DNA-Moderat TGB Menuntunnya Berkumpul dengan Kaum Moderat

DNA-Moderat TGB Menuntunnya Berkumpul dengan Kaum Moderat

DNA-Moderat TGB Menuntunnya Berkumpul dengan Kaum Moderat

TGB sebelum menyatakan dukungannya ke Jokowi untuk 2 periode adalah sosok yang dielu-elukan sebagai Capres 2019 oleh kelompok Alumni 212 wa akhwayuha. Tapi begitu TGB menyatakan mendukung Jokowi 2 Periode, tiba-tiba mereka yang mengelu-elukannya sontak menhujatnya. Alumni 212 lalu mencoretnya dari daftar Capresnya, yang tentu saja tak menjadi masalah bagi TGB.

Lalu, Siapakah TGB Itu dan Dari Mana Asal-usulnya? Ternyata dalam Darahnya Mengalir DNA-Moderat Sejak Lahir….

Kalau tidak salah, wallâhu a’lam, ceritanya begini :

Beliau adalah santri tulen yang mengaji di Mekkah, di beberapa tempat, dan salah satunya di Madrasah Sholatiyah. Belajar kepada banyak guru di sana, dan nama yang paling saya ingat adalah Syaikh Hassan al-Massyâth. Banyak cerita yang saya dapatkan dari kisah beliau ini, tetapi yang dramatis bermula saat beliau pulang kampung meninggalkan Mekkah, berbekal restu dari sang guru tadi. Dengan transportasi tunggal saat itu, kapal laut, beliau terkena musibah. Yaitu, kapal mengalami badai laut di tengah perjalanan, dan seluruh kitabnya rusak terkena air laut.

Sesampainya di kampung halaman, walaupun beliau sudah tidak memiliki kitab yang layak dibaca apalagi diajarkan, karena rusak, beliau tetap mengabdikan dirinya untuk mengajar. Beliau aktif di masjid setempat. Suatu hari, beliau berencana mendirikan sebuah madrasah. Rencana tersebut ditentang oleh ulama setempat (yang lebih sepuh), dengan alasan menghidupkan “tradisi Wahabi”. Terminologi “madrasah” di kampung beliau, waktu itu, identik dengan Wahabiyah. Kiranya, ini hanya soal komunikasi, dan beliau teguh untuk mendirikan lembaga pendidikan agama yang memang pantasnya disebut sebagai madrasah.

Beliau merasa, niat beliau pulang kampung untuk mengabdikan diri menghadirkan sejumlah cobaan. Dimulai dengan badai laut, hingga ketidaksetujuan ulama setempat atas rencana beliau. Beliau pun mengadukan semua cobaan yang diterimanya melalui surat yang beliau kirim kepada gurunya, Syaikh Hassan al-Massyâth. Menurut info yang saya terima dari sumber terpercaya, beliau memang dekat sekali dengan gurunya. Sangat dekat. Dan hal ini juga dijelaskan oleh Dr. Abd Wahhâb bin Ibrâhîm Abû Sulaymân, Guru Besar di Fakultas Pasca Univ. Ummul Quro Mekkah; dalam sebuah Tahqîq-nya atas kitab Al-Jawâhir Ats-Tsamînah fî Bayâni Adillati Âlimil Madînah, kitab mengenai Ushul Fiqih karya Syaikh Hassan al-Massyâth.

Dari gurunya itu, beliau mendapatkan balasan yang berisi syair-syair pujian untuk sang murid. Sang murid menjadi “Maha Guru” bagi warga setempat. Syair-syair itu masih dibaca oleh santri hingga kini. Seluruh santri Nahdlatul Wathon di seluruh daratan Nusa Tenggara Barat.

Hari berlalu.

Salah satu penerus sang “Maha Guru” itu, sang cucu, TGB Zainul Majdi, adalah Ketua Alumni Al Azhar Mesir. Al-Hâfidz, doktor Ilmu Tafsir, Gubernur NTB selama 2 periode, dan sekarang–alhamdulillah–serius mendukung Jokowi. Jokowi itu orang yang dimusuhi Wahabi, yang tergabung dalam PKS. Patut diduga, caci maki, hoax, fitnah sebentar lagi bertebaran.

Yang sabar ya TGB…
DNA-mu adalah DNA-Moderat sudah sepantasnya berkumpul dengan orang moderat….

فالله خير حافظا و هو ارحم الراحمين

 

You might like

About the Author: admin

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.