Doa Buka Puasa Ramadhan “Allahumma Laka Sumtu” Disalahkan, Ini Bantahannya

Doa Buka Puasa Ramadhan “Allahumma Laka Sumtu” Disalahkan, Ini Bantahannya

Menjelang datangnya tidak Ramadhan, mulai tidak sedikit beredar BC (Broadcast) terkait dengan lafadz doa berbuka puasa. Ada kalangan yang menganggap bahwa riwayat doa tersebut dloif, bahkan mereka juga heroik berkata bahwa lafadz doa berbuka tersebut tak ada asalnya.

Apakah benar beginilah? Berikut ialah penjelasan soal hadits tersebut:
Ada hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah pun berdo’a dengan do’a yang sebagian lafadznya sebagaimana di atas:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ»

Artinya: Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam saat berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu (HR. Abu Dawud, diriwayatkan pun oleh Al Baihaqi, Ath Thabarany, Ibnu Abi Syaibah)
Akan tetapi dalam catatan kaki Kitab Jâmi’ul Ushul, karya Ibnul Atsir (w. 606 H), dengan tahqiq Abdul Qadir Arna’uth dan disempurnakan Basyir ‘Uyûn, Maktabah Dârul Bayân, juz 6 hal.378 dinyatakan:
رقم (2358) في الصوم، باب القول عند الإفطار، مرسلاً، ولكن للحديث شواهد يقوى بها.

Nomor (2358) dalam (kitab) Puasa, bab perkataan ketika berbuka, mursal, bakal tetapi hadits ini mempunyai syawâhid yang memperkuatnya.
Berikut banyak redaksi do’a terkait:

1) Ath Thabarany dalam Mu’jam as Shaghir (2/133):
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ , وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

2) Ath Thabarany dalam Ad Du’â, hal 286
بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، تَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

3) Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (2/344), Ar Rabi’ bin Khutsaim saat mau berbuka berdo’a:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Kaum Muslimin di seluruh dunia termasuk di Indonesia apabila berbuka puasa biasa membaca do’a berikut:
اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Artinya: “Ya Allah, karena-Mu saya berpuasa, kepada-Mu saya beriman dan dengan rizki-Mu saya berbuka. Sudah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”.

Pembacaan do’a sebagaimana ini -dengan variasi tambahan dan pengurangan- merupakan warisan turun-temurun dari para Ulama Waratsatul Anbiya.

Mereka yang menganjurkan membaca do’a ini ialah para Ahli Hadist dan Fuqaha dari banyak Madzhab.

Dari Ulama Madzhab Hanafi misalnya, kita menemukan penjelasan dari Al Imam Fakhruddin Utsman bin Ali az Zaila’i:
وَمِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْت وَعَلَيْك تَوَكَّلْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .

Artinya: “Di antara Sunnat ialah saat berbuka puasa dianjurkan mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu saya berpuasa, kepada-Mu saya beriman, kepada-Mu saya bertawakkal dan dengan rizki-Mu saya berbuka.” (Lihat kitab Tabyinul Haqa’iq Syarah Kanzud Daqa’iq karya Al Imam Az Zaila’i juz 4 halaman 178).

Loading...
loading...

Dari Ulama Madzhab Maliki antara lain disebutkan dalam Kitab Al Fawakih Ad Dawani Ala Risalah Ibni Abi Zaid Al Qirwani karya Syekh Ahmad bin Ghunaim bin Salim bin Mihna An Nafrawi:
وَيَقُولُ نَدْبًا عِنْدَ الْفِطْرِ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت ، أَوْ يَقُولُ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Artinya: Dan Sunnat saat berbuka puasa mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu saya berpuasa dan dengan rizki-Mu saya berbuka. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang bakal datang”. Atau mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu saya berpuasa dan dengan rizki-Mu saya berbuka. Sudah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”. (Lihat pada Juz 3 halaman 386).

Dari Madzhab Syafi’i antara lain dikemukakan Al Hafizh Al Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab:
والمستحب أن يقول عند إفطاره اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت لما روى أبو هريرة قال ” كان رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا صام ثم أفطر قال اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .

Artinya: Dan yang disunnahkan saat berbuka puasa itu ialah mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu saya berpuasa dan dengan rizki-Mu saya berbuka”. menurut Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata: Nabi Saw itu apabila berpuasa lalu berbuka membaca “Ya Allah, karena-Mu saya berpuasa dan dengan rizki-Mu saya berbuka”. (Lihat Al Majmu’ Juz 6 halaman 363).

menurut uraian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa membaca do’a “Allahumma laka Shumtu….” sebagaimana yang biasa dilaksanakan Ummat Islam ialah Sunnah. Adapun adanya keterangan sebagian orang yang menilai Hadisnya lemah bisa dijelaskan selaku berikut:

Pertama, lemahnya sebuah Hadist tak serta merta terlarang mengamalkannya karena kelemahan itu hanyalah pada penisbatannya terhadap Nabi Saw, tak ada kaitannya dengan boleh-tidaknya dibaca.

Kedua, Hadist “Allahumma Laka Shumtu…” sungguhpun dha’if tapi ia melengkapi Hadis “Dzahabazh Zhama’u…”. yang yang Hasan itu.

Bentuk kedua ini belum merupakan doa karena cuma bentuk kabar atau ucapan biasa yang disampaikan Nabi Saw ketika minum air. Bacaan ini baru sebagai do’a manakala disambungkan dengan kalimat “Allahumma…” yang artinya “Ya Allah”.

Ketiga, bacaan doa tersebut sudah diamalkan dan dianjurkan oleh seluruhnya Ulama Madzhab Empat Itu artinya membaca “Allahumma laka Shumtu” merupakan kesepakatan Ummat Islam.

Apabila ada orang awam yang mencegah membaca “Allahumma Laka Shumtu…” maka orang tersebut bisa dikatakan menyalahi kesepakatan Ummat Islam – tak ada dalil yang sebagai dasarnya.

Bahkan, sabda Nabi Saw di atas menganjurkan kita memilih doa sesuka kita. Lalu dengan alasan apa orang tersebut mencegah membaca doa “Allahumma Laka Shumtu..”? Bukankah dengan larangannya itu artinya ia sudah membikin Syari’at baru?

Jika saja membaca doa yang terdapat dalam Hadist Shahih itu diharamkan, tanyakan terhadap orang itu: “Pernahkan anda berdoa dengan Bahasa Indonesia supaya anak anda sukses sekolahnya ? Kalau pernah, lalu apakah ada dalilnya bentuk doa yang anda baca itu?

Lalu bagaimana anda mencegah orang membaca doa yang disepakati Ummat Islam dari dulu sampai sekarang cuma gara-gara “katanya” Hadisnya dha’if ?

Dan afdholnya dalam berdoa ialah dengan diawali ucapan Allahumma atau Robbana, tak ujug-ujug langsung menuju Dzahabadh dhomaa’u.. dan seterusnya, sebagaimana yang kita pahami dari BC tersebut.

Kita berdoa dengan bahasa yang kita susun sendiri saja boleh kok, apalagi bila mengutip dari haditsdhoif, ya tentu lebih bagus.

Monggo manteb saja berbuka puasa dengan doa:
اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ

Sumber: Dutaislam.com/piss-ktb.com

Doa Buka Puasa Ramadhan “Allahumma Laka Sumtu” Disalahkan, Ini Bantahannya

Loading...

Link

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :