Denny Siregar: Pola Kudeta Hizbut Tahrir

Denny Siregar: Pola Kudeta Hizbut Tahrir
Loading...

Denny Siregar: Pola Kudeta Hizbut Tahrir


Bendera HTI dan ISIS

JAKARTA – Gerakan Hizbut Tahrir terlalu mengkhawatirkan beberapa negara di Timur Tengah sebab gerakan ini ialah parasit dalam sebuah negara. Pegiat medsos Denny Siregar mengungkap bagaimana HT melaksanakan kudeta di sebuah negara, berikut ulasannya:

“Lu gak usah nakut-nakutin orang. HTI gak mungkin kudeta di negeri ini. Apa buktinya?”. Sebuah pesan mampir ke kotak inbox saya. Kemungkinan dia member Hizbut Tahrir Indonesia dan marah sebab saya senantiasa memberitakan soal bahayanya organisasi HTI di Indonesia.

Hizbut Tahrir sesungguhnya ialah sebuah gerakan transnasional. Ia bukan lagi sebuah organisasi yang terbatas pada batas-batas negara. Ia ialah ideologi lintas negara yang mempunyai konsep bahwa dunia ini 1 waktu akan menyatu dibawah kepemimpinan 1 orang, yaitu khalifah.

Maka itu, pemimpin HTI di Indonesia tidak bakalan ada. Yang ada cuma Jubir, diwakili Ismail Yusanto. Sebab mereka masih menanti perintah dari antah berantah siapa khalifah sesungguhnya.

Pola-pola Hizbut Tahrir dalam merebut kekuasaan tidak dengan Bughot langsung, tetapi melaksanakan penyusupan atau infiltrasi ke tubuh pemerintahan dan angkatan bersenjata. Ini yang berbahaya.

Mereka ialah gerakan intelektual yang terlalu sistematis dan terencana dengan baik. Tidak mudah mengidentifikasi siapa mereka, tetapi gerakannya kelihatan terang, khususnya di Indonesia sebab mereka masih mempergunakan simbol-simbol yang mempertunjukkan keberadaannya, seperti dengan bendera yang mereka menyebut “bendera tauhid”.

Bayangkan waktu HTI menyusup ke dalam tubuh angkatan bersenjata. Mereka akan mencuci otak para pasukan untuk 1 waktu mengangkat senjata melawan pemerintahan yang sah dan memproklamirkan berdirinya negara khilafah.

“Alahh.. itu kan cuma bayangan ketakutan lu aja..”

Hehe, tidak. Ini berdasar pengalaman yang terjadi di beberapa negara. Pengalaman ialah guru yang the best, bukan?

Tahun 1974, kubu bernama Shabab Muhammad menyerbu sekolah angkatan bersenjata di Kairo Mesir, untuk melaksanakan kudeta dan usaha menghabisi Anwar Sadat, Presiden Mesir kala itu. Para pelaku merilis berdirinya negara Islam dibawah kepemimpinan Hizbut Tahrir. Kudeta itu gagal dan seluruh pelakunya diganjar mati.

Di Bangladesh Pakistan, tahun 2012, Hizbut Tahrir melaksanakan percobaan kudeta yang juga gagal melibatkan purnawirawan dan perwira angkatan bersenjata aktif.

loading...

Di Yordania, mereka juga melaksanakan penyusupan di angkatan bersenjata dan melaksanakan kudeta yang gagal tahun 1969. Begitu juga yang terjadi di Irak dan Suriah, tahun 1972 dan 1976.

Dengan Track Record seperti ini, telah benar beberapa negara yang mencegah keberadaan Hizbut Tahrir yang artinya Partai Pembebasan itu. Mereka terlalu berbahaya, dengan kesanggupan penyusupannya bahkan mereka mampu menciptakan perang antar negara, dimana sesungguhnya mereka Ada di ke-2 belah pihak.

Maksud Intinya tentu negara-negara itu hancur, sehingga Hizbut Tahrir mampu mendirikan kepemimpinan khalifah Islam diantara kehancuran itu.

Bagaimana Indonesia?

Tentu sama. Lihat saja, waktu Joko Widodo membubarkan HTI tahun 2017 lalu, serentak kepala-kepala ular HTI keluar semak. Mereka ada yang Guru Besar di sebuah Universitas Negeri terkenal juga rektor dan dosennya. Eks kepala Badan Intelijen Negara As’ad Said Ali malah menjelaskan, ia mengantungi nama oknum-oknum PNS, purnawirawan dan figur publik angkatan bersenjata yang terlibat dalam keanggotaan HTI.

Jadi, masih menganggap bahwa Hizbut Tahrir ialah organisasi yang biasa-biasa saja?

Tentu HTI tidak ingin gerakan senyap mereka ini kepergok pihak luar, supaya mereka mampu kian masuk ke dalam. Tetapi sayangnya, di Indonesia, bahkan Presiden Joko Widodo sendiri membubarkan mereka.

Dan HTI sekarang ingin bangkit kembali. Tentu mereka ingin balas dendam untuk orang yang membubarkan aktifitas mereka. Jalan the best bagi HTI ialah menumpang di lawan politik orang itu, walaupun HTI juga tidak bersahabat dengan yang ditumpanginya.

“Enemy of my enemy is my friend..” begitu prinsip HTI.

HTI bahkan berencana untuk membikin ke-2 kelompok saling menghancur-leburkan sebab mereka akan menawarkan sistem kekhalifahan diatas puing-puingnya. “Ganti sistem..” kata Ismail Yusanto dengan percaya dirinya.

Menghancur-leburkan ideologi HTI dan penyusupan yang telah dilakukannya selama puluhan tahun, tidak cukup dengan seruput secangkir kopi saja. Tetapi memerlukan bercangkir-cangkir kopi cuma untuk mengetahui keberadaannya saja.

Seruput. (ARN)

Sumber: www.DennySiregar.com

loading...


Source by Samsul Anwar

Loading...

You might like

About the Author: Samsul Anwar

KOLOM KOMENTAR ANDA :