Home / Fikih Islam / Fakta Tentang Tahlilan Dianggap Haram Salafi Wahabi

Fakta Tentang Tahlilan Dianggap Haram Salafi Wahabi

Fakta tentang Tahlilan dianggap haram Salafi Wahabi. Sejak kemunculannya di bumi Indonesia, Salafi Wahabi gemar mengumbar vonis haram tradisi Tahlilan. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa tindakannya itu terlalu berlebihan yang bisa berakibat merusak Islam. Bagaimana tidak, bukankah itu berarti Wahabi dan pengikut-pengikutnya mengharamkan yang halal atas tahlilan? Bahkan saking rusaknya pemahaman mereka terhadap Islam, mereka tak segan-segan pamer slogan batil: “Pelacur Lebih Mulia daripada Orang-orang Bertahlil (tahlilan). “

Bahkan demi memperkuat vonis Wahabi atas haramnya tahlilan, mereka dengan gegabah membayar seorang Ustadz dari Pulau Bali untuk membuat klaim bahwa tahlilan adalah tradisi Hindu. Hanya orang-orang bodoh yang bisa dikibuli oleh trik-trik dan rekayasa kebohongan Wahabi. Cara membantah klaim tersebut cukup kita ajukan pertanyaan kepada para pemeluk agama Hindu: “Sejak Kapan di agama Hindu Ada Tradisi Tahlilan?. Pastilah mereka para pemeluk agama Hindu akan bengong karena tidak kenal apa itu tardisi tahlilan.

Untuk lebih mengenal tradisi tahlilan yang diharamkan Wahabi, mari kita simak paparan artikel ilmiyyah tentang fakta-fakta tahlilan berikut ini….

Tradisi Tahlilan Selama Tujuh Hari Ternyata Tradisi Para Sahabat Nabi Saw dan Para Tabi’in

Siapa bilang budaya berssedekah dengan menghidangkan makanan selama mitung dino (tujuh hari) atau empat puluh hari pasca kematian itu budaya hindu ?

Di Indonesia ini banyak adat istiadat orang kuno yang dilestarikan masyarakat. Semisal Megangan, pelepasan anak ayam, siraman penganten, pitingan jodo, duduk-duduk di rumah duka dan lainnya. Akan tetapi bukan berarti setiap adat istiadat atau tradisi orang kuno itu tidak boleh atau haram dilakukan oleh seorang muslim. Dalam tulisan sebelumnya al-faqir telah menjelaskan tentang budaya atau tradisi dalam kacamata Syare’at di ; Warkop Mbah Lalar atau di ; http://www.facebook.com/groups/149284881788092/?id=234968483219731&ref=notif&notif_t=group_activity.

Tidak semua budaya itu lantas diharamkan. Bahkan Rasulullah Saw sendiri mengadopsi tradisi puasa ‘Asyura yang sebelumnya dilakukan oleh orang Yahudi yang memperingati hari kemenangannya Nabi Musa dengan berpuasa. Syare’at telah memberikan batasannya sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat ditanya tentang maksud kalimat “Bergaullah kepada masyarakat dengan perilaku yang baik “. Maka beliau menjawab:  “Yang dimaksud perkara yang baik dalam hadits tersebut adalah :

هو موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي

“ Beradaptasi dengan masyarakat dalam segala hal selain maksyiat “. Tradisi atau budaya yang diharamkan adalah yang menyalahi aqidah dan amaliah syare’at atau hukum Islam.

Telah banyak beredar dari kalangan salafi wahhabi yang menyatakan bahwa tradisi tahlilan sampai tujuh hari diadopsi dari adat kepercayaan agama Hindu. Benarkah anggapan dan asumsi mereka ini?
Sungguh anggapan mereka salah besar dan vonis yang tidak berdasar sama sekali. Justru ternyata tradisi tahlilan selama tujuh hari dengan menghidangkan makanan, merupakan tradisi para sahabat Nabi Muhammad Saw dan para tabi’in.

Dalil Tahlilan : Perhatikan dalil-dalilnya berikut ini….

Imam Suyuthi Rahimahullah dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :

قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

“ Thowus berkata:  “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari. Maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.

Sementara dalam riwayat lain :

عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا

“ Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari. Sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari “.

Dalam menjelaskan dua atsar tersebut imam Suyuthi menyatakan bahwa dari sisi riwayat, para perawi atsar Thowus termasuk kategori perawi hadits-hadits shohih.

Thowus yang wafat tahun 110 H sendiri dikenal sebagai salah seorang generasi pertama ulama negeri Yaman dan pemuka para tabi’in yang sempat menjumpai lima puluh orang sahabat Nabi Saw. Sedangkan Ubaid bin Umair yang wafat tahun 78 H yang dimaksud adalah al-Laitsi. Yaitu seorang ahli mauidhoh hasanah pertama di kota Makkah dalam masa pemerintahan Umar bin Khoththob Ra.

Menurut imam Muslim beliau dilahirkan di zaman Nabi Saw. Bahkan menurut versi lain disebutkan bahwa beliau sempat melihat Nabi Saw. Maka berdasarkan pendapat ini beliau termasuk salah seorang sahabat Nabi Saw.

Sementara bila ditinjau dalam sisi diroyahnya, sebgaimana kaidah yang diakui ulama ushul dan ulama hadits bahwa:  “Setiap riwayat seorang sahabat Nabi Saw yang ma ruwiya mimma la al-majalla ar-ra’yi fiih (yang tidak bisa diijtihadi). Semisal alam barzakh dan akherat, maka itu hukumnya adalah Marfu’ (riwayat yang sampai pada Nabi Saw). Bukan Mauquf (riwayat yang terhenti pada sahabat dan tidak  sampai kepada Nabi Saw).

Menurut ulama ushul dan hadits, makna ucapan Thowus ;

ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari. Maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan. Sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “. Adalah para sahabat Nabi Saw telah melakukannya dan dilihat serta diakui keabsahannya oleh Nabi Saw sendiri.

(al-Hawi) li al-Fatawi, juz III hlm. 266-273, Imam As-Suyuthi).

Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empat puluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi Saw. Bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad Saw.

Oleh: Ibnu Abdillah Al-Katibiy

484 comments

  1. Krongthip Mahalakorn

    Di zaman Rasulullah sa.w. dulu kan ada peristiwa baginda Nabi s.a.w memacakkan pelepah tamar di kuburan dan mengatakan pelepah itu akan berzikir pada mayat selagi belum kering. Pelepah Tamar bisa berzikir dan zikirnya berfaedah pada mayat apatah lagi kita manusia.
    Dengan adanya tahlilan dirumah arwah selain bersedekah, semua anak2 dan saudara mara akan turut bertahlil dan berdoa untuknya. Andainya tiada maka mereka mungkin bersedih dengan meratapi atau juga menonton televisyen sahaja yang tidak memberi faedah pada arwah malah memberi azab pada mayat.

    He…he…he…. baruku tahu bahawa orang hindu Bali juga tahlilan. …aduhai Wahhabi! Di tempatku orang Buddha membuat patung (Buddha) gergasi dan
    meletakan Mushaf Al Quran dalam kepalanya patung kerana takut disambar petir. Mereka mengupah Islam munafik melakukannya dan yang terjadi tidak lama selepas itu si munafik menemui ajal.

  2. MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
    KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI
    1345 H/21 OKTOBER 1926
    TENTANG
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA
    PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :

    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :

    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: “kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita.

    Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah)

    Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat. Tirkah tidak boleh diambil/dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

    REFERENSI

    Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.
    Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media

    • Berikut adalah referensi bagi pengamal amalan terpuji dan mulia TAHLILAN:

      Imam Syafi’i berkata dalam kitabnya Al-Umm, “Aku tidak suka ma’tam yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat-pen) meskipun di situ tiada tangisan karena hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan.”( Al-Umm oleh Imam Syafi’i : juz 1; hal 248) “

      Maka, perkataan tersebut adalah dusta atas nama al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullaah. Mari kita lihat teksnya dari kitab al-Umm:
      أكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر
      Artinya:
      “Aku menghukumi makruh Ma’tam, yakni sebuah kelompok, yang walaupun tidak ada tangisan bagi mereka, sebab sesungguhnya hal itu akan memperbaharui kesedihan dan membebani biaya beserta apa yang pernah terjadi”.

      Beliau berkata demikian dalam konteks ilmu fiqh. Kalimah أكره tidak diartikan benci/tidak suka apalagi haram. Dan kalimah أكره tersebut artinya adalah “Aku menghukumi makruh”.

      Kita bahas ma’tam terlebih dahulu, makna ma’tam secara lughawi diambil dari kata atama – ya’timu, artinya adalah “dikumpulkannya dua buah perkara”. Sedang yang dimaksud ma’tam dalam konteks pendapat imam asy-Syafi’i ini adalah setiap berkumpulnya dari laki-laki atau perempuan kepada keluarga yang ditinggal wafat sehingga ditakutkan terjadi ratapan atas yang wafat.
      Selanjutnya Imam asy-Syafi’i menghukumi makruh atas ‘illat yang beliau sebutkan sendiri yaitu:
      يجدد الحزن، ويكلف المؤنة
      Artinya: “Memperbaharui kesedihan, dan membebani biaya “.
      Sehingga apabila tidak ada ‘illat ini maka hukum makruh itu juga tidak ada, sebab di dalam salah satu kaidah ushul fiqh disebutkan: “al-’Illatu tadillu ‘alaa al-Hukmi” maknanya ‘illat itu menunjukkan atas hukum.

      Itu artinya jika berkumpulnya manusia kepada keluarga yang ditinggal wafat tidak menyebabkan “يجدد الحزن، ويكلف المؤنة “, maka hal yang demikian (berkumpulnya manusia) tersebut tidak dihukumi makruh.
      Jadi tidak benar kalau al-Imaam asy-Syafi’i rahimahullaah membenci bahkan mengharamkan ma’tam.

      Wallaahu a’lam.

    • Hai akhi Abdullah!!!

      Kalau keputusan NU 1926 itu benar ada, lalu kenapa artikel yg antum COPAS di atas hanya disebarkan oleh orang2 Wahabi seperti kalian?

      Jadi ana sanksi berat dg isu tersebut, sebab tidak populer di kalangan pengamal tahlilan dan hanya populer di kalangan orang2 yg mengharamkan/membid’ahkan Tahlilan saja. Bagaimana kalau itu ternyata fitnah buatan Wahabi mengingat bahwa Wahabi adalah kaum yg gemar menyebar fitnah asal keinginan hawa nafsu terpenuhi ???

      • Dibeli saja bukunya Om Yanto kalau nggak percaya.

        hxxp://khalista-publisher.blogspot.com/2011/04/ahkamul-fuqaha-edisi-baru.html

        • Pak Abdullah, anda sudah baca sendiri isi buku yg diiklankan di link yg tsb? Baca dulu, setelah tahu isinya dg pasti barulah anda pantas menyebarkannya!

          • Itu kan bukunya NU, ya Anda dong yang beli. Saya cuma dikasih tahu di bukunya ada keputusan muktamar NU yang seperti itu.

  3. Panca Yajna adalah lima upacara selamatan di dalam agama Hindu, masing-masing:
    Dewa yajna yakni selamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Rsi yajnya adalah selamatan kepada orang-orang yang dianggap suci. Pitra yajna adalah selamatan kepada roh leluhur. Manusa yajna adalah selamatan kepada manusia. Butha yajna adalah selamatan kepada mahluk bawahan.
    Melakukan selamatan ini adalah wajib hukumnya di dalam Agama Hindu. Contoh selamatan pada hari kematian, acaranya berlangsungpada hari pertama, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan nyewu (hari ke-1000). “Kalau tidak punya uang untuk melaksanakan selamatan, wajib utang kepada tetangga.
    Sebab bila keluarga yang meninggal tidak diselamatin, rohnya akan gentayangan, menjelma menjadi hewan, binatang, bersemayam di keris dan jimat, dll. Makanya pohon-pohon diberi sarung, dan pada setiap hari Sukra Umanis jimat dan keris diberi minum kopi. “Sedangkan yang melaksanakan selamatan, dapat tiket langsung masuk surga.”

  4. Dari sejak kemunculannya di bumi Nusantara Indonesia, Wahabi paling demen mengumbar vonis atas haramnya (bid’ah) tahlilan. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa tindakannya itu terlalu berlebihan yang bisa berakibat merusak Islam. Bagaimana tidak, bukankah itu berarti Wahabi dan pengikut-pengikutnya mengharamkan yang halal atas tahlilan? Bahkan saking rusaknya pemahaman mereka terhadap Islam, mereka tak segan-segan pamer slogan batil: “Pelacur Lebih Mulia daripada Orang-orang Bertahlil (tahlilan). “

    Saya nggak ngerti, Anda dapat darimana Anda dapat perkataan ini. Tunjukkan asalnya kalau Anda bukan penggemar fitnah.

    Bahkan demi memperkuat vonis Wahabi atas haramnya tahlilan, mereka dengan gegabah membayar seorang Ustadz dari Pulau Bali untuk membuat klaim bahwa tahlilan adalah tradisi Hindu. Hanya orang-orang bodoh yang bisa dikibuli oleh trik-trik dan rekayasa kebohongan Wahabi. Cara membantah klaim tersebut cukup kita ajukan pertanyaan kepada para pemeluk agama Hindu: “Sejak Kapan di agama Hindu Ada Tradisi Tahlilan?”. Pastilah mereka para pemeluk agama Hindu akan bengong karena tidak kenal apa itu tahlilan.

    Sudah saya sebutkan di atas. Saya terima hadits Thawus yang marfu’, karena beliau adalah tabi’in perawi hadits yang tsiqah dan diperkuat oleh hadits ‘ubaid dan mujahid. Terus yang ngajarin 40, 100, 1000, dan haul itu siapa?

    • Haul-nya Utsaimin juga dirayain tuh sama haiat kibarul ulama Saudi..

      Malah dibangunkan gedung tuh untuk menyimpan barang2 peninggalan gak penting Utsaimin..

      Syirik gak tuh?

  5. Abdullah @

    Apa beda haram dg makruh? apa beda halal dg haram? Apa beda haram dg bid’ah?

    Silahkan jawab untuk mendiskusikan masalah talilan di atas. Oh ya, sudahkah antum baca tuntas artikel di atas?

    • Anda sudah baca pendapat saya di atas? Saya menerima hadits Thawus. Pertanyaannya:
      1. Di mana disebut dalam hadits tersebut ada tahlilan? Memberi makan tidak sama dengan tahlilan.
      2. Terus darimana asalnya tahlilan 40, 100, 1000 dan haul itu?

      • Abdullah@

        Kok pertanyaan Mas Joyo tentang perbedaan hukum malah gak dijawab? Justru itu yg penting, sebab saya mau ikut nyimak diskusi kalian. Oke jawablah, biar diskusi ini punya manfaat bagi pengunjung yg lain.

      • @abdullah
        Ini saya sebutkan :
        1. Hadist qudsi yang kutip dari kumpulan hadist qudsi karya Imam Nawawi dan Asqalani :
        Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87)
        Coba ditelaah mas @abdullah.
        2. Untuk hari, para wali melihat beberapa kejadian dan ini sudah dibuktikan secara kedokteran.
        hari 1. Mayat masuk libang kubur
        hari 3. Mayat mulai bengkak
        hari 7. mayat mulai pecah
        hari 40. mayat hancur kecuali rambut
        hari 100. Total mayit jadi tanah kecuali beberapa tulang
        hari 1000. seluruh tulang hancur
        Atas kejadian ini lah dibuat untuk mendoakan agar proses kembalinya menjadi tanah, hal ini bukan dari ajaran hindu/budha.

        • 1. Apakah majelis zikir = zikir jama’ah? Ibnu mas’ud mengingkari zikir keras2 secara berjama’ah dengan komando salah seorang dari jama’ah. Dan ini juga ngelantur, yang disunahkan adalah memberi makan pada orang yang datang, bukan datang & baca tahlil rame2.
          2. Wali apa? Lha cuma katanya2 saja. Buat apa proses kembali jadi tanah didoakan? Ini ajarannya siapa? Yang meninggal sudah masuk alam barzakh, buat apa jasadnya didoakan? ada2 saja alias bid’ah.

          • mengenai hadits ibnu Mas’ud tsb, isnadnya bagaimana mas :mrgreen:

            Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. [QS. Al-Kahfi: 28]

            Disunnahkan bagi orang-orang yang selesai mendirikan shalat berjama’ah untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir secara berjama’ah. Hal tersebut didasarkan pada hadits Sayyidina Abdullah bin Abbas ra, beliau berkata, “Sesungguhnya mengangkat suara dalam dzikir ketika orang-orang telah selesai dari shalat fardhu itu terjadi pada masa Rasulullah SAW.” [HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim]

            Al-Hafizh Ibnu Hajar rah.a mengatakan dalam Fat-hul Bari, “Dalam hadits tersebut terkandung makna bolehnya mengeraskan dzikir setelah mendirikan shalat.”

            Adapun hadits “Irba’uu ‘alaa anfusikum fa innakum laa tad’uuna ashomma wa laa ghaa-iba” menjelaskan larangan mengangkat suara ketika berdzikir sambil berjalan-jalan dan bukan ketika berjama’ah di suatu majelis. Jika menjahr dzikir itu di larang, lalu bagaimana dengan takbiran yang dilakukan pada hari ‘Id?

            Syaddad bin Aus ra juga meriwayatkan, dan dibenarkan oleh Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata: Kami berada di sisi Rasulullah SAW ketika beliau bersabda, “Adakah di antara kalian orang yang asing?” Kami menjawab, “Tidak ada yaa Rasulullah.” Lalu beliau memerintahkan untuk mengunci pintu, lalu bersabda, “Angkatlah kedua tangan kalian, lalu ucapkanlah LAA ILAAHA ILLALLAAH.” Kami pun mengangkat kedua tangan kami sesaat. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangannya dan bersabda, “Al-hamdu lillaah, yaa Allaah, sesungguhnya Engkau telah mengutusku dengan (mengemban) kalimat (tauhid) ini. Engkau memerintahkan aku untuk mengamalkannya, dan Engkau menjanjikan surga bagiku karenanya. Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian.” [HR. Imam Ahmad, Imam Thabrani, Al-Bazzar, Imam Al-Hakim]

          • Abdullah:
            yang disunahkan adalah memberi makan pada orang yang datang, bukan datang & baca tahlil rame2.

            nah Anda sendiri yg bilang bahwa disunnahkan memberi makan pada orang yg datang. Syaratnya cuma satu, yaitu datang. Jadi, kalo dah datang, boleh dikasih suguhan, mo dia tahlilan kek, baca yasin kek, cuma duduk bengong doang ky wahhabi kek :mrgreen:, yg penting dateng.

          • @abdullah
            No. 1, dah dijawab sama mas @artikel islami ya.
            No. 2. Coba baca buku karangan Ibnu Qayyim Al Jauziah dengan judul Ar Roh.
            Ane pernah bertanya sama diri sendiri, buat apa 3,7,40,100 n 1000 hari, akhirnye ane uji coba sama tikus percobaan dan nyatanya benar proses kejadian itu. and ane cek korban sunami diaceh… eeh benar. jadi ane percaya dah.
            Ente kaji dah jangan asal bicara aja.

      • mas kalo tahlilan, shodaqoh mayit ber doa untuk mayit boleh ke 7nya kenapa ke 40,100,1000 ngak boleh. jangan jangan anda membedakan antara ke 7 hari ama selainnya

  6. Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para sahabat telah mendahului kita mengamalkanya

    • Oh… Abu Umar,
      kalau itu dalil antum, bagaimana kalau diterapkan pada PERMASALAHAN PEMBAGIAN TAUHID JADI TIGA OLEH WAHABI? Kalau Pembagian Tauhid itu baik tentunya Para Sahabat sudah melakukannya. Kenyataannya Para Sahabat tidak pernah ada yg membagi Tauhid! Ulama juga tidak ada yg membagi Tauhid jadi Tiga kecuali Rahib-rahib Wahabi.

      Please deh, itu dalil antum dan kaum Wahabi…. Lauakaana khoiron, bla bla bla….. Kenapa wahabi dan kalian melakukan juga apa yg tidak dilakukan Para Sahabat Nabi tentang pembagian Tauhid? 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆

  7. Permasalahan Tahlilan sebenarnya sudah lama. Dan Jawaban Ahlul Bid’ah ya itu-itu saja, sejak dari zaman Shahabat Nabi sampai sekarang.
    Barang siapa yang di beri petunjuk oleh Allah, tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, tidak ada yang bisa menolongnya.

  8. Dari pada debat kusir kaya gini, percuma saja Wahabi menjelaskan panjang lebar tentang Tahlilan. Ga ada gunanya, Orang-orang Asy-‘Ariyah/Sufi/Toriqot tidak akan mendengar, hati mereka telah tertutup.

  9. Sufi : untuk mempelajari tauhid kita harus melebur dulu ke dalam tauhid?

    Ahlus Sunnah : Kalau mempelajari iblis?

    Sufi : Masa ente ga tau, itu ungkapan.

    Ahlus Sunnah : ooo.. ungkapan? jadi ungkapanya untuk mempelajari iblis ya harus melebur jadi iblis gt?

    Sufi : betul-betul-betul. Begitu pula mempelajari Syetan, ya harus melebur jadi syetan dulu. ingat lho itu ungkapan. Yang penting di hati.

    Ahlus Sunnah : ooo.. jadi ungkapannya itu di jalankan di hati ya. Caranya gmn coba? setiap orang kan beda-beda isi hatinya.

    Sufi : Ya pokoknya turuti apa suara hati kalian.

    Ahlus Sunnah : Kalau suara hati kita itu untuk berbuat kemaksiatan gmn?

    Sufi : Ya harus kita turuti, mungkin di balik kemaksiatan ada kebaikan.

    Ahlus Sunnah : Bener2 orang aneh Si Sufi ini,,

    • mas bukan sufi dengan ahlus sunah mungkin perbincangan diatas tapi antara sufi dan wahabi. klo buat perbincanganyang bener masa satu orang berlagak seperti dua orang. sufi dan ahlus sunahkan orangnya sama

    • Afif fatkhurrohman

      Sufi adalah bagian dari Ahlu Sunnah. Tidak semua yang mengaku sufi TETAPI Sufi yang berpegang erat dengan Alquran dan as-Sunnah. Wallahu a’lam

  10. Setahu saya yang masih awam ini, didalam ritual tahlilan kematian, siraman maupun tujuh bulanan ada pengoplosan tradisi hindu dg ibadah membaca kalimat tahlil dsb. Bagi saya sih, kalau ingin baca tahlil ( kalimah thoyyibah yang lain ) ya dibaca aja sendiri sambil menjiwai makna2nya, masa harus dimasukkan ke ritual2nya agama lain. Afwan kalo ada yang tersinggung.

    • Tidak perlu tersinggung menghadapi orang2 yg tidak jalan akalnya. Yaitu yg tidak mampu membedakan mana nilai Islam dan mana nilai2 non Islam, gitu aja repot pakai tersinggung sih? Menghadapi Wahabi yg kurang akal sih tidak perlu tersinggung, repot amat ha ha ha….

    • maaf mbak kalo awam ngak usah ngasih saran hukum, untung kalo bener kalo salah dosanya gede loh mbak.
      dan saya ngak terima kesimpulan dari awam. saya mah nurut ama guru saya aja.

  11. Mas abdullah kalo 7 harinya boleh kenapa 40,100,1000 nya gak boleh.

  12. Abu Umar:
    Dari pada debat kusir kaya gini, percuma saja Wahabi menjelaskan panjang lebar tentang Tahlilan. Ga ada gunanya, Orang-orang Asy-’Ariyah/Sufi/Toriqot tidak akan mendengar, hati mereka telah tertutup.

    ngak salah nih kament perasaan yang keras kepala dan hatinya ketutup itu ente, hyjjah apapaun yang ente pake untuk ngelarang tahlilan udah disanggah ama aswaja dengan baik. tapi dalil yang dipake ama aswaja untuk ngedukung tahlilan ngak bisa di sanggah ama wahhabi.
    jadi siapa yang tuli ama mati hati.

    • Itu masalah hidayah..
      Kebenaran akan terbukti, pada saat meninggal nanti.
      ooo.. perkara ini salah, ooo.. perkara ini benar.

      • semua juga tau bahwa yang bener pasti ketauan tatkala kita meninggal. kalo udah gitu kenapa kalian tetep ngotot supaya kami ikut kalian?
        kenapa ngak kalian menghormati kami dan biarkan kami dengan amalan kami?
        begitulah sifat kalian ngotot dalam mencela kami tanpa ada hujjah yang memadai akhir akhirnya kebenaran ketauan setelah meninggal
        kita juga tau itu mah.
        jadi saran kami kepada kalian para wahabi kalo akhirnya hujjahnya untuk liat pas udah meninggal maka biarkan kami dengan amalan kami.

  13. Krongthip Mahalakorn

    Memang dasar Wahhabi mencari helah untuk mengkafirkan orang yang2 yang tidak sehaluan mereka. Perhatikan pelbagai hadis ditolak dan ulama’ ASWAJA dikafirkan.
    Usah persoal perkara remeh tapi perhatikan AQIDAH kalian. Aqidah itu kunci Iman. Malas nak di ilmiahkan kerana pasti Wahhabi tidak akan menerima. Mata dan hati mereka telah diselaputi ghuluw dan taksub semborono menyembabkan mindanya jumud dan hatinya mati. Apakah tertegaknya Islam di Nusantara ini yang kedapatan para abid sehingga bertaraf Wali itu adalah hasil dakwah Wahhabi?
    Apakah para Ulama’ ASWAJA melakukan sesuatu amalan tanpa dalil?
    Sedarlah Wahhabi bahawa tuhan kita tidak sama. Tuhan kalian berada diatas, Kalian juga percaya tuhan kalian tasybih dan berjisim.kami menyakini Wujud Allah tanpa tempat dan Allah maha suci dari keserupaan dengan sesuatu.
    Jaidi mana mungkin ada kesamaan dalam hal lain kalau hal untama sudah berbeda.

    • Kalau Allah ada dimana-mana, apakah Allah ada di tempat-tempat menjijikkan misalnya WC, tempat sampah. Na’udzubillah. Maha Suci Allah dengan apa yang kalian ucapkan itu.
      Bukankah sudah jelas bahwa Allah berada di atas Arsy. Dilangit tingkat ke 7.
      Coba Kalian ingat peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasullullah.

  14. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hadid : 4)

    Bagaimana menurut para sohib dengan isi dari ayat tersebut itu ? perlu dijelaskan ?. walau sangat jelas tidak ada salahnya ya kita perjelas lagi….. begini, saya singgung dulu dengan kata MAHA insya allah nanti kata maha ini akan saya bahas lebih lanjut. Salah satu dari sifat tuhan adalah MAHA : maha melihat, maha mendengar, maha mengetahui, maha perkasa, maha adil, dsb. Jadi kata MAHA itu bisa diartikan dengan sesuatu yg tak terbatas ato sesuatu yg tidak bisa disebutkan jumlah, isi, luas, panjang, tinggi,lebar, bobot, rupa dsb, yg berhubungan dengan kata sifat. maka manusia mengucapkan/mengistilahkan dengan kata yg bernama MAHA.

    Karena sifat maha itulah walau TUHAN berada di atas ‘Arsy, Dia bisa memantau semua mahkluk / benda ciptaannya sampai yg terkecil sekalipun. Jadi bukan berarti dia ada dalam diri / tubuh kita, (menurut sebagian orang mengatakan demikian) seperti yg tertera dari bagian ayat dia atas : Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
    Sangat jelas ayat tersebut mengatakan bahwa allah setelah menciptakan langit dan bumi beserta isinya kemudian bersemayam di ‘Arsy, dengan posisi / kedudukan Dia (TUHAN) di atas ‘Arsy, dia bisa melihat semua kejadian yg ada di bumi ( cuman Bumi Maaannnn.. keciiil bagi Allah, ada berapa milyar bahkan mungkin tak terhingga jumlahnya benda seperti Bumi yg Allah Pantau bahkan ada yg jauh lebih besar bumi)

  15. Abu Umar:
    Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hadid : 4)

    Bagaimana menurut para sohib dengan isi dari ayat tersebut itu ? perludijelaskan ?. walau sangat jelas tidak ada salahnya ya kita perjelas lagi….. begini, saya singgung dulu dengan kata MAHA insya allah nanti kata maha ini akan saya bahas lebih lanjut. Salah satu dari sifat tuhan adalah MAHA : maha melihat, maha mendengar, maha mengetahui, maha perkasa, maha adil, dsb. Jadi kata MAHA itu bisa diartikan dengan sesuatu yg tak terbatas ato sesuatu yg tidak bisa disebutkan jumlah, isi, luas, panjang, tinggi,lebar, bobot, rupa dsb, yg berhubungan dengan kata sifat. maka manusia mengucapkan/mengistilahkan dengan kata yg bernama MAHA.

    Karena sifat maha itulah walau TUHAN berada di atas ‘Arsy, Dia bisa memantau semua mahkluk/ benda ciptaannya sampai yg terkecil sekalipun. Jadi bukan berarti dia ada dalam diri / tubuh kita, (menurut sebagian orang mengatakan demikian) seperti yg tertera dari bagian ayat dia atas :Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
    Sangat jelas ayat tersebut mengatakan bahwa allah setelah menciptakan langit dan bumi beserta isinya kemudian bersemayam di ‘Arsy, dengan posisi / kedudukan Dia (TUHAN) di atas ‘Arsy, dia bisa melihat semua kejadian yg ada di bumi ( cuman Bumi Maaannnn.. keciiil bagi Allah, ada berapa milyar bahkan mungkin tak terhingga jumlahnya benda seperti Bumi yg Allah Pantau bahkan ada yg jauh lebih besarbumi)

    Ok, apakah itu berarti menurut ente Allah berada sebuah tempat khusus dimana ketika dzatnya berada di tempat itu, tidak ada pihak lain yang berada di tempat itu dan dzatnya sendiri tidak menempat tempat selain tempat khusus itu? Jangan kabur ya!

  16. Abu Umar:
    Sudah jelas kan di Qur’an. Bahwa Allah bersemayam di Arsy.

    Ok, apakah kopasan ente itu menunjukkan Allah berada sebuah tempat khusus dimana ketika dzatnya berada di tempat itu, tidak ada pihak lain yang berada di tempat itu dan dzatnya sendiri tidak menempat tempat selain tempat khusus itu? Tinggal dijawab iya atau tidak, gampangkan?

  17. Abu Umar:
    Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy

    Apakah pernyataan ente di atas menunjukkan bahwa Allah berada di tempat khusus yakni di atas makhluknya yang bernama Al Arsy itu, dimana ketika dzatnya berada di tempat itu, tidak ada pihak lain yang berada di tempat itu dan dzatnya sendiri tidak menempat tempat selain tempat khusus itu?

    • Kenapa kamu tetap ngotot kalau Allah istiwa, Allah harus bertempat? Sungguh kamu sudah melakukan kebid’ahan.

      Imam Malik berkata: Istiwâ’ sudah diketahui, kaif (cara/bentuk) tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.

  18. cukuplah dengan “laitsa kamitslihi syaiun”. dan Allah lebih dekat dengan urat lehermu. “walam yaqullahu kuffuan ahad.”

    sesungguhnya susah menyadarkan orang awam yang sudah akut stadium 4 kena virus wahabi.

    dan hati2 dalam faham terjemahkan saja kitabullah bisa mengarah ke mujasimah

    lanjutkan akh @Naka

    syukron

    • Sungguh pemakaian dalil yang tidak pada tempatnya. Apakah kalau manusia bisa mendengar, Allah tidak, karena mendengar adalah sifat makhluk? Subhanallah. Manusia melihat, apakah Allah tidak karena melihat adalah sifat makhluk? Subhanallah. Allah dan manusia sama2 melihat dan mendengar, tetapi sifat Allah dan sifat makhluk berbeda jauuuh sekali. Demikian juga sifat2 yang dikatakan oleh Allah sendiri, kalau tidak dijelaskan oleh Nabi, kita wajib mengimani, dan bid’ah menanyakan hakikatnya.

      Allah di atas ‘Arsy, dan Ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Apakah dengan pernyataan kamu “Allah lebih dekat dengan urat lehermu”, kamu mengatakan Allah ada di bumi? Subhanallah. Inilah yang terjadi kalau kamu lancang memikirkan tentang hakikat sifat Allah, semua harus dinalar dengan akal (lalu nanti dicari ayatnya).

      • ente terlelu dangkal menelaah ayat2 tsb. ana cuma menunjukkan ada beberpa ayat yang salaing melengkapi, namun bila diterjemahkan secara harfiah bisa bertabrakan maknanya. tentunya ente tahu kan beda arti harfiah dan makna?

        saya sepakat dg ente, jangan kita memikirkan dzat Allah yang maha suci dan agung namun fikirkanlah ciptaanya (alamsemesta).

        yang kita yakini adalah Allah qodim tanpa tempat dan arah, maha suci Allah dari segala yang diciptakkanya. janganlah dibiasakan ente mebunuh karakter temen diskusi.

        diskusi dgn topik ALLAH ADA TANPA TEMPAT DANA ARAH sudah ada blog ini jadi cari dan baca aja hasil diskusi baru ente datang lagi kemari.

        baca ini
        Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasullullah SAW bersabda : ”Allah SWT berfirman :
        ”Aku dengan persangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berzdikir kepada-Ku, dan Allah SWT lebih senang dengan taubat seorang manusia dari pada seorang kalian menemukan kembali perbekalanya di padang tandus.
        Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan berjalan maka Aku menemuinya dengan berlari”. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim).

        kalo ente bersikeras menggunakan ayat Allah bersemayam di atas Arsy, meka ente akan mengalami konsleting dalam memahami hadis diatas.

        • Yang konsleting itu ente? Bukankah ilmu Allah itu sangat luas, Ilmu manusia tidak ada apa2nya. Nalar manusia itu terbatas. bagaikan setetes air dengan lautan bahkan lebih tidak akan bisa dibandingkan. Sudah jelas2 tertulis di Qur’an bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Apakah ente akan membantah Qur’an?
          Lebih Konslet mana coba?

          • Akh Abu Umar, tidak usah dibales penghinaannya, cukup ditanggapi hujjahnya dengan hujjah yang lebih jelas sehingga mudah dimengerti.

          • hujjah siapapun tidak mudah dimengerti kalo memang ada kontradiksi2 pemahaman. pemahaman nash2 al Karim dan as Sunnah beda dengan pemahaman Ibn Taimiya dasar faham nya Ibn Abdl Wahab.

          • wah ga nyambung lagi commentnya

            maksud konsleting adalah kontradiksi pemahaman ayat demi ayat al Karim, ana uda bialng hati2 dalam metode “terjemahkan saja”

            setiap muslim pasti tahu ilmu Allah luas spt dalam 4 surat terakhir dalam surat Al Kahfi.

        • Jadi sebenarnya kita sudah bersepakat, Allah itu tidak bertempat. Yang belum disepakati adalah, nama2 & sifat2 Allah. Saya sudah membeberkan pendapat para Imam mazhab tentang beberapa sifat, seperti istiwa’.

          Ok, mari jangan asal tuduh membunuh karakter, karena dari kemarin ada yang membuatkan tempat untuk Allah, terus dinisbatkan kepada saya, lalu menuduh saya mujassim. Kita sudah sepakat Allah tidak bertempat.

          Tentang hadits di atas, ndak ada yang konslet, karena dalam hadits tersebut, Allah membuat permisalan untuk menggambarkan bahwa Allah itu qarib/dekat.

          • Ayat-ayat Al’Quran yg menerangkan keberadaan Allah, di antaranya :
            (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .
            (QS. Thaha : 5)
            Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
            (QS. Yunus : 3)
            Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy , Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia.
            (QS. Al-Furqan : 59)
            “Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku”.
            (QS Al-Mulk : 16-17)

          • itu artinya ente setuju bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH. inilah pemahaman Aswaja

            Abdullah:

            Tentang hadits di atas, ndak ada yang konslet, karena dalam hadits tersebut, Allah membuat permisalan untuk menggambarkan bahwa Allah itu qarib/dekat.

            jadi ente setuju dengan takwil ayat2 mutasabihat

  19. Krongthip Mahalakorn

    Lihat sosok Wahhabi kita katakan Wujud Allah itu tanpa tempat tapi si Wahhabi putarkan menjadi Allah wujud di mana2. Ungkapan berbeda dan pengertiannya juga berbeda. Hal semudah itu susah mahu difahami gimana dalam hal lain.

    • Yang bilang Allah wujud di mana2 Siapa? bukane ente sendiri yang bilang. Sudah Sangat2 jelas bahwa Allah bersemayam di Arsy. Langit tingkat ke 7.
      Bagaimana dengan ayat ini?
      “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As Sajdah : 5)
      “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS. Al Ma ‘aarij : 4)
      “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS . Fathiir : 1 )

      Apakah Sudah ada gambaran bahwa Allah berada di Atas Arsy.

  20. Ada yang tahu ngga Arsy itu apa?

    • Jadi Menurut pendapat ane, Bahwa Allah itu bersemayam di atas ‘Arsy. Berdasarkan dari Qur’an. Sesuai dengan Imam Malik, adapun menanyakan BAGAIMANA CARA BERSEMAYAMNYA ALLAH di atas ‘Arsy itu tidak diperbolehkan (bid’ah), cuma kita mengimaninya.

  21. Abdullah:
    Kenapa kamu tetap ngotot kalau Allah istiwa, Allah harus bertempat? Sungguh kamu sudah melakukan kebid’ahan.

    Imam Malik berkata: Istiwâ’ sudah diketahui, kaif (cara/bentuk) tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.

    He he he itu pertanyaan untuk Abu Umar bro, ente dengan ane masih punya utang tuh. Masalah kopasan yang ampe sekarang gak bisa ente jelaskan. Jangan lari bro….

  22. Yang di bid’ahkan Imam Malik adalah bertanya bagaimana CARA bersemayamnya Allah. Kalau antum bersepakat Allah tidak bertempat, antum wajib mengeluarkan dalilnya. Ane cm pengen tahu.

    • silahkan baca shahih Muslim no. 4888:

    • ini jawaban ane kpd Abdullah, yg relevan utk mengomentari ente:
      yg dilakukan imam Malik dan lainnya berbeda dg yg dilakukan wahhabi
      Imam Malik dan lainnya itu tafwidh
      sedangkan wahhbi itu tajsim dan tasybih
      mereka ngotot bahwa Allah itu mengambil tempat
      liat Abu Umar, dari kemarin dia ngotot bahwa Allah itu berada di langit ke7, di ‘arsy, dan kata2 lainnya yg menunjukkan bahwa Allah mengambil tempat

      Kemudian, Imam Malik juga berkata bahwa haqiqat “istiwa di atas ‘arsy” itu sulit dijelaskan. Jadi, bukannya beliau berkata bahwa Allah bersemayam di ‘arsy sbgmn i’tiqad Abu Umar. Imam Malik mempercayai sifat “Allah istiwa di atas ‘Arsy”. Tetapi, apa itu sifat “Allah istiwa di atas ‘Arsy”? Sulit dijelaskan haqiqatnya. Jadi, haqiqat dari “Allah istiwa di atas ‘Arsy” bukanlah seperti i’tiqad wahhabi yg berkata bahwa Allah bertempat di ‘Arsy, di langit ke7, dsb
      paham ga, Dul?

      • Tajsim dari Hong Kong. Mana nih ada saya mengatakan Allah bertempat? Kamu dikatakan quburiyyun mau nggak? Kalau orang gak berilmu tapi suka nuduh2 ini paling susah diajak diskusi. Apalagi yang suka teriak2 wahabi, salafi, sawah, khawarij, mujassim, dll, dan gak ngomong yang lain selain itu.

      • Coba ente renungkan ayat ini, ente maknai apa?
        (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .
        (QS. Thaha : 5)
        Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
        (QS. Yunus : 3)
        Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy , Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia.
        (QS. Al-Furqan : 59)
        “Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku”.
        (QS Al-Mulk : 16-17)
        Jawab maksud ayat ini bagaimana? pemahaman ‘Arsy itu apa?

  23. Abu Umar:
    Yang bilang Allah wujud di mana2 Siapa? bukane ente sendiri yang bilang. Sudah Sangat2 jelas bahwa Allah bersemayam di Arsy. Langit tingkat ke 7.
    Bagaimana dengan ayat ini?
    “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As Sajdah : 5)
    “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS. Al Ma ‘aarij : 4)“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS . Fathiir: 1 )

    Apakah Sudah ada gambaran bahwa Allah berada di Atas Arsy.

    Apakah pernyataan ente di atas menunjukkan bahwa Allah berada di tempat khusus yakni di atas makhluknya yang bernama Al Arsy itu, dimana ketika dzatnya berada di tempat itu, tidak ada pihak lain yang berada di tempat itu dan dzatnya sendiri tidak menempat tempat selain tempat khusus itu?

    Pembaca, bagi-bagi pengalaman neh diskusi dengan Wahabiyun yang kebiasaanya kopas. Mereka kalau ane kasih pertanyaan-pertanyaan kayak gini akan lari. Semisal di Abdullah dan Abu Umar ini.

    Tragis! Mereka tidak bisa memutuskan apakah dzat Allah memiliki sifat seperti yang ane gambarkan dalam pertanyaan di atas atau tidak. Padahal ini masalah akidah bro.

    Beda dengan ahli Sunnah. Orang yang belajar akidah al awwam dah bisa memutuskan apakah dzat Allah seperti dalam gambaran itu atau tidak, tanpa ragu-ragu. Seperti itulah nasib akidah mereka.

    • Pada hakekatnya ente itu bertanya bagaimana cara bersemayamnya dzat Allah?
      Imam Malik saja tidak tahu bagaimana dzat Allah bersemayam, ente mengetahuinya. Salut deh..
      Bahkan para Shahabat saja tidak mengetahui bagaimana bersemayamnya dzat Allah. Berarti Shahabat juga tragis. Berarti ente lebih hebat dari Shahabat. Salut deh..

  24. Abu Umar:
    Yang di bid’ahkan Imam Malik adalah bertanya bagaimana CARA bersemayamnya Allah. Kalau antum bersepakat Allah tidak bertempat, antum wajib mengeluarkan dalilnya. Ane cm pengen tahu.

    Ada lagi bro yang perlu kita ketahui. Ternyata akidah si Abdullah dan Abu Umar Berbeda. Si Abdullah menyatakan Allah tanpa tempat si Abu Umar malah menanyakan dalilnya. Dalam satu firqah saja, akidah acak-acakan kayak gini. Tragis bro.

    • Yang traggis itu ente, Apakah semua pertanyaan ada jawabnya. Bahkan Rasullulloh tiidak menerangkan, ente pengen Rasullulloh menerangkan.

    • Abu Umar dan Abdullah sama menyatakan bahwa Allah BERADA di atas ‘arsy atau Allah BERADA di langit.
      Jadi mereka itu sama, bos.

      • Abdullah bilang: Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya

        Itu kan sama dg pemahaman Abu Umar yg mengatakan bahwa Allah BERADA di atas ‘arsy dan mengawasi makhluq-Nya yang BERADA di bawah-Nya dari sana?

        mereka memahami ayat2 sifat ini secara zhahiriyyah

        padahal para Imam salaf tidak memahami haqiqat dari sifat2 ini secara zhahiriyyah. Haqiqat sifat2 ini berbeda dg zhahir lafazhnya. Maka utk orang2 semacam Abdullah dan Abu Umar ini, madzhab ta’wil adalah lebih aman dari pada madzhab tafwidh. karena madzhab tafwidh akan menggiring mereka utk memahami haqiqat sifat2 ini secara zhahiriyyah. Salafus shailih tidak memahami haqiqat sifat2 ini secara zhahiriyyah.

  25. imam mana yg mengharamkan ta’wil seperti yg dilakukan sebagian ahladz dzikr terhadap ayat2 dan hadits2 mutasyabihat?

  26. Naka: Apakah pernyataan ente di atas menunjukkan bahwa Allah berada di tempat khusus yakni di atas makhluknya yang bernama Al Arsy itu, dimana ketika dzatnya berada di tempat itu, tidak ada pihak lain yang berada di tempat itu dan dzatnya sendiri tidak menempat tempat selain tempat khusus itu?

    Kalau kamu tetap ngotot membuatkan tempat untuk Allah, tentu saja saya tolak. Kamu pasti bernalar Istiwa’ kok gak pakai tempat, lalu membuatkan tempat untuk Allah. Imam Mahzab saja nggak berani membayangkan Istiwa’ itu bagaimana, kok kamu lancang.

    • kamu yg lancang berkata bahwa Allah BERADA di langit

    • Udah…gak usah beropini. Kalau ente gak paham maksud pertanyaan ane tanya aja.

      Abu Umar dah mengakui tuh…bahwa memahami ayat-ayat istiwa dengan pemahaman bahwa Allah berada di tempat khusus yakni Al Arsy adalah takyif. Dan itu bukan akidah Salaf. So kalau begitu akidah dholal.

  27. Untuk menelusuri diskusi ini.. Kita bahas dulu

    Apa yang kalian ketahui tentang ‘Arsy?

    PENTING. Untuk melihat bagimana pemahaman kalian tentang ‘Arsy ini.

  28. Abu Umar:
    Pada hakekatnya ente itu bertanya bagaimana cara bersemayamnya dzat Allah?
    Imam Malik saja tidak tahu bagaimana dzat Allah bersemayam, ente mengetahuinya. Salut deh..
    Bahkan para Shahabat saja tidak mengetahui bagaimana bersemayamnya dzat Allah. Berarti Shahabat juga tragis. Berarti ente lebih hebat dari Shahabat. Salut deh..

    Bagus! Dah ada kemajuan….

    Berarti kalau ada orang yang menyimpulkan dari ayat-ayat istiwa bahwa Allah berada di tempat khusus yakni di atas makhluknya yang bernama Al Arsy itu, dimana ketika dzatnya berada di tempat itu, tidak ada pihak lain yang berada di tempat itu dan dzatnya sendiri tidak menempat tempat selain tempat khusus itu, berarti itu akidah gak bener! Sesat! Karena telah menentukan kaif! Sedangkan Imam Malik saja tidak mengerti kaifnya.
    Betul, gitu meksud ente? Jawab iya atau tidak!

    • Tuh jawab dulu apa itu ‘Arsy.

      Tuh tak jawab bahwa Allah berada di atas ‘Arsy. Trus untuk menanyakan bagaimana cara bersemayamnya dzat Allah. itulah bid’ah. kita tidak mengetahuinya. karena Rasullulloh pun tidak menjelaskan bagaimana cara bersemayamnya dzat Allah. Kalau di tanyakan Allah berada di mana? di jawab Allah berada di atas ‘Arsy.
      Jelaskan..

      • Allah beristiwa di atas ‘arsy
        Imam malik mengimaninya, dan aku pun mengimaninya
        tetapi aku dan imam Malik tak tau apa haqiqat “Allah istiwa di atas ‘arsy”

        Tetapi Abu Umar mena’wilnya dan memaknainya bahwa Allah BERADA di atas ‘arsy, atau Allah BERADA di langit ke7. Ta’wil seperti ini adalah ta’wil bathil. Karena Allah tidak terikat pada ruang dan waktu. Innallaaha laghaniyyun ‘alal ‘aalamiin. Haqiqat dari ayat itu tidak seperti zhahirnya. Imam Malik tidak mengetahui makna sesungguhnya dari sifat “Allah istiwa di atas ‘arsy”. Tetapi, bukan berarti ta’wil itu dilarang. Karena memang tidak ada yg mengetahui ta’wil yg sesungguhnya dari sifat tersebut. Tetapi bukan berarti ahladz dzikr tidak boleh mengusahakan ta’wil yg dekat dg pemahaman sesungguhnya demi menyelamatkan orang awwam.

        orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. [QS. Ali Imran: 7]

        • Bukankah Allah sendiri yang menunjukkan di Qur’an, Bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy. Apakah kamu mau mengingkari Ayat2-Nya?

          • Tidak ada yang ingkar dengan ayat-ayatNya.

            Kami semua ahlussunah beriman dan membenarkan Allah istiwa diatas arsy.

            Tapi makna istiwa diatas arsy kami memahaminya : “Hanya Allah yang tahu takwilNya”,

            Karena kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat. Dan Wahabi seeprtinya tidak beriman dengan ayat ini…. beriman atau tidak sih? kalau beriman dengan ” “Hanya Allah yang tahu takwilNya”, maka tentu kalian memahaminya seperti yang kami pahami.

            Karena makna istiwa secara zhahir yang anda sebutkan bersemayam adalah telah menetapkan suatu kaifiyah bagi Allah, yaitu semayam. Karena semayam itu dalam kamus bahasa apapun mengandung pengertian bertempat atau mendiami sesuatu, hal ini jelas membatasi Allah yang tidak bisa dibatasi oleh apapun. Kalau dikatakan bersemayam itu bukan bertempat dan mendiami sesuatu , . maka bertentangan dengan makna zhahir bahasanya, artinya bukan zhahir tetapi suatu takwil, kalau kalian mengatakan semayam sesuai makna zhahir tapi kalian tolak makna zhahirnya sendiri, kalian membuat kerancuan dalam makna bahasa, lalu kerancuan itu anda serahkan kepada Allah. Ini sungguh perbuatan yang jelek, ngawur dan akidahnya absurd.

            Kenapa tidak ikuti petunjuk Allah saja, bahwa ayat-ayat mutasyabihat, mempunyai takwil dan kita mengikuti orang-orang berakal yang mengambil pelajaran ?

  29. Krongthip Mahalakorn

    @Abu Umar

    Abu Umar says:
    October 5, 2011 at 1:34 pm

    Kalau Allah ada dimana-mana, apakah Allah ada di tempat-tempat menjijikkan misalnya WC, tempat sampah. Na’udzubillah. Maha Suci Allah dengan apa yang kalian ucapkan itu.
    Bukankah sudah jelas bahwa Allah berada di atas Arsy. Dilangit tingkat ke 7.
    Coba Kalian ingat peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasullullah.

    Ente perhatikan sendiri. Di atas adalah kenyataan ente yang ane copas. Siapa
    yang mengatakan Allah wujud mana? Ente tidak mengaku ente yang katakan tapi tuh buktinya diatas. Ente mudah lupa mungkin itu norma semula jadi ente. Ana kesian ama ente, ane harap ente terus belajar sambil itu itu banyakkan berzikir terutama banyakkan membaca Fatihah semoga Allah mengurniakan Taufik dan Hidayah serta jalan yang bener. Harus di ingat Agama Islam itu lebih tinggi daripada aqal. Pelajarilah aliran yang kontra dengan fahaman kita juga moga bisa dibuat perbandingan.
    Allah Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani!

    (Quote)

  30. Abu Umar:
    Tuh jawab dulu apa itu ‘Arsy.

    Tuh tak jawab bahwa Allah berada di atas ‘Arsy. Trus untuk menanyakan bagaimana cara bersemayamnya dzat Allah. itulah bid’ah. kita tidak mengetahuinya. karena Rasullulloh pun tidak menjelaskan bagaimana cara bersemayamnya dzat Allah. Kalau di tanyakan Allah berada di mana? di jawab Allah berada di atas ‘Arsy.
    Jelaskan..

    Iya, memang ente dah keceplosan njawab dengan menyatakan bahwa pertanyaan ane itu tentang kaif (tata cara).

    Berarti kalau ada orang yang menyimpulkan dari ayat-ayat istiwa bahwa Allah berada di tempat khusus yakni di atas makhluknya yang bernama Al Arsy itu, dimana ketika dzatnya berada di tempat itu, tidak ada pihak lain yang berada di tempat itu dan dzatnya sendiri tidak menempat tempat selain tempat khusus itu, telah menentukan kaif (tata cara) menurut ente

    Dan kata ente para salaf tidak mengetahui mengetahui tatacaranya. So pihak yang mencimpulan ayat-ayat istiwa dengan kesimpulan seperti di pertanyaan ane adalah tidak berakidah salaf alias sesat dan dhollal.

    Itulah akidah tafwidz. Mengimani ayat-ayat sifat (bukan terjemahannya loh), tanpa kaif dan menyerahkan maknanya kepada Allah. Ini merupakan salah satu madzhab dalam Asyariyah.

    Alhamdulillah…

    • Akidah dari ahli sunnah tentang masalah istiwa’ adalah seperti perkataan Imam Malik. “Imam Malik berkata Adapun istiwa’ adalah maklum (dipahami) dan bertanya bagaimananya adalah Maj’hul (tidak di ketahui)”. Inilah keyakinan Ahlus sunnah tentang Istiwa’ Allah. Jika ada yang lebih pintar dari Imam Malik, aku hanya bisa bilang kueeereeen… Tapi aku mengikuti pendapat Imam Malik, Wajib.

      • Entah ente mengklaim akidah Imam Malik atau siapa. Yang penting ente dah mengakui bahwa memahami ayat-ayat istiwa dengan pemahaman bahwa Allah berada di tempat khusus di atas makhluknya yang bernama Arsy adalah takyif. Dan bukan akidah Imam Malik dan para sahabat. Alias akidah sesat!

  31. Mantab diskusinya, ane gelar tiker dah

  32. sungguh aneh bin ajaib…

    komentar ana di http://bantahansalafytobat.wordpress.com ada beberapa yang dihapus…..? padahal jelas-jelas ada dan muncul setelah saya beri komentar.

    Padahal komentar saya bukan cacian, bukan makian, tetapi diskusi yang sedang seru…. kenapa oh kenapa? padahal jawaban atas komen ana ada (walaupun tak nyambung) tapi koment ana malah dihapus.

    ya sudahlah…

    • hahaha 😀 sabar mas dianth begitulah orang yang telah kena virus wahabi akut stadium 6 he he he

      copas aja mas disini biar si umar dan abdullah baca

  33. Seru nyimak diskusi Salafi Wahabi yg saling Kontradiktif… 😀

    Abdullah:
    Jadi sebenarnya kita sudah bersepakat, Allah itu tidak bertempat.

    Abu Umar:
    Bukankah sudah jelas bahwa Allah berada di atas Arsy. Dilangit tingkat ke 7.
    Coba Kalian ingat peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasullullah.

    Coba dibaca dan dipahami baik2 komeng2 orang SaWah di atas….yang satu meyakini Allah SWT tidak bertempat, yg satunya lagi meyakini Allah SWT bertempat (berada di atas Arsy, di langit tingkat ke 7).

    Jadi, Aqidah Salafi Wahabi pegimane sih…kagak jelas juntrungannye begini…???

  34. Argumentasi saya menolak tajsim dan tasybih sederhana saja : 😎

    “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS: Asy-Syura :11)

    >> Segala sesuatu itu ciptaanNya, artinya juga Allah itu tidak serupa zat maupun sifatNya dengan segala sesuatu.

    Sekarang kita lihat juga bagaimana sifat segala sesuatu itu :

    Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ‘ukuran’ (QS Al-Ra’d [13]: 8)

    “… dan, Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan ‘Dia menetapkan ukurannya’ dengan serapi-rapinya.” (QS Al Furqaan:2)

    “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ‘ukuran’.” (QS Al Qamar:49)

    >>Segala sesuatu itu mempunyai ukuran, artinya Allah telah menetapkan ukuran dan segala sesuatu yang mempunyai ukuran ada yang menetapkannya yaitu Allah.

    Mari kita gunakan akal dan hati nurani kita, anugrah Allah kepada kita.

    Berdasarkan 2 dalil diatas maka pastilah Allah itu tidak serupa dengan segala sesuatu dan sifat sesuatu itu yaitu mempunyai ukuran…. artinya Allah tidak mempunyai ukuran. Sebab ukuran adalah sesuatu yang ditetapkan batasannya. Dan Maha suci Allah dari ditetapkan.

    apa arti , tangan, wajah, kaki dan sebagainya dalam makna zhahir?

    tidak lain tidak bukan adalah bentuk-bentuk atau bagian-bagian anggota tubuh.
    bentuk dan bagian anggota tubuh itu jelas-jelas adalah sesuatu yang berukuran, karena mempunyai batas-batasnya.

    Lalu apa pula makna zhahir dari bertempat, berarah, secara zhahir?
    itu semua adalah sifat-sifat benda atau mahluk yang berbentuk alias berukuran, arah dan tempat sendiri mempunyai ukuran karena mempunyai batas-batasnya.

    Pantaskah kita mensifati Allah dengan ukuran ?

    Adakah sebuah bentuk dan anggota tubuh yang bisa didefinisikan tidak berukuran, sedangkan definisinya jelas bahwa merupakan sesuatu yang berukuran. Tentu saja ini adalah absurd pada makna bahasa.

    Maka tidak lain dan tidak bukan, ayat-ayat dan hadis yang berindikasi tajsim adalah ayat-ayat mutasyabihat.

    Dan Allah menjelaskan tentang ayat-ayat mutasyabihat :

    “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu, diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (al-Qur’an surat Ali-Imron ayat 7)

    Allah telah menjelaskan bahwa ayat-ayat mutasyabihat tidak bisa dimaknai secara zhahir, tetapi mempunyai takwil, makanya Allah berkata “padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

    Jadi tidak mungkin dan memang kenyataannya Allah mustahil disifatkan dengan bentuk atau ukuran, berjisim atau disifatkan dengan sifat-sifat jisim.

    Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.
    Maha tinggi Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan.

    Kaum wahabi menafsirkan ayat “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS: Asy-Syura :11)
    sebagai tidak serupanya bentuk dan rupa. Lihat perkataan mereka :

    “Karena sifat Allah sesuai dengan kebesaran Zat Allah. ‘Tidak ada yang mengetahui bagaimana hakikat bentuk dan rupanya kecuali Allah itu sendiri’. Maka oleh sebab itu jika ada orang yang memahami makna tangan ketika dinisbahkan kepada Allah sebagaimana hakikat yang ada pada makhluk maka ini adalah pemahaman yang salah dan keliru. Inilah yang dilarang dalam agama yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya”.

    dan juga :

    “Setiap makhluk yang diberi tangan berbeda bentuk dan hakikatnya sesuai dengan zat masing-masing makhluk tersebut. Kucing, gajah, kerbau, sapi, kera, masing-masing memilki tangan. Tetapi tidak pernah tergambar dalam benak kita kitika ada orang menyebut tangan monyet lalu kita pahami seperti tangan gajah”.

    Sudah jelas mereka menetapkan bentuk atau kaifiyah bagi Allah. Jelas mereka telah terperosok ke dalam lubang.

    Hal ini bertentangan dengan apa yang sudah tuliskan diatas, Menurut ulama Tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar.

    Al Imam Sayyidina Ali semoga Allah meridlainya berkata yang maknanya: “Barangsiapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym [W. 430 H] dalam Hilyah al Auliya, juz I hal. 72).

    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi semoga Allah meridlainya (227-321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut“.

    Sungguh pertanyaan ini perlu kita tanyakan kepada pengikut wahabi : Apakah tidak serupanya Allah dengan mahluk itu sama dengan tidak serupanya mahluk dengan mahluk? yaitu hanya tidak serupa bentuknya. Lalu siapa yang memberi bentuk dan ukuran pada Allah? Siapakah yang mampu membatasiNya?

    Kalau kalian mengatakan Allah adalah Zat yang tidak mempunyai batas, maka sungguh aneh kalian membatasinya dengan bentuk dan ukuran.

  35. wahhabi ini berkeyaqinan bahwa Allah mempunyai 2 tangan, dan keduanya adalah kanan, tetapi seperti biasa, mereka berkata bahwa tangan Allah berbeda dengan tangan manusia

    tajsim, tapi ga sadar kalo dah tajsim

  36. @artikel islamijiaaah…. ngaku artikel islami dikoment… ngomong seadanya… miskin kalimat bangeed gitu :mrgreen:

  37. TAHLIL-an woowww… paraaah bangeeud ye… Agama koq dimaen-maenin kaya:
    TAHLIL-an
    YASIN-an
    WIRID-an

    sekalian aje… Ibadah :

    MAIN-MAIN-an

  38. Sufi+syiah+jil=Aswaja, jujur ini menurut pengamatan saya sendiri.

  39. yahh.. PAKE SUFI Lah dianggep ASWAJA SUFI ntuh.. :mrgreen: . same ajach SUmpek FIkiran, tiap hari kaya orang gila… :mrgreen:

    LAH SYI’AH dianggep aswaja.. 😮 JELAS-JELAS KAFIR… you orang tau gak ASWAJA APE..?? ASWAJA, disingkat ama orang bodoh…. sebenernya singkatan dari AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH lah WONG syi’ah ajach KAGAK MAU di CAP AHLUS SUNNAH 😀 e elu… malah bilang syiah ahlussunnah wal jamaah.

    ADE LAGI JIL HEEEEEEEE HEEEE :mrgreen: JARINGAN IBLIS MBA…

  40. Maksud saya aswaja versi mereka2 ini, bukan ahli sunnah waljamaah yang originil yang ga pake disingkat.

  41. OHHH gitu tohhh…. baguuz. baguzzz… 😉
    JANGAN Takut dengan blog ecek-ecek kaya gene… koment aja dengan ilmu… ketauan deh mereka.. belangnya gag bawa dalil :mrgreen:

    • lagi mabok ya…? :mrgreen:
      yg ga pake ilmu siapa? yg ada juga wahhabi tuh yg komentar ga pake ilmu
      akhirnya ketauan deh belangnya
      mata orang wahhabi sering siwer
      ketika kita kasih dalil, dia ga liat bahwa itu adalah dalil
      itu karena mereka mengikuti hawa nafsu mereka
      ketauan deh belangnya
      ternyata mereka hanya pengikut hawa nafsu dan keegoan mereka

      mereka memandang bahwa mereka saja yg ilmiah dan berhujjah
      mereka buta ketika kita ilmiah dan berhujjah
      hehehe
      terus yg ngaku ibu dan anaknya abdullah dateng dengan keadaan mabok, lalu ngoceh tanpa ilmu dan dalil
      dan ocehannya yg tanpa ilmu dan dalil itu adalah mengkritisi ocehannya sendiri yg tanpa ilmu dan tanpa dalil itu

  42. Abdullah:
    Yang meninggal sudah masuk alam barzakh, buat apa jasadnya didoakan? ada2 saja alias bid’ah.

    Syaikh ibnu Taymiyyah berkata dalam al-Fatawa:

    لَيْسَ فِي الْآيَةِ، وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ، وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ، وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ، وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ، فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ

    “Tidak didapati dalam ayat dan tidak pula pada hadits (yang menyatakan) bahwa mayyit tidak mendapat manfaat dari doa makhluq baginya, dan dari apa yang dikerjakan baginya berupa kebaikan. Justeru para imamul Islam bersepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dengan yang demikian (doa dan amal-amal yang dikerjakan baginya). Dan ini merupakan hal yang harus diketahui dari dinul Islam. Dan telah ditunjukkan atasnya oleh Kitabullah dan sunnah Rasul dan ijma’. Maka siapa yang menyelisihi yang demikian adalah ahlil bid’ah.” (al-Fatawa al-Kubra Kitab Jenazah Bab Firman-Nya Ta’ala Wa allaysa lil insani illa ma sa’a)

  43. OH YA.. jika ada janda sekedar sharing… DICARI oleh Ikhwan untuk jadi istri ke 2. ini beneran… ditunggu ya..

  44. @artikel islami
    yah ni bocah…. 😆 MAKSUD IBNU TAIMIYYAH, DO’ANYA KAGAK DI kuburan kaya ente-ente ntuh….

    KETAUAN U SOPY PASTE AJACH BORO-BORO PUNYA KITAB…. :mrgreen:

    • doa di kuburan itu boleh bos
      ente kalo lewatin kuburan ga doain ahlul qubur ya?
      ente ga tau kalo Nabi nyuruh ente doain mereka tiap kali ente lewatin qubur?
      hehehe
      anak kemaren sore ngomong ilmiah
      ilmiah ndasmu :mrgreen:

    • tau ga ane copy paste dari mana?
      coba aja ente googling

    • nih, soal talqin di qubur menurut ibnu Taymiyyah

      [تَلْقِين الْمَيِّتِ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ دَفْنِهِ]
      سُئِلَ: مُفْتِي الْأَنَامِ، بَقِيَّةُ السَّلَفِ الْكِرَامِ، تَقِيُّ الدِّينِ بَقِيَّةُ الْمُجْتَهِدِينَ، أَثَابَهُ اللَّهُ، وَأَحْسَنَ إلَيْهِ. عَنْ تَلْقِينِ الْمَيِّتِ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ دَفْنِهِ، هَلْ صَحَّ فِيهِ حَدِيثٌ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. أَوْ عَنْ صَحَابَتِهِ؟ وَهَلْ إذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شَيْءٌ يَجُوزُ فِعْلُهُ؟ أَمْ لَا؟

      أَجَابَ: هَذَا التَّلْقِينُ الْمَذْكُورُ قَدْ نُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ: أَنَّهُمْ أَمَرُوا بِهِ، كَأَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، وَغَيْرِهِ، وَرُوِيَ فِيهِ حَدِيثٌ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَكِنَّهُ مِمَّا لَا يُحْكَمُ بِصِحَّتِهِ؛ وَلَمْ يَكُنْ كَثِيرٌ مِنْ الصَّحَابَةِ يَفْعَلُ ذَلِكَ، فَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ مِنْ الْعُلَمَاءِ: إنَّ هَذَا التَّلْقِينَ لَا بَأْسَ بِهِ، فَرَخَّصُوا فِيهِ، وَلَمْ يَأْمُرُوا بِهِ. وَاسْتَحَبَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَكَرِهَهُ طَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ، وَغَيْرِهِمْ.
      وَاَلَّذِي فِي السُّنَنِ: عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَّهُ كَانَ يَقُومُ عَلَى قَبْرِ الرَّجُلِ مِنْ أَصْحَابِهِ إذَا دُفِنَ، وَيَقُولُ: سَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ، وَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: لَقِّنُوا أَمْوَاتَكُمْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ . فَتَلْقِينُ الْمُحْتَضَرِ سُنَّةٌ، مَأْمُورٌ بِهَا.
      وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ الْمَقْبُورَ يُسْأَلُ، وَيُمْتَحَنُ، وَأَنَّهُ يُؤْمَرُ بِالدُّعَاءِ لَهُ؛ فَلِهَذَا قِيلَ: إنَّ التَّلْقِينَ يَنْفَعُهُ، فَإِنَّ الْمَيِّتَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ. كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ: إنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ. وَأَنَّهُ قَالَ: مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ ، وَأَنَّهُ أَمَرَنَا بِالسَّلَامِ عَلَى الْمَوْتَى. فَقَالَ: مَا مِنْ رَجُلٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ الرَّجُلِ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إلَّا رَدَّ اللَّهُ رُوحَهُ حَتَّى يَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.

  45. PERKATAANMU KEBODOHANMU

  46. mbok ya belajar…..biar tau apa itu tahli, Yasin, Wirid….
    jadi wahabi kok malah blo’on aja. seharusnya nambah pinter. eeee keblinger

    😛 😛

  47. anak-anak wahabi makin lama makin nggak jelas…..

    masak orang yang meninggal tidak usah didoakan…?

    “MAKSUD IBNU TAIMIYYAH, DO’ANYA KAGAK DI kuburan kaya ente-ente ntuh….”

    emangnya kita tidak perlu berziarah, dan emangnya ketika ziarah kita tidak berdoa?

    makin lama kain tak tentu rudu (bahasa melayu) 🙂

  48. @Ibnu Abdillah

    berdiskusilah dengan adab diskusi seperti salafussaleh, buka mata dan hati serta fikiran ente biar dapat hidayah tanpa mengkafirkan atau memusyrikkan sesama muslim.

    tunjuukan hujjag ente dan golongan ente, kalo tidak punya hujjah cari dan tanya ama syekh ente atau ajak aja syekh ente kemari saya ingin belajar dari mereka juga.

    jika tidak punya hujja sama sekali lebih baik diam dan jadilah penonton yang baik, serap yang menurut ente benar.

  49. all salafywahabi

    mari kita cermati hadis ini

    Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim 1674)

    semoga menjadi renungan bagi yang mengharamkan tahlilan

  50. @all salafywahabi

    mari cermati hadis ini,

    Dari Ma’qil bin Yasar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bacakanlah surat Yaasiin atas orang yang meninggal di antara kalian.” (HR Abu Daud, An-Nasaa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

    Jantungnya Al-Quran adalah surat Yaasiin. Tidak seorang yang mencintai Allah dan negeri akhirat membacanya kecuali dosa-dosanya diampuni. Bacakanlah (Yaasiin) atas orang-orang mati di antara kalian.” (Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

    Hadits ini dicacat oleh Ad-Daruquthuny dan Ibnul Qathan, namun Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkannya.

    Adalah Ibnu Umar ra. gemar membacakan bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah di atas kubur sesudah mayat dikuburkan. (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan).

    jadi memabca yasin dan membaca awal surat al Baqoroh pada ahli kubur adalah …………………….
    jawablah dengan hati yang jernih

  51. Ibnu Abdillah:
    TAHLIL-an woowww… paraaah bangeeud ye… Agama koq dimaen-maenin kaya:
    TAHLIL-an
    YASIN-an
    WIRID-an

    sekalian aje… Ibadah :

    MAIN-MAIN-an

    tunjukkan kami semua dalil2 larangan tahlilan dan yasinan. jangan koar2 seperti orang diterminal

    • dia bukan orang yg koar2 di terminal
      dia itu ngoceh ky orang mabok tentang ilmiah
      padahal dia sendiri yg ga ilmiah
      orang mabok mana ngerti tentang apa yg dia ocehkan

  52. Namanya juga Salafi = salah fikir, manusia mati bagai bangkai gak perlu didoain, lama-lama mayit dibuang kekali

  53. dalam kegiatan tahlil atau tahlilan biasa dilakukan dzikir dengan jahar. dzikir jahar adalah bidah menurut salafywahabi.

    coba kita lihat hadis ini
    Dalam sahih Bukhari dan Muslim disebutkan pada Bab Dzikir setelah shalat, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata
    أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ
    “Sesungguhnya mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang usai melaksanakan shalat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas menambahkan, ‘Aku mengetahui mereka selesai shalat dengan itu, apabila aku mendengarnya.”
    Masih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
    كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ
    “Aku megetahui selesainya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan takbir.” (HR. al-Bukhari)

    Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan, bahwa hadits ini adalah dalil bagi pendapat sebagian ulama salaf bahwa disunnahkan mengeraskan suara takbir dan dzikir sesudah shalat wajib. Dan di antara ulama muta’akhirin yang menyunahkannya adalah Ibnu Hazm al-Zahiri.

    hentikanlah membidahkan sesama muslim wahai saudaraku

  54. itulah pentingnya talaqqi pada guru yang bersanad, jika ada yang mengclaim Muhmmad Ibn Abd Wahab ulama bersanad tunjukkan sanad beliau.

    jadi ana dan aswaja disini bisa mempelajari sanad beliau.

    oh ya kita masih fokus pada topik Tahlilan ok

  55. yeee dibocah diskusi tuch berdua.. klo u jentel bukan di tempat dangkal gene.. :mrgreen:

    saya tunggu anda, 0898 819 2958

    • Ibnu Abdillah: yeee dibocah diskusi tuch berdua.. klo u jentel

      Diskusi berdua menunjukkan Nte pengecut, tidak berani terbuka. Takut kebongkar kesesatan n kemungkaran Wahabisme yg Nte ikuti ya?

  56. BLOG AHLUS SUNNAH ANTI SYIRK, BID’AH APALAGI SYI’AH :mrgreen:

    muslim.or.id
    firanda.com
    moslemsunnah.wordpress.com
    almanhaj.or.id
    abangdani.wordpress.com
    muslimah.or.id
    qaulan-sadida.blogspot.com
    zaenalabidin.org

    de el el

    SIAP BASMI SYIRIK 😎

    • Hi hi hi…. Bererikut ini adalah Blog penyebar aqidah bathil, yaitu aqidah Tauhid Trinitas Wahabi:

      Ibnu Abdillah: muslim.or.id
      firanda.com
      moslemsunnah.wordpress.com
      almanhaj.or.id
      abangdani.wordpress.com
      muslimah.or.id
      qaulan-sadida.blogspot.com
      zaenalabidin.org

      Wahabi harus dibasmi sampai akar2nya dg cara menggulingkan kerajaan Saudi Arabia. Sebab dari sanalah sejak Muhammad bin Abdul Wahhab mulai muncul fitnah dan terror aqidah. Jika Arab Saudi terguling kerajaannya, lalu dikuasai kaum muslimin, maka dunia Islam akan tenteram. Karena dari Najd Saudi inilah muncul fitnah Islam, demikian Nabi Saw pernah memperingatkan kaum muslimin akan muncul tanduk syetan Najd.

      Dan blog-blog di atas adalah penyambung lidah dari Fitnah Najd Saudi Arabia. Jangan terkecoh oleh blog yg mengatasnamakan Penegak Tauhid, tpi dalam prakteknya mereka meerusak Tauhid!

  57. @ibnu abdillah
    Ente yang gak gentle, ini pembahasan umum yang dibahas diforum, ente diskusi dah diblog ini supaya ente dihargai sama kedaleman ilmu ente. Tapi diskusi jangan keluarin kata2 kotor kalau dah kepepet, wajar2 deh seperti pengamat di TV. Cari deh topik yang ente anggap bid’ah, sehingga ente besok2 gak bilang bid’ah atau kafir lagi sama orang yang dah muslim

  58. kalau yasinan, tahlilan, shalawatan di anggap bid’ah terus apa ya yg di anggap sunnah? mungkin merakit bom ya & bikin teror disana sini lha wong syuhada nya aja osama bin ladien, kalo saya ikut yg ahli bid’ah wal jamaah aja deh. biar ndeso ya ndak pa2, I love ASWAJA, I Love Ulama klasik
    wahabi bukan memuliakan islam tapi malah menghinakan islam

  59. Abdullah:
    Apakah ada sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in yang melaksanakan sufi? Kalau gak ada, kok bisa ngaku2 bersanad sambung sampai ke Abu Bakar, malah ada yang berdusta melihat Nabi dalam keadaan jaga (yaqazah) dan dapat wirid zikir/shalawat. Imam Syafi’i berkata: “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum dhuhur ia menjadi orang yang dungu.”

    Ini akibat taklid buta ama website. Kagak bisa ngecek ke bukunya langsung. Di bukunya Manakib Imam As Asyafi’i ada penjelasannya bro. Ustadz-ustadz ente pada menyembunyikan penjelasan Imam Al Baihaqi bro…jangan mau dikibuli…

    Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)

  60. dalam acara tahlil/tahlilan selalu ada bacaan shalawat pada Nabi.

    mari kita cermati hadis ini

    ”Bahwasanya seutama-utama manusia (orang yang terdekat) dengan aku pada hari kiamat adalah mereka yang lebih banyak bershalawat kepadaku.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Hibban dari Ibnu Mas’ud ra).

    Berkata Ubay,” Wahai Rasulullah, aku memperbanyak bershalawat atasmu, lantas berapa kadar banyaknya shalawat yang sebaiknya aku lakukan?”
    Beliau saw menjawab,” Berapa banyaknya terserah padamu.”
    Ubay berkata,” Bagaimana kalau seperempat (dari seluruh doa yang aku panjatkan)?”
    Beliau menjawab,” Terserah padamu. Tetapi jika engkau menambah maka akan lebih baik lagi.”
    Ubay berkata,” Bagaimana jika setengah?”
    Beliau saw menjawab,” Terserah padamu, tatapi jika engkah menambah maka akan lebih baik lagi.”
    Ubay berkata,” Bagaimana jika duapertiga?”
    Beliau saw menjawab,”Terserah padamu, tetapi jika engkau menambah maka akan lebih baik lagi.”
    Ubay berkata,” Kalau demikian maka aku jadikan seluruh doaku adalah shalawat untukmu.”
    Bersabda Nabi saw,” Jika demikian halnya maka akan tercukupi segala keinginanmu dan diampuni segala dosamu.”

    jangan2 salafiwahabi melarang orang bersalawat berjamaah

    ana off dulu

    mau YASINAN DAN TAHLILAN DI MALAM JUMAT

    sykron

  61. Krongthip Mahalakorn

    Abu Umar:
    Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hadid : 4)
    *******************************************************************************
    Keterangan diatas adalah terjemahan dari firman Allah, dan wajib kita beriman dengannya.

    Di bawah sini kenyataan Abu Umar
    Abu Umar says:
    October 6, 2011 at 8:48 am

    Yang bilang Allah wujud di mana2 Siapa? bukane ente sendiri yang bilang. Sudah Sangat2 jelas bahwa Allah bersemayam di Arsy. Langit tingkat ke 7.
    *****************************************************************************
    Berkaitan dengan itu ane ada satu soalan. Pohon ikhwan Ubu Umar atau siapa2 dari kalangan Wahhabiyun yang sama fahaman dengan Abu Umar tolong beri jawapannya.

    Soalannya:- Sebelum Allah mencipta Arsy di mana Allah bersemayam ?

    ***Bersemayam – quotatation Mr. Abu Umar. (Istiwa ada 15/16 pengertian)

    @ anak dan ibu Adillah

    Ane pernah mendengar ucapan Buya HAMKA suatu waktu( sudah lama )dulu.

    Katanya, ” Kalo hati kita kosong maka syaitan akan memenuhi hati itu”
    katannya lagi, ” oleh itu penuhkan hati kita dengan zikir dan bila hati
    dipenuhi zikir maka syaitan tidak akan dapat menakluk hati
    kita”

    Dulu ane kagum sama Buya dan banyak juga bukunya ane baca. Sekarang udah ane ketepikan cuma yang masih ada bukunya mengenai soal jawab agama.
    Makanya kalolah tidak wiridan, yasinan,tahlilan ertinya sebagian aktivitas zikir sudah ditinggalkan. Sedang Rasulullah s.a.w.sendiri berwirid selepas solat. Salah satu doa dalam wirid yang disyorkan ialah Allahommatassalam….. kemudian baginda juga membaca ayat akhir dari surah At Taubah dan banyak lagi. Kepada Muaz bin Jabar dan sahabat2 lain banyak baginda ajarkan wirid2.

    Ane sesungguhnya ikut berdiskusi semoga ikhwan berfahaman Wahhabi “retreat”. Tinggalkan ajaran si Ibnu Wahab yang bersambung keturunannya dengan Zul Khawaisarah yang mengejek baginda Nabi s.a.w. Sepatutnya semakin banyak antum wahhabi belajar semakin baik tetapi kontadiksi pula jadinya. Fikirannya Jumud hatinya langsong mati sepertimana firman Allah dalam surah Al-baqoroh ayat 7. Seenaknya antum memvonis sesat, bidaah atau kafir. Antum menolak sufi ertinya antum menolak tassauf sedangkan tassauf adalah satu disiplin Ilmu dalam Islam seperti juga Ilmu Tauhid.
    Islam terbahagi kepada tiga disiplin ilmu utama = Fiqh . Usuluddin dan Tassauf. Disiplin ini dibahagikan oleh ulama bagi memudahkan pembelajaran
    supaya ytidak belajar kusir kayak golongan antum.
    Cukup setakat ini dahulu… kalau banyak nanti antum lagi bingong sekarangpun bingong masih ga hilang lagi.

  62. Ane sambung buat @abdullah n wahabiyun:
    Pada surat At Taubah : 106 : “Dan katakanlah (hai muhammad) Hendaklah kalian berbuat. Allah swt dan RasulNya serta kaum muslimin akan melihat perbuatan kalian”.
    Ibnu Katsir menerangkan bahwa amal amal perbuatan orang2 yang masih hidup diperlihatkan kepada sanak kerabat yang telah meninggal dunia. Dan dilanjutkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath Thayalisiy berasal dari Jabir ra, bahwa Rasulullah bersabda :” Amal perbuatan kalian akan diperlihatkan kepada sanak keluarga dan kaum kerabat. Jika amal kalian baik mereka menyambutnya dengan gembira. Jika kalian sebaliknya mereka berdoa: Ya Allah berilah mereka ilham agar mereka berbuat baik dan Taat kepadaMu”.
    Masih banyak lagi hadist yang menerangkan bahwa Orang yang telah meninggal itu tidak melihat kita yang masih hidup.

  63. ente ama ustadz2 ente yg ngeblog itu sama2 ga berani diajak diskusi seperti ini

    diskusi terdokumentasi spt ini sangat tdk menguntungkan bg wahhabi
    bisa kebongkar semua belang mereka

    tp kalo via telephon, kalo kalah, aman
    orang lain ga ada yg tau

    ustadz2 ente itu cuma berani ngendon di webnya dg moderasi maksimal

    coba liat web majelisrasulullah.org
    dah ribuan pertanyaan dijawab, termasuk soal wahhabi, syi’ah, dan kristen

    liat juga blog ini, yg menerapkan moderasi minimal
    hampir semua komentar ditampilkan
    termasuk komentar orang mabok ky ente

    kalo di blog ane, mungkin dah ane delete
    soalnya ga ilmiah :mrgreen:
    kalo pun ane tampilin, paling buat lucu2an aja

    selama ente komentar di blog ane dg ilmiah dan ga muter2, insya Allah ane tampilin dan ane tanggepin
    tapi kalo dah mulai muter2 ky keledai di penggilingan, mohonmaaf.com, langsung saya lempar ke tong sampah

  64. abdullah dah stress ngadepin Ahlus Sunnah di sini
    akhirnya manggil ibu dan anaknya yg masih dlm keadaan teler untuk ngoceh di sini :mrgreen:

  65. Coba Kalian renungkan ayat ini, Kalian maknai apa?

    (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .
    (QS. Thaha : 5)
    Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
    (QS. Yunus : 3)
    Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy , Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia.
    (QS. Al-Furqan : 59)
    “Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku”.
    (QS Al-Mulk : 16-17)

    Jawab maksud ayat ini bagaimana? pemahaman ‘Arsy itu apa?

    JANGAN MENGALIHKAN PERHATIAN DENGAN PERKARA LAIN.. APA ITU ‘ARSY?

  66. Imam Malik mengimani sifat ‘Allah istiwa di atas arsy’ tetapi haqiqat dari sifat tsb beliau serahkan kpd Allah.

    Sekarang Anda membolehkan ta’wil ga?

  67. @ABU UMAR
    antum debat disini gag ada manfaat, antum buka kitab ratusan juta dari kitab ulama’ mereka kagak denggeeeer.. mereka adalah “Dholu wa ‘ad dholun” sesat dan menyesatkan…

    BUKTINYA diajak debat berdua… belom dicoba belom ditelp… eh udah prasangka aja.. takut ‘wahabiyyin kalah kagak ketauan lah”’ INIKAH PERKATAAN nafsu karna Dzan berasal dari syaithan.. :mrgreen: klo gitu gw juga bisa ahhh.. pengecut dund diajak jentel-jentelan kagak berani… dimana-mana yang namanya jentel ntu ONE BY ONE… bukan kaya MANGGUNG DANGDUT DITONTON ORANG :mrgreen:

    • lucu… kalau ngajak debat berdua itu jangan ditelepon om, ngabisin pulsa, kalau one by one semua aswaja udah lakukan ama wahabi…tetapi wahabinya banyak ngumpet.

      Lah dari situs2 situs aja ketahuan merekalah yang pengecut, wong komentar aswaja banyak yang dihapus dan tidak ditampilin….. bagaimana mau one by one…..

      udah deh jangan banyak ngeles….. kalau mau diskusi ya diskusi aja, jangan banyak ngeles, kemana-mana, kalau udah kalah hujah banyak omongnya.

  68. yang mengalihkan perhatian itu siapa?

    coba ente liat topik artikel diatas “Fakta Mengejutkan Tentang Tahlilan yang Dianggap Haram Oleh Salafi Wahabi”

    kalaupun bloger ummati menanggapi masalah yang ente maksud itu sekedar menghormati pengunjung blog ini.

    kalo ente konsisten mari diskusi dengan topik yang ada spt diatas secara tuntas

    kalo ente mau melanjutkan topik istiwanya Allah saran ane masuk aja dimari http://ummatipress.com/2011/09/12/jawaban-buat-seseorang-yang-mengaku-sedang-mencari-aswaja-yang-benar/
    atau blog ini http://allahadatanpatempat.blogspot.com/2010/03/allah-ada-tanpa-tempat-membongkar.html

  69. mereka ini melarang ta’wil
    tapi dr kmrn smp hari ini mereka selalu mena’wil istiwa dg berada, bersemayam, dsb. Itu ta’wil yg bathil.

  70. Nih saya kasih tahu masalah istiwa di atas arsy :

    Mayoritas ulama salaf mengatakan bahwa ini ayat mutasyabihat.

    1- Tafsir al Qurtubi

    (ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

    2- Tafsir al-Jalalain

    (ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

    3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

    makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…

    yang menafsirkan secara zhahir itu hanya Ibnu taimiyah dan pengikutnya.

  71. Tentang firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i berkata:

    إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)

    “Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak –secara mendetail– membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam– adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

  72. YAH bocah dikate 😕
    mentang-mentang gw ngasih no.telepon.. disangka debat ditelepon… dasar cetek pikiran..

    klo ente debat berdua tatap muka… itu lebih baik… diperpustakaan islam terbesar asia tenggara… :mrgreen:

    sopo ndo nyang ngeleeess.. sopo sing pengecut :mrgreen:

    • diskusi di perpus? Emang bisa? Apa terdokumentasi?
      Mending di sini. Langsung terdokumentasi dan disaksikan banyak orang.

  73. saya tdk memfitnah atau pun membunuh karakter Abdullah

    kenyataannya, Abdullah berkata bhw Allah BERADA di langit.

    Jadi jangan bilang bhw Anda beri’tiqad ‘Allah wujud tanpa tempat’

  74. soal diskusi di telepon, itu bukan zhan. Tapi fakta. Diskusi di telepon itu memang tak terdokumentasikan. Jadi kalo kalah, ga ada bukti.

  75. Sekarang saya bertanya kepada pengikut wahabi, Allah itu mempunyai batas atau ?

    Kalau dia berada pada suatu arah, diatas misalnya, maka Dia terbatas, dan mempunyai batas, karena arah telah membatasinya.

    Kami beriman pada Zat Allah yang tiada batas, bentuk dan ukuran sebagaimana Imam Syafei beriman “meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

    Kami beriman pada sifat istiwa Allah dn sifat Ulluw, ketinggian Allah yang diungkapkanNya dengan ungkapan diatas langit.

    Al-Bayhaqi dalam al-Asma’ wa al-Sifatnya telah pula menyatakan:

    “Abu al-Hasan `Ali al-Ash`ari mengatakan Allah Maha Tinggi mengakibatkan sebuah perbuatan sehubungan dengan arsy, dan Dia menamai perbuatan itu istiwa, sebagaimana Dia mengakibatkan perbuatan-perbuatan lain sehubungan dengan hal-hal lain, dan Dia memberi nama perbuatan itu sebagai rizq, ni’mat, atau perbuatan lain dari –Nya. ( al-Asma’ wa al-Sifat jilid 2 hal:308)
    Al-Tabari dalam Tafsirnya, ketika menafsirkan ayat

    ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

    “Kemudian Dia menuju kepada (thumma istawa) langit dan dijadikan-Nya tujuh langit “(Al-Baqarah :29)

    menyatakan ;

    “Arti istiwa pada ayat ini adalah ketinggian (‘uluw) dan ditinggikan… tetapi jika orang mengklain bahwa ini berarti prepindahan untuk Allah, katakana padanya: Dia Maha Tinggi dan Ditinggikan atas langit dengan ketinggian dari kekuasaan dan kekuatan, bukan ketinggian dari perpindahan dan pergerakan ke sana dan ke sini”.

    Al-Baihaqi mengutip pernyataan salah satu pengikut Asy’ariah, Abu al-Hasan `Ali ibn Muhammad ibn Mahdi al-Tabari dalam bukunya Ta’wil al-Ahadith al-Mushkalat al-Waridat fi al-Sifat (“Penafsiran atas Riwayat yang Sulit mengenai Sifat (Allah), dimana telah dinyatakan :

    “Allah di atas segala sesuatu dan menetap di atas Arsy dalam arti bahwa Dia Ditinggikan atasnya, arti dari istiwa’ adalah Pengangakatan-Diri (i`tila’).”(al-Bayhaqi, al-Asma’ wa al-Sifat jilid 2 hal:308)
    Ini adalah interpretasi yang paling diterima di kalangan Salaf; Al-Baghawi mengatakan bahwa ayat, “Ar-Rahman alal arsy istawa” (20:5) menurut Ibn Abbas dan kebanyakan mufasir Quran adalah “Dia mengangkat Diri-Nya Sendiri” ” (irtafa`a) (Ibn Hajar dalam Fath al-Bari jilid 13 hal:409)

    Ini adalah penafsiran yang dikutip dari al-Bukhari dalam Sahih dari Tabi’in Rufay` ibn Mahran Abu al-`Aliya (w. 90H). Al-Bukhari juga mengutip dari Mujahid (w. 102H) penafsiran “menaikan” atau “mengangkat Diri-Sendiri ke atas” (`ala). Ibn Battal menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah sikap dan perkataan yang benar dari Ahlu Sunah, karena Allah menyatakan Diri-Nya Sendiri sebagai Al-‘Ali,Yang Maha Ditinggikan” (2:255), dab berfirman: “maka Maha Tinggilah Dia (Ta’ala) dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 23:92)” (Ibid hal 446)

    adapun ayat yang termaktub dalam Toha : 5

    ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

    telah pula dikomentari oleh Al-Nawawi dalam al-Majmu` Sharh al-Muhadhzab sbb;

    “Kami percaya bahwa “Ar-Rahman bersemayam atas arsy”, dan kami tidak tahu hakikat dan apa yang dimaksud (la na`lamu haqiqata mi`na dhalika wa al-murada bihi), pada saat yang sama kami percaya bahwa “tidak ada yang serupa dengan-Nya” (42:11) dan Dia Maha Tinggi di atas semua makhluk yang ditinggikan. Ini adalah jalan Salaf atau paling tidak mayoritasnya, dan inilah jalan paling selamat karena tidak perlu untuk membahas terlalu dalam masalah-masalah semacam ini”. (al-Majmu` Sharh al-Muhadhdhab jilid 1 hal:25)

    Adapun penafsiran istiwa sebagai duduk (julus), hal ini dinyatakan dalan buku yang dinisbatkan kepada `Abd Allah ibn Ahmad ibn Hanbal berjudul Kitab al-Sunna pada hal: 5, 71), telah dinyatakan :

    “Adakah makna lain dari bersemayam (istiwa’) selain duduk (julus)?” “Allah SWT duduk di atas Kursi dan menetap di sana hanya 4 langkan yang kosong”.

    Al-Khallal dalam Kitab al-Sunna juga telah menyatakan, menyatakan baransiapa yang menolak bahwa “Allah duduk di atas kursi dan terdapat jarak langkah yang kosong” adalah kafir. (Kitab al-Sunna hal :215-216)

    Bahkan `Uthman al-Darimi bahkan mengatakan lebih jauh, “Jika Dia berkehendak, Dia bahkan bisa duduk di atas kutu ….., apalagi Arsy yang besar”. Ibn Taymiyya dan Ibn al-Qayyim mendukung pandangan ini.(al-Sunna hal :215-216)
    Ibn Taimiyyah telah mendaulatkan pula hal ini, dengan melafadzkannya dalam Majmu’ Fatawa Jilid 4 hal : 374, bahwasanya Allah SWT “duduk” di arsy

    Al-Kawthari telah menulis dalam Maqalat :

    “Siapa saja yang membayangkan Tuhan kita duduk di atas kursi, dan meninggalkan tempat kosong di sampingnya untuk Rasul-Nya duduk, dia telah mengikuti kaum Nasrani yang percaya bahwa Isa AS diangkat ke langit dan duduk di samping Bapanya – Allah ditinggikan dari persekutuan yang mereka sifatkan kepada-Nya” (Maqalan hal 137)

    Ini disamakan dengan Aqidah daripada kaum kafir, yang juga menyatakan bahwa “tuhan itu duduk” di atas kursi, yang terdapat dalam kitab kaum kafir pada nom ayat 7 :

    “الله جالس على الكرسي العالي” (اش 6 :1-10

    Kata kufur tersebut bermaksud :

    “Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.

    dan juga seperti apa yang tertera pada kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nombor 19-20, sbb ;

    قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسًا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عنيمينه و عن يساره

    Kata-kata kufur Yahudi tersebut bermaksud :

    “Berkata : Dengarlah akan engkau kata-kata tuhan, telahku lihat tuhan duduk di atas kursi dan kesemua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .

    Wallahu a’lam.

    Allahumma shali ‘alaa Muhammad wa aali wa shahbihi wa salim.

    lihat http://hujjatussyafiiyyah.blogspot.com/2009/01/istiwa-dan-pembahasannya.html

  76. anaknye abdillah yg masih ingusan, baca komentar mas dianth
    tanggepin tuh pake kitab yg ada di perpustakaan terbesar ente

  77. Maka siapa memberikan Arah atau tempat bagi Allah berarti dia telah membatasi Allah.

    Adapun makna ketinggian Allah itu yang diungkapkan dengan perkataan diatas langit, diatas langit ketujuh, diatas arsy…. dsbnya. itu semua bukanlah dalam arian diatas secara zhahir yaitu arah bagi ZatNya, tetapi adalah ungkapan maknawi :

    Ahli tafsir terkemuka di kalangan Ahlussunnah, al-Imâm al-Mufassir Muhammad ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya yang sangat terkenal; al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, menuliskan sebagai berikut:

    “Nama Allah “al-‘Aliyy” adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan bukan dalam pengertian ketinggian tempat, karena Allah maha suci dari bertempat” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 3, h. 278, dalam QS. al-Baqarah: 255).

    Pada bagian lain dalam kitab yang sama al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

    “Makna Firman-Nya: “Fawqa ‘Ibadih…” (QS. al-An’am: 18), adalah dalam pengertian fawqiyyah al-Istila’ bi al-Qahr wa al-ghalabah; artinya bahwa para hamba berada dalam kekuasaan-Nya, bukan dalam pengertian fawqiyyah al-makan, (bukan dalam makna bertempat di atas)” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 6, h. 399, dalam QS. al-An’am: 18).

    Kata “fawq” dalam makna zahir berarti “di atas”, dalam penggunaannya kata fawq ini tidak hanya untuk mengungkapkan tempat dan arah atau makna indrawi saja, tapi juga biasa dipakai dalam penggunaan secara maknawi; yaitu untuk mengungkapkan keagungan, kekuasaan dan ketinggian derajat. Kata fawq dengan disandarkan kepada Allah disebutkan dalam al-Qur’an dalam beberapa ayat, itu semua wajib kita yakini bahwa makna-maknanya bukan dalam pengertian tempat dan arah. Di antaranya dalam firman Allah:

    وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ (الأنعام: 18)

    Pengertian fawq dalam ayat ini ialah bahwa Dia Allah yang maha menundukan dan maha menguasai para hamba-Nya. Kata fawq dalam ayat ini bukan untuk mengungkapkan bahwa Allah berada di arah atas dari hamba-hamba-Nya.

    Al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bâri menjelaskan bahwa pemaknaaan seperti itu; yaitu makna menguasai dan menundukan serta ketinggian derajat, adalah makna yang dimaksud dari salah salah satu sifat Allah; al-‘Uluww. Dan inilah makna yang dimaksud dari firman Allah:

    سَبِّحِ اسْمِ رَبِّكَ اْلأَعْلَى (الأعلى: 1)

    juga yang dimaksud dengan firman-Nya:

    وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (اابقرة: 255)

    Karena makna al-‘Uluww dalam pengertian indrawi, yaitu tempat atau arah atas hanya berlaku pada makhluk saja yang notabene sebagai benda yang memiliki bentuk dan ukuran, tentunya hal itu adalah suatu yang mustahil bagi Allah. Dengan jelas tentang hal ini Ibn Hajar menuliskan: “Sesungguhnya mensifati Allah dengan sifat al-‘Uluww adalah dalam pengertian maknawi, karena mustahil memaknai al-‘Uluww (pada hak Allah) dalam pengertian indrawi. Inilah pengertian sifat-sifat Allah al-‘Âli, al-‘Alyy, dan al-Muta’âli”.

    Pada halaman lain dalam kitab yang sama, al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan alasan mengapa para ulama sangat keras mengingkari penisbatan arah bagi Allah, adalah tidak lain karena hal itu sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan sesungguhnya Allah mustahil membutuhkan kepada tempat, karena Dia bukan benda yang memiliki bentuk dan ukuran, dan Dia tidak boleh disifati dengan sifat-sifat benda.

    • Bukankah Allah sendiri menunjukkan di dalam Qur’an, bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy? Apakah itu tidak jelas? Siapa yang membatasi? Allah kan yang menunjukkan di dalam ayat2 -Nya. Kecuali kalau ente tidak menerima ayat2 itu.

  78. coba dijawab ama pengikut wahabi…

    Allah itu diatasi oleh arah atau tidak?

    Zat Allah itu mempunyai ukuran dan bentuk atau tidak?

    Arah dan tempat itu apakah mahluk yang diciptakan atau tidak?

  79. coba dijawab ama pengikut wahabi…

    Allah itu dibatasi oleh arah atau tidak?

    Zat Allah itu mempunyai ukuran dan bentuk atau tidak?

    Arah dan tempat itu apakah mahluk yang diciptakan atau tidak?

  80. @Ibnu Abdillah

    Ibnu Abdillah:
    @ABU UMAR
    antum debat disini gag ada manfaat, antum buka kitab ratusan juta dari kitab ulama’ mereka kagak denggeeeer.. merekaadalah “Dholu wa ‘ad dholun” sesat dan menyesatkan…

    BUKTINYA diajak debat berdua… belom dicoba belom ditelp… eh udah prasangka aja.. takut ‘wahabiyyin kalah kagak ketauan lah”’ INIKAH PERKATAAN nafsu karna Dzan berasal dari syaithan.. klo gitu gw juga bisa ahhh.. pengecut dund diajak jentel-jentelan kagak berani… dimana-mana yang namanya jentel ntu ONE BY ONE… bukan kaya MANGGUNG DANGDUT DITONTON ORANG

    tunjukkan pada kami larangan2 tahlilan dan yasinan, janganlah ente menghukumi sesat (kafir) sesama muslim jika ente belum menunjukkan dalil2 larangan2 yang mengharamkan amalan tahlilan dan yasinan.

    bersumpahlah ente dengan nama Allah jika kami-amalan kami sesat, musyrik dan tidak sesaui as sunnah maka Allah akan menhancurkan kami- dan ente benar2 sesuai assunah dalam berhujjah dan beribadah semoga Allah membalas seadil2 nya . dan sebaliknya anapun bersumpah demikian.

  81. nah, mas dianth sudah berhujjah pake ilmu
    ane ga tambain dulu deh
    percuma ane tambain
    wahhabi ga bakal denger :mrgreen: (ky omongan siapa ya? :mrgreen: )

    silahkan @anak ingusan
    jawab pake ilmu
    jangan ngoceh ky orang mabok

  82. Bukankah ayat2 di Qur’an di jelaskan bahwa Allah bersemayam di ‘Arsy. Dilangit.
    Adapun BAGAIMANA CARA bersemayamnya (istiwa’) dzat Allah kita tidak mengetahui. (Apakah duduk, berdiri, ataupun bagaimana kita tidak tahu). Jelaskan? Adapun bentuk Allah bagaimana, kita tidak tahu.

    Bukankah kalian itu mengimani bahwa Allah itu bersemayam di atas ‘Arsy?

    • Bersemayam adalah sebuah bentu atau kaifiyah.

      Bukan ‘bagaimana bentuknya’ yang kita ingkari, tetapi’ bentuk’ itu yang ingkari dari Allah.

      Karena bagaimanapun bentuk, tetaplah bentuk, dan bentuk dalam makna bahasa adalah batasan dan ukuran.

      Bukankah Allah tidak serupa dengan segala sesuatu yang mempunyai ukuran, dan Allah tidak punya ukuran, karena Allah tidak serupa dengan segala sesuatu.

      memberikan bentuk dan ukuran bagi Allah berarti telah membatasiNya. Maha suci Allah dari segala batasan dan ukuran.

      Dan Kami tetap beriman dengan ‘istiwa Allah diatas arsy’ dengan makna yang sesuai dengan keagungan dan kebesaranNya yang tidak mempunyai batas dan ukuran.

      • Kalau gt maksud ente bersemayam itu apa? bagaimana dengan hadits Rasullulloh yang menanyakan di mana Allah. di mana-nya itu ente ingkari maksudnya.

  83. @ diath

    Intinya ente itu tidak mengetahui apa itu ‘Arsy. Pemahaman ente itu, ‘Arsy seperti apa?

  84. Abu Umar:
    Bukankah ayat2 di Qur’an di jelaskan bahwa Allah bersemayam di ‘Arsy. Dilangit.
    Adapun BAGAIMANA CARA bersemayamnya (istiwa’) dzat Allahkita tidak mengetahui. (Apakah duduk, berdiri, ataupun bagaimana kita tidak tahu). Jelaskan? Adapun bentuk Allah bagaimana, kita tidak tahu.

    Bukankah kalian itu mengimani bahwa Allah itu bersemayam di atas ‘Arsy?

    Yang penting ente dah mengakui klo memahami ayat-ayat istiwa dengan Allah bertempat kusus di atas makhluknya itu adalah takyif. Dan itu Dholall. Silahkan direnungkan.

  85. sip…sip… thanks pencerahannanya ummati…

    Welcome back UmmatiPress ….. :mrgreen:

  86. Abu Umar:
    Sufi : untuk mempelajari tauhid kita harus melebur dulu ke dalam tauhid?

    Ahlus Sunnah : Kalau mempelajari iblis?

    Sufi : Masa ente ga tau, itu ungkapan.

    Ahlus Sunnah : ooo.. ungkapan? jadi ungkapanya untuk mempelajari iblis ya harus melebur jadi iblis gt?

    Sufi : betul-betul-betul. Begitu pula mempelajari Syetan, ya harus melebur jadi syetan dulu. ingat lho itu ungkapan. Yang penting di hati.

    Ahlus Sunnah : ooo.. jadi ungkapannya itu di jalankan di hati ya. Caranya gmn coba? setiap orang kan beda-beda isi hatinya.

    Sufi : Ya pokoknya turuti apa suara hati kalian.

    Ahlus Sunnah : Kalau suara hati kita itu untuk berbuat kemaksiatan gmn?

    Sufi : Ya harus kita turuti, mungkin di balik kemaksiatan ada kebaikan.

    Ahlus Sunnah : Bener2 orang aneh Si Sufi ini,,

    omongan orang nggak punya pedoman ……….cerita fiktif yang berbau fitnah semoga nt di beri hidayah ………….olehNya …

  87. Bismillaah,

    Kebanyakan umat Islam Indonesia melaksanakan tahlilan. Bukannya berkah makin mudah dilimpahkan dari langit dan bumi, tapi malah makin sulit. Bila hujan turun, banjir di mana-mana. Bila datang musim kemarau, air sumur kering. Tanaman di sawah dan kebun jadi mati.

    Orang-orang pada tahlilan di dekat Lumpur Lapindo, tapi lumpur bukannya berhenti menyembur, malah makin meluas semburannya.

    Apakah karena tahlilan itu amalan orang Hindu yang dimasukkan ke dalam Islam sehingga Allah tidak ridho? Bila menyimak ceramah Ustadz Abdul Aziz yang mantan brahmana, indikasinya memang mengarah ke sana.

    Wallaahu a’lam.

  88. Untuk yg masih bangga (sombong, red) sama paham Salafi/Wahabinya yg katanya mengikuti manhaj Salafunash sholeh dan bersandar pada Al-Qur’an dan sunnah2 Rasulullah SAW. Maka pantaskah ungkapan2 ini keluar :

    Melakukan penghinaan tanpa dasar yg jelas, dan menarik kesimpulan asal goblek…

    Ibnu Abdillah:
    TAHLIL-an woowww… paraaah bangeeud ye… Agama koq dimaen-maenin kaya:
    TAHLIL-an
    YASIN-an
    WIRID-an

    sekalian aje… Ibadah :

    MAIN-MAIN-an

    Ini sama juga, mengambil kesimpulan tanpa dasar (sungguh ter…la…lu…)

    ummu Abdillah:
    Sufi+syiah+jil=Aswaja, jujur ini menurut pengamatan saya sendiri.

    Ini lebih parah, kagak tau Sufi tapi menghujat abis2an sampe ngatain Sufi kayak orang gila. Die kagak tau, sekarang banyak eksekutif2 yg gawe di perkantoran itu mengikuti ajaran2 Sufi (kasian deh lo…..)

    Ibnu Abdillah:
    yahh.. PAKE SUFI Lah dianggep ASWAJA SUFI ntuh.. . same ajach SUmpek FIkiran, tiap hari kaya orang gila…

    LAH SYI’AH dianggep aswaja..JELAS-JELAS KAFIR… you orang tau gak ASWAJA APE..?? ASWAJA, disingkat ama orang bodoh…. sebenernya singkatan dari AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH lah WONG syi’ah ajach KAGAK MAU di CAP AHLUS SUNNAH e elu… malah bilang syiah ahlussunnah wal jamaah.

    ADE LAGI JIL HEEEEEEEE HEEEE JARINGAN IBLIS MBA…

    Ini malah makin ngaco, maksudnya mo ngelawak yee…ape mo jadi biro jodoh mas…???

    Ibnu Abdillah:
    OH YA.. jika ada janda sekedar sharing… DICARI oleh Ikhwan untuk jadi istri ke 2. ini beneran… ditunggu ya..

    Lagi…lagi..lagi….HUJATAN dari seorang Jama’ah yg katanya mengikuti Salafunash Sholeh…

    Ibnu Abdillah:
    PERKATAANMU KEBODOHANMU

    Terbukti kan, mereka tuh hobinya cuma ngatain Bid’ah, Kafir, Sesat….

    Ibnu Abdillah:
    @ABU UMAR
    antum debat disini gag ada manfaat, antum buka kitab ratusan juta dari kitab ulama’ mereka kagak denggeeeer.. merekaadalah “Dholu wa ‘ad dholun” sesat dan menyesatkan…

    Hu..hu..hu…ngatain melulu sih bisanya…

    Ibnu Abdillah:
    YAH bocah dikate
    mentang-mentang gw ngasih no.telepon.. disangka debat ditelepon… dasar cetek pikiran..

    So, kesimpulannye silahkan dikaji lagi apakah masih pantas Akhlaq yg kayak begini disebut bermanhaj Salafi yaitu pengikut para Ulama-ulama terdahulu. Hah….Ulama terdahulu mah Akhlaqnya bagus-bagus, terutama Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Nah antum jadinye ngikutin Ulama terdahulu yg mane nih…..???

  89. Duh, males banget sama para cheerleader yang tidak berilmu tapi ngocehnya paling banyak, menuh2in thread aja.

    Ok, sekarang saya sadurkan tahlilan dan selamatan menurut mazhab Syafi’i:

    1. Pendapat Imam As-Syafi’i rahimahullah.
    Imam An-Nawawi menyebutkan di dalam Kitabnya, SYARAH MUSLIM, demikian. “Artinya : Adapaun bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi….
    Sedang dalilnya Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, yaitu firman Allah (yang artinya), ‘Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri’, dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya), ‘Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang shaleh (laki/perempuan) yang berdo’a untuknya (mayit)”. (An-Nawawi, SYARAH MUSLIM, juz 1 hal. 90).
    Juga Imam Nawawi di dalam kitab Takmilatul Majmu’, Syarah Madzhab mengatakan. “Artinya : Adapun bacaan Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit tsb, menurut Imam Syafi’i dan Jumhurul Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi, dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim”. (As-Subuki, TAKMILATUL MAJMU’ Syarah MUHADZAB, juz X, hal. 426).
    (menggantikan shalatnya mayit, maksudnya menggantikan shalat yang ditinggalkan almarhum semasa hidupnya -pen).
    2. Al-Haitami, di dalam Kitabnya, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, mengatakan demikian.
    “Artinya : Mayit, tidak boleh dibacakan apa pun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari Ulama’ Mutaqaddimin (terdahulu), bahwa bacaan (yang pahalanya dikirmkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkan firman Allah (yang artinya), ‘Dan manusia tidak memperoleh, kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri”. (Al-Haitami, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, juz 2, hal. 9).
    3. Imam Muzani, di dalam Hamisy AL-UM, mengatakan demikian. “Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan sebagaimana yang diberitakan Allah, bahwa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya amalan adalah untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain”. (Tepi AL-UM, AS-SYAFI’I, juz 7, hal.262).
    4. Imam Al-Khuzani di dalam Tafsirnya mengatakan sbb. “Artinya : Dan yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, bahwa bacaan Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi”. (Al-Khazin, AL-JAMAL, juz 4, hal.236).
    5. Di dalam Tafsir Jalalaian disebutkan demikian. “Artinya : Maka seseorang tidak memperoleh pahala sedikitpun dari hasil usaha orang lain”. (Tafsir JALALAIN, 2/197).
    6. Ibnu Katsir dalam tafsirnya TAFSIRUL QUR’ANIL AZHIM mengatakan (dalam rangka menafsirkan ayat 39 An-Najm). “Artinya : Yakni, sebagaimana dosa seseorang tida dapat menimpa kepada orang lain, demikian juga menusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri,dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 An-Najm), Imam As-Syafi’i dan Ulama-ualama yang mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak sampai, karenabukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik
    dengan nash maupun dengan isyarat, dan tidak ada seorang Sahabat pun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut, kalau toh amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya, padahal amalan qurban (mendekatkan diri kepada Allah) hanya terbatas yang ada nash-nashnya (dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat”.
    Demikian diantaranya pelbagai pendapat Ulama Syafi’iyah tentang TAHLILAN atau acara pengiriman pahala bacaan kepada mayit/roh, yang ternyata mereka mempunyai satupandangan, yaitu bahwa mengirmkan pahala bacaan Qur’an kepada mayit/roh itu adalah tidak dapat sampai kepada mayit atau roh yang dikirimi, lebih-lebih lagi kalau yang dibaca itu selain Al-Qur’an, tentu saja akan lebih tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.
    Ditulis kembali oleh Yayat Ruhyat.
    [Disalin dari buku Tahlilan dan Selamatan menurut Madzhab Syafi’i, oleh Drs Ubaidillah, hal. 8-15 terbitan Pustaka Abdul Muis – Bangil, tanpa tahun]

    • Aduh mas…. ente merasa berilmu, tetapi tidak tahu bahwa Para ulama juga mengatakan bahwa mengirmkan pahala bacaan Qur’an kepada mayit/roh itu adalah dapat sampai kepada mayit atau roh yang dikirimi, lebih-lebih lagi kalau yang dibaca itu Al-Qur’an, tentu saja akan lebih dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.

      Bahkan Ibnu Qoyyim sendiri (salah satu ulama panutan wahabi) dalam bukunya Ar Ruh telah membantah semua dalil yang mengatakan pahala bacaan tidak sampai, dan Ibnu Qoyim denegaskannya SAMPAI.

      Saya malas tulis panjang-panjang bantahan Ibnu Qoyim atas pendapat antum tersebut, baca aja, bukunya dijual wahabi kok. sama orang yang sok berilmu, saya kasih tahu aja….

      Imam as-Sayuthi juga telah membahaskan perkara ini dengan lebih panjang lebar lagi dalam kitabnya “al-Hawi lil Fatawi” juzuk 2 di bawah bab yang dinamakannya “Thulu’ ats-Tsarayaa bi idhzhaari maa kaana khafayaa” di mana antara kesimpulan yang dirumusnya pada mukasurat 194:-

      · Sesungguhnya sunnat memberi makan 7 hari. Telah sampai kepadaku (yakni Imam as-Sayuthi) bahawasanya amalan ini berkekalan diamalkan sehingga sekarang (yakni zaman Imam as-Sayuthi) di Makkah dan Madinah. Maka zahirnya amalan ini tidak pernah ditinggalkan sejak masa para sahabat sehingga sekarang, dan generasi yang datang kemudian telah mengambilnya daripada generasi terdahulu sehingga ke generasi awal Islam lagi (ash-shadrul awwal). Dan aku telah melihat kitab-kitab sejarah sewaktu membicarakan biografi para imam banyak menyebut: ” dan telah berhenti/berdiri manusia atas kuburnya selama 7 hari di mana mereka membacakan al-Quran”.

      Dan telah dikeluarkan oleh al-Hafidz al-Kabir Abul Qasim Ibnu ‘Asaakir dalam kitabnya yang berjodol “Tabyiin Kadzibil Muftari fi ma nusiba ilal Imam Abil Hasan al-’Asy’ariy” bahawa dia telah mendengar asy-Syaikh al-Faqih Abul Fath NashrUllah bin Muhammad bin ‘Abdul Qawi al-Mashishi berkata: “Telah wafat asy-Syaikh Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi pada hari Selasa 9 Muharram 490H di Damsyik. Kami telah berdiri/berhenti/berada di kuburnya selama 7 malam, membaca kami al-Quran pada setiap malam 20 kali khatam.

      • Ndak, saya ndak merasa berilmu, saya cuma mengingatkan orang lain yang sama2 tidak berilmu jangan merasa menang sendiri, banyak2an komen yang nggak perlu yang mengganggu diskusi.

        Ya itu saja, saya sudah menukilkan pendapat Imam Syafi’i, juga dari keputusan Muktamar NU, dan Anda menukilkan pendapat Ibnul Qayyim. Silahkan diyakini mana yang paling benar, kita semua masih taqlid karena belum punya ilmu.

        • Saya bukan hanya mengikuti pendapat Ibnu Qoyim mas, tetapi semua pendapau ulama 4 mazhab yang menbolehkannya…. tapi kepanjangan kalau dibahas, yang jelas ini masalah khilafiyah dan masalah seperti ini tidak berhak kelompok lain mengharamkannya dan membidahkannya untuk orang lain kecuali buat kelompoknya sendiri.

    • @abdullah:
      ente kalo copas jangan setengah2
      apa yg ente copas dah ane libas di blog ane. Ane males nanggepin ente
      kecuali kalo ente mo janji, jika ane tunjukkan hujjah yg melibas pemikiran ente, ente mau ruju’ kpd kebenaran.

  90. PENDAPAT KE-EMPAT IMAM MADZHAB Tentang “BACAAN QUR’AN BUKAN UNTUK ORANG MATI”
    Madzhab Imam ABU HANIFAH
    Di dalam kitab fiqih Madzhab Hanafy halaman 110 disebut : Bahwa membaca Qur’an dikuburan orang mati itu hukumnya makruh, menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad, karena perbuatan ini termasuk BID’AH, tidak terdapat dalam sunnah Rasul.
    Madzhab Imam AS-SYAFI’I
    Menurut pendapat Imam Syafi’I, bahwa ganjaran bacaan Qur’an itu tidak akan sampai kepada orang mati. Alasan yang dipakai oleh beliau adalah firman Alloh Subhanahu wa ta’ala di surat An-Najam: 39, yang berbunyi : “Dan seseorang itu tidak akan mendapat melainkan hasil usahanya” (Q.S. An-Najam
    : 39).
    Seperti juga dalam sabda Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam : “Apabila seseorang anak Adam meninggal, putuslah amalnya melainkan tiga perkara, sedekah jariyah atau ilmunya yang dimanfaatkan atau anak yang sholeh mendo’akannya” (HR. Muslim)
    Imam Nawawi pensyarah hadist Muslim didalam penjelasannya mengenai hadist tersebut, beliau berkata: “Adapun bacaan Qur’an kemudian ganjarannya dihadiahkan kepada orang mati, atau menggantikan sholatnya dan lain-lain ibadat, kesemuanya itu tidak akan sampai kepada orang mati”.
    Pendapat ini yang termasyur menurut Imam Syafi’I dan jumhur ulama. Penjelasan ini banyak terdapat dalam Syarah kitab Muslim oleh Imam Nawawi sendiri.
    Di dalam Syarah kitab Manhaj, Imam Nawaei berkata : “Menurut pendapat yang masyhur di dalam madzhab Imam Syafi’I, sesunggguhnya bacaan Qur’an itu ganjarannya tidak akan sampai kepada orang mati.”
    Syekh Izzu bin Abdis Salaam pernah ditanya pendapatnya, “Bagaimana hukumnya menghadiahkan ganjaran bacaan Qur’an kepada orang mati, apakah sampai atau tidak ??”
    Beliau menjawab : “Ganjaran bacaan itu hanya untuk orang yang membaca, bukan untuk orang lain”. Kemudian beliau berkata : “Tetapi alangkah anehnya masih ada ulama yang membolehkannya. Alasan mereka ialah sebagai satu kebijaksanaan dan juga supaya tidak tidur (berjaga) di rumah orang mati. Alasan demikian itu bukan merupakan suatu alasan yang berdasar kepada agama, tetapi merupakan alasan yang dibuat-buat. Hal yang demikian ini tidak boleh dijadikan sebagai satu hujjah.” [1]
    Note [1] :
    Ironisnya, ada sekelompok orang yg merasa sebagai bagian dari pengikut Madzhab Imam Syafi’I yang fanatik sekali, tetapi tidak mau mengikuti pendapat Imam Sayfi’I, khusus yg satu ini, atau dengan kata lain mereka tidak mau mengikuti pendapat Imam Syafi’I yang menganggap bacaan
    Qur’an untuk orang mati adalah tidak sampai.
    Madzhab Imam MALIK
    Syekh Ibnu Abi Jumrah pernah berkata : “Sesungguhnya bacaan Qur’an dikuburan orang mati itu termasuk perbuatan BID’AH, bukan sunnah Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam”. Ucapan tersebut dalam kitab Al-Madkhal.
    Syekh Ad-Dardiiry didalam kitab As-Syarhus Shagir Juz : I halaman 180 menerangkan bahwa “Bacaan Qur’an disisi orang mati atau sesudahnya, diatas kuburannya termasuk perbuatan yang dibenci oleh Islam karena bukan merupakan perintah Alloh Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, atau bukan pula menurut perjalanan para sahabatnya, dan juga bukan menurut perjalanan para ulama salaf. Sesuatu yang wajar dikerjakan oleh orang yang masih hidup terhadap salah seorang Muslim ialah mendo’akan dan memintakan maghfiroh untuknya.”
    Madzhab Imam AHMAD BIN HAMBAL
    Imam Ahmad bin Hambal pernah melihat seorang yang sedang membacakan Al-Qur’an diatas kuburan, maka beliau menghardiknya dengan ucapan :
    “Alangkah anehnya orang ini, ketahuilah bahwa bacaan Qur’an di kuburan adalah termasuk perbuatan BID’AH”.
    Ibnu Taimiyah pernah berkata : “Ada beberapa orang yang meriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal : “Bahwa membaca Qur’an di kuburan itu termasuk perbuatan yang DIBENCI oleh agama. Demikian pulan pendapat para ulama salaf dan para sahabat Imam Ahmad.”
    Ibnu Taimiyah : “Membaca Qur’an diatas orang mati itu termasuk perbuatan BID’AH. Berlainan dengan membaca Surah Yaasin atas orang yang hampir mati (sedang Naza’I, ingat bukan yang sudah mati, red), hal ini termasuk sunnah.
    Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata : “Bukan suatu kebiasaan (adat) bagi para ulama Salaf menghadiahkan ganjaran puasa-puasa sunnah, sholat-sholat sunnah, haji ataupun bacaan Qur’an atas orang mati. Justru karena itu tidak patut kita melakukan sesuatu amal yang tidak pernah mereka kerjakan.”
    Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab Zaadul Ma’aad Juz I halaman 146 menjelaskan bahwa “Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam tidak pernah beri contoh untuk BERKUMPUL-KUMPUL dirumah orang yang kematian serta membacakan ayat-ayat Qur’an untuk mereka yang telah meninggal. Amalah demikian ini bukanlah sunnah hukumnya, tetapi termasuk perbuatan BID’AH yang dibenci oleh agama.” [2]
    Adapun riwayat yang berbunyi : “Bacalah Yaasin atas orang mati diantara kamu”, riwayat ini tidak boleh dijadikan hujjah untuk membolehkan bacaan Yaasin, karena derajatnya TIDAK SAH. Riwayat ini dikatakan Ma’lul (berpenyakit), sedang sanadnyapun dikatakan Mudl-tharib dan ada rawi yang Majhul. Dengan demikian menjadikan riwayat ini sebagai satu alasan boleh membaca Yaasin atas orang mati TIDAK DAPAT DITERIMA.
    Menurut Imam Al-Fairuz Baadiy : “Bacaan Qur’an untuk orang mati itu hukumnya BID’AH YANG TERCELA dalam agama.”
    Note [2] :
    Dalam masalah berkumpul-kumpul di rumah orang mati, marilah kita perhatikan pendapat dari para ulama sebagai berikut :
    1. Di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah kitab Muhadz-dzab Juz V : halaman 286 baris ke-12 dan seterusnya : “Adapun berkumpul-kumpul di rumah orang kematian, kemudian mereka mengadakan makanan dan minuman untuk orang yang berkumpul-kumpul itu, maka perbuatan itu tidak syak lagi adalah termasuk BID’AH, karena tidak ada satupun riwayat yang menerangkan bahwa pada zaman Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam pernah terjadi hal-hal yang demikian itu.
    Alasan yang kita dapati dalam larangan berkumpul-kumpul dan memakan makanan di rumah orang keamtian ialah hadist Jabir bin Abdillah dimana beliau berkata: “Kami [para sahabat] menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga si mati, dan mereka mengadakan makanan sesudah penguburan, adalah termasuk meratap [atas orang mati].” (HR Ahmad).
    Di dalam kitab Majmu Juz V : halaman 287 baris ketiga dikatakan bahwa Ibnu Mundzir berkata : “Kami telah meriwayatkan dari Qais bin Ubad : “Adalah para sahabat Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam tidak senang berteriak-teriak dalam tiga hal, pada waktu bertempur, pada waktu berada di sisi jenazah, dan pada WAKTU BERDZIKIR.”
    Hasan Al-Bashri meriwayatkan suara mereka dari sahabat Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam : “Bahwa mereka lebih suka merendahkan suara mereka di waktu mengantar jenazah, di waktu MEMBACA QUR’AN dan di waktu perang.”
    Di dalam kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’I, Juz I : halaman 247 baris ke-9, beliau berkata : “Aku lebih senang kalau para tetangga atau kerabat dari keluarga yang mati itu membuatkan makanan untuk mereka (keluarga si mati) pada hari dan malam kematiannya, karena perbuatan itu termasuk sunnah.”
    Pada halaman 248 baris ke-6 Imam Syafi’I berkata : “AKU SANGAT BENCI TERHADAP ORANG-ORANG YANG SUKA BERKUMPUL-KUMPUL DI RUMAH ORANG MATI, WALAUPUN MEREKA ITU TIDAK MENANGIS ATAU MERATAP, KARENA PERBUATAN MEREKA ITU TERMASUK MEMPERBAHARUI MASA BERKABUNG”
    Di dalam kitab Al-Madkhzl Juz III : halaman 228 baris ke-21 dikatakan bahwa Imam Syafi’I dan kawan-kawannya berpendapat : “Adapun berkumpul-kumpul di rumah orang mati kemudian keluarga si mati mengadakan makanan untuk mereka, hal ini tidak ada satupun riwayat yang diriwayatkan dari Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam yang membolehkannya. Perbuatan ini TIDAK termasuk perbuatan yang terpuji, bukan pula Mustahab.”
    Di halaman 289 baris ke-16 dikatakan bahwa Azhar bin Abdillah pernah berkat: “Barang siapa yang mengadakan makanan karena Ria atau untuk dipuji, maka perbuatan ini Alloh Subhanahu wa ta’ala tidak mewajibkan kita untuk mengahdirinya, sedang makanan yang dikeluarkan itu tidak akan dibalas oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala dengan memberi tambahan rizki pada yang mengeluarkannya. Apakah perbuatan ini termasuk walimah perkawinan atau khitan dan lain-lain. Oleh sebab itu hendaklah lebih berhati-hati didalam beramal, dan jangan sekali-kali dicampur dengan semua perbuatan yang sia-sia yang banyak berlaku di sekeliling kita.”
    Demikian pula amalan-amalan yang tidak ada contohnya dari Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam misalnya mengadakan makanan pada tiga hari dari kematian seseorang.
    Kesimpulan: Ke-empat Imam Madzhab berpendapat sama bahwa BACA’AN QUR’AN ADALAH BUKAN UNTUK ORANG MATI, DAN PERBUATAN TERSEBUT TERMASUK BID’AH DAN TERCELA.

    • Yang masyur itu justru sampai mas, nanti saya sampaikan, tapi lihat dulu perkataan Ibnu Taimiyah Imam ente :

      Ibnu Taimiyah mengemukakan beberapa alasan mengenai sampainya hadiah pahala kepada orang yg telah meninggal dunia. Sebagaimana yg disebutkan dlm kitab Tahqiq al-Amal, hal. 53 – 56

      “Ibnu Taimiyah berkata: Barang siapa berkeyakinan bahwa manusia tidak dapat memperoleh manfaat kecuali dari amalnya sendiri, maka ia telah menentang ijma’. Hal itu batal karena beberapa hujjah

      a. Manusia dpt memperoleh manfaat do’a orang lain, dan ini berarti memperoleh manfaat dari amal orang lain.

      b. Rosulullah saw. besok pd hari kiamat akan member syafa’at bagi ahli mauqif di padang mahsyar untuk mempercepat hisab. Dan juga akan member syafa’at bagi ahli surga agar mereka cepat memasukinya.

      c. Rosulullah saw. juga akan memberi syafa’at bagi orang yg berdosa besar agar dapat keluar dari neraka. Ini juga berarti mengambil manfa’at dari usaha orang lain.

      d. Para malaikat mendo’akan dan memohonkan ampun bagi penduduk bumi. Hal ini juga berarti mengambil manfa’at bukan dari amalnya sendiri.

      e. Allah SWT dapat mengeluarkan sebagian orang yg sama sekali tidak pernah berbuat baik dari dalam neraka semata-mata karena rahmat Allah SWT. hal ini juga berarti mengambil manfaat dari yg lain.

      f. Anak-anak dari orang2 mukmin (yg meninggal usia belum baligh) masuk ke dalam surga. Sebab amal perbuatan orang tua mereka. Hal ini juga berarti semata-mata karena usaha orang lain.

      g. Mayit dapat mengambil manfa’at dari pahala sedekah dan memerdekakan budak berdasarkan hadits dan ijma’ Ulama’. Hal ini menunjukkan seseorang dpt memperoleh manfaat dari orang lain.

      h. Orang mati yg meninggalkan hutang (contoh salah seorang sahabat) oleh Rosulullah SAW dilarang disholati sampai hutangnya dilunasi oleh Abu Qatadah. Ali bin Abi Tholib ra juga pernah melunasi hutang orang lain yg telah meninggal dunia. Dan orang (yg telah meninggal) dpt mengambil manfaat dari sholat Nabi Muhammad SAW. Hal ini lagi2 menunjukkan adanya manfaat dari orang lain.

      i. Melakukan sholat atas mayit dan berdo’a di dalam sholat (sholat jenazah),merupakan kemanfaatan yg diambil mayit dari orang yg masih hidup. Ini berarti memperoleh manfa’at dari orang lain.

      j. Sholat Jum’at dinilai sah jika dilakukan oleh sekumpulan orang. Hal ini menunjukkan manfaat sebagian orang terhadap sebagian yg lain.

      k. Zakat fitrah wajib bagi anak kecil dan orang lain yg menjadi tanggungannya,maka anak kecil dan orang yg diasuh tsb mendapatkan manfaat dari orang yg mengeluarkan zakat,meskipun bukan amalnya/perbuatannya sendiri.

      l. Dan masih banyak lagi argumen2 lain yg dipaparkan oleh Syekh Ibnu Taimiyah dlm kitabnya tersebut,bila para pembaca ada yg merasa masih kurang, buka aja kitabnya,dan aku lanjutkan ke kesimpulan Syekh Ibnu Taimiyah

      Setelah berargumen dg panjang lebar,Syekh Ibnu Taimiyah menyimpulkan:
      “Siapapun yg merenungkan secara teliti, ia akan mendapatkan banyak keterangan yg menjelaskan bahwa orang mukmin dpt memperoleh manfaat dari amal2 yg tidak dilakukannya. Sehingga bagaimana mungkin mena’wilkan QS. Al-Najm ayat 39 dg cara yg menyalahi nash al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama’

  91. Jadi mas Dianth, kapan kita “boleh” mentakwil, kapan membiarkan nama & sifat Allah itu apa adanya? Apa kriterianya?

    • saya perlu perjelas dulu makna “membiarkan nama & sifat Allah itu apa adanya”, karena hal ini dalam pemahaman ulama kami bukanlah memahami zhahir maknanya tetapi mengakui ada takwilnya tetapi tidak diperincikan takwilnya dan diserahkan kepada Allah sesuai firmanNya “hanya Allah yang mengetahui takwilNya”.

      Adapun, takwil yang dilakukan oleh ulama terkemudian adalah dikarenakan munculnya akidah-akidah tajsim dan tasybih kaum mujasimah serta munculnya kaum yang tha’til akan bahasa Al Qur’an yang datang kepada kita.

      Sehingga para ulama berijtihad untuk merincikan pendekatan takwilnya dengan tetap memegang keyakinan bahwa Allah yang lebih tahu takwilnya agar orang awam terhindar dari tajsim dan tasybih juga dari tha’til atas bahasa Al Quran.

      Yang anda maksud adalah kriterianya…. maka saya katakan kalau ayat tersebut memberikan penyerupaan dan kaifiyah bagi Allah sebagaimana mahluk, maka itu sudah termasuk mutasyabihat.

      Perlu anda pikirkan…. bilakah ulama salaf memberikan makna zhahir ayat-ayat yang berindikasi tajsim seperti ini dan mengapa mereka melarang membahasnya? kalau bermakna zhahir dan dipahami sebagaimana bahasanya tentu mudah dan gampang para ulama menjelaskannya…. kenyataannya? apakah anda tidak memikirkannya?

    • Mas Abdullah, ko’ lari dari pembahasan….diskusi sampe tuntas dong biar kebuka kebenaran ilmu yg Haq.

      Jadi pegimane menurut antum ttg kirim pahala bagi mayyit…?

  92. @abdullah n @suradi
    Ente copas dari blog wahabi, blognya baca buku yang sdh dipalsu oleh wahabi
    Ini ane copas dari buku Kumpulan hadist Qudsi karangan Imam Nawawi dan Asqalani, ane gak potong-potong sampai titik komanya :

    Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87)
    Coba deh ditelaah atawe disimpulin, ente tau kan arti hadist qudsi

  93. yg satu belum kelar udah ke lain masalah,..payah wahabbiun

  94. Krongthip Mahalakorn

    MasyaAllah komentar Mas Dianth begitu detail sekali dan sangat ilmiah . Mas Dianth sendiri telah mengemukakan hujjah Ibnu Taimiyah juga Ibnu Qayyim tapi si Wahhabi tetap ga terima.
    Harap puak Wahhabi ni carilah kitab Fathul Majid, karangan Abdul Rahman bin As Sheikh. cucu kepada pendiri aliran Wahhabi. Kitab ini kitab tauhid dan telah ditahkik oleh Abdullah bin Baaz. Lihatlah pada hal.356 , tertulis dalam kitab ini
    (terjemahan) ” Allah duduk atas Kursi”

    Kemudian dalam kitab tulisan Sulaiman bin Sahman mengatakan,
    ” Bila Allah duduk atas Kursi ia mengeluarkan bunyi seolah2 duduk atas kursi baru”

    Jadi para ikutan Wahhabi baca lagi kitab2 Wahhabi pasti antum akan ketemu banyak lagi perkara aneh berkaitan aqidah. Ada pula mengatakan satu kaki Allah berada dalam neraka. Allah hanya ada tangan kanan dan macam2 lagi keanehan @ kesesatan. Antum semua di peringkat baru, kitab2 exclusive belum lagi didedahkan. Bila antum semua sudah taksub sepenuhnya maka nanti baru didedahkan sepenuhnya. Ketika itu antum semua telah jauh tersesat kemudian yang sadar berpatah balik tapi betapa ruginya masa kehidupan dalam kesesatan. Buya HAMKA sendiri dikatakan bertaubat tetapi buku2nya yang mengandungi ajaran menyimpang telah banyak terkeluar. Begitu juga Nasr Din Al-Albani juga bertaubat takala hampir dengan maut.
    Malah Ibnu Taimiyah juga dikatakan bertaubat sebelum ajalnya.(mengikut teman dari Azhar) Ane sendiri tidaklah hadir atau mendengar sendiri..He..he
    Macam tokoh Wahhabi(PHD Holder) ditempat kami mengatakan Ibnu Wahab berpegang kepada fiqh Imam Ahmad bin Hanbal tetapi dalam amalan melihat kepada dalil yang lebih kuat untuk diikuti. Bukankah berputar-putar kenyataan orang ini.

    Antum juga harus tahu betapa banyak kitab thurath yang telah dicetak semula dengan penambahan mengikut citarasa Wahhabi. Kitab Ibanah karangan Abu Hassan Al Asya’ari juga telah di ubah.

    Kembalilah kepada ASWAJA dikala nafas masih ada, kwatirnya dijemput Izrael
    dikala taksub kesesatan masih memuncak.

    Hujah2 antum keluarga Abdillah, Abu Umar dan Ibnu Suradi tak kemana, dangkal sekali berbanding ikhwan ASWAJA dalam diskusi ini.

    @Abu Umar soalan ente berkaitan arsy nampaknya telah dijawab. Bila pula ente mahu jawab soalan ane?

    • Awak tu cheerleader macam artikelislami dan ucep, tak payahlah menyampuk. Bila awak tak paham soalan, tak payahlah berbual ke mana2, hanya menjadi fitnah sahaja.

      • Maha Suci Allah dari apa yg disifatkan oleh para Pengikut Wahabi, kita berlindung dari keburukan Wahabi atas tindakannya mensifati Allah seenak perutnya Wahabi sendiri.

  95. Krongthip Mahalakorn

    Pembetulan:
    Kitab Fathul Majid = Syarah Kitabul Tauhid
    Pengarang: Abdul Rahman bin Hassan As Sheikh
    Ditahkik oleh Abdul Aziz Abdullah bi Baz

  96. Ihhhh… serem banget tu aqidah, masa’ Allah dibilang duduk di kursi yang bisa menimbulkan bunyi (seperti bunyi kursi reot …??) Na’udzubillah!!

  97. Krongthip Mahalakorn

    Aduh! Kepala si Abdullah sudah berasap kok! Yang ga faham ane atau ente?
    Orang yang faham gak ngikutin ajaran SESAT, ga VONIS melulu, berlapang dada menerima teguran dan menyelidik fakta. Ente dengan kepala anginnya menunjukkan ente yang ga faham malah sesat semata-mata sesat. Emang Wahhabi bersikap begitu? Mungkin juga berkat mahagurunya yang suka membunuh orang tidak sehaluan, semua ulama dikafirkannya melainkan pengikutnya yang dungu-dungu macam ente.
    banyakkan beristighfar dan bersolawat ke atas nabi s.a.w.

  98. Abdullah@

    Rupanay antum mantan TKI di Malaysia, makanya boleh cakap bahasa melayu. Dulu di kebun karet atau di bangunan? Atau dulu antum pernah sembunyi di Malaysia saat dikejar-kejar Densus 88?

    Atau antum temannya si Muchlas dan group Noordi M Top saat buron di Malaysia?

  99. Muhammad Sancabachtiar

    dianth:
    Argumentasi saya menolak tajsim dan tasybih sederhana saja :

    “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS: Asy-Syura :11)

    >> Segala sesuatu itu ciptaanNya, artinya juga Allah itu tidak serupa zat maupun sifatNya dengan segala sesuatu.

    Sekarang kita lihat juga bagaimana sifat segala sesuatu itu :

    Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ‘ukuran’ (QS Al-Ra’d [13]:

    “… dan, Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan ‘Dia menetapkan ukurannya’ dengan serapi-rapinya.” (QS Al Furqaan:2)

    “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ‘ukuran’.” (QS Al Qamar:49)

    >>Segala sesuatu itu mempunyai ukuran, artinya Allah telah menetapkan ukuran dan segala sesuatu yang mempunyai ukuran ada yang menetapkannya yaitu Allah.

    Mari kita gunakan akal dan hati nurani kita, anugrah Allah kepada kita.

    Berdasarkan 2 dalil diatas maka pastilah Allah itu tidak serupa dengan segala sesuatu dan sifat sesuatu itu yaitu mempunyai ukuran…. artinya Allah tidak mempunyai ukuran. Sebab ukuran adalah sesuatu yang ditetapkan batasannya. Dan Maha suci Allah dari ditetapkan.

    apa arti , tangan, wajah, kaki dan sebagainya dalam makna zhahir?

    tidak lain tidak bukan adalah bentuk-bentuk atau bagian-bagian anggota tubuh.
    bentuk dan bagian anggota tubuh itu jelas-jelas adalah sesuatu yang berukuran, karena mempunyai batas-batasnya.

    Lalu apa pula makna zhahir dari bertempat, berarah, secara zhahir?
    itu semua adalah sifat-sifat benda atau mahluk yang berbentuk aliasberukuran, arah dan tempat sendiri mempunyai ukuran karena mempunyai batas-batasnya.

    Pantaskah kita mensifati Allah dengan ukuran ?

    Adakah sebuah bentuk dan anggota tubuh yang bisa didefinisikan tidak berukuran, sedangkan definisinya jelas bahwa merupakan sesuatu yang berukuran. Tentu saja ini adalah absurd pada makna bahasa.

    Maka tidak lain dan tidak bukan, ayat-ayat dan hadis yang berindikasi tajsim adalah ayat-ayat mutasyabihat.

    Dan Allah menjelaskan tentang ayat-ayat mutasyabihat :

    “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu, diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (al-Qur’an surat Ali-Imron ayat 7)

    Allah telah menjelaskan bahwa ayat-ayat mutasyabihat tidak bisa dimaknai secara zhahir, tetapi mempunyai takwil, makanya Allah berkata “padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal.”

    Jaditidak mungkin dan memang kenyataannya Allah mustahil disifatkan dengan bentuk atau ukuran, berjisim atau disifatkan dengan sifat-sifat jisim.

    Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.
    Maha tinggi Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan.

    Kaum wahabi menafsirkan ayat “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS: Asy-Syura :11)
    sebagai tidak serupanya bentuk dan rupa. Lihat perkataan mereka :

    “Karena sifat Allah sesuai dengan kebesaran Zat Allah. ‘Tidak ada yang mengetahui bagaimana hakikat bentuk dan rupanya kecuali Allah itu sendiri’. Maka oleh sebab itu jika ada orang yang memahami makna tangan ketika dinisbahkan kepada Allah sebagaimana hakikat yang ada pada makhluk maka ini adalah pemahaman yang salah dan keliru. Inilah yang dilarang dalam agama yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya”.

    dan juga :

    “Setiap makhluk yang diberi tangan berbeda bentuk dan hakikatnya sesuai dengan zat masing-masing makhluk tersebut. Kucing, gajah, kerbau, sapi, kera, masing-masing memilki tangan. Tetapi tidak pernah tergambar dalam benak kita kitika ada orang menyebut tangan monyet lalu kita pahami seperti tangan gajah”.

    Sudah jelas mereka menetapkan bentuk atau kaifiyah bagi Allah. Jelas mereka telah terperosok ke dalam lubang.

    Hal ini bertentangan dengan apa yang sudah tuliskan diatas, Menurut ulama Tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar.

    Al Imam Sayyidina Ali semoga Allah meridlainya berkata yang maknanya: “Barangsiapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym [W. 430 H] dalam Hilyah al Auliya, juz I hal. 72).

    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi semoga Allah meridlainya (227-321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut“.

    Sungguh pertanyaan ini perlu kita tanyakan kepada pengikut wahabi : Apakah tidak serupanya Allah dengan mahluk itu sama dengan tidak serupanya mahluk dengan mahluk? yaitu hanya tidak serupa bentuknya.Lalu siapa yang memberi bentuk dan ukuran pada Allah? Siapakah yang mampu membatasiNya?

    Kalau kalian mengatakan Allah adalah Zat yang tidak mempunyai batas, maka sungguh aneh kalian membatasinya dengan bentuk dan ukuran.

    Mantaaap…

  100. Beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

    Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada RasulNya.

    Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

    Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

  101. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.”
    Shaad: 75.
    Apa yang di maksud tangan-Ku dalam ayat ini?

    • wallahu a’lam
      ayat tsb termasuk ayat mutasyabihat yg tdk ada memahami maknanya yg benar kecuali Allah

      tetapi ta’wil yg mendekati adalah kekuasaan

      dan dalam penciptaan Adam ini, Allah melibatkan malaikat

      jika saya berkata bhw saya punya tangan kanan yg bisa saya percaya, apakah Anda paham apa yg saya maksud?

      • Ente ta’wil? Rasullulloh dan para shahabat mengajarkan itu?

        Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

        Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

        • Abu Umar kan ente mengingkari “menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya”, seharusnya ente sadar dong bahwa ‘tangan’ itu adalah sifat mahluk, karena definisi tangan itukan salah bentuk dari anggota tubuh. Dan entekan tahu bahwa bentuk adalah sesuatu yang berukuran alias sifat mahluk.

          Artinya bila kita menyifatkan Allah dengan sifat tangan, maka akan bertentangan dengan sifat Allah yang tidak mempunyai ukuran, karena Allah adalah zat yang tiada batas.

          Nah, kalau sudah begini, tidak seharusnya kita memelihara makna yang bertentangan ini, kita harus keluar dari mempertentangkan makna Al Quran dan mempertentangkan sifat Allah. Kalau ente tetap memahaminya dengan makna zhahir, itu artinya ente sengaja mempertentangkannya, lalu anda serahkan pertentangan itu kepada Allah. Maha suci Allah dari pertentangan ucapanNya.

          Ayat Al Quran kan sudah dijelaskan ada 2, muhkamat dan mutasyabihat. dari 2 sifat yang makna zhahirnya saling bertentangan, maka salah satunya pasti ada yang muhkamat dan satu lagi mutasyabihat.

          Yang Muhkamat itu pokok-pokok Al Quran, nah, Sifat Allah yang tidak menyerupai segala sesuatu itulah pokoknya, dan semua ayat sifat pastilah kita kembalikan kepada pengertian ayat muhkamat ini.

          Artinya kata kedua tangan itu lah yang mutasyabihat, karena kata ini zhahirnya menyerupakan Allah dengan sifat mahluk, dari sisi sifat mahluk mempunyai bentuk dan ukuran. Padahal Allah sudah jelas tidak mempunyai bentuk dan ukuran.

          Dengan demikian kata kedua tangan ini mempunyai takwil, dan hanya Allah yang mengetahui takwilNya, …Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.”(QS. Imran: 7)

          udah paham ya.

      • Wah jadi ente artikan dengan 2 kekuasaan-KU? apa nalar coba? aneh bin ajaib.

        • Salam… Kang Abu…. Dalam Tafsir Ath-Thabari, Beliau meriwayatkan sebuah riwayat dari ibnu Abbas tentang surat Ad-Dzariyat ayat 47:
          و السماء بنيناها بأيد
          Ibnu Abbas menafsirkan kata “Ayd” dengan kata “Quwwah” kekuatan.

          Begitu juga dalam ayat kursi, masih tafsir yang sama dari Ibnu Abbas, beliau menafsirkan kata “Kursi” dengan “Ilmu”……

          Jika mentakwil itu adalah Mu`tazilah atau Jahmiyah (kata komentar antum di atas), lalu bagaimana dengan Ibnu Abbas…???

  102. Pokok persoalan wahabi dengan Aswaja tentang keberadaan Allah SWT adalah: – wahabi memahami ayat mutasyabihat seperti Ahlussunnah memahami ayat muhkamat.Sementara ahlussunnah memahami ayat mutasyabihat dengan mengatakan kami beriman kepada ayat ayat Allah dan menyerah kan tawilnya kepada Allah SWT karena hanya Allah lah yang mengetahui takwilnya.

  103. istiwa itu bahasa Arab yg maknanya luas, dan orang Arab memahaminya
    istiwa Allah di atas ‘arsy tdk bisa dimaknai dg bersemayam

    ‘fa ‘aynallah?’ Maksudnya ‘apakah Allah tdk wujud? Apakah Allah tdk mengetahui? Apakah Allah tdk melihat?’ dsb

  104. Komen untuk artikelnya.
    Pemahaman Ummati Batil. Aneh dan mengarang-ngarang sendiri tanpa bukti dan dalil yang jelas. cuma hawa nafsunya yang bekerja.

    • Abu Umar@

      Tafadhdhol, tunjukkan batilnya di bagian mana Mas, insyaallah jika antum bisa membuktikan bathilnya artikel di atas akan kami delete dan kami akan bertaubat atas bathilnya artikel di atas. Silahkan buktikan di mana batilnya.

    • he he he 😀

  105. anehnya dimana dan yang mengarangnya sebelah mana? dalil mana yang ngarang
    atau ucapan anda yang ngarang jadi anda yang batil jika anda batil maka seluruh komen anda semuannya batil

  106. duh emang susah jika sudah berfaham jisim en tauhid trinitas tuk balik ke faham aswaja,…macam kawan2 wahabbiun ini,.. 😳 😳

    • Duh memamng susah juga kalao pemahamannya pemahaman PENYEMBAH KUBURAN. Susah diluruskan. di kasih kebenaran menolak.. pilih ILMU ANEH2.
      Coba jelas2 pemuda zaman sekarang sudah ga percaya ilmu klenik2/aneh. Dah tau pasti datangnya dengan bantuan JIN/ SYETAN.

      • @abu umar
        Emang ente tau, yang dateng kekuburan nyembah kuburan, sakti amat ente, berarti ente yang pake ilmu2 klenik yang pake syech bermarga Tan (Setan) he he he …..

      • biasa….wahabi kalo lagi kepojok…mah langsung cari bahasan laen….kajian mengenai alloh saja belum kelar….dah bukan tajuk baru “penyembah kubur”…mau kabuuur yaaaa….hehehe tailafi…tai lafi…sory salapi masud nya. :mrgreen:

  107. Krongthip Mahalakorn

    @Abu Umar
    He..he…he… Abu Umar ni kurang garam atau kurang gula atau kurang jahe?
    Komentar berputar -putar ..putar putar cari makan macam lagu Bang Beca..He..he..he.. Nyalahin orang lagi.
    Fahamilah ayat 7 (TUJUH) surah Ali Imran ya ikhwan Abu Umar mengenai ayat2
    mukhkamat dan ayat mutasyabihah dan juga takwil.
    Komentar Mas Dianth sudah begitu jelas tapi ente masih berputar-putar.
    Bukan salah ibu mengandung nih tapi salah terimaan,

  108. Krongthip Mahalakorn

    @ Abu Umar
    soalan ane ente belum jawab lagi! Ini ane ulangi (copas) dari komentar sebelumnya.

    Pohon ikhwan Ubu Umar atau siapa2 dari kalangan Wahhabiyun yang sama fahaman dengan Abu Umar tolong beri jawapannya.

    Soalannya:-
    *** Sebelum Allah mencipta Arsy di mana Allah bersemayam ? ***

    ***Bersemayam – quotatation Mr. Abu Umar. (Istiwa ada 15/16 pengertian)

    Silalah jawab soalan ni!

  109. Ya beginilah pertanyaan orang filsafat..

    Dah begini aja Apakah ente mengimani bahwa Allah berada di atas Arsy?

    Bilang ya apa tidak.. gampang kan?

    • di tanya woooiii…abu umar….di tanya malah mangkir…mikir,,,,pasti lagi bingung mo jawap apa….hahaha
      salahnya sendiri…wong wahab kok di ikuti ya nyesaat….pake filsafat2….itu pertanyaan simple, jujur, apa adanya…..”Sebelum Allah mencipta Arsy di mana Allah bersemayam” ….PASTI WAHABI SATU INI BELARI LAGI…

  110. Krongthip Mahalakorn

    @Abu Umar,

    Terima kasih kerana response kepada pertanyaan ane namun tiada juga jawaban. Ente masih dengan gaya putaran malah bertanya samada ane pula yang meyakini Allah di atas arsy.
    *****************************************************************************
    Di bawah sini kenyataan Abu Umar
    Abu Umar says:
    October 6, 2011 at 8:48 am

    Yang bilang Allah wujud di mana2 Siapa? bukane ente sendiri yang bilang. Sudah Sangat2 jelas bahwa Allah bersemayam di Arsy. Langit tingkat ke 7.

    *****************************************************************************
    Ente lihat tuh diatas, komentar ente dan aqidah ente! Apa ente lupa?

    Nyatanya ente tidak dapat menjawab dan ente sebetulnya tiada jawaban dan tidak akan tahu jawabanya sampai kapanpun.

    Ana tanyal ente dengan soalan ini supaya ente tahu dan faham serta berubah iman ente yang beraqidah,
    “Allah bersemayam di atas arasy”
    supaya berittiqad
    “Allah Wujud tanpa Tempat”
    untuk membawa ente keluar dari kesesatan dan kembali beraqidah sebetulnya.

    Wahai Abu Umar tinggalkanlah kebathilan dan kesesatan dan kembalilah ke jalan yang bener. Nyata ente tidak menjawab soalan ane dan sesungguhnya ane pun ga tahu kerana itu Hak Allah. Cukuplah kita mengimani Allah wujud dan wujudNya tanpa tempat. Allah tidak perlu tempat, ruang atau sebarang keserupaan seperti makhluk ciptaannya. Pelajarilah sifat 50 dan pelajaran ASWAJA dan kembali ke firkah yang bener.
    Hbungilah Ustaz Ummati atau Ustaz Artikel Islami atau ke Majelis Rasulullah. Ente juga bisa kemana2 pesantren NU/ASWAJA yang bertaburan di bumi Indonesia, malah Indonesia yang paling banyak pesantren dalam dunia ini.

    Tugas ane mengingati ente telah selesai, terpulanglah kepada ente samada mau terus berada dalam KESESATAN atau memilih JALAN KEBENERAN. Sesungguhnya Allah ciptakan Syurga dan Neraka untuk manusia dan Jin. Ketahulah anjing yang berkaki empat itu tidak ke neraka tapi anjing yang berkaki 2 pasti ke neraka

    • Udah begini saja.. Apakah ente mengimani bahwa Allah berada di atas ‘Arsy?

      istiwa memang tidak bisa di artikan bersemayam. salah kaprah. paham. istiwa ya istiwa. ga usah di perdebatkan. ane dah paham.

      sekarang tentang dimanakah Allah. sekali lagi Apakah ente mengimani bahwa Allah berada di atas ‘Arsy? tinggal jawab ya apa tidak

  111. Kami beriman Allah istiwa diatas arsy…

    Tetapi kami juga beriman Allah ada tanpa tempat dan arah, juga tidak ditanya dimana dalam arti tempat dan arah.

    Sekarang dimanakah Surga? sekali lagi Apakah ente mengimani bahwa Surga ditelapak kaki Ibu? tinggal jawab ya apa tidak

    • Jawabanmu kok dua.. aneh. PLIN-PLAN. nomor 2 dalilnya apa? kok berbicara tanpa ilmu.

      Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

      Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

      • Saya tanya dulu ente beriman atau tidak dengan Surga ditelapak kaki Ibu? sekarang saya mau nanya lagi dimanakah surga?

        Jawab dong…. kok hanya ente yang boleh nanya…. sekarang saya tanya kok tak dibalas?

  112. # Dari Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallah ‘anhu, dia berkata: “Dulu budak wanitaku menggembalakan kambing-kambingku di wilayah Uhud dan Juwaniah. Suatu hari dia kembali dalam keadaan serigala telah membawa lari seekor kambing gembalaannya. Aku adalah seorang dari anak-anak Adam yang marah sebagaimana mereka marah. Aku sungguh-sungguh memukul dan mencacinya. Maka aku datangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perkara tersebut terasa besar bagiku. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku bebaskan dia?’ Rasulullah berkata, ‘Bawa dia ke hadapanku’. Rasulullah kemudian bertanya kepada budak perempuan tersebut, ‘Dimana Allah?’ Dia menjawab, ‘Allah di langit’. Beliau juga bertanya, ‘Siapa aku?’ Budak itu menjawab, ‘Engkau Rasulullah’. Rasulullah bersabda, ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman’.”

    Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama�ah ahli hadits, diantaranya :

    1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
    2. Imam Muslim (2/70-71)
    3. Imam Abu Dawud (No. 930-931)
    4. Imam Nasa�i (3/13-14)
    5. Imam Ahmad (5/447, 448-449)
    6. Imam Daarimi 91/353-354)
    7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
    8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya “Al-Muntaqa” (No. 212)
    9. Imam Baihaqy di Kitabnya “Sunanul Kubra” (2/249-250)
    10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya “Tauhid” (hal. 121-122)
    11. Imam Ibnu Abi �Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albanni).
    12. Imam Utsman bin Sa�id Ad-Daarimi di Kitabnya “Ar-Raddu �Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
    13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya “As-Sunnah ” (No. 652).

    • udah basi mas…..

      Tidak ada para ulama salaf yang menjadikan hadist tersebut untuk menyatakan Allah bertempat dan berarah, kecuali kaum mujasimah.

      • ente itu sangat bodoh, jelas2 hadits shahih. ente tolak. yang palsu2 ente pake..
        Coba lihatlah pembaca yang budiman mereka menolak hadits shahih. malah hadits yang palsu ente pake.

        • saya tidak pernah menolak hadist shahih…. adakah saya katakan saya menolaknya ?

          lihat perkataan saya : Tidak ada para ulama salaf yang menjadikan hadist tersebut untuk menyatakan Allah bertempat dan berarah, kecuali kaum mujasimah.

          Sekarang yang mana hadist palsu ? Kata anda sendiri hadist surga ditelapak kaki ibu itu hasan???

  113. @dianth

    si dianth berkata “Tetapi kami juga beriman Allah ada tanpa tempat dan arah, juga tidak ditanya dimana dalam arti tempat dan arah.”

    Hanya orang yang bodoh yang tidak tau keberadaan tuhan nya dimana…!! selama ini ibadah gag tau tuhan nya dimana.. cupe deh 😆

    “(Artinya) Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Yunus: 3]

    “(Artinya) Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [QS. Ar-Ra’du: 2]

    “(Artinya) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [QS. Thaaha: 5] dengerin tuh mas…

    • hanya orang bodoh yang mengatakan Allah bertempat.

      Semua ayat yang ente sebutkan tidak satupun menyatakan Allah bertempat dan berarah.

      Istiwa diatas Arsy itu tidaklah bermakna Allah berada diarah atas atau bertempat di Arsy, karena ayat ini mempunyai takwil

      Dan menempatkan Allah diatas langit atau arsy sama saja memberi batas dan ukuran pada Allah, dan menetapkan kaifiyah atau bentuk bagiNya.

      Maha suci Allah daripada batasan dan bentuk, karena segala sesuatu yang berbentuk dan berukuran/batasan adalah segala sesuatu, dan Allah bukan segala sesuatu, tetapi Allah pencipta segala sesuatu.

      Allah adalah yang awal

      Artinya Allah ada tanpa ada segala sesuatu termasuk arah dan tempat.

  114. abu hannan dan sebagian wahhabi suka protes kalo disebut bodoh. Lalu muncul sifat sok sopannya. Tapi si bedul ga sungkan utk ngatain bodoh sbgmn mereka juga murah mengumbar sebutan ahlul bid’ah, musyrik dsb.
    Jelas si bedul ini kurang paham ilmu bahasa, ilmu Qur’an, dan ilmu2 lainnya utk memahami ayat dan hadits.
    Bodoh tapi merasa pintar.
    Dul.. Dul.. Lu sama aja ama wahhabi yg laen (hajji bodong mode)

  115. maaf mas dianth, saya menyela
    tampaknya Abu Umar takut kalah kalo menjawab pertanyaan Allah tentang dimana surga.

    @Abu Umar:
    1. Adakah Imam dr salafush shalih yg mensyarah hadits tsb sehingga pemahamannya spt yg Anda pahami bhw Allah berada di langit atau bersemayam di langit secara haqiqi?
    2. Jika saya ditanya ‘Dimana Allah?’ maka jawaban saya bs bermacam2. Saya bisa jawab, ‘Di hati orang Mu’min,’ atau ‘Allah itu dekat’ atau yg lainnya. Apa jawaban saya salah? Apakah jawaban saya itu harus dipahami secara zhahir?
    3. Apa jawaban Anda jika ditanya ‘dimana Allah?’ Apakah sama dg jawaban budak itu? Apakah itu harus dipahami secara zhahir? Jika ya, mana dalilnya dr Qur’an atau hadits, bhw itu harus dimaknai secara zhahir?

  116. maaf mas dianth, saya menyela
    tampaknya Abu Umar takut kalah kalo menjawab pertanyaan tentang dimana surga.

    @Abu Umar:
    1. Adakah Imam dr salafush shalih yg mensyarah hadits tsb sehingga pemahamannya spt yg Anda pahami bhw Allah berada di langit atau bersemayam di langit secara haqiqi?
    2. Jika saya ditanya ‘Dimana Allah?’ maka jawaban saya bs bermacam2. Saya bisa jawab, ‘Di hati orang Mu’min,’ atau ‘Allah itu dekat’ atau yg lainnya. Apa jawaban saya salah? Apakah jawaban saya itu harus dipahami secara zhahir?
    3. Apa jawaban Anda jika ditanya ‘dimana Allah?’ Apakah sama dg jawaban budak itu? Apakah itu harus dipahami secara zhahir? Jika ya, mana dalilnya dr Qur’an atau hadits, bhw itu harus dimaknai secara zhahir?

  117. Benar kan apa yang ane maksudkan.. bahwa ente mengaitkan letak kebardaan Allah, dengan letak keberadaan surga. Benar2 tragis ente itu pemikirannya.. benar2 seorang ahli FILSAFAT. PARAH. Hati2 lho.. jangan berbicara tanpa berdasarkan ilmu. Ancamannya sungguhlah berat.

  118. Masjid adalah Baitullah

    Nabi Isa adalah Ruhullah

    Surga berada di atas kaki para ibu

    Tangan Allah di atas jama’ah

    khalaqa adama ka shuratih

    Allah berada di sisi orang yg sakit

    Allah sakit dan minta dijenguk

    Allah lapar dan minta makanan

    Allah melupakan orang kafir

    apakah semua itu harus diartikan secara zhahir?

  119. Orang-orang seperti dianth dan sejenisnya. Kalian itu orang-orang filsafat yang parah. Percuma saja ane layani. Dalil yang jelas2 saja ente tolak. malah diaritakan lain.. jelas2 shohih.
    “Dimana Allah?” Jawab: Allah di langit.

    Apa itu ente ingkari. Sudah jelas hujah datang kepada ente. Tapi ente tolak.

    • “Maka berlarilah menuju Allah!” (Adz-Dzariyat: 50)

      Allah menyuruh kita berlari, bukan terbang menuju Allah…. itu artinya Allah ada didepan atau dihadapan kita dong, bukan diatas. Bagaimana pendapat Abu Umar? apakah mau ente ingkari… ini ayat loh… lebih kuat daripada hadist? Ini jelas-jelas sahih…

      monggo dijawab….

      Ada juga hadistnya

      ….apabila ia datang kepada – Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari-lari kecil. (HR Ibnu Majah ; hadist sahih)

      Bagaimana mas….

      kalau tuhan diatas berarti seharusnya terbang keatas…. atau tuhan yang turun….. kok tuhan ikut berlari mendatangi kita….

      monggo dijawab….

      • Ente itu gmn ya? Apakah itu tentang dzat Allah? Coba bedakan.. Lihat Tafsirnya kalao ga jelas. Sungguh Payah ente.

        “Dimana Allah?”
        jawab: Allah di Langit

        Lihat itu si badui, apa mikir sampai sejauh itu mengartikan makna langit.
        Langit ya langit makna secara dzohir.

        Berarti ente lebih goblog dari badui jika memaknai langit dengan aneh2.

        • tafisr apa mas tafsir hadist badui itu kah?

          lihat tafsir Imam Nawawi :

          Imam An-Nawawi didalam syarah Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits Jariyah ( budak perempuan ) yang ditanya Rasulullah SAW ; Dimanakan Allah . ( Shahih Muslim no :537 )

          Imam Nawawi berkomentar : Hadits ini termasuk hadits-hadits yang mencereritakan sifat, dalam permasalahan ini terdapat dua mazhab :

          1 – Percaya dengan hadits tersebut tanpa mendalami maknanya, juga beri`tikad bahwa Allah SWT tidak seperti sesuatu, dan Maha suci dari ciri-ciri makhluk.

          2 – Menta`wilkan hadits ini dengan apa yang patut kepada Allah, siapa yang berkata seperti ini , maka mereka berkata : Tujuan Rasul bertanya kepada Jariah untuk mencoba keimanannya, apakah dianya beriman dan mengakui yang menjadikan dan yang mengatur dan memperbuat sesuatu adalah Allah, DIalah Allah yang apabila memohon seorang , maka akan menghadap kelangit, sebagaimana apabila shalat seseorang maka akan menghadap ke Ka`bah, bukan maksudnya Allah itu berada di langit sebagaimana juga bukan maksudnya Allah itu berada di arah Ka`bah, bahkan yang yang dimaksud ialah langit adalah qiblat untuk orang berdo`a, dan Ka`bah qiblat orang yang shalat, ataukah dianya ( Jariyah ) termasuk penyembah berhala yang ada dihadapan mereka, maka manakala dia menjawab : dilangit, maka tahulah Rasul bahwa Jariyah itu telah beriman, dan bukan tergolong penyembah berhala.

          (Syarah Shahih Muslim karangan Imam Nawawi : 3 / 30 , terbitan Dar al-Hadits, Cairo).

          Demikian juga kita lihat keterangan al-Hafiz Abi al-Abbas Ahmad Bin Umar Bin Ibrahim al-Qurthubi didalam syarah Muslim karangannya :

          “Pertanyaan ini diarahkan Rasul kepada Jariyah atas dasar kemampuan pemahamannya, karena Rasul ingin menyatakan darinya bahwa dia bukan penyembah behala, dan batu yang terdapat di bumi, maka Jariyah menjawab dengan demikian ( di langit ), seolah-olah dia menjawab sesungguhnya Allah bukanlah jenis yang berada di bumi.

          Kemudian beliau meneruskan perkataannya : ” Tidak boleh diucapkan seperti itu kepada Allah secara hakikat, karena Allah suci dari tempat, sebagaimana juga Allah suci dari masa, bahkan dia yang menjadikan masa dan tempat, senantiasa Allah ada tidak diiringi oleh masa dan tempat, dan Dia ( Allah ) juga sekarang demikian”.

          Kemudian beliau menambahkan perkataanya : ” Perlu kamu ketahui ! Sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat diantara umat islam, baik dari golongan ahli hadits, ahli fikih, ahli tauhid, orang yang bertaqlid ( mengikut pendapat ulama ) dan yang seumpama mereka, berpendapat bahwa sebutan yang terdapat didalam al-Qur`an dan hadits, yang mengungkapkan Allah di langit seperti ayat ( أأمنتم من في السماء ) bukan dimaksud secara zhohir ( hakikat), sesungguhnya ayat ini ditakwilkan oleh mereka.

          Kemudian beliau menutup keterangannya dengan ungkapan : Siapa yang memahami ayat tersebut dengan secara zhahirnya ( hakikatnya ) maka dia adalah orang yang sesat dari kumpulan orang yang sesat.

          ( al-Mufham Lima Usykila min Talkhish Kitab Muslim , karangan al-Hafizh Abu Abbas Ahmad Bin Umar Bin Ibrahim al-Qurthubi, : 2 / 113-115 terbitan Maktabah Taufiqiyah, Mesir )

          Menurut ente Imam Nawawi dan al-Hafiz Abi al-Abbas Ahmad Bin Umar Bin Ibrahim al-Qurthubi itu bagaimana? goblok atau pintar? jawab ya.

          • Firman Allah Jalla wa ‘Alaa:
            (16). “Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT YANG DI ATAS LANGIT bahwa Dia akan menenggelamkan kamu ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi itu) bergoncang?”
            (17).”Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap DZAT YANG DI ATAS LANGIT bahwa Dia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil? Maka kamu akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku”
            (AI-Mulk: 16 -17).

          • Hikayat Fir’aun bersama Nabi Allah Musa alaihissalam di dalam kitab-Nya yang mulia. Disebutkan, bahwa Fir’aun telah mendustakan Musa yang mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya Allah Jalla wa ‘Alia di atas langit:

            “Dan berkata Fir’aun: Hai Haman! BUATKANLAH UNTUKKU SATU BANGUNAN YANG TINGGI supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan (yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan (nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta.” (Al-Mu’min: 36, 37)

            “Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (Al-Oashash: 38).

            Perhatikanlah ! Perintah Fir’aun kepada Haman, sebagai menterinya untuk membuatkan baginya satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa, maka hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa Tuhannya (Allah Subhana wa Ta’ala) berada di atas langit.

            Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya ada di mana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah-, tentu Fir’aun, disebabkan kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israel, di pasar-pasar dan di mana-mana tempat di timur dan di barat!

            Tetapi tatkala Nabi Musa memberitahukan bahwa Tuhannya berada di atas langit, maka dengan segera ia perintahkan, menterinya membuat satu bangunan yang tinggi untuk melihat Tuhannya Musa! Kemudian Fir’aun menuduh Nabi Musa dengan perkataannya: ‘Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta’ ; yakni tentang perkataan Musa bahwa Tuhannya di atas langit.

  120. mas dianth and mas AI ane boleh ketawa nggak? 😆 soalnya masih keras kepala aje mereka. jadi inget yang namanya SID sama2 keras kepalanya, selalu menuduh kita dengan kata2 musyrik, sesat, bidngah, kafir or kuburiyun. semoga kita terlepas dair aqidah mereka…

  121. Krongthip Mahalakorn

    @ Abu Umar

    Soalan ente pada ane telahpundijawab oleh Mas Dianth. Itulah pegangan kami ASWAJA.
    Mengenai hadis Jariah itu ente perlu faham maqasid sebenar hadis itu dan ente perlu tahu siapa itu Jariah, umurnya juga tahap mentalitinya. Perlu juga diketahui suasana/situasa ketika itu. Tidak boleh disamakan dalam semua keadaan.
    Teruskan diskusi moga ente dapat pencerahannya. Pesan ane lembutkanlah hatinya dan buka mindanya.

  122. Riwayat diatas juga disebutkan Ibn al-Qayyim, murid Ibn Taimiyah dlm kitab ar-Ruh..

  123. artikelislami:
    SID kemana ya? Apa dia udah D?

    😆 😆 😆 😆

  124. sumber hukum umat islam hanya dua, Al-Quran dan Al-Hadits, tradisi sahabat bukan dalil suatu hukum terlalu mengada-ada kalau yang demikian dijadikan dalil agama, astaghfirulloh….

    • memahami Al karim dan Assunah dan atsar para sahabat harusnya dengan penjelasan guru.

      kalo ente berpendapat seperti itu ana kawatir menjurus ke faham tajsim

  125. Saya mengharap kejujuran Abu Umar atas pertanyaan sederhana Mas Dian yang berbunyi :

    Menurut ente Imam Nawawi dan al-Hafiz Abi al-Abbas Ahmad Bin Umar Bin Ibrahim al-Qurthubi itu bagaimana? goblok atau pintar? jawab ya.

    Monggo ditunggu …. Ustadz Abu Umar

  126. Abu umar nyonyor lagi dweh ! ! !

  127. ampun DJ…wahabi kagak pinter2…ini bahas tahlilan kok nyungsep kmana2…

    udah bgni aje…wahabi yg tdksetuju tahlilan coba tulis point2 apa saja yg bikin nte gk setuju…nanti kita bahas satu-persatu…

    silakan…. janji ya diskusi baik2

  128. Memang sulit menyadarkan orang-orang yg jadi korban doktrin Wahabi. Mungkin para koraban yg sudah jadi Penganut Wahabisme bisa menyimak kisah berikut ini agar tidak terlalu mudah berkata: Ini bid’ah Itu Bid’ah!”.

    Sahabat Ali bin Abi Thalib ra’ berkata :

    “Nabi saw mendera orang yg minum khamer 40 kali,
    Abu Bakar 40 kali,
    sedang Umar {menyelisih Rasul} mendera 80 kali.
    Dan kesemuanya sunnah…..”
    (Atsar ini Riwayat Imam Muslim)

    Wahai teman-teman Wahabi seandainya setiap bid’ah itu SESAT pastilah sayyidina Umar RA tidak akan Menyelisih sunnah/hukum Rasulullah saw ketika memecut orang minum menuman keras.

    Tidakkah Anda yakin yakin Sahabat Umar bin Khottob lebih tahu tentang Masalah BID,AH daripada Ulama-ulama Wahabi yg jelas-jelas jahil murokkab? Wallhu a’lam….

    • Mohon akhi tidak membanding-mbandingkan Sayidina Umar ra dg ulama2 wahabi…..yg setara gitu loh Al Bany dibandingin Utsaimin atw M Abdul Wahab….afwan ane terlalu cinta ama Nabi SAW dan para Sahabat r.hum, tabi’in (generasi ulama yg berjumpa dg sahabat)dan tabiut tabiin (generasi ulama yg berjumpa dg para tabi’in) ane kagak ridho dunia akhirat 😈

  129. mana neh wahabinya… saya ajak diskusi serius neh…silakan paparin point2 mana yg nte keberatan ma tahlilan…kita bahas satu persatu

  130. Umat Dhoif@

    Biasanya kalau suasana sudah reda Wahabinya muncul, Mas. Makanya sering2 tengokin ini threat, pasti kapan2 muncul deh Wahabinya, qix qix qix…. Biasanya nunggu lengahnya dulu, maklum para pengencut mereka. Ngebom aja nunggu lengah musuhnya, ya kan? Kira2 sama seperti itulah dalam hal diskusi maslah tahlil ini, mereka ngumpet dulu….

  131. ow bgtu ya… yoda deh klo bgtu…nanti klo wahabi muncul lagi kasih tau saya ya

  132. yaelah pake ribut2 disini, tuh knp Allah mbuat surga ada tingkatannya…. ya buat lu lu orang (dalem ni maknanya)…. 😆

  133. jum’at kemaren khotib ditempatku menceritakan ada sebuah pondok di pandeglang yang melaksanakan sholat dhuha berjamaah, yg saya tanyakan apakah itu disunnahkan?

  134. Saya bukan ustadz saya adalah orang yang sedang mempelajari Agama kita yang mulia ini dengan kerendahan hati saya bertanya apakah amalan tahlilan ini pernah dilakukan oleh Nabi kita ketika istri beliau meninggal atau ketika putra dan putri beliau meninggal ?

  135. Mas umar sampean kepiye toh… ayat alqur’an : wa Allohu goniyyun ‘anil ‘aalaamiin,. Ayat tsb Jelas bgt bhw Allah tidak butuh kpd Alam semesta, langit itu trmasuk alam ciptaanNya bukan sih..! kenapa ada ngotot bhw Allah di langit, jika Allah fii as-samaa-i brarti Allah butuh kepada alam. Fikir dong. Subhaanallaah ‘ammaa yashifuun.

  136. Keputusan Masalah Diniyyah NU No: 18 / 13 Rabi’uts Tsaani 1345 H / 21 Oktober 1926 Tentang
    KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA : Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB : Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH , apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.
    `
    Keterangan :
    1. Dalam kitab I’anatut Thalibin, Kitabul Janaiz : MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”Kami menganggap berkumpul di ( rumah keluarga ) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

    2. Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan : “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?
    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    “Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN ORANG-ORANG BODOH” agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi shallallahu’alaihi wasallam terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris). ”

    SUMBER: AHKAMUL FUQAHA, SOLUSI PROBLEMATIKA HUKUM ISLAM, KEPUTUSAN MUKTAMAR, MUNAS, DAN KONBES NAHDLATUL ULAMA (1926-2004 M), hal. 15-17, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

  137. abuulfa:
    Saya bukan ustadz saya adalah orang yang sedang mempelajari Agama kita yang mulia ini dengan kerendahan hati saya bertanya apakah amalan tahlilan ini pernah dilakukan oleh Nabi kita ketika istri beliau meninggal atau ketika putra dan putri beliau meninggal ?

    Pokoknya orang yang tidak ngadain kendurian kematian sama saja menganggap nasib saudaranya se muslim yang wafat itu ibarat binatang yang setelah dikubur lalu di rumahnya tidak ada kenduri/selamatan kematian.

    Jadi …. Rasulullah dan sahabat gimana donk???!!!

  138. saya jwab… tidak pernah… tahlilan tdk prnah dilakukan rasul..
    memang knpa kalau rasul tdk melakukannya?apakah otomatis jatuhnya hukum haram?

    sialakn mz…kita bahas satu persatu…tuh dah saya awali…rasul tdk melakukannya
    wahabi yg lain silakan ikut partisipasi

  139. neh bahas tahlilan bukan bahas istiwa…ayo yg teratur…. yg bahas istiwa cari lapak sndiri

    • kalau para wahabiyun berakhlak mulia, katanya sholatnya paling bener, shafnya paling rapat, berarti akan menjadi manusia yg baik, silahkan ikuti yg diminta Kang Umar Dhoif, membahas dg teratur, jgn melenceng dari topik, kok si abu umar selalu di topik-2 yg lain melenceng kemana-2….pastinya pernah merasakan bangku sekolah kan yah? diajarkan tertib kan yah? ayo dong kita tertib…lanjut Kang Umar Dhoif,,,,

  140. @ALL wahabiun

    tolong dong di cek hadist ini
    “Dari Abi Hurairah, berkata bahwa Rasulullah SAW berziarah ke pesarean ibundanya & beliau menangis serta membuat orang di sekitarnya menangis”.
    (HR. Muslim [2304])

  141. mas kalo kita berdoa kenapa kita angkat tangan keatas,,, ❓

    • karena nabi mengajarkan supaya kita ini kalo berdoa minta kebaikan, maka meminta dg menghadapkan telapak tangan ke atas; tp kalo minta dijauhkan dr keburukan maka menghadapkan telapak tangan ke bawah sehingga punggung tangan ke atas.

  142. aduh maaf maaf lagi rame bahas tahlilan ikutan nanya donk
    apa Rasulullah dulu waktu Pamannya Hamzah wafat ngadain Tahlilan nggak yah
    apa dulu Ali bin Abu Thalib waktu istri tercintanya Fatimah wafat ngadain Tahlilan nggak yah, tolong kasih tahu,

  143. Mas Habib artikelislami says:
    October 21, 2011 at 9:36 pm

    karena nabi mengajarkan supaya kita ini kalo berdoa minta kebaikan, maka meminta dg menghadapkan telapak tangan ke atas; tp kalo minta dijauhkan dr keburukan maka menghadapkan telapak tangan ke bawah sehingga punggung tangan ke atas.
    oooh jadi di ajarin ama Nabi yach kalau gitu tolong jawab pertanyaan akoe yg ini apa Rasulullah dulu waktu Pamannya Hamzah wafat ngadain Tahlilan nggak yah,apa Nabi ngajarin tahlilan nggak yach
    apa dulu Ali bin Abu Thalib waktu istri tercintanya Fatimah wafat ngadain Tahlilan nggak yah, tolong kasih tahu,

    • Nabi memerintahkan kita untuk berdzikir berjama’ah…tanpa diatur tata caranya yang terperinci sebagaimana shalat. Sehingga kita bisa berdzikir bacaan dzikir apa saja seperti membaca Al Qur`an, tahlil, tahmid dll tanpa terikat tempat dan waktu.

    • Nabi memerintahkan kita untuk berdzikir berjama’ah…tanpa diatur tata caranya yang terperinci sebagaimana shalat. Sehingga kita bisa berdzikir bacaan dzikir apa saja seperti membaca Al Qur`an, tahlil, tahmid dll kapan saja.

  144. Mas Tahlilan itu ibadah opo maen maen?
    Kalo ibadah apa nabi pernah mencontohkan Tahlilan itu mesti terikat 7 hari 40 hari 100 hari kematian dan musti terikat di adakan pas ada orang mati lebih afdol dikerjain di rumah orang yg mati ini kan namanya terikat waktu dan tempat, waktu orang telah mati ditempat orang mati mas tadi bilang kapan sja tanpa terikat tempat dan waktu atau ini namanya mengkhususkan yang umum, kalau yang khusus musti ada contohnya dari nabi ngga beda dg yg umum

    • Masuk mengkhususkan jika membatasi bolehnya tahlilan hanya pada hari ke 7, 40, atau 100. Namun selama berkayakinan bahwa kapan saja bisa dilakukan maka bukan mengkhususkan.

      Kenyataannya memang demikian, ada tahlilan rutin tiap malam jumat dan tiap malam ahad (karena libur). Ada setelah malam pertama wafat. Ada yang tiga hari berturut-turut, setelah itu tidak. Ada yang berturut-turut sampai 10 hari. Ada yang memilih berturut-turut sampai 7 hari saja.

      Justru dinamakan melakukan pembatasan dengan melarang tahlilan pada hari ke 7, 40 atau 100. Seperti menyatakan boleh tahlilan asal jangan hari ke 7, 40, atau 100! Nah, yang ini malah membatasi, padahal perintahnya mutlak. Kalau membatasi bahwa tahlilan tidak boleh dilakukan di hari-hari itu perlu ada dalil khusus. Dan nggak ada dalilnya.

    • apa nabi pernah mencontohkan bhw sebelum tidur hendaknya membaca istighfar sekian ribu kali misalnya? Jika tdk, apakah yg dilakukan Abu Hurairah itu bid’ah?

      Apakah Nabi mengajarkan bhw hendaknya setiap raka’at pertama dan kedua itu membaca al-ikhlash setelah fatihah? Jika tdk, kenapa ada shahabat yg membiasakannya? Apa itu bid’ah?

      Apa talqin setelah menanam mayyit di quburan itu dicontohkan Rasulullah? Jika tdk, knp ibnu taymiyyah membolehkannya?

      Ibadah yg mempunyai dalil umum itu tdk bs diharamkan ketika ia diamalkan pd waktu2 tertentu, kecuali ada larangan utk mengamalkan pd waktu tertentu tsb.

      • Mantab Ustadz AI,
        Ana pamit dulu mau bobo, jagain itu kroco2 Wahabi, kasihan mereka, siapa tahu masih bisa diselamatkan.
        Maaf kepada semuanya…..

    • Abu Ihsan@

      antum n Wahabiyyin ta’lim Mingguan (MTA) itu ibadah atau maen-maen? Kalau itu ibadah ada contohnya dari Nabi Saw apa nggak ada contohnya? Hayo jawab, jawab…. 😆 😆 ➡

  145. hik hik hik contoh nabi kalau shalat nginjek kaki ada nggak ??? wkwkwkwkwk

    • hehehe
      mas mamo bisa aja
      mana ada Rasulullah nyuruh atau nyontohin gitu
      masa’ para shahabat shalatnya rusuh, nyari2 kaki orang utk diinjek
      :mrgreen:

  146. maaf ini bahas tahlilan kok nyasar kemasalah

  147. ini bahas tahlilan kok nyasar ke istiwa? ayo dunk yg focus
    sekedar info aja berdoa menghadapkan tangan keatas itu bukan brarti Allah ada diatas tpi krna langit kiblatnya doa…ada hadithnya tuh…silakan cari sndiri

  148. mz abu ihsan….

    maaf mz sebelum saya jwab pertanyaan2 sampeyan saya tawarkan agar anda menuliskan semua keberatan anda ttg tahlilan…tulisin semua pointnya mz… nanti kita bahas satu2 dgn teratur…

    dari perkataan sampeyan saya dapatkan knpa tahlilan haram
    1. tahlilan tdk dilakukan rasul
    2. tahlilan itu dilakukan pengkhususan waktu
    3. tahlilan dianggap sbgai niyahah sehingga haram

    nah ada lagi gk point selanjutnya silakn sebutin semua n kita akan bahas point perpoint silkan mz… saya tunggu ya

    maaf biasakan diskusi dgn teratur, rapi n sistematis biar enak disimak org lain…
    silakan….

    • sedikit nanya buat @abu ihsan, SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU, gimana menurut Wahabi & ente ??? jangan di takwil yaaahhh, tar ente kualat lo…

  149. Kalo Allah di atas langit ke tujuh, Emang apa ada yang salah…….

  150. assalamu’alaikum maaf agan agan aku ada di sebelah bahas Alloh ada dimana ( maslah penting lebih penting dp kita bahas tahlilan) ayo kalo mo ikut pindah kamar )

    • @abu ihsan

      malas lagi ah,…nggak di tampilin comment nya…(abjza) 😎
      pas di tanya ke2 kali baru jawab deh,… 😆
      pas di tanya sesuai dengan pemahamannya….a,b,c…nggak bisa jawab… :mrgreen:
      nggak di tampilin lagi comment nya,.. 😉
      yo wis ane ucap thanks aja… :mrgreen:

  151. yah udah klo ditawari diskusi yg baik gk mau….

  152. @all wahabiun baca ya

    ijin copas mas admin

    Pertama-tama supaya anda ketahui bahwa faham-faham ekstrim kaum Wahhabiyyah ini mereka ambil dari setiap jengkal pendapat Ibn Taimiyah, termasuk di antaranya faham tasybih dan tajsim; mengatakan Allah bertempat di atas arsy, mengatakan bahwa Allah memiliki ukuran dan batasan, mengatakan bahwa Allah bergerak turun naik, dan lainnya. Na’udzu Billah. Setiap apa yang dianggap baik oleh Ibn Taimiyah maka mereka akan bersikukuh bahwa itu baik, dan apa yang dianggap buruk oleh Ibn Taimiyah maka mereka akan ”membabi buta” memeranginya. Mereka seakan menganggap bahwa pendapat Ibn Taimiyah laksana ”nash la yaqbal at-tawil”.

    Perhatikan, Ibn Taimiyah dalam kumpulan fatwa-fatwanya ngomong begini: ”Bacaan al-Qur’an yang akan sampai (bermanfaat bagi mayit) adalah yang dibacakan ikhlas karena Allah”. (Lihat Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, j. 24, h. 300)

    Pada halaman yang sama dia juga ngomong begini: ”Barangsiapa membaca al-Qur’an ikhlas karena Allah lalu ia hadiahkan pahalanya untuk mayit maka hal itu dapat memberikan manfaat baginya”. (Lihat Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, j. 24, h. 300).

    Pada halaman lainnya dia ngomong lagi: “Akan sampai kepada mayit bacaan (al-Qur’an) dari keluarganya, bacaan tasbih mereka, bacaan takbir mereka, dan seluruh bacaan dzikir mereka jika memang mereka menghadiahkan pahala bacaan tersebut bagi mayit itu. Itu semua akan sampai kepadanya”. (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, j. 24, h. 324).

    Di halaman lainnya dia berfatwa begini: “Allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak dapat mengambil manfaat kecuali dengan jalan usahanya sendiri. Tetapi yang difirmankan oleh-Nya adalah:

    وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّمَاسَعَى (النجم: 39)
    Yang dimaksud ayat adalah bahwa seseorang tidak dapat MEMILIKI sesuatu apapun dari suatu kebaikan kecuali hasil usahanya sendiri, adapun yang bukan dari usahanya sendiri maka ia TIDAK DAPAT MILIKI-nya. Maka hasil usaha orang lain adalah MILIK orang itu sendiri, bukan milik siapapun. Perumpamaannya pada harta; seseorang hanya dapat MEMILIKI hartanya sendiri, dan ia dapat mengambil manfaat dari harta yang ia MILIKI tersebut, harta tersebut bukan MILIK orang lain, harta dia MILIK dia, harta orang lain MILIK orang lain. Akan tetapi bila seseorang berderma bagi orang lain dengan hartanya tersebut maka tentunya hal itu dibolehkan (dan memberikan manfaat bagi orang lain tersebut). Demikian pula bila seseorang berderma bagi orang lain dengan usahanya maka tentu itu juga memberikan manfaat bagi orang lain tersebut; sebagaimana seseorang akan memberikan manfaat bagi orang lain dengan jalan doa baginya, dan atau dengan jalan bersedekah baginya. Orang yang dituju (dengan doa atau sedekah) tersebut akan mengambil manfaat, dan akan sampai kepadanya segala kebaikan dari setiap orang muslim; baik orang-orang dari kerabatnya atau lainnya (jika memang ditujukan/dihadiahkan/didermakan baginya), sebagaimana seseorang (mayit) mengambil manfaat dari pekerjaan shalat dari orang-orang yang menshalatkannya, dan atau dari doa mereka baginya di sisi kuburnya”. (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, j. 24, h. 367)
    Kita katakan kepada orang-orang Wahhabi: Mau lari kemana kalian?????? Tau ga? tanpa kalian sadari, sebenarnya sama saja kalian telah mengatakan bahwa “Imam” kalian yang sangat kalian cintai; Ibn Taimiyah, derajatnya lebih rendah dari derajat seorang pelacur?????????????

    Peringatan:
    Periksa sanak keluarga anda, jangan sampai ada yang memiliki faham wahhabi; seperti keyakinan mereka bahwa membaca tahlil atau membaca al-Qur’an untuk mayit adalah bid’ah, syirik, bahkan mereka mangkafirkan orang-orang Islam yang melakukan itu. Jangan sampe deh… anda punya anak berkeyakinan begitu, karena bila begitu maka anda akan merugi di dunia dan di akhirat. Di dunia anda lelah memaras keringat untuk membiayainya, tapi begitu anda meninggal maka anda akan dijadikan layaknya “bangkai”, dibungkus, dikubur diinjak-injak, dia tidak mau mendoakan anda, tidak mau membacakan walau hanya satu kali bacaan surat al-Fatihah untuk anda,apa lagi untuk mengkhatamkan al-Qur’an. mau???? jangan ampe deeeeh!!!!! A’udzu Billah!!!!!

  153. …@asalamualaikum wr wb..
    bgni y ane mo jg ikut nimbrung mslah tahlilan…krna ini mslah pd ranah ibdah jd harus ada dalil ato syariat yg menunjukanya…tp kalo ga ada brarti ini prkara yg baru….jd kmbalikan semua pd al quran dan sunah rosul….mslah fatwa ulama bsa ga di pake kalo menyelisihi hadis yg sohih…mka antum tnjukan dalil ato hadis yg membolehkan adanya tahlilan….

  154. @bandy, dalilnya udh jelas baca yg teliti !!, kalau fatwa ulama Wahabbi pasti dipake samii’na wa’ato’naa

  155. @bandy bagaimana fatwa yang merubah tempat saii, ingat ini rukun haji ya , berkaitan dengan ibadah????

  156. @bandy
    Ini dalil dari Hadist Bukhari dan Muslim ya.
    Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87)

    Tolong ente terjemahin sendiri ya, apakah orang-orang yang berkumpul untuk berzikir tidak diperbolehkan ????

    • saudaraq, anda mungkn org awam yg blum memiliki ilmu yg cukup untuk menentang da’wah salafi ni,, anda mungkin kenl da’wah salafi ni dari mulut org2 yg hasad dgn perkembangan da’wah ini,,, anda tidak pernah membaca al-qur’an sampai tamat atau g tau arti ayat2 yg anda baca.. anda mengucapkan Nauzubillah org salafi bilang Allah diatas Arsy,, sedgkan Allah sendri mengatakan diri-Nya di sana,, jadi Anda menyakini Allah dimana – mana ? nauzubillah,, apakh anda tidak prnh berfikr mengpa Allah mi’rajkan nabi kita Muhammad ke Atas langit . Allah berfirman dlm alqur’an dg jels mengatakan Allah di atas Arsy : Surat AT-Thoha 5 : الرحمن على العشر استوى dan terdapt pula dalm surt lainx.

      • @kamaludin
        mmg kami org awam dan faqir, dan tdk merasa paling benar dan paling berilmu, hanya org2 yg sombong dan dengki yg memakai bajunya Allah SWT, antum juga salah mengatakan Allah ada dimana2, Allah itu Ada dan tidak butuh tempat jgn salah menafsirkan!

  157. kalau tahlilan, yasinan, itu bid’ah menurut sawah, kan mrk selalu mengartikan Qur’an dan Hadits secara harpiah, apa ada dalam Qur’an dan Hadits bahwa tahlilan dan Yasinan itu disebut terlarang yah?

  158. Ribet amat jadi SAWAH yah!!
    Apa2 yang baru selalu dibid’ahkan dan mereka identikan dengan haram, Bener2 pola pikir yang kaku tak pakai ilmu lebih ndeso dari pada jaman batu yah!! qiqiqiqiqi……

  159. ” bahkan Rasulullah Saw sendiri mengadopsi tradisi puasa ‘Asyura yang sebelumnya dilakukan oleh orang Yahudi yang memperingati hari kemenangannya Nabi Musa dengan berpuasa.”

    Nabi Musa alaihisallam adalah seorang Nabi utusan Allah yg mendakwahi orang yahudi.
    Pertanyaannya : kalau tahlilan mengadopsi darimana ya ? Dan siapakah yg mengadopsinya, Rasulullah kah ? Bila puasa asyura atas taqrir/persetujuan Rasulullah yg otomatis menjadi Sunnah, bagaimana dg Tahlilan ? Pernah Rasulullah melaksanakan Tahlilan pada saat anak dan istrinya meninggal ? Tolong ditunjukan dalil shahihnya. Syukron.

    • tidak semua yg tidak dicontohkan Nabi SAW itu bid’ah dholalah, coba lihat isi acara tahlilan itu apa aja? baca surat Yasin, dan porsis tahlil yg lebih besar, naaahh adakah disebutkan tahlilan yg isinya baca Qur’an & tahlil itu dilarang ??? contoh juga Dauroh Minggu pagi oleh kaum wahabi, adakah dicontohkan oleh Nabi SAW ??? kalo mau pake dalil…yah silahkan cari dalil membaca surat Yasin/Qur’an lainnya & tahlil…tentunya ada kan???

  160. Mas Putu, menurut Wahabi tahlilan kan haram krn gak ada contohnya di jaman Nabi Muhammad Saw…

    Lalu, menurut anda pemindahan jalur Sa’I haji oleh ulama Wahabi-pemerintah Saudi, ada contohnya gak di jaman Nabi Saw? Koq boleh sama Wahabi?

    Satu lagi, perubahan shalawat Nabi Saw pd atahiyat shalat oleh ulama Wahabi menjadi assalamu ‘alannaby ada gak contohnya dr jaman Nabi Saw? Pdhl kalau gak baca shalawat Nabi pas tahiyat akhir gak sah shalatnya… Kalau atahiyatnya diganti sah gak shalatnya???

    Mas Putu, kenapa sih Wahabi ngerubah Sa’I dan ngerubah shalawat di atahiyat gak anda masalahin? Tapi giliran tahlilan, salaman setelah shalat, dan hal2 yg sifatnya fururiyah malah dibesar2kan?

  161. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarahkatuh,
    menanggapi komentar dari saudara bapak prabu, silahkan bisa dibaca & dilihat dalam kitab sifat sholat NABI, karya syaikh muhammad al albani rahimahullah dengan dalil dalil yang shahih serta penjelasan yang akurat, dari atsar para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in.
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarahkatuh. Jazakallaahu khairan,

  162. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarahkatuh,
    menanggapi komentar dari saudara bapak prabu, silahkan bisa dibaca & dilihat dalam kitab sifat sholat NABI, karya syaikh muhammad al albani rahimahullah dengan dalil dalil yang shahih serta penjelasan yang akurat, dari atsar para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in.
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarahkatuh. Jazakallaahu khairan

  163. dan satu lagi , kalau sekiranya perbuatan itu baik dan mendatangkan pahala tentulah para sahabat telah mendahului kita dalam mengamalkannya, Lau Kaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi.

  164. saya heran dengan wahabi.tahlilan orang dianggap sesat,kumpul2 orang dlam majelis zikir dikatakan bid,ah,shalawatan org dikatakan bida,ah, berdoa untuk org mati dianggap syirik,bersedekah untuk org mati dianggap sesat.lalu sy hrus bagaimana……? itu wahabi karna dia haramkan yg namanya tahlilan,yasinan dan sdekah untuk org mati.nanti kalo dia mati ga usah didoakan. tanam aja dia kaya anjing atau binatang.krn anjing n binatang kalo mati tdk di tahlilikan,dizikirkan didoakan.mreka haramkan ta’ziahan,tahlilan,yasinan dsb.jd org wahabi kalau mati tidak dikubur,tapi di tanam.sama dong dengan matinya binatang.koment utk wahabi dan aliran sejenisnya.

  165. oke coment buat wahabi

  166. Ismail PutraJa-lom

    Saya tidak percaya dg yg namanya Al-bany…!!
    Mau bilang Bid’ah, sesat, syirik, ajaran syetan, masuk neraka, tetap saya tidak percaya dg yg namanya al-banny..!! Emangnya dia siapa..?? Seenaknya saja memalsukan hadits-hadits nabi..!!
    Boosz… Tau g’ sich makna drpd Tahlilan itu sndiri..??
    Booszzz.. Jagan memponis ini sesat, itu bid’ah, haraam, masuk neraka… Kaji dulu hadits-hadits sampean itu, udah tepat sasaran tidaak..!!
    Kalau ada hadits mgtkan dilarang ngumpul dtempat orang yg sdh mati a/ menyuguhkan makanan dsbgnya..!! Apa benaarr itu ditujukan u/ orang yg bertahlilaan..??
    Apa saya berdosa, kalau sy bersedekah u/ mereka, dg mengeluarkan makanan..??

  167. @Mas irfan
    Ber mazhab dengan muhammad al albani adalah bid’ah atuh, ???

  168. Assalamualaikum
    mas Irfan yg baik…
    Kalau mencemati tulisan2 kaum Wahabi, saya dapati kalian
    menyuruh kami untuk tidak takliq terhadap ulama….namun sering sy dapati pula justru kaum Wahabi takliq thdp syekh Al-Bani, syekh Bin Baz, syekh Ustmaimin dsb…
    Yang saya tanyakan apakah para syekh itu hafal ratusan ribu hadist hingga mrk bisa berfatwa ini dan itu…termaksud menshahihkan, menghasankan, mendhoifkan suatu hadist….
    Oh ya, anda tahu tidak kalau syekh Al-Bany pada akhir hidupnya bertaubat dari akidah Wahabi ke akidah Asy’ari bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.
    Kalau anda belum tahu sebaiknya anda mengkaji dulu….drpd anda tersesat.

  169. Assalamualaikum
    @mas Irfan:
    mungkin sebaiknya anda membaca link berikut:

    http://salafytobat.wordpress.com/2008/10/30/kesesatan-albanywahaby-dalam-ilmu-hadits-tarjamah/

    Wassalamualaikum 🙂

  170. Ya Allah… semuga sodara2 kita yg kurang dalam ilmu ngajinya mudah2 han engkau beri kekuaasaan ilmu yg melimpah sehingga tidak saling mengkafirkan … amien.. kalo menurut saya apa yg selama ini terjadi di negri kita indonesia khususnya , acara tahlilan , baca AL barjanji , maulid nabi… serta baca 2 an yg lain seperti ratib Al hadad , Al attos , Manqib syaih Abdul Qodir dll… memang tidak ada perintah secara langsung dari lisan nabi kita Rasulloh SAW sebagai mana perintah solat… namun kalo menilik isi bacaan2 nya kan termasuk usaha seorang hamba dalam rangka kita mendekat kan diri kepada Allah swt itu ada khadist jelas nya… dalil nya sudah jelas… baik dr Alqur’an maupun hadist.. bagi saya sebagai orang awam kita tak perlu meragukan ke islaman para wali2 kita yg telah membawa ajaran islam ke negri kita tercinta ini… sebagai orang awam kita cukup samikna wataokna saja…… yg mana selagi itu tidak menyimpang dr tauhid , saya rasa ga perlu di perdebatkan.. bagi yg mau menjalankan silahkan… bagi yang tidak mau yah jangan ngajak2 orang untuk ikut2 tan mboikot nya…. itu saja.. yg penting kalo anda2 belum tau dsar2 nya yg jelas jangan buru2 mengkafirkan dan mengharamkan sesuatu…

  171. @pak Kamaluddin

    K
    kamaludin,

    Ini udah dijawab oleh ustadz Ahmad Syahid…silahkan anda buka artikel jawaban atas ustadz Firanda.

    Mohon maaf Pak…untuk tidak mengartikan segala sesuatu secara tekstual, karena apabila ada aswaja yg mengatakan ‘Allah ada dimana-mana’ itu bermakna majasi/perumpamaan. Bukan seperti tuduhan ustadz2 anda yg memberikan gambaran seolah2 aswaja meyakini bhw Allah ada di kursi, meja, bahkan kotoran manusia…
    Ngeri amat tuduhan seperti itu Pak…ckckck…

    Allah ada di mana-mana maksudnya Allah ada di setiap fenomena…Allah sebagai penyebab adanya setiap benda, zat, atau fenomena yg terjadi. Itu maksudnya Pak… Mohon untuk tidak berburuk sangka dahulu…

    Kami tidak mengartikan ayat2 mustasyabih secara tekstual…krn kalau diartikan scr tekstual dapat terjadi kontradiksi antara satu ayat dg ayat yg lain.

    Lagipula memahami ayat2 mustasyabih scr majaz lebih menyelamatkan akidah kita drpd memahaminya scr tekstual.

    Contoh, akidah Wahabi yg meyakini Allah memiliki bentuk, memiliki mata, tangan, kaki..dsb. Meskipun dikatakan, tidak diketahui seperti apa matanya Allah, tangannya Allah, dsb…namun keyakinan2 spt itu akan menghantarkan manusia pd berandai2/mengimajinasikan bentuk Allah Swt.

    Kami lebih memilih akidahnya Imam Ali bin Abi Thalib yg mengatakan bahwa Allah ada tanpa arah, tanpa bertempat.
    Dan lebih memilih keyakinan ttg Allah spt yg diajarkan Rasulullah Swt dalam sebuah hadist shahih, bahwa segala sesuatu yg terbersit di benak kita ttg Allah itu bukanlah Allah.

    Untuk lebih jelasnya anda baca langsung saja penjelasan ustadz Ahmad Syahid menjawab tulisan ustadz Firanda.

    Syukron

  172. RALAT:
    Ada kesalahan ketik,
    – Ali bin Abi Thalib, harusnya memakai gelar Ra.
    – Rasulullah Swt, harusnya Rasulullah Saw

    Mohon maaf atas kelalaian ini

    Syukron

    • @mas prabu
      mangstab..penjelasannya.!! eh, nglengkapi ralat .. he..he..he..

      >>>- Ali bin Abi Thalib, harusnya memakai gelar Ra.
      ===tidak harus kok, tapi boleh…kebanyakan ulama aswaja menggelari ali bin abi tholib karromallohu wajhah (KW) namun ada yg membolehkan menggelari Alaihis-salam (AS). klw syi’ah, semua menggelari beliau Alaihis-salam (AS).

  173. Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm berkata :
    وأحب لجيران الميت أو ذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعاما يشبعهم فإن ذلك سنة وذكر كريم وهو من فعل أهل الخير قبلنا وبعدنا لأنه لما جاء نعي جعفر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اجعلوا لآل جعفر طعاما فإن قد جاءهم أمر يشغلهم
    Dan saya menyukai apabila tetangga si mayit atau kerabatnya membuat makanan untuk keluarga mayit pada hari meninggal dan pada malam harinya yang dapat menyenangkan mereka, hal itu sunah dan merupakan sebutan yang mulia, dan merupakan pekerjaan orang-orang yang menyenangi kebaikan, karena tatkala datang berita wafatnya Ja’far, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan”

    • @masnun
      >>>Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm berkata :
      ==halaman berapa pak ustad? Pengen ikut muthola’ah, nih??=
      >>Dan saya menyukai apabila tetangga si mayit atau kerabatnya membuat makanan untuk keluarga mayit pada hari meninggal dan pada malam harinya yang dapat menyenangkan mereka
      ==alhamd.. masyarakat kami klw ada warganya yg brduka bukan Cuma membantu makanan untuk satu hari-satu malam tapi malah bisa u/ keperluan makan berhari2? Dan juga bukan makanan saja tp keperluan2 lain… kan semangat gotong-royong pak ustad>>>Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm berkata :
      ==halaman berapa pak ustad? Pengen ikut muthola’ah, nih??=
      >>Dan saya menyukai apabila tetangga si mayit atau kerabatnya membuat makanan untuk keluarga mayit pada hari meninggal dan pada malam harinya yang dapat menyenangkan mereka
      ==alhamd.. masyarakat kami klw ada warganya yg brduka bukan Cuma membantu makanan untuk satu hari-satu malam tapi malah bisa u/ keperluan makan berhari2? Dan juga bukan makanan saja tp keperluan2 lain… kan semangat gotong-royong pak ustad ??=

      • @ ustadz ASY-SAIDANI : antum bisa buka Maktabah Syamilah atau pada kitab terjemahan ‘Ringkasan Kitab Al-Umm 1’, hal. 387, ‘Raudhatuth Thalibin1, hal 950.
        Mhn maap untu kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, I’anatuht Thalibin, Irsyadul ‘Ibad, dll, sy blm punya terjemahannya.
        ‘Tidak dianjurkan’ itu artinya apa?
        Sy balik bertanya, ‘Kenapa kita kok bersemanngat sekali mengamalkan suatu amalan yang tidak dianjurkan?’

  174. Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan :
    قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة هذا كلام صاحب الشامل ويستدل لهذا بحديث جرير بن عبد الله رضى الله عنه قال ” كُنَّا نَعُدُّ الْاِجْتِمَاعِ إلى أهلِ الْمَيِّتِ وصُنَّعَةُ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ من النِّيَاحَةِ ”
    “Penulis kitab Asy-Syamil mengatakan, ‘Adapun menyiapkan makanan bagi keluarga yang berduka dan mengumpulkan orang-orang kepadanya, itu tidak pernah diriwayatkan sama sekali’”
    Dia menambahkan, ‘Hal ini bid’ah dan tidak dianjurkan, sebagaimana yang telah dipaparkan’.
    Demikianlah perkataan Pengarang kitab Asy-Syamil berdasarkan hadits dari Jarir bin Abdullah Bajali, dia berkata, “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sesudah penguburannya termasuk ratapan”

    • @masnun
      >>>Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan :
      ====halaman berapa pak ustad? Pengen ikut muthola’ah, nih?? =
      >>Dia menambahkan, ‘Hal ini bid’ah dan tidak dianjurkan”
      ==kata “tidak dianjurkan” itu logikanya haram? makruh atw mubah ya??

    • “riwayat Hadits riwayat Ashim bin Kulaib ra yg diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dengan sanad shahih, dari ayahnya, dari seorang lelaki anshar, berkata :

      kami keluar bersama Rasul saw dalam suatu penguburan jenazah, lalu kulihat Rasul saw memerintahkan pada penggali kubur untuk memperlebar dari arah kaki dan dari arah kepala, ketika selesai maka datanglah seorang utusan istri almarhum, mengundang Nabi saw untuk bertandang kerumahnya, lalu Rasul saw menerima undangannya dan kami bersamanya, lalu dihidangkan makanan,

      lalu Rasul saw menaruh tangannya saw di makanan itu kamipun menaruh tangan kami dimakanan itu lalu kesemuanyapun makan.

      Riwayat Abu Dawud dan Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah, demikian pula diriwayatkan dalam AL Misykaah, di Bab Mukjizat, dikatakan bahwa ketika beliau saw akan pulang maka datanglah utusan istri almarhum.. dan hal ini merupakan Nash yg jelas bahwa Rasulullah saw mendatangi undangan keluarga duka, dan berkumpul bersama sahabat beliau saw setelah penguburan dan makan”.
      (Tuhfatul Ahwadziy Juz 4 hal 67).

  175. Al-Bakri Dimyati Asy-Syafi’i Dalam Kitab I’anatut Thalibin menguraikan :
    ويكره لاهل الميت الجلوس للتعزية، وصنع طعام يجمعون الناس عليه، لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة، ويستحب لجيران أهل الميت – ولو أجانب – ومعارفهم – وإن لم يكونوا جيرانا – وأقاربه الاباعد – وإن كانوا بغير بلد الميت – أن يصنعوا لاهله طعاما يكفيهم يوما وليلة، وأن يلحوا عليهم في الاكل. ويحرم صنعه للنائحة، لانه إعانة على معصية.
    Dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk duduk-duduk berta’ziyah, dan membuat makanan supaya orang-orang berkumpul kesitu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dari Jarir bin Abdullah Bajali, dia berkata, “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sesudah penguburannya termasuk ratapan”. Dan disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit – walau tetangga jauh – dan kenalan mereka, meskipun bukan tetangga, dan kerabatnya yang jauh, meskipun tidak di negeri si mayit, membuatkan makanan untuk keluarganya yang bisa mencukupi mereka sehari semalam. Dan haram membari makan kepada wanita yang meratap, karena hal tersebut membantu perbuatan maksiat.

  176. Imam Zaenudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani Asy-Syafi’i dalam kitab Irsyadul ‘Ibad menjelaskan :
    ويكره لهم الجلوس لها وصنع طعام يجمعون الناس عليه لما روى أحمد عن جرير بن عبد الله البجلي قال: كنا نعدّ الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة. ويستحب لجيران أهل الميت ولو أجانب ومعارفهم، وإن لم يكونوا جيراناً وأقاربه الأباعد، وإن كانوا بغير بلد الميت أن يصنعوا لأهله طعاماً يكفيهم يوماً وليلة. وأن يلحوا عليهم في الأكل، ويحرم صنعه للنائحة، لأنه إعانة على معصية
    Dan dimakruhkan untuk duduk-dudk dan membuat makanan dengan mengumpulkan orang-orang untuk mendatanginya, karena Ahmad meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah bin Bajali,
    “Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan,”
    Dan disunnahkan bagi para tetangga keluarga mayit, meskipun bukan dari pihak keluarganya dan para kenalan, meskipun bukan tatangga dan kerabat jauh, meskipun mereka berada di negeri lain, memberi makanan kepada keluarga mayit yang mencukupi untuk sehari semalam, dan mendorong mereka supaya makan. Dan haram membuatkan makanan untuk perempuan yang meratap karena hal itu membantu melakukan perbuatan maksiat.

  177. @ustad masnun
    He..he…he.. soal makan2 udah dijelaskan sama mas pras tuh pak ustadz masnun??? Dg hadist sohih pula?? Komflet dg rujukan kitab dan halamannya….Jazakallah mas prass…
    “ketika sebuah hadist sudah sohih, maka itulah madzhabku

    • @ustadz ASY-SAIDANI : Mhn koreksi, apakah hadits-hadits yang dikutip Imam Nawawi, Imam Al-Bakri, dan Imam Zaenudin di atas tidak shahih tadz?

  178. Syeikh Zakaria Al-Anshary Asy-Syafi’i dalam kitab Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah menjelaskan :
    وَأَمَّا تَهْيِئَةُ أَهْلِهِ طَعَامًا لِلنَّاسِ فَبِدْعَةٌ مَذْمُومَةٌ ذَكَرَهُ فِي الرَّوْضَةِ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ وَيُسْتَدَلُّ لَهُ بِقَوْلِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعَهُمْ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ
    Adapun yang dilaksanakan keluarga mayit menyiapkan makanan bagi orang-orang adalah bid’ah yang tercela, sebagaimana disebutkan dalam Arruoudhoh. Dikatakan dalam Al-Majmu’ yang menjadi dasar adalah ucapan Jarir bin Abdullah bin Bajali,
    “Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan,” Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad sahih, dan dalam riwayat Ibnu Majah tidak terdapat kata ‘ba’da dafnihi’
    [Al-ghororil Bahiyah Syarhul Bahjatul Wardiyyah, Maktabah Syamilah]

  179. @ustadz masnun
    cermati dech..
    1. ta’bir kitab2 yang antum sebutkan tersebut..
    —->landasannya adalah Pendapat ibnu jarir (sahabat), paling mentok cuma dihukumi MARFU’

    2. Hadist yg disebutkan mas pras …….
    – —> “riwayat Hadits riwayat Ashim bin Kulaib ra yg diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dengan sanad shahih, ….
    —–>ini hadist yg sahih dan muttasil sampai ke rasulullah. yang tentu saja kedudukannya lebih kuat dibanding atsar sohabat yg marfu’

    —–bisa di pahami???—–

    • @ASY-SAIDANI :
      1. Oh, berarti pendapat Imam Nawawi, Imam Al-Bakri, Imam Zaenudin, dan imam-imam yang lain dengan mengutip hadits tersebut keliru yah? Berarti mereka tidak paham ilmu hadits yah?
      2. Sudahkah anda periksa hadits Abu Dawud yang dikutip TUHFATUL AHWADZI dlm kitab aslinya? Silahkan periksa redaksi hadits dalam Sunan Abu Dawud no. 3332 dan Musnad Ahmad no. 22562. Nanti antum akan menemukan perbedaan redaksi hadits yang sangat mengganggu.

      • @MASNUN :
        >>>Oh, berarti pendapat Imam Nawawi, Imam Al-Bakri, Imam Zaenudin, dan imam-imam yang lain dengan mengutip hadits tersebut keliru yah? Berarti mereka tidak paham ilmu hadits yah?
        ==He..he..kayaknya ustad masnun tuh yg lagi kesulitan memahami uraian beliau2..perlu dijelaskan sedetail2nya ya… ??

        >> Silahkan periksa redaksi hadits dalam Sunan Abu Dawud no. 3332(makt.syamilah)
        ==dari musaddad dari al jarrah abu waqi’ dari abi ishaq dari syarik dari Ali. Ali berkata, “dilarang makan bawan putih kecuali di masak”

        >>dan Musnad Ahmad no. 22562. (makt.syamilah)
        === tentang kisah wafatnya abi tholib

        >> Nanti antum akan menemukan perbedaan redaksi hadits yang sangat mengganggu.
        ==kok, terganggu kenapa ya?? Kok ada perbedaan redaksi apa ada tahrif ya? terus apa hubungan bawang putih dan wafatnya abu tholib?? Mohon pencerahannya…

        • @ustadz ASY-SAIDANI :
          1. Penjelasan mereka dalam kitab-kitab tersebut sdh detail. Tdk perlu didetailkan lagi, kecuali antum memang merasa lebih ahli dalam merangkai dalil-dalil dari pada mereka (An-Nawawi, Al-Bakri, Az-Zaenudin, dll).
          2. Antum meragukan hadits yang dikutip para ulama tsb (bukan saya yang ngutip lho!), tp di satu sisi antum begitu yakin dengan kesahihan hadits yang dikutip Al-Mubarakhfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi.
          3 Al-Mubarakhfuri mengutip hadits dari Sunan Abu Dawud. Benarkah hadits yang dikutip itu sesuai dengan aslinya?
          Inilah hadits yang dikutip Al-Mubarakhfuri :
          فلما رجع استقبله داعي امرأته فأجاب ونحن معه…

          Inilah hadits dalam Sunan Abu Dawud no. 3332 (makt. Syam)
          فلما رجع استقبله داعي امرأة فجاء وجيء بالطعام …..

          Sebagai pembanding, Musnad Ahmad no. 22562 :
          فَلَمَّا رَجَعْنَا لَقِيَنَا دَاعِي امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ….

          Ternyata hadits yang dikutip Al-Murakhfuri tidak sama dengan aslinya.
          Dimana perbedaannya?
          Antum lebih tahu jawabannya. Karena dari uraian antum di atas, antum kelihatan sangat menguasai ilmu hadits.

  180. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i dalam kitab Bulughul Maram mengutip hadits dari Abdullah Ibnu Ja’far Radliyallaahu ‘anhu, dimana dia berkata:
    لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ -حِينَ قُتِلَ- قَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم “اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا, فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ” أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ, إِلَّا النَّسَائِيّ
    “Ketika berita kematian Ja’far datang sewaktu ia terbunuh, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang sesuatu yang menyusahkan mereka.’” (HR. Imam Lima kecuali Nasa’i).

    • @masnun
      ===> dah jelas tu…
      ===> he..he..he.. masyarakat kami gak cuma nyumbang beras.. tapi uang dan… dan….dan…..dan lain-lain

  181. Imam Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam menjelaskan hadits di atas sbb :
    فيه دليل على شرعية إيناس أهل الميت بصنع الطعام لهم لما هم فيه من الشغل بالموت، ولكنه أخرج أحمد من حديث جرير بن عبد الله البجلي: “كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام بعد دفنه من النياحة”. فيحمل حديث جرير على أن المراد صنعة أهل الميت الطعام لمن يدفن منهم ويحضر لديهم كما هو عرف بعض أهل الجهات، وأما الإحسان إليهم بحمل الطعام لهم فلا بأس به وهو الذي أفاده حديث جعفر.
    Hadits ini dalil yang menunjukkan bahwa keharusan mengasihani dan menghibur keluarga yang ditimpa musibah kematian dengan memasakkan makanan baginya, karena mereka sibuk mengurusi kematian itu. Tetapi Ahmad meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah bin Bajali,
    “Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan,” (HR. Ahmad, Ibnu Majah)
    Hadits dari Jarir bin Abdullah itu ditafsirkan bahwa maksudnya adalah pembuatan makanan oleh keluarga yang mati diberikan kepada mereka yang menguburkannya bersama mereka dan dihidangkan di hadapan mereka, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh sebagian orang yang tidak mengerti.
    [Subulusssalam 1, hal. 889].

    • @masnun
      he..he..he.. masih kesulitan merangkai beberapa dalil ya..?? dikumpulkan gitu loh.. dicermati latar belakangnya…faktor2 yg terkait…terus baru ditarik kesimpulannya…

      • @ustadz ASY-SAIDANI :
        1. Penjelasan mereka dalam kitab-kitab tersebut sdh detail. Tdk perlu didetailkan lagi, kecuali antum memang merasa lebih ahli dalam merangkai dalil-dalil dari pada mereka (An-Nawawi, Al-Bakri, Az-Zaenudin, dll).
        2. Antum meragukan hadits yang dikutip para ulama tsb (bukan saya yang ngutip lho!), tp di satu sisi antum begitu yakin dengan kesahihan hadits yang dikutip Al-Mubarakhfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi.
        3 Al-Mubarakhfuri mengutip hadits dari Sunan Abu Dawud. Benarkah hadits yang dikutip itu sesuai dengan aslinya?
        Inilah hadits yang dikutip Al-Mubarakhfuri :
        فلما رجع استقبله داعي امرأته فأجاب ونحن معه…

        Inilah hadits dalam Sunan Abu Dawud no. 3332 (makt. Syam)
        فلما رجع استقبله داعي امرأة فجاء وجيء بالطعام …..

        Sebagai pembanding, Musnad Ahmad no. 22562 :
        فَلَمَّا رَجَعْنَا لَقِيَنَا دَاعِي امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ….

        Ternyata hadits yang dikutip Al-Murakhfuri tidak sama dengan aslinya.
        Dimana perbedaannya?
        Antum lebih tahu jawabannya. Karena dari uraian antum di atas, antum kelihatan sangat menguasai ilmu hadits.

  182. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqhussunnah berkata :
    وما يفعله بعض الناس اليوم من الإجتماع للتعزية, وإقامه السرادقات, وفرش البسط, وصرف الأموال الطائلة من أجل المباهاة والمفاخرة من الأمور المحدثة والبدع المنكرة التى يجب على المسلمين اجتنابها, ويحرم عليهم فعلها, لاسيما وأنه يقع فيها كثير مما يخالف هدى الكتاب ويناقض تعاليم السنة, ويسير وفق عادات الجاهلية, كالتغنى باقران وعدم التزام اداب التلاوة, وترك الإنصات والتساغل عنه بشرب الدخان وغيره. ولم يقف الأمر عند هذا الحد, بل تجاوزه عند كثير من دون الأهواء فلم يكتفوا بالأيام الأول, بل جعلوا يوم الأربعين يوم تجدد لهذه المنكرات وإعادة لهذه البدع. و جعلوا ذكرى أولى بمناسبه مرور عام على الوفاة وذكرى ثانية, وهكذا مما لا يتفق مع عقل ولا نقل
    Oleh karena itu, apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang di masa kini, yaitu bertakziyah sambil duduk berkumpul, mendirikan tenda, membentangkan amparan, serta menghamburkan uang yang tidak sedikit, termasuk bid’ah yang dibuat-buat, dan bid’ah yang mungkar yang wajib dihindarkan oleh kaum muslimin dan terlarang mengerjakannya. Apalagi banyak pula terjadi hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan menyalahi sunnah. Justru sebaliknya, ia sejalan dengan adat istiadat jahiliyah, misalnya menyanyikan ayat-ayat Al-Qur’an tanpa mengindahkan norma dan tata tertib qira’at, tanpa menyimak dan berdiam diri, sebaliknya asyik bersenda gurau dan merokok. Dan tidak hanya sampai di sini, tetapi orang-orang hartawan melangkah lebih jauh lagi. Mereka tidak puas dengan hari-hari pertama, tetapi mereka peringati pada hari keempat puluh untuk membangkitkan kemungkaran-kemungkaran dan mengulangi bid’ah ini. Tidak saja mereka peringati genap satu tahun masa wafatnya, tetapi juga genap dua tahun dan seterusnya, suatu hal yang tidak sesuai dengan pikiran sehat dan tuntunan Al-Quran dan sunnah Nabi. [Fiqih Sunnah 2, hal. 203-204].

  183. @ust.asy-saidani

    terangkan saja lah ustadz asal hukum mubah bisa jd sunnah,krn……..
    terangkan pula aja ttg zikir,baca alqura’an dan doa berjamaah,lalu pahalanya kpd mayyit hukum nya bgm…

    krn kiranya ini penjelasan akan melebar kemana…he..he..thanks

    • sekalian ustadz hukum anak yg bersedekah pada orang banyak yg mana pahala di hadiahi pada orang tuanya,..
      thanks ustadz atas penjelasannya..

  184. @mas pras
    — >mas.. maap, mas… ana bukan ustad…
    —- > tentang tahlilan.. zikir berjamaah…. bisa di simak di “diskusi ASY-SAIDANI dan HERY “
    Di Mutiara zuhud on terhasut pembatasan makna.. insya di artikel lainya (potongan perkataan ulama) juga ada diskusi yg cukup menarik sebagai tambahan wawasan… diskusinya masih anget kok??
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/08/terhasut-pembatasan-makna/#comment-4916
    insya sudah komflettt…

  185. @Ustad Masnun
    Kalau mendirikan tenda masa’ gak boleh sih ustadz? Kan kasian yg ta’jiyah datang jauh2 kepanasan. Mungkin ada yg datang dari luar kota, masih capek, pengen duduk-duduk.

    Kalau ada yg merokok, tidak mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, itu kan salah individu si pelayat. Bukan salah yang punya rumah.

    Tahlilan gak apa-apa, nggak tahlilan juga nggak apa-apa. Nggak usah dibikin bingung ustadz, apalagi sampai bilang mungkar. Kan kita gak ngerti niatnya. Sami’na wato’na aja 🙂

    • @kenzi : Itu pendapat Sayyid Sabiq mas, bukan pendapat saya. Saya ini apalah mas, Apalagi kalau dibandingkan ustadz-ustadz lain yang ada di forum ini. Saya ini orang bodoh yang tidak punya kapasitas untuk berfatwa. Dan hak sepenuhnya pada anda, apakah anda mau mengikuti pendapat Sayyid Sabiq dan ulama-ulama lain yang saya kutip di atas, atau anda mengikuti pendapat-pendapat ustadz-ustadz di forum ini. Pendapat manapun yang kita pilih, kita akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

  186. kita akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.
    ini adalah ungkapan yang lebih bijak ketimbang kita merasa paling nyunnah, paling benar, dan orang lain disalahkan

  187. وأخرج سعد الزنجاني عن ابي هريرة مرفوعا: من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب, وقل هو الله أحد, وألهاكم التكاثر, ثم قال: إني جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات, كانوا شفعاء له ألى الله تعالى. وأخرج عبد العزيز صاحب الخلال بسند عن أنس مرفوعا: من دخل المقابر, فقرأ سورة يس, خفف الله عنه وكان له بعدد من فيها حسنات
    (محمد بن عبد الوهاب ” مؤسسة الفرقة الوهابية ” في كتابه أحكام تمني الموت)

    “Sa’ad al-Zanjani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh ra secara marfu’: “Barang siapa mendatangi kuburan lalu membaca surah al-Fatihah, Qul Huwallahu Ahad dan al-Hakumuttakatsur, kemudian mengatakan: “Ya Allah, aku hadiahkan pahala bacaan al-Qur’an ini bagi kaum beriman laki-laki dan perempuan di kuburan ini”, maka mereka akan menjadi penolongnya kepada Allah”. Abdul Aziz – murid dari al-Imam al-Khollal -, meriwayatkan hadist dari sanadnya dari Anas bin Malik ra secara marfu’: Barangsiapa mendatangi kuburan, lalu membaca Surat Yasin, maka Allah akan meringankan siksa mereka, dan ia akan memperoleh pahala sebanyak orang-orang yang ada di kuburan itu.” (Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahkam Tamanni al-Maut, hal. 75)

    apakah perkataan ulama tsb di atas dalam kitabnya benar ??

  188. juga yg ini :

    وسئل: عمن هلل سبعين ألف مرة، وأهداه للميت يكون براءة للميت من النار حديث صحيح أم لا‏؟‏ وإذا هلل الإنسان وأهداه إلى الميت يصل إليه ثوابه، أم لا‏؟‏ فأجاب‏: إذا هلل الإنسان هكذا‏:‏ سبعون ألفاً، أو أقل، أو أكثر، وأهديت إليه، نفعه الله بذلك، وليس هذا حديثا صحيحاً، ولا ضعيفاً‏.‏ والله أعلم‏.‏ مجموع فتاوى ابن تيمية

    “Syaikh Ibnu Taimiyah ditanya (oleh seseorang) tentang orang yang membaca tahlil 70.000 kali dan menghadiahkannya kepada mayit agar menjadi tebusan baginya dari neraka, apakah hal ini hadits shahih atau tidak?. Dan apabila sseorang membaca tahlil lalu dihadiahkan kepada mayit, apakah pahalanya sampai atau tidak?” Beliau menjawab, “Apabila seseorang membaca tahlil sekian; 70.000 atau kurang, dan atau lebih, lalu dihadiahkan kepada mayit, maka hadiah tersebut bermanfaat baginya, dan ini bukan hadits shahih dan bukan hadits dha’if. Wallahu a’lam (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 24 hal. 323)

    قال شيخ الأسلام تقيالدّين احمد بن تيمية في فتاويه، الصّيحح أن الميّت ينتفع بجميع العبادات البدنية من الصّلاة والصّوم والقراءة كما ينتفع بالعبادات الماليّة من الصّدقة ونحوها باتّفاق الأئمّة وكمالودعي له واستغفرله – حكم الشريعة الإسلاميّة فى مأتم الأربعين ٣٦

    “Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan dalam kitab Fatawa-nya bahwa pendapat yang benar dan sesuai dengan kesepakatan para imam adalah bahwa mayit dapat memperoleh manfaat dari semua ibadah badaniyyah seperti shalat, puasa, membaca alQur’an, ataupun ibadah maliyah seperti sedekah dan lain-lainnya. Hal yang sama juga berlaku untuk orang yang berdo’a dan membaca istighfar untuk mayit. (Hukm al-Syari’ah al-Islamiyah fi Ma’tam al-Arba’in, 36)

  189. juga yg ini :

    Ada sebuah ayat yang sering digunakan oleh golongan pengingkar sebagai dasar bahwa pahala seseorang itu tidak bisa diberikan kepada orang lain. Dan ia hanya akan mendapatkan pahala dari amal yang dikerjakannya sendiri.

    أم لم ينبّأ بما في صحف موسى، وإبراهيم الّذي وفى، ألاّتزر وازرة وزرأخرى، وأن ليس للإنسان إلاّماسعى – النجم ٣٦-٣٩

    “Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnaan janji? (yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS Al-Najm 36-39)

    Namun menurut Ibn Qayyim al-Jawziyah, ulama kenamaan yang menjadi rujukan wahabi, beliau mengutip pendapat Abi al-Wafa’ Ibn ‘Aqil menjelaskan sebagai berikut:

    الجواب الجيّد عندي أن يقال الإنسان بسعيه وحسن عشرته اكتسب الأصدقاء وأولد الأولاد ونكح الأزواج وأسدى الخير وتودّد إلى النّاس فتر حّموا عليه وأهدوا له العبادات وكان ذلك أثرسعيه – الرّوح ١٤٥

    “Jawaban yang paling baik (tentang QS al-Najm 39) menurut saya, bahwa manusia dengan usahanya sendiri dan juga karena pergaulannya yang baik dengan orang lain, ia akan memperoleh banyak teman, melahirkan keturunan, menikahi perempuan, berbuat baik serta menyintai sesama. Maka semua teman, keturunannya dan keluarganya tentu akan menyayanginya kemudian menghadiahkan pahala ibadahnya (ketika telah meninggal dunia). Maka hal itu pada hakikatnya merupakan hasil usahanya sendiri.” (al-Ruh, 143)

  190. terakhir:
    وقال في شرح الكنز إن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة كان أو صوما أو حجا أو صدقة أو قراءة قرآن ذلك من جميع أنواع البر ويصل ذلك إلى الميت وينفعه ثم أهل السنة انتهى والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل كذا ذكره النووي في الأذكار وفي شرح المنهاج لابن النحوي لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور والمختار الوصول إذا سأل الله إيصال ثواب قراءته وينبغي الجزم به لأنه دعاء فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعي فلأن يجوز بما هو له أولى ويبقى الأمر فيه موقوفا على استجابة الدعاء وهذا المعنى لا يختص بالقراءة بل يجري في سائر الأعمال والظاهر أن الدعاء متفق عليه أنه ينفع الميت والحي القريب والبعيد بوصية وغيرها وعلى ذلك أحاديث كثيرة

    • “Disebutkan dalam Syarh al-Kanz bahwa boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah. Namun Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “Tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa untuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yang lebih baik, dan ini boleh untuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yang jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak” (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy Juz 4 hal 142, Al Majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy Juz 15 hal 522).

  191. silahkan teman-2 wahabiyun utk menanggapi

  192. Ibnul Qayyim Al-Jauziah Al-Hambali dalam kitab Zaadul Ma’ad berkata :
    وكان من هديه صلى الله عليه و سلم تعزية أهل الميت ولم يكن من هديه أن يجتمع للعزاء ويقرأ له القرآن لا عند قبره ولا غيره وكل هذا بدعة حادثة مكروهة
    وكان من هديه صلى الله عليه و سلم أن أهل الميت لا يتكلفون الطعام للناس بل أمر أن يصنع الناس لهم طعاما يرسلونه إليهم وهذا من أعظم مكارم الأخلاق والشيم والحمل عن أهل الميت فإنهم في شغل بمصابهم عن إطعام الناس
    Tuntunan beliau (Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam) adalah menghibur (ta’ziyah) keluarga mayat. Bukan termasuk tuntunan beliau mengumpulkan manusia lalu dibacakan Al-Quran baik di sisi kuburan maupun di tempat lain. Semua ini merupakan bid’ah yang dibenci. Yang disunahkan ialah menciptakan suasana tenang, pasrah dan ridha terhadap qadha’ Allah. Tuntunan beliau adalah tidak membebani keluarga mayit untuk menghidangkan makanan. Tapi beliau justru menyuruh manusia agar mengirimkannya kepada keluarga mayit. Ini merupakan ahlak yang mulia dan dalam rangka meringankan beban penderitaan keluarga yang ditinggalkan mayit.
    [Zaadul Ma’ad 1, hal. 65]

    • @ustadz masnun
      he..he..
      ibnul qoyyim al jauzi ? ibnu zanjafil kan??

    • @ustad masnun
      ibnul qoyyim?ibnu zanjafil kan??
      klw kata2 ini di kitab zadul ma’ad kira2 halaman berapa ya pak ustad??
      “dan setelah kiamat terjadi, lalu allah berjalan mengelilingi bumi yang telah sepi sunyi??”??

  193. Al-Haitami, di dalam Kitabnya, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, mengatakan :
    بِقَوْلِهِ قَوْلُهُمْ الْمَيِّتُ لَا يُقْرَأُ عَلَيْهِ مَبْنِيٌّ عَلَى مَا أَطْلَقَهُ الْمُتَقَدِّمُونَ مِنْ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ لِأَنَّ ثَوَابَهَا لِلْقَارِئِ وَالثَّوَابُ الْمُتَرَتِّبُ عَلَى عَمَلٍ لَا يُنْقَلُ عَنْ عَامِلِ ذَلِكَ الْعَمَلِ قَالَ تَعَالَى { وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إلَّا مَا سَعَى }
    “Mayit, tidak boleh dibacakan apa pun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari Ulama’ Mutaqaddimin (terdahulu), bahwa bacaan (yang pahalanya dikirmkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkan firman Allah (yang artinya), ‘Dan manusia tidak memperoleh, kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri”. (Al-Haitami, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, juz 2, hal. 9).

    • Mohon tanggapan untuk fatwa Al-Haitami di atas.

      • @ustad masnun

        — > tanggapannya sederhana.. sudah jadi kesepakatan fuqoha’ Syafiiyah, apabila pendapat Imam Inu hajar menyelisihi pendapat Imam Nawawi, maka pendapat imam nawawilah yg mu’tamat (jadi rujukan). rujukannya.. cari di khasiyah i’anahhalaman awal2..

        — > harap dimaklumi karena kedudukan imam nawawi lebih tinggi dari imam hajar dlm hirarki pentarjihan aqwal dlm fiqih syafi’i

        — > pendapat imam nawawi, bisa dilihat di kitab Al Adzkar hal. 140 baris 7-9
        ——————————semoga bermanfaat ————————–

        • @ASY-SAIDANI : Wah, sia-sia yah, Al-Haetami berfatwa, kl ahirnya menthok pada Imam Nawawi. Berarti sia-sia juga pendapat Imam Al-Ghazali tentang sunnahnya shalat ragha’ib (shalat Nisyfu Sya’ban), karena Imam Nawawi mebid’ahkan shalat tersebut.
          Sia-sia juga dong pendapat Al-Mubarakhfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi yang membolehkan makan-makan di rumah keluarga mayit, karena Imam Nawawi (mengutip pengarang Asy-Syamil) membid’ahkannya.

  194. @Mas ASWJ selalu
    — > wih…wih..dah komflet banget penjelasnnya…
    —- >ane tambahi dikit lagi ya….
    IMAM NAWAWI AS-SYAFI’I BERKATA
    “para ulama berbeda pendapat tentang sampainya pahala membaca al qur’an. Yang MASYHUR dari madzhab SYAFI’I dan segolongan ulama, seusngguhnya TIDAK SAMPAI. Dan MADZHAB AHMAD beserta segolongan ulama dan segolongan ASHABUS(MURID2) SYAFI’I sesungguhnya pahala itu SAMPAI. Maka yang TERPILIH (menurut imam nawawi) orang yang membaca alqur’an berkata sesudahnya ,” اللهم اوصل ثواب ما قرأته الى فلا ن
    “ya allah, sampaikan pahala yang ku baca (alqur’an) kepada fulan..)
    (al adzkar hal 140 baris 7-9 cet : toha putra semarang)

    NOTES :
    1. istilah MASHUR dalam madzhab syafi’I artinya ada perbedaan riwayat dari imam syafi’i. ada yang mengatakan imam syafi’I berpendapat pahalanya sampai, ada yang mengatakan imam syafi’I berpendapat pahalanya tidak sampai. Namun yang terkenal periwayatannya adalah riwayat yg masyhur. Jadi, pendapat pribadi imam syafi’I sendiri belum ada kepastian. Namun pendapat imam ahmad sudah jelas maka imam nawawi menggunakan bahasa “wadzahaba ahmad”,(dan imam ahmad berpendapat– > pasti)

    2. Setelah diketahui PENDAPAT IMAM SYAFII SENDIRI TIDAK ADA KEPASTIAN tapi ada dua periwayatan yaitu yg masyhur dan tidak mashur dari pendapat beliau, maka imam nawawi sendiri sudah mengatakan “maka yg TERPILIH dst” yg berarti imam nawawi mentarjihkan pendapat pribadi imam syafi’iyg tidak masyhur periwayatannya yaitu yang PAHALANYA SAMPAI karena dukungan dalil2.

    3. sudah menjadi kesepakatan fuqoha syafi’iyah bahwa apabila ada perbedaan imam nawawi dengan yg lainnya dalam mentarjih pendapat imam syafi’i maka pendapat IMAM NAWAWIlah yang di jadikan rujukan (mu’tamad) Yaitu ——— > PAKETAN PAHALA SAMPAI KE ALAMAT TUJUAN.
    —————————— SEMOGA BERMANFAAT ————————–

    • @Ustadz ASY-SAIDANI :
      “sudah menjadi kesepakatan fuqoha syafi’iyah bahwa apabila ada perbedaan imam nawawi dengan yg lainnya dalam mentarjih pendapat imam syafi’i maka pendapat IMAM NAWAWIlah yang di jadikan rujukan (mu’tamad) Yaitu ——— > PAKETAN PAHALA SAMPAI KE ALAMAT TUJUAN.”
      Mohon ditunjukkan kitab rujukannya tentang pendapat di atas tadz. Trimakasih.

      • @masnun
        — >Map pak ustad… ana dah lupa halamannya… tp bisa dicek di Khasyiyah ‘Ianatut tholibin halaman awal2.. kitab2 yg lain juga ada kok.. maklum ana gak mesti bisa apal semua ta’bir dlm kitab n halamannya kan?? Klw pengen mantaf.. bisa ditanyakan di alumnus2 pesantren syafiiyah. (pesantren Indonesia mayoritas syafi’iyah kok??)
        — > disitu juga dijelaskan hirarki pentarjihan perbedaan pendapat antar ulama tarjih . contoh :
        Imam nawawi dan imam rofi’I (kedudukannya sama) ——- > imam nawawi yg mu’tamad
        Ibnu hajar dan ar romli (kedudukannya sama) —– > ibnu hajar yg mu’tamad

        Bahkan terkadang ada perbedaan pendapat/ta’bir kitab dari berbagai kitab yg dikarang oleh imam nawawi saja..atau rofi’I saja. Di situpun juga dijelaskan kitab mana yg harus jadi rujukan apabila ada perbedaan ibarat….

        • @Ustadz ASY-SAIDANI : Mohon lain kali hati-hati kalau menyampaikan pendapat. Tunjukkan sumbernya yang jelas. Jangan hanya kritis terhadap pendapat orang lain yang tidak cocok dengan antum.
          Okelah, kalau itu pendapat antum. Sekarang sy ingin bertanya : Benar atau salahkah pendapat Imam Nawawi dalam kitab ALMAJMU’ SYARAH AL-MUHADZDZAB di bawah ini :
          Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan :
          قال المصنف رحمه الله * { ويستحب لا قرباء الميت وجيرانه ان يصلحوا لاهل الميت طعاما لما روى أنه لما قتل جعفر ابن ابى طالب رضي الله عنه قال النبي صلى الله عليه وسلم ” اصنعوا لآل جعفر طعاما فانه قد جاء هم أمر يشغلهم عنه ” }
          * { الشرح } …واتفقت نصوص الشافعي في الام والمختصر والاصحاب على أنه يستحب لا قرباء الميت وجيرانه ان يعملوا طعاما لاهل الميت ويكون بحيث يشبعهم في يومهم وليلتهم قال الشافعي في المختصر واحب لقرابة الميت وجيرانه ان يعملوا لاهل الميت في يومهم وليلتهم طعاما يشبعهم فانه سنة وفعل أهل الخير
          قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة هذا كلام صاحب الشامل ويستدل لهذا بحديث جرير بن عبد الله رضى الله عنه قال ” كُنَّا نَعُدُّ الْاِجْتِمَاعِ إلى أهلِ الْمَيِّتِ وصُنَّعَةُ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ من النِّيَاحَةِ “

          • Pengarang (Asy-Syirazi) berkata :
            Disunnahkan bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit berdasarkan riwayat bahwasanya Ketika berita kematian Ja’far datang sewaktu ia terbunuh, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang sesuatu yang menyusahkan mereka.”
            Penjelasan (Oleh Imam Nawawi) :
            Dan disepakati oleh Nash-nash Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Muhtashar dan para pengikutnya bahwasanya disunnahkan bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit dan bisa mengenyangkan mereka selama sehari semalam. Imam Syafi’i berkata dalam Al-Muhtashar : Dan saya menyukai bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit dan bisa mengenyangkan mereka selama sehari semalam karena itu sunnah dan merupakan perbuatan ahli kebaikan.
            “Penulis kitab Asy-Syamil mengatakan, ‘Adapun menyiapkan makanan bagi keluarga yang berduka dan mengumpulkan orang-orang kepadanya, itu tidak pernah diriwayatkan sama sekali’”
            Dia menambahkan, ‘Hal ini bid’ah dan tidak dianjurkan, sebagaimana yang telah dipaparkan’.
            Demikianlah perkataan Pengarang kitab Asy-Syamil berdasarkan hadits dari Jarir bin Abdullah Bajali, dia berkata, “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sesudah penguburannya termasuk ratapan”
            (Antum bisa buka MAKTABAH SYAMILAH, sekalian mhn koreksi kalau sy salah kutip)

  195. @Ustadz Masnun
    Kalau saya ikuti copy paste Anda, terkesan Anda mengutip pendapat Imam Nawawi, tapi apakan pendapat tersebut sudah Anda konfirmasi kepada pendapat Imam Nawawi yang lain seperti yang dikutip Ustadz Asy Saidani? Kalau Anda keliru memahami yang dimaksud Imam Nawawi, terus menyebarkan kepada awam, apkah Anda tidak takut dikatakan sebagai berdusta atas nama Imam Nawai? Jadi, menurut ana yang awam, kalau Anda mengutip Imam Nawawi, paling tidak cek dulu melalui pemahaman Mazhab Syafi’i. Ini hanya mengingatkan saja.

  196. @ustad Masnun
    Wah kalau saya ya ngikut pendapat ulama yg tsiqoh, tapi ya harus melakukan perbandingan gitu ustad…trus pake hati nurani.
    Krn setahu saya Rasulullah Saw itu pakarnya ilmu psikologi, beliau paling bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu. Saya setuju dg komentar mas Bima Syafi’i

    • @kenzi : Saya hanya menyampaikan yang saya tahu mas. Saya tidak punya kapasitas untuk memberikan pendapat (fatwa) tentang masalah agama. Saya juga tidak punya kapasitas untuk menyalahkan pendapat Sayyid Sabiq, Imam Nawawi, Imam Zaenudin, Imam Al-Haitami di atas. Saya hanya sebatas menunjukkan bahwa : Ini lho, ada ulama berpendapat seperti ini. Selebihnya para pembaca di forum ini yang menilainya, termasuk anda.

  197. Mas @masnun
    Mungkin ente copas dari blog yang anti (Salafi), memang begitu banyak pemutar balikan dari fatwa-fatwa ulama klasik yang diputar balikan oleh sebagian golongan. Ane pernah buka blog dan baca artikel, contoh Hadist qudsi tentang zikir berjama’ah dirubah menjadi zikir sendiri, jadi kalau kita tidak mau masuk kejalan yang bingung akan lebih baik mengacu pada kitab-kitab aslinya, kalo ane lihat copas bahasa arabnya artinya acak-acakan atau penempatan hurufnya, kita lihat bahasa indonesianya mungkin kita padukan dengan komen mas @asy saidani.
    Dalam kitab Al Azhkar (asli) dan Riyadus shalihin : Imam Nawawi membolehkan mengadakan khataman setelah penguburan di pekuburan berdasarkan madzhab Syafi’i, jadi jauh beda dengan copas ente.
    Mungkin ini masukan aja buat mas @masnun.

    • @Mas ucep : Itu kan baru mungkin. Kalau memang ada yang keliru dari copasan saya itu, tolong tunjukkan dimana. Asal Mas Ucep ketahui, kutipan sy di atas sebagian besar sy kutip dari Maktabah Syamilah.
      Saya akan sasngat berterimaksih kalau anda menunjukkan dimana kesalahan saya.

      • @Mas ucep : Konkritnya begini mas, dimana letak kesalahan (pemutarbalikkan fakta) pada copasan di bawah ini :
        Imam Nawawi Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan :
        قال المصنف رحمه الله * { ويستحب لا قرباء الميت وجيرانه ان يصلحوا لاهل الميت طعاما لما روى أنه لما قتل جعفر ابن ابى طالب رضي الله عنه قال النبي صلى الله عليه وسلم ” اصنعوا لآل جعفر طعاما فانه قد جاء هم أمر يشغلهم عنه ” }
        * { الشرح } …واتفقت نصوص الشافعي في الام والمختصر والاصحاب على أنه يستحب لا قرباء الميت وجيرانه ان يعملوا طعاما لاهل الميت ويكون بحيث يشبعهم في يومهم وليلتهم قال الشافعي في المختصر واحب لقرابة الميت وجيرانه ان يعملوا لاهل الميت في يومهم وليلتهم طعاما يشبعهم فانه سنة وفعل أهل الخير
        قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة هذا كلام صاحب الشامل ويستدل لهذا بحديث جرير بن عبد الله رضى الله عنه قال ” كُنَّا نَعُدُّ الْاِجْتِمَاعِ إلى أهلِ الْمَيِّتِ وصُنَّعَةُ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ من النِّيَاحَةِ “

        • Pengarang (Asy-Syirazi) berkata :
          Disunnahkan bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit berdasarkan riwayat bahwasanya Ketika berita kematian Ja’far datang sewaktu ia terbunuh, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena telah datang sesuatu yang menyusahkan mereka.”
          Penjelasan (Oleh Imam Nawawi) :
          Dan disepakati oleh Nash-nash Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Muhtashar dan para pengikutnya bahwasanya disunnahkan bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit dan bisa mengenyangkan mereka selama sehari semalam. Imam Syafi’i berkata dalam Al-Muhtashar : Dan saya menyukai bagi keluarga dekat si mayit dan para tetangganya untuk memberi makanan kepada keluarga mayit dan bisa mengenyangkan mereka selama sehari semalam karena itu sunnah dan merupakan perbuatan ahli kebaikan.
          “Penulis kitab Asy-Syamil mengatakan, ‘Adapun menyiapkan makanan bagi keluarga yang berduka dan mengumpulkan orang-orang kepadanya, itu tidak pernah diriwayatkan sama sekali’”
          Dia menambahkan, ‘Hal ini bid’ah dan tidak dianjurkan, sebagaimana yang telah dipaparkan’.
          Demikianlah perkataan Pengarang kitab Asy-Syamil berdasarkan hadits dari Jarir bin Abdullah Bajali, dia berkata, “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sesudah penguburannya termasuk ratapan”
          (Maktabah Syamilah)

  198. @masnun
    — >mestinya antum faham kan bahwa dalam penetapan sebuah HUKUM tentu harus mengumpulkan semua dalil yg ada — > al jam’u bainal adillah? Betul? Begitu juga dalam memahami sebuah ibarat kitab/perkataan ulama.. bisa jadi “fatwa” beberapa ulama atw bahkan seorang ulama SAJA berbeda.. ini karena MOTIF nya berbeda..maka terkadang ada seorang ulama yg ngomentari pendapat ulama lain dg kata2 misalnya. وقول النووى محمول على . (dan pendapat imam nawawi ini di mungkinkan/ditafsirkan/diterapkan apabila…dst )
    KESIMPULAN TENTANG TAHLILAN
    1.Tentang SAMPAINYA PAHALA kirim doa, madhab hambali yg di dukung imam ahmad, ibnu taimiyah, ibnu jauzi sepakat mengatakan SAMPAI KE MAYYIT.
    2.Pendapat imam syafi’I tidak jelas. Ada dua riwayat, namun imam Nawawi mentarjihkan pendapat yg tidak populer yaitu PAHALANYA SAMPAI. Lihat (Maka yang TERPILIH (menurut imam nawawi) orang yang membaca alqur’an berkata sesudahnya ,” اللهم اوصل ثواب ما قرأته الى فلان
    “ya allah, sampaikan pahala yang ku baca (alqur’an) kepada fulan..) (al adzkar 140). Di sini bahkan imam NAWAWI mencontohkan caranya…
    3.sebagian fuqoha’ syafi’iyah termasuk Ibnu Hajar berpendapat TIdak sampai.
    4.Tentang sunahnya membantu makanan kepada keluarga mayyit, INI TIDAK DIINGKARI siapapun. Bahkan klw ditambahi dg UANG atw KAIN KAFAN juga lebih baik

  199. 5. Hadits dari Jarir bin Abdullah tentang LARANGAN “MAKAN2” dan Hadits riwayat Ashim bin Kulaib ra, tentang BOLEHNYA “MAKAN2” —- > HARUS DI KUMPULKAN UNTUK MENARIK KESIMPULAN .
    6.Hadist jarir ditafsiri bila PEMBUATAN MAKANAN tsb MURNI untuk MENGUMPULKAN orang2 kerumah mayit saja apalagi klw kumpul2 tsb diisi dg kegiatan negative sprti bermain kartu, domino dll
    7.Hadits Ashim bin Kulaib ra tentang BOLEHNYA “MAKAN2” ini di tafsiri bila dilakukan untuk KIRIM PAHALA SEDEKAH DARI MAKANAN Tsb/ MENGHORMATI TAMU YANG HADIR. Apalagi klw tamu dari rombongan keluarga jauh…. masak nyuguhi MINUMAN AQWA saja gak boleh?
    8.Berarti dalam point 6 dan 7 tsb hukumnya lebih dilihat pd NIAT dan TUJUAN/MOTIV. Klw ustadz MASNUN masih NGOTOT.. HARAM hukumnya menjamu tamu, tolong klw antum keluarganya ada yang meninggal.. terus ada KELUARGA JAUH yg melayat…. MOHON TAMU ROMBONGAN DARI KELUARGA JAUH tsb tidak usah dikasih minuman. Apalagi makan.. biar mereka pergi ke warung sendiri2..

    —— > gimana pak ustad? kira2 rombongan tamu dari jauh yg nglayat keluarga antum, antum kasih minuman apa gak? he..he..he..

    • @Ustadz Asy-Syaidani :
      “Mestinya antum faham kan bahwa dalam penetapan sebuah HUKUM tentu harus mengumpulkan semua dalil yg ada — > al jam’u bainal adillah? Betul? Begitu juga dalam memahami sebuah ibarat kitab/perkataan ulama.. bisa jadi “fatwa” beberapa ulama atw bahkan seorang ulama SAJA berbeda.. ini karena MOTIF nya berbeda..maka terkadang ada seorang ulama yg ngomentari pendapat ulama lain dg kata2 misalnya. وقول النووى محمول على . (dan pendapat imam nawawi ini di mungkinkan/ditafsirkan/diterapkan apabila…dst )”
      -Ini pendapat siapa tadz? Pendapat ustadz sendiri atau siapa?
      -Dengan kata lain apa yang diuraikan Imam Nawawi tersebut belum kesimpulan, masih harus ditandingkan dengan pendapat ulama lainnya. Lalu bagaimana dengan pendapat ustadz di atas bahwa Imam Nawawi harus dimenangkan jika terjadi perbedaan pendapat dengan ulama lainnya.

      “Hadits dari Jarir bin Abdullah tentang LARANGAN “MAKAN2” dan Hadits riwayat Ashim bin Kulaib ra, tentang BOLEHNYA “MAKAN2” —- > HARUS DI KUMPULKAN UNTUK MENARIK KESIMPULAN”
      -Ini pendapat siapa tadz? Pendapat ustadz sendiri atau siapa?
      -Tahukah ustadz mengapa hadits Riwayat Ashim bin Kulaib yang ustadz kutip itu tidak muncul dalam kitab Al-Majmu’ Imam Nawawi dan kitab-kitab fiqih dan fatwa-fatwa ulama Syafi’iyah lainnya? Mengapa hadits “sepenting” itu tidak muncul dalam kitab-kitab dan fatwa-fatwa mereka? Mohon pencerahannya.

      • “Berarti dalam point 6 dan 7 tsb hukumnya lebih dilihat pd NIAT dan TUJUAN/MOTIV. Klw ustadz MASNUN masih NGOTOT.. HARAM hukumnya menjamu tamu, tolong klw antum keluarganya ada yang meninggal.. terus ada KELUARGA JAUH yg melayat…. MOHON TAMU ROMBONGAN DARI KELUARGA JAUH tsb tidak usah dikasih minuman. Apalagi makan.. biar mereka pergi ke warung sendiri2..”
        -Wah, nampaknya ustadz terlalu paranoid. Coba ustadz periksa dengan teliti copasan-copasan saya di atas. Apakah di situ ada satu kalimat yang menunjukkan bahwa itu pendapat saya. Saya hanya mengutip pendapat para ulama tadz, bukan pendapat saya pribadi.
        Tolong tunjukkan mana diantara pendapat para ulama itu yang menyatakan bahwa makan-makan di rumah keluarga mayit itu HARAM.
        Manakah kalimat yang menunjukkan saya NGOTOT…HARAM. Saya tidak mungkin sesembrono itu tadz. Apalagi dengan minimnya ilmu yang saya miliki.
        Saya hanya menyampaikan apa yang saya ketahui. Tidak lebih dari itu.

        • Ustadz Manun@

          Numpang tanya boleh ya?

          1) . Menurut pandangan pandangan Wahabi apakah ada bedanya antara Bid’ah dan haram?

          2). Benarkah pelaku hal bid’ah dan hal haram keduanya masuk neraka?

          Saya tunggu jawabannya sekarang Ustadz Masnun….

          • @Yanto Jenggot : Wah, itu ustadz Jenggot sendiri lho yang bilang.

          • Ustadz Manun Thollab@

            Gemana antum, seorang ustadz kok gak bisa bedain antara pertanyaan dan pernyataan? Coba baca lagi, apakah saya di atras itu sedang bertanya pada antum apa sedang memberi pernyataan? Ampyyuunn deh pak Ustadz ini kalau gak bisa bedain.

            Pantesan antum ngotot menghadapi Mas Ustadz As Syaidani.

          • @Ustadz Yanto Jenggot :
            “Gemana antum, seorang ustadz kok gak bisa bedain antara pertanyaan dan pernyataan? Coba baca lagi, apakah saya di atras itu sedang bertanya pada antum apa sedang memberi pernyataan? Ampyyuunn deh pak Ustadz ini kalau gak bisa bedain. ”

            Wah, segitu sewotnya. Maap ya?

            “Pantesan antum ngotot menghadapi Mas Ustadz As Syaidani.”
            Memang saya kelihatan ngotot tadz? Wah, padahal saya justru banyak belajar dari Ustadz Asy-Syaidani.

            Untuk pertanyaan antum, saya jawab di bawah, biar ada yang ngoreksi kalau jawaban saya salah.

          • kwik kik kikx kiksk…. afwan yo tadz?

      • Ustadz Masnun, yg dimaksud Kang Asy Syaidani dg kalimat “HARUS DI KUMPULKAN UNTUK MENARIK KESIMPULAN”, maksudnya itu disinkronkan agar ketemu antara dua pendapat Ulama’ tsb, afwan…. semoga antum tidak salah memahami kalimat tsb.

        Contoh lainnya misalnya tentang hadits2 bid’ah yg sangat banyak yg berbeda-beda kelihatannya. Nah, dari berbagai hadits bid’ah yg ada disinkronkan agar mendapat pemahaman tentang bid’ah yg benar. Jadi jangan hanya pakai satu hadits saja untuk memahami apa itu “BID’ah”.

        Begitu juga dg hukum makan2 di rumah keluarga mayyit, hukumnya paling tidak ya MUBAH/boleh tidak sampai haram. Yang jelas tidak dihukumi bid’ah, sebab bid’ah itu bukan hukum. Mohon maaf jika dianggap mengganggu diskusi kalian berdua, semoga bermanfaat.

        • @Ustadzah Wardah :
          Mohon maap, karena keterbatasan ilmu saya, saya belum menemukan pendapat ulama Syafi’iyah, baik dalam kitab-kitab fikih mereka maupun fatwa-fatwa mereka yang mengatakan bahwa berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat itu, sunnah, lebih-lebih wajib.
          Tolong beritahu saya kalau ada ulama Syafi’iyah yang berpendapat bahwa berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat itu sunnah (dianjurkan) atau wajib.

      • @masnun
        >>>-Ini pendapat siapa tadz? Pendapat ustadz sendiri atau siapa?
        Pak ustad tanyanya kok aneh ya?? Bukankah kaidah “al Jam’u bainal adillah” ini salah satu pokok2 kaidah terpenting dalam ilmu ushul?? Masak pak ustad lupa??

        >>>“Hadits dari Jarir bin Abdullah tentang LARANGAN “MAKAN2” dan Hadits riwayat Ashim bin Kulaib ra, tentang BOLEHNYA “MAKAN2” —- > HARUS DI KUMPULKAN UNTUK MENARIK KESIMPULAN”
        -Ini pendapat siapa tadz? Pendapat ustadz sendiri atau siapa?
        — > Pak ustad tanyanya kok aneh ya?? Bukankah kaidah “al Jam’u bainal adillah” ini salah satu pokok2 kaidah terpenting dalam ilmu ushul?? Masak pak ustad lupa??

        >>>Tahukah ustadz mengapa hadits Riwayat Ashim bin Kulaib yang ustadz kutip itu tidak muncul dalam kitab Al-Majmu’ Imam Nawawi dan kitab-kitab fiqih dan fatwa-fatwa ulama Syafi’iyah lainnya?
        —- >he..he.. heran ya?? Bahkan dalam kitab2 fikih, dalil wajibnya niat saja sering gak disebut kok?? Juga dalil wajibnya takbirotul ihram??

        • @Ustadz Asy-Syaidani :
          “Tahukah ustadz mengapa hadits Riwayat Ashim bin Kulaib yang ustadz kutip itu tidak muncul dalam kitab Al-Majmu’ Imam Nawawi dan kitab-kitab fiqih dan fatwa-fatwa ulama Syafi’iyah lainnya?
          —- >he..he.. heran ya?? Bahkan dalam kitab2 fikih, dalil wajibnya niat saja sering gak disebut kok?? Juga dalil wajibnya takbirotul ihram??”

          Konkritnya begini saja tadz :
          Bagaimana pendapat Imam Nawawi tentang hadits Ashim bin Kulaib yang antum jadikan untuk dalil bolehnya makan-makan di rumah keluarga mayat?

      • masnun@

        Yah, Alhamdulillah…. jika menurut ustadz Masnun tidak haram berarti tidak ada masalah dg tahlilan dll tsb, bukankah begitu ya ustadz Masnun?

        Semoga semua yg mempermasalahkan tahlilan dll segera sadar seperti ustadz Masnun. Ustadz Masnun adalah conto/teladan yg baik bagi orang2 yg ingin dapat hidayah-NYA. Belaiau telah berdiskusi dg santun bersama teman Aswaja di sini.
        Alhamdulillah….

  200. @ustad Masnun
    Tapi ustad, dengan banyaknya blog Wahabi yang mengatakan bid’ah itu sesat, jadi banyak pengikut Wahabi yang memungkarkan tahlilan. Bahkan menakut-nakuti masuk neraka.

    Bapak temen saya tahlilan, waktu beliau meninggal juga mengucapkan syahadat. Jd saya pikir, Allah itu memang benar-benar Maha Bijaksana. Semua kembali ke niat aja ustad. Kalau niatnya untuk meratapi kepergian si mayit itu yang dilarang. Tapi kalau niatnya supaya mayit mendapatkan pahala dari keluarganya, Insya Allah gak apa-apa. Ini sih pendapat pribadi aja ya ustad Masnun. Sami’na wato’na 🙂

  201. @masnun
    >>>Tolong tunjukkan mana diantara pendapat para ulama itu yang menyatakan bahwa makan-makan di rumah keluarga mayit itu HARAM.
    — >lho, dari ta’bir2 yg pak ustad paparkan itu kan ngarahnya ke BID’AH, apakah maksud bid’ah disini bid’ah hasanah??
    >>>>>Manakah kalimat yang menunjukkan saya NGOTOT…HARAM
    — > lha berarti tidak haram? Terus apa pak ustad??

    • @Asy-Syaidani :
      Perkenankan saya meringkas (bukan menyimpulkan) pendapat para ulama yang saya copas di atas. Pendapat para ulama tentang berkumpul dan makan-makan di rumah mayat adalah sebagai berikut :
      1. Imam Nawawi : Bid’ah dan tidak dianjurkan
      2. Al-Bakri Dimyati : Makruh (dibenci)
      3. Imam Zaenudin : Makruh (dibenci)
      4. Syeikh Zakaria Al-Anshary : Bid’ah yang tercela.
      5. Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak : Menyelisihi sunnah
      6. Ibnul Qayyim : Bid’ah yang dibenci.
      7. Sayyid Sabiq : Bid’ah yang mungkar.
      Silahkan Ustadz menyimpulkan sendiri pendapat-pendapat di atas.
      Bagi para pembaca yang lain, semoga hal ini menjadi renungan dan menjadikan kita berhati-hati untuk beramal dan beribadah.

      • @masnun
        6.Hadist jarir ditafsiri bila PEMBUATAN MAKANAN tsb MURNI untuk MENGUMPULKAN orang2 kerumah mayit saja apalagi klw kumpul2 tsb diisi dg kegiatan negative sprti bermain kartu, domino dll
        7.Hadits Ashim bin Kulaib ra tentang BOLEHNYA “MAKAN2” ini di tafsiri bila dilakukan untuk KIRIM PAHALA SEDEKAH DARI MAKANAN Tsb/ MENGHORMATI TAMU YANG HADIR. Apalagi klw tamu dari rombongan keluarga jauh…. masak nyuguhi MINUMAN AQWA saja gak boleh?
        8.Berarti dalam point 6 dan 7 tsb hukumnya lebih dilihat pd NIAT dan TUJUAN/MOTIV.

        • @Ustadz Asy-Syaidani :
          “6.Hadist jarir ditafsiri bila PEMBUATAN MAKANAN tsb MURNI untuk MENGUMPULKAN orang2 kerumah mayit saja apalagi klw kumpul2 tsb diisi dg kegiatan negative sprti bermain kartu, domino dll
          7.Hadits Ashim bin Kulaib ra tentang BOLEHNYA “MAKAN2” ini di tafsiri bila dilakukan untuk KIRIM PAHALA SEDEKAH DARI MAKANAN Tsb/ MENGHORMATI TAMU YANG HADIR. Apalagi klw tamu dari rombongan keluarga jauh…. masak nyuguhi MINUMAN AQWA saja gak boleh?
          8.Berarti dalam point 6 dan 7 tsb hukumnya lebih dilihat pd NIAT dan TUJUAN/MOTIV.”

          Ini kan pendapat antum. Apakah Imam Nawawi dan para ulama Syafi’iyah lainnya berpendapat demikian?
          Sejak kapan antum berani mengeluarkan pendapat dengan meninggalkan pendapat dan fatwa-fatwa para ulama Syafi’iyah?
          Sejak kapan antum berani berhujjah dengan sebuah hadits, sementara hampir tidak ada ulama Syafi’iyah yang menggunakan hadits tersebut sebagi hujjah?

          • @masnun
            pak ustad,… heran kan?? selamat mencari jawabannya.. semoga ketemu…?
            klw antum mau baca2 buku2 hasil2 bahsul masail waqi’iyah antar pondok pesantren/RMI/NU.. insya akan menemukan..

          • @Ustadz Asy-Syaidani :
            Saya nunggu jawaban dari antum saja tadz. Saya sabar kok menunggu antum buka-buka kitab-kitab referensi.

          • @masnun
            maap ustdz ana gk taw nih?jelaskan aja… tp dari pint 6,7,8 insya sudah ada jawaban… ttg pro-kontra sputarr tahlilan..

  202. @pak masnun
    Alhamdulillaah kalau pak Masnun bilang gak haram, berarti boleh ya pak?

    • @Ustadz Prabu :
      Perkenankan saya meringkas (bukan menyimpulkan) pendapat para ulama yang saya copas di atas. Pendapat para ulama tentang berkumpul dan makan-makan di rumah mayat adalah sebagai berikut :
      1. Imam Nawawi : Bid’ah dan tidak dianjurkan
      2. Al-Bakri Dimyati : Makruh (dibenci)
      3. Imam Zaenudin : Makruh (dibenci)
      4. Syeikh Zakaria Al-Anshary : Bid’ah yang tercela.
      5. Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak : Menyelisihi sunnah
      6. Ibnul Qayyim : Bid’ah yang dibenci.
      7. Sayyid Sabiq : Bid’ah yang mungkar.
      Silahkan Ustadz menyimpulkan sendiri pendapat-pendapat di atas.
      Bagi para pembaca yang lain, semoga hal ini menjadi renungan dan menjadikan kita berhati-hati dalam beramal dan beribadah.

  203. mohon rekan-2 aswaja bisa menjelaskan perkataan Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:

    عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

    Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

    perkataan ini selalu dipegang oleh wahabiyun bahwa setiap bidah = sesat & tidak ada bid’ah hasanah

    mohon penjelasannya

  204. Sekadar sharing kisah nyata di daerah saya bagi teman2 Aswaja juga teman2 Salafi. Beberapa bulan yg lalu ada warga kami yg meninggal dunia sehabis melaksanakan sholat subuh berjama’ah. Ada keanehan yg menjadi bahan perbincangan…. dari jasad almarhum keluar bau wangi dan wajahnya terlihat tampan di usia tua. Di tempat kerja saya dalam acara ceramah rutin hari jum’at kejadian ini di ceritakan kembali oleh ustadz yg nota bene salafi bahwa almarhum itu contoh dari husnul khotimah..wallohu a’lam!

    • @elang
      — > klw memang bener gitu bisa jadi, itu karomah juga ya?
      — > oh, ya mas.. informasinya orang itu semasa hidupnya punya kebaikan apa ya??
      —- > he..he..he.. ma’ap… orang itu, semasa hidupnya pernah tahlilan gak ya?? he..he..

  205. Dan malamnya kami melakukan tahlilan atas permintaan keluarga beliau… semasa hidupnya beliau terkenal dengan keramahan serta kesederhanannya. Almarhum juga sama seperti warga yang lain suka tahlilan.

    • @elang
      alhamdulillah… orang yang ramah dan sederhana tsb dapat “kemulyaan”dari Allah.. he..he..berarti tahlilan beliau selama hidup gak dipermaaslahkan allah..ya?? bahkan bisa jadi dari situ beliau dapat berkah karena sering kirim pahala pd ortunya dan kaum muslimin pd umumnya….

  206. Alhamdulillah, itulah bukti tahlilan itu tidak ada masalah, yg mempermasahkan talilan itulah yg bermasalah. Yaitu pemahaman agamanya yg bermasalah sehingga menimbulkan fitnah.

    • Perkenankan saya meringkas (bukan menyimpulkan) pendapat para ulama yang saya copas di atas. Pendapat para ulama tentang berkumpul dan makan-makan di rumah mayat adalah sebagai berikut :
      1. Imam Nawawi : Bid’ah dan tidak dianjurkan
      2. Al-Bakri Dimyati : Makruh (dibenci)
      3. Imam Zaenudin : Makruh (dibenci)
      4. Syeikh Zakaria Al-Anshary : Bid’ah yang tercela.
      5. Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak : Menyelisihi sunnah
      6. Ibnul Qayyim : Bid’ah yang dibenci.
      7. Sayyid Sabiq : Bid’ah yang mungkar.
      Silahkan menyimpulkan sendiri pendapat-pendapat di atas.
      Bagi para pembaca yang lain, semoga hal ini menjadi renungan dan menjadikan kita berhati-hati dalam beramal dan beribadah.

      • Kesimpulan saya sih tahlilan itu bid’ah hasanah insyaallah berpahala besar jika dilakukan dg niat ikhlas mengharap ridhonya Allah Swt, amin….

      • Kang Masnun Thollab,

        kalau saya berkesimpulan tahlilan itu tidak bermasalah, yg mempermasalahkan itu orang2 yg memang dasarnya pelit. Saudara saya ada yg menentang tahlilan ketika keluarga meninggal, katanya buang-buang duit scra sia-sia. Setahu saya memang dia pelitnya na’dzubillah mindzalik.

        Akhirnya keluarga tetap ngadain tahlilan tanpa partisipasinya, dan alhamdulillah sukses tanpa ada ganjalan dari orang pelit tsb.

        Masak orang ngasih makan orang dg ikhlas kok dibilang sia-sia, kalau bukan orang pelit tidak akan berkata seperti itu…. maaf ya bagi yg teringgung?

  207. @ustadz Masnun
    waduh jangan panggil saya ustadz, saya sdg belajar di sini…

    @all
    ini salah satu kisah yg diceritakan seorang polisi, yg ayahnya ketika hendak meninggal memanggil anak-anaknya. Ayahnya bilang kalau jam 11 siang (kalau tdk salah ingat) beliau akan pulang. Sang ayah menasehati anak2nya agar sabar, tawakal, ikhlas, tidak menangisi kepergian sang ayah, menjadi anak2 yg sholeh, jujur, dan syukur terhadap pemberian Allah Swt. Sang ayah mengatakan Insya Allah akan ketemu di surga dengan anak2nya, oleh karena itu anak2nya harus memegang wasiat berupa petuah sang ayah. Jam 11 siang teng sang ayah meninggal dunia…semua anak hanya tertegun, ternyata yg dimaksud pulang di sini adalah meninggal dunia.
    Pak polisi itu bercerita kalau semasa hidup ayahnya orang yg sangat baik (di mata keluarga dan tetangga), sangat aktif dlm kehidupan bermasyarakat (gotong royong, kerja bakti, mendamaikan orang2 yg bermusuhan, dsb).
    Kalau diundang tahlilan ya beliau datang…beliau bantu2, ngaji, dsb.
    Sehabis ngaji pun sama spt masyarakat yg lain mengucapkan shodaqallaahuladzhim
    Beliau merangkul seluruh lapisan masyarakat, baik, ramah, senang menolong orang lain, yg jelas tidak suka membid’ah2kan amalan orang lain.
    Alhamdulillah anaknya yg polisi jd mencontoh ayahnya, takut menerima sogokan krn teringat pesan2 ayahnya

    Allah mah Maha Baik lah pokoknya

  208. @Aswaja sllu
    >>>Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom.
    Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.>>
    — > Ma’ap pak ustad… otak ana lemot banget.. belom bisa mencerna definisi bid’ah diatas.. ana juga bigung dg batasan “berlebih2an” itu gimana?? Terus klw tujuannya tuk “berkurang2an” gmn?? Trus biasanya wahabi kita, tu gak Cuma minta DALIL tapi juga minta “DICONTOHKAN NABI”
    Yang pasti ana KAGET BANGET, karena waktu ana buka hal. 1 ana temukan kata2 imam as-syatibi spt ini…
    والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد نبي الرحمة وكاشف الغمة
    Semoga Shalawat – salam atas BAGINDA dan JUNJUNGAN kita, Muhammad SAW, Nabi pembawa rahmat , dan yang menyingkap kegelapan.
    Dalam rangkaian kalimat yg sedikit ini, klw dilihat dg kacamata wahabi yg ikut2an, bisa di deteksi ada 2 bid’ah dan 1 syirik.
    — > kata سيدنا = bid’ah ke-1. Nabi gk pernah mencontohkan kan??
    — > ومولانا = bid’ah ke-2.
    — > وكاشف الغمة (dan yang menyingkap kegelapan) = syirik pertama.
    — >klw kita berkata,” Hai Muhammad yg membuka tabir kegelapan.. bukalah tabir kegelapanku..” bukankah menueut wahabi ini kata2 syirik??
    Jangan2 imam as-syatibi ini oleh wahabi juga dianggap pelaku bid’ah+syirik ya??
    monggo…………

    • @Ustadz Yanto Jenggot :
      Saya mencoba menjawab dua pertanyaan antum itu sebagai berikut :
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai khutbah beliau senantiasa mengatakan:
      وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ…
      “Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) ialah bid’ah, sedang setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka…” (H.R. An Nasa’i no. 1560, dan Ibnu Majah no. 45 dari Jabir bin Abdillah)

      Sirri as-Saqthi dalam kitab Hilyatul Auliya mengutip perkataan Imam Asy Syafi’I rahimahullah sebagai berikut :
      البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم
      “Bid’ah itu ada dua macam: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela), maka apa-apa yang sesuai dengan sunnah itu adalah terpuji, dan apa-apa yang menyelisihi sunnah itu adalah tercela.” (Hilyatul Auliya 9/113)

      Nah, jika pengertian bid’ah menurut Imam Syafi’i tersebut dihubungkan dengan hadits di atas, maka hadits di atas bisa diartikan “……Setiap bida’h madmumah adalah sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka,”

      Sebelum saya lanjutkan, saya mohon dikoreksi kalau keterangan di atas ada yang salah.

      • Ya saya setuju itu Tadz, benarbahwa setiap bid’ah madmumah adalah sesat. Shohih ini tadz, wah sudah semakin pinter sampeyan.

        Tapi setahu saya dalam pengalaman interaksi dg konco-konco Wahabi, kalian menolak bid’ah mahmudah/hasanah. Jadi antum tidak berpandangan sesuai yg antum anut, yaitu paham Wahabi. Kenapa begitu Ustadz? Kok hipokrit kayak gitu sih? Kok gak PEDE pakai paham sendiri?

        bukankah karena menolak bi’ah mahmudah/hasanah sehingga Wahabi mendholalahkan tahlilan, yasinan, maulidan dll?

  209. @Ustadz Yanto Jenggot :
    Saya mencoba menjawab dua pertanyaan antum itu sebagai berikut :
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai khutbah beliau senantiasa mengatakan:
    وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ…
    “Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) ialah bid’ah, sedang setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka…” (H.R. An Nasa’i no. 1560, dan Ibnu Majah no. 45 dari Jabir bin Abdillah)

    Sirri as-Saqthi dalam kitab Hilyatul Auliya mengutip perkataan Imam Asy Syafi’I rahimahullah sebagai berikut :
    البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم
    “Bid’ah itu ada dua macam: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela), maka apa-apa yang sesuai dengan sunnah itu adalah terpuji, dan apa-apa yang menyelisihi sunnah itu adalah tercela.” (Hilyatul Auliya 9/113)

    Nah, jika pengertian bid’ah menurut Imam Syafi’i tersebut dihubungkan dengan hadits di atas, maka hadits di atas bisa diartikan “……Setiap bida’h madmumah adalah sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka,”

    Sebelum saya lanjutkan, saya mohon dikoreksi kalau keterangan di atas ada yang salah.

  210. @Ustadz Yanto Jenggot :
    Imam Nawawi dalam kitab AL-MAJMU’ SYARAH AL-MUHADZDZAB berkata :
    قال العلماء البدعة خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة
    “Para Ulama berkata : Bid’ah itu ada 5 macam : Wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah”.
    (Maktabah Syamilah)

    Namun pembagian bid’ah yang popular di kalangan para ulama dan masyarakat adalah pembagian bid’ah menurut Imam Syafi’i.
    Sehingga yang sering kita dengar dari para kyai dan para ustadz di masyarakat, termasuk di forum ini, adalah istilah BID’AH HASANAH, yang tidak lain adalah BID’AH MAHMUDAH menurut Imam Syafi’i.

    Mohon koreksi kalau ada yang salah.

    • @masnun
      — > mangstab pak ustadz….

    • Oke Ustadz, antum sudah benar itu, semoga antum paham dg yg antum copas tsb. Tapi ingat Ustadz, itu bukan yg dipahami Wahabi lho ya? Itu adalah paham Aswaja. Sebab Wahabi jelas2 menolak paham para Ulama Aswaja ini.

      Sebenarnya pembagian Imam Syafi’i terhadap bid’ah tsb secara Umum yg belum ada hukumnya, yaitu bid’ah Hasanah/mahmudah dan bid’ah madmumah/sayyiah. Ini Pembagian secara umum sesuai dari sember2 hadits2 yg dikumpulkan dan disinkronkan oleh ulama (Imam Syafi’i). Ini masih bid’ah secara Umum belum ada hukumnya.

      Nah, kalau yg 5 bid’ah menurut Imam Nawawi tsb, itu pembagian terperinci yg menhukumi bid’ah. Ingat Ustadz, bid’ah itu bukan hukum tetapi bid’ah itu bisa dihukumi. Menurut Imam Nawawi yg antum Copas tsb bahwa WAJIB, SUNNAH, MUBAH itu hukumnya bagi Bid’ah Mahmudah/hasanah. Sedangkan HARAM, MAKRUH itu untuk hukum bagi Bid’ah Madmumah/Sayyi’ah.

      Demikian ustadz semoga bisa dipahami….. itulah yg dipahami oleh para Ulama Aswaja.

  211. @ masnun
    >>maka hadits di atas bisa diartikan “……Setiap bida’h madmumah adalah sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka
    === lha yang bid’ah mahmudah (terpuji) masuk surg gak? He..he..he.. Oh, ya pak ustad,, ini bid’ah gak? Ada syiriknya gak??
    والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد نبي الرحمة وكاشف الغمة
    Monggo………

  212. @Ustadz Masnun
    Makin menarik nih diskusinya. Mohon tanggapan atas jawaban Mas Yanto Jenggot dan Ustadz Asy Saidani di atas. Tampaknya sudah menuju tidak temu nih, semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Amin.

  213. Makin seru nich.. nyimak aja… Ayo Ustadz @Masnun Tholab dikomentari..

  214. @Mas ASY-SAIDANI & Mba’ Aryati
    Kami juga tidak tahu kejadian seperti itu apa namanya… y mudah2 an “Kemulyaan” dari Alloh SWT seperti yang ustadz bilang. Tempat kami di kota kecamatan masih termasuk kota Bandung..!

  215. Jd ustadz Masnun mengakui adanya bid’ah mahmudah? alhamdulillaah

    Sy rasa para ulama kt terdahulu sangat bijaksana dg mengkaji berbagai macam kitab, sehingga mrk memang menemukan adanya praktik bid’ah mahmudah di kalangan Sahabat Rasulullah Saw…begitupun dg rujukan2 dr para Imam yg memang mumpuni dlm ilmu hadist yg membolehkan praktik bid’ah mahmudah.

    Jd sy makin gak ragu2 kl diundang tahlilan…maulidan…diajak salaman setelah shalat…ngucapin shodaqallahuladzhim…dzikir jama’ah..dsb…

    Allah Maha Baik…Baiiiiik banget

  216. della mariska tampubolon

    Alhamdulillah, q dapt ilmu baru di sini. Bid’ah itu bukan hukum tapi did’ah itu bisa dihukumi Wajib – Sunnah – haram – mubah – makruh. Ini baru siip deh. Makasih tuk semuanya ya?

    sedangkan teman q di kampus msih pakai versi bid’ah dalam hukumnya yg haram karena pelaku bid’ah masuk neraka. Q yakin ini pemahaman teman2 q yg main pukul rata bid’ah sebagai sesuatu yg terlarang,haram – dosa ) salah. Yang benar itu pendapatnya Bang Yanto Jenggot di atas, yg tentu saja berdasar pendapat ulama yg terpercaya spt Imam Nawawi tsb.

    Syukron for all, sangat menarik diskusinya.

  217. @Yanto Jenggot :
    Selanjutnya mari kita kembali ke topik.
    Ringkasan pendapat para ulama yang saya copas di atas tentang berkumpul dan makan-makan di rumah mayat adalah sebagai berikut :
    1. Imam Nawawi : Bid’ah dan tidak dianjurkan
    2. Al-Bakri Dimyati : Makruh (dibenci)
    3. Imam Zaenudin : Makruh (dibenci)
    4. Syeikh Zakaria Al-Anshary : Bid’ah Madzmumah (tercela).
    5. Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak : Menyelisihi sunnah/Bid’ah Madzmumah
    6. Ibnul Qayyim : Bid’ah yang dibenci.
    7. Sayyid Sabiq : Bid’ah yang mungkar.

    Imam Asy Syafi’I rahimahullah berpendapat :
    “Bid’ah itu ada dua macam: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela), maka apa-apa yang sesuai dengan sunnah itu adalah terpuji, dan apa-apa yang menyelisihi sunnah itu adalah tercela.” (Hilyatul Auliya 9/113)
    Nah, kalau pendapat Imam Syafi’i dihubungkan dengan pendapat para ulama yang sebagian besar adalah pengikutnya, tentang berkumpul-kumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat, maka sekarang kita tinggal mempunyai dua pilihan, yaitu BID’AH MAHMUDAH/HASANAH ataukah BID’AH MADZMUMAH/SAYYI’AH.
    Bisa jadi pilihan antum dan pilihan saya sama, namun bisa jadi pula berbeda.
    Pilihan manapun yang kita pilih, kita akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.
    Oleh karena itu, tidak ada salahnya sebelum kita menentukan pilihan, kita memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan shalat Istikharah. Kemudian setelah itu mari kita bertawakkal kepadaNya.

  218. masnun
    >>Bisa jadi pilihan antum dan pilihan saya sama, namun bisa jadi pula berbeda.
    — > he..he..pilihan antum antum gak jelas kok? Dikatakan ngotot haram gk mau.. dikatakan sunnah antum ya menolak..

    — > klw plihan ana jelas …..
    1.Klw pembuatan makan2a itu utk kumpul2.. maka itu Bid’ah madmumah seperti ta’bir yg antum kemukakan.
    2.Klw pembuatan makan2a itu utk kirim pahala sedekah/ menghormati tamu2, maka dijawab dg ini :
    a.Hadist ashim
    b.Fatwa Imam As- Suyuthi As- Syafi’I dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :
    قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
    “ Thowus berkata: Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.
    c.Fatwa2 madhab HAMBALI tentang sampainya pahala doa, sedekah dan amal baik lainnya.

    • @Ustadz Asy-Syaidani :
      Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kepada hambaNya bahwa semua ucapan, sikap dan perbuatannya kelak di hari kiamat akan dimintai pertanggungjawabannya, sebagaimana firmanNya dalam surat Al-Isra’ ayat 36 :
      ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا
      “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

      Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir berkata :
      Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah janganlah kamu mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya; atau kamu katakan bahwa kamu mendengarnya, padahal kamu tidak mendengarnya; atau kamu katakan bahwa kamu mengetahuinya, padahal kamu tidak mengetahuinya. Karena sesungguhnya kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal tersebut secara keseluruhan.
      [Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Al-Israa’]

      “— > he..he..pilihan antum antum gak jelas kok? Dikatakan ngotot haram gk mau.. dikatakan sunnah antum ya menolak..”
      -Dari mana antum tahu kalau saya ngotot haram padahal saya nggak pernah mengatakannya?

      • della mariska tampubolon

        Masnun Tholab: “— > he..he..pilihan antum antum gak jelas kok? Dikatakan ngotot haram gk mau.. dikatakan sunnah antum ya menolak..”
        -Dari mana antum tahu kalau saya ngotot haram padahal saya nggak pernah mengatakannya?

        Berati ustadz Masnun tidak mengerti apa yg dibicarakannya sendiri. Setahu saya di Wahabi itu bid’ah sama dg larangan itu maksudnya ya haram. Masak gini aja gak paham, ustadz Masnun?

  219. wah 4 atau 5 hari ya ane nggak online semakin,rame..hi..hi…

  220. hmm…..
    jadi kesimpulannya makan2 di tmpt duka makruh ya,…??
    lalu jika di niatkan sedekah oleh si keluarga nya dan pahalanya di hadiahkan ke mayyit menjadi sunnah ya….??
    lalu menghidangkan makanan alakadarnya krn ada hajat/sebab,seperti tuk tamu yg jauh mubah yaa…(bs jadi sunnah jika di niatkan sedekah pahala bg mayyit)….yaa
    lalu di jika kita berkunjung ke rumah duka sunnah ya…?memberikan sedekah amal,makanan, tenaga,do’a…

    sorry boss jika kesimpulan nya salah…he..he…

  221. @Ustadz Masnun
    Kalau semua Wahabiyyun seperti ustadz Masnun yg menghormati perbedaan tEntu tidak masalah. Masalahnya, hampir semua Wahabiyyun yg saya temui berani berfatwa sesat untuk bid’ah mahmudah. Gebyah uyah untuk semua bid’ah dengan mengatakan sesat. Padahal kalau dikaji mendalam, ternyata banyak para sahabat Nabi Muhammad SAW yg melakukan bid’ah mahmudah. Tapi kl diberi fakta-fakta ttg bid’ah mahmudah yang dipraktekkan para sahabat, kaum Wahabi tidak mau mendengar. Mereka tutup telinga rapat-rapat
    Ya Allah ya Rabb

    • @kenzi :
      Maap, dari mana antum tahu kalau saya wahabiyyun.

      • della mariska tampubolon

        Ustadz Masnun@

        Kalau saya sih mudah untuk mengenali apakah seseorang itu Wahabiyyun atau bukan. Di dunia ini tidak ada yg mempermasalahkan tahlilan, tawassul, yasinan kecuali Kaum Wahabi. Dari sini maka mudah saja mengenali antum yg jelas2 Wahabi. Mau nyamar pakai topeng apa pun pasti tetap ketahuan dari ciri2 Wahabi yang khas….

        • @della mariska tampubolon :
          Kendalikan emosi dan nafsu anda. Mari kita berdiskusi dengan pikiran jernih dan hati yang bersih. Kita ini sedang berdiskusi masalah agama, dalam rangka mengharap ridha Allah Subhanahu wata’ala.
          Ingatlah! semua ucapan, sikap dan perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Subhanahu wata’ala, bukan kepada Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan ulama-ulama lainnya. Ulama-ulama itupun akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah Subhanahu wata’ala atas fatwa-fatwa mereka.

  222. Apakah ada wahhabiyun pernah mengakui mereka Wahhaby?

  223. @masnun
    >>>Dari mana antum tahu kalau saya ngotot haram padahal saya nggak pernah mengatakannya
    ==lho, ana kan gak nuduh pak ustad ngatakan “ngotot Haram”.. tapi ana ngatakan “Dikatakan ngotot haram GAK MAU .. dikatakan sunnah antum ya menolak..?
    LHA, jelasnya menurut antum gimana… yang shorih gitu lho klw berpendapat..==

  224. @Untuk Ustadz dan teman-teman Aswaja
    Lain kali jika ada yang mendebat pendapat ulama Aswaja tentang amalan-amalan Aswaja, sebelum diskusi sebaiknya kita tanya dulu apa dia Wahabi, atau firqah lain. Supaya nanti kalau sudah “kepepet” tidak ada lasan tidak mengakui kelompoknya. Soalnya kita tahulah selama ini yang paling getol mempermasalahkan “Tahlilan”. Hanya saran terima kasih.

  225. Tentang berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat sudah saya kutipkan beberapa pendapat ulama di atas. Dengan segala hormat harus saya katakan, bahwa saya belum menemukan ulama Syafi’iyah yang berpendapat bahwa berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat itu sunnah, atau bid’ah hasanah.
    Muncul pertanyaan, bagaimana kalau pemberian makanan itu kita niatkan untuk sedekah? Bukankah itu merupakan amalan yang mulia?

    Kembali saya kutipkan pendapat Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm :
    وأحب لجيران الميت أو ذي قرابته أن يعملوا لأهل الميت في يوم يموت وليلته طعاما يشبعهم فإن ذلك سنة وذكر كريم وهو من فعل أهل الخير قبلنا وبعدنا لأنه لما جاء نعي جعفر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اجعلوا لآل جعفر طعاما فإن قد جاءهم أمر يشغلهم
    Dan saya menyukai apabila tetangga si mayit atau kerabatnya membuat makanan untuk keluarga mayit pada hari meninggal dan pada malam harinya yang dapat menyenangkan mereka, hal itu sunah dan merupakan sebutan yang mulia, dan merupakan pekerjaan orang-orang yang menyenangi kebaikan, karena tatkala datang berita wafatnya Ja’far, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan” (Musnad Imam Syafi’i No. 602; Al-Umm 1/397 ; lihat Ringkasan Kitab Al-Umm 1, hal. 387]

    Menurut Imam Syafi’i (bukan menurut saya) yang dianjurkan adalah para tetangganya yang bersedah kepada keluarga mayat, bukan sebaliknya keluarga mayat yang bersedekah kepada para tetangga.

  226. Bagaimana kalau keluarga mayat ‘memaksa’ bersedekah kepada para tetangga?
    Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak Asy-Syafi’i dalam kitab Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Authar menjelaskan :
    قَوْلُهُ : ( كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ ) إلَى آخِرِهِ . يَعْنِي أَنَّهُمْ كَانُوا يَعُدُّونَ الِاجْتِمَاعَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ بَعْدَ دَفْنِهِ ، وَأَكْلَ الطَّعَامِ عَنْدَهُمْ نَوْعًا مِنْ النِّيَاحَةِ لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ التَّثْقِيلِ عَلَيْهِمْ وَشَغْلِهِمْ مَعَ مَا هُمْ فِيهِ مِنْ شُغْلَةِ الْخَاطِرِ بِمَوْتِ الْمَيِّتِ وَمَا فِيهِ مِنْ مُخَالِفَةِ السُّنَّةِ ؛ لِأَنَّهُمْ مَأْمُورُونَ بِأَنْ يَصْنَعُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا فَخَالَفُوا ذَلِكَ وَكَلَّفُوهُمْ صَنْعَةَ الطَّعَامِ لِغَيْرِهِمْ .
    Ucapan Jarir (kita (semua sahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayit dan membuat makanan sesudah ditanam mayit itu, masuk bilangan “meratap”) maksudnya bahwa mereka menganggap berkumpul di rumah keluarga si mayat setelah dikuburkannya dan menyantap makanan di tempat mereka adalah termasuk meratapi mayat, karena hal itu membebani dan menyibukkan keluarga si mayat, padahal mereka telah dirundung musibah kematian, disamping itu, HAL INI MENYELISIHI SUNAH, karena yang diperintahkan kepada mereka adalah membuatkan makanan untuk keluarga si mayat, sehingga bila mereka melakukan itu, berarti menyelisihi perintah tersebut dan membebani keluarga tersebut untuk membuatkan makanan bagi orang lain.
    [Bustanul Ahyar Muhtashar Nailul Author 2, hal. 232-233]

    Menurut Syeikh Faishal (bukan menurut saya) : HAL INI MENYELISIHI SUNAH.

  227. Menurut Syeikh Faishal (bukan menurut saya) jika keluarga mayit bersedekah untuk para tetangga : HAL INI MENYELISIHI SUNAH.

    Sekarang kita perhatikan lagi pendapat Imam Syafi’i tentang bid’ah :
    البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم، واحتج بقول عمر بن الخطاب في قيام رمضان: نعمت البدعة هي
    “Bid’ah itu ada dua macam: Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela), maka apa-apa yang sesuai dengan sunnah itu adalah terpuji, dan apa-apa yang menyelisihi sunnah itu adalah tercela.” (Hilyatul Auliya 9/113)

    Menurut Imam Syafi’i (bukan menurut saya) : Apa-apa yang menyelisihi sunnah itu tercela (madzmumah)

    MOHON KOREKSI DARI PEMBACA FORUM INI KALAU KUTIPAN SAYA DI ATAS ADA YANG KELIRU.

  228. @Ustadz Masnun Tholab :
    Terimakasih atas pencerahannya.
    Semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu memberikan petunjuk, berkah dan rahmatNya kepada pak Ustadz dan keluarga.

  229. @ masnun
    >>>Tentang berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat sudah saya kutipkan beberapa pendapat ulama di atas.
    —- > yang dikutip pak ustad kan Cuma pendapat2 tentang “jamuan makan2” dan “berkumpul2 tanpa tujuan” DOANG.. dari semua ta’bir yg ustad paparkan, gak ada satupun yg menyinggung apabila “kumpulan itu untuk mendo’akan mayyit dan jamuan untuk sedekah yang PAHALANYA DIHADIAHKAN KE MAYYIT”. Disini perbedaannya pak ustad..
    Klw “jamuan itu untuk kumpul2 doang, ana sepakat” dg antum.. apalagi klw ditambah dengan kegiatan negative. Lha klw acara itu untuk “mendo’akan mayyit dan kirim pahala” apakah ini masih sma dg “kumpul2 doang”??
    >>>Menurut Imam Syafi’i yang dianjurkan adalah para tetangganya yang bersedah kepada keluarga mayat
    == Alhamd.. masyarakat kami klw ada keluara yg berduka tidak Cuma nyumbang makanan, tapi juga uang, kain kafan dan sarana penguburan mayyit..
    >>, bukan sebaliknya keluarga mayat yang bersedekah kepada para tetangga
    == nah, klw yg ini gak disebutkan imam syafi’i.. yg ini “PENEMUAN “ pak ustad.. yg disebut imam syafii “Dan saya menyukai apabila tetangga si mayit atau kerabatnya membuat makanan untuk keluarga mayit pada hari meninggal dan pada malam harinya yang dapat menyenangkan mereka,”
    >> Dengan segala hormat harus saya katakan, bahwa saya belum menemukan ulama Syafi’iyah yang berpendapat bahwa berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat itu sunnah, atau bid’ah hasanah
    == klw belum menemukan.. nih.. Fatwa Imam As- Suyuthi As- Syafi’I dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :
    قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
    “ Thowus berkata: Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabt Nabi) gemar (bersedekah) menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut “.
    fatwa as-suyuthi ini — > para SAHABAT dst

  230. Sebagai perbandingan perhatikan pendapat Imam Zaenudin dalam kitab Irsyadul ’Ibad dibawah ini :
    واعلم أن ما يفعله الناس يوم عاشوراء من الاغتسال ولبس الثياب الجدد والاكتحال، والتطيب والاختضاب بالحناء، وطبخ الأطعمة بالحبوب وصلاة ركعات بدعة مذمومة، فالسنة ترك ذلك كله، لأنه لم يفعله رسول الله وأصحابه، ولا أحد من الأئمة الأربعة وغيرهم
    Ketahuilah bahwa apa-apa yang dilakukan orang-orang pada hari Asyura yaitu mandi, memakai pakaian baru, memakai celak, minyak wangi, pacar dan memasak makanan dan shalat beberapa reka’at adalah BID’AH MADZMUMAH (tercela), yang sunnah adalah meninggalkan semuanya, karena para sahabat tidak melakukannya, tidak pula salah seorang dari imam yang empat dan para ulama lainnya.
    (Irsyadul ‘Ibad, Maktabah Syamilah)

    Mungkin para pembaca forum ini akan bertanya :
    Bukankah mandi, memakai pakaian baru, memakai celak, minyak wangi, pacar dan memasak makanan dan shalat beberapa reka’at adalah merupakan amalan yang baik?

    Imam Zaenudin berkata : karena para sahabat tidak melakukannya, tidak pula salah seorang dari imam yang empat, dan para ulama lainnya.

    Jadi, amalan yang menurut kita ‘baik’, belum tentu baik menurut syari’at.

    • seperti nya segala sesuatu tergantung niat boss,…
      kita kerja adalah baik,….tak kan jadi ibadah bila tak di niatkan ibadah,
      antum juga berdakwah misalkan,pekerjaan yang baik….bagaimana jika tak di niatkan ibadah,…??sedekah,pekejaan yg mulia………bagaimana dapat pahala jika tak di niatkan ibadah misakan agar di puji orang…
      he..he….oke boss……

  231. @masnun
    >>>>Imam Zaenudin berkata : karena para sahabat tidak melakukannya, tidak pula salah seorang dari imam yang empat, dan para ulama lainnya.
    ====Fatwa Imam As- Suyuthi As- Syafi’I dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :
    قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
    “ Thowus berkata: Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, MAKA MEREKA (SAHABAT NABI) GEMAR (BERSEDEKAH) MENGHIDANGKAN MAKANAN SEBAGAI GANTI DARI MEREKA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA pada hari-hari tersebut “.

    — > ustad masnun, soal kirim pahala dg sedekah itu dilakukan PARA SAHABAT. Baca tuh fatwa imam suyuthi. yg ana tulis dg huruf BALOK.
    — > imam al hafidz as-suyuthi ini adalh tokoh madhab syafi’I yg sangat popular… beberapa kitab karangan beliau ..1. tafsir jalalain 2. Syarah ‘uqudul Juman 3. Al asybah wa an-nadloir (kitab qowaidul fiqh madzhab syafi’I paling popular… karanan beliau mencapai 300 kitab dr berbagai disiplin ilmu)

    — > towus adl seorang tabi’in

  232. Ternyata …. bila kita tidak menemukan pendapat ulama Syafi’iyah, bukan berarti pendapat itu tidak ada. Mungkin …. sekali lagi mungkin …. kita belum baca dan ketika diberitahu …. tidak berusaha mau mengetahui ….. karena sudah terlanjur yakin dengan yang diketahuinya saja. Padahal pendapat tersebut sudah disebutkan berkali-kali, baik dalam artikel maupun dalam komentar-komentar.

  233. maaf dari atas sampai bawah kok belum pernah ada yg kemukakan jamuan makan apa bagaimana yg di lakukan oleh bangsa jahiliah,arab…??

    sebab yg kita ketahui dlm menghormati tamu saja org arab jahiliah terkenal wah……..
    jika kita lihat dr selain agama islam di negara ini yg nama nya memperingati kematian yg masih menganut adat jahiliah bisa menghabiskan ratusan juta,bahkan milyaran rupiah dalam pelaksanannnya,…yg potong 40 ekor kerbau,babi sekian ekor,atau sapi sekian…dll
    belum lagi di lakukan sekian hari perayaannya besar2an……manggul ini itu di larung ke laut dll,yg memakan biaya puih…bisa bikin rumah kontrakan 10 kali ya…he..he..

    bisa kah di antara teman2 semua bisa tunjukkan jamuan makan/perayaan kematian jahiliah arab itu pie…asline….??

    lalu kita bandingkan dengan acara tahlilan di indonesia ini..

  234. @ustadz Masnun
    Maaf kalau saya salah krn menyebut ustadz WahabiYyun. Kalau ternyata ustadz bukan salah satu kaum Wahabi ya alhamdulillah. Tp kalau memang salah satu dari kaum Wahabi, saya mohon dengan sangaT agar ustadz menyampaikan kepada jama’ah Wahabi bahwa memang ada bid’ah mahmudah/hasanah.

  235. @Ustadz kenzi :
    Atas dasar apa antum menentukan bahwa si A ini Wahabi, sedangkan si B Aswaja. Si Fulan Wahabi, sedangkan si Fulanah Aswaja.
    Apakah antum bisa menunjukkan :
    1. Siapa saja ulama Aswaja, dan apa indikatornya?
    2. Siapa saja ulama Wahabi dan apa indikatornya?

    Pembaca yang lain juga bisa urun rembug untuk menjawab pertanyaan di atas.

    • maaf kalo ane yg fakir bin abu syibr ini nimbrung, kalo ane sih taunya yaaah dari ajarannya, apakah mengajarkan amalan : Maulid-AN, tahlil-AN, yasin-AN, tawassul, tabaruk, itu pasti ulama aswaja, meski syiah juga mengamalkan maulidan, tahlilan dll, tp selama mengakui sahabat Nabi saw tidak cuma Syadina Ali, tentu itu ulama aswaja bukan? ga gampang bilang ini itu Bid’ah = sesat, mengajarkan bid’ah Hasanah, tentu itu ulama aswaja bukan? ajaran Tauhidnya ga terbagi 3, akidah Allah swt ada tanpa tempat, itu ulama aswaja bukan?

      para Kyai / Habib / ustadz senang memakai gamis, sorban, jenggot rapih, pake celana ga terlalu cingkrang, jidatnya ga hitam/angus/kapalan, mukanya sejuk-2, cerah, bercahaya, menurut ane itu ulama aswaja….meskiiiiiiii ada sedikit juga yg tdk sesuai penggambaran ane….

      kalo bersebrangan dg yg ane bilang di atas pasti ataupun mungkin itu ulama wahabi….afwan kalo khilaf krn kedangkalan ilmu ane…

      nah ane pengen tau nih kejujuran Ustadz Masnun, ente melakukan amalan : Maulidan, yasinan, tahlilan, tawassul, tabaruk ?????? kalo ane JUJUR : IYA, kalo ente ?????

  236. Umpama wahabi ndak kata kita orang sesat & syirik, indonesia dan dunia islam tentram. perbedaan yg menyejukkan. Intinya tawassul bukan minta pada yg ditawassul-i, mendoakan orang meninggal adalah kebaikan, membaca yaasiin juga kebaikan. Love & peace..

  237. Ringkasan pendapat para ulama yang saya copas di atas tentang berkumpul dan makan-makan di rumah mayat adalah sebagai berikut :
    1. Imam Nawawi : Bid’ah dan tidak dianjurkan
    2. Al-Bakri Dimyati : Makruh (dibenci)
    3. Imam Zaenudin : Makruh (dibenci)
    4. Syeikh Zakaria Al-Anshary : Bid’ah Madzmumah (tercela).
    5. Syeikh Faishal bin Abdul Aziz Al-Mubarak : Menyelisihi sunnah/Bid’ah Madzmumah
    6. Ibnul Qayyim : Bid’ah yang dibenci.
    7. Sayyid Sabiq : Bid’ah yang mungkar.

    Tidak seorangpun diantara ulama di atas yang berpendapat bahwa berkumpul dan makan-makan di rumah keluarga mayat adalah BID’AH HASANAH.

    APAKAH MEREKA ITU ULAMA WAHABI?

    • @Masnun
      — > he..he.. baru on line pak ustadz?
      —- > Fatwa Imam As- Suyuthi As- Syafi’I dalam kitab Al-Hawi li al-Fatawi-nya mengtakan :
      قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام
      “ Thowus berkata: Thowus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, MAKA MEREKA (SAHABAT NABI) GEMAR (BERSEDEKAH) MENGHIDANGKAN MAKANAN SEBAGAI GANTI DARI MEREKA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA pada hari-hari tersebut

    • maaf kalo ane yg fakir bin abu syibr ini nimbrung, kalo ane sih taunya yaaah dari ajarannya, apakah mengajarkan amalan : Maulid-AN, tahlil-AN, yasin-AN, tawassul, tabaruk, itu pasti ulama aswaja, meski syiah juga mengamalkan maulidan, tahlilan dll, tp selama mengakui sahabat Nabi saw tidak cuma Syadina Ali, tentu itu ulama aswaja bukan? ga gampang bilang ini itu Bid’ah = sesat, mengajarkan bid’ah Hasanah, tentu itu ulama aswaja bukan? ajaran Tauhidnya ga terbagi 3, akidah Allah swt ada tanpa tempat, itu ulama aswaja bukan?

      para Kyai / Habib / ustadz senang memakai gamis, sorban, jenggot rapih, pake celana ga terlalu cingkrang, jidatnya ga hitam/angus/kapalan, mukanya sejuk-2, cerah, bercahaya, menurut ane itu ulama aswaja….meskiiiiiiii ada sedikit juga yg tdk sesuai penggambaran ane….

      kalo bersebrangan dg yg ane bilang di atas pasti ataupun mungkin itu ulama wahabi….afwan kalo khilaf krn kedangkalan ilmu ane…

      nah ane pengen tau nih kejujuran Ustadz Masnun, ente melakukan amalan : Maulidan, yasinan, tahlilan, tawassul, tabaruk ?????? kalo ane JUJUR : IYA, kalo ente ?????

  238. baca tahlil, baca yasin, baca al ikhlas. hukumnya sunnah. kalau berjamaah itu membawa rohamat/semangat. ayo mau sendirian atau bersama-sama. ayo sma-sama masuk surga, atau sendiri sendiri.

  239. tahlilan itu manfaatnya buanyaak brow masak ada orang mati malamnya dibuat jagongan konkow-kngkow mendingan baca alquran / tahlilan orang yang menolak tahlilan itu orang yang goblooooook banget !!!!!!!!!!!!!!!

  240. PUISI GUS MUS (KH. Mustofa Bisri)

    ”KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA?”

    Aku pergi tahlil, kau bilang itu amalan jahil

    Aku baca shalawat burdah, kau bilang itu bid’ah

    Lalu aku harus bagaimana…?

    Aku bertawasul dengan baik, kau bilang aku musrik

    Aku ikut majlis zikir, kau bilang aku kafir

    Lalu aku harus bagaimana…?

    Aku sholat pakai lafadz niat, kau bilang aku sesat.

    Aku mengadakan maulid, kau bilang tak ada dalil yang valid

    Lalu aku harus bagaimana…?

    Aku gemar berziarah, kau bilang aku alap-alap berkah

    Aku mengadakan selametan, kau bilang aku pemuja setan

    Lalu aku harus bagaimana…?

    Aku pergi yasinan, kau bilang itu tak membawa kebaikan

    Aku ikuti tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi

    Ya sudahlah… Aku ikut kalian…

    Kan kupakai celana cingkrang, agar kau senang

    Kan kupanjangkan jenggot, agar dikira berbobot

    Kan ku hitamkan jidad, agar dikira ahli ijtihad

    Aku kan sering menghujat, biar dikira hebat

    Aku kan sering mencela, biar dikira mulia

    Ya sudahlah… Aku pasrah pada Tuhan yang ku sembah…

  241. Tidak apa-apa kau bilang Jahil
    Tidak apa-apa kau bilang Bid’ah
    Tidak apa-apa kau bilang Musyrik
    Tidak apa-apa kau bilang Kafir
    Tidak apa-apa kau bilang Sesat
    Tidak apa-apa kau bilang Pengalap berkah
    Tidak apa-apa kau bilang Pemuja Setan
    Tidak apa-apa kau bilang amalanku tidak berfaedah

    Yang penting Bagiku adalah IKHLAS karena Allah Ta’ala

    Aku tidak berharap Surga dan Tidak berharap masuk Neraka
    Yang penting bagiku adalah Allah Ridho menghukum aku
    Karena itu adalah perbuatanku didunia yang Fana

    Fabi’ayya ala irabbikumat tukadziban
    Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

    Aku sangat bersyukur Nikmat yang Kau beri dan aku Ridho menerimanya

  242. @ucep
    mudah2an aja doa antum terkabul……
    tidak masuk surga
    dan tidak masuk neraka…

    • kiye.edi said:

      @ucep
      mudah2an aja doa antum terkabul……
      tidak masuk surga
      dan tidak masuk neraka…

      kiye.edi, nalar antum rupanya belum bisa nagkap maksud dari kang Ucep@ Mungkin perlu bimbingan khusus dari seorang kiyai…. biar paham tentang apa itu RIDHO ALLAH SWT. Kalau seseorang sudah dapat Ridho Allah, maka bereslah urusan dunia akhiratnya, kelak sudah pasti surga dong tempatnya, begitu kang kiye.edi@

  243. Alhamduliillah..Allah masih menunjukkan jalan lurus,yg hingga kini ALLAH msh membimbingku untuk tdk terjebak dlm akal-akalan manusia syirik..ALLAH msh MENCEGAHKU untuk TAHLILAN

  244. syair ama puisinya lucu2, emang benar2 ahli b****ah
    Orang nasrani juga gak mau trima kalao natalan ama mingguan dibilang mengada2. Benar kata ibnu sofyan, b***ah itu lebih **** dari maksiat.

    • @luqman,
      Yang ahli bid’ah itu wahabi masak tauhid dibagi menjadi tiga, apa itu bukan tasyabuh dengan Nasrani yang tauhidnya juga tiga alias Trinitas. kalian juga sering mengadakan pengajian pada hari minggu itu juga tasyabuh dengan nasrani yg mengadakan kebaktian pada hari minggu, apa itu semua ada contohnya dari Nabi haditsnya ada gak…..jadi itu juga bid’ah, Bid’ah dolalah(bid’ah yg buruk) tempatnya dineraka.

  245. Nasir, antum itu lucu ya.

  246. sudah disanggah mas katibiy

    • Bismillah,

      Tentang atsar Thowus, nampaknya Ustadz Abul Jauza’ melupakan atau mungkin menyembunyikan jalur lain atsar Imam Thowus. ada yang berjalur dari Mujahid, ada yang dari Ubaid bin Umair…

      selanjutnya, seandainya atsar Imam Thowus tersebut dianggap dho’if, Ustadz Abul Jauza juga tidak memperhatikan perbedaan para Ahli Hadits dalam mensikapi hadits-hadits dho’if….

      berikutnya beliau berargument dengan atsar (Ijtihad) Sayyidina Jarir…. Pertanyaannya : Kenapa terhadap sama-sama atsar beliau tidak mempertimbangkan untuk mencari Jami’-nya?…

  247. Ahamdulilllah, semakin yakin saya mengapa imam mahdi akan menaklukkan jazirah arab(saudi arabia) setelah kemunculannya, rupanya beliau hendak memusnahkan sumber fitnah dan membersihkan kota suci dari berhala berhala yg sekarang sudah ditebar para penguasa keturunan yahudi yg menyamar sebagai muslim, kemudian menegakkan kembali ajaran yg dibawa rasullullah dan insyaALLAH waktu itu sudah semakin dekat!!!!!!, segeralah bertobat sebelum terlambat.

  248. bagi sy sederhana aja dlm beragama, kita kan punya sumber rujukan dan uswah hasanah, jg maksa2 pengn tahlilan.! dan tidak perlu kalang kabut kalau denger Bid’ah. di zaman nabi saw kan kita ketahui yang meninggal dikalangan para sahabat ketika rasululloh masih hidupkan jumlahnya banyak dari mulai keluarga yasir, syuhada badar, uhud dan yarmuk, bahkan ketika ja’far bin abu thalib meninggal Rasulullah tidak mengamalkan tahlilan pun ketika Istri Rasulullah khadijah. atau ketika rasulullah wafat adakah salah satu sahabat atau lebih berkumpul dirumah nya atau dirumah rasulullah atau dirumah ahlu baitnya mereka merayakan tahlilan. jadi apa salahny kalau kami mencontoh Rasulullah tidak tahlilan dan bitupula para sahabat. syari’at itu di atur sama dalil saudaraku yang budiman. dan dalil itu Al-Qur’an as-Sunnah dan ijma sahabat. ane mau kasih prinsip islam.RINSIP AGAMA ISLAM:
    sumber dalam memahami islam adalah Al-Qu’an, As-Sunnah dan ijma sahabat dan metodologi memahami al-Qur’an dan as-sunnah harus mengikuti pemahaman para sahabat baik dalam aqidahnya maupun dalam syari’atnya.
    dan sumber pokok penyimpangan adalah tidak menjadi a-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber agama islam atau menambah sumber hukum lain selain keduanya baik itu akal, mimpi, hadits2 palsu, ramalan maupun idiolog2 lain selain sumber baku islam. dan tidak memahami al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan para sahabat Nabi. tetapi dengan akalnya, perasaannya,gurunya,pemimpin2nya yang berbeda dengan pemahaman para sahabat baik dalam aqidah maupun syari’at. wallohu ‘alam.

    • @asepzaid
      Yang lebih parah dan paliiiing parah, kalau katanya mengikuti al qur’an dan sunnah, ternyata lebih bid’ah.
      Al qur’an dan sunnah diterjemahkan atas kemauan sendiri serta hawa nafsunya sendiri.

  249. komen asepzaid yang ini :
    bagi sy sederhana aja dlm beragama, kita kan punya sumber rujukan dan uswah hasanah, jg maksa2 pengn tahlilan.! dan tidak perlu kalang kabut kalau denger Bid’ah. di zaman nabi saw kan kita ketahui yang meninggal dikalangan para sahabat ketika rasululloh masih hidupkan jumlahnya banyak dari mulai keluarga yasir, syuhada badar, uhud dan yarmuk, bahkan ketika ja’far bin abu thalib meninggal Rasulullah tidak mengamalkan tahlilan pun ketika Istri Rasulullah khadijah. atau ketika rasulullah wafat adakah salah satu sahabat atau lebih berkumpul dirumah nya atau dirumah rasulullah atau dirumah ahlu baitnya mereka merayakan tahlilan. jadi apa salahny kalau kami mencontoh Rasulullah tidak tahlilan dan bitupula para sahabat. syari’at itu di atur sama dalil saudaraku yang budiman. dan dalil itu Al-Qur’an as-Sunnah dan ijma sahabat.
    Silakan ditanggapi mang ucep

  250. @ibn abdul chair
    Koment ane diatas menjawab “sumber pokok penyimpangan adalah tidak menjadi a-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber agama islam atau menambah sumber hukum lain selain keduanya baik itu akal, mimpi, hadits2 palsu, ramalan maupun idiolog2 lain selain sumber baku islam. dan tidak memahami al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan para sahabat Nabi”.

    Untuk koment yang ini : “jadi apa salahny kalau kami mencontoh Rasulullah tidak tahlilan dan bitupula para sahabat”.
    Jawab : Apakah Aswaja mengharuskan dalam melakukan kegiatan seperti Tahlilan, Maulidan dan Yasinan ??? kalau ada yang mengharuskan/wajib coba ente koment disini.
    Kalau Aswaja melakukan kegiatan pasti ada dalil, baik sunnah maupun Ijma Ulama, itu jelas.

  251. Jika perkataan penulis berikut ini benar :
    “Maka tradisi bersedekah selama mitung dino / tujuh hari atau empat puluh hari pasca kematian, merupakan warisan budaya dari para tabi’in dan sahabat Nabi Saw, bahkan telah dilihat dan diakui keabsahannya pula oleh beliau Nabi Muhammad Saw.”

    Kenapa ketika Istri Rasulullah dan para sahabatnya yang meninggal atau gugur dalam medan pertempuran tidak di adakan tahlilan. tidak ada satupun riwayat yang menerangkan hal demikian.

    maka saya setuju apa yang dkatakan oleh mang @asepzaid
    “di zaman nabi saw kan kita ketahui yang meninggal dikalangan para sahabat ketika rasululloh masih hidupkan jumlahnya banyak dari mulai keluarga yasir, syuhada badar, uhud dan yarmuk, bahkan ketika ja’far bin abu thalib meninggal Rasulullah tidak mengamalkan tahlilan pun ketika Istri Rasulullah khadijah. atau ketika rasulullah wafat adakah salah satu sahabat atau lebih berkumpul dirumah nya atau dirumah rasulullah atau dirumah ahlu baitnya mereka merayakan tahlilan. jadi apa salahny kalau kami mencontoh Rasulullah tidak tahlilan dan bitupula para sahabat. syari’at itu di atur sama dalil saudaraku yang budiman. ”

    • Pak abiyazid, yg menyalahkan anda tidak tahlilan itu siapa? Kan masalahnya bukan itu, tetapi Wahabi Salafi mengharamkan tahlilan, lalu artikel di atas memberi sanggahan berdasar fakta yg ada, begitu pak abiyazid.

      Oh ya, Anda bukan keturunan Yazid bin Mu’awiyah yg membantai keluarga Rasulullah Saw itu kan? Seandainya bukan, kenapa nama penuh darah anak cucu Nabi tsb kok anda sandang buat nama anak anda?? Atau anda pengagum orang paling bejat dan jahat tsb? Wallohu a’lam.

    • @abiyazid
      Ente mau mengadakan Tahlilan atau tidak, itu terserah ente aja, tapi jangan mengatakan yang mengadakan tahlilan itu bid’ah. Kan sudah jelas dalam artikel diatas, bahwa Tahlilan bukan diambil dari tradisi Agama lain.

      Memang harus diakui bahwa kata “Tahlilan asal kata dari Tahlil ” sebagai sebuah bentuk tradisi seperti yang kita pahami sekarang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, akan tetapi perlu diingat bahwa SUBSTANSI tahlilan adalah dzikir berjama’ah dan berdoa untuk si mayit. Dzikir berjamaah dan berdoa untuk si mayit yang muslim supaya mendapatkan pengampunan dari Allah, tidak diragukan lagi terlalu banyak penjelasannya di dalam al-Qur’an dan al-Hadits :

      Firman Allah :
      Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Illah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS. Muhammad : 19)
      Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyir : 10)

      Juga hadist, Ini ane ambil dari Riyadush shalihin :

      Dari Aisyah radhiallahu anha bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi saw : “Sesungguhnya ibuku itu meninggal dunia secara mendadak dan saya mengira andaikata ia dapat berbicara tentu ia akan bersedekah. Apakah ibuku akan memperoleh pahala jikalau saya bersedekah untuknya ?” Beliau saw bersabda : “Ya.” (Muttafaq ‘alaih)
      Dari Amr bin al Ash ra, katanya : “Jikalau engkau semua telah memakamkan saya, maka berdirilah di sekitar kuburku sekedar selama waktu menyembelih seekor unta lalu dibagi-bagikan dagingnya, sehingga saya dapat merasa tenang bertemu dengan engkau semua dan saya dapat memikirkan apa-apa yang akan saya jawabkan kepada utusan utusan Tuhanku yakni malaikat yang akan menanyakan sesuatu. “Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam as Syafi’i rahimahullah berkata : “Disunnahkan kalau di sisi mayit yang sudah dikuburkan itu dibacakan sesuatu dari ayat-ayat al-Quran dan jikalau dapat dikhatamkan al-Quran itu seluruhnya, maka hal itu adalah baik”.
      Dari Abu Amr, ada yang mengatakan Abu Abdillah dan ada pula yang mengatakan Abu Laila, yaitu Usman bin Affan ra katanya : “Rasulullah saw itu apabila telah selesai dari mengubur mayit, lalu beliau berdiri atas kuburnya dan bersabda : “Mohonkanlah pengampunan untuk saudaramu semua ini dan mohonkanlah untuknya supaya dikarunia ketetapan-keteguhan hati dalam menjawab pertanyaan ketika ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir nanti. Sebab sesungguhnya ia sekarang ini ditanya oleh dua malaikat itu. “(Riwayat Abu Dawud).

      Masih banyak hadist, tentang dzikir berjama’ah.

      Sekarang terserah ente mau memahaminya ayat dan hadist diatas.

  252. ahlussunah wal jama'ah

    SIKAP YAZID TERHADAP TERBUNUHNYA AL HUSAIN

    Berkata Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Al Husain . Hal ini berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan kepada Ibnu Ziyad untuk mencegah Al Hasan menjadi penguasa negeri Iraq.”

    Ketika kabar tentang terbunuhnya Al Husain sampai kepada Yazid, maka nampak terlihat kesedihan di wajahnya dan suara tangisan pun memenuhi rumahnya.

    Kaum wanita rombongan Al Husain yang ditawan oleh pasukan Ibnu Ziyad pun diperlakukan secara hormat oleh Yazid hingga mereka dipulangkan ke negeri asal mereka.

    Dalam buku-buku Syiah, mereka mengangkat riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa wanita-wanita Ahlul Bait yang tertawan diperlakukan secara tidak terhormat. Mereka dibuang ke negeri Syam dan dihinakan di sana sebagai bentuk celaan kepada mereka. Semua ini adalah riwayat yang batil dan dusta. Justru sebaliknya, Bani Umayyah memuliakan Bani Hasyim.

    Disebutkan pula bahwa kepala Al Husain dihadapkan kepada Yazid. Tapi riwayat ini pun tidak benar, karena kepala Al Husain masih berada di sisi Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.

    SIKAP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH TERHADAP YAZID BIN MU’AWIYAH

    Sebagian membolehkan melaknat Yazid bin Mu’awiyah, namun adapula yang melarangnya. Bagi yang membolehkan melaknatnya, perlu untuk memerhatikan tiga hal berikut:
    -Mengetahui dengan jelas bahwa Yazid bin Mu’awiyah adalah orang fasiq.
    -Yakin bahwa Yazid tidak pernah bertaubat dari dosa-dosanya tersebut. Jika orang kafir yang bertaubat kepada Allah diampuni, maka bagaimana lagi dengan orang fasiq?
    -Tahu dengan pasti hukum melaknat pribadi tertentu, bahwa itu dibolehkan.

    Tapi yang benar justru sebaliknya, melaknat sosok pribadi tertentu yang Allah dan Rasul-Nya tidak melaknatnya dilarang. Beliau bersabda ketika orang-orang melaknat Abu Jahl,

    لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

    “Janganlah kalian mencela orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah menyerahkan apa yang telah mereka perbuat.” (HR. Bukhari).

    Agama Islam tidak dibangun di atas celaan sebagaimana yang dilakukan orang-orang Syiah. Tapi dibangun di atas akhlak mulia. Maka celaan dan para pencela, tidak memiliki tempat sedikitpun dalam agama Islam. Rasulullah bersabda,

    سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

    “Mencela seorang Muslim adalah kefasiqan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Tidak seorang pun yang mengatakan bahwa Yazid bin Muawiyah kafir. Tapi, kebanyakan orang mengatakan bahwa ia fasiq. Dan Allahlah yang Mahamengetahui.
    Rasulullah pernah bersabda,

    أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ

    “Pasukan yang paling pertama menyerang Romawi diampuni.” (HR. Bukhari).

    Dan ternyata, pasukan ini dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah. Ikut dalam pasukan itu beberapa sahabat yang mulia; Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Ibnu Abbas, dan Abu Ayyub. Penyerangan ini terjadi pada tahun 49 H.

    Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Yazid telah bersalah besar dalam peristiwa Al Harrah dengan berpesan kepada pemimpin pasukannya, Muslim bin Uqbah untuk membolehkan pasukannya memanfaatkan semua harta benda, kendaraan, senjata, ataupun makanan penduduk Madinah selama tiga hari.

    Demikian pula terbunuhnya sejumlah sahabat dan anak-anak mereka dalam peristiwa tersebut. Maka dalam menyikapi Yazid bin Muawiyah, kita serahkan urusannya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Adz-Dzahabi, “Kita tidak mencela Yazid, tapi tidak pula mencintainya.”
    Wallahu A’laa wa A’lam

  253. yudhistira mahdafikia

    kalau bilang org sesat mah gampang tapi yg susah ngaku diri sendiri sesat dan itulah yg terjadi pada wahabi, selama tahlil mengandung kebaikan insya allah ada manfaatnya dan didalam tahlil itu ada rangkaian do’a,pembacaan surat yassin yg termasuk surat dalam al-qur’an ada pembacaan kalimat tahlil (laa ilaha ilallah ) jadi dimana letak haram dan sesatnya coba buka kitab fathul mu’in pada hamisy i’anatuthalibin juz III halaman 218-219 dan coba renungkan hadits Rasululah SAW yg diriwayatkan oleh Ahmad,Muslim,An-Nasa’i dan ibnu majah yang artinya seperti ini : BAHWA SEORANG LAKI-LAKI BERKATA KEPADA NABI SAW,SESUNGGUHNYA AYAHKU TELAH MENINGGAL DUNIA DAN BELIAU TIDAK ADA WASIATNYA,APAKAH BERGUNA KEPADANYA JIKA SEKIRANYA AKU BERSEDEKAH UNTUKNYA JAWAB RASUL : YA,
    dan didalam tahli pun biasanya ada makanan yang dihidangkan oleh ahli bait, dan sekiranya hidangan itu diniatkan sebagai sedekah dan pahalanya ditujukan kepada si mati sudah barang tentu sampai sebab dalam hadits diatas rasul menjawab YA, jadi kalau memang org wahabi tidak suka pada org muslim lain yg suka tahlilan, ya jangan repot lha wong dalil yg membolehkan tahlil itu ada, dan ngga usah menyalahkan fatwa para ulama yg membolehkan tahlil sebab para ulama tidak akan sembarangan dalam menentukan fatwa mereka pasti akan berijtihad terlebih dahulu dalam menentukan sebuah hukum,dan jangan gampang bilang ini itu sesat,ini itu bid’ah sebab ada hadits rasul yang menyatakan apabila ada seorang muslim yg menyebut saudaranya sesama muslim dgn sebutan kafir maka sejatinya yg mengtakan kafir itulah yang sebenarnya kafir,jadi begitupun dgn menyatakan sesama muslim sesat jadi siapa yg sesat…..kadang wahabi nih sering nyari perdebatan diantara sesama muslim dan itu sama saja dgn menodai agama nya sendiri sebab kalau ngaku islam yg lebih baik dilakukan dalam memecahkan ikhtilaf adalah dgn musyawaroh bukannya debat adu dalil sya sendiri tidak pernah anti tahlil dan yassinan bahkan saya sering hadir pada acara tahlil dan majelis yasinan buat sebab sy yakin apa2 yg diniatkan baik karena Allah pasti ada manfaatnya,jadi hidup tahlil dan yassinan

  254. Begini saja, karena Wahabi doyan sekali sejak dulu mengklaim Walisongo sepaham dengan mereka hingga akhirnya kalah telak dan mengingkari keberadaan Walisongo…

    Ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik bagi pegiat dan pecinta sejarah Indonesia. Bagaimana Wahabi bisa dapat kesimpulan seenaknya mengenai Walisongo mengharamkan tahlilan sementara para sejarawan yang jelas-jelas jauh lebih berkompeten saja belum mempublikasikan?

    Lihat dengan jujur, dedengkot-dedengkot Wahabi kalah jauh kualitasnya dengan para sejarawa kalau mau obral sejarah, serampangan pula!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Video Ustadz Wahabi Syafiq Basalamah Sebut Dzikir Berjama’ah dengan Nyanyi Rame-rame

Video Ustadz Wahabi Syafiq Basalamah Sebut Dzikir Berjama’ah dengan Nyanyi Rame-rame. Sungguh keji dan jahat ...