Ekspresi Politik kiai NU Ialah Rahmah Jangan Jadi Bahan Adu Domba.

Ekspresi Politik Kyai NU Adalah Rahmah Jangan Jadi Bahan Adu Domba.

Ekspresi Politik kiai NU Ialah Rahmah Jangan Jadi Bahan Adu Domba.

kiai Makruf Amin, kiai Said Aqiel, Gus Mus, itu ialah kyai-kyai kharismatik di NU. Ketiganya kyai-kyai Alim dengan kedalaman ilmu yang luar biasa. Masing-masing punya cara dalam mengekspresikan pilihan politiknya, termasuk ekspresi kecintaannya kepada Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Selaku kader NU tak sepantasnya kita menjadikan perbedaan ekspresi beliau-beliau ini untuk mendegradasi kyai satu dengan kyai lain.

Ibarat Tokoh Pewayangan, di Pandawa itu ada tokoh semacam Yudhistira orang yang jujur, suci dan lugu, penjaga norma dan nilai2, walaupun sering jadi sasaran permainan politik yg merugikan Pandawa. Ada juga Bima yang kasar, suka ceplas ceplos, reaksioner, dikit-dikit buat statement mengancam dan menggertak. Ada juga Arjuna yang flamboyan, tebar pesona ke sana kemari sambil nyari celah kapan busur cintanya dilesakkan.

Tiap-tiap tokoh punya penggemar masing-masing. Penonton yang karakternya tak ‘sabaran’ pasti Idolanya Bima. Apalagi jika lihat Yudhistira yg dengan naifnya dimainin Sengkuni, penyokong Bima pasti teriak “qulhu ae lek, kesuwen..!!”

Pun, sebaliknya penonton yang hobinya mencari pesan-pesan nilai dan menikmati wayang sampai selesai, biasanya penyokong Yudhistira. Slogannya, seri (lakon) menang belakangan. Sementara kalah-kalah dulu gak papa, yang penting jangan sampai mengorbankan etika. Maksud baik wajib dicapai dg cara-cara yang baik juga.

Loading...
loading...

Menurut saya, di NU dan PBNU itu juga diisi beragam karakter tokoh dan kyai. Ada kyai yang seperti begawan, ada juga yang model panglima perang. Mana yang paling tepat? Seluruh tepat. Semuanya dibutuhkan oleh NU. Sunan Kudus dan Sunan Giri keduanya ulama sekaligus panglima perang. Sunan Ampel dan Sunan Bonang, begawan pengayom. So, selaku kader NU terutama sing enom-enom, tak perlu ikut-ikutan permainan para kurawa yang akan senantiasa berusaha mengadu domba Pandawa.

Komentar

comments

Loading...


Source by Samsul

loading...

You might like

About the Author: Samsul Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *