Dalil Selamatan 7 Hari, 40 Hari, 100 Hari dan Seterusnya

Agar tidak gampangan membid’ahkan dan atau mengharamkan, anda wajib tahu dalil selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya. Budaya selamatan setelah hari kematian seseorang dengan tahlilan dan walimahanbaik dalam 7 hari, 40 hari, 100 hari atau 1000 hariadalah salah satu budaya masyarakatNahdhiyyindi Indonesia yang sangat diingkari oleh kaum Wahhabi dan yang sefaham dengannya serta dituduh sebagai budaya bidah dan sesat.

Berbagai buku yang bermuatan kritik dan hinaan terhadap budaya tersebut banyak ditulis oleh orang-orang menisbatkan dirinya penganut faham salaf atau Wahhabi. Mereka juga mengatakandan memberi bukti tuduhannyabahwa budaya tersebut adalah warisan budaya agama Hindu, terbukti dengan diadakannya konggres yang dilakukan oleh petinggi-petinggi umat Hindu se-Asia pada tahun 2006 di Lumajang, Jawa Timur. Dan salah satu point pembahasannya adalah membicarakan tentang ungkapan syukur atas keberhasilan menyebarkan budaya acara-acara setelah kematian seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari. (Lihat bukuMantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah Para Wali, karangan H. Mahrus Ali )

Berikut ini, akan kami kupas hadits dan dalil tentang melaksanakan budaya di atas. Jawaban tentang masalah ini kami ambil dari kitabQurrah al-Ain bi Fatawi Ismail Zain al-Yamanihalaman 175 cetakan Maktabah al-Barakahdan kitabal-Hawi lil Fatawikarya al-Hafizh Jalaluddinas-Suyuthijuz 2 halaman 179 cetakan Darul Kutub, Bairut.

Syaikh Ismail Zain al-Yamani menulis sebagai berikut (kami kutib secara garis besar):
DalamSunanAbu Dawud hadits nomer 2894 dituliskan:

Muhammad bin al-Ala menceritakan dari (Abdullah)bin Idris dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya (Kulaib) dari seorang laki-laki Anshar (shahabat), berkata: Aku keluar bersama Rasulallahbertaziyah ke salah satu jenazah. Selanjutnya aku melihat Rasulallahdi atas kubur berpesan kepada penggali kubur (dengan berkata): Lebarkanlah bagian arah kedua kaki dan lebarkan pula bagian arah kepala! Setelah Rasulallahhendak kembali pulang, tiba-tiba seseorang yang menjadi pesuruh wanita (istri mayit) menemui beliau, mengundangnya (untuk datang ke rumah wanita tersebut).Lalu Rasulallahpun datang dan diberi hidangan suguhan makanan.Kemudian Rasulallahpun mengambil makanan tersebut yang juga diikuti oleh para shahabat lain dan memakannya. Ayah-ayah kami melihat Rasulallahmengunyah sesuap makanan di mulut beliau, kemudian Rasulallahberkata: Aku merasa menemukan daging kambing yang diambil dengan tanpa izin pemiliknya?! Kemudian wanita itu berkata: Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku telah menyuruh untuk membeli kambing di Baqi,[1]tapi tidak menemukannya, kemudian aku mengutus untuk membeli dari tetangga laki-laki kami dengan uang seharga (kambing tersebut) untuk dikirimkankepada saya, tapi dia tidak ada dan kemudian saya mengutus untuk membeli dari istrinya dengan uang seharga kambing tersebut lalu oleh dia dikirimkankepada saya. Rasulallahkemudian menjawab: Berikanlah makanan ini kepada para tawanan!

Hadits Abu Dawud tersebut juga tercatat dalamMisykah al-Mashabihkarya Mulla Ali al-Qari bab mukjizat halaman 544 dan tercatat juga dalamas-Sunan al-KubrasertaDalail an-Nubuwwah, keduanya karya al-Baihaqi.

Komentar Syaikh Ismail tentang status sanad hadits di atas, beliau berkata bahwa dalamSunanAbu Dawud tersebut, Imam Abu Dawud diam tidak memberi komentar mengenai statusnya,yang artinya secara kaidah (yang dianut oleh ulama termasuk an-Nawawi dalam mukaddimahal-Adzkar) bahwa hadits tersebut boleh dibuathujjah, artinya status haditsnya berkisar antara hasan dan shahih. Al-Hafizh al-Mundziri juga diam tidak berkomentar, yang artinya bahwa hadits tersebut juga boleh dibuathujjah.

Perawi yang bernama Muhammad bin al-Ala adalah guru Imam al-Bukhari, Muslim dan lain-lain dan jelas termasuk perawi shahih. Abdullah bin Idris dikomentari oleh Ibnu Main sebagai perawitsiqahdan di katakan oleh Imam Ahmad sebagai orang yang tidak ada duanya (nasiju wahdih). Sementara Ashim, banyak yang komentar dia adalah perawitsiqahdan terpercaya, haditsnya tidak mengapa diterima, orang shalih dan orang mulia penduduk Kufah. Sedangkan laki-laki penduduk Madinah yang di maksud adalah shahabat Nabi yang semuanya adalah adil tanpa ada curiga sama sekali. Dari keteranganini, dapat diambil kesimpulanbahwa hadits di atas adalah hadits hasan yang bisa dibuathujjah.

Sedangkan dari sisi isinya, hadits tersebut mengandungbeberapa faidah dan hukum penting, di antaranya:

v Menunjukkan mukjizat Rasulallahyang dapat mengetahuiharam tidaknya sesuatu tanpa ada seseorang yang memberi tahu. Oleh karena itu, al-BaihaqidalamDalail an-Nubuwwahmenyebutkan hadits ini dalam bab Mukjizat.

v Jual belinya seseorang yang bukan pemilik atau wakil (bai fudhuli) adalah tidak sah dan bathil. Oleh karennya, Abu Dawud menyebutkan hadits ini dalamSunan-nya di bagian bab Jual Beli.

v Akad yang mengandungsyubhat seyogianyadihindari agar tidak jatuh pada limbah keharaman.

v Diperbolehkannya bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimah dan mengundangorang lain untuk hadir memakannya. Bahkan, jika difahami dari hadits tersebut, melakukan walimah tersebut adalah termasukqurbah(ibadah).Sebab, adakalanyamemberi makan bertujuan mengharapkan pahala untuk si mayit -termasuk utama-utamanyaqurbah- serta sudah menjadi kesepakatan bahwa pahalanya bisa sampai kepada mayit. Mungkin pula bertujuan menghormati tamu dan niat menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah agar tidak lagi larut dalam kesedihan.Baik jamuan tersebut dilakukan saat hari kematian, seperti yang dilakukan oleh istri mayit dalam hadits di atas, atau dilakukan di hari-hari berikutnya. (Mungkin maksud Syaikh Ismail adalah hari ke-7, 40, 100 dan 1000).

Hadits di atas juga di nilai tidak bertentangan dengan hadits masyhur berikut:

Buatlah makanan untuk keluarga Jafar, karena anggota keluarga yang wanita sedang sibuk atau anggota keluarga laki-laki sedang sibuk.

Menurut Syaikh Ismail, hadits tersebut (keluarga Ja’far) ada kemungkina

n (ihtimal) khusus untuk keluarga Jafar, karena Rasulallahmelihat keluarga Jafar tersebut sedang dirundung duka sehingga anggota keluarganya tidak sempat lagi membuat makanan. Kemudian Rasulallahmenyuruh anggota keluarga beliau untuk membuatkanmakanan bagi keluarga Jafar. Selain itu juga, tidak ada hadits yangsharih(jelas) yang menjelaskan bahwa Rasulallahmelarang bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimahan untuk pentakziyah.

Pernyataanini dikuatkan dengan riwayat dalamShahih al-Bukhari dari Sayyidah Aisyah:

Dari Aisyah, istri Rasulallah, ketika salah satu keluarganya ada yang meninggal,para wanita-wanita berkumpul dan kemudian pergi kecuali anggota keluarganya dan orang-orang tertentu. Kemudian beliau memerintahkan untuk membawakannya periuk berisi sup yang terbuat dari tepung yang dicampuri dengan madu kemudian dimasak. Kemudian dibuatlah bubur sarid dan sup tadi dimasukkanke dalam bubur tersebut. Lalu beliau berkata: Makanlah makanan ini karena aku mendengar dari Rasulallahbersabda bahwa bahwa sup dapat melegakan hati orang yang sedang sakit; menghilangkan sebagian kesusahan.

Orang yang mengerti kaidah syariat berpandangan bahwa walimah yang dibuat oleh keluarga mayit adalah tidak dilarang selama mereka membuat walimah tersebut karenataqarrubkepada Allah, menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah dan menghormatpara tamu yang datang untuk bertakziyah. Tentunya, semua itu jika harta yang digunakan untuk walimah tersebut tidak milik anak yatim, yakni jika salah satu keluarga yang ditinggalkan mayit ada anak yang masih kecil (belum baligh).

Adapun menanggapiperkataan (hadits) al-Jarir bin Abdillah yang mengatakanbahwa berkumpul dengan keluarga mayit dan membuatkanhidangan untuk mereka adalah termasukniyahah(meratapi mayit) yang diharamkan, Syaikh Ismail memberi jawaban: Maksud dari ucapan Jarir tersebut adalah mereka berkumpul dengan memperlihatkan kesedihan dan meratap. Hal itu terbukti dari redaksi ucapan Jarir yang menggunakan kataniyahah. Hal itu menunjukkan bahwa keharaman tersebut dipandang dari sisiniyahahdan bukan dari berkumpulnya. Sedangkan apabila tidak adaniyahahtentu hal tersebut tidak di haramkan.

Sedangakanmenjawab komentar ulama-ulama yang sering digunakan untuk mencela budaya di atas[2] (tentang hukum sunah bagi tetangga keluarga mayit membuat atau menyiapkanmakanan bagi keluarga mayit sehari semalam) yang dimaksudkan adalah obyek hukum sunah tersebut adalah bagi keluarga mayit yang sedang kesusahan seperti yang dialami keluarga Jafar. Oleh karena itu, tidak ada dalil tentang hukum makruh membuat walimah oleh keluarga mayit secara mutlak kecuali dari (memahami)hadits keluarga Jafar dan hadits Jarir di atas. Ada kemungkinan juga ulama-ulama tersebut belum pernah melihat hadits Ashim di atas yang menerangkan tentang bolehnya membuat walimah bagi keluarga mayit.

Al-Allamah Mulla Ali al-Qari mengatakan: Zhahir dari hadits Ashim tersebut menentang apa yang diputuskanoleh para ulama kita (ashhabuna) tentang dimakruhkannya membuat walimah di hari pertama, ketiga atau setelah seminggu.

Adapun dalil bahwa pahala shadaqah yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai kepadanya adalah riwayat al-Bukharidari Aisyah:

Seorang laki-laki bertanya kepada RasulallahSaw.: Ibu saya telah meninggal,dan aku berprasangka andai dia bisa berbicara pasti dia akan bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekahuntuknya?Rasulallahmenjawab: Benar.

Hadits shahih ini adalahhujjahtentang pahala shadaqah yang sampai kepada mayit. Maka dari itu, pembaca jangan terperdayadengan pandangan H. Mahrus Ali dalam bukunya yang berjudulMantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah para Wali. Mahrus Ali mengatakanbahwa hadits-hadits tentang pahala shadaqah tersebut adalah dhaif dan secara isyarah dia melemahkan hadits shahih al-Bukharidi atas. Sungguh brutal dan ngawur sekali! Bukan dalang tapi mendalang.

Bukan ahli hadits tapi menilai hadits. Apalagi sampai mendhaifkan hadits dalam shahih Bukhari yang mempunyai sanad (bukanmuallaq) dan sudah menjadi kesepakatan ulama termasuk hadits shahih.

Fatwa as-Suyuthi:
Terdapat keteranganulama bahwa mayit difitnah (ditanya malaikat Munkar dan Nakir) di dalam kuburnya adalah selama 7 hari (setelah hari penguburan) sebagaimana tersirat dalam hadits yang dibawakan oleh beberapa ulama. Hadits yang dibuat landasan tersebut adalah:

Hadits riwayat Ahmad dalamaz-Zuhddari Thawus.
Hadits riwayat Abu Nuaim al-Ashbahani dari Thawus.
Hadits riwayat Ibnu Juraij dalamal-Mushannafdari Ubaid bin Umair (sebagian berkomentar dia adalah pembesar tabiin dan sebagian yang lain mengatakandia seorang shahabat).Al-Hafizh Ibnu Rajab menisbatkan pada Mujahid dan Ubaid bin Umair.

Hadits-hadits tersebut adalah:

:Imam Ahmad dalam az-Zuhd berkata: Hasyim bin Qasim bercerita kepadaku dari al-Asyjaidari Sufyan dari Thawus, dia berkata: Sesungguhnya mayit di dalam kuburnya terfitnah (ditanyai Malaikat Munkar dan Nakir) selama 7 hari. Dan mereka menganjurkan supaya membuat (walimahan) dengan memberi makan (orang-orang), (yang pahalanya dihadiahkan) untuk si mayit tersebut di hari-hari tersebut.Selanjutnya hadits riwayat berikutnyaadalah sama secara makna.

Sebelum membahas isi dari hadits ini, marilah kita bahas terlebih dahulu diri sisi sanadnya, sehingga kita akan tahu layak dan tidaknya hadits ini untuk dibuathujjah.

Perawi-perawi hadits yang pertama adalah shahih dan Thawus adalah termasuk pembesar tabiin.
Hadits yang diriwayatkan dan tidak mungkin dari hasil ijtihad shahabat atau tabiin hukumnya adalah marfu bukan mauquf, seperti hadits yang menerangkan tentang alam barzakh, akhirat dan lain-lain sebagaimana yang sudah maklum dalam kaidah ushul hadits.

AtsarThawus tersebut adalah termasuk hadits marfu yang mursal dan sanadnya shahih serta boleh dibuathujjahmenurut Abu Hanifah, Malik dan Ahmad secara mutlak tanpa syarat. Sedangkan menurut asy-Syafii juga boleh dibuathujjahjika ada penguat seperti ada riwayat yang sama atau riwayat dari shahabat yang mencocokinya. Syarat tersebut telah terpenuhi,yaitu dengan adanya riwayat dari Mujahid dan Ubaid bin Umair dan keduanya seorang tabiin besar (sebagian mengatakanUbaid adalah shahabat Rasulallah). Dua hadis riwayat selanjutnya adalah hadits mursal yang menguatkanhadits mursal di atas.

Menurut kaidah ushul, kata-kata mereka menganjurkan memberi makan di hari-hari itu adalah termasuk ucapan tabiin. Artinya, kata mereka berkisar antara shahabat Rasulallah, di zaman Rasulallah, dan beliautaqrir(setuju) terhadap prilaku tersebut atau artinya adalah shahabat tanpa ada penisbatansama sekali kepada Rasulallah. Ulama juga berselisihapakah hal itu adalahikhbar(informasi) dari semua shahabat yang berarti menjadi ijma atau hanya sebagian dari shahabat saja.

Fitnah kubur adalah selama 7 hari

Dari hadits di atas dapat difahami dan digunakan sebagai:

Dasar tentang itiqad bahwa fitnah kubur adalah selama 7 hari.

Penetapan hukum syara’ tentang disunahkannya bershadaqah dan memberi makan orang lain di hari-hari tersebut. Serta, dapat dijadikan dalil bahwa budaya memberi makan warga Nahdhiyyinsaat hari pertama sampai hari ketujuh dari hari kematian adalah terdapat dalil yang mensyariatkannya.

As-Suyuthijuga mengatakan: Sunah memberi makan selama 7 hari tersebut berlaku sampai sekarang di Makkah dan Madinah, dan secara zhahirnya hal itu sudah ada dan tidak pernah ditinggalkan masyarakatsejak zaman shahabat sampai sekarang. Dan mereka mengambilnya dari salaf-salaf terdahulu.

Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abul Fath Nashrullahbin Muhammad bahwa Nashr al-Maqdisiwafat di hari Selasa tanggal 9 Muharram tahun 490 hijriyyah di Damaskus dan kami menetap di makamnya selama 7 hari membaca al-Quran sebanyak 20 khataman.

Adapun melakukan acara 40 hari, 100 hari atau 1000 hari dari kematian dengan melakukan tahlilan dan bershadaqah memang tidak ada dalil yang mengatakansunah. Namun demikian, melakukan budaya tersebut diperbolehkan menurut syariat. Dan seyogianyabagi yang mengadakanacara tersebut tidak mengitiqadkan bahwa hal tersebut adalah sunnah dari Rasulallah, tetapi cukup berniat untuk bershadaqah dan membacakanAl-Quran,yang mana pahalanya dihadiahkan kepada mayit, sebagaimana keterangandi atas.

Methode dakwah wali 9

Sedangkan untuk menanggapisyubhatdari H. Mahrus Ali yang mengatakanbahwa tahlilan kematian dan budaya 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari adalah budaya Hindu dan melakukannya adalah syirik karena menyerupaiorang kafir (dia juga membawakanhadits tentangtasyabbuhriwayat ath-Thabarani dan Abu Dawud), kami menjawab sebagai berikut:

Sebagian dari pernyataannya tentang acara selamatan 7 hari yang katanya adalah merupakan salah satu dakwah (ajaran syariat) umat Hindu sudah terbantah dengan hadits-hadits di atas.
Andai anggapan tersebut benar adanya, bahwasannya budaya walimah kematian 7 hari, 40 hari dan sebagainyatersebut adalah bermula dari budaya warisan umat Hindu Jawa, sebagaimana yang di yakini oleh bebarapa Kyai dan ahli sejarah babat tanah Jawa, dan di saat ajaran Islam yang di bawa Wali Songo datang, budaya tersebut sudah terlanjur mendarah daging dengan kultur masyarakat Jawa kala itu.

Kemudian dengan dakwah yang penuh hikmah dan kearifan dari para wali, budaya yang berisi kemusyrikan tersebut di giring dan di arahkan menjadi budaya yang benar serta sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dengan diganti dengan melakukan tahlilan, kirim doa untuk orang yang telah meninggal atau arwah laluhur dan bersedekah. Maka sebenarnyajika kita kembali membaca sejarah Islam bahwasannya methode dakwah wali 9 yang mengganti budaya Hindu tersebut dengan ajaran yang tidak keluar dari tatanan syariat adalah sesuai dengan apa yang di lakukan oleh Rasulallahyang mengganti budaya Jahiliyyahmelumuri kepala bayi yang di lahirkan dengan darah hewan sembelihandan diganti dengan melumuri kepala bayi dengan minyak zakfaron.

Apa yang di lakukan Rasulallah tersebut tersirat dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Hakim dalamal-Mustadrak, Abu Dawud dalamSunan-nya, Imam Malik dalamal-Muwaththa dan al-Baihaqidalamas-Sunan al-Kubra yang semuanya diriwayatkan dari shahabat Abu Buraidah al-Aslami berikut:

Saat kami masih hidup di zaman Jahiliyyah; saat salah satu dari kami melahirkan seorang bayi, maka kami menyembelih seekor kambing dan kepala bayi kami lumuri dengan darah kambing tersebut. Namun saat Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, kami cukur rambut kepala bayi dan kami lumuri kepalanya dengan minyak zakfaron.

 

Memahami maksud tasyabbuh dengan orang kafir

Dengan demikian, jika budaya walimah kematian di atas yang di isi dengan berbagai kebaikan seperti shodaqah penghormatan kepada tamu dan bacaanratib tahlilatau dzikir-dzikir lain di anggap sebagai sesuatu yang keluar dari jalur syariat dan bid’ah yang sesat, maka sebenarnyaanggapan tersebut sama dengan menganggapdakwah wali songo tersebut tidak benar dan mereka adalah pendakwah yang sesat.Na’udzu billah.

Tasyabbuh dengan orang kafir yang dihukumi kufur adalah jika tasyabbuh dengan kelakuan kufur mereka, memakai pakaian ciri khas mereka, atau sengaja melakukan syiar-syiar kekufuran bersama-sama dengan mereka. Atau ringkasnya,tasyabbuhyang menjadikan kufur adalah tasyabbuh dengan mereka secara mutlak (zhahiran wa bathinan). Sedangakan tasyabbuh yang dihukumi haram adalah jika tasyabbuh tersebut diniatkan menyerupaimereka di dalam hari-hari raya mereka.[3]Padahal kita tahu, acara selamatan sudah ada sejak dulu dan juga selamatan tidak pernah tasyabbuh dengan kekufuran dan hari-hari raya mereka.

Andaipun tuduhan itu benar, bahwa selamatan merupakan budaya Hindu, maka juga tidak bisa dihukumi kufur atau haram karena warga Nahdhiyyin sama sekali tidak ada niat tasyabbuh dengan budaya mereka. Selain dari pada itu, umat Hindu tidak pernah mengenal tahlilan sama sekali. Lalu kenapa dikatakantasyabbuhdan dihukumi haram? dan masihkan acara yang dilakukan oleh warga Nahdhiyyin tersebut dianggap sebagai budaya bidah dan sesat?

[1] Sebagian riwayat menyebutkan Naqi (tempat pembelian kambing).
[3] Lihat Faidh al-Qadir 6/128 (hadits no 8593) dan Bughyatul Mustarsyidin hlm. 248.

Sumber:ngaji.web.id.

You might like

About the Author: admin

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.