Eks Ketua HTI: Jangan Mau Dibohongi HTI Pakai Bendera Tauhid

Mantan Ketua HTI: Jangan Mau Dibohongi HTI Pakai Bendera Tauhid

Eks Ketua HTI: Jangan Mau Dibohongi HTI Pakai Bendera Tauhid

Berikut tulisan Ayik Heriansyah (Eks Ketua HTI Babel 2014) terkait bendera HTI yang diatasnamakan bendera tauhid yang senantiasa mengaku-ngaku bahwa mereka menggunakan bendera sesuai sirah nabawiyah.

“DIBOHONGI HTI PAKAI BENDERA TAUHID”

Jangan heran kalau HTI menghalalkan segala cara dalam perjuangannya. Syahwat politik mereka di atas rata-rata. Tidak aneh kalau HTI membohongi ummat pakai bendera tauhid sebab mereka sendiri membohongi pengikutnya pakai Sirah Nabawiyah dan Bisyarah Nubuwwah.

Telah jadi rahasia umum, Liwa Rayah Adalah ikon HTI. Bendera hitam putih ini tampak mencolok di tiap-tiap acara dan aksi PA 212. Gejala ini tidak lebih selaku cara HTI mempertunjukkan eksistensi dirinya di tengah ummat pasca dibubarkan pemerintah. Di PA 212 sendiri peran serta HTI terbilang minor karena HTI punya agenda politik sendiri yang tak sama dengan agenda ormas dan tokoh-tokoh Islam yang ada di PA 212. Keberadaan HTI di PA 212 sesungguhnya tidak memberi Andil politik yang signifikan pada aliansi tersebut.

Sebab bagi HTI, pemimpin muslim atau kafir, selama dalam sistem demokrasi, haram hukumnya untuk dipilih apalagi diusahakan. Aliansi PA 212 yang begitu longgar, celah bagi HTI untuk melaksanakan infiltrasi opini serta numpang eksis.

Kilas balik ke belakang, tidak disangka, bendera tauhid malah jadi jalan bagi berakhirnya eksistensi HTI di ruang publik. Saban tahun HTI punya agenda nasional di bulan Rajab tahun hijriyah untuk memperingati hari runtuhnya Khilafah pada tanggal 28 Rajab. Pada Rajab 1438 (Maret-April 2017) HTI mengambil tema Masirah Panji Rasulullah (Mapara) yaitu acara pawai atau aksi damai untuk mensosialisasikan bendera Rasulullah. Kontan planning Mapara HTI ditentang sejumlah pihak khususnya GP Anshor dan Banser sebab dibalik Mapara tercium aroma makar yang menyengat.

Akhir cerita HTI dibubarkan pemerintah pada tanggal 19 Juli 2017. 3 bulan sesudah Rajab. sesudah planning sosialisasi Liwa Rayah bertema Mashirah Panji Rasulullah (Mapara) awal tahun 2017 gagal total, eks-HTI menjadikan acara-acara PA 212 selaku tempat memajang bendera hitam putih itu.

Variasi Bendera Tauhid

Tauhid Adalah Utama ajaran Islam berupa legitimasi atas keesaan Allah Swt secara radikal dan menyeluruh. Dengan legitimasi tersebut seseorang dapat disebut muslim. Tanpa itu sebaik apapun anak manusia, ia tetap dinilai non-Islam (kafir). Semua ajaran Islam Adalah manifestasi dari tauhid yang ditulis dengan 1 kalimat singkat la ilaha illallah. Dengan kalimat ini tiap-tiap muslim Tidak mau, membantah dan menegasikan ada tuhan lalu menetapkan, memastikan dan meyakini Allah itu Tuhan. Tuhan itu Allah saja. Inilah doktrin pokok, Inti, sentral dan sakral dari keseluruhan ajaran Islam.

Kalimat tauhid ialah kalimat universal milik seluruh kaum muslimin di manapun mereka Ada dari generasi ke generasi. Saban Nabi yang diutus oleh Allah Swt mengajarkan tauhid selaku basis kehidupan yang wajib dipercayai sebelum membangun peradaban dengan syariah. Membangun peradaban berdasar tauhid misi Inti para Nabi dari Nabi Adam As sampai Nabi Muhammad Saw. Ajaran tauhid yang dibawa para Nabi, sama, tidak berubah. Adapun cabang-cabang syariahnya tak sama sesuai kebudayaan manusia tempat seorang Nabi diutus.(QS, 5: 48).

Tauhid ialah doktrin soal keesaan Allah Swt yang dipercayai dalam hati, diaktualisasikan dengan perbuatan dan termanifestasi jadi kebudayaan dan peradaban. Jadi tauhid bukanlah bendera tapi aqidah. Bendera tauhid akhir-akhir ini ramai dibicarakan sesudah di beberapa acara publik ormas Islam seperti tabligh akbar dan unjuk rasa acapkali tampak massa yang membawanya. Sungguh belum ada definisi baku soal bendera tauhid, tetapi dari persepsi umum belakangan ini yang dimaksud dengan bendera tauhid yaitu sepotong kain bersegi yang bertuliskan kalimat 2 kalimat syahadat. Pada bendera itu juga tertulis kalimat Muhammad Rasulullah).

Bendera tauhid mempunyai beberapa variasi di antaranya bendera tauhid yang dipakai oleh Kerajaan Arab Saudi. Pada bendera Kerajaan Arab Saudi ditambah gambar pedang di bawah kalimat 2 kalimat syahadat berlatar kain kelir hijau. Adapun bendera Persyarikatan Muhammadiyah menambah kata muhammadiyah di tengah apitan tulisan 2 kalimat syahadat yang berbentuk setengah lingkaran yang pagari oleh garis-garis sinar matahari di atas kain kelir hijau.

Adapun kubu ISIS mempunyai bendera kelir hitam dengan tulisan Muhammad Rasulullah berbentuk bulat yang mereka yakini seperti stempel yang pernah dipakai Rasulullah Saw pada surat-surat Beliau Saw. Ormas Islam yang juga mempergunakan 2 kalimat syahadat pada benderanya di antaranya: FPI, FUI, Jama’ah Ansharusy Syariah dan HTI tentunya.

Pada Perkara HTI, agak unik. Lambang/logo Hizbut Tahrir internasional berupa bola dunia yang di tengahnya ada tulisan Hizbut Tahrir bendera kelir hitam bertulis 2 kalimat syahadatnya. Adapun Hizbut Tahrir di Indonesia (HTI) mempergunakan tiang bendera tauhid berkelir hitam dan putih di posisi huruf I kata tahrir dan Indonesia pada nama Hizbut Tahrir Indonesia. Jadi gambar lambang Hizbut Tahrir internasional (pusat) dengan Hiizbut Tahrir di wilayah Indonesia, tak sama.

HT dan HTI lebih menonjolkan bendera tauhid yang mereka menyebut bendera Rasulullah yang bernama Liwa dan Rayah, dibandingkan lambang/logo kubu mereka sendiri. Di antara ormas-ormas Islam yang menjadikan 2 kalimat syahadat selaku lambang, cuma HTI dan ISIS yang begitu “memuja-mujanya”.

Umumnya ormas-ormas Islam yang menjadikan tulisan 2 kalimat syahadat di bendera mereka tidak lebih untuk mempertunjukkan aqidah yang dianut oleh ormas sekaligus identitas, landasan dan hakikat dari target akhir dari seluruh aktivitas yang dikerjakan ormas tersebut. Barangkali cuma HTI dan ISIS yang mempersepsikan bendera tauhid selaku bendera negara yang wajib ditegakkan.

Hadits soal Liwa Rayah

Sungguh ada beberapa hadits Nabi Muhammad Saw terkait bendera tauhid. Bendera tauhid ialah bendera Rasulullah Saw berdasar hadits-hadits berikut ini: Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai di Sunan al-Kubra sudah mengeluarkan dari Yunus bin Ubaid mawla Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku untuk al-Bara’ bin ‘Azib menanyakan soal rayah Rasulullah Saw seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib berkata: “Rayah Rasulullah Saw berkelir hitam persegi panjang terbuat dari Namirah.”

Loading...
loading...

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw sudah menyerahkan untuk Ali sebuah panji berkelir putih, yang size-nya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) Ada tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berkelir dasar putih, tulisan itu berkelir hitam. Adapun pada rayah yang berkelir dasar hitam, tulisannya berkelir putih.”.

Berikut ini beberapa hadits lainnya terkait al-Liwa dan ar-Rayah.

Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibn Majah sudah mengeluarkan dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rayah Rasulullah Saw berkelir hitam dan Liwa beliau berkelir putih.”

Imam An-Nasai di Sunan al-Kubra, dan at-Tirmidzi sudah mengeluarkan dari Jabir:

“Bahwa Nabi Saw masuk ke Mekah dan Liwa’ beliau berkelir putih.”

Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya mengeluarkan dari ‘Amrah ia berkata: “Liwa Rasulullah Saw berkelir putih.”

Waktu Rasulullah Saw jadi panglima angkatan bersenjata di Khaibar, beliau bersabda:

“‘Sungguh besok saya akan menyerahkan ar-râyah atau ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang digandrungi oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Sampai-tiba kami menyaksikan Ali, sementara kami seluruh mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Saw memberikan ar-rayah itu untuk Ali. Lalu Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw. menyampaikan berita duka atas gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Abdullah bin Rawahah, sebelum berita itu sampai untuk beliau, dengan bersabda:

“Ar-Râyah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur; lalu diambil oleh Ja‘far, lalu ia pun gugur; lalu diambil oleh Ibn Rawahah, dan ia pun gugur.” (HR. Bukhari).

Hadits-hadits tadi berbentuk info (repotase) yang disampaikan oleh sahabat Nabi Saw. Tidak ditemukan indikasi (qarinah) dan konotasi yang mempertunjukkan perintah dari Nabi Muhammad Saw untuk mempergunakan Liwa Rayah. Hadit-hadits itu mendeskripsikan bentuk dan kelir bendera Rasulullah Saw sekaligus mempertunjukkan perbedaan kegunaan Liwa dan Rayah tanpa ada ‘amr (perintah) untuk umatnya nanti supaya berbendera seperti Beliau Saw. Teks-nya (manthuq) tidak mengandung pujian bagi orang yang mempergunakan ataupun celaan bagi yang meninggalkan. Tidak ada kata dan frase yang bermakna thalab (tuntutan) bagi ummat untuk berbendera Liwa dan Rayah sehingga bisa disimpulkan bahwa mempergunakan Liwa dan Rayah serta bendera tauhid pada umumnya, mubah, bukan fardhu.

Kalau ditinjau konteks hadits-hadits di atas, terang sekali bahwa Rasulullah Saw mempergunakan liwa dan rayah dalam konteks politik identitas suatu negara di tengah pergaulan antar negara waktu itu. Konvensi internasional menjelaskan bahwa eksistensi negara dilambangkan dengan sebuah bendera. Inilah fungsi dari Liwa. Adapun Rayah berfungsi adminstrasi (idariyah) di dalam negeri khususnya di angkatan perang (jihad). Di kancah Pertempuran bendera jadi penanda Tentara dan pemegang bendera yang jadi pemimpin Tentara . Fungsi politik kenegaraan liwa dan fungsi administrasi rayah Adalah fungsi yang dipunyai tiap-tiap bendera negara. Bendera Liwa Rayah di masa Nabi Saw tidak mempunyai konotasi keagamaan secara spesial.

Negara Romawi dan Persia juga mempunyai bendera yang fungsinya sama dengan Liwa Rayah. Dengan seperti ini liwa dan rayah bersifat profan, tidak unik, bukan khas kenabian dan keislaman sebab fungsi bendera yang melekat di Liwa Rayah ternyata telah dipunyai ummat manusia sebelum Nabi Muhammad Saw memilikinya di Madinah. Perbuatan Muhammad Saw terkait bendera Liwa Rayah termasuk perbuatan jibiliyah wa thabi’iyah selaku seorang manusia yang jadi kepala negara. Tidak berhubungan dengan tugas tasyri’i-nya selaku Nabi dan Rasul.

Dari aspek unsur-unsur materi pembentuk Liwa Rayah, bendera tauhid ini terbuat dari kain berkelir hitam dan putih bertuliskan 2 kalimat syahadat. Kategori khath yang dipakai HTI dan ISIS pada bendera tauhid mereka faktanya tak sama. Khath yang manakah yang sama persis dengan khath pada bendera Rasulullah Saw dulu? Khath versi HTI tulisan berbentuk langsing dan runcing ditambah dengan tanda baca (syakl). Jikalau kita lihat khath pada dokumen surat-surat Rasulullah Saw, tulisan huruf-hurufnya agak gemuk dan gundul. Sebab itu tulisan 2 kalimat syahadat pada bendera Liwa Rayah versi HTI Disangka kuat hasil modifikasi. Bahkan bendera tauhid versi ISIS lebih mirip dengan khath yang ada didokumen surat-surat Nabi Saw dan stempel Rasulullah Saw.

Secara umum bendera termasuk kategori benda-benda (al-asyya’) yang memuat nilai tertentu. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyebutnya dengan istilah madaniyah yang khas yaitu bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang dipakai dalam bermacam aspek kehidupan. Sementara madaniyah dapat bersifat khas, dapat pula bersifat umum untuk semua ummat manusia. Bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadlarah (sekumpulan mafahim [ide] yang dianut dan mempunyai fakta soal kehidupan.) seperti patung, bendera, masjid, dll termasuk madaniyah yang bersifat khas. (an-Nabhani: 2001, 63). Adapun hukum asal benda (al-asyya’) ialah mubah sampai ditemukan dalil yang mengharamkannya mereferensi pada kaidah fiqih:

Hukum asal/pokok segala sesuatu (benda) ialah mubah (boleh) sehingga Ada dalil yang mengharamnya. (Abdul Mudjib, 2008: 25; an-Nabhani, 2001: 92; Muhammad Ismail, 1958: 20).

Jadi berdasar bukti-bukti:

1. Ummat Islam semenjak dari Nabi Adam As sampai Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah lalu berjihad dan punya Liwa Rayah, sudah bertauhid tanpa bendera;

2. Redaksi hadits-hadits soal Liwa Rayah bersifat info deskriptif (khabariyah) bukan tuntutan yang mewajibkan ummat supaya berbendera Liwa Rayah. Ditambah konteks Muhammad Saw dalam hadits-hadits itu selaku pemimpin politik suatu negara bukan selaku Nabi dan Rasul yang mengemban misi spiritual keagamaan.

3. Fakta kebendaan bendera tauhid Liwa Rayah termasuk madaniyah Islamiyah;

4. Bervariasinya bentuk bendera tauhid yang dipunyai ormas-ormas Islam termasuk Sangkaan modifikasi khath Liwa Rayah oleh HTI.

Bendera tauhid itu Adalah produk budaya selaku lambang negara. Nilai bendera terletak pada fungsinya bukan pada bentuknya. Bentuk bendera ikut konvensi, konsensus dan adat yang tengah berlaku. Singkatnya bertauhid bukan fardhu; Berbendera tauhid (Liwa Rayah) hukumnya mubah.

Jadi terang pamer bendera tauhid oleh HTI bukan bagian dari syariah. Pamer bendera itu untuk tujuan-tujuan munkar; adu domba, provokasi ke chaos, kudeta dan bughat.

Bandung, 19 Oktober 2018

#HWMI #NU #GenerasiMudaNU

Ayik Heriansyah (Eks Ketua HTI Babel 2014)

(FBGenerasiMudaNu/ suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *