran Berkata,”Aku tidak tau apakah Beliau Saw menyebutkan setelah generasinya dua generasi atau tiga. Kemudian setelah itu datang suatu kaum yang bersaksi padahal ia tidak di minta untuk menjadi saksi, mereka berkhianat dan tidak menjaga amanah,mereka bernazar namun tidak dilaksanakan,dan muncul pada mereka kegemukan”.[mutafaqun alaih] ..Sekali lagi,mohon penjelasannya..Sebab apa yang di sebutkan oleh ahmad syahid (menukil perkataan Al hafidz ibnu Hajar al-Atsqolani ) ternyata sangat berbeda dengan apa yang di katakan oleh KH.Prof.DR.Said Agil Munawar Dalam dialognya bersama Ustad Zaenal Abidin (salafus Soleh).Dimana Prof.Said Agil munawar yang nota benenya adalah seorang tokoh Aswaja di indonesia dan sekaligus penyusun metode istinbath hukum di kalangan NU menjelaskan bahwa, Metode yang digunakan dalam memperlakukan Hadits nabi TIDAK HARUS dengan menjamak lebih dulu dan juga tidak dengan mentarjih,TERSERAH.Lanjut beliau,Boleh-boleh saja mendahului tarjih dari pada jamak dan begitupun sebaliknya.Justru apa yang di jelaskan oleh ustad Zaenal Abidin (salafi / wahabi) sesuai dengan apa yang ahmad katakan (menukil perkataan Ibnu Hajar).Ahmad,bukankh penjelasan beliau (KH.Prof.DR.said Agil munawar) secara jelas memberikan arti perbedaan yang sangat signifikan antar Aswaja atau Asy’ariyyah dengan apa yang di seutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani??? bagi yang tidak percaya apa yang saya sampaikan silahkan rujuk ke sini (www.kajian.net.01. Mudzakaroh MUI DKI Jakarta Ikhtilaf Dalam Menyikapi Al-Qur’an & As-Sunnah).Di youtube juga bisa.(dialog Ukhuwah Interaktif.flv).

    point ke 4

    Ahmad syahid katakan: ustad Firanda membawakan perkataan yang mendukung tujuannya saja,sementara perkataan imam Al Auzaa’i yang lainnya tidak di bawakan.cara pendalilan ustad Firanda seperti ini bukan cara pendalilan yang di anut Ulama Asy’ariyyah..

    Saya jawab: Mengapa mesti ikut cara pendalilan kelompok Asy’ariyyah?orang jelas-jelas beda kok di ikutin,Aneh! Dan kalau kita mau objektif seperti apa yang ahmad syahid katakan,tentu kita akan menilai Ustad Firanda jauh lebih baik, sebab bukti yang ada bersamanya.Namun jika ahmad tetap memaksa untuk menyalahkan ustad Firanda,kenapa ahmad syahid tidak membawakan perkataan imam Al-Auzaai yang membantah perkataan beliau yang di bawakan ustad Firanda??? ahmad masih bisa mikir kan??

    Point ke 5
    ustad firanda katakan: Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu –dan para tabi’in masih banyak-kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsyNya, dan kita beriman dengan sifat-sifatNya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

    Tanggapan Ahmad syahid: tidak ada keraguan jika al-Imam al-awza`I adalah Ulama besar panutan Ahlu Sunnah ( asy`ariyah) yang wajib diikuti , hanya apakah riwayat ini bersifat Qoth`I ( pasti) atau riwayat ini bersifat Dzani ( tidak pasti) yang sama sekali tidak diterima oleh Ulama Ahlu Sunnah karena riwayat yang bersifat Dzani tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah aqidah , mari kita kenali rawi-rawi dalam riwayat ini ,:dalam sanad riwayat ini terdapat rawi yang bernama Muhammad bin katsir al-mashishi (urut 4) al-mashishi menurut Imam Ahmad Hadistnya Mungkar atau meriwayatkan sesuatu yang mungkar hal ini disebutkan oleh ibnu adi dalam al-kamil , dan ibnu adi mengatakan al-mashishi mempunyai riwayat-riwayat dari Ma`mar dan Al-aw-za`I khususnya Hadist2 A`dad yang tidak diikuti oleh seorangpun , demikian juga disebutkan dalam kitab al-jarh wa at-ta`dil juz 8 hal 69 al-mashishi di dha`ifkan oleh Imam ahmad, disifati sangat lemah, jika para Imam Ahli jarh wa-ta`dil sudah melakukan Jarh seperti ini maka riwayatnya sama sekali tidak bisa diterima apalagi dijadikan Hujjah dalam Aqidah.
    Terlebih Dalam riwayat ini al-mashishi meriwayatkannya dari Ibrohim bin al-haitsam (urut 3), berkata al-Uqoili dalam kitab ad-du`afa juz 1 hal 274 : dia (Ibrohim al-haitsam) meriwayatkan Hadist yang dianggap Dusta oleh ahli Hadist dan ahlul Hadist menyerangnya dengan periwayatan Hadist yang dianggap dusta itu. Dua orang rawi dalam atsar ini jatuh , al-mashishi tertuduh meriwayatkan yang Mungkar dan al-haitsam tertuduh dusta , hukum atsar ini Maudhu`. Sandaran pertama Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini Gugur

    Saya Jawab: Para ulama dalam men jarh seorang perawi tidak selamanya sejalan,bahkan terkadang perawi yang di ta’dil dalam saat yang sama juga di jarh oleh ulama yang lain.Fenomena seperti ini biasa terjadi di kalangan ulama jarh dan ta’dil.Hanya saja ahmad syahid yang baru bangun dari tidur panjang..Saya pikir,imam Adz-Dzahabi dan al Hafidz Ibnu Ibnu hajar tatkala membawakan dan menghukumi riwayat tersebut tentunya dengan melakukan penilitian yang mendalam barulah para ulama berani membawa dan menghukumi riwayat tersebut.Bukankah Imam Ahmad tidak se zaman dengan imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar??Artinya,Mustahil bagi ulama jarh dan ta’dil semisal imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar tatkala membawakan dan menghukumi riwayat imam Al-Auzaa’i tanpa mempertimbangkan perkataan imam Ahmad yang masuk dalam kelompok mu’tadil dalam ulama jarh dan ta’dil.sifat itu jauh dari Para ulama Jarh dan Ta’dil.Dan boleh jadi,Jarh Imam Ahmad kepada Al-Mashishi tidak berlaku mutlak (selamanya) dalam periwayatan Al-Mashishi.Sebab terbukti,Adz-Dzahabi membawakan riwayatnya dan di tegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar sanandanya Jayyid atau baik.saya jadi curiga sama Ahmad syahid,jangan – jangan perkataanya hanya sebatas kesimpulan kosong yang dimana tidak ada seorang ulama pun yang menghukumi riwayat tersebut dengan lafadh maudhu atau palsu.ini yang kesekian kalinya kelompok Aswaja atau Asy’ariyyah yang di wakili ahmad syahid menyelisihi Ibnu Hajar Al Atsqolani! Saya jadi semakin takut denga kelompok aneh seperti ini…

    point ke 6

    Ahmad syahid katakan: Qutaibah bin said syeikh Khurosan tidak diragukan ke Imamannya , hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu bakar an-naqosy seorang Pemalsu hadist lihat lisanul mizan juz 5 hal 149 , an-naqosy juga disebutkan dalam al-kasyf al-hatsist tentang rawi2 yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643 meninggal tahun 351 hijriyah , sementara abu ahmad al-hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun , sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj , karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248 artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya…….? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy , terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !Qutaibah bin said syeikh Khurosan tidak diragukan ke Imamannya , hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu bakar an-naqosy seorang Pemalsu hadist lihat lisanul mizan juz 5 hal 149 , an-naqosy juga disebutkan dalam al-kasyf al-hatsist tentang rawi2 yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643 meninggal tahun 351 hijriyah , sementara abu ahmad al-hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun , sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj , karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248 artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya…….?

    saya jawab: dalam point ini saya tidak akan memaksakan diri untuk menyanggah,sebab saya belum menemukan biografi dari rowi-rowi yang menyampaikan riwayat tersebut.untuk itu saya lebih memilih bersikap diam sambil mencari biografi dari rowi-rowi tersebut.. semoga Allah Ta’ala memudahkan saya untuk menemukannya..amin..

    point ke 7

    Ustad Firanda Katakan :Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395)

    Tanggapan Ahmad Syahid : Ibnu qutaibah seorang Mujassim lihatlah perkataannya perhatikan : “Seluruh umat “–baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” perkataan ini sama sekali tidak menunjukkan adanya Ijma` sebagaimana yang di dakwakan Ustadz firanda , terlebih Ulama Asy`ariyah hanya menerima Qur`an dan hadist yang bersifat qoth`I sebagai Hujjah dalam Aqidah , kalaupun ada Ijma` ia harus bersandar kepada Qur`an dan hadist bukan bersandar kepada perkataan seluruh Ummat , Ibnu qutaibah mencoba berdalil dengan omongan semua orang baik hidu atheis konghucu dan sebagainya dan ini Bathil. Status hujjah Gugur.

    Saya Jawab: Saya pikir Ahmad syahid lemah dalam mengkaji setiap teks yang ada dalam riwayat yang dibawakan ustad Firanda.Terbukti ahmad syahid coba mencari kesalahan dari riwayat tersebut dengan secara sengaja menjadikan titik pangkalnya pada kata-kata “seluruh ummat”. Padahal kita tau bahwa inti dari riwayat tersebut bertitik pangkal pada kata “FITROH”,yang kemudian di jeneralisasikan kepada seluruh ummat.Artinya,seandainya saja fitroh manusia tidak di palingkan maka selama itu juga seluruh ummat (termasuk ahmad syahid) akan meyakini bahwa Allah Ta’ala berada diatas langit.Namun jika kita bertitik pangkal seperti halnya Ahmad syahid,maka jangankan Fir’aun, ahmad Syahid aja tidak meyakini bahwa Allah berada di ata langit beserta Dzat-Nya (bukan Derajat).benar kan???

    point ke 8:

    Ahmad syahid katakan: Abu said Ustman bin said ad-darimi as-sajzi bermadzhab hanbali mujassim musyabih dari golongan Hasywiyah wafat tahun 282 hijriyah konon wafat tahun 280 hijriyah , Tasybih yang jelas terlihat dari Ucapannya : ” bahwa orang yang berada dipuncak gunung lebih dekat kepada Allah ketimbang orang yang berdiri dibawah gunung ” lihat al- maqolat il allamah al-kautsari hal 282 , saya ahmad syahid katakan : sungguh ucapan ini bertentangan dengan Hadist shahih didalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Huraira , Rosulallah SAW bersabda : ” seorang Hamba Lebih dekat kepada Tuhannya ketika ia dalam keadaan Sujud “, dan bahkan bertentangan dengan Al- Qur`an.” Sujudlah dan mendekatlah ” (qs. Al-alaq. 19) , dalam ayat ini posisi sujud digandengkan dan diidentikkan dengan kedekatan dengan Allah , ayat ini jelas bertentangan dengan perkataan dan keyakinan Abu said ad-darimi diatas.
    2. status Hujjah gugur karena dua hal 1. abu said ad-darimi menyandarkan aqidahnya ini kepada ucapan ummat islam (entah ummat islam yang mana ) dan ucapan Ummat Kafir ( yang tantu aqidahnya berbeda dengan muslimin ) harusnya abu said ustman ad-darimi menyandarkan Aqidahnya kepada Qur`an dan Hadist yang shahih atau minmal kepada pernyataan Ulama Muslimin (ahlu Sunnah ) , bukan kepada Ucapan orang Kafir. 2. Aqidah abu said ustman ad-darimi bertentangan dengan Qur`an dan Hadist sebagaimana saya sebutkan diatas.
    3. abu said ustman ad-darimi bukanlah Imam Ahlu sunnah yang terkenal itu , sebab Imam ahlu sunnah adalah : Al-imam Al-hafidz Abu Muhammad abdullah bin abdurohman bin fadl bin bahrom ad-darimi at-tamimi as-samarqondi beliaulah penulis kitab Sunan ad-darimi wafat tahun 255 hijriyah. Hati-hatilah jangan sampai tercapur aduk antara ad-darimi Imam ahlu sunnah dengan ad-darimi ahlu Bid`ah.. status hujjah gugur. Karena omongan ini keluar dari Ahlul Bid`ah Ustman ad-darimi yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist diatas.

    Saya Jawab: Betapapun ustad Firanda telah berusaha menghadirkan fakta-fakta yang menunjukan perkataan para Ulama,namun selama itu pula Ahmad syahid mencoba mematahkan hujjah-hujjah yang di bawakan ustad Firanda dengan fakta-fakta yang menurut saya,tidak cukup untuk dikataan sebagai bukti.sebagai contoh:Ustad firanda membawakan riwayat yang menunjukan perkataan Utsman Bin Saiid Ad Daarimi, bahwa kaum muslimin telah bersepakat dst…Aneh nya,ahmad syahid dalam bantahan nya malah menyeret atau mengalihkannya kedalam permasalahan yang lain dengan membawakan perkataan ad Daarimi yang berbunyi,”bahwa orang yang berada di puncak gunung lebih dekat kepada Allah dari pada orang yang berada di bawah gunung”,sungguh ini konfrontasi data yang tidak relevan..mestinya jika ahmad ingin menanggapi hujjah ustad firanda,seharusnya Ahmad membawakan fakta yang secara tegas mengoreksi atau membantah perkataan ad Daarimi yang di bawakan ustad firanda.bukan malah menyerang Utsman bin saiid ad Daarimi secara membabi buta dengan perkataan beliau yang lain…karena boleh jadi Qoul Ad Daarimi_wallahu a’lam- ingin menjelaskan ke pada pembaca bahwa keberadaan Allah Ta’ala beserta Dzat-Nya berada di ketinggian (arah atas).Sehingga beliau mengilustrasikan dengan orang yang berada di atas gunung dan orang yang berada di bawah gunung,agar para pembaca dapat menyimpulkan bahwa,Allah Ta’ala berada di atas langit beserta Dzat-Nya dan bukan ketinggian secara derajat.Dan seperti biasanya,saya minta Ahmad syahid membawakan Teks dari perkataan ad Daarimi yang disebutkan ahmad disini!!

    point ke 9

    Ahmad syahid katakan: Abu Hurairah,Rosulullah SAW bersabda,” seorang hamba lebih dekat kepada Tuhannya ketika ia dalam keadaan sujud”,dan bahkan bertentangan dengan Al-Qur’an.”sujudlah dan mendekatlah”{QS: Al-alaq},dalam ayat ini posisi sujud digandengakan dan diidentikan dengan kedekatan dengan Allah,Ayat ini jelas bertentangan dengan perkataan Abu siid ad Daarimi (pada point ke 8.sengaja saya dufal, pisahkan agar lebih terinci sanggahan saya)..

    Saya Jawab: Selain meyakini Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy menurut dengan kehendak-Nya,pada saat yang sama ahlussunnah juga menetapkan Ma’iyyah (kebersamaan Allah)dengan sebagian Makhluknya (Ma’iyyah khusus) dan menetapkan kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk-Nya (ma’iyyah umum)..

    sabda Nabi SAW,”Sesungguhnya Allah yang engkau berdo’a kepadanya,lebih dekat kepada seseorang di antara kamu dari pada leher binatang tunggangannya.(mutafaqqun alaih dan selainnya..lafadz hadit ini milik Ahmad)

    Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya – At Taanbiihaatul lathiifah (hlm.66)-,”Dan apa bila ada yang bertanya: sesungguhnya Allah itu maha tinggi diatas makhluk-Nya,bagaimana mungkin bisa dikatakan Allah bersama dan dekat dengan mereka?Maka jawabnya, Allah tetap bersama hambanya tetapi Dia maha tinggi di atas makhluk-Nya,dan pokok pembahasan ini adalah pokok yang telah tetap di dalam alQur’an,as-sunnah dan Ijma Ummat.Dan Allah itu tidak sama dengan suatu apa pun juga dala semua sifat-Nya”.selesai penukilan (syarah Aqidah ahlu sunnah wal jama’ah.oleh ustad Yazid bin Abdul Qadir jawas).

    point ke 10

    Ahmad syahid katakan: Status Hujjah (ustad firanda ) gugur karena dua hal.pertama: abu saiid ad Daari menyandarkan aqidahnya kepada ucapan ummat islam ( entah ummat islam yang mana) dan ucapan ummat kafir (yang tentu aqidahnya berbeda dngan muslimin) harusnya Abu Saiid utsman ad daarimi menyandarkan Aqidahnya kepada Qur’an dan Hadits yang shahih atau minimal kepada pernyataan ulama muslimin (ahlu sunnah), bukan ucapan orang kafir.Aqidah abu utsman Ad daarimi bertentangan dengan qur’an dan Hadits sebagaimana saya sebutkan diatas (point ke 9).Dan yang ke dua (saya sengaja merangkumnya): Abu saiid ad Daarimi bukanlah imam ahlu sunnah yang terkenal itu,sebab imam ahlu sunnah adalah:Al-Imam Al Hafidz Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Fadl Bin Bahrom Ad Darimi at-Tamimias-Samarqondi.Beliaulah penulis kita sunan ad Darimi wafat tahun 255 hijriyah.hati-hatilah jangan sampai tercampur aduk antara ad daarimi imam ahlu sunnah dengan ad Darimi alu bid ah.. status hujjah gugur.Karena omongn ini keluar dari Ahlul bid’ah Utsman ad Daarimi yang bertentangan dengan Qur’an dan Hadits.

    Saya jawab: Alhamdulillah,status hujjah masih tetap kuat karena dua alasan.Pertama:Abu saiid menyandarkan aqidahnya kepada seluruh ummat yang belum di palingkan Fitroh nya.dan apa yang menjadi sandaran Abu saiid ad daarimi selaras dengan apa yang di kabarkan oleh Allah Ta’ala dalam al Qur’an yang Artinya: “Mereka takut kepada Rabb yang (berkuasa) di atas mereka dan melaksanakan apa yang di perintahkan (kepada mereka).(Qs; An-Nahl :50).Sandaran aqidah Abu saiid ad Daarimi tidak hanya selaras dengan firman Allah Ta’ala,bahkan Rasulullah dalam Sabdanya sangat sesuai dengan sandaran Aqidah abu saiid ad Daarimi.berikut sabda Nabi SAW.” Dimana Allah? ia (budak wanita) menjawab,”Allah itu di atas langit,” lalu Rasulullah Saw bersabda lagi,”Siapa Aku? Engkau adalah Rasulullah,”jawabnya.Rasulullah Saw Bersabda,”Merdekakanlah ia,karena sesungguhnya ia seorang mukminah”.(Shahih Muslim (no:537) dan selain nya dari sahabat Muawiyyah bin hakam as- Sulami rahimahullah).bahkan aqidah abu Saiid ad Daarimi mendapa dukungan penuh dari para Imam founder Mdzhab semisal,Imam Abu Hanifah,Imam Malik,Imam Syafi’i Dan Imam Ahmad sebagaimana yang dikatakan Al Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah…dan yang ke dua: Terkenal atau tidaknya seseorang,bukanlah ukuran mutlak untuk menilai seseorang itu berada diatas kebenaran..Wallahu A’lam..

    Bersambung…Insya Allah,Bantahan berikutnya menyusul do’akan ya…

    Penulis: Dufal

    1. Dufal@

      dufal: Tertulis di layar komputer yang saya gunakan “eror dst…Saya coba untuk yang ke dua kalinya hasilnya pun tetap sama,tidak tertikirim dan muncul tulisan yang sama pula,eror dst…

      Kalau soal error error waktu berkomentar, ane beberapa mingggu yg lalu juga mengalaminya. Sampai saya terheran2 kok bisa error? setelah ana fikir dan evaluasi ternyata kesalahan terjadi akibat ana tidak menuliskan PASSWORDnya di kolom yg tersedia waktu itu. Tapi sekarang oleh Mas Admin kolom PASSWOPRD tsb sudah ditiadakan. Mungkin dirasakan mempersulit komentator yg b