Dituduh Murtad, Arab Saudi Eksekusi Penyair Palestina Ashraf Fayadh

Loading...

Arab Saudi akhirnya eksekusi penyair Palestina Ashraf Fayadh. Penyair Palestina ini dieksekusi mati sebab dituduh murtad atas puisi-puisi yang ditulisnya.

 

 

Islam-Institute, RIYADH – Arab Saudi yang sudah tenggelam dalam kecaman seluruh dunia atas kekejaman eksekusinya awal tahun lalu, waktu ini dikabarkan sudah melakukan eksekusi berupa pemenggalan kpd seorang penyair asal Palestina, Aashraf Fayadh, pada Kamis (14/1) kemarin atas tudingan “murtad” sebab tulisan dalam puisi yang ia tulis dalam bukunya.

Buzz Feed News, bagian media yang mengabarkan berita ini pada Jum’at (15/1), menjelaskan bahwa Fayadh yang merupakan anak cucu Palestina pertama kali ditangkap pada tahun 2013 atas tudingan yang diarahkan kepadanya dalam sebuah dialog. Ia lalu dilepaskan tapi lalu ditangkap lagi pada bulan Januari 2014 atas dakwaan kepada sebuah puisi yang ia publikasikan pada tahun 2008, Instructions Within, yang dinilai menghina agama.

walaupun statusnya selaku masyarakat Palestina, menurut The Guardian, Fayadh lahir di Arab Saudi dan merupakan anggota Edge of Arabia, sebuah organisasi seni British-Saudi. Dia sudah menggelar pertunjukan seni di Jeddah dan Venice.

Selama persidangan, yang terdiri dari enam sesi dengar pandangan antara Februari dan Mei 2014, Fayadh membantah berbagai tudingan. Dia mengatakan dengan tegas buku puisi cinta karyanya tak bermaksud menghina agama.

Human Right Watch (HRW) menyoroti kasus penyair Palestina itu. “Terlepas dari apa yang Fayadh katakan atau tak, Arab Saudi wajib berhenti menangkap orang sebab keyakinan pribadi mereka,” kata Sarah Leah Whitson, Direktur HRW untuk Timur Tengah.

Penulis Dunia Protes Vonis Mati Penyair Palestina Ashraf Fayadh

penyair Ashraf Fayadh dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Arab Saudi. Dia dituduh murtad dan diadili sebab syair-syair kritik sosial dan politik pernah ditulisnya. Sekarang, penulis mancanegara lewat PEN International memprotes keputusan tersebut dan menyetujui surat menyerukan kebebasan bagi Fayadh.

loading...

Mereka yang mecatat petisi ialah Carol Ann Duffy, penulis Irlandia Paul Muldoon, penyair asal Suriah Adonis, penyair Serbia-Amerika Charles Simic, penyair Amerika John Ashbery, Ghassan Zaqtan asal Palestina, penulis kelahiran Hungaria George Szirtes, dan penulis mancanegara lainnya.

Dalam surat petisi tersebut tertulis, “Kami penyair dari seluruh dunia terkejut bahwa pemerintah Arab Saudi sudah menjatuhi hukuman mati kpd penyair Palestina Ashraf Fayadh sebab tudingan murtad.”

Simak: EKI Dance Company Persembahkan ‘Choreographers, Dances & Dancers’

PEN International kembali mengatakan dengan tegas bahwa syair-syair yang pernah ditulis Fayadh murni persoalan kebebasan berekspresi saja. “Ini bukan kejahatan untuk menahan gagasan, juga bukan kejahatan untuk mengekspresikan pandangan secara damai. Tiap-tiap individu mempunyai kebebasan untuk percaya atau tak percaya. Kebebasan hati nurani ialah kebebasan manusia yang terpenting,” tulisnya.

Vonis kepada Fayadh membuktikan otoritas Arab Saudi tak toleransi kepada persoalan kebebasan berekspresi. “Kami para penyair yang menyokong Fayad mendesak pemerintah Saudi untuk berhenti menghukum individu lainnya dan menyerukan kebebasan tanpa syarat.”

Di tahun 2008, lelaki berumur 35 tahun itu pernah mempublish sebuah buku kumpulan puisi yang berjudul ‘Instructions Within’. Dalam sebuah dialog berbarengan penulis lainnya, ia sempat beradu argumen di Abha, Agustus 2013. Menurut ayah Fayadh, sesudah berdebat penulis tersebut memberitahukan putranya ke kepolisian agama Arab Saudi (Mutaween).

Lantas, Fayadh ditangkap lalu dibebaskan lagi dengan jaminan. Tapi, pada 1 Januari 2014 ia kembali ditangkap dan identitasnya pun diambil. Dia dicap selaku anak kelahiran Arab dari pengungsi Palestina sebab tak mempunyai kewarganegaraan resmi. Fayadh juga dituduh mempunyai hubungan gelap dengan seorang wanita.

loading...

Ashraf Fayadh enggak cuma berprofesi selaku seorang penyair. Tetapi, dia juga aktif dalam organisasi seni Inggris-Arab bernama ‘Edge of Arabia’.  (AL/ARN)

 

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :