Darmawan, Fadli Zon, dan Otak Obor Rakyat #MelawanLupa

Islam InstituteTatkala bicara di Subang, Prabowo Subianto meminta rakyat Indonesia tidak saling menghujat dan menjelekkan pihak lain. “Bangsa Indonesia jangan memfitnah, jangan menghina, … Saya minta penyokong kami jangan menghina,” katanya di depan para pendukungnya (13/6/2014).

Masalahnya, di lapangan, apa yang dikumandangkan Prabowo seperti tidak artinya apa-apa. Proaganda hitam anti Joko Widodo terus dikobarkan dengan intensitas tinggi. Kemajuan terakhir yang penting ialah terbongkarnya Perkara Obor Rakyat yang ternyata dibuat oleh orang yang mempunyai kedekatan dengan lingkaran Prabowo.

Tabloid Obor Rakyat ialah bentuk propaganda hitam yang serius, terorganisir dan berbiaya besar.

Tabloid berkelir 16 halaman itu telah 2 kali terbit dengan pola distribusi langsung dan gratis ke masjid-masjid dan pesantren-pesantren di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Saban pesantren atau masjid dikirimi 20-30 eksemplar tabloid yang dibungkus rapih melalui pos dari pengirim tanpa identitas.

Yang menerima lazimnya ialah pengurus pesantren atau masjid yang rupanya diinginkan lantas akan membagikannya untuk jemaat atau murid-murid.

Isinya sepenuhnya menyerbu pihak Joko Widodo. Dan bukan cuma Joko Widodo yang diserang, melainkan juga ummat Kristen atau pihak-pihak lain yang dinilai selaku pihak yang menunggangi PDIP untuk menghancur-leburkan ummat Islam dengan menggunakan Joko Widodo.

Pada edisi ke-1 (5-11 Mei 2014), termuat laporan Inti berjudul ‘Calon presiden Boneka’, dengan gambar Joko Widodo tengah mencium tangan Megawati di halaman muka. Pada edisi itu juga datang bermacam artikel, dengan judul-judul yang provokatif dan memotivasi kebencian kepada ummat Kristen seperti: “184 Calon Legislator Non muslim PDIP untuk Kursi DPR” dan “Ibu-ibu, Belum Jadi Presiden Udah Bohongin Rakyat.”

Edisi ke-2 terbit di awal Juni dengan halaman depan menampilkan laporan Inti berjudul: 1001 Topeng Joko Widodo. Di dalamnya juga bertebaran rangkaian artikel yang memojokkan Joko Widodo, PDIP, ummat Kristen dan kaum Tionghoa, dengan judul-judul di antaranya: “PDIP Partai Salib”, “Jejak Hitam di Era Mega” dan “Laki-laki Berdarah Tionghoa Itu Sekarang Calon presiden”.

Target pembuat tabloid itu terang. Media ini bukan saja media yang berpihak pada bagian kandidat, akan tetapi juga dengan Jelas berusaha mendelegitimasi Joko Widodo dengan mempergunakan tuduhan-tuduhan berbasis agama dan ras.

Obor Rakyat secara terang berusaha mengarahkan pembaca di kalangan pesantren dan masjid untuk Tidak mau Joko Widodo, bukan sebab ketiadaan kualitas sang calon presiden, melainkan sebab tudingan bahwa ‘Joko Widodo ialah bagian dari konspirasi Kristen-Cina untuk menghancur-leburkan Islam’.

Metode propagandanya pun cenderung hitam. Nama-nama asli para pengelolanya tidak tercantum di dalam tabloid, yang ada cuma nama samaran. Alamat redaksinya pun palsu. Di tiap-tiap paket kiriman tabloid, tidak tertera nama terang pengirim.

Penyebaran agresif itu dengan cepat memicu reaksi pihak-pihak yang tidak menyokong Prabowo. Sebagian dari pimpinan pesantren mengadukan pengiriman tabloid tersebut ke pengurus PDIP, yang pada gilirannya mempersoalkannya ke Badan Pengawas Pemilu dan pihak kepolisian.

Aksi propaganda hitam ini sanggup jadi akan cepat berlanjut jikalau saja nama pembuatnya tidak terbongkar.

Walau sempat terbit 2 edisi, Saat ini nama orang di belakang propaganda hitam ini telah ditandai. Dia ialah Darmawan Sepriyossa, yang dikenal sungguh mempunyai kedekatan dengan Prabowo dan dengan bagian petinggi Gerindra, Fadli Zon.

Terbongkarnya nama Darmawan terjadi sebab blunder. Pada akhir April 2014, Darmawan sempat menghubungi Gun Gun Heryanto, Guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah untuk mecatat mengenai hal PDIP buat tabloid Obor Rakyat.

Gun Gun menyanggupi dan mengirimkan tulisannya sebab tidak menyangka bahwa karyanya itu akan dimuat di sebuah tabloid propaganda anti Joko Widodo.

Begitu Obor Rakyat terbit, dengan cepat Gun Gun pun dipersoalkan oleh kenalan-kenalannya yang menganggap dia telah jadi tim berhasil Prabowo. Tidak terima dituduh begitu, Gun Gun pun bercerita pada publik mengenai hal sejarah kelahiran artikelnya.

Dari sanalah diketahui bahwa orang yang Ada di belakang Obor Rakyat ialah Darmawan.

Laki-laki ini bukan orang baru di media massa. Karier kewartawanannya panjang. Ia mulai jadi awak media di harian Republika (1996), sebelum lantas geser ke majalah Panji Warga (1997-98), majalah Tempo (1998-2005), harian Suara Karya (2005), kembali ke Republika (2006-2012), serta jadi produser program di Alif Tv (Januari 2012-akhir 2013) yang berafiliasi dengan Republika.

Waktu ini dia juga jadi redaktur di media online inilah.com. Media online ini diketahui selaku media propaganda yang sungguh amat pro Prabowo dan anti-Joko Widodo.

Secara publik, Darmawan akhirnya mengklaim secara implisit bahwa ia ialah orang yang Ada di belakang Obor Rakyat. Ia berdalih, Obor Rakyat dibuat dengan antusias menegakkan kebenaran, sebagaimana para jurnalis di Indonesia di masa lalu — dari masa pergerakan nasional sampai masa penumbangan rezim Soeharto – mempublikasikan media bukan sekadar untuk memberitakan kejadian, akan tetapi untuk memperjuangkan kebenaran.

Sebagaimana terbaca dalam tulisannya yang dimuat inilah.com, Darmawan mengumumkan tidak menyukai Joko Widodo sebab dia mengkhianati kepercayaan rakyat Jakarta yang sudah memilihnya selaku gubernur. Di sisi lain, ia menyaksikan bahwa media mainstream tidak menjalankan kewajibannya selaku watchdog kepada Joko Widodo yang sekarang ditinggal sendirian. Sebab itu ia bertekad merilis tabloid untuk Memperingatkan Joko Widodo dan membuka mata warga.

Ia mengklaim Obor Rakyat berposisi selaku media partisan, sebab itu sungguh pilihan yang tidak tabu. “Tuhan saja tidak netral,” tulis Darmawan mengutip konglomeret dunia Rupert Murdoch, “apalagi media massa.”

Ia menerangkan, namanya tidak dicantumkan secara terang dalam boks redaksi Obor Rakyat sebab dia tidak mungkin diketahui jadi redaktur di dunia media yang tak sama (inilah.com dan Obor Rakyat).

Tentu saja ada beberapa masalah dalam penjelasan Darmawan. Yang terpenting ialah keberpihakan para jurnalis senior di bermacam masa perjuangan Indonesia tidaklah dalam bentuk melaksanakan propaganda hitam, dengan menyebarkan kebohongan dan fitnah. Halnya Obor Rakyat, sebagaimana diakui Darmawan sendiri, media ini cuma mengkompilasi bermacam gossip, isu, berita burung yang beredar di media sosial yang memojokkan Joko Widodo.

Para jurnalis di masa lalu juga kerap menyebarkan media dengan cara distribusi di bawah tanah sebab yang dihadapi ialah rezim otoriter. Dalam era demokratis waktu ini, tidak ada relevansinya bagi penyebaran dengan cara diam-diam seperti yang dilaksanakan Obor Rakyat.

1 hal lagi: kalaupun Darmawan Penting menyamarkan namanya sebab argumentasi ‘jangan sampai diketahui bekerja di dunia media’, tidak ada argumentasi yang sanggup diterima mengapa alamat redaksinya pun disamarkan.

Bahkan jikalau Darmawan kuatir dengan reaksi inilah.com kepada keterlibatannya di Obor Rakyat, tentu terasa janggal bahwa penjelasan Darmawan kepada publik malah diterbitkan di inlah.com.

Sebab itu, nyaris tidak mungkin Obor Rakyat dikenali selaku sekadar produk yang lahir dari inisiatif seorang awak media idealis yang ingin menegakkan kebenaran.

Obor Rakyat ialah bagian dari taktik besar propaganda hitam untuk menghancur-leburkan Joko Widodo di basis-basis ummat Islam. Sebab itu yang Penting ditandai bukanlah Darmawan semata, melainkan siapa yang Ada di belakang propaganda hitam ini.

Penyandang biaya Darmawan diperkirakan bukan donatur individual. Menurut estimasi moderat, pembuatan dan penyebaran Obor Rakyat yang dishare secara cuma-cuma diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah tiap-tiap edisi. Bila ongkos pembuatan dan pengiriman per eksemplar mencapai Rp 5.000, dan Obor Rakyat disebarkan ke 50.000 orang jamaah masjid dan masyarakat pesantren, biaya yang dikeluarkan per edisi ialah Rp. 250 juta. Ini belum meliputi pengeluaran lainnya, termasuk gaji Darmawan dan kawan-kawannya.

Format Obor Rakyat ini juga sejalan dengan rangkaian propaganda hitam yang terus ditujukan untuk Joko Widodo selama ini. Sang calon presiden terus dikumandangkan selaku figur publik ‘anti Islam’. Tidak kurang dari Amien Rais, dalam kampanyenya, menggambarkan perang melawan Joko Widodo selaku ‘Perang Badar’ – sebuah perang yang mempunyai makna penting dalam sejarah Islam dalam rangkaian perang untuk mengalahkan kaum kafir.

Siapa sponsor Darmawan sungguh masih wajib dicari. Akan tetapi sejumlah fakta penting Soal sejarah hidup Darmawan mungkin penting untuk diketahui.

Darmawan sungguh aktivis yang dekat dengan pergerakan Islam politik. Di masa mahasiswanya pada 1990an, dia sempat menjabat selaku Ketua Senat Maha siswa Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran Bandung.

Dalam masa-masa aktivisme itulah, Darmawan jadi dekat dengan Fadli Zon, yang di masa itu ialah aktivis maha siswa dari Universitas Indonesia. Melalui hubungan dengan Fadli, Darmawan jadi dekat dengan Prabowo yang saat itu tengah membangun jaringan di kalangan maha siswa Islam.

Dikabarkan, Darmawan bahkan sempat diberangkatkan naik haji – berbarengan Fadli Zon dan Teguh Juwarno (politisi PAN, dulu aktivis Institut Pertanian Bogor) – bersama-sama iring-iringan Tim Kopassus.

Tatkala menjalani karier kewartawanannya, Darmawan nyaris senantiasa bekerja di media yang mempunyai antusias keislaman kuat. Dia sempat bekerja di Tempo beberapa tahun sesudah Tempo dihidupkan kembali di masa reformasi, akan tetapi di sebagian besar kariernya, ia bekerja di Republika, Panji Warga dan juga Alif-TV. Ia juga dikenal mempunyai kedekatan dengan perkumpulan masjid kampus di Bandung.

Di sisi lain, ia juga dikenal selaku penulis yang bersedia jadi ‘ghost writer’ untuk para politisi yang ingin dikenal selaku penulis di depan publik. Darmawan misalnya dikabarkan jadi penulis hantu untuk politisi Golongan Karya, Bambang Soesatyo, di buku ‘Skandal Century di Tikungan Terakhir Pemerintah SBY-Boediono’.

Info-informasi lain yang lantas terkuak juga kian memperlihatkan bahwa Darmawan tidak sanggup dilihat selaku seorang pejuang sendirian. Tempat Darmawan legal bekerja, inilah.com, Saat ini dikabarkan ialah portal berita yang didanai oleh Hatta Rajasa.

Mungkin merasa terdesak, Darmawan juga telah menyebut bahwa kelahiran Obor Rakyat dilakukannya berbarengan figur publik kunci lain, Setiyardi. Laki-laki ini ialah kawan dekat Darmawan dan Adalah sesama jurnalis jebolan Tempo, yang Saat ini jadi salah seorang Komisaris PTPN XIII — — sebuah BUMN perkebunan yang mengelola perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit dan karet di Pulau Kalimantan.

Sanggup jadi yang berperan kunci dalam penerbitan ini sungguh ialah Setiyardi yang juga amat tidak suka Joko Widodo. Ia ialah eks tim berhasil Fauzi Bowo yang dikalahkan Joko Widodo dalam pemilihan Gubernbur DKI 2012, dan Saat ini jadi asisten Velix Wanggai, staf spesial Presiden RI bidang otonomi daerah.

Info untuk info telah terkuak. Darmawan terang ialah aktor yang berperan selaku operator. Pertanyaannya: siapa otak yang Ada di belakang propaganda hitam ini?

Artikel ini sudah tayang di saifulmujani.com

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.