Dinamika Habaib: Islam Politik Rizieq Shihab dan Pedang Patah Faqih al Mukaddam (Bag-1)

Dinamika Habaib: Islam Politik Rizieq Shihab dan Pedang Patah Faqih al Mukaddam (Bag-1)

Dinamika Habaib: Islam Politik Rizieq Shihab dan Pedang Patah Faqih al Mukaddam (Bag-1)

Sejauh sejarah, habaib (nasab Nabi dari jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir) dikenal selaku para ulama yang selalu menghindarkan diri dari berbagai konflik politik. Mereka merupakan orang-orang yang meniti sebuah jalan spiritual yang dikenal dengan sebutan Tarekat Alawiyah. Nama itu berpatokan ke Alawy bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir yang lahir di Hadhramaut (kelak keturunannya disebut Bani Alawy). Ahmad al-Muhajir sendiri lahir di Irak. Ia memperoleh julukan “al-Muhajir”, artinya yang berhijrah, lantaran berimigrasi ke Hadramaut.

Ekspresi tarekat tasawuf ini antara lain ialah amalan pembacaan doa, wirid, dan kasidah maulid karya para salaf (pendahulu). Sebagian pembacaan doa dan kasidah maulid  itu lalu juga jadi tradisi warga di berbagai wilayah di Nusantara.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa inti dari ajaran tarekat sufistik itu ialah pengejawentahan nilai-nilai transedental penghambaan ke Tuhan ke dalam ruang kesunyian diri, uzlah (meditasi), ibadah ritual, penyucian jiwa, peningkatan akhlak, dan penebaran perdamaian ke seluruh makhluk.

Teologi perdamaian Tarekat Alawiyah yang diemban membikin para habib kerap didaulat selaku guru warga, payung peneduh dari panasnya berbagai konflik sosial politik. Tarekat yang menjadikan teladan kelembutan akhlak Nabi selaku suluh pembimbing laku individul dan sosial itu, memposisikan mereka pada jarak yang elegan dari seluruh konflik politik.

Keteguhan pada jalur Tarekat Alawiyah sudah membikin habaib menjauh dari segala keterlibatan aksi politik selama berabad-abad. Dan para habib yang tiba di Nusantara pun tetap setia meniti jalan serupa itu. Pola dakwah dan pendekatan kepada persoalan politik tetap sama, yaitu akhlak dan menghindari aksi-aksi politik konfrontatif. Selain mengutamakan ajaran etika melalui dakwah personal, sejumlah habib juga mendirikan lembaga pendidikan.

Di antaranya yang paling penting ialah Habib Idrus bin Salim al-Jufri di Palu, Sulawesi Tengah. Dengan tetap menjauhkan diri dari keterlibatan dengan politik praktis, Habib Idrus al-Jufri membangun sekolahan Islam bernama al-Khairat yang lalu berkembang jadi lembaga pendidikan terbesar di Indonesia timur.

Hal yang hampir sama dilaksanakan oleh Habib Ali bin Abdurahman al-Habsyi (dikenal dengan sebutan Habib Ali Kwitang) yang mendirikan majelis taklim yang melahirkan ulama-ulama besar Betawi seperti KH.Abdullah Syafi’i dan KH. Thahir Rohili.

Sejumlah habib lainnya mewariskan pusat-pusat aktivitas spiritual seperti kubah makam dan acara haul yang jadi agenda aktifitas keagamaan Bani Alawy dan para muhibbin.[1] Beberapa di antarnya ialah Makam Luar Batang (Habib Husein bin Abubakar al-Aydrus), Makam Empang Bogor (Habib Abdullah bin Mukhsin al-Atas), Makam al-Hawi (Habib Ali bin Husein al-Atas, dll), Haul Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi di Solo, Ziarah Kubro di Palembang, dll.

Makam dan acara-acara itu didatangai oleh ratusan ribu orang yang menginginkan memperoleh keberkahan melalui wasilah kemuliaan makom spiritual para habib yang dirayakan dan diziarahi.

Dengan sedemikian, melalui kitab-kitab kasidah maulid, doa, wirid, madrasah, majelis taklim, makam, dan haul, para habib sudah membangun jaringan spiritual yang merengkuh Bani Alawy dan para muhibbin di seluruh Indonesia. Gugusan oase spiritual dibentangkan dan disebarkan di berbagai tempat di mana Bani Alawy dan para muhibbin dapat mereguk curahan hikmah dan berkah bagi kesegaran batiniah mereka.

walau sebagaimana sentra-sentra aktifitas keagamaaan lainnya di seluruh dunia, tempat dan kegiatan-kegiatan semacam itu mampu jadi merupakan modal sosial dan politik, tetapi sejauh sejarah mereka relatif sukses mempertahankan jarak dari keterlibatan langsung dalam konflik-konflik kepentingan politik.

Dengan kata lain, melaui penekanan pada ajaran akhlak, dan contoh-contoh perilaku para salaf, Tarekat Alawiyah sukses memagari anggotanya supaya tak menyeret dan menjerumuskan kehabiban ke dalam wilayah politik apa pun, termasuk gerakan politik yang mengakui untuk cita-cita penerapan syariah dan kememangan Islam.

Tarekat Alawiyah menetapkan garis merah yang memisahkan antara tasawuf dan politik. Dan para salaf habaib sudah mengambil keputusan untuk memilih tasawuf selaku jalan dakwah, bukan politik, apalagi yang bersifat agresif. Para salaf selalu menghindar dari penyikapan konfrontatif kepada segala fenomena sosial politik. Mereka lebih memilih berikhtiar meningkatkan perbaikan dan penyucian jiwa secara personal melalui keteladanan Nabi, daripada ambisi “mengubah dunia” sebagaimana yang diemban Islam politik.

Pematahan Pedang Faqih al-Muqadam

Lalu apa yang mendasari pilihan sikap para salaf habaib itu? Saya menduga seluruh ini berhubungan erat dengan sebuah keputusan penting yang diambil oleh sang pendiri Tarekat Alawiyah, Faqih al-Muqadam.[2] Faqih al-Muqaddam merupakan figur agung dalam hirarki nasab silsilah dan sanad (mata rantai keilmuan) di kalangan habaib. Sang Ahli Agama yang Terkemuka itu secara simbolis mematahkan pedang selaku tanda bahwa ia beserta seluruh anak keturunannya tak lagi memerlukan senjata dalam hidupnya.

Pedang selaku simbol perjuangan politik konfrontatif sudah dipatahkan dan dicampakkan. Faqih al-Muqaddam seperti hendak menjelaskan bahwa semenjak hari ini dan seterusnya, ia dan anak keturunannya tidak akan lagi berdakwah atau berjuang melalui cara-cara yang bersentuhan dengan power fisik dan senjata. Secara terbuka beliau seakan mendeklarasikan bahwa Tarekat Alawiyah ialah sebuah jalan dakwah dan spiritual yang samasekali harmless.

Saya tak berani berspekulasi mengenai hal apa sesungguhnya yang mendasari Faqih al-Muqaddam mengambil sikap seperti itu. Apakah itu merupakan sebuah istihad hasil dari perjalanan keilmuan dan spiritualnya yang sedemikian panjang dan mendalam, atau lantaran pengaruh dari keadaan faktual di lapangan? Semenjak terbunuhnya Ali bin Abi Thalib dan jatuhnya kekhalifahan ke tangan Bani Umayyah, keluarga Nabi senantiasa memperoleh intimidasi dan ancaman pemusnahan.

Puncaknya terjadi pada kejadian yang dikenal selaku tragedi Karbala di mana cucu Nabi yang bernama Husein (putra Fathima Azzahra dan Ali bin Abi Thalib) beserta seluruh anak lelakinya (kecuali Ali Zaenal Abidin, satu-satunya yang sukses menyelamatkan diri dan kelak menurunkan para sayyid dari jalur Husein di seluruh dunia, termasuk Bani Alawy), dibantai di Karbala, Irak, oleh khalifah kedua Bani Ummayah yaitu Yazid bin Muawiyah.

Semenjak itu, posisi politik keluarga Nabi kian mengalami pelemahan. Intimidasi dan ancaman pembunuhan masal kepada keluarga Nabi dari musuh-musuh politiknya terus berlanjut baik pada masa kekuasaan dinasti Umayyah maupun dinasti Abbasiyah. Artinya, aspek historis, dalam hal ini trauma pembunuhan masal dan penindasan, mampu jadi merupakan bagian faktor yang mendasari pematahan pedang tersebut.

Tapi yang terang, Manhaj Kasru as-Saif (Jalan Patah Pedang) yang sudah ditetapkan oleh Faqih al- Muqaddam, dengan full takzim dan setia dipatuhi oleh seluruh habib keturunannya. Sejauh sejarah nyaris tidak terdengar ada figur sentral habib pengamal Tarekat Alawiyah yang terlibat dalam pergerakan di wilayah politik. Teologi perdamaian yang dikandung Tarekat Alawiyah seperti sudah menutup pintu kemungkinkan pentransformasian Islam jadi power politik formal, seperti yang dilaksanakan oleh misalnya Ikhwanul Muslimin dan revolusi Islam Iran.  [Bersambung]

[1] Muhibbin artinya para pecinta. Dalam terminologi habaib, istilah ini berpatokan ke orang-orang yang mengikuti ajaran Keluarga Nabi dan keturunannya.

[2] Faqih al-Muqadam (artinya ahli agama yang terkemuka, 1153 – 1232 masehi) ialah julukan untuk Imam Tarekat Alawiyah, Muhammad bin Ali bin Muhammad Sohib ul-Mirbat bin Ali Khali Qassam bin Alwi al-Tsany bin Muhammad bin Alwi al-Ula bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumy bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidi bin Jakfar as-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zaen al-Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.