FAKTA: Sekte Wahabi Berdusta Atas Nama Imam Abu Hanifah

ALLAH ADA TANPA TEMPAT; [Membongkar Aqidah Sesat Wahhabi Yang Sering Berbohong Besar Atas Nama Imam Abu Hanifah]

Oleh: Abou Fateh

FAKTA: Sekte Wahabi Berdusta Atas Nama Imam Abu Hanifah. Inilah faktanya, suatu tatkala al-Imam Abu Hanifah ditanya makna “Istawa”, beliau menjawab: “Barangsiapa berkata: Saya nggak tahu apakah Allah berada di langit atau barada di bumi maka ia sudah jadi kafir. Sebab perkataan semacam itu memberikan pemahaman bahwa Allah bertempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah bertempat maka ia ialah seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya” (Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini dilansir oleh beberapa ulama. Di antaranya oleh al-Imam Abu Manshur al-Maturidi dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam Hall ar-Rumuz, al-Imam Taqiyuddin al-Hushni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad, dan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i dalam al-Burhan al-Mu’yyad).

Di sini ada pernyataan yang wajib kita waspadai, ialah pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Murid Ibn Taimiyah ini beberapa membikin kontroversi dan melaksanakan kedustaan persis seperti seperti yang biasa dilaksanakan gurunya sendiri. Di antaranya, kedustaan yang ia sandarkan ke al-Imam Abu Hanifah. Dalam beberapa bait sya’ir Nuniyyah-nya, Ibn al-Qayyim menuliskan selaku berikut:

“Sedemikian sudah dinyatakan oleh Al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit, juga oleh Al-Imam Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Adapun lafazh-lafazhnya berasal dari pernyataan Al-Imam Abu Hanifah…
bahwa orang yang nggak mau menetapkan Allah berada di atas arsy-Nya, dan bahwa Dia di atas langit serta di atas segala tempat, …
Sedemikian pula orang yang nggak mau mengakui bahwa Allah berada di atas arsy, –di mana perkara tersebut nggak tersembunyi dari saban getaran hati manusia–,…
Maka itulah orang yang nggak diragukan lagi dan pengkafirannya. Inilah pernyataan yang sudah disampaikan oleh al-Imam masa sekarang (maksudnya gurunya sendiri; Ibn Taimiyah).
Inilah pernyataan yang sudah tertulis dalam kitab al-Fiqh al-Akbar (karya Al-Imam Abu Hanifah), di mana kitab tersebut sudah mempunyai beberapa penjelasannya”.

Apa yang ditulis oleh Ibn al-Qayyim dalam untaian bait-bait syair di atas nggak lain cuma untuk mempropagandakan akidah tasybih yang ia yakininya. Ia sama persis dengan gurunya sendiri, mempunyai keyakinan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Pernyataan Ibn al-Qayyim bahwa keyakinan tersebut ialah akidah al-Imam Abu Hanifah ialah kebohongan belaka. Kita meyakini sepenuhnya bahwa Abu Hanifah ialah seorang ahli tauhid, mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk-Nya. Bukti kuat untuk itu mari kita lihat karya-karya al-Imam Abu Hanifah sendiri, seperti al-Fiqh al-Akbar, al-Washiyyah, atau lainnya. Dalam karya-karya tersebut terdapat beberapa ungkapan beliau menerangkan bahwa Allah sama sekali nggak menyerupai makhluk-Nya, Dia nggak memerlukan ke tempat atau arsy, sebab arsy ialah makhluk Allah sendiri. Mustahil Allah memerlukan ke makhluk-Nya.

Sesungguhnya memang seorang yang nggak mempunyai senjata argumen, ia akan berkata apapun untuk menguatkan keyakinan yang ia milikinya, termasuk melaksanakan kebohongan-kebohongan ke para ulama terkemuka. PInilah tradisi ahli bid’ah, untuk menguatkan bid’ahnya, mereka akan berkata: al-Imam Malik berkata sedemikian, atau al-Imam Abu Hanifah berkata sedemikian, dan seterusnya. Padahal sama sekali perkataan mereka ialah kedustaan belaka.

Dalam al-Fiqh al-Akbar, al-Imam Abu Hanifah menuliskan selaku berikut:

“Dan sesungguhnya Allah itu satu bukan dari segi hitungan, tapi dari segi bahwa nggak ada sekutu bagi-Nya. Dia nggak melahirkan dan nggak lahir, nggak ada suatu apapun yang meyerupai-Nya. Dia bukan benda, dan nggak disifati dengan sifat-sifat benda. Dia nggak mempunyai batasan (nggak mempunyai bentuk; artinya bukan benda), Dia nggak mempunyai keserupaan, Dia nggak ada yang dapat menentang-Nya, Dia nggak ada yang sama dengan-Nya, Dia nggak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya, dan nggak ada suatu apapun dari makhluk-Nya yang menyerupainya” (Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan Syarh-nya karya Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 30-31).

Masih dalam al-Fiqh al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan selaku berikut:

??????? ??????? ????? ??? ????????? ????????? ??????????????? ?????? ??? ????????? ????????? ??????????? ???? ?????????? ????? ?????????? ????? ???????? ???????? ???????? ???????? ????????.

“Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan menyaksikan Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, nggak di dalam atau di luar surga, nggak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”” ( Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan syarah Syekh Mulla Ali al-Qari, h. 136-137).

Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini amat terang dalam menetapkan kesucian tauhid. Artinya, kelak orang-orang mukmin disurga akan langsung menyaksikan Allah dengan mata kepala mereka masing-masing. Orang-orang mukmin tersebut di dalam surga, akan tetapi Allah bukan artinya di dalam surga. Allah nggak boleh dikatakan bagi-Nya “di dalam” atau “di luar”. Dia bukan benda, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Inilah yang dimaksud oleh Al-Imam Abu Hanifah bahwa orang-orang mukmin akan menyaksikan Allah tanpa tasybih, tanpa Kayfiyyah, dan tanpa kammiyyah.

Pada bagian lain dari Syarh al-Fiqh al-Akbar, yang juga dilansir dalam al-Washiyyah, al-Imam Abu Hanifah berkata:

????? ???? ????? ???? ????? ??? ??? ??? ????? ??? ??? ??

“Berjumpa dengan Allah bagi warga surga ialah kebenaran. Hal itu tanpa dengan Kayfiyyah, dan tanpa tasybih, dan juga tanpa arah” (al-Fiqh al-Akbar dengan Syarah Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 138).

Lalu pada bagian lain dari al-Washiyyah, beliau menuliskan:

???????? ????? ????? ??????????? ?????????? ????? ???????? ???????? ???? ?????? ??? ???????? ???? ??????? ?????? ?????????????? ????????? ?????? ??????? ???????? ???????? ???????? ???? ?????? ??????????? ?????? ????? ?????????? ????? ?????? ????? ???????? ????????? ?????????????? ??????????????????? ?????? ????? ?????????? ???? ?????????? ??????????? ???????? ?????? ???????? ????? ????? ????? ???????? ????? ???? ?????? ??????? ?????????.

“Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia memerlukan ke arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia nggak memerlukan ke makhluk-makhluk-Nya tersebut. Sebab kalau Allah memerlukan kapada makhluk-Nya maka artinya Dia nggak sanggup untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan kalau Dia nggak sanggup atau lemah maka artinya sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan sedemikian kalau Allah memerlukan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, kalau sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan sesudah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, artinya Dia berubah, sementara perubahan ialah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu seluruh dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dilansir oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).

Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

??????: ???????? ???? ?????? ????? ?????? ??????? ????: ????? ????? ???????? ????? ??????? ?????? ??? ???????? ?????????? ??????? ????? ???????? ?????? ?????? ???? ????? ?????? ????? ?????? ?????? ??????? ???? ?????.

“Saya katakan: Tahukah engkau kalau ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia ialah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

Pada bagian lain dalam kitab al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

“Allah ada tanpa permulaan (Azali, Qadim) dan tanpa tempat. Dia ada sebelum menciptakan apapun dari makhluk-Nya. Dia ada sebelum ada tempat, Dia ada sebelum ada makhluk, Dia ada sebelum ada segala sesuatu, dan Dialah pencipta segala sesuatu. Maka barangsiapa berkata saya nggak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?, maka orang ini sudah jadi kafir. Sedemikian pula jadi kafir seorang yang berkata: Allah bertempat di arsy, tapi saya nggak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit” (al-Fiqh al-Absath, h. 57).

Dalam tulisan al-Imam Abu Hanifah di atas, beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Saya nggak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?”. Sedemikian pula beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Allah bertempat di arsy, tapi saya nggak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit”.

pengakuan kafir dari al-Imam Abu Hanifah kepada orang yang menjelaskan dua ungkapan tersebut ialah sebab di dalam ungkapan itu terdapat pemahaman adanya tempat dan arah bagi Allah. Padahal sesuatu yang mempunyai tempat dan arah telah pasti memerlukan ke yang menjadikannya dalam tempat dan arah tersebut. Dengan sedemikian sesuatu tersebut pasti baharu (makhluk), bukan Tuhan.

Tulisan al-Imam Abu Hanifah ini seringkali disalahpahami atau sengaja diputarbalikan pemaknaannya oleh kaum Musyabbihah. Perkataan al-Imam Abu Hanifah ini seringkali dijadikan alat oleh kaum Musyabbihah untuk mempropagandakan keyakinan mereka bahwa Allah berada di langit atau berada di atas arsy. Padahal sama sekali perkataan al-Imam Abu Hanifah tersebut bukan untuk menetapkan tempat atau arah bagi Allah. Justru sebaliknya, beliau menjelaskan sedemikian ialah untuk menetapkan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Hal ini terbukti dengan perkataan-perkataan al-Imam Abu Hanifah sendiri seperti yang sudah kita kutip di atas. Di antaranya tulisan beliau dalam al-Washiyyah: “Kalau Allah memerlukan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia?”.

Dengan sedemikian jadi terang bagi kita bahwa pengakuan kafir yang sematkan oleh al-Imam Abu Hanifah ialah kepada mereka yang berakidah tasybih; yaitu mereka yang berkeyakinan bahwa Allah bersemayam di atas arsy. Inilah maksud yang dituju oleh al-Imam Abu Hanifah dengan dua ungkapannya tersebut di atas, sebagaimana sudah dijelaskan oleh al-Imam al-Bayyadli al-Hanafi dalam karyanya; Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imam (Lihat Isyarat al-Maram, h. 200). Sedemikian pula prihal maksud perkataan al-Imam Abu Hanifah ini sudah dijelasakan oleh al-Muhaddits al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitab Takmilah as-Saif ash-Shaqil (Lihat Takmilah ar-Radd ‘Ala an-Nuniyyah, h. 180).

Asy-Syaikh ‘Ali Mulla al-Qari di dalam Syarah al-Fiqh al-Akbar menuliskan selaku berikut:

“Ada sebuah riwayat berasal dari Abu Muthi’ al-Balkhi bahwa ia pernah menanyakan ke Abu Hanifah mengenai hal orang yang berkata “Saya nggak tahu Allah apakah Dia berada di langit atau berada di bumi!?”. Abu Hanifah menjawab: “Orang tersebut sudah jadi kafir, sebab Allah berfirman “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa”, dan arsy Allah berada di atas langit ke tujuh”. Lalu Abu Muthi’ berkata: “Bagaimana kalau seseorang berkata “Allah di atas arsy, tapi saya nggak tahu arsy itu berada di langit atau di bumi?!”. Abu Hanifah berkata: “Orang tersebut sudah jadi kafir, sebab sama saja ia mengingkari Allah berada di langit. Dan barangsiapa mengingkari Allah berada di langit maka orang itu sudah jadi kafir. Sebab Allah berada di tempat yang paling atas. Dan sesungguhnya Allah diminta dalam doa dari arah atas bukan dari arah bawah”.

Kita jawab riwayat Abu Muthi’ ini dengan riwayat yang sudah disebutkan oleh al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam kitab Hall ar-Rumuz, bahwa al-Imam Abu Hanifah berkata: “Barangsiapa berkata “Saya nggak tahu apakah Allah di langit atau di bumi?!”, maka orang ini sudah jadi kafir. Sebab perkataan semacam ini memberikan pemahaman bahwa Allah mempunyai tempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah mempunyai tempat maka orang tersebut seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam ialah ulama besar terkemuka dan amat dipercaya. Riwayat yang beliau kutip dari al-Imam Abu Hanifah dalam hal ini wajib kita pegang teguh. Bukan dengan memegang tegung riwayat yang dilansir oleh Ibn ‘Abi al-Izz; (yang sudah membikin syarah Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah versi akidah tasybih). Di samping ini seluruh, Abu Muthi’ al-Balkhi sendiri ialah seorang yang beberapa melaksanakan pemalsuan, seperti yang sudah dinyatakan oleh beberapa ulama hadits” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 197-198).

Asy-Syaikh Musthafa Abu Saif al-Hamami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka, dalam kitab karyanya berjudul Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad menuliskan beberapa pelajaran penting terkait riwayat Abu Muthi’ al-Balkhi di atas, selaku berikut:

Pertama: Bahwa pernyataan yang dinisbatkan ke al-Imam Abu Hanifah tersebut sama sekali nggak ada penyebutannya dalam al-Fiqh al-Akbar. Pernyataan semacam itu dilansir oleh orang yang nggak bertanggungjawab, dan dengan sengaja ia berdusta menjelaskan bahwa itu pernyataan al-Imam Abu Hanifah dalam al-Fiqh al-Akbar, tujuannya nggak lain ialah untuk mempropagandakan kesesatan orang itu sendiri.

Kedua: Kutipan riwayat semacam ini terang berasal dari seorang pemalsu (wadla’). Riwayat orang semacam ini, dalam masalah-masalah furu’iyyah (fiqih) saja sama sekali nggak boleh dijadikan sandaran, terlebih lagi dalam masalah-masalah ushuliyyah (akidah). Mengambil periwayatan orang pemalsu semacam ini ialah merupakan pengkhiatan kepada ajaran-ajaran agama. Dan ini nggak dilaksanakan kecuali oleh orang yang hendak menyebarkan kesesatan atau bid’ah yang ia yakini.

Ketiga: Periwayatan pemalsu ini sudah terbantahkan dengan periwayatan yang benar dari seorang al-Imam agung dipercaya (tsiqah), yaitu al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam. Periwayatan al-Imam Ibn Abd as-Salam mengenai hal perkataan al-Imam Abu Hanifah jauh lebih dipercaya dan lebih benar dibandingkan periwayatan pemalsu tersebut. Konsisten ke periwayatan seorang pendusta (kadzdzab) dengan meninggalkan periwayatan seorang yang tsiqah ialah sebuah pengkhianatan, yang cuma dilaksanakan seorang ahli bid’ah saja. Seorang yang melaksanakan pemalsuan semacam ini, cukup untuk kita pengakuan selaku orang yang nggak mempunyai amanah. Kalau orang awam saja melaksanakan pemalsuan semacam ini dapat menjadikannya seorang yang nggak dapat dihormati lagi, terlebih kalau pemalsuan ini dilaksanakan oleh seorang yang alim, maka terang orang alim ini nggak dapat dipertanggungjawabkan lagi dengan ilmu-ilmunya. Dan “orang alim” semacam itu nggak pantas untuk kita menyebut selaku orang alim, terlebih kita golongkannya dari barisan Imam-Imam terkemuka, atau para ahli ijtihad. Dan lebih parah lagi kalau pengkhianatan pemalsu ini dalam 3 perkara ini sekaligus. Padahal dengan cuma satu pengkhianatan saja telah dapat menurunkannya dari derajat tsiqah. Sebab kalau satu riwayat telah ia dikhianati, maka potensi kepada riwayat-riwayat yang lainpun ia akan melaksanakan hal sama (Lebih lengkap lihat Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad, h. 99-100).

Lalu dalam bait sya’ir di atas, Ibn al-Qayyim nggak cuma membikin kedustaan ke al-Imam Abu Hanifah, akan tetapi ia juga melaksanakan kedustaan yang sama kepada al-Imam Ya’qub. Yang dimaksud al-Imam Ya’qub dalam bait sya’ir ini ialah sahabat al-Imam Abu Hanifah; yaitu Abu Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Dalam menyikapi perbuatan Ibn al-Qayyim ini, asy-Syaikh Musthafa Abu Saif al-Humami berkata: “Tak diragukan lagi apa yang ia nyatakan ini ialah sebuah kedustaan untuk maksud mempropagandakan keyakinan bid’ahnya” (Lihat Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad, h. 99).

anggapan yang sama kepada Ibn al-Qayyim semacam ini juga sudah diungkapkan oleh al-Muhaddits al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitab bantahannya kepada Ibn al-Qayyim sendiri, berjudul Takmilah ar-Radd ‘Ala Nuniyyah Ibn al-Qayyim. Karya Al-Imam al-Kautsari ini ialah selaku tambahan atas kitab karya Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil, kitab yang juga berisikan serbuan dan bantahan kepada bid’ah-bid’ah Ibn al-Qayyim. Yang dimaksud dengan “Ibn Zafil” oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam judul kitabnya ini ialah Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah; murid dari Ibn Taimiyah (Lihat Takmilah ar-Radd ‘Ala an-Nuniyyah, h. 108).

Dengan sedemikian riwayat yang sering dipropagandakan oleh Ibn al-Qayyim, yang juga sering dipropagandakan oleh kaum Wahhabiyyah bahwa al-Imam Abu Hanifah berkeyakinan “Allah berada di langit” ialah kedustaan belaka. Riwayat ini sama sekali nggak benar. Dalam rangkaian sanad riwayat ini terdapat nama-nama perawi yang bermasalah, di antaranya; Abu Muhammad ibn Hayyan, Nu’aim ibn Hammad, dan Nuh ibn Abi Maryam Abu ‘Ishmah.

Orang pertama, yaitu Abu Muhammad ibn Hayyan, dinilai dla’if oleh ulama hadits terkemuka yang hidup dalam satu wilayah dengan Abu Muhammad ibn Hayyan sendiri. Ulama hadits tersebut ialah al-Imam al-Hafizh al-‘Assal. Lalu orang kedua, yaitu Nu’aim ibn Hammad ialah seorang mujassim (Lihat Tahdzib at-Tahdzib, j. 10, h. 409).

Sedemikian pula Nuh ibn Abi Maryam yang merupakan ayah tiri dari Nu’aim ibn Hammad, juga seorang mujassim (Lihat Tahdzib at-Tahdzib, j. 10, h. 433).

Dan Nuh ibn Abi Maryam ini ialah anak tiri dari Muqatil ibn Sulaiman; pemuka kaum mujassimah. Dengan sedemikian, Nu’aim ibn Hammad sudah dirusak oleh ayah tirinya sendiri, yaitu Nuh ibn Abi Maryam. Sedemikian pula Nuh ibn Abi Maryam sudah dirusak oleh ayah tirinya sendiri, yaitu Muqatil ibn Sulaiman. Orang-orang yang kita sebutkan ini, sebagaimana dinilai oleh para ulama ahli kalam, mereka seluruh ialah orang-orang yang berkeyakinan tasybih dan tajsim. Dengan sedemikian bagaimana mungkin riwayat orang-orang yang berakidah tasybih dan tajsim semacam mereka dapat dijadikan sandaran dalam menetapkan permasalahan akidah?! Sesungguhnya orang yang bersandar ke mereka ialah bagian dari mereka sendiri.

Al-Imam al-Hafizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybih, dalam penilaiannya kepada Nu’aim ibn Hammad, mengutip perkataan Ibn ‘Adi, menjelaskan: “Dia (Nu’aim ibn Hammad) ialah seorang pemalsu hadits” (Lihat Daf’u Syubah at-Tasybih, h. 32).

Lalu al-Imam Ahmad ibn Hanbal pernah ditanya mengenai hal riwayat Nu’im ibn Hammad, tiba-tiba beliau memalingkan wajahnya sambil berkata: “Hadits munkar dan majhul” (Daf’u Syubah at-Tasybih, h. 32). anggapan Al-Imam Ahmad ini artinya bahwa riwayat Nu’aim ibn Hammad ada sesuatu yang sama sekali nggak benar.

(Problem): Kalau kaum Musyabbihah, seperti kaum Wahhabiyyah, menjelaskan bahwa adz-Dzahabi sudah mengutip riwayat dari kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat karya al-Hafizh al-Bayhaqi bahwa pernyataan “Allah berada di langit” ialah berasal dari al-Imam Abu Hanifah.

(Jawab): Kita katakan: Riwayat al-Hafizh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat dengan memepergunakan kata “In shahhat al-hikayah…” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 429). Hal ini menunjukan bahwa riwayat tersebut bermasalah. Artinya, riwayat yang dilansir al-Hafizh al-Bayhaqi ini bukan untuk dijadikan dalil. Yang jadi problem besar ialah bahwa tulisan al-Bayhaqi “In shahhat ar-riwayah…” ini diacuhkan oleh adz-Dzahabi untuk maksud memberikan pemahaman ke para pembaca bahwa pernyataan “Allah berada di langit” ialah statemen al-Imam Abu Hanifah. Ini menunjukan bahwa adz-Dzahabi nggak mempunyai amanat ilmiyah. Hal ini juga menunjukan bahwa adz-Dzahabi sudah beberapa dipengaruhi oleh faham-faham gurunya sendiri, yaitu Ibn Taimiyah. al-Imam al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari dalam Takmilah ar-Radd ‘Ala Nuniyyah Ibn al-Qayyim menuliskan bahwa pernyataan al-Bayhaqi dalam al-Asma’ Wa ash-Shifat: “In shahhat ar-riwayah…” menunjukan bahwa dalam riwayat tersebut terdapat beberapa cacat (al-khalal).

Akan tetapi hal terpenting dari pada itu ialah bahwa al-Imam al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat tersebut, di dalam beberapa tempat beberapa menyebutkan mengenai hal kesucian Allah dari pada tempat dan arah, salah satunya pernyataan beliau berikut ini:

“Sebagian sahabat kami (kaum Ahlussunnah dari madzhab Asy’ariyyah Syafi’iyyah) mengambil dalil dalam menafikan tempat dari Allah dengan sebuah hadits sabda Rasulullah: “Engkau ya Allah az-Zahir (Yang segala sesuatu menunjukan akan keberadaan-Nya) nggak ada suatu apapun di atas-Mu, dan Engkau ya Allah al-Bathin (Yang nggak dapat diraih oleh akal pikiran) nggak ada suatu apapun di bawah-Mu”. Dari hadits ini dipahami kalau nggak ada suatu apapun di atas Allah, dan nggak ada suatu apapun di bawah-Nya maka artinya Dia ada tanpa tempat(al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 400).

Pada halaman lain dalam kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat, Al-Imam al-Bayhaqi menuliskan: “Apa yang diriwayatkan secara menyendiri (tafarrud) oleh al-Kalbi dan lainnya memberikan pemahaman bahwa Allah mempunyai bentuk, padahal sesuatu yang mempunyai bentuk maka pasti dia itu baharu, memerlukan ke yang menjadikannya dalam bentuk tersebut. Sementara Allah itu Qadim dan Azali (tanpa permulaan)” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 415).

Pada bagian lain dari kitab di atas, al-Imam al-Bayhaqi menuliskan: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 448-449).

Juga menjelaskan: “Sesungguhnya gerak, diam, dan bersemayam atau bertempat itu ialah termasuk sifat-sifat benda. Sementara Allah nggak ada sekutu bagi-Nya, Dia nggak memerlukan ke suatu apapun, dan nggak ada suatu apapun yang menyerupai-Nya” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 448-449).

Dengan penjelasan ini jadi amat jelas bagi kita bahwa keyakinan Allah berada di langit yang dituduhkan selaku keyakinan Al-Imam Abu Hanifah ialah kedustaan belaka yang sama sekali nggak benar dan nggak dapat dipertanggungjawabkan. Tudingan semacam ini nggak cuma kedustaan ke Al-Imam Abu Hanifah semata, tapi juga kedusataan kepada orang-orang Islam secara keseluruhan dan kedustaan kepada ajaran-ajaran Islam itu sendiri.
Al Hamdu Lillah Rabb al-Alamin.

You might like

About the Author: admin

18 Comments

  1. Berhubungan dengan pensifatan Allah dalam al-Quran, seperti istiwa’ nya Allah yang katanya tak boleh ditakwil, maka silakan para wahhabiyun kompromikan ayat dalam surat Thaha ayat 5 dengan Surat al-Baqarah ayat 186, Agar tidak terjadi kontradiksi pemahaman ayat.

    Saya tunggu jawabannya…

  2. jika wahabi berpaham Allah ada di langit..tanyakn padanya DIMANA ALLAH SBELUM MENCIPTAKAN LANGIT..DIMANA ALLAH SEBLUM MENCIPTAAN SEMUANYA….
    Allah ada sebelum kata-kata “KAPAN,DIMANA,BAGAIMANA,” itu ada..karena semua kata adalah ciptaan Allah…

  3. @mas syahid
    amien..semoga saja negeri ini bisa lepas dari fitnah-fitnah yg kejam terhadap penganut faham Ahlu Sunnah Wal-jama`ah..khususnya di tempat ana..mudah2an di tempat ana kaum wahabinya tidak bisa berkembang krn masih byk lagi ulama2 penganut faham Ahlu Sunnah Wal-jama`ah yg bertebaran di tempat ana sepeninggal Datu Kalampayan (Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari) dan Guru Sekumpul (Alimul Allamah Tuan Guru KH.Muhammad Zaini Ghani) krn zuriat2 beliau msh bertebaran dimana2 utk menyebarkan ajaran Datu beliau.. amien….
    ana cuma bisa berdoa saja semoga dakwah penganut faham Ahlu Sunnah Wal-jama`ah selalu diberi kekuatan dan petunjuk utk memberangus paham2 yg sesat…amien

  4. @mas syahid..
    syukron mas..ana dr kal-sel..khususnya di martapura yg org bilang kota serambi mekahnya kal-sel
    klo boleh jujur ane jg gedek mas dg namanya org2 wahabi itu…mereka terlalu memaksakan dalil buat hujjah pembenaran mereka..pdahal…apa yg diyakini mereka itu kan blom tentu bnr…eh..mlh ngotot merasa paling bnr..
    terus berjuang mas demi aswaja…mudah-mudahan apa yg kita perjuangkan ini akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT, amien

    1. @. mas vhocket
      saya rasa Blog Ummati ini akan tetap indah , jika terus dihiasi oleh komentar mas vhocket dan kawan-kawan Aswaja Lainnya.
      memang dari Awal bumi nusantara ini mayoritas adalah penganut faham Ahlu Sunnah Wal-jama`ah , apalagi mungkin di kal-sel khususnya Martapura , semoga Aswaja terus berkembang, amin.

  5. assalamu ‘alaikum
    maaf neh klo ane blh komentar…bahwasanya kalau kita selalu membaca dan memperhatikan Al-Qur’an itu mungkin kita dapat berpikir logis bahwa memang benar Allah itu ada tanpa tempat dan arah hal ini bisa kita lihat..ketika suatu masa nanti kita mengalami yg namanya hari kiamat,,,maka bumi dan langit akan hancur…hal ini bisa kita lihat dalam Al-Qur’an sdh jelas diterangkan seperti dlm Surah Al-Insyiqaq di ayat 1 yg artinya “apabila langit sudah pecah dan hancur” dan juga terdapat di surah Al-Infithaar ayat 1 yg artinya: apabila langit sdh pecah-pecah” ,jg terdapat di surah At-Takwir ayat 11 yg artinya apabila langit sdh dimusnahkan” nah dari sini aja kita sdh dapat memahami bagaimana mungkin Allah bertempat di langit sedangkan langit nanti akan hancur..jd disini kita bisa berpikir logis..klo langit saja hancur berarti Allah tidak bertempat di Langit…krna Langit merupakan makhluk ciptaanya..jd mustahil bagi Allah bertempat di Langit…krn sebelum menciptakan langit Allah pun sdh ada..dan ketika langit hancur pun Allah tetap ada tanpa tempat dan Arah..jd klo kita memahami ayat-ayat yg nyata-nyata tidak bisa ditafsirkan dg pemahaman sendiri/secara literlek..krn bisa menyebabkan kita menyerupakan Allah..
    mungkin ini saja yg bisa ana komentari,,,klo ada yg salah mohon diluruskan..salam kenal buat mas syahid dkk aswaja..terus berjuang…ana cm bisa mendoakan perjuangan kalian semoga mendapatkan keRidhoan-Nya..

    1. salam kenal juga mas vhocket , terimakasih atas pencerahannya .

      komentar mas vhocket ini, senada dengan pertanyaan yang hingga hari kiyamat tidak akan bisa dijawab oleh Orang yang memahami ayat “Istiwa” secara hakekat Dzahirnya.

      yaitu : sebelum langit diciptakan dimanakah Allah… ?

  6. tambahan buat dufal.

    dufal berkata:perhatikan perkataan para ulama baik salaf maupun kholaf..Allah ta’ala berfirman:??? ????? ??????? “??????
    (QS;al-Baqarah.255)
    Sa’id bin jubair berkata.”
    ketika ibnu abbas menafsiri ayat tersebut, beliau berkata,”?????? ???? ??????? ?????? ?? ???? ???? ??? ???? ??? ??
    “diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jamul kabiir (no.12404),al-hakim(II/282) dan dishahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi.lihat Syarhul ‘Aqidah ath-Thahaawiyyah(hlm.368-369),takhrij dan ta’liq syu’aib al-Arnauth dan’Abdullah bin’Abdil Muhsin at-Turki.
    Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:???? ???? ?? ???? ??? ???? ??? ??? ???? ? ?? ? ????
    ” (lihat manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqidah(II/358)
    Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya menukil perkataan Imam Asy-Syafi’i beliau berkata:?? ???? ??? ???? ?? ????? ???? ?? ???? ??? ?? ? ???? ? ? ?? ????? ? ??? ??? ??? ???
    ” (lihat Ijtimaa’ul juyuusy al-islaamiyyah’alaa Ghazwil Mu’aththilah wal jahmiyah(hlm.122)oleh imam Ibnul Qayyim,tahqiq Basyir Muhammad’uyum.
    Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah (wafat th.449 H)berkata: para ulama ahli hadits menetapkan TURUN-nya Rabb aza wa jalla ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun_Nya Allah itu dengan turunnya makhluk(tasybih) tanpa mengumpamakan(tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana turun_Nya(takyif).Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa-apa yang di tetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa komentar lagi),memperlakukan kabar Shahih yg memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya,serta menyerahkan ilmunya(kaifiyatnya)kepada Allah Azza Wa jalla.(aqiidatus salaf Ash-haabil adits(no38,hlm46) oleh abu’Utsman Isma’il bin’Abdurrahman ash-Shabuni,tahqiq Badr bin’Abdillah al-Badr.
    pertanyaan ane,apakah mungkin para ulama berani bersepakat mengkafirkan orang2 yg meyakini bahwa Allah ada tanpa arah tertentu???lalu kalopun ada(menurut bayi ajaib) dimanakah nt memposisikan perkataan para ulama yg ane bawakan ini??? tolong di jawab ya Bayi Ajaib..

    saya Jawab : Buktinya Ulama sudah menetapkan Ijma` Bahwa : kata “ KUFUR ” BAGI ORANG2 YANG BERKEYAKINAN ALLAH TA’ALA ADA PADA ARAH TERTENTU” berasal dari ijma ulama,dan juga beberapa imam madzahib serta yg lainnya.

    Adapun pernyataan Ulama yang Dufal Bawakan , sangatlah Jelas Bahwa : Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah (wafat th.449 H).berkata: para ulama ahli hadits menetapkan TURUN-nya Rabb aza wa jalla ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun_Nya Allah itu dengan turunnya makhluk(tasybih) tanpa mengumpamakan(tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana turun_Nya(takyif).Tetapi menetapkannya sesuai dengan apa-apa yang di tetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan mengakhiri perkataan padanya (tanpa komentar lagi),memperlakukan kabar Shahih yg memuat hal itu sesuai dengan zhahirnya,serta menyerahkan ilmunya(kaifiyatnya)kepada Allah Azza Wa jalla.(aqiidatus salaf Ash-haabil adits(no38,hlm46) oleh abu’Utsman Isma’il bin’Abdurrahman ash-Shabuni,tahqiq Badr bin’Abdillah al-Badr.

    Tidak ada Masalah dengan Ucapan para Ulama ini , Justru saya heran dengan Dufal dan para wahabis , disatu sisi kalian membawakan pendapat seperti ini , bahwa : ” tanpa menyerupakan turun_Nya Allah itu dengan turunnya makhluk(tasybih) tanpa mengumpamakan(tamtsil) dan tanpa menanyakan bagaimana , Tapi Justru kalian melanggar sendiri aturan / kaidah Ulama yang kalian bawakan itu

    dari dufal:perlu dicek kembali kebenaran dari kitab yg nte nukil.baik penerbitnya,penulis,men-syarah dan juga pemahaman nt!karna bisa jadi terdapat kekeliruan dalam saaat percetakan,pernafsiran dan juga pemahaman nt dari apa yg tersirat pada kitab tersebut. mengingat bukti-bukti yg ane bawakan menegaskan bahwa Aqidah Ahlu Sunnah Wal jama’ah tidaklah demikian sebagaimana yg nt tuduhkan kepada mereka!!!wallahu a’alam.

    Saya Jawab : silahkan Dufal cek kebenaran Kitab-kitab yang saya Nukil , semoga dufal menemukan kebenaran dan tersadarkan.

    dari dufal:diatas dasar apakah nte beranggapan bahwa allah subhana wataala tidak khusus di suatu tempat dan tidak turun.sebagai mana yg ane nukil pada tulisan nte ” ?? ?????? ?? ????,?? ????? “???
    pernyataan nt ini secara tegas menyelisihi hadits yg telah shahih dan juga perkataan para ulama..Berhati-hatilah wahai si bayi Ajaib…

    saya Jawab : Karena Allah tidak ada yang menyerupainya , jika dikatakan Allah Khusus disuatu tempat seperti arsy atau Langit , berarti Allah sudah terikat dengan dimensi Ruang , mungkinkah sang maha pencipta terikat dengan dimensi Ruang seperti yang dufal Nyatakan …?

    dari dufal: apa yang ada di pikiran nt setelah ane tunjukan bukti2 yg menjelaskan tentang kebenaran Aqidah ahlu sunnah wal jama’ah???
    apa yg mendasari nt sehingga membuat nt menutup mata terhadap ayat2 Alqur’an dan sunnah,serta perkataan para ulama,baik salaf maupun yg muta’akhirin yg menegaskan Bahwa Allah Subhana wata’ala ada pada arah tertentu??

    Saya Jawab : bukti bukti yang dufal bawakan adalah bukti jika dufal dan all wahabisme adalah kaum Mujassimah Musyabihah

    dari dufal: sampailah ane pada pertanyaan pamungkas,”ahmad, bisakah nt tunjukan hujjah,baik Nash maupun Hadits Nabi yang shahih yang MEMBANTAH SECARA TEGAS bahwa Allah Subhana Wata’ala ADA PADA ARAH TERTENTU,YAITU ARAH ATAS???
    Saya Jawab : firman Allah subhanahu wa ta`ala sudah sangat jelas : Laiista kamistlihi Syai ( tidak ada suatu punyang menyerupainya) , fala Tadribu Lillahi amstal (janganlah kalian membuat permistalan bagi Allah), walam yakun lahu kufan ahad(tidak ada baginya badingan yakni serupa).

    sesuai dengan Hadist shahih dari Imran bin hushain rodiallahu anhuma berkata : bersabda Rosulallah SAW bahwa Allah pada azal ( keberadaan tanpa permulaan ) dan belum ada sesuatupun selainnya HR. bukhori : 2953

    dan Hadist yang diriwayatkan oleh Abu hurairah bahwa Nabi SAW bersabda : ” engkaulah Adhzahir ( yang segala sesuatu menunjukkan akan keberadaannya) , tidak ada sesuatu diatasmu , dan engkaulah Al-bathin ( yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu dibawah-mu HR. muslim : 4888.

    Sesuai dengan pernyataan Imam ali bin abi tholib ra, : sesungguhnya Allah menciptakan Arys untuk menampakkan kekuasaannya , bukan untuk menjadikannya TEMPAT bagi Dzatnya (al-farq bainal firoq hal. 256)

    Tidak sadarkah dufal jika pernyataan : Allah Subhana Wata’ala ADA , PADA ARAH TERTENTU,YAITU ARAH ATAS??? Merupakan bentuk Penyerupaan Allah dengan makhluknya….? Inilah bukti Jika Dufal melanggar Aturan yang ditetapkan para Ulama bahwa Bila Takyif dan Tasybih juga Tamtsil.

    Lagi pula pertanyaan dufal : ” MEMBANTAH SECARA TEGAS ” menunjukkan jika sebenarnya dufal pun merasa bersalah , karena telah menetapkan Arah bagi Allah SWT.

  7. @. LDI , DUFAL DAN KAWAN-KAWANNYA

    kita pindah disini aja yuk ? biar leluasa dan klop dengan judul artikel nya.

    LDI disamping apa yang anda sampaikan tentang perkataan para Imam dan Ulama , ada banyak Imam dan ulama lain yang menyatakan sebaliknya seperti :
    Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:
    “Allah ta’ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segalasesuatu”.

    Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan : “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi- Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan”Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.

    sebagaimana dikatakan oleh Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):
    barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arsy kerana arsy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sebagaimana kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:
    ” Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk memperlihatkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan tempat bagi Nya. ”

    Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.

    Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair.
    Demikian juga Adzahabi mengkafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” Al-Kabair.lil-Hafidz Adzahabi.

    Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al-Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda.

    Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainya mengatakan:
    “Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).

    Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.

    As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
    “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

    Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).
    Bahwa Allah ada tanpa tempat , arah dan bagaimana.

    keyakinan ini sesuai dengan Hadist shahih dari Imran bin hushain rodiallahu anhuma berkata : bersabda Rosulallah SAW bahwa Allah pada azal ( keberadaan tanpa permulaan ) dan belum ada sesuatupun selainnya HR. bukhori : 2953

    Sesuai dengan Hadist yang diriwayatkan oleh Abu hurairah bahwa Nabi SAW bersabda : ” engkaulah Adhzahir ( yang segala sesuatu menunjukkan akan keberadaannya) , tidak ada sesuatu diatasmu , dan engkaulah Al-bathin ( yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu dibawah-mu HR. muslim : 4888.

    Sesuai dengan pernyataan Imam ali bin abi tholib ra, : sesungguhnya Allah menciptakan Arys untuk menampakkan kekuasaannya , bukan untuk menjadikannya TEMPAT bagi Dzatnya (al-farq bainal firoq hal. 256)
    Perhatikanlah Hadist dan qoul para imam , wabil khusus imam at-thohawi diatas yang ” MENENTANG ” pendapat Ibnu taymiyah Bahwa : Keyakinan Allah Di Atas Seluruh Makhluk-Nya adalah Ijma’ Ahlus Sunnah.

    Hadist astar dan qoul para imam, wabil khusus imam at-thohawi diatas juga menegaskan Bahwa Ayat Musytabihat tidak diartikan secara hakekat dzahirnya.

    LDI mengatakan : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, : “Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya. Tidak ada satu orang pun dari Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah tidak berada di atas ‘Arsy-Nya. Tidak mungkin seorangpun dapat menukil dari mereka (bahwa Allah tidak berada di atas ‘Arsy, pen) baik dalil nash (dalil tegas yang cuma mengandung satu makna saja) atau dalil zhohir (dalil yang mengandung makna lebih kuat, namun masih mengandung makna lainnya yang lemah).” (Fathu Robbil Bariyyah, hal. 33-34)
    Al Awza’iy mengatakan, “Kami dan para tabi’in mengatakan, “Allah Ta’ala menyebut keberadaan-Nya di atas ‘Arsy-Nya. Kami pun mengimani hal sebagaimana yang terdapat pada As Sunnah mengenai sifat-sifat-Nya”.”

    Masih Al Awza’iy, beliau juga mengatakan, “Setelah nampak pendapat Jahm (pemimpin kelompok Jahmiyah) yang menafikan (meniadakan) sifat Allah dan sifat ‘uluw (ketinggian), namun manusia perlu mengetahui bahwa jalan ulama salaf tidaklah demikian. Para salaf telah menyelisihi paham Jahm (paham Jahmiyah).” (Fathu Robbil Bariyyah, hal. 28)

    Saya Jawab : Ibnu taymiyah adalah tokoh controversial yang banyak di Tahdzir (diperingatkan) Ulama , bahkan tidak sedikit Ulama yang mengatakan bahwa Ibnu Taymiyah adalah Musyabbih sesat , begitu juga dengan sejarah Taubatnya Ibnu taymiyah merupakan Bukti jika Ibnu Taymiyah tidak bisa dijadikan Rujukan, begitu juga kontradiksi konsep yang Ibnu taymiyah rumuskan menyebabkan pengkafiran Ibnu taymiyah sendiri , disamping banyaknya Fatwa Ibnu Taymiyah yang menyelisihi Ijma` Ahlu sunnah Wal-jama`ah sehingga , Klaim Ijma yang dinyatakan Ibnu Taymiyah adalah Bathil , atau minimal Ijma` yang dimaksud oleh Ibnu Taymiyah adalah Ijma`nya kaum Mujassimah Musyabihah bukan Ijma`nya Ahlu Sunnah Wal-Jama`ah.
    Inilah bahayanya orang yang menyelisihi Ahlu Sunnah wal-jama`ah , karena dia ( ibnu taymiyah ) telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan) Ahlus Sunnah.
    Yang menyelisihi ijma’ ini akan mendapat ancaman yang keras sebagaimana firman Allah Ta’ala,
    ?????? ????????? ?????????? ???? ?????? ??? ????????? ???? ???????? ??????????? ?????? ??????? ?????????????? ????????? ??? ???????? ?????????? ????????? ????????? ???????? “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’ [4] : 115).

    Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) mereka. Sementara Ibnu Taymiyah sebagai Inspirator Wahabi , menyelisihi Ijma` Ahlu Sunnah dalam banyak masalah sebagaimana disampaikan oleh Al-hafidz al-i`roqi.

    Jika LDI dan dufal masih ragu akan kebenaran Aqidah Ahlu Sunnah Wal-jama`ah bahwa
    Allah ada tanpa tempat , arah dan bagaimana. , dan jika LDI dan dufal tetap berkeyakinan Bahwa : Allah diatas Langit , diatas seluruh Makhluknya , dan tetap memahami ayat Asma Wa ashifat dengan makna hakekat dzahirnya maka ,
    saya persilahkan agar LDI dan dufal meresapi kembali Hadist-hadist Rosul dan Qoul para Imam diatas. Sebab Tasybih dan Tajsim itu t e r l a r a n g bahkan Ijma` Ulama baik salaf maupun Kholaf atas ” kufurnya ” orang yang berI`tiqod (berkeyakinan) bahwa Allah ada pada arah tertentu.

    Wallahu A`lam Bishowab

    Khusus Untuk dufal , Insya Allah nanti ada Tambahan yang special.

  8. setuju sama mas mamo dan mas dianth.

    Coba kalo kita tengok situs atau majalah dan buku mereka. Membacanya aja bisa bikin hati tambah panas dan tidak menyejukkan. ISLAM jadi terasa kering.

  9. Ajaran wahabi dibangun dari ulama-ulama yang bermasalah alias dikritik dan ditentang ajarannya, mulai dari ibnu taymiah, ibnu qoyim, muhammad bin abdul wahab sampai albani. Jadi wajarlah kalau ajaran wahabi bermasalah. Mereka sebenarnya juga tau kalau ajarannya bermasalah, tp kadung mengaku paling benar, akhirnya sibuk cari referensi sana sini untuk dikutip, dipotong, diartikan lain demi pembenaran ajarannya. Na’udzubillah.

  10. mas wong saya jadi bingung juga neh mahamin Wahabi , satu sisi mereka menjadikan Imam Abu Hanifah sebagai tameng aqidah Tajsim mereka , disisi lain pengikut Wahabi banyak yang mengkafirkan al-Imam Abu Hanifah.

    apakah perpecahan para Wahabis atau memang Wahabis bermuka dua dan berstandar ganda ? sehingga mereka ( wahabis) dengan mudah mengatakan bahwa Aqidah mereka adalah aqidah Imam Abu Hanifah , terus ketika mendapati pendapat Abu Hanifah Yang bertentangan dengan Faham mereka , mereka Kafirkan Imam Abu Hanifah ? atau bagaimana ?

    tolong barangkali ada yang mau menjelaskan ?.

    1. penjelasanya singkat mas Syahid ………
      1. wahabi adalah bentukan dari ulama2 yang tidak mutabar ……
      2. wahabi di susupi musuh umat Islam ……
      3. wahabi sebagian ada yang masih punya hati ( salah satu contoh ibnu irfan yang nggak mau langsung mengkafirkan dgn alasan fatwa albani )
      4. wahabi mayoritas nggak mau memperdalam ajaran islam KAFFAH (keseluruhan)
      5. wahabi di doktrin ulama seniornya sbg ajaran yang murni dan paling benar
      dan yang perlu di ketahui ….yang komen2 di blog itu cuma kroco2 wahabi yang masih cetek jadi sering berselisih paham ….orang dedengkotnya aja saling mensesatkan. Demikian pendapat …..pasti banyak kurangya dari komplit…..he….he…..dan saran saya all wahabis …..jangan marah ….kalau ngga bener yaa maaf yaa…….ana hanya mengomentari mas Syahid ,….he,,….he…

  11. Sudah jadi kebiasaan, para Ahlul Bid’ah Wahabi memang sengaja merekayasa kebohongan demi mulusnya dalam mengikuti hawa nafsunya. Merka sering meneriaki orang lain ahlul hawa, ternyata mereka sendiri yg terbukti sebagai pengekor hawa nafu (ahlul hawa). Semoga dari mereka yng masih punya akal waras bisa segera bertobat rujuk kepada kebenaran yg didakwahkan Salafuna Shalih.

KOLOM KOMENTAR ANDA :