Dituding Berat Sebelah dan Memberikan Panggung untuk Pembenci Presiden Jokowi, Karni Ilyas: Bukan Salah Host

Host acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Karni Ilyas diprotes warganet soal acaranya.

Warganet ada yang menuding Karni Ilyas berat sebelah, atau cenderung pro ke pihak Prabowo Subianto.

Karena, kata warganet tersebut, Karni Ilyas seakan mendirikan panggung untuk para pembenci Presiden Jokowi.

Hal itu disampaikan pemilik akun Twitter @Aguspur64888516.

Ia menyebut jikalau acara yang dipandu oleh Karni Ilyas itu cenderung berat sebelah.

Karni Ilyas pun disebut lebih pro untuk pihak Prabowo.

“Acaramu cenderung berat sebelah, memberikan panggung kpd para pembenci jokowi,” tulisnya.

Rupanya kritik itu disampaikan merespon Pembalasan Karni Ilyas pada warganet yang menyebut jikalau Karni Ilyas tidak netral.

“Gak ada yg netral bang…seluruh udah terkontaminasi politik..gua bilang seluruh stasiun tv juga media yg lain..kadang kita miris jikalau mikir. Sebab media sekarang jadi alat propaganda politik..parahnya lagi kita gak nyadar ampe gontok2an..bener2 banyak mudharotnya..,” kata seorang netizen.

Karni Ilyas pun menerangkan, selaku pemred, ia sudah menginstruksikan untuk semua barisan redaksi TV One untuk tidak boleh berpihak ke Calon Presiden nomor urut 01 atau 02.

Bahkan menurut dia, kalau ada yang menabrak akan diberikan sanksi.

“Minimal petunjuk saya sebagai pemred untuk seluruh barisan redaksi TV One sampai hari ini bahwa seluruh barisan redaksi TV One tidak boleh berpihak ke 01 atau 02. Menabrak akan saya beri sanksi,” tulisnya.

Nah, pada twit itulah seorang warganet lainnya menyebut jikalau acara yang dipandu Karni Ilyas cenderung berat sebelah.

Seakan tidak terima dengan tudingan tersebut, Karni Ilyas pun menerangkan ketentuan yang ada pada acara yang dipandunya tersebut.

Ia menjelaskan, dirinya senantiasa mengundang pihak masing-masing Calon Presiden dengan hitungan total yang sama, lalu diberi Peluang bicara dengan hitungan total yang sama pula.

Untuk itu, kata dia, kalau ada bagian pihak yang merasa menang atau kalah, itu bukan urusan dia selaku host.

Karena, ia cuma memfasilitasi ke-2 pihak untuk menyampaikan argumennya masing-masing.

“Panggungnya senantiasa seimbang.

3 orang dari pro 01, wajib 3 orang juga dari pro 02.

Bahkan durasinya pun diusahakan sama.

Jikalau ada yg merasa menang atau kalah, itu bukan salah host,” tulisnya.

Tiap Minggu DItuduh Cebong dan Kampret

 Jurnalis senior Karni Ilyas menceritakan tudingan yang Hadir kepadanya Menjelang Pemilihan presiden 2019.

Menurut dia, tiap-tiap minggu ia memperoleh tuduhan-tuduhan pro untuk bagian pasangan tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Karni Ilyas di tayangan YouTube Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (17/10/2018).

Dalam tayangan itu, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan, Prof. Salim Said menganjurkan supaya masa jabatan para politisi cuma 1 kali.

“Jadi presiden 1 kali, cuma waktunya yang diubah, jikalau nggak salah Perancis juga begitu, Philipina juga begitu. Jadi bukan 5 tahun, tapi enam atau tujuh tahun, tapi 1 kali. Jadi nggak ada lagi beban KPU ngurusin petahana yang ikut untuk pemilihan lagi,” jelasnya dikutip dari tayangan YouTube Indonesia Lawyers Club (ILC), Rabu (17/10/2018).

Ia pun Memperingatkan, walaupun petahana memperoleh Sarana, tidak seluruh petahana terpilih lagi.

Untuk itu ia menganjurkan kemungkinan amandemen merubah masa jabatan elected politition.

“Presiden, gubernur, wali kota, bupati, masa jabatan 1 kali, tapi waktunya diubah jadi diperpanjang, sebab buat saya itu lebih konkrit,” jelasnya lagi.

Ia juga mengungkapkan kekagumannya untuk para politisi muda yang datang pada ILC malam kemarin.

Prof. Salim Said juga menerangkan, dirinya selaku independent observer yang berkawan dengan kalangan politisi, posisinya amat sulit.

“Sebab jikalau kita ngomong objektif, pasti akan dituduh pro Prabowo atau pro Presiden Jokowi,” tandasnya.

Ia pun menerangkan, waktu Prabowo menjelaskan Indonesia akan bubar di tahun 2030, ia malah menyebut Indonesia mampu bubar lebih cepat jikalau Indonesia tidak dijaga dan diurus dengan baik.

“Tidak sampai 2030 bubar, sebentar lagi bubar, jikalau kerja you main-main, kerjanya korupsi, nggak mampu dipertahankan. Saya dituduh pro Prabowo, nggak ada urusan, itu pandangan saya, dan itu saya ajarkan selaku guru besar Ilmu Politik,” bebernya.

Di tengah penjelasan Prof. Salim Said itulah Karni Ilyas curhat colongan.

Ia menjelaskan, dirinya juga sering kali dituduh pro bagian pasangan Calon Presiden.

“Tetapi jikalau soal dituduh pro ini pro itu, saya tiap minggu Pak, kadang saya dituduh cebong, kadang saya dituduh kampret,” ujarnya.

Pernyataan Karni Ilyas itu disambut tawa dan tepuk tangan pada narasumber dan penonton di studio.

sesudah itu, Prof. Salim Said yang juga Adalah eks awak media sedikit menceritakan kisahnya beberapa kali diancam.

Ia menerangkan, kebebasannya kadang diancam dengan ditawari uang, kadang diancam diteror.

“Saya pernah didatangi orang, meja saya dipukul-pukul,” urainya.

Karni Ilyas pun sedikit menerangkan jikalau ia dan Prof. Salim Said sama-sama pernah jadi jurnalis di Majalah Tempo.

Karni Ilyas 16 tahun di Majalah Tempo dan Prof. Salim Said ialah seniornya yang Adalah bagian pendiri Majalah Tempo.

sumber: tribunnews.com

Shared by Samsul Anwar

You might like

About the Author: Samsul Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.