Fantastis, ini Perbandingan Tarif Aa Gym, Mamah Dedeh, Ustadz Solmed yang Bikin Terkejut

Fantastis, ini Perbandingan Tarif Aa Gym, Mamah Dedeh, Ustadz Solmed yang Bikin Terkejut

MusliModerat.net —Petisi terhadap Oki Setiana Dewi (27) terkait dengan tudingan tarifnya mahal saat dakwah, seolah membuka tabir adanya pendakwah yang pasang tarif mahal.

Entah benar atau tidaknya tudingan dialamatkan pada bintang film Ketika Cinta Bertasbih tersebut.
Namun, tarif mahal bagi pendakwah tertentu telah menjadi rahasia umum.
Mereka yang bertarif mahal adalah mereka yang kerap wara-wiri pada stasiun televisi.

Aa Gym

Pada situs ensiklopedia,Wikipedia.org, termuat tarif dakwah dai kondang Abdullah Gymnastiar.
[Aa Gym. FOTO: METROTVNEWS.COM]
Pada tahun 2002 atau 14 tahun lalu, tulisWikipedia.org, Tarif siarnya untuk berdakwah bisa mencapai USD 100.000 per jam pada bulan Ramadhan, dan penampilannya menjadi rebutan stasiun-stasiun TV.
Pada tahun 2002, nilai tukar rupiah terhadap 1 dollar Amerika Serikat mencapai Rp 9.260.
Tarif itu kemudian dikritik aktivis Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar-Abdalla.
Menurut Ulil, AA Gym, sapaan Abdullah Gymnastiar, telah memosisikan dirinya bak penyanyi papan atas.
Namun, tokoh Nahdlatul Ulama, Solahuddin Wahid atau Gus Solah membela Aa Gym.
Gus Solah berpendapat bahwa kekuatan Aa Gym terletak pada ketulusannya.

Mamah Dedeh

Pada tahun 2013 lalu, seorangnetizendi twitter @jajang_jahroni, mengungkapkan berapa bayaran Dedeh Rosidah Syarifudin alias Mamah Dedeh.
[Mamah Dedeh. FOTO: COURTESY INDOSIAR]
Jajang yang saat itu adalah mahasiswa program doktor pada Boston University itu menyebut biaya Mamah Dedeh setiap ceramah Rp 40 juta.
Berapa tarif Mamah Dedeh untuk sekali ceramah? 40 jt. Ustadz Uje 25 jt, Ustadz Maulana 25 jt,kicau Jajang melalui akunnya pada Twitter.
Mamah Dedeh pernah mengaku pekerjaannya sebagai penceramah pernah dijadikan ajang bisnis oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.
“Yang tanda tangan Rp 80 juta, yang kita terima cuma Rp 30 juta. Saya juga pernah tanda tangan Rp 25 juta dikasih cuma Rp 1 juta. Padahal saya tahu pendapatan dari tiket saja sangat besar,” ujarnya Agustus 2013 lalu.

Solmed

Soleh Mahmud alias Solmed pernah menghebohkan media sosial pada tahun 2013 gara-gara beredar video minta bayaran tinggi saat diundang ceramah di Hong Kong oleh Majelis Thoriqul Jannah.
[Solmed. FOTO: TRIBUNNEWS.COM]
Menurut pemimpin Majelis Thoriqul Jannah, Lifah Kholifah Al Marbawy, awalnya Solmed meminta tarif seikhlasnya dan dua tiket pesawat untuk dirinya dan sang manajer.
Pihak majelis kemudian menetapkan akan memberi uang honor senilai 6000 dolar Hong Kong atau sekitar Rp 8 juta, saat itu.
Namun, tiba-tiba permintaan itu berubah jelang acara, Solmed meminta Rp 10 juta.
Sungguh fantastis kenaikannya.
Setelah itu beredar surat terbuka kepada Solmed yang mengatasnamakan dari Tenaga Kerja Indonesia atau TKI.
TKI menulis surat terbuka ini karena merasa tersinggung akibat Solmed menyebut TKI di Hong Kong sebagai komunis melalui kicauan pada Twitter.
Kepada Yth :
Ustaz Solmed

Ustaz Solmed yang terhormat, saya adalah salah satu TKIHong Kong yang terluka dengan pernyataan ustaz di twitteryang mencurigai kami (TKI Hong Kong) sebagai jaringan dari
komunis. Saya (masih) memaklumi jika ustaz memasang tarifsaat diundang untuk berceramah.
Itu hak ustaz. Pun, sayajuga mengerti jika ustaz membela diri ketika ustaz ditudingmenaikkan tarif saat diminta ceramah di Hong Kong, terlepasdari benar atau tidaknya argumen yang ustad sampaikan.
Namun, ketika ustad berkicau di twitter dengan menyatakankecurigaan bahwa TKI Hong Kong merupakan bagian darijaringan komunis, maka saya sebagai bagian dari TKI Hong Kong merasa terluka, teriris hati saya mendengar hal ini.

Saya suka menulis, saya menyampaikan hal ini melaluitulisan dan mem-broadcastnya di sosmed bukan untukmencari sensasi, apalagi popularitas.

Ini adalah suara hatisaya. Sedih tak terkira saya melihat seorang ustadmemerangi saudara seagamanya dengan bersenjatakanmedia.

Miris, melihat dan mendengar pemberitaan beberapamedia yang menurunkan berita timpang (tidak balance, hanyamemaparkan berita dari pihak ustad Solmed, tidak berusaha
melakukan cross check dengan pihak EO di Hong Kong).

Secara pribadi, saya tidak ada dendam dengan ustad. Sayapertama kali melihat ustazmelalui tayangan sinetron ditelevisi (saya lupa judulnya).

Tayangan itu saya saksikan melalui internet.
Saya bukan pecinta sinetron, hanya sajasaya tertarik menyaksikan sinetron tersebut karena ada MaherZain yang ikut syuting di dalamnya (sewaktu dia berkunjungke Indonesia).

Sebagai TKI Hong Kong, saya memangmengikuti perkembangan konflik ustad dengan salah satuevent organizer (EO) di Hong Kong yang mengundang ustaduntuk berceramah. Namun, saya tak ikut ambil pusing.

Saya bukan bagian dari EO tersebut, dan (tadinya) saya pikir,perselisihan ustad dengan EO tersebut dapat menemui titiktemu (damai). Tetapi, semakin lama, ustad semakin membuat pernyataan yang tidak-tidak, bahkan cenderung memfitnah.

Di infotainment, ustad menyebut angka 150 juta rupiah yangbakalan dikeruk oleh EO di Hong Kong dari penjualan tiketmasuk yang dijual kepada para jamaah.

Ijinkan saya bertanya, dari mana ustaz dapatkan angka fantastis tersebut?

Hampir tujuh tahun saya di Hong Kong dan selama 4 tahunterakhir ini saya berkecimpung dalam organisasi yang kadangmenjadi EO suatau acara dengan mengundang bintang tamu artis dari Indonesia.

Sedikit banyak, saya tahu seluk-belukpenyelenggaraan acara di Hong Kong.

Untuk gedung diSheung Wan yang rencananya akan dipakai untuk acara yangsedianya akan ustad hadiri tersebut, setidaknya sudah 3 kalisaya memasukinya.

Gedung tersebut merupakan ruanganberbentuk L yang kapasitasnya (menurut pengamatan orangawam seperti saya), hanya muat untuk 500 orang (itu jugakalau dijejal-jejal).

Jika tiket masuk dijual seharga 50 (Hong Kong dollar), dan pengajian diadakan dua sesi, maka hasildari penjualan tiket adalah : 50 x 1000 orang = 50.000 (HongKong dollar).

Kurs saat ini : HK$ 1 = Rp. 1300 (kurang lebih,karena kurs naik turun).

Jadi, jika ustazmenyebut angka 150juta rupiah, maka saya katakan hal tersebut adalah AJAIB(kalau tak mau dikatakan OMONG KOSONG).

Lagipula, angka HK$50. 000 itu dengan asumsi bahwa tiket terjual habis (sold out)*. Pada kenyataanya, tidak semua tiket bisa terjual habis.

Dan uang sejumlah itu bisa dikatakan sangat pas-pasanuntuk membiayai sebuah acara di Hong Kong.

Iniberdasarkan pengalaman saya selama bergelut dalamorganisasi Forum Lingkar Pena Hong Kong.

Perlu ustaz ketahui, pengajian di Hong Kong dengan menjualtiket (entah itu HK$20, 50, atau 100) itu sudah lazim dikalangan tenaga kerja Indonesia di Hong Kong ini.

Di Hong Kong ini, memakai mesjid atau gedung TIDAK BISA GRATIS. Minimal perlu HK$ 4.000 untuk sewa satu gedung (ini harga sewa gedung di pelosok, kalau di pusat kota minimal bisa dua kali lipatnya).

Belum lagi sewa sound systemnya (tidakmungkin kan ustad teriak-teriak atau lari sana-sini agarsuara ustad dapat didengar oleh jamaah yang hadir).

Harga sewa sound system bisa berkisar HK$ 5.000 ke atas. Belum lagi ditambah biaya pembelian tiket pesawat untuk ustad dan manajer ustad, biaya hotel, konsumsi,transportasi, dll.

Jikapun acara di laksanakan di tempat terbuka, seperti lapanganVictoria Park, itu juga harus ada ijin dari pengelolanya.

Setidaknya, penyelenggara acara harus membayar uangasuransi pada pengelola taman jika ingin menggunakan areatersebut. Hal ini saya ketahui saat mencari info tentang penggunaan lapangan rumput dan tenda putih atas VictoriaPark.

Dan lebih fantastis lagi, sound system kalau untukoutdoor seperti di lapangan Victoria Park, harga sewanya bisamencapai belasan juta rupiah.

Jadi, jika ustad mengatakanbahwa dakwah ustad dijadikan lahan bisnis oleh EO di HongKong, saya sangat meragukan hal ini.

Karena, yang saya tahu, jika pun acara pengajian itu memperoleh keuntungan dari penjulan tiket serta dana dari kotak amal (yang diedarkan saat pengajian berlangsung), maka dana tersebut tidak akan masuk ke kantong panitia penyelenggara, melainkan disumbangkan ke Indonesia, entah itu untuk pembangunan mesjid, pesantren, dll.

Mengenai hal ini, mungkin ustaz bisa bertanya pada EO yang mengundang ustaz, berapa pondok pesantren yang sudah mereka biayai dari uang sisa yang didapat dari acara pengajian yang mereka adakan.

Ustad akan lebih tercengang lagi, jika melihat fakta bahwa begitubanyak mujahidah di Hong Kong ini yang rela berpanas-hujanmenjual majalah, meminjamkan buku melalui perpustakaanlesehan, menjual buku, dll demi mendapat keuntungan 1 atau2 dolar yang mereka kumpulkan untuk kemudiandisumbangkan ke Indonesia.

Bayangkan, mereka relaberlelah-lelah di hari yang seharusnya menjadi hari liburmereka.

Saya sendiri pun pernah mengalaminya, menggeret-geret koper besar berisi buku-buku untuk dipinjamkan.

Uang penyewaan buku hanya numpang lewat di tangan saya,untuk kemudian disumbangkan ke Indonesia.

Jika ustad mengatakan bahwa seluruh biaya yang sayasebutkan itu (tiket pesawat, hotel, dll) sudah ditanggung olehsponsor, maka silakan disebutkan siapa saja sponsor acaratersebut, berapa banyak uang yang mereka berikan sehinggabisa mengcover seluruh biaya tersebut?

Setahu saya, untuk satu event semisal pengajian, 3 atau 4 sponsor saja itu belum tentu ada, karena kini semakin banyak organisasi TKI di Hong Kong, banyak acara yang bisa mereka pilih untuk didukung.

Satu sponsor saja, biasanya member support materi yangtidak begitu banyak, sekitar HK$500 HK$ 2.000, sangatjauh untuk bisa menutup biaya-biaya yang harus dikeluarkan.

Saya berbicara berdasarkan fakta. Menurut pengalaman sayadalam mencari dana dari sponsor, kadang dana dari sponsortidak diberikan dalam bentuk tunai, tapi berupa barang yangharus dijual, jadi tidak berbentuk cash money.

Well, dua pertanyaan itu (dari mana angka 150 juta itu ustaddapat dan sponsor mana yang mau mendanai penuh acarayang akan ustad hadiri), akan membuktikan kebenaran dari ucapan ustad.

Mari bicara fakta, atau diam jika hanyamenimbulkan fitnah, menyakiti kami (TKI Hong Kong) yangustad sebut sebagai saudara. Sekali lagi, saya sangatmaklum jika benar ustad memasang tariff dan memintafasilitas ini-itu pada panitia.

Saya juga tidak menyalahkan jika ustad (mungkin) berbohong di media untuk menjagareputasi ustad.
Itu manusiawi.

Silakan saja, dosa ditanggungustad sendiri.

Namun, jika konfliknya melebar sampai ustad koar-koar di twitter dengan menyatakan kecurigaan bahwaTKI Hong Kong adalah jaringan dari komunis, itu sudahketerlaluan.

Curiga boleh saja, tapi tak harus berkicau disosmed tanpa fakta, tanpa tabayyun, karena itu semua akanmenjadi fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan.

Untuk media-media di Indonesia Di Indonesia, mungkin nama ustad Solmed sangat layak jual.

Sehingga otomatis, berita yang menyangkut dirinya akanmenarik bagi masyarakat.

Namun, setahu saya setiapberita yang diturunkan haruslah berimbang, tidak boleh hanya
dari satu sisi saja.Meskipun narasumber berita jauh,wartawan harus tetap mengusahakan untukmewawancarainya meski hanya melalui saluran telepon.

Jika si narasumber tidak dapat dihubungi, maka hal tersebut juga harus disampaikan kepada masyarakat, bahwa si wartawansudah berusaha menghubungi, namun hingga saat berita diturunkan, narasumber belum memberikan jawaban.

Silakan menghubungi dan mewawancarai langsung EO yangmengundang ustad Solmed ke Hong Kong, agar berita yangdisampaikan pada masyarakat tidak berat sebelah, dan tidak lebay (saya pernah melihat tayangan infotainment yangmenampilan media yang memuat berita dengan judul Astaga,tarif ustad Solmed 150 juta.

Menurut saya judul tersebutsangatlah lebay karena angka 150 juta tersebut bukan tariff yang dipatok sang ustad, melainkan angka perkiraan sangustad dari penghitungan penjulan tiket yang dijual olehpanitia).

Memang, judul bombastis bisa menaikkan berita,tapi akan merugikan media sendiri jika judul tak sesuaidengan isi.

Akibatnya, bukan tidak mungkin media yangseperti itu akan kehilangan kepercayaan dari masayarakatyang berimbas pada kematian media itu sendiri.

TKI di Hong Kong mudah dijumpai di jejaring socialFacebook.
Itulah mengapa, ketika ustad Solmed koar-koar diTwitter, yang ikut me-retweet dari kalangan TKI Hong Konghanya mempunyai beberapa follower, karena memang TKIHong Kong hanya sedikit saja yang ber-twitter ria.
Kami lebihnyaman di Facebook karena bisa membaca info-info menarikdari catatan fans fage, sharing foto, dll, sedangkan twittertidak memungkinkan hal itu, karena membatasi penulisanhanya 140 karakter saja.

Untuk teman-teman TKI/BMI Hong Kong, kita adalah satu tubuh, ketika ada pihak yang menyakitibagian dari diri kita, tentu kita akan ikut terluka.

Demikianpula halnya dengan diri saya. Awalnya saya tak ingin angkatbicara, malas koar-koar di sosmed.

Tetapi, saya melihatbeberapa aktivis BMI HK yang biasanya vocal membela BMI,diam melihat hal ini, sama sekali tak berkomentar.

Dan yangbukan aktivis, ada saja yang nyinyir dengan mengatakanbahwa pengajian harus gratis lah, salah panitia ngundangnyaartis lah, dll.
Untuk yang belum pernah berkecimpung diorganisasi BMI, tentu pernyataan gratis tadi wajar saja,karena ketidaktahuan mereka bahwa tidak ada yang gratis diHong Kong ini.

Lagipula, tiket dijual kepada mereka yangbersedia membayar, tak ada paksaan.

Pun dengan kotakamal, tidak ada paksaan untuk mengisinya.
Saya ungkapkandi sini, event pengajian yang diadakan berbagai organisasiBMI di Hong Kong, tidaklah bertujuan untuk mengeruk untungataupun dijadikan lahan bisnis seperti yang dikatakan ustazSolmed.
Saudara-saudara kita berjuang menegakkan agamaislam di negeri non muslim ini.

Jika pun ada yangmembisniskan pengajian, itu adalah oknum, jangan pernahmelakukan generalisir dengan menyebutkan BMI/TKI HongKong, karena akan sangat fatal akibatnya, menjadi fitnahyang menyakiti semua.

Kita bisa saja memaafkan ustad Solmed atas pernyataannyadi twitter yang mencurigai TKI Hong Kong sebagai komunis,kita juga bisa memboikot ustad Solmed dengan menganjurkan
keluarga kita agar meninggalkan segala tontonan yangmenampilkan ustad Solmed.

Kita adalah kekuatan yang besarjika bersatu. Kita dikatakan komunis, komunis itu tak bertuhan, rela kita dikatakan demikian?

Untuk teman-teman yang berkecimpung di organisasi,terutama dalam bidang keagamaan, mari jadikan kasus inisebagai pelajaran.

Selama ini, mungkin teman-teman tidakpernah membuat perjanjian (kontrak) tertulis dengan tamu(ustaz/artis) yang akan diundang.

Belajar dari hal ini,tawarkanlan surat perjanjian pada tamu yang akan diundang.

Jika hal itu dianggap merepotkan, maka gunakan fasilitasrekam suara di HP. Kita bisa merekam pembicaraan di HPdengan sang tamu yang akan diundang.

Atau, simpanlahbukti sms/whatsapp untuk setiap deal yang teman-temanlakukan dengan calon tamu.

Jadi, jika di kemudian hariterjadi konflik seperti ustad Solmed di atas, teman-temanpunya bukti kuat.

Demikian yang ingin saya ungkapkan. Mohon maaf jika adapembaca yang kurang berkenan dengan tulisan saya ini.

Silakan diluruskan jika da kekeliruan dalam tulisan saya ini.
Saya Rihanu Alifa, saya TKI Hong Kong, tidak kenal ustadSolmed, juga tidak kenal dengan organisasi TKI Hong Kongyang berseteru dengannya.
Saya tidak memihak siapapun.

Saya menuliskan hal ini karena bagaimanapun juga, sayaadalah bagian dari TKI Hong Kong yang akan terluka jika nama TKI Hong Kong dinodai.

Yang benar hanya dari Allah.Semoga tulisan saya ini bermanfaat dan ada hikmah yangdapat dipetik di dalamnya, tidak menjadi ghibah, apalagifitnah.

Shatin, 17 Agustus 2013

Salam santun,
Rihanu Alifa

You might like

About the Author: admin

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.